Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic. Fanfic is just for fun, guys! ;)
Genre : Romance/Drama
Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku
A/N: A bit rush, perhaps.
Warning: ITACHI IS DANGEROUS! #glek *warning macam apa ini?*
Then, for this chapter also, enjoy reading!
Chain of Love
Chapter 9 – Honeymoon Time
Sweet, sweet Honey.
Look at the moon,
it's so pretty, shine brightly.
Sweet, sweet Darling.
Stars won't fly,
so you better not close your eye.
Let's make this night last long,
Just for you and I.
.
.
.
"Kauyakin dengan cara ini?" tanya seorang pria paruh baya berambut hitam panjang.
"Saya malah bertanya-tanya mengapa Anda tidak menggunakan cara ini untuk membuatnya repot dan kemudian menjatuhkannya, Hebino-san."
"Aku memang sedang memikirkan cara yang tepat untuk menjatuhkan keluarga Uchiha. Dan aku tidak mau setengah-setengah. Aku mau mereka hancur. Hancur sehancur-hancurnya sampai mereka hanya bisa mengemis di kakiku, memohon kemurahan hatiku."
Hebino Orochimaru kembali memusatkan perhatian pada sebuah rencana yang tertulis dalam sehelai kertas yang kini ada di atas mejanya. Rencana itu berisikan beberapa langkah untuk menjatuhkan sang pesaing.
"Rencana ini tampak sempurna," ujar Orochimaru sambil mengernyitkan alisnya, "katakan, apa alasanmu melakukan ini? Bukankah dia mantan majikanmu, eh, Nara? Kau yang merupakan orang bagian atas dari perusahaan itu dengan sengaja datang padaku, mengkhianati Uchiha Sasuke, dan kini merancang rencana untuk menjatuhkannya. Apa ada alasan yang bisa meyakinkanku bahwa kau benar-benar berniat menjatuhkannya?"
Nara Shikamaru menahan keinginannya untuk menguap. "Soal berada di bagian atas perusahaan—itu benar. Dan itulah yang membuatku merasa harus melakukan ini semua."
Orochimaru terdiam, menanti kelanjutan ucapan lawan bicaranya. Ia bukan tidak tahu siapa orang yang ada di hadapannya. Nara Shikamaru juga pernah disebut-sebut sebagai salah satu tonggak dalam perusahaan Uchiha. Bagaimana mungkin ia bisa langsung memercayai orang yang berasal dari pihak musuhnya ini?
"Aku muak," ujar Shikamaru singkat pada awalnya. "Aku muak dengan Direktur Muda yang sombong itu. Banyak perbedaan pendapat di antara kami yang membuat kinerja menjadi kacau. Dan jika pendapatku yang benar, pendapat itu akan diklaim sebagai hasil kerja otaknya. Sementara, jika pendapatku salah, aku akan mendapat banyak cercaan. Selain itu, hasil kerjaku tidak setimpal dengan apa yang dia berikan. Cukup sudah!"
"Oh," Orochimaru menggumam pelan, "masalah personal."
Shikamaru mengangkat bahunya. "Anda boleh tidak percaya. Tapi izinkan saya menunjukkan hasil dari rencana ini terlebih dahulu. Uchiha akan kelabakan dan di saat mereka sibuk mengurusi masalah dengan pers …."
"Kita akan menyusup dari celah itu dan menjatuhkan perusahaannya."
o-o-o-o-o
Hari itu, Sasuke dan Hinata beserta Itachi dan Ino sampai di Kirin-shima. Tanpa membuang waktu, mereka pun mencapai hotel tempat mereka menginap dan bermaksud check-in saat tiba-tiba Ino melancarkan protesnya.
"Dua kamar?" Ino mengernyitkan alis sambil berkacak pinggang. "Jika aku tidak sekamar dengan Hina-chan, aku minta tambahan satu kamar lagi!"
Sasuke sudah menggerutu sementara Hinata tersenyum geli. Gadis berambut indigo itu langsung menyentuh tangan Sasuke dengan lembut untuk menenangkannya. Saat Hinata melirik kembali ke arah Ino, gadis bersurai pirang tersebut sudah melipat tangannya di depan dada dan berpose menantang ke arah Itachi.
"Ah, susah juga, ya. Coba tanyakan saja pada petugas hotel, apa masih ada kamar yang kosong?" Itachi menyentuh dagunya—seolah sedang berpikir. Ino pun mendecih sebelum ia berlalu ke front office.
Saat Ino mulai menanyakan perihal kamar kosong, di belakang, Itachi tampak mengibas-ngibaskan tangan dan bahkan membentuk tanda silang dengan kedua tangannya. Petugas hotel yang tengah melayani Ino segera menangkap apa maksud pergerakan sulung Uchiha tersebut. Tentu mereka pun tahu siapa Itachi dan segan menolak permintaannya.
"Maaf, Nona. Hotel sudah full-book. Tidak ada kamar yang tersedia," jawab si petugas hotel dengan rasa menyesal yang dibuat-buat. "Kami menerima permintaan reservation dari Nyonya Uchiha Mikoto untuk dua kamar saja selama empat hari tiga malam, terhitung hari ini sampai Minggu nanti. Karena itu …."
"Sama sekali tidak ada yang kosong?"
Petugas hotel itu hanya tersenyum kecut. Sesungguhnya ia sedikit tidak enak membohongi Ino yang sekaligus memperkecil kemungkinan tambahan pemasukan. Namun, menentang Uchiha juga bukan pilihan yang baik.
"Begini saja, Ino-chan," ujar Itachi sambil merangkul Ino di pundak, "aku bisa saja membiayaimu untuk mendapatkan satu kamar lagi dan membuat seseorang meng-cancel reservation-nya …"
Mata Ino sudah membelalak.
"… tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa?" tanya Ino yang akhirnya sadar bahwa lengan Itachi masih bercokol nyaman di pundaknya. Ia pun menepis tangan itu dan menatap lekat kedua mata Itachi.
"Jawab teka-teki yang akan kuajukan padamu," ujar Itachi ringan.
"Mgh? Try me!" jawab Ino dengan percaya diri.
"Oke. Hewan apa yang berbulu kuning dan bermata biru, lalu bisa berjalan dengan dua kaki?"
"Hewan …." Ino tampak berpikir. "Kuning, biru … dua kaki … ng? Heeeiiii! Kau mengejekku, ya?"
Itachi menyeringai. "Mengejek bagaimana?"
"Maksudmu aku, 'kan? Karena namaku Ino—babi hutan."
Hinata nyaris tidak dapat menahan diri untuk tertawa, sementara Sasuke tampak berpikir. Tidak mungkin Itachi memberi teka-teki yang mudah dijawab apabila kakaknya itu tidak bermaksud memberikan kamar lebih. Jelas bagi Sasuke, 'Ino' bukan jawabannya.
"Sayang sekali," ujar Itachi sambil menepuk-nepuk kepala Ino, "jawabannya adalah 'a bird named Tweety'. Kau salah dan kau kalah."
"A-apaa?"
"Lagi pula, mana berani aku membahasakan tunanganku sendiri sebagai 'hewan'? Ada-ada saja. Hahaha." Itachi kemudian menghadap petugas front office. "Maaf sudah membuat keributan, kami ambil dua kamar saja, sesuai yang ibu saya pesankan."
"Tung—kau curaangg!"
Tanpa menghiraukan Ino, petugas hotel tersebut mengangguk kecil sambil menggumamkan kata 'baik' terhadap perkataan Itachi. Ia pun menyodorkan dua buah kunci kamar dan kemudian memanggil bell-boy untuk mengangkut barang-barang dua pasang tamu yang baru datang tersebut.
Ino terdengar masih memprotes teka-teki yang diajukan Itachi, tapi Hinata tidak lagi dapat mendengar perdebatan kedua orang tersebut karena Sasuke mendadak menarik tangannya. Gadis itu pun dipaksa melangkah lebih cepat sementara seorang bell-boy sudah siap mengikuti sembari mengangkut barang-barang bawaan mereka.
"Seharusnya sejak awal kita meninggalkan mereka dan perdebatan konyol mereka," ujar Sasuke masih sambil menggenggam tangan Hinata.
"Hihihi." Hinata menampilkan wajah berseri-seri. Lalu begitu keduanya mencapai lift—mata mereka dapat kembali melihat ke arah Itachi dan Ino yang masih saja betah berdiam di lobby. "Tapi apa Ino-nee akan baik-baik saja?"
Begitu bell-boy yang membawa barang bawaan mereka masuk, dengan sengaja Sasuke segera menutup pintu lift. Dari celah lift yang makin menutup, sesaat Hinata bisa melihat sosok Ino yang tampak panik dan hendak mengejar mereka. Namun sia-sia, lift sudah menutup dan siap bergerak ke atas.
"Ta-tampaknya Ino-nee—"
"Tidak usah mencemaskan mereka. Itachi pasti bisa mengendalikan situasi."
"Ng," jawab Hinata sedikit ragu, "semoga."
Tak lama, mereka berdua pun sampai di depan kamar mereka. Begitu bell-boy sudah meletakkan koper-koper mereka dan siap meninggalkan kamar setelah Sasuke memberi tip, barulah Hinata menyadari sesuatu! Dia … akan berdua saja di dalam kamar ini bersama Sasuke. Berdua saja—bulan madu!
Oh, tidak! batinnya mendadak berseru. Apa yang kupikirkan? Kenapa tadi aku juga tidak meminta agar dibiarkan sekamar dengan Ino-nee? Eh, tapi, kalau aku melakukan hal itu, bukankah aku akan menyinggung Sasuke-kun? Lagi pula, seandainya tidak ada Ino-nee, aku memang harusnya sudah siap untuk berduaan saja dengan Sasuke-kun.
"Hinata?"
"I-iya?" jawab Hinata yang kaget akibat suara tiba-tiba yang dilontarkan Sasuke.
Pemuda itu kini sudah menaikkan satu alisnya dengan heran. "Ada apa? Kau tidak mau merapikan barang bawaanmu?"
"Eh? Oh … iya!"
Hinata pun melangkah mendekati Sasuke yang sudah mulai dengan koper bawaannya sendiri. Segera saja mereka sibuk membereskan dan meletakkan beberapa barang—yang lebih banyak berupa baju—ke dalam lemari yang sudah tersedia. Dalam sekejap, Hinata sudah melupakan perasaan bingung dan malu yang sempat melandanya.
Begitu pekerjaan mereka selesai, tanpa ada yang mengomando, keduanya pun duduk di ujung kasur. Mata Hinata kini mulai mengamati kamar cukup luas yang akan menjadi 'tempat hidup'-nya selama empat hari tiga malam ke depan.
Kamar itu seperti mini apartemen. Dari pintu masuk, ranjang besar tempat Sasuke dan Hinata duduk sekarang tidak akan terlihat. Justru ruang tamu kecil—yang dipisahkan dengan tembok—yang ada di sebelah kirilah yang berhadapan langsung dengan pintu masuk.
Melewati ruang tamu kecil tersebut, ada sebuah pintu kaca ditutupi kerai yang menjadi penghubung ke beranda. Di beranda, pemandangan laut bisa terlihat jelas. Bahkan sayup-sayup suara ombak akan memanjakan siapa pun yang menghabiskan waktu di sana.
Di sebelah kiri dan kanan kasur, terdapat nakas dan di atas nakas terdapat lampu yang akan berwarna oranye redup saat dinyalakan. Di sebelah kanan nakas yang berada di kanan, terdapat sebuah meja dandan dengan kaca yang besar—meja dandan tersebut tidak mengarah ke kasur. Lalu, menempel pada tembok di bagian kanan, terdapat lemari baju yang besar. Dan di depan ranjang mereka, terdapat sebuah televisi LCD berukuran 32 inch yang menempel langsung ke tembok bercat warna peach.
Kamar mandi ada di bagian kanan. Hinata sempat melongok ke dalam kamar mandi dan mendapati sebuah kamar mandi yang luas dengan sebuah bath-up di dalamnya. Di dalam kamar mandi juga terdapat sebuah kaca besar yang menempel pada wastafel panjang.
Kesan yang Hinata dapat dari kamar hotel ini adalah: mewah. Tentu saja. Apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang Uchiha jika itu bukanlah suatu kemewahan? Hinata kadang bertanya dalam hati, mungkin orang-orang Uchiha ini tidak pernah merasakan yang namanya kesusahan seumur hidupnya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Eh? Apa?" jawab Hinata sambil menoleh ke arah Sasuke.
"Kamar ini?"
Hinata tersenyum lembut. "Ba-bagus. Tempatnya luas dan bersih. Juga tenang …."
"Kedap suara," ujar Sasuke sambil mengangkat bahunya. Pemuda itu kemudian membaringkan setengah tubuhnya ke kasur. "Wajar kalau mengingat untuk apa kamar ini biasa diperuntukkan."
Serta-merta, wajah Hinata memerah. Ia tahu dengan jelas apa maksud Sasuke. Ia juga tahu dengan jelas apa status mereka saat ini. Namun, berbagai pemikiran yang senantiasa bercokol dalam benak Hinata membuat gadis itu merasa bahwa ia sama sekali tidak siap untuk melakukan yang lebih.
"A-a-ano … Sasuke-kun …," tergagap-gagap Hinata mulai berkata.
"Hn?"
Sambil memainkan jarinya dan tanpa melihat ke arah Sasuke, Hinata pun memberanikan diri untuk bertanya, "Ki-ki-ki-kita tidak akan me-me-melakukannya, 'kan?"
Sejujurnya, Sasuke sudah langsung dapat menangkap apa maksud Hinata. Bahkan, tanpa Hinata sadari, bibir pemuda itu sudah melengkung membentuk senyuman. Namun, berniat menggoda istrinya sedikit, ia pun dengan sengaja bertanya,
"Melakukan apa?"
Wajah Hinata sontak semakin memerah. Bibirnya terasa kaku untuk memberikan penjelasan. Jemarinya semakin risih bergerak-gerak.
"I-itu …." Ucapan Hinata terhenti tatkala dirasakannya sebuah sentuhan di rambut panjangnya. Hinata menoleh hanya untuk menemukan Sasuke yang pelan-pelan bangkit dari posisi berbaringnya—dengan tangan yang masih memainkan rambut Hinata.
"Tidak," jawab Sasuke perlahan, "tidak akan terjadi hal yang kautakutkan selama kita berada di sini." Sasuke mendadak melepaskan rambut Hinata lalu dengan tangan yang sama, ia menyentuh sebelah pipi Hinata.
Mendadak, pemuda itu semakin mendekatkan wajahnya pada Hinata yang sudah berdebar tidak karuan. Alhasil, gadis itu hanya dapat memejamkan matanya saat dirasanya jarak wajah mereka sudah nyaris menghilang.
Dan … pipi Hinata pun merasakan sentuhan lembut bibir Sasuke. Perlahan Hinata membuka matanya. Sasuke sudah menarik diri. Pemuda itu bahkan tersenyum simpul.
"Tidak akan lebih dari itu. Kecuali kau yang menghendaki."
Sasuke pun mendadak bangkit dari kasur sambil menggumamkan sesuatu seperti 'berniat mandi terlebih dahulu'. Hinata yang tidak benar-benar mendengar dan masih belum bisa berpikir logis hanya bisa membiarkan refleksnya bekerja—menarik ujung baju Sasuke. Otomatis, pemuda itu menghentikan langkah kakinya.
Kepala Hinata masih tertunduk dengan sebelah tangan yang menempel di pipinya. Bibir gadis itu bergetar ringan tanpa sepengetahuan Sasuke. Lalu, setelah menelan ludah sekali, ucapan itu pun terlontar jelas dari mulut Hinata.
"Terima kasih, Sasuke-kun!"
Sasuke tidak lama-lama membelalakkan matanya. Ia pun menepuk lembut kepala Hinata dan membuat Hinata melepaskan pegangannya terhadap baju Sasuke.
"Terima kasih diterima."
Selekasnya Sasuke meninggalkan Hinata yang masih terpaku dengan wajah memerah dan tatapan yang tampak menerawang. Sebelah tangan gadis itu kemudian terangkat ke depan dadanya dan senyumnya terkembang lembut.
Malam itu, tidak banyak yang terjadi. Keduanya dapat langsung tertidur dengan cepat akibat kelelahan dalam perjalanan. Meskipun demikian, masing-masing dari mereka menyimpan harapan besar bahwa hari-hari setelahnya akan berjalan lebih baik dari hari ini.
Dan saat keduanya membuka mata di keesokan hari, saling melempar senyum adalah hal pertama yang mereka lakukan.
o-o-o-o-o
Pukul delapan pagi, Sasuke turun dengan setelan kemeja tipis berlengan pendek serta celana selutut. Tempat pertama yang dikunjunginya tentu saja restoran hotel. Makan pagi menjadi kebutuhannya sebelum beraktivitas. Dengan segera, ia menghampiri meja Itachi yang sudah lebih dulu tiba dan tampak sedang menikmati secangkir minuman hangat sambil membaca koran.
"Ah, akhirnya kau turun juga. Hinata sudah selesai makan dari tadi," sambut Itachi sambil tersenyum. "Dia sudah di kolam renang bersama Ino."
Setelah menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya, Sasuke langsung menjatuhkan wajah ke atas telapak tangannya. Dengan wajah yang cemberut, pemuda itu menjawab, "Cewekmu itu, ya …."
"Hahaha."
"Pagi-pagi datang ke kamar, menyuruh Hinata siap-siap, dan langsung menculiknya begitu saja!"
"Dan Hinata tidak bisa menolaknya. Kuat juga, Ino-chan," ujar Itachi santai sebelum kembali menyesap minumannya.
"Dia seperti ingin sesegera mungkin menjauhkan aku dari Hinata. Tch."
"Bukan," sangkal Itachi cepat, "dia hanya ingin cepat-cepat meninggalkan kamar tempat aku berada."
Selesai mengatakan hal tersebut, Sasuke sekilas menangkap raut sedih di wajah Itachi. Meskipun demikian, Sasuke memilih untuk tidak bertanya. Ia malah beranjak dari kursinya untuk mengambil sarapan.
Membawa sepiring penuh chahan—nasi goreng ala Jepang—dan secangkir kopi hangat, Sasuke kembali ke meja. Yang pertama ia lihat adalah koran Itachi yang sudah kembali terlipat rapi.
"Tidak ada apa-apa," ujar Itachi tenang, "semoga semua akan tetap baik-baik saja sampai kita kembali ke Konoha."
Sasuke bersikap tidak acuh dan mulai memakan sarapannya. Satu yang ada di pikirannya: Semua tidak akan baik-baik saja apabila Ino masih mengganggu hari-harinya dengan Hinata. Sasuke harus melakukan sesuatu.
Belum terpikir satu hal pun, Itachi kembali menarik perhatiannya.
"Ngomong-ngomong, aku lupa memberi tahumu kemarin. Hari ini …."
Dan Sasuke nyaris tersedak makanannya sendiri.
o-o-o-o-o
Di kolam renang, Hinata dan Ino duduk-duduk santai di tepiannya. Meski masih cukup sepi, tapi sudah ada dua-tiga orang yang berada di dalam kolam dan beberapa lainnya terduduk di bawah payung-payung besar.
Hinata dan Ino sendiri tidak langsung menjatuhkan tubuh masing-masing ke dalam kolam. Wajar, mengingat keduanya tidak (atau belum) mengenakan pakaian renang; Ino dengan tanktop biru cerah dan hot pants hitam sementara Hinata mengenakan T-shirt putih dengan hot pants biru jeans. Hanya kaki keduanya mengayun-ayun ringan menyentuh air kolam yang terasa cukup dingin.
Mereka masih asyik memperbincangkan topik-topik remeh sebelum Ino mendadak terdiam. Senyum Hinata pun memudar tatkala Ino akhirnya memutuskan untuk membuka suara kembali.
"Aku belum sempat cerita, ya? Detail mengapa aku bisa sampai terseret ke keluarga Uchiha?" Ino mendongak—tatapan menerawangnya kini diarahkan ke hamparan langit biru.
Hinata menggangguk. Sadar bahwa jawaban non-verbalnya tidak terlihat Ino, Hinata pun bersuara, "Iya."
Ino menghela napas. "Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun, kautahu, 'kan? Aku sedang berjuang mengumpulkan uang untuk operasi mata Shino?"
"I-iya," jawab Hinata lagi.
"Shino jadi buta karena aku. Dia menyelamatkan aku yang hampir tertabrak mobil dan sebagai gantinya, dia sendiri yang mengalami benturan di kepala yang berujung pada kebutaan." Ino merapikan rambutnya sedikit. "Aku terus merasa bersalah. Dan aku pun bertekad mengumpulkan uang untuk bisa mengembalikan matanya. Lama-lama, kami menjadi dekat dan segera saja, kami menjadi sepasang kekasih. Kami memutuskan tinggal bersama dan semua berjalan lancar.
"Seharusnya tidak ada yang salah. Tapi …." Ino mendadak menelan ludah. "Aku tidak tahu apa ini cuma perasaanku atau bukan, tapi Shino tiba-tiba saja … mendingin. "
Tatapan simpati dilayangkan Hinata. Gadis itu kemudian meletakkan sebelah tangannya di pundak Ino. Ino pun menoleh dan memberikan senyum sedih pada Hinata. Memejamkan mata sejenak, Ino kemudian menghirup napas panjang sebelum ia melanjutkan.
"Lalu Itachi datang dalam kehidupanku. Awalnya, aku merasa dia pemuda yang menyenangkan. Sampai … sampai ia mengacaukan semuanya. Aku tidak mengerti," kata Ino dengan wajah yang mulai diwarnai amarah di samping kesedihan, "suatu hari, Shino pergi entah ke mana. Waktu kukatakan bahwa aku akan mengantarnya, ia menolak dan berkata bahwa ia akan baik-baik saja sendiri.
"Begitu ia pulang, tidak ada yang terjadi. Namun, keesokan harinya, ia pergi lagi dan setelah itu dia tidak pulang sama sekali. Sebagai gantinya, Itachi-lah yang datang dan—KYAAA!"
BYUUR!
Hinata terkesiap dan langsung menoleh ke belakang dengan cepat. Ia melongo dengan mulut yang refleks menganga. Tidak ada suara selama beberapa saat—hanya kikikan yang terdengar.
Begitu kepala Ino berhasil menyembul kembali ke permukaan air, akhirnya ia bisa melihat siapa orang yang tega mendorongnya ke dalam kolam. Orang yang tidak pernah ia sangka akan berada di sini tapi tidak salah lagi, memang dia orangnya.
"Dekoriinnnnn!" teriak Ino geram.
"Hai, Ino-buta-chan," sapa sosok berambut merah muda yang dipanggil Dekorin—Si Jidat Lebar—sambil melambai.
"Sai-kun," Hinata menambahkan saat melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal. Tentu saja, tidak bertemu muka dengan pemuda itu dalam satu hari tidak lantas membuat Hinata melupakan sosok yang sudah tinggal satu atap dengannya selama beberapa minggu belakangan. Ia pun langsung menoleh ke arah sang gadis berambut merah muda.
"Jadi … ini Haruno Sakura-san?" gumam Hinata sambil memerhatikan gadis muda itu lekat-lekat.
"Benar," jawab Sai enteng. "Ini Sakura."
Sakura tersenyum santai, "Hai, Hinata-neechan."
Hinata berkedip sebentar sebelum ia buru-buru berdiri. "A-ah. Hyu—Uchiha Hinata. Salam kenal!" seru Hinata cepat sambil mengulurkan tangannya.
Sakura memandang tangan Hinata selama beberapa saat sebelum menyambutnya tanpa minat. Meski demikian, senyum tetap terpampang di wajahnya. "Yah, salam kenal juga."
Sekilas, Hinata merasa bahwa Sakura tidak menyukainya. Mungkin hanya perasaannya, mungkin juga tidak. Yang jelas, Hinata merasa bahwa Sakura … sedikit mirip dengan Sai. Menunjukkan sifat permusuhan yang tidak terlalu terang-terangan terhadapnya.
Genggaman tangan mereka terlepas secara tiba-tiba saat mendadak Ino menginterupsi dengan memukul jidat Sakura.
"Hiih!" seru Sakura saat tangan basah Ino sekilas 'mencium' dahinya.
"Berani sekali kau menjatuhkan aku ke kolam, De-ko-rin!"
"Jangan dekat-dekat, Buta! Kau basah tahu!" ujar Sakura sambil merentangkan tangannya untuk membuat jarak dengan Ino.
"Bagus! Sini aku peluk! Biar kaurasakan akibat perbuatanmu sendiri!" ancam Ino yang membuat sakura langsung berlari menjauh. Ino mengejarnya tanpa ampun. Dan kedua gadis yang memang sudah saling mengenal itu pun tanpa sengaja meninggal Sai hanya berdua dengan Hinata.
"Ka-kapan kalian datang?"
"Beberapa jam yang lalu. Kami berangkat dengan penerbangan paling awal," jawab Sai tak begitu acuh. Saat ini, fokus tatapan pemuda itu ada pada sang kekasih berambut sewarna bunga khas musim semi.
Kejadian saat Sai menatap Sakura dengan lembut adalah pemandangan yang menakjubkan bagi Hinata. Sehari-harinya, Sai terlihat sinis. Baru kali ini, Hinata seakan melihat sisi lain dari seorang Uchiha Sai.
"Sai-kun … benar-benar menyukai Sakura-san, ya?"
Sai menoleh dan memandang Hinata yang kali ini tak segan menatap matanya. Seulas senyum kemudian Sai sunggingkan. Namun, meski ditunggu beberapa saat, tidak satu pun jawaban meluncur dari mulut pemuda berambut klimis tersebut. Ia bungkam dan hanya membiarkan senyumnya menjadi jawaban penuh teka-teki.
"Hinata," panggil Sai mendadak alih-alih menjawab pertanyaan Hinata, "menurutmu, kenapa aku tidak suka padamu?"
Pertanyaan Sai seolah membuka apa yang ada di pikiran Hinata sebelumnya. Tepat dugaan Hinata, Sai tidak menyukainya.
"Aku … aku tidak bisa memikirkan alasan yang benar-benar tepat," jawab Hinata sambil memainkan ujung T-shirt-nya. "Apa aku sudah berbuat salah … pada kalian?"
"Kalian?" Meski sekilas, Hinata bisa melihat Sai membelalakkan matanya. Namun, Uchiha bungsu yang satu ini juga termasuk cekatan dalam mengubah ekspresi wajah. "Rasanya aku tadi hanya menanyakan, 'Kenapa aku tidak suka padamu?' Bukankah demikian?"
Hinata menghela napas dan mengangguk. Gadis itu kemudian menoleh ke arah Sakura yang sedang berada di pinggir kolam dengan Ino yang sudah menyeringai licik. Sesaat Hinata tersenyum melihat keduanya yang tampak akrab—seolah tidak ada masalah yang membelenggu mereka. Namun, Hinata tahu, kedua gadis itu juga memiliki masalahnya masing-masing.
"Kurasa," ujar Hinata kemudian, "Sakura-san juga tidak begitu menyukaiku."
"Tepat," jawab Sai sambil tertawa, "kuucapkan selamat karena kau bisa menyadarinya. Kau tidak setumpul itu ternyata."
Hinata hanya bisa meringis. Tidak tahu harus marah atau senang akibat kata-kata Sai yang seolah menyindir tapi juga memujinya tersebut.
"Kalau begitu, apa kau bisa menebak, bagaimana cara agar kami tidak lagi … menyimpan perasaan tidak suka ini padamu?"
"Sebentar, apa yang tidak kalian sukai itu hanya aku?"
"Hm," jawab Sai sambil menyentuh dagunya, "sebenarnya aku juga kesal pada Sasuke dan Itachi, tapi kedua orang itu tetap saudaraku—aku tidak benar-benar bisa membenci mereka. Sementara itu, aku belum terlalu mengenal Ino-san. Kurasa ia tidak terlalu membuatku kesal dengan sifatnya yang selalu melawan Itachi. Ia memberiku tontonan yang menarik."
Hinata menunduk. Singkatnya, Sai ingin mengatakan bahwa Hinata-lah yang terutama membuatnya kesal. Rasanya sedikit tidak adil, tapi … tunggu! Entah kenapa sekelebat kata-kata seolah mengisi lubang keingintahuan Hinata. Hanya sekilas karena begitu Hinata berusaha mencernanya, bayangan jawaban itu lolos dari cengkeraman.
"Kalau Sakura, sih …," lanjut Sai sembari tersenyum saat matanya menangkap sosok Sakura yang sudah berakhir di kolam, "kurasa Sakura hanya sedikit antipati padamu. Dengan Ino, kudengar mereka memang sudah berteman sejak lama. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana pandangan Sakura soal Ino saat ini."
"Sai-kun … apa mungkin …."
Sai kini sudah memusatkan konsentrasinya pada Hinata. Ia bahkan tidak lagi tertarik pada adegan tarik-menarik antara Ino dan Sakura di tepi kolam. Ia penasaran dengan apa yang hendak diungkapkan Hinata. Andai ia diberi waktu lebih lama, mungkin ia sudah akan bisa mendengar. Namun, kedatangan kakak-kakaknya memang selalu tepat waktu. Seperti pahlawan kesiangan saja.
"Apa lagi yang kaulakukan pada Hinata kali ini?" ujar Sasuke sambil menyembunyikan Hinata di belakang tubuhnya.
Sai tersenyum sinis. "Yang jelas aku tidak mungkin merabanya di depan kekasihku sendiri. Lagi pula, aku bukan penyuka gadis SMA sepertimu."
"Kau itu—"
"Kami hanya sedang membicarakan sesuatu, Sasuke-kun," jawab Hinata dari balik punggung Sasuke. "Lagi pula," lanjut Hinata sambil menyentuh lengan baju Sasuke, "dengan ini … sedikitnya aku mengerti."
Sasuke menoleh ke arah Hinata dengan alis yang sudah tertaut. Sementara itu, tanpa diketahui Sasuke, Sai tersenyum kecil. Ia kemudian mendekat ke arah Hinata dan membungkukkan tubuhnya sedikit agar matanya sejajar dengan mata Hinata.
"Tidak, tidak. Kau belum mengerti apa-apa."
Setelah mengatakan itu, Sai menepuk dan mengacak rambut Hinata sebelum ia berjalan ke arah Sakura. Sakura tengah mendecak kesal karena bajunya sudah basah kuyup. Sai pun menertawakannya dan kemudian mencubit pipinya.
Sementara itu, di satu sisi, Itachi yang sudah berbaik hati membawakan Ino sebuah handuk (entah bagaimana ia tahu, yang jelas sepertinya insting Uchiha sulung itu tidak bisa diremehkan), malah mendapat penolakan yang terang-terangan dari Ino. Namun, bukan Itachi namanya kalau ia menyerah begitu saja atas penolakan Ino. Dengan cekatan, ia segera menggunakan handuk tersebut untuk mengeringkan rambut sang gadis.
"Sasuke-kun …," ujar Hinata perlahan—nyaris berupa bisikan.
"Hn?"
"Apa aku yang seolah bisa menerima takdir yang tidak kuhendaki dengan begitu mudahnya ini … akan terlihat menyebalkan di mata orang lain?"
"Apa?"
"Dan … apa aku yang mulai terbiasa dengan segala sesuatu yang awalnya ingin kuhindari, tidak pantas mendapat kebahagiaan yang lebih dibanding mereka yang berusaha keras untuk mendapatkannya?"
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Hinata. "Apa itu yang Sai katakan padamu?"
Hinata menggeleng lemah. "Sai-kun tidak mengatakan apa-apa padaku," jawab Hinata.
Sasuke mendadak menggenggam tangan Hinata. Gadis itu sedikit tersentak dan langsung melihat ke wajah Sasuke setelah beberapa saat ia seolah menghindari kontak mata dengan sang pemuda.
"Kau berusaha dengan caramu sendiri," ujar Sasuke sambil menggenggam tangan Hinata lebih erat, "lebih keras dari yang mereka tahu. Kau menyimpan rapat-rapat semuanya seorang diri dan kau tidak membiarkan seorang pun membantu."
Entah mengapa, wajah Hinata terasa memanas. Sasuke seolah telah mengintip hatinya dan melihat tiap-tiap rahasia yang ia sembunyikan selama ini. Pun demikian, yang Hinata rasakan bukan malu, tapi ia justru merasa sangat berterima kasih. Meski Hinata belum begitu mengenal Sasuke, tapi Sasuke seolah sudah mengenalnya selama berabad-abad. Lebih dari itu, Sasuke selalu berusaha untuk memahami dan mengabulkan semua keegoisannya.
"Sasuke-kun," ujar Hinata sambil membalas genggaman tangan Sasuke, "kurasa, aku memang terlalu beruntung."
Kata-kata Hinata tersebut bagaikan ironi. Keluarga Hyuuga terlilit utang dan Hinata harus bersedia menikah dengan orang yang bahkan tidak ia kenal sebagai jaminan bantuan yang diberikan bagi keluarganya. Di bagian mana Hinata bisa merasa beruntung? Inilah yang kemudian menimbulkan ekspresi penuh tanya di wajah Sasuke.
Seolah menjawab pertanyaan tak langsung Sasuke, Hinata pun menoleh ke arah Sai dan Sakura.
"Setidaknya, aku paham kenapa mereka bersikap antipati padaku."
Karena aku selalu didukung orang ini dalam setiap hal yang akan kulakukan. Di mata mereka, aku tidak perlu berusaha keras, tidak perlu memprotes, tidak perlu berteriak atas segala takdir yang dilimpahkan padaku. Di mata mereka, aku hanyalah seorang gadis kecil yang beruntung.
Aku pun … mulai merasa bahwa mungkin aku memang betul-betul beruntung.
"Apa maksudmu? Kenapa mereka harus bersikap antipati?"
Dari arah Sai-Sakura, Hinata balik memandang Sasuke. Gadis itu kemudian tersenyum, membuat Sasuke semakin kelihatan bingung. Namun, Hinata hanya menggeleng dan mengalihkan topik mengenai rencana mereka hari itu. Sasuke masih hendak bertanya, tapi Hinata tidak lagi membiarkan pembicaraan mereka berada di jalur yang sama.
"Apa kita akan berjalan-jalan mengelilingi Kirin-shima? Oh, mungkin ke pabrik pembuatan madu khas pulau ini? Apa di dekat pabriknya akan ada taman bunga yang indah?"
Sasuke menjawab hanya dengan kata-kata singkat seperti 'hn' atau 'boleh saja' atau 'aku tidak tahu'. Ia masih tidak terlalu fokus dengan rencana jalan-jalan. Ia masih ingin tahu—lebih—mengenai apa yang sedang dipikirkan Hinata. Namun, satu pertanyaan …
"Apa kita … tidak lebih baik jalan berdua saja?"
… dan Sasuke pun luluh.
o-o-o-o-o
Setelah mengganti baju, Hinata dan Sasuke berjalan ke Taman Nasional Kirin-shima yang ada di pusat pulau. Pemandangan di sana didominasi bunga-bunga dengan serangga-serangga yang beterbangan ke sana kemari. Sesemakan dan rerumputan hijau juga menambah keindahan pemandangan di taman tersebut.
Satu-dua kali, Sasuke mengambil foto Hinata yang sedang berdiri di dekat bebungaan. Di kali lainnya, Hinata mengambil diam-diam foto Sasuke yang sedang memandang ke satu arah. Lalu, merasa bahwa tidak cukup hanya dengan ini, Sasuke pun akhirnya membulatkan tekad dan meminta tolong orang yang tidak sengaja lewat untuk mengabadikan foto keduanya yang sedang bersama.
"Sasuke-kun tampak tegang," ujar Hinata sambil tertawa kecil melihat hasil-hasil foto di kamera digital.
"Tsk. Aku ini tidak biasa difoto," ujar Sasuke sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Dan sebaiknya kauhapu—apa yang kaulakukan?"
JEPRET!
Satu foto Sasuke kembali masuk ke dalam memori kamera digital tersebut. Kali ini, Hinata berhasil mendapatkan gambar Sasuke yang sedang menghadap kamera meski dengan ekspresi terkejut. Sebelum-sebelumnya, Hinata bisa dibilang mencuri-curi kesempatan untuk memfoto Sasuke.
"Hapus!" ujar Sasuke sambil berusaha merebut kamera digitalnya dari tangan Hinata.
"Ja-jangan," cegah Hinata sambil menjauhkan kamera tersebut dari jangkauan tangan Sasuke, "ini … untuk kenang-kenangan—sebagai bukti kalau kita pernah ke sini."
Sasuke memberengut. Lalu, sambil tersenyum, Hinata memosisikan dirinya di sebelah Sasuke dan mengangkat kamera digital tersebut agak tinggi.
"Se-sekali lagi, ya? Senyuuum!"
o-o-o-o-o
Puas mengambil gambar di Taman Nasional, Sasuke pun menyewa sebuah mobil mini. Dengan mobil itu, Sasuke membawa Hinata ke bagian paling selatan pulau. Perindustrian madu khas Kirin. Setelah menyelesaikan beberapa prosedur, mereka pun diantar ke satu ruang audio-visual yang memperlihatkan bagaimana Kirin-mitsu didapat dan diproses menjadi berbagai macam produk.
Setelah kurang lebih satu jam kurang video diputar, keduanya kemudian diajak mengelilingi pabrik. Lalu, mereka diperlihatkan saat-saat seorang pekerja sedang mengambil madu dari sarang lebah ternak dari balik sebuah jendela besar. Pekerja tersebut mengenakan pakaian khusus sehingga tidak disengat.
Salah satu guide mereka juga mengatakan soal madu alami. Madu alami didapat dari hutan kecil yang ada di belakang pabrik. Setiap dua hari sekali, pekerja-pekerja pabrik akan menelusuri hutan untuk memeriksa sarang-sarang lebah yang siap dipanen.
Begitu selesai dengan penjelasan-penjelasan tambahan lainnya, keduanya kemudian diajak untuk mengunjungi salah satu toko kue yang memang ada di dekat pabrik. Kue-kue di sana dibuat khusus dari madu pabrik.
Sebagai salah satu fasilitas karena mengambil paket tur keliling pabrik, Sasuke dan Hinata diperkenankan memilih dua sampai tiga kue untuk dimakan di sana. Saat itu, matahari sudah cukup tinggi dan jam perut mereka memang sudah berbunyi sebagai pertanda. Maka, keduanya pun tidak melewatkan kesempatan tersebut.
Pada dasarnya, Sasuke tidak begitu suka makanan manis. Namun, berkat pertunjuk dari penjaga toko, ia pun memilih tiga kue yang tidak terlalu manis. Hinata sendiri memilih pancake dengan saus madu sebagai salah satu pangannya.
Selesai makan, Hinata membeli beberapa jenis kue kering yang ada di toko itu. Tidak ketinggalan, ia pun membeli madu dalam botol sebanyak satu lusin serta sebotol selai madu. Sasuke bertanya untuk apa membeli sebanyak itu.
"U-untuk oleh-oleh," jawab Hinata sambil tersenyum kikuk. "Kalaupun tidak, kita bisa mengonsumsinya sendiri. Madu kan bagus untuk kesehatan."
Setelah itu, Sasuke tidak bertanya-tanya lagi.
o-o-o-o-o
Hanya makan kue tidak cukup memuaskan perut Sasuke. Dan meski Hinata sudah memakan satu porsi pancake, sepertinya gadis itu pun mempunyai pemikiran yang sama dengan Sasuke. Keduanya pun memutuskan untuk mencari restoran dan menikmati makan siang kedua mereka.
Di tengah kota yang tidak begitu ramai itulah, Sasuke dan Hinata melihat Sai dan Sakura yang tampak sedang berjalan kaki sambil sesekali menoleh ke arah pertokoan. Sasuke sudah akan berpura-pura tidak melihat saat mendadak Sai melambaikan tangan ke arah mereka.
Hanya Hinata yang membalas lambaian tersebut sebelum sang gadis menoleh ke arah Sasuke.
"Biarkan saja dia." Setelah mengatakan itu, Sasuke menggerakkan mobilnya semakin jauh meninggalkan Sai dan Sakura. "Aku sama sekali tidak diberi tahu kalau mereka juga akan ke sini. Tahu-tahu saja mereka datang dan bahkan menginap di hotel yang sama. Cerita soal full-book di hari pertama itu memang jelas-jelas omong kosong."
"Tapi, bagus, bukan? Makin ramai, makin seru …."
Sasuke menghela napas. "Tidak juga. Kalau kauingat tujuan kita ke sini."
Mendadak saja wajah Hinata merona. Pikirannya kembali melayang ke alasan sesungguhnya mereka datang ke Kirin-shima. Meski Sasuke sudah mengatakan bahwa tidak akan ada hal 'dewasa' yang terjadi, tapi Hinata tidak bisa memastikan bahwa Sasuke sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Bagaimanapun, status mereka adalah suami-istri.
Ah, rasa-rasanya, belum menjadi sepasang suami-istri pun, sudah banyak teman-temannya yang melakukan hal itu dengan pasangan yang mereka cintai [1]. Mungkin Hinata kolot karena ia mempunyai pemikiran untuk menjaga miliknya sampai ia menikah. Namun kenyataannya, sekarang Hinata sudah menikah, bukan? Hanya satu hal yang membuatnya masih merasa ragu-ragu: bisakah ia mengatakan bahwa Sasuke adalah orang yang ia cintai hingga ia rela menyerahkan miliknya yang berharga pada Sasuke?
Benar, apakah ia mencintai Sasuke? Tidakkah ia menikah karena terpaksa?
Tanpa sadar, pemikiran-pemikiran itu membuat Hinata memainkan ujung minidress yang tengah ia kenakan. Bahkan sampai sekarang pun, Hinata merasa belum mendapatkan jawabannya. Seolah ada sesuatu yang menghalanginya lebih lanjut untuk bisa mencintai Sasuke apa adanya. Bukan sekadar gengsi, bukan sekadar perasaan malu untuk bisa jatuh cinta pada penyelamatnya yang baik hati.
Sesuatu … di dasar ingatannya kini seolah bergerak—mendesak untuk muncul ke permukaan.
"Aku sayang padamu, Hinata …."
Mata Hinata terbelalak saat suara-suara entah dari mana itu seolah menyambangi pendengarannya. Hinata menoleh cepat ke arah Sasuke.
"Ada apa?" tanya Sasuke cepat tanpa menoleh ke arah Hinata. Pemuda itu melihat pergerakan Hinata hanya dari ujung matanya.
"Ta-tadi Sasuke-kun bilang sesuatu?"
"Tidak."
Hinata menggigit bibir bawah lalu mengangguk dengan terpaksa. Bukan. Jelas tadi itu bukan suara Sasuke. Suara anak laki-laki. Suara siapa?
Lalu, kali ini satu sosok samar mulai berusaha menerobos kesadaran Hinata. Sosok itu samar, benar-benar tidak jelas. Seorang bocah kecil berkimono gelap, berlarian bersama Hinata di belakang kediaman Hyuuga. Entah bagaimana, Hinata tahu bahwa sosok itu lebih tua beberapa tahun darinya.
"Aku sayang padamu, Hinata. Nanti kalau sudah besar, kita menikah, ya?"
Lagi—suara itu menyentak Hinata. Kali ini, suara itu terdengar lebih jelas. Hinata pun memejamkan mata—berusaha membiarkan suara-suara itu bergema dengan lebih jelas di dalam otaknya.
Tak lama, muncul pula suaranya sendiri dan dalam sekejap, suara-suara itu sudah bersahut-sahutan dalam kepalanya. Suara-suara itu kemudian membentuk suatu dialog samar yang Hinata yakin pernah mendengarnya.
Suatu hari ... suatu waktu … di masa lalu.
"Aku sayang padamu, Hinata. Nanti kalau sudah besar, kita menikah, ya?"
"Be-benarkah? … mau menikah denganku?"
"Ya. Aku akan menjadikan Hinata istriku."
"Ka-kalau begitu … janji jari kelingking!"
"…"
"Aku sayang … sa … n."
"Aku juga … Hina … ta."
" … Ta."
"Hinata?"
"Eh?" seru Hinata terkejut. Hinata pun membuka mata dan sekali lagi, ia menoleh ke arah Sasuke. Kali ini, suaminya tersebut sudah melihat ke arahnya.
"… Ada apa?"
"Ah," jawab Hinata lamat-lamat, "ti-tidak ada apa-apa. Kurasa aku hanya … sedikit kecapean."
"Apa kau mau kita langsung pulang ke hotel saja dan pesan makanan di hotel?"
Hinata memberikan sebuah senyum sambil menggelengkan kepalanya. Saat itulah, Hinata sadar bahwa Sasuke sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran yang tidak terlalu mewah tapi apik.
"La-lagi pula sudah sampai sini. Kita … makan dulu saja, baru kemudian pulang."
Sasuke setuju. Dan bayang-bayang suara samar tadi tak lagi mengusik Hinata.
Untuk sementara.
o-o-o-o-o
"Mereka mungkin tidak jauh dari sini," ujar Sai lirih, "bagaimana? Mau mencari dan menghampiri mereka?"
Sakura menggeleng cepat. "Tidak usah. Untuk apa?"
"Yah, kupikir kau mau mengerjai mereka?"
Seulas seringai muncul di wajah Sakura. Lalu sambil membungkukkan tubuhnya sedikit, Sakura mengerling jahil ke arah Sai. "Ah, bilang saja kau ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan … kakak dan kakak iparmu. Sebelum kau tidak bisa melihat mereka lagi."
Sai tertawa kecil. "Aku sudah terlalu bosan melihat mereka," ujarnya sambil merangkul Sakura, "lagi pula, aku bukan tidak bisa melihat mereka lagi sama sekali …."
"Beberapa bulan, beberapa tahun, beberapa belas tahun … tidak ada yang tahu," jawab Sakura tak acuh sambil melepaskan rangkulan Sai dari pundaknya. "Ini kesempatan terakhirmu dalam waktu dekat, lho?" lanjut Sakura lagi sambil tersenyum santai.
Sambil mengangkat bahu, Sai pun menjawab, "Sudahlah. Masih banyak waktu. Kita nikmati saja dulu saat-saat kita di sini."
"Hmph. Ya, terserah kau saja, deh?" Sakura akhirnya memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan dan kemudian memeluk lengan Sai untuk kemudian kembali menelusuri daerah pertokoan, terutama toko-toko yang menyediakan pakaian serta aksesori rambut.
o-o-o-o-o
"Kau yakin tidak mau kutemani, Ino?"
"Dan apa kau yakin kau tidak mendengar kata-kataku tadi, Uchiha-san? Jangan. Ikuti. Aku. Pergi sana! Shoo!"
Itachi terkekeh dan tetap saja mengikuti Ino ke mana pun gadis itu pergi. Tidak tahan dengan perlakuan Itachi yang selalu membuntutinya, Ino pun berbalik arah dan mengonfrontasi Itachi untuk keberapa kalinya hari itu.
"Tidak bisakah kau membiarkan aku sendiri?" ungkap Ino kesal. Ia tidak terang-terangan berteriak memang—mengingat mereka sedang berada di lobby hotel dalam perjalanannya menuju pantai yang terletak di belakang hotel.
"Kurasa tidak," jawab Itachi sambil menyentuh dagunya. "Aku ingin berada di dekatmu."
"Untuk apa?"
Perlahan, Itachi mengulurkan tangannya dan kemudian mengangkat dahu Ino. Ia semakin mengunci pandangan Ino dengan tatapan tajamnya.
"Untuk meluluhkan kekeraskepalaanmu."
Sesaat, Ino merasa tidak berdaya dengan tatapan tersebut. Ia hanya bisa terdiam dan terus memandang kedua bola mata berwarna gelap tersebut dengan saksama. Tidak dipungkiri, jantung Ino begitu berdegup saat melihat wajah Itachi dalam jarak dekat.
Mati-matian Ino bertahan agar tidak terperosok dalam pesona Itachi, mati-matian gadis itu membangun benteng agar Itachi tak sedikit pun bisa menembus ke dalam hatinya. Untuk kali ini pun, Ino berhasil. Begitu kesadarannya kembali, Ino langsung menepis tangan Itachi.
"Kalau kau ingin aku mengubah sikapku padamu," ujar Ino dengan tegas, "kembalikan Shino dan biarkan kami bahagia! "
"Itu sulit, Ino-chan," jawab Itachi setelah menunjukkan wajah pura-pura terkejut, "Aburame sendiri sudah tidak ingin menemuimu. Ia sudah menyerahkanmu padaku."
"Kau—"
"Aku berkata serius untuk hal yang satu ini," ujar Itachi.
Dengan itu, Ino pun terdiam. Namun, sungguh. Ia tidak mau memercayai Itachi begitu saja. Walau kemungkinan itu ada, walau Shino mungkin memang membuangnya demi bisa mendapatkan kedua penglihatannya lagi, Ino tetap menolak untuk percaya. Masih ada kemungkinan lainnya: Itachi yang memaksa Shino untuk membuangnya.
Andai Ino mau mendengar hati kecilnya berkata, mungkin ia akan langsung menurut pada Itachi. Uchiha Itachi tidak bisa digambarkan sebagai orang jahat yang tanpa alasan melakukan hal-hal kotor untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Gambarannya terlalu berbeda. Namun jelas, masih ada sesuatu yang Itachi sembunyikan dari Ino. Dan Ino menolak untuk menyerah sebelum ia tahu rahasia tersembunyi tersebut.
Dengan keyakinan itulah, Ino sudah bersiap meninggalkan Itachi.
"Aku mau sendiri," ujar Ino sambil menunduk, "tolong, jangan ikuti aku."
Itachi menggeleng lemah. "Baiklah, tapi …."
Ino sudah akan meninggalkan Itachi meski pemuda itu masih belum selesai dengan kata-katanya. Tanpa ragu, Itachi pun tetap melanjutkan perkataannya yang belum selesai.
"Tanyakan pada hatimu, kau dan Shino … bagaimana perasaanmu sebenarnya pada laki-laki itu?"
Ino menoleh sesaat.
"Apa kau benar-benar mencintainya … atau hanya merasa bertanggung jawab atas keadaannya?"
Ino memejamkan mata sesaat dan kemudian berlalu setelah bergumam lirih,
"Akan kupikirkan."
o-o-o-o-o
Pulang dari restoran, sesuai kesepakatan, Hinata dan Sasuke langsung kembali ke hotel. Mereka bahkan berniat untuk langsung kembali ke kamar saat tidak sengaja mereka melihat Itachi tengah terduduk di lobby hotel, dengan laptop di meja di depannya.
Setelah saling berpandangan selama beberapa saat, Sasuke dan Hinata pun menghampiri Itachi. Itachi yang sadar ada dua orang yang tengah menghampirinya, langsung mengangkat wajah dan kemudian tersenyum lembut.
"Kalian sudah pulang? Bagaimana jalan-jalannya?"
"Me-menyenangkan. Dan … o-oh!" Hinata langsung teringat akan kue kering yang baru saja dibelinya. Ia pun meminta Sasuke menyerahkan salah satu paper bag dan kemudian memeriksanya. Tanpa ragu, Hinata kemudian menyodorkan salah satu paper bag. "Oleh-oleh," ujar Hinata sambil tersenyum manis, "dari pabrik Kirin-mitsu."
"Wah, terima kasih," jawab Itachi ramah sambil menerima oleh-oleh yang Hinata berikan. "Ngomong-ngomong," ujar Itachi seolah teringat sesuatu, "kalau tidak keberatan, besok aku ingin kita semua makan malam bersama di salah satu restoran kelas atas di dekat sini. Jika kalian mau, aku akan segera melakukan reservation."
"Bersama itu maksudnya … Sai juga?" tanya Sasuke sambil mengangkat sebelah alis.
"Tentu saja. Sai dan Sakura-chan. Mereka, sih, sudah setuju. Kalian bagaimana?"
"A-aku sama sekali tidak keberatan," jawab Hinata sambil melirik sedikit ke arah Sasuke. Sasuke pun ternyata tengah melirik ke arahnya. Sekejap saja mereka sudah bertukar pandang.
Merasa bahwa acara makan malam bersama besok bukan ancaman, Sasuke pun mengangguk.
"Tidak masalah."
"Oke. Semua bersedia, ya?"
"Ano … Ino-nee …?" tanya Hinata ragu-ragu.
"Ya?"
"Dia ikut, 'kan?"
Itachi tersenyum menenangkan. "Aku akan memastikan bahwa dia juga ikut besok."
Hinata balas tersenyum meski sedikit keraguan terpancar di sana. Hinata masih menimbang-nimbang apa yang akan ia katakan selanjutanya saat Sasuke sudah memberikan isyarat agar mereka segera memisahkan diri dari Itachi.
Tepat sebelum keduanya benar-benar beranjak, Hinata kembali terdiam. Kakinya seakan terpaku. Lalu, ia pun akhirnya memutuskan untuk berbicara.
"I-Itachi-niisan," panggil Hinata hati-hati, "tolong … tolong jangan menyakiti Ino-nee. Kalau memang keadaan yang memaksa Itachi-nii untuk berbuat demikian, tolong sampaikan saja kebenarannya pada Ino-nee."
Itachi tampak terkejut akan kata-kata Hinata. Lebih-lebih, gadis itu membungkuk nyaris sembilan puluh derajat sebelum akhirnya Hinata menutup jarak dengan Sasuke yang dengan terpaksa berhenti setelah berjalan beberapa langkah.
Setelah Sasuke dan Hinata menghilang dari pandangan, Itachi terkekeh pelan.
"Harusnya Hinata lebih mengkhawatirkan soal dirinya sendiri. Rahasia … bukan hanya aku yang menyimpan rahasia. Sasuke pun ..."
Itachi menggeleng prihatin sebelum fokusnya kembali pada laptop di depannya.
o-o-o-o-o
Malam datang dengan cepat. Sebagaimana sebelumnya, tak terjadi apa pun yang ditakutkan Hinata. Keduanya hanya menikmati angin malam di beranda selama beberapa saat sebelum mereka akhirnya masuk kembali untuk menonton sambil sesekali bertukar suara. Tak lama, kantuk pun menyerang dan tidur menjadi keharusan.
Dalam sekejap, pagi kembali datang. Aktivitas demi aktivitas dilakukan Sasuke dan Hinata, tempat demi tempat mereka kunjungi, dan kenangan demi kenangan mereka ukir. Setelah mengunjungi tempat-tempat yang menjual baju dan pernak-pernik lain untuk oleh-oleh—mengingat bahwa mereka besok sudah akan meninggalkan Kirin-shima—Sasuke dan Hinata pun memutuskan untuk bermain-main di pantai.
Pasir putih dan ombak yang bergulung tenang begitu memanjakan. Meski matahari sudah tidak begitu menyengat, hidangan buah kelapa tetap terasa nikmat membasuh kerongkongan mereka. Sambil memerhatikan orang yang hilir-mudik di sekitar pantai serta beberapa yang mulai mencoba berselancar (tapi sia-sia mengingat ombak begitu tenangnya), Sasuke dan Hinata menikmati kebersamaan mereka dengan mencoba mengingat-ingat kembali apa saja yang sudah mereka lakukan di Kirin-shima.
Tak lama, Sai dan Sakura mendatangi mereka. Setelah berbasa-basi singkat, permainan beach volley antar pasangan pun segera terjadi. Cukup lama mereka bermain hingga Ino datang menghampiri. Ia hanya sendiri saat itu.
Sakura mendadak menggoda dan menantang Ino sehingga dengan impulsif, Ino pun menarik salah satu pengunjung pantai. Tanpa malu, Ino meminta pemuda tanggung tersebut untuk menjadi rekannya dalam permainan beach volley melawan Sai dan Sakura.
Sasuke dan Hinata sendiri mengambil kesempatan itu untuk duduk di tepi hanya dengan beralaskan pasir putih yang halus. Hinata yang notabene tidak begitu pandai olahraga terlihat cukup pucat karena kelelahan dan karena itulah, kesempatan beristirahat ini tidak ia sia-siakan. Tambahan satu gelas air kelapa segar sangat membantu kala itu.
Namun, keadaan mendadak memanas tatkala Itachi mendadak muncul. Pemuda itu memang hanya tersenyum, tapi raut wajah tidak suka sempat ditunjukkannya saat Ino malah dengan santai ber-high-five dan tersenyum pada pemuda random yang menjadi partnernya dalam permainan beach volley tersebut. Dalam diam, ia kemudian menghampiri Ino dan menyuruh pemuda random tersebut menyingkir.
Melihat kemungkinan kekacauan yang mungkin terjadi, Hinata terburu-buru bangkit dari posisi duduknya di sebelah Sasuke untuk menengahi Itachi dan Ino yang sudah saling menukar pandang dengan sengit. Sai dan Sakura sendiri tidak banyak bergerak. Sai hanya bersiul sesaat dan Sakura malah terfokus pada bola voli yang sedikit menggelinding di dekat kakinya. Tak pelak, melihat Hinata yang berusaha menengahi membuat Sasuke menepuk jidat dan merasakan kewajiban untuk menarik gadis itu kembali ke sisinya.
Namun, sebelum Hinata mencapai jarak terdekat dengan Itachi dan Ino, pemandangan yang selanjutnya ia lihat membuatnya membeku di tempat. Sasuke pun terbelalak—sama sekali tidak menduga. Mulutnya bahkan sedikit menganga. Tidak jauh berbeda, Sai juga tampak terkejut. Sakura bahkan sampai menutup mulut dengan sebelah tangan—yang tidak mengapit bola voli—sementara wajahnya sedikit merona.
Itachi mencium Ino di depan umum!
Setelah ciuman mereka terlepas, Ino masih tidak juga bergerak. Nyata bahwa gadis itu benar-benar kaget. Seluruh tubuhnya bahkan seolah membeku. Sampai ia mendengar suara rendah Itachi yang memecah keheningan mendadak tersebut,
"Kalau kau memang suka bermain-main dengan cara berbahaya seperti itu, aku juga tidak akan ragu-ragu lagi."
Ino mengerjap beberapa kali sebelum Itachi membiarkannya berdiri tegak. Itachi kemudian menyentuh kembali bibir Ino dengan ujung ibu jarinya dan inilah yang akhirnya membuat Ino menyadari apa yang baru saja terjadi. Dengan kasar, ia pun menepis tangan Itachi.
Wajahnya memerah—oleh malu dan amarah. Namun, Ino tidak dapat berkata sepatah kata pun saat itu. Semua kata-katanya seolah tersangkut di tenggorokan. Ia takut-takut melirik ke orang-orang di sekelilingnya yang tengah terdiam—hanya untuk mengamati dirinya dan Itachi—bagaikan terhenti oleh suatu sihir penghenti waktu.
Tanpa berkata apa pun, Ino meninggalkan pantai dengan setengah berlari. Ia bahkan melewati Hinata begitu saja. Itachi menggelengkan kepala dan menghela napas melihat kelakuan tunangannya. Pun demikian, sebuah senyum tetap tersungging.
Itachi akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ino—meski ia tidak tampak terburu-buru sama sekali. Saat ia sudah berada di dekat Hinata, gadis itu pun bersuara—meski sebagian pikirannya masih sedikit terdistraksi dengan pemandangan menakjubkan tadi.
"Itachi-nii … tadi itu …."
Itachi menepuk kepala Hinata lembut—menyebabkan gadis itu sedikit memicingkan matanya. "Jangan khawatir. Sebelum makan malam nanti, kupastikan kami sudah berbaikan."
Setelah itu, Itachi berlalu. Begitu sosoknya benar-benar sudah tidak terlihat di mana pun, suara tawa Sai perlahan terdengar. Ia tampak geli sekaligus terhibur.
"Itachi-nii luar biasa," ujar Sakura masih dengan wajah yang sedikit merona dan tangan yang tak begitu jauh dari bibirnya. "Dia berani sekali, ya?"
"Hei, jangan bilang kau jadi jatuh cinta padanya," ujar Sai sambil menolehkan kepala Sakura agar menghadap ke arahnya. "Kalau kau menilai seorang cowok sebagai pemberani atau tidak dari kemampuannya mencium cewek di depan umum, aku juga bisa melakukannya padamu sekarang …."
Sai sudah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura saat tiba-tiba gadis itu mengangkat tangannya dan membiarkan Sai mengecup bola voli yang sedari tadi masih dipegangnya.
"Ukh!"
"Tsk, tsk, tsk," Sakura mendecak, "aku tidak suka melakukannya di tempat umum." Sakura kemudian menjulurkan lidah dan tertawa kecil. "Lagi pula, kau tidak mau membuat kakak iparmu yang di sana itu pingsan di tempat, 'kan? Lihat, wajahnya sudah sedemikian pucat."
Sambil menggerakkan kepalanya dengan angkuh, Sakura membuat isyarat agar Sai melihat ke arah Hinata yang masih tak juga bergerak. Hinata sendiri saat itu tengah melihat ke arah Sakura dan Sai dengan kedua tangan terpaut di depan dada. Begitu Sai dan Sakura menghujamnya dengan tatapan ganda, Hinata pun buru-buru menolehkan kepala.
Sakura cekikikan sesaat sementara Sai menyeringai. Lalu, begitu timbul keinginan untuk menggoda kakak iparnya, Sai pun mendekat ke arah Hinata dan berbisik—meski tidak bisa dibilang benar-benar berbisik,
"Tenang saja, Hinata-chan, kami tidak akan melakukannya seperti Itachi melakukannya terhadap Ino. Permainan kami … lebih hot dan bukan untuk umum! Kalau mau melihatnya, nanti malam datang saja ke kamar kami."
"Hush!" Sakura yang sudah tepat di belakang Sai langsung menjitak pelan kepala pemuda tersebut. "Not for public consumption, y'know!" Meski demikian, Sakura kembali cekikikan saat melihat Hinata tampak salah tingkah.
"A-aku … tidak … eh …."
"Masih polos, ya?" ujar Sakura akhirnya. "Akan kuberikan satu nasihat yang bagus. Sekadar ciuman … tidak akan membunuhmu. Kau juga tidak akan langsung hamil hanya karena bertukar ciuman dengan ...," Sakura berhenti sejenak untuk melirik ke arah Sasuke, "suamimu."
Setelah itu, Sakura tersenyum dengan manis dan menepuk-nepuk kepala Hinata. Ia pun melempar bola voli yang dari tadi dibawanya ke sembarang arah. Selanjutnya, ia bertukar pandang dengan Sai dan mengangguk. Pasangan kekasih tersebut kemudian berlalu meninggalkan Sasuke dan Hinata.
Sai sempat menepuk pundak Sasuke sejenak dan menyipitkan mata untuk mengesankan suatu tatapan penuh arti. Tentu tatapan Sai itu hanya dibalas dengan suatu tatapan dingin. Walau Sasuke tidak ingin memusingkan hal-hal yang dilakukan kakak dan adiknya, mau tidak mau ia harus memikirkan juga. Apalagi jika dampaknya bisa begitu berpengaruh pada Hinata.
"Hinata," panggil Sasuke.
"A-aku juga tahu, kok. Kalau hanya 'ciuman tidak akan membunuh dan tidak akan membuat hamil' … aku juga tahu," gumam Hinata perlahan tanpa menggubris panggilan Sasuke. "Masalahnya …."
Sasuke menghela napas. "Sudah, kau tidak perlu memikirkan soal perkataan Sakura tadi. Lebih baik kita kembali ke kamar dan siap-siap untuk makan malam nanti."
Sasuke sudah akan berbalik saat tiba-tiba Hinata menarik lengan bajunya. Ketika Sasuke menoleh, yang dilihatnya hanyalah kepala Hinata yang menunduk. Meski demikian, rona merah di wajahnya itu jelas terlihat meski berusaha disembunyikannya mati-matian.
Tanpa berkata apa-apa, Sasuke pun meletakkan tangannya ke kepala Hinata dan mendorong kepala gadis itu untuk menempel sedikit di dadanya.
"Ciuman memang sebaiknya dilakukan oleh kedua orang yang saling mencintai."
Hinata meredupkan pandangannya sebelum ia benar-benar memejamkan mata. Selama beberapa saat, mereka terdiam dalam posisi kepala Hinata terletak nyaman di dada Sasuke. Akhirnya, rona merah itu perlahan pudar bersamaan dengan mata senada mutiaranya yang kembali terbuka.
Tanpa Sasuke sadari, raut sedih yang ditandai kernyitan di alis itu sekilas mewarnai ekspresi Hinata. Namun, dengan sebuah senyum yang berhasil ia tunjukkan, Hinata pun menjauhkan diri dari kenyamanan yang ditimbulkan oleh sentuhan Sasuke.
"Ayo kita kembali ke kamar."
Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, tiap waktu yang Hinata lewati bersama Sasuke akan membawanya pada sebuah kepastian dan kejelasan. Untuk masa depannya, juga … untuk sebuah cerita yang sempat terlupakan di masa lalu.
***To Be Continued***
[1] Ini menyangkut kultur-budaya. Dari apa yang saya lihat dari manga-manga (ini referensi utama saya, mwahahaha!), saya mengambil kesimpulan kalau masalah ehemsexehem bukan hal yang tabu lagi di kalangan masyarakat Jepang. Dan karena setting di fanfic ini lebih kejepang-jepangan (meski nggak benar-benar Jepang karena nama tempatnya khayalan semua), maka saya juga memilih untuk memakai kultur itu. Dari awal pun sudah seperti itu sih *garuk-garuk pipi* Demo ne, tetap saya tekankan, hal-hal yang tidak baik, buang jauh-jauh dan cukup dicerna sebagai hiburan atau informasi aja. :3
Duh, panjang, 'kan? Udah panjang, 'kan? Mau pojok (sok) gahoel, nggak? Author-nya sih mau~ /plak!
POJOK (SOK) GAHOEL!
Hinata: A-a-ano … Sasuke-kun ….
Sasuke: Hn?
Hinata: Ki-ki-ki-ki …
Tiba-tiba, segalanya pun berubah saat negara api menyerang!
Hinata (?) : Ki … k? Kikikikik! Kikikikikikik! Ki-ki-kik! KIKKKKK! Nguik? NGUIK!
Sasuke: OHHH! NOOOO! Hinata berubah jadi percampuran antara monyet dan babiiii! THEDAAAAKKK! KE MANA HINATA-KUUUU DULU YANG UNYU-UNYUUUU~?! HINATAAA! Come back to Papaaaa (?) !
Hinata (?) : Nguik?
THE END
#glek
Kali ini, selain Sasuke *langganan* Hinata kena juga saya nistain. Aiyaaaah~ *kabur sebelum dilempar batu bara sama semua fans Hinata* Ng, a-ampun kakak-kakak yang cantik-cantik, cakep-cakep, saya cuma bercanda, buat lucu-lucuan aja. Nggak ada niatan bashing Hinata. Suer. Kalau pada nggak berkenan, sila bilang baik-baik di review, nanti saya hapus O_Ov
Udah ah, bawelnya. Saya balesin dulu review non-login yang udah masuk. Halaman semakin kritis, nih (?)
princessalien: … Hai! Saya suka nama pena kamu! X""D /ngaco. Iyaa, kasihanilah Sasuke, makanya, jangan lupa isi pundi-pundi amal buat Sasuke, ya? :") Nah, itu dia, di sini Sasuke dan Hinata belum sempet mesra-mesraan, tapi gimana di chapter selanjutnya, ya? *fufufu* Makaciiih buat cemangatnya, qaqa~ :*
Guest: Lebih cepat lebih baik~. O_O9 /mendadak kampanye /saya mah mana bisa update cepet-cepet T_T
eL-Uchiha Himechan: yaay~ *ikutan jijingkrakan* Sama-sama, makasih juga udah mau baca X"D eeeh *lirik-lirik cerita* itu berkesan atau bencana, ya? O_O
Oneechan: hihihi, Oneechaaan~ makasih udah mau mampir lagi di ff ini X"D #hugtight. Ah, ya, yang soal 'telah' emang typo dan soal 'bergerak' emang lebih ke rasa bahasa, ya? :') Iya, emang ada macem-macem POV, kok. Cuma kemaren lagi mau dibuat lebih ke POV Hinata. Sekarang udah lebih beragam lagi POV-nya, moga-moga nggak jadi aneh dan moga-moga tiap scene-nya memuaskan :"P
K: ciaaattt~ makasih udah cinta ama fict ini~. Ng? Min? Serasa jadi admin di suatu grup XDD kalau soal tamatnya di chapter berapa, dari hasil penerawangan saya nih, kayaknya nggak bakal lebih dari 15 chapter kok :"3
ritsuka hijiri: konbanwa~ *saya balesnya pas malem :""3* hihi, makasih akhirnya memutuskan untuk meninggalkan jejak. Tapi aku tetep tersanjung pas kamu bilang udah ikutin dari chapter 1. Makasih banyak, ya~. Soal adegan romance Sasuhina, pelan-pelan, yak? Saya nyoba bangun feel-nya pelan-pelan. X"D
HyUchi Mai: … yakin mau dibocorin di sini soal apa yang Sasuke rencanain? O_O oke, baca baik-baik, ya. Sasuke itu bakal *piiiip* terus dia *piiiip* dan akhirnya *ppiiiip*. Phew, begitulah kira-kira~ *grin* Kalau soal update, saya usahain. Tapi saya juga kan masih ada utang ketikan yang harus dikerjain. Maaf, ya u.u
Aisanoyuri: konbanwaaa~ *teriak pake mic terus naik ke atas panggung n mulai nyanyi /plak. Hihi, makasih yaaa akhirnya mau meninggalkan jejak :") Thanks juga udah baca dari chapter 1 X"D Itachi ada rencana apa bawa Ino? Kita tanya Itachi langsung aja, ya? Itachi: udah jelas, 'kan? Untuk meluluhkan kekeraskepalaan Ino *ngutip dari fict*
sei shii: salam kenal juga~ :"D aaa! Jangan terhanyut dulu, itu sungainya kotor dan berlumpur, lho (?) /apaini. Anywaaay~ makasih banyak udah read n review~ moga-moga nggak bosen ama ceritanya, ya? X"D
ZheCaga: sebenarnya … Ino itu … *piiiiip*. X"D Yosh! Gimana dengan ItaIno di chapter ini? :"3
Yak, balasan review non login, done~! Untuk yang login, sila cek PM masing-masing~ X"D
Next, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu!
Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan (apalagi yang udah mengharapkan romance SasuHina, maaf u.u). Saya pribadi sih, suka ama chapter ini karena lancar banget ngetiknya. Hehehe. Next chapter dijadwalkan bulan depan, entah tanggal berapa XD
Okay, langsung aja, silakan beri tahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
