Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

No commercial advantages is gained by making this fanfic. Fanfic is just for fun, guys! ;)

Genre : Romance/Drama

Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku

A/N: buat yang udah pada nggak sabar dan seolah udah mau nerkam saya gara-gara chapter kemaren. Maaf kalau chapter kemarin sangat tidak memuaskan kalian. =w=b

Btw, chapter ini aku dedikasiin buat Zocchsan. Zocchan, makasih banyak yaaaaa buat waktunya kemaren-kemaren ini #hug :"")

Then, for this chapter also, enjoy reading!


Chain of Love

Chapter 10 – Lady Chaos


All I do is to bring bad luck to them

I love and care so much.

It's not just a nightmare,

the chaos is coming like a horse of fire,

right in front of there,

devoured all of the laughter.

Now is your turn to run.

Run for me ….

Run … from me ….

.

.

.

Makan malam yang sudah direncanakan itu tetap terlaksana. Bagaikan keajaiban, Ino tetap hadir di tengah-tengah mereka meski wajahnya menyiratkan amarah dan kesinisan yang tidak ditutup-tutupi. Hanya ada satu alasan mengapa Ino tetap berada di antara mereka malam itu meski kondisi mood-nya sedang benar-benar tidak baik.

"Aku. Akan. Menghabiskan. Harta. Uchiha," geram Ino saat Sai mecetuskan pertanyaan iseng di balik kehadirannya saat itu. Begitu Sai mulai tertawa, Ino pun mendelik tajam dan berkata ketus, "Tidak ada yang lucu!"

Dan membuktikan kata-katanya, Ino langsung memesan banyak makanan tanpa dipikir. Pelayan yang melayani mereka sampai mengerjapkan mata dengan bingung. Ia bahkan tampak takut menulis pesanan Ino—takut bahwa ia sedang dikerjai gadis tersebut.

"Tidak apa. Catat saja semua pesanannya," ujar Itachi tenang sambil tersenyum.

"Ino-nee … pesan sebanyak itu, kalau tidak habis … jadi mubazir, 'kan?" Takut-takut Hinata memperingatkan. Namun, Hinata hanya mendapat sebuah cengiran jahil dari gadis yang kala itu mencepol rendah rambut pirangnya. Ino yang duduk di sebelah Hinata pun dengan mudah menepuk pundak sang gadis berambut indigo yang kala itu menghias rambutnya dengan sebuah bando berwarna biru yang senada dengan rok yang dikenakannya.

"Tenang saja, ada banyak cara untuk menghabiskan makanan ini," ujar Ino santai sambil mengedipkan matanya.

"Jangan bilang kau akan menguburnya di tanah untuk memakannya lain kali, Buta-chan?" sindir Sakura yang duduk berselang satu dari Ino—tepat di sebelah Itachi.

Ino mendengus mendengar sindiran Sakura. "Tentu saja tidak," jawab Ino sambil tersenyum penuh arti. "Ayo, kalian juga pesan sesuatu?"

Mengingat sudah banyaknya pesanan Ino, sesaat Hinata ragu-ragu untuk memesan makanan. Sempat terbersit, gadis itu akan memakan apa saja yang sudah dipesankan Ino tadi. Namun kemudian, Sasuke tetap menyuruhnya memesan satu jenis masakan lagi dan Hinata pun pasrah oleh kehendak suaminya tersebut.

Tak lama, meja mereka sudah dipenuhi oleh masakan-masakan berbagai rupa dan rasa. Mata Ino tampak berbinar saat beberapa pesanannya datang. Tanpa ragu, ia pun mempersilakan teman-teman satu mejanya untuk ikut mencicipi makanan pesanannya.

Demikian acara makan malam itu berjalan dengan cukup aneh dan … menyesakkan. Sesak, karena tentu saja banyaknya makanan yang sudah dipesan oleh Ino. Bahkan, sempat dilakukan beberapa permainan kecil untuk menentukan siapa yang harus menghabiskan satu jenis makanan.

"A-aku sudah tidak kuat lagi," ujar Sakura sambil menutup mulutnya dan mengangkat sebelah tangannya.

"Ara? Sudah tidak kuat?" ujar Ino yang terlihat paling ceria. Tentu saja, gadis itu sendiri justru tidak makan banyak. Ia malah menyodor-nyodorkan makanan-makanan yang belum habis ke teman-temannya yang lain.

Hinata? Tentu saja ia tidak bisa menolak. Sakura yang awalnya akan menentang kebijakan seenaknya Ino itu mendadak bungkam setelah Ino mengancam akan membocorkan rahasia memalukan Sakura dulu. Sasuke dan Sai? Keduanya tunduk oleh tatapan Itachi yang seolah berbunyi, 'Ikuti-saja-keinginannya-atau-kalian-tamat.'

Dan sekarang beginilah keadaannya: Sakura sudah menundukkan kepala hingga dahi(lebar)nya menyentuh meja. Sai bersandar pada kursi dengan sebelah lengan melintang—menutupi mata. Sasuke menunduk dengan tangan yang menopang dahi dan Hinata hanya bisa menutup mulutnya serta sesekali meminum air putih. Itachi sendiri terlihat santai dan hanya menepuk-nepuk perutnya.

"Kau belum kenyang, ya? Habiskan makanan ini!"

Hinata melirik ke arah Itachi yang sudah memulai ancang-ancang untuk mendekatkan wajahnya ke arah Ino.

"Tidak bisa. Aku harus menyediakan sedikit rongga di perutku untuk sebuah 'penutup'," ujarnya sambil menyeringai jahil.

Kesal, Ino hanya bisa menggerakkan tangannya untuk mendorong wajah Itachi menjauh. Gadis itu pun memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan lain dalam keadaan dibungkus. Tak lupa diperintahkannya pula para pelayan itu untuk membungkus makanan di meja yang tidak habis.

"Ino-nee … pesan makanan lagi?" tanya Hinata dengan wajah pucat.

"Urrgh!" keluh Sakura masih sambil menutup mulutnya.

Ino menyeringai dan kemudian keadaan pun mendadak hening. Memanfaatkan kesempatan itu, Sai yang sudah sedikit pulih dari perasaan sesak karena kekenyangan akhirnya kembali membuka mulut.

"Ngomong-ngomong," katanya, "ini akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi kami. Uhm …." Sai sekilas menggaruk pipinya dengan ujung telunjuk.

Sasuke mengangkat kepala hingga terlihat ekspresi penuh tanya di wajahnya. Seolah sudah tahu sejak awal, Itachi hanya menyeruput minumannya dengan tenang.

"Kurasa … aku harus mengucapkan terima kasih? Pada Itachi-nii yang sudah mengatur acara makan malam ini, pada Ino-san yang sudah membuatnya menjadi meriah," Sai terdiam sejenak dan melirik ke arah Sasuke dan Hinata, "juga pada kalian yang sudah bersedia hadir hari ini. Kupikir Sasuke akan menolak dan lebih memilih aktivitas 'kamar' dengan Hinata."

"Bukan gayamu untuk berbicara formal seperti itu, Sai," celetuk Sasuke tajam denggan mengabaikan sindiran di akhir kalimat Sai. "Jangan basa-basi, apa yang kauinginkan?"

"Tidak," kali ini Sakura yang menyela, "kami tidak menginginkan apa-apa. Hanya sekadar … ingin memberi informasi, mungkin?"

Sakura melirik ke arah Sai dan kekasihnya itu memberi suatu anggukan persetujuan disertai sebuah genggaman tangan untuk menguatkan. Sakura kemudian mengedarkan pandangannya ke teman-teman satu mejanya saat itu. Mata hijaunya bergulir pelan dan berhenti tepat saat bertatapan dengan Hinata. Sakura kemudian tersenyum.

"Malam ini, aku dan Sai, kami, akan pergi. Aku akan meninggalkan keluarga Haruno dan Sai akan meninggalkan keluarga Uchiha."

Sai menimpali dengan enteng, "Kawin lari."

o-o-o-o-o

Di kamar hotel, Hinata yang kini tengah terduduk di kasurnya setelah membereskan pakaian tampak bengong dengan mata menerawang. Kepalanya bersandar pada sandaran kasur sementara tangannya terletak nyaman di atas bantal empuk yang ada di pangkuannya.

Kejutan yang diberikan Sai dan Sakura padanya tadi membuat Hinata cukup terguncang. Bahkan, fakta bahwa Ino kemudian memberikan makanan yang sudah dibelinya (dengan uang Itachi) pada beberapa pelayan restoran tidak lebih membuatnya terkejut.

Sebesar itulah perasaan Sai dan Sakura. Sebesar itulah harapan mereka untuk bisa bersama. Dan pada akhirnya, melarikan diri dari keluarga masing-masing adalah satu-satunya jalan. Mereka akan hidup dalam persembunyian selama … entah berapa lama. Mungkin sampai kedua keluarga bisa menerima keputusan mereka? Tidak ada yang tahu.

Hinata menghela napas, sementara ia berusaha mengingat-ingat percakapan setelah fakta mengejutkan itu dibuka.

.

.

.

Sai menimpali dengan enteng, "Kawin lari."

Hinata menahan napas begitu mendengar kata-kata Sai. Seketika, ia teringat kata-kata Sai di kolam.

"Bagaimana cara agar kami tidak lagi … menyimpan perasaan tidak suka ini padamu?"

Jalan inikah yang mereka pilih? Jalan inikah yang harus mereka tempuh? Dengan melarikan diri dari keluarga masing-masing, mereka menunjukkan bahwa inilah usaha keras terakhir yang bisa mereka lakukan; tentu dengan melepaskan opsi 'bunuh diri' yang tidak bermoral sebagai cara paling ekstrim.

Dengan kawin lari, mereka akan bisa bersama. Dengan itu, mereka tidak melihat Hinata dengan tatapan iri dan tidak suka. Mereka akan bisa bersama tanpa harus menutupi hubungan mereka—itu esensi utamanya.

"Jangan konyol!" Suara Sasuke membuat Hinata menoleh. "Kalian bukan tidak tahu kalau keluarga Haruno akan mencari kalian bahkan sampai ke daerah terpelosok sekalipun, bukan? Bahkan mungkin mereka akan meminta bantuan polisi!"

Hinata ingin menambahkan perihal keluarga Uchiha yang mungkin juga akan melakukan hal sama. Namun, melihat situasinya, mungkin Itachi akan melakukan sesuatu agar Fugaku tidak terlalu memusingkan anak bungsu mereka. Jelas terlihat, Itachi berpihak pada Sai untuk masalah ini.

"Benar, Dekorin," tambah Ino berhati-hati, "kau bukan tidak tahu seberapa keras kepalanya tousan-mu, bukan?"

"Aku sudah memikirkan hal itu, tenang saja." Sakura berdeham. Lalu ia melemparkan satu cengiran jahil. "Aku akan segera mengirim surat pada tousan yang mengatakan bahwa jika aku melihat ada orang-orang suruhannya yang memantauku, maka aku akan bunuh diri saat itu juga."

"Kuharap aku tidak perlu melakukan hal yang sama untuk tousan, ne, Itachi-nii?" sambung Sai bahkan sebelum seorang pun sempat mengomentari kata-kata Sakura yang entah dimaksudkan hanya untuk lelucon atau sungguh-sungguh.

Itachi tersenyum tenang. "Tidak perlu, aku akan mengurus semuanya."

"Terima kasih, Itachi-nii," ujar Sakura lembut sambil menekan tangannya yang sedang bergenggaman dengan tangan Sai.

"Terima kasih," ujar Sai selanjutnya. Jika Hinata benar-benar mendengarkan saat itu, ketulusan Sai saat ia mengucapkan 'terima kasih' sama sekali tidak dibuat-buat. "Oh, ya. Untuk berjaga-jaga, kami juga akan menyamar dan mungkin kami akan berpindah-pindah tempat setiap dua minggu sekali sebelum kami memutuskan untuk menetap di suatu tempat."

Sasuke masih tidak dapat berbicara apa-apa. Sekali lagi, suara Itachi-lah yang terdengar.

"Aku akan meminta bantuan pada beberapa bawahanku untuk menyamar seperti kalian di tempat-tempat tertentu dan menyebarkan gosip yang salah mengenai keberadaan kalian. Beri tahukan padaku nama-nama tempat yang rencananya akan kalian kunjungi dan aku akan menciptakan isu mengenai keberadaan kalian di tempat yang justru jauh dari tempat kalian sebenarnya."

Sai mengangguk dan menggumamkan bahwa itu akan sangat membantu. Setelah itu, makanan pesanan Ino datang dan semuanya bangkit dari kursi masing-masing. Tidak perlu diceritakan ulang apa yang kemudian dilakukan Ino dengan makanan yang sudah dipesannya. Semua juga tidak begitu memerhatikan akibat masih terlalu larut dalam cerita mengenai rencana kepergian Sai dan Sakura.

Saat Ino sibuk mengurusi pesanan makanannya, dan saat ketiga pemuda Uchiha itu berkumpul—mungkin untuk mengucapkan kata-kata perpisahan—saat itulah Sakura mencuri kesempatan dan bergerak mendekati Hinata.

"Sayang sekali, ya, kita baru bertemu sebentar dan kita sudah tidak akan saling bertatap muka lagi," ujar Sakura, "atau justru kau akan senang karena tidak akan ada lagi yang mengganggumu?"

"Eh?"

"Sai cerita padaku, ia selalu mengatakan hal-hal yang menyakitkan padamu, bukan?"

"Ti-tidak begitu," jawab Hinata cepat, nyaris spontan, "apa yang Sai-kun katakan adalah kenyataan. Aku …."

"Dengar," ujar Sakura tegas, "aku bisa melihat keraguan itu masih bertahan dalam dirimu. Kalau kau seperti ini terus, apa yang harusnya bisa segera kaudapatkan, mungkin akan hilang bersamaan dengan berputarnya waktu."

Hinata menunduk diam sambil menggigit bibir bawahnya. Melihat Hinata yang tampak tidak akan berkata-kata, Sakura mencodongkan tubuhnya agar semakin dekat dengan Hinata. Gadis berambut merah muda itu kemudian berbisik,

"Kautahu? Sasuke-kun itu benar-benar menyayangimu—sebagaimana Sai menyayangiku. Aku yakin hal itu. Tapi, bukan itu yang membuatku kesal ataupun iri padamu."

Hinata menatap mata Sakura dengan ragu-ragu.

"Yang membuatku kesal adalah … keberuntunganmu yang membuat orang lain justru terlihat begitu menyedihkan. Tapi jika kau terus ragu seperti ini, kurasa keberuntungan pun akan enggan berpihak padamu terlalu lama."

"Aku tidak—" Hinata tidak melanjutkan kata-katanya. Segera, ia justru menutup mulut dengan sebelah tangan. Sesuatu dalam dirinya mulai meraung kembali, seakan hendak menunjukkan bahwa tak lama lagi, sesuatu itu akan terbangun dan membongkar sebuah rahasia yang sudah lama terpendam.

"Kau tidak usah menjelaskan apa-apa. Aku juga tidak mau tahu lagi," kata Sakura lebih lanjut, "sudah, ya! Selamat tinggal. Semoga kau selalu berbahagia."

Sakura memeluk Hinata sekilas sebelum gadis itu berlalu dan mendekat ke arah Ino yang dengan sengaja memandang mereka dari jauh. Kedua gadis sepantaran itu lalu bertukar kata-kata yang tidak bisa Hinata dengar dengan jelas dan kemudian berangkulan. Meski dari tempatnya sekarang, Hinata kini dapat melihat bagaimana Ino dan Sakura yang sudah berkaca-kaca.

Hinata juga merasa sedih. Namun, ia tidak bisa menangis. Perasaannya membeku oleh suatu bayangan yang membuatnya tidak lagi fokus pada sekelilingnya. Dan yang kemudian menyentaknya adalah suara Sai yang terdengar sinis seperti biasa.

"Sakura sudah menjelaskan semuanya padamu?"

Hinata memandang Sai lekat-lekat sebelum anggukan diberikan Hinata sebagai jawaban. Jemarinya kini kembali bertaut di depan perutnya.

"Y-yaa—kurasa aku sudah cukup paham. Te-terima kasih."

Sai terkekeh pelan dan membuat Hinata kembali menatap kepadanya. Tidak langsung berkata-kata, Sai menoleh sekilas ke arah Sasuke.

"Baiklah. Mungkin ini akan menjadi interaksi kita yang terakhir," ujar Sai tenang, "aku tidak akan banyak bicara." Pemuda itu kemudian mengangkat wajah Hinata dan … mengecup pipinya!

"E-eeehhh?!"

Sasuke yang semula tengah berbicara serius dengan Itachi langsung menoleh begitu mendengar pekikan terkejut Hinata. Matanya berkilat oleh amarah terhadap sang adik satu-satunya. Sasuke sudah tahu bagaimana sifat Sai yang memang seenaknya, tapi tentu saja ia tidak bisa begitu saja memaklumi semua tingkah Sai. Terutama, jika Sai mulai mempermainkan Hinata!

"SAAAII!" geram Sasuke yang langsung meninggalkan pembicaraan dengan Itachi dan mendatangi Sai. "Brengsek kau!"

Sai tertawa terkekeh saat Sasuke kemudian menariknya di kerah dan membawanya menjauh dari Hinata. Namun, Sai tetap tidak akan berhenti hanya dengan cara itu. Ia pun kemudian melambai ringan ke arah Hinata yang masih memegangi pipinya dengan wajah memerah.

"Semoga selalu bahagia, ya, Kakak Ipar."

Semoga selalu bahagia … semoga selalu bahagia.

Kebahagiaan adalah harapan banyak orang. Dan keduanya telah memberikan doa terbaiknya pada Hinata sebelum mereka benar-benar menghilang. Pergi menjauh dan entah kapan takdir akan berbaik hati mempertemukan mereka kembali.

.

.

.

Mendadak, Hinata tidak lagi mendengar suara shower samar dan tak lama, sebuah suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya. Sasuke keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap—kaos biru gelap dan celana panjang—serta sebuah handuk di kepala. Hinata memiringkan kepalanya sebelum entah karena dorongan apa, gadis itu berkata lembut,

"Ma-mau kukeringkan rambutmu, Sasuke-kun?"

Sasuke yang baru mengambil minum dari kulkas langsung terbengong sesaat. Setelah satu tenggakan, Sasuke pun berjalan ke arah kasur dan duduk di ujungnya.

"Tolong," ujarnya kemudian dengan tubuh yang sedikit membungkuk.

Hinata tersenyum manis dan langsung beranjak mendekati Sasuke. Gadis itu kemudian bertumpu pada kedua lututnya dan mulai menggerakkan tangannya untuk mengeringkan rambut Sasuke yang basah. Selama beberapa saat, tak ada yang berbicara, hanya desahan napas keduanya yang seolah saling bersahutan.

"Ng …," mulai keduanya secara bersamaan.

"Ah? Sasuke-kun mau membicarakan sesuatu?" ujar Hinata cepat.

Sasuke menutup mulutnya sendiri sementara kepalanya masih tertunduk. Sebetulnya, tanpa melakukan itu pun, Hinata tetap tidak dapat melihat ekspresi yang ditampilkan pemuda itu. Entah apa alasan pemuda itu kemudian tampak ragu sehingga ia akhirnya memilih kembali bungkam.

"Kau saja yang duluan."

Hinata menggangguk kecil. "Soal … Sai-kun dan Sakura-san. Mereka memang benar-benar … saling menyayangi—sepenuh hati. Sampai-sampai mereka rela meninggalkan segalanya untuk bisa bersama."

"Ya," jawab Sasuke tanpa antusias.

"Itu," Hinata menelan ludah, "membuatku sangat terkesan."

Kali itu, Sasuke memilih tidak menjawab.

"Aku … aku tidak pernah membayangkan kalau ikatan cinta itu bisa segitu kuat memengaruhi tingkah laku seseorang," lanjut Hinata lagi. "Ceritakan padaku," Hinata berhenti sejenak bersamaan dengan gerakannya menarik handuk Sasuke dari kepalanya, "bagaimana awal mula Sai-kun dan Sakura-san bertemu hingga mereka saling jatuh cinta?"

Sasuke menoleh ke arah Hinata. Kala itu, Hinata sudah duduk dengan posisi yang lebih nyaman, sedikit bersimpuh.

"Awalnya … akibat pembicaraan konyol kedua kepala keluarga Uchiha dan Haruno, kurasa."

"Eh?"

"Di suatu pesta makan, kali itu Sai yang mendapat giliran menemai tousan dan di sanalah ia bertemu Sakura. Semacam itulah, aku tidak tertarik pada hubungan mereka. Yang jelas, mereka pun tidak serta-merta jatuh cinta. Sejak awal, Sai memang sudah mengatakan Sakura menarik tapi saat itu, ia tetap jalan dengan beberapa perempuannya yang lain."

Hinata mengangguk. "Tentu … butuh waktu, ya?"

"Sama seperti aku," ujar Sasuke, "awalnya, aku justru memandangmu dengan penilaian yang tidak menyenangkan." Mata Sasuke tampak bergulir ke atas kiri—ia tampak sedang mengingat-ingat kejadian di masa lalu: Pertama ia melihat Hinata dan menilainya sebagai boneka yang sama-sama dipersiapkan sebagai penerus keluarga—boneka yang tidak memiliki kehendaknya sendiri. Boneka yang membosankan.

Sekali ini, Hinata yang terdiam dan mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Sasuke. Ia tidak ingin menginterupsi.

"Tapi, semakin aku mencari tahu tentang dirimu, semakin aku ... tertarik."

Wajah Hinata merona. Dia sudah tahu hal itu. Namun, mendengar hal itu terang-terangan dari mulut Sasuke, tidak pernah gagal untuk membuat Hinata merasa malu dan … berdebar. Rupanya, hubungan Sai dan Sakura sedikitnya memengaruhi Hinata. Sekali lagi, tanpa diduga, ia berkata,

"Kenapa kau bisa sampai … tertarik padaku?"

Sasuke menghela napas panjang. Seulas senyum yang diiringi tatapan sabar menghias wajah sang pemuda yang dikenal dingin tersebut. Entah mengapa, Hinata langsung membuat satu catatan dalam dirinya: Tentu, Hinata adalah gadis yang sangat beruntung karena ia dapat melihat ekspresi teduh seperti itu dari seorang Uchiha Sasuke.

"Kau mungkin tidak ingat—kau masih kecil waktu itu. Saat kau berumur empat tahun, aku hadir di acara ulang tahunmu."

Diam-diam Hinata berpikir. Ia mengorek kenangan masa lalunya, mencoba mencungkil keluar momen saat ulang tahunnya yang keempat. Ia pun seketika teringat pada mimpinya. Ya—Sasuke hadir sebagai sosok dengan mata kelam. Hanya ingatan samar, tapi begitu ia merasa bahwa ucapan Sasuke tidak mengada-ada, Hinata mengangguk.

"Di situlah awal aku mulai memperhatikanmu. Kukira kau adalah boneka yang membosankan, tapi kau membuktikan kalau aku salah." Sasuke mengangkat bahunya. "Pertemuan kita selanjutnya, sekitar satu tahun kemudian," ujar Sasuke dengan ketajaman ingatan yang membuat Hinata harus menahan diri untuk tidak berdecak kagum. "Saat ibumu meninggal. Di pemakaman."

"Saat Kaasan meninggal," gumam Hinata mengulangi pernyataan Sasuke.

"Aku melihat sosok itu, seorang gadis cilik yang berusaha tegar—yang katanya tidak mau menangis karena takut tousan-nya bersedih. Namun, begitu aku sedikit membentakmu, kau justru menangis meraung-raung."

Hinata sesaat tampak salah tingkah. Dengan gelagapan, ia akhirnya berkata, "Eh … ano … itu aku …."

Sasuke menunjukkan ekspresi sayang yang tidak bisa lagi ia tutupi. Ditepuknya kepala Hinata dengan lembut sebelum ia berkata lamat-lamat, "Sejak saat itulah, aku merasakan suatu dorongan aneh untuk tahu lebih banyak tentang dirimu."

Kepala Hinata masih tertunduk. Jika ia mengangkat wajahnya, mungkin terlihat jelas seberapa rona merah itu sudah mendominasi wajahnya. Cerita tentang bagaimana timbul perasaan 'sayang' dalam diri Sasuke benar-benar menggelitik hati Hinata. Hinata bahkan tidak tahan lagi untuk tidak menanyakan hal yang sesungguhnya di luar kebiasaannya,

"Sasuke-kun, apa kau … me-mencintaiku?"

Sasuke tampak tidak kaget dengan pertanyaan itu. Diraihnya sejumput rambut Hinata dan dikecupnya lembut.

"Lebih dari yang kautahu, aku … tergila-gila padamu," ungkap Sasuke terus terang.

Jantung Hinata semakin mendentam keras. Apa yang terjadi malam ini? Apa malaikat cinta benar-benar sudah bekerja keras untuk menciptakan suasana bagi mereka untuk saling menyadari perasaan masing-masing?

"Bagaimana denganmu sendiri, Hinata?" tanya Sasuke kemudian. "Bagaimana … perasaanmu terhadapku?"

Hinata tidak langsung menjawab. Saat itu, pandangan Hinata begitu terpaku pada bibir Sasuke. Kilasan peristiwa di pantai menjelang sore tadi kembali meminta jalan untuk keluar—saat Itachi mencium Ino di depan banyak orang. Lalu …

"Sekadar ciuman … tidak akan membunuhmu. Kau juga tidak akan langsung hamil hanya karena bertukar ciuman dengan … suamimu."

Gila! Ini gila! Hinata sama sekali tidak mabuk. Namun, keinginan yang besar untuk meraup bibir di depannya membuat wajahnya memerah semakin parah. Hinata sudah hendak kembali melarikan diri dan membiarkan pertanyaan Sasuke tidak terjawab saat di kepalanya sekali lagi bergema kata-kata dari orang yang sama.

"Dengar, aku bisa melihat keraguan itu masih bertahan dalam dirimu. Kalau kau seperti ini terus, apa yang harusnya bisa segera kaudapatkan, mungkin akan hilang bersamaan dengan berputarnya waktu."

Apa yang bisa Hinata dapatkan? Oh—kehangatan Sasuke, tentu saja! Perasaan nyaman yang selalu menyelimutinya tiap ia bersama pemuda itu. Rasa kasih sayang yang besar yang ditunjukkan oleh pemuda itu—entah dari kata-kata ataupun perbuatannya.

"Yang membuatku kesal adalah … keberuntunganmu yang membuat orang lain justru terlihat begitu menyedihkan. Tapi jika kau terus ragu seperti ini, kurasa keberuntungan pun akan enggan berpihak padamu terlalu lama."

Benar! Hinata tidak bisa begini terus. Dia harus segera memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Dia harus menanyakan pada hatinya, bagaimana perasaan ia terhadap Sasuke sebenarnya?

"Hinata?" ulang Sasuke.

Hinata memejamkan mata. Hari-hari bersama Sasuke mulai terbayang di benaknya. Awal, pertama kali, asal mula Hinata melihat Sasuke—pemuda itu sudah menolongnya. Dan setelah itu, Sasuke pun kerap menolongnya. Namun, apa perasaan berdebar ini bisa disangkutpautkan hanya dengan perasaan 'berterima kasih?' Sesederhana itukah?

"Tapi jika kau terus ragu seperti ini, kurasa keberuntungan pun akan enggan berpihak padamu terlalu lama."

Seandainya Sasuke pergi darinya … pergi jauh ….

"Tidak!"

Sasuke membelalakkan matanya bersamaan dengan Hinata yang juga sudah membuka kedua matanya. Wajah gadis itu tampak sedih. Matanya bahkan tampak sedikit berkaca-kaca.

"Ah," jawab Sasuke sambil tersenyum samar, "aku menger—"

"Aku tidak mau … jika Sasuke-kun pergi dariku." Hinata menggeleng cepat sebelum gadis itu kemudian menarik baju Sasuke dan langsung mencium Sasuke … di bibir.

Hanya sapuan sekilas dan Hinata langsung menarik diri dari Sasuke. Ia kembali duduk dengan sikap tegang seolah ia takut dimarahi. Tapi, Hinata bukan tegang atau takut dimarahi. Bukan perasaan sepele macam itu. Sebaliknya, ada sedikit kelegaan meski justru ia semakin tampak ingin menangis.

Dengan tangan terkepal di atas kedua pahanya, Hinata kemudian berkata—separuh memohon dan separuh memerintah,

"Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi dariku!"

Sasuke menyentuh bibirnya sendiri. Wajahnya kini sama memerahnya dengan wajah Hinata. Namun, dengan cekatan, Sasuke segera menguasai kekagetannya dan kini, ia berbalik menyerang Hinata.

"Kyaa?"

Sasuke sudah berada di atas Hinata dan menatap mata keabuan itu lekat-lekat. Kedua tangan Hinata terkunci oleh genggaman Sasuke, tapi tidak ada pemberontakan sama sekali dari sang gadis berambut indigo.

Sasuke tidak menjawab permintaan Hinata sebelumnya. Ia hanya tersenyum sebelum menggumamkan, "Maaf."

Setelah itu, Sasuke pun langsung melumat bibir Hinata. Tidak ada penolakan, sebaliknya, Hinata menyambut ciuman hangat yang Sasuke berikan padanya. Mereka kemudian terpisah hanya untuk saling mengambil napas.

"Itu … yang namanya ciuman, Hinata," bisik Sasuke sambil menyingkirkan rambut Hinata dari wajah gadis itu.

"…" Hinata tidak menjawab, hanya ekspresi wajahnya yang berkata-kata. Segera setelah Sasuke melepaskan tangannya, Hinata langsung mengangkat tangan itu untuk menutupi wajahnya.

Sasuke menepuk pelan kepala Hinata, "Semoga saja … ini ciuman pertamamu."

"… Ciuman semacam tadi," jawab Hinata ringkih, "baru pertama untukku. Ini berbeda dengan ciuman di pipi yang kulakukan pada tousan atau …."

Hinata mendadak terdiam. Sasuke sama sekali tidak menyadari kekagetan yang mendadak ditunjukkan Hinata. Hanya samar Sasuke melihat mata Hinata yang terbelalak di balik jemari ramping gadis tersebut.

Masih dengan senyum, Sasuke kembali menarik tangan Hinata. Setelah kedua tangan itu tidak lagi menutupi wajah Hinata, Sasuke kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi gadis itu.

"Ciuman di pipi …," gumam Hinata.

Sasuke tidak menghiraukan kata-kata Hinata, ia kemudian menyerang pipi Hinata yang lain. Hinata masih bergeming dan menerima semua perlakuan Sasuke. Tepat sebelum Sasuke kembali mengecup bibirnya, pemuda itu berbisik,

"Aku … sayang padamu, Hinata."

Sosok berkimono hitam itu perlahan keluar dari bagian terbawah ingatan Hinata. Sosok itu … sosok yang sangat dikenalnya. Wajahnya semakin jelas terlihat. Rambut cokelat panjangnya, mata keabuan yang serupa dengan milik Hinata …. Semuanya … semuanya.

"Aku sayang padamu, Hinata. Nanti kalau sudah besar, kita menikah, ya?"

"Be-benarkah? Niisan mau menikah denganku?"

"Ya. Aku akan menjadikan Hinata istriku."

"Ka-kalau begitu … janji jari kelingking!"

"…"

"Aku sayang Neji-niisan."

"Aku juga … Hinata."

Hinata tersentak dan langsung mendorong Sasuke sekuat yang ia bisa. Sasuke terdorong ke belakang akibat terkejut. Untunglah Sasuke dapat dengan segera menjaga keseimbangannya. Ia kemudian mendelik bingung pada Hinata yang sudah terduduk.

Wajah gadis itu mendadak tampak pucat dan bibirnya bergetar. Tangannya menekan pelipisnya. Lalu, samar, akhirnya ia kembali bersuara,

"Neji-niisan …."

Sasuke mengernyitkan alis. "Neji? Maksudmu … Hyuuga Neji?"

Hinata mengangkat kepala. "Ka-kautahu tentang Neji-niisan?"

Sasuke menggaruk bagian belakang kepalanya. Ia masih sangat bingung, tapi kebingungan tidak akan membawanya ke mana pun. Satu-satunya jalan adalah mengikuti jalur yang sedang terbentang di hadapannya.

"Aku tahu. Yah, sudah kukatakan, aku mencari tahu banyak tentangmu. Walau mungkin tidak semuanya kuketahui."

"Beri tahu aku, apa yang kau ketahui perihal Neji-niisan!"

Sasuke menarik napas dan mengembuskan napasnya perlahan. Perlahan, ia mengeluarkan kembali semua informasi yang ia ketahui mengenai Hyuuga Neji.

"Hyuuga Neji, kakak sepupumu yang berusia empat tahun lebih tua darimu," mulai Sasuke. Hinata mengangguk. "Dia pernah tinggal di tempatmu selama kurang lebih dua tahun sampai pada usia dua belas tahun dia …."

"Dia …?" Ketakutan makin memenuhi diri Hinata. Ah! Hinata tahu apa yang akan dikatakan Sasuke selanjutnya. Dia tahu pasti. Matanya semakin berkaca-kaca—seakan siap menumpahkan air mata kapan saja.

Melihat kondisi Hinata, rasa cemas sekaligus bingung kembali menguasai Sasuke. Apa ini yang terbaik? Apa dia memang harus memberitahukannya pada Hinata sementara gadis itu tampak melupakannya? Bukan, Sasuke tahu bahwa Hinata memang sempat masuk rumah sakit tak lama setelah Neji meninggal dan setelah itu, anehnya Hinata langsung dapat kembali ceria. Dugaan Sasuke, Hinata memang sengaja menghilangkan ingatan tentang kematian Neji—meski ia tidak tahu alasan sebenarnya.

"Dia …," ujar Sasuke ragu-ragu, "meninggalkan dunia ini selamanya akibat kecelakaan."

Air mata itu mengalir tanpa bisa dicegah. Sesak memenuhi dada Hinata. Inilah yang mengganjalnya, inilah benteng yang membuat Hinata seolah tidak bisa membuka diri dan mengakui perasaannya perihal Sasuke. Hal yang lama terlupakan—tersimpan di alam bawah sadarnya inilah yang tanpa sadar telah mencegah Hinata untuk bergerak lebih lanjut.

"Hinata … ada apa dengan Neji? Kenapa kau …." Sasuke buru-buru memeluk Hinata yang sedang menangis. Gadis itu terus sesengukan. "Hina …."

"Wa-walau kusembunyikan … ba-bahkan dari Tousan sekalipun," ujar Hinata masih sambil terisak, "Neji-niisan … dia adalah …." Hinata susah payah mengendalikan diri. Ia menelan ludahnya dan berusaha menghalau isakannya agar kemudian ia dapat melanjutkan kata-katanya. Sesaat Hinata ragu, tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya.

" Neji-niisan … dia adalah cinta pertamaku."

o-o-o-o-o

Paginya, Hinata dan Sasuke sudah menunggu di lobby dalam keadaan saling mendiamkan satu sama lain. Hinata terus menunduk ke bawah. Wajahnya tampak pucat dan gelagatnya tampak jauh lebih diam dari biasanya. Jemarinya terus terkait dan diposisikan dengan nyaman di depan perutnya.

Begitu Itachi dan Ino turun dan mendapati situasi Sasuke dan Hinata yang tampak kembali canggung, keduanya saling melempar pandangan penuh tanya. Tentu hal ini terlihat aneh di mata mereka—mengingat sebelumnya Sasuke dan Hinata tampak begitu akur. Namun yang terjadi pagi ini adalah sebaliknya; kecanggungan dan keengganan yang tampak dari postur dan gestur Sasuke, serta kecanggungan dan gelagat ingin melarikan diri yang ditampilkan oleh Hinata.

Itachi menepuk punggung Ino sekilas membuat sang gadis menoleh. Tapi Itachi tidak lagi melihat ke arahnya dan kemudian menyerukan nama Sasuke. Sasuke mengangkat kepala dengan gerakan seolah ia baru menyadari kehadiran Itachi dan dengan langkah nyaris terburu-buru, ia mendekati Itachi. Jelas sekali bahwa Sasuke ingin secepatnya menjauh dari sisi Hinata.

Kesempatan yang telah diberikan Itachi tidak disia-siakan oleh Ino. Sesegera mungkin ia menghampiri Hinata. Di luar dugaan, begitu Hinata melihat sosok Ino yang kian mendekat, mata Hinata tampak berkilat sebelum ia mendadak memeluk Ino.

"Hi-Hina-chan?"

Hinata tidak mengatakan apa-apa. Tidak bahkan untuk satu gumaman. Ia kalut—sangat. Bagaimana ia bisa menceritakan hal ini? Ia tidak berpengalaman dalam hal menghadapi laki-laki, tapi Hinata tahu, membicarakan laki-laki lain di saat kau sedang berbicara darri hati ke hati dengan suamimu, adalah suatu kesalahan yang fatal. Dengan satu kata itu, ikatan yang perlahan terjalin, kini kembali terurai.

"Hina-chan? Kau tidak apa-apa?" tanya Ino lembut sambil mengusap punggung Hinata.

"… Aku … ingin pulang."

"Kita memang akan segera pulang, 'kan?"

Hinata menggeleng sembari menarik dirinya dari Ino. Gadis itu berhasil menghalau air mata agar tidak keluar. Namun, sesak yang dirasakannya membuat suaranya kembali tersendat.

"Ti-tidak. Bukan ke rumah … keluarga Uchiha. Aku ingin pulang … ke rumah Hyuuga. Ke-ke tempat … Tousan."

Alis Ino mengernyit dan tatapannya semakin tajam. Ia tidak bisa menarik kesimpulan hanya dari satu pernyataan ingin pulang dari Hinata. Meskipun jelas sudah bahwa memang ada masalah di antara Sasuke dan Hinata, tapi apa masalah tersebut, itulah yang Ino tidak ketahui.

"Apa yang terjadi?" tanya Ino sambil mengangkat dagu Hinata agar gadis itu tidak terus-terusan menunduk. Dengan cara ini pula, Ino mencoba menembus pertahanan Hinata dengan menatap lekat-lekat kedua bola matanya. "Sasuke melakukan sesuatu … yang …."

"Tidak," jawab Hinata sambil menggeleng cepat. "Bukan Sasuke-kun." Hinata menghirup napas panjang. "Aku yang … seharusnya dipersalahkan." Hinata kembali menunduk.

Mencuri kesempatan saat Hinata tidak begitu memerhatikan, Ino melirik ke belakang. Dilihatnya Itachi yang tampak sedang bercakap-cakap dengan Sasuke sementara mereka mengurus perihal check-out. Itachi juga sedang melakukan tugasnya.

"Apa yang kaulakukan?" tanya Ino tanpa memperdengarkan nada menuduh. Alih-alih menuduh, gadis bertubuh semampai itu menunjukkan rasa ingin tahu yang diselubungi suatu simpati.

Entah Ino menyadari atau tidak—Hinata memperlihatkan senyum sedihnya. Mungkin jika mengikuti egonya, Hinata bisa memukul-mukul wajahnya sendiri sembari meneriakkan betapa bodoh tindakannya semalam.

"Aku … mengatakan pada Sasuke-kun bahwa aku … pernah mencintai laki-laki lain."

Mata Ino melotot tanpa ia sadari. Oh, ayolah. Ini berita baru bahkan bagi Ino. Selama ini Ino mengira, Sasuke adalah laki-laki pertama yang dekat dengan pewaris Hyuuga yang pemalu ini. Siapa yang menyangka bahwa Hinata mempunyai masa lalu dengan laki-laki lain?

"Oh," gumam Ino setelah kekagetannya sedikit berkurang, "jadi … Sasuke marah karena hal itu?"

Hinata menggigit bibir bawahnya. Ia kembali menolak menatap mata Ino. Pikirannya kembali melayang ke malam itu—ke malam saat kejadian konyol tapi fatal itu terjadi.

Ingatan-ingatan di benak Hinata mulai menggambarkan ekspresi terkejut dari seorang Uchiha Sasuke saat Hinata menyebutkan nama Neji sebagai orang yang sangat berarti baginya. Awalnya, Sasuke menanggapi hal itu dengan ringan. Ia berkata—meski terdengar ragu—bahwa itu sudah menjadi masa lalu.

Hinata kala itu masih menangis. Ia tidak terlalu mendengar kata-kata Sasuke. Pikirannya terlalu kacau untuk bisa berpikir dengan benar. Sesungguhnya, hal seputar Neji sendiri masih menjadi misteri bagi Hinata; kenapa ia bisa melupakan kakak sepupunya tersebut, apa yang telah terjadi sebenarnya?

Hinata pun kembali tertarik pada masa lalu. Ia mengabaikan Sasuke yang ada di depannya. Ia bahkan tidak bisa lagi meyakinkan diri bahwa perasaan Sasuke akan menolongnya dari jerat masa lalu. Justru datangnya serpihan dari masa lalu ini dicamkan Hinata sebagai suatu peringatan. Ada sesuatu yang akan menyusul—menghampiri keduanya. Dalam situasi yang tidak bisa dikatakan baik.

Kecemasan itu semakin menjadi-jadi saat ia melihat wajah Sasuke yang semakin menunjukkan wajah terluka. Hinata akhirnya disentakkan kembali pada kenyataan. Terburu-buru, gadis itu pun membungkuk.

Lalu … satu pernyataan maaf meluncur lirih dari mulutnya ….

o-o-o-o-o

"Kau benar-benar tidak mau mengatakan apa-apa, Sasuke?" bujuk Itachi untuk terakhir kalinya. Urusan check-out telah ia selesaikan. Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk terus berdiri di depan front office. Bahkan, jika mengingat waktu yang mengikat, mereka harus segera buru-buru agar tidak tertinggal pesawat.

Dengusan menjadi jawaban pembuka. "Tidak," jawab Sasuke kemudian dengan mantap. "Ini urusanku."

"Aku tahu," jawab Itachi sambil mengangkat bahu. Ia kemudian menggerakkan kepalanya untuk melihat ke arah Ino dan Hinata. Ino berdiri memunggungi sehingga Itachi tidak bisa melihat ekspresinya, tapi ekspresi yang ditunjukkan Hinata menunjukkan gambaran yang membuat Itachi tanpa sadar menceletuk. "Dia tampak merasa sangat bersalah."

Sasuke bergeming. Jujur saja, ia memang enggan menanggapi. Dan jika ditanya mengapa ia mau mendekat ke arah Itachi saat Itachi memanggilnya—walau Sasuke sama sekali tidak berniat buka mulut pada kakaknya—Sasuke akan menjawab bahwa itu adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari situasi tidak nyamannya, meski hanya sementara.

"Apa dia menolakmu saat kau memintanya melakukan—"

"Itachi," sela Sasuke singkat dengan sorot mata tajam, "sebaiknya kau ingat satu hal ini. Pernikahan antara aku dan Hinata terjadi karena ucapanmu yang tidak kaupikirkan terlebih dahulu."

Tuduhan Sasuke langsung membuat Itachi membelalakkan matanya. Hanya sekejap dan sulung keluarga Uchiha itu langsung dapat menguasai keadaan.

"Argumenmu lemah, Sasuke," balas Itachi, "kalau kau mau, sebenarnya kau bisa saja menunda pernikahan itu. Kau tidak sepatuh itu padaku sampai akan melakukan apa pun yang aku katakan. Seperti sekarang—kau bisa sangat keras kepala jika kau memang menghendaki."

Sasuke terdiam. Gurat kekesalan itu langsung mendominasi. Namun, toh ia tidak membantah. Tepatnya, ia tidak bisa membantah. Seperti kata Itachi, argumennya lemah.

"Jangan menyalahkan aku atas kekacauan yang terjadi dalam rumah tanggamu," ujar Itachi sambil tersenyum miring. Matanya kemudian menangkap sesuatu yang tercetak di sebuah koran yang sedang dipegang salah satu turis.

"Tsk! Aku tahu, Sialan!" umpat Sasuke sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. "Padahal kupikir, jika semua berjalan lancar, masalah itu pun—"

"Sebentar," potong Itachi cepat sambil meminta sesuatu pada pegawai di front office. Sasuke memandanginya dengan perasaan yang semakin kesal saat mendadak Itachi kembali dengan wajah mengejek. Segera setelah Sasuke melihat bahwa yang dibawa Itachi adalah sebuah koran bisnis, Itachi pun berkata dengan sangat berhati-hati,

"Pebisnis muda dari keluarga Uchiha dikabarkan telah menikah dengan murid SMA."

Itachi memandang wajah Sasuke sambil menduga apa yang tengah dipikirkan adiknya tersebut. Lalu, seulas senyum terlihat di wajah Itachi.

"Kurasa, ini pasti baru awal dari segala masalah yang akan terjadi."

o-o-o-o-o

Setelah membuang waktu di area lobby hotel, keempat orang yang tengah melakukan perjalanan bersama itu langsung bergegas ke bandara. Di dalam pesawat, posisi tempat duduk tidak lagi menjadi masalah bagi Sasuke. Bahkan mungkin ia lebih menyetujui pembagian saat ini; Ino bersebelahan dengan Hinata dan dirinya sendiri bersebelahan dengan kakaknya.

Perjalanan pulang ini justru menggambarkan kemurungan dan kemuraman. Apalagi setelah Ino menyampaikan bahwa Hinata ingin diantarkan pulang ke rumah Hyuuga. Awalnya Ino mengira Sasuke akan menolak. Meski dalam keadaan bertengkar pun, tentu Sasuke tidak ingin Hinata seakan 'lari pulang' ke rumah orang tuanya—demikianlah pemikiran Ino. Nyatanya, Sasuke dengan mudah menyanggupi.

Itulah yang terjadi kemudian. Setelah sampai di Konoha, mobil keluarga Uchiha yang sudah menjemput mereka langsung melaju ke arah kediaman Hyuuga terlebih dahulu. Suasana dalam mobil sangat hening meski beberapa kali Ino berusaha membuat suasana menjadi lebih ramai. Usahanya tidak terlalu membuahkan hasil—bahkan sampai saatnya Hinata turun dari mobil.

Sasuke membantu Hinata menurunkan barang-barangnya dan melarang supirnya untuk ikut campur. Ino yang awalnya sudah berniat membantu menjadi enggan dan keraguannya untuk tidak turun hilang saat Itachi menyentuh lengannya dan menahan Ino agar tetap di tempat.

Perjalanan dari mobil sampai ke pintu utama Hyuuga terasa bagaikan berabad-abad—waktu seolah berjalan lambat. Tak ada satu pun di antara keduanya yang berinisiatif membuka pembicaraan sampai saatnya mereka menunggu pintu untuk dibukakan.

"Sasuke-kun, aku …." Hinata menelan ludah saat ia tidak mendengarkan respons apa-apa dari Sasuke. "Aku benar-benar … minta maaf."

"Tidak perlu," jawab Sasuke dengan cukup ketus. "Sejak semula … pernikahan ini adalah sebuah kesalahan, bukan?"

Hinata tidak sempat menjawab dan pintu di depannya sudah terlanjur terbuka. Wajah Hiashi yang terkejut menjadi hal pertama yang menyambut kepulangan Hinata—saat ini keluarga Hyuuga sedang berusaha bangkit kembali dari keterpurukan dengan bantuan Uchiha sehingga penghematan dengan tidak memperkerjakan banyak pelayan adalah salah satu langkah yang akhirnya dipilih Hiashi.

"Hinata? Sasuke?" tanya Hiashi dengan ekspresi heran. "Ada apa? Kalian baru pulang dari Kirin-shima, bukan?"

Sasuke mengangguk cepat. Dengan ringan ia kemudian menyahut, "Ya. Dan aku rasa, Hinata sudah begitu merindukan rumahnya."

Alis Hiashi terangkat mendengar jawaban cepat Sasuke. Ia menoleh ke arah putrinya yang tidak berkata apa-apa dan hanya terus menunduk.

"Baiklah," ujar Hiashi akhirnya, "kau mau masuk dulu, Sasuke?"

"Tidak," jawab Sasuke tanpa mempertimbangkan lebih lanjut, "ada yang harus saya kerjakan. Karena itu, saya permisi dulu." Sasuke menunduk sedikit dan kemudian berlalu meninggalkan Hiashi yang tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun. Padahal, jelas terlihat bahwa Hiashi masih ingin bertanya pada pemuda itu, tapi Sasuke tidak memberi kesempatan sama sekali.

Hiashi dan Hinata kemudian hanya bisa berdiri di ambang pintu selama beberapa saat sembari melihat mobil Uchiha yang perlahan menjauh dan kemudian tertelan kegelapan malam. Memang, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kala itu.

Setelah mobil Sasuke tidak lagi terlihat, Hiashi menoleh pada anak semata wayangnya.

"Nah, jadi … ada apa ini?"

"Tousan," ujar Hinata tegas, "tolong ceritakan padaku. Ceritakan yang sebenar-benarnya—"

Hiashi sempat akan menyela, tapi Hinata sekali ini lebih cepat dalam mengutarakan pikirannya.

"—tentang Neji-niisan."

o-o-o-o-o

Di ruang keluarga kediaman Hyuuga yang masih bergaya Jepang tradisional, terdapat sebuah meja pendek. Duduk bersimpuh di atas bantal yang mengelilingi meja, terlihatlah sosok Hiashi dan Hinata.

Hiashi mulai menunjukkan foto-foto dalam album yang selama ini ia simpan di tempat yang agak luput dari perhatian Hinata. Dalam album itu, Hinata bisa melihat sosok Neji yang sebelumnya hanya samar-samar dalam ingatannya. Kerinduan langsung menyergap diri Hinata dan ia tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak menangis.

"Kau masih berumur delapan tahun saat Neji meninggal, jadi kalau kau lupa—"

"Itu tidak wajar, Tousan," potong Hinata sambil mengusap matanya—mencoba menghentikan air mata yang sedari tadi mengalir. Ia kemudian meletakkan album itu di atas meja dalam posisi terbuka. "Aku bisa mengingat saat Kaasan meninggal, tapi kenapa saat Neji-nii …."

Hiashi menghela napas. "Ya, mungkin memang sedikit tidak wajar."

Ketidaksetujuan tampak terlihat di wajah Hinata. Ini bukan lagi 'sedikit' tidak wajar. Ini jelas-jelas tidak wajar bagi Hinata. Kenapa ia bisa sampai melupakan perihal Neji?

"Katakan yang sebenar-benarnya, Tousan," pinta Hinata.

Lagi, Hiashi menghela napas. Sejujurnya, jawaban-jawaban yang ia berikan tadi bermaksud untuk segera mengakhiri pembicaraan mengenai Neji. Kalau bisa, lebih baik ia tidak mengungkit apa yang telah membuat Hinata sampai jatuh sakit waktu itu.

Kematian Neji telah menjadi guncangan hebat bagi Hinata kecil—gadis itu sampai demam tinggi dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Tidak terbayang betapa cemasnya Hiashi kala itu dan segera ia merasa lega saat Hinata sembuh total meski dengan keadaan tidak lagi mengingat apa-apa perihal Neji.

"Tousan sendiri sejujurnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu," mulai Hiashi akhirnya, "tapi, saat berita mengenai Neji itu sampai di telingamu, kau langsung histeris dan mengatakan bahwa kau yang telah membuat Neji meninggal."

Hinata terbelalak. Tubuhnya mulai bergetar.

"Kau berteriak-teriak bahwa kau diikuti Dewa Kesialan dan bahwa kaulah yang menyebabkan Neji dan juga Himeka—ibumu—meninggal."

Tangan Hinata terulur ke pelipisnya. Samar-samar, bagaikan proyektor, kejadian tujuh tahun silam mulai menunjukkan wujudnya.

"Aku memang sempat mendengar dari Neji, di sekolah, kau pernah dikerjai oleh teman-temanmu. Beberapa di antara mereka yang iri padamu sering mengata-ngataimu sebagai 'anak pembawa sial'. Padahal kematian Himeka kala itu dan kejatuhan sesaat bisnis Hyuuga di masa lalu sama sekali bukan karena kehadiranmu." Hiashi menggeleng dengan lelah. "Sebagian justru karena aku yang terlalu lemah."

"Hari itu, aku …," Hinata mulai berujar seolah tanpa sadar. Ia bahkan seakan tidak mengacuhkan ucapan Hiashi sebelumnya, "Hari itu aku sedang merasa sangat tidak nyaman—hari peringatan kematian Kaasan ada di depan mata."

"Kau mengurung diri di dalam kamar. Kau begitu uring-uringan kala itu," Hiashi membenarkan.

"Aku mengurung diri di dalam kamar dan Neji-nii beberapa kali mencoba membujukku agar keluar. Aku menolak. Aku terus meringkuk … dalam ketidaknyamananku." Hinata berhenti sesaat dan memejamkan matanya. Ingatan-ingatan yang selama ini tertimbun kini terkuak satu demi satu. "Lalu, aku mengusir Neji-nii yang berusaha mengembalikan semangatku. A-aku mengusirnya …."

"Yang membuatku kesal adalah … keberuntunganmu yang membuat orang lain justru terlihat begitu menyedihkan."

Wajah Hinata semakin pucat kala ia kembali mengingat perkataan Sakura: Ia beruntung tapi tidak halnya dengan orang lain. Bibirnya bergetar dan napasnya kembali tidak beraturan. Hiashi yang melihat hal itu segera berpindah mendekati Hinata dan ia langsung merangkul putrinya.

"Aku mengusir Neji-nii dan ia pun … ia pun mengalami kecelakaan itu!" seru Hinata kemudian. "Benar kata mereka! Aku hanyalah anak pembawa sial!"

"Tidak, Hinata. Tidak. Neji keluar untuk membelikan benda yang bisa membuatmu bersemangat lagi, kau tidak—"

"Aku beruntung untuk diriku sendiri. Tapi sesungguhnya, aku membawa petaka bagi orang lain!" ujar Hinata lagi sementara Hiashi semakin merapatkan tubuh putrinya ke dalam pelukan. "Tousan lihat, 'kan? Kaasan meninggal. Bukankah itu karena aku sempat mendesak Kaasan dengan mengatakan bahwa aku sangat menginginkan seorang adik yang bisa menemaniku bermain?"

"Itu tidak ada hubungannya."

"Ti-tidak sampai di situ. Tidak lama setelah Kaasan meninggal, Neji-nii dititipkan pada keluarga kita. Kesedihanku karena ditinggal Kaasan segera terobati—aku beruntung. Namun, bukankah pada awalnya Neji-nii sangat tidak menyukai gagasan bahwa ia akan dititipkan untuk menemaniku? Aku membawa kesusahan bagi Neji-nii."

"Hinata, itu bukan kesalahanmu," ujar Hiashi lagi, berusaha menenangkan putrinya yang mulai histeris.

"Masih ada lagi. Tidak lama setelah Neji-nii meninggal, aku sakit dan segera saja aku melupakan kejadian itu. Aku tidak terpuruk! Lihat, Tousan? Bukankah aku sangat beruntung? Lalu keluarga Hyuuga bangkrut sekarang dan aku—lagi-lagi aku menyelamatkan hanya diriku sendiri—hidup dalam kemewahan yang ditawarkan keluarga Uchiha! Aku ini—"

"Hinata!" seru Hiashi lebih keras dan tegas. Lelaki paruh baya pemilik mata yang sangat mirip dengan Hinata itu langsung menarik diri sebelum ia mengguncang tubuh mungil Hinata—seakan berusaha menarik Hinata dari kondisi tidak sadarnya. Hinata memandang Hiashi bingung sebelum Hiashi kembali merengkuh putrinya ke dalam pelukan.

"Jangan mengatakan hal menyedihkan bahwa kau adalah anak pembawa sial. Kau sama sekali bukan pembawa sial, Hinata. Kau adalah buah hatiku yang sangat berharga. Kau adalah peninggalan Himeka yang sangat kucintai."

Hinata sesaat bagaikan orang linglung. Matanya menerawang dan mulutnya membuka-buka sesaat—seolah hendak menyampaikan sesuatu tapi kemudian ditelannya kembali.

"Keberadaanmu … adalah berkah. Bukan kesialan."

Kalimat yang mengalun dari Hiashi menyebabkan semua kecemasan yang Hinata rasakan langsung meluap dalam wujud tangisan. Air mata mengalir deras dari kedua bola matanya. Bagaikan kembali menjadi anak kecil berusia lima tahun, Hinata pun akhirnya menangis meraung-raung dalam dekapan Hiashi.

"Aku tidak mau, Tousan," isak Hinata sambil merapatkan wajahnya ke dada Hiashi, "aku tidak mau membawa kesialan bagi orang lain. Aku tidak mau …. Aku tidak mau Tousan menderita karena aku. A-aku tidak mau … Sa-Sasuke-kun juga …."

Hiashi mengelus punggung Hinata dengan sayang. Ia kemudian mengecup puncak kepala Hinata. Kematian memang selalu bukan perkara mudah. Apalagi bagi Hinata muda. Dua kematian dalam waktu yang tidak terlalu jauh terlalu berat untuk ditanggung anak seusia Hinata waktu itu. Keseimbangan psikisnya menjadi cukup terganggu.

Beruntung Hinata sempat mengalami amnesia parsial—ia bisa melupakan kenyataan pahit mengenai kematian Neji. Tapi sungguh, demi apa pun, Hiashi tidak pernah menganggap putrinya sebagai pembawa kesialan bagi orang lain. Bahkan jika mau dibahas lebih mendalam, apa yang dikatakan Hinata sebagai 'beruntung' itu tidak lebih dari sekadar 'peluang bagus yang muncul mengikuti kondisi terburuk yang sudah terjadi'.

Hinata tidak benar-benar beruntung untuk hal ini. Dia menjadi sakit. Secara psikis, ia menderita. Terutama karena Hinata adalah anak yang sangat memikirkan orang lain dan 'keberuntungan yang tidak disengaja' itu dijadikannya alasan untuk menyalahkan diri.

"Tousan beruntung dengan adanya kau yang selalu ada di saat Tousan sedang terpuruk," ujar Hiashi perlahan, "dan Tousan yakin, Sasuke pun beruntung mendapatkan kau yang begitu memikirkannya."

Jika tidak sedang menangis, tentu Hinata akan tersenyum kecut. Bukankah baru akhir-akhir ini saja pemikiran tentang Sasuke begitu mendominasi isi otaknya? Sebelumnya, Hinata hanya memikirkan Sasuke dengan ucapan terima kasih yang tidak ada habisnya. Ah—tapi itu pun termasuk dalam kriteria memikirkan, bukan? Apa pun alasannya.

Ya, awalnya mungkin Hinata hanya menganggap Sasuke sebagai orang baik yang telah menyelamatkannya dari ambang kehancuran. Selanjutnya, ia melihat Sasuke dengan pandangan penuh terima kasih. Perlahan, kebaikan Sasuke—yang seakan ditujukan hanya pada dirinya—mulai menggugah Hinata dan membuat gadis itu mempertanyakan arti keberadaan Sasuke bagi dirinya. Ia tertarik pada anak tengah keluarga Uchiha yang selalu memperlakukannya dengan penuh rasa sayang.

Dan kemarin adalah puncaknya. Hinata sadar bahwa ia … menyayangi Sasuke. Ia sudah terpikat pada pemuda itu—tanpa ia sadari. Perasaan bersalahnya pada Neji mungkin yang menjadi salah satu hambatan bagi Hinata untuk segera menyadari.

Bukan berarti Hinata masih memiliki 'rasa itu' pada Neji. Ia yang sempat melupakan Neji—terdengar sedikit kejam memang—sudah mengalihkan perasaan berharga itu pada orang lain. Mungkin di sudut hati kecil Hinata, Neji tetap menempati ruang tersendiri—Hinata tidak akan menyangkal. Namun, perasaannya yang signifikan telah menjadi milik seseorang dalam kehidupannya di masa kini.

Betul. Hinata hidup di masa ini, bukan? Bukan di masa lalu. Sedikit rasa bersalah karena ia bisa begitu saja melupakan perasaannya pada Neji memang membuat Hinata merasa tidak nyaman, tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya saat ini.

"To-Tousan," panggil Hinata getir, "aku … menyayangi Sasuke-kun—aku mencintai Sasuke-kun …."

Hiashi mengangguk. Diulurkannya sebelah tangannya untuk menghapus bulir-bulir air mata yang menorehkan jejak di pipi anak gadisnya tersebut.

"Karena itu, aku … ingin melepasnya."

"Hina—"

"Tousan," potong Hinata bahkan sebelum Hiashi sempat berkata-kata, "aku ingin, ingin sekali percaya pada kata-kata Tousan bahwa aku bukanlah anak pembawa sial. Namun aku, aku masih terlalu takut … untuk membiarkan diriku terlena." Hinata menggeleng perlahan. "A-aku takut. Aku … masih mempunyai pemikiran ba-bahwa keberadaanku … akan mengantarkan Sasuke-kun pada kehancuran."

"… Kau berniat … menceraikan Sasuke?"

Hinata menggigit bibir bawah. "Ki-kita bisa … mengusahakan sesuatu, 'kan, untuk membayar tiap ryou yang sudah keluarga Uchiha pinjamkan pada kita? Aku … bisa bekerja. Aku bisa berhenti sekolah dan mencari pekerjaan." Hinata tampak sekilas berpikir lalu ia tersenyum mendapati 'pikiran jahat' yang mendadak muncul. "Ba-bahkan, mungkin aku bisa mencoba untuk bekerja pada Orochimaru."

Perasaan lega sedikit menghinggapi diri Hiashi tatkala didengarnya Hinata berusaha melontarkan lelucon mengenai 'kesialan' yang dianggapnya melekat pada dirinya. Namun, Hiashi tidak benar-benar bisa membiarkan Hinata untuk berhenti sekolah dan bekerja pada orang licik semacam Orochimaru. Lebih-lebih, Hiashi tidak mungkin mengantarkan putrinya sendiri pada orang seperti Kabuto yang jelas-jelas menunjukkan intensi jahat.

"Sayangnya," ujar Hiashi sambil berdiri, "Tousan tidak bisa melihat itu sebagai rencana yang bagus. Tunggu sebentar di sini."

Hiashi kemudian meninggalkan Hinata di ruang itu selama beberapa saat. Samar Hinata bisa mendengar langkah Hiashi berjalan di lorong. Hinata kemudian juga dapat mendengar suara pintu tergeser dua kali dalam waktu yang hanya berselang beberapa detik. Langkah panjang Hiashi kembali terdengar—menghantam pelan lantai kayu kediaman Hyuuga. Lalu, sosok pria paruh baya itu kembali terlihat oleh Hinata.

Di tangan Hiashi, Hinata bisa melihat satu eksemplar koran. Matanya meneliti koran itu dengan rasa penasaran. Hiashi pun segera menyodorkan koran itu pada Hinata dan Hinata segera membaca dengan hati-hati halaman yang ditunjukkan Hiashi padanya.

'Pebisnis muda dari keluarga Uchiha dikabarkan telah menikah dengan murid SMA.'

Judul yang begitu menarik perhatian. Isinya sendiri begitu sensasionalnya. Kata-kata subjektif yang cenderung memojokkan Sasuke sebagai 'penjahat yang telah memanfaatkan ketidakberdayaan murid SMA tersebut' menjadi topik dominan yang dibahas. Untuk kali itu, siapa sosok murid SMA yang dimaksud memang masih dirahasiakan. Namun, Hinata tahu, masalah ini tidak akan berhenti sampai di sini. Cerita ini masih akan berlanjut.

"Sasuke-kun pun tidak dapat menangkal kesialan yang kubawakan padanya," ujar Hinata lembut dengan ketenangan yang tidak sewajarnya. Bahkan jika dibiarkan, mungkin seulas senyum akan kembali mewarnai wajah sendu Hinata.

"Tousan tidak sependapat," sergah Hiashi tegas. Postur duduknya yang sudah kembali tegak seakan memperkuat keteguhan dari kepala keluarga Hyuuga tersebut. "Sasuke justru akan mengalami banyak masalah jika kau meninggalkannya sekarang."

Hinata memandang Hiashi dengan tatapan penuh tanya.

"Kau tidak akan mempermalukan Sasuke dengan kemudian menggugat cerai di saat seperti ini, 'kan?" Hiashi melanjutkan dengan berhati-hati, "Justru kupikir yang Sasuke butuhkan saat ini adalah dukunganmu."

Hinata membaca ulang tiap kata-kata yang tertera di koran tersebut. Menyakitkan melihat Sasuke dihujat secara tidak beralasan seperti itu. Mereka mengatainya sebagai orang yang semena-mena karena merasa berada di puncak. Padahal Hinata tahu, sangat tahu—Sasuke bukan orang yang suka memaksakan kehendaknya untuk hal-hal yang sifatnya prinsip.

Lagi pula, Hinata-lah yang menyetujui pernikahan ini pada awalnya. Hinata yang menerima syarat tersebut. Tidak adil jika kemudian Sasuke yang kemudian menjadi kambing hitam.

Dengan kemarahan yang berusaha ditekannya sedemikian rupa, Hinata menutup koran tersebut.

"Tousan, apa menurut Tousan … aku benar-benar bisa me-membantu Sasuke-kun untuk mengatasi masalah ini?"

Hiashi mengangguk dengan yakin.

"Dan … kautahu? Tousan pikir, Sasuke akan bisa menunjukkan padamu bahwa kau bukanlah 'anak pembawa sial' seperti yang kautakutkan. Bocah sombong itu bukan orang yang gampang dipermainkan nasib buruk."

Hinata berkedip sekali. Lalu, seolah mengerti kebingungan putrinya, Hiashi menambahkan sambil tersenyum,

"Kalau dia adalah orang yang sangat disukai Dewa Kesialan untuk diajak bermain, sudah sejak dulu bisnisnya akan merugi. Tidak, Hinata. Sasuke akan menunjukkannya padamu, cepat atau lambat. Dia tidak akan mudah kalah oleh nasib buruk. Oleh karena itu, kau pun tidak boleh menyerah—jika kau memang benar-benar memikirkannya."

Hinata menatap ayahnya dengan tatapan penuh determinasi dan keyakinan. Ia paham apa maksud ayahnya. Dan meski ketakutan itu masih membayangi, Hinata akan mengambil risiko. Ia tidak bisa terus-terusan menjadi Hinata yang pasif.

Sekali ini, Hinata ingin mencoba melawan nasib. Sekali ini, ia ingin menolong Sasuke—berdiri tegak dengan penuh keyakinan untuk mendorong punggung Sasuke. Sekali ini, Hinata ingin menjadi kekuatan bagi suaminya tersebut.

Dan jika memang baginya kesialan adalah teman, maka segera setelah kekacauan ini ia selesaikan, segala ikatan yang telah Sasuke berikan padanya, akan ia kembalikan dalam wujud gulungan yang utuh. Lalu, beserta doa 'semoga kau berbahagia', Hinata akan melepaskan Sasuke agar pemuda itu dapat mencari cinta lain yang tidak akan menyakitinya.

Meski itu berarti, Hinata harus merelakan perasaan yang telah berhasil dibangunnya kembali menjadi puing yang tak lagi berwujud utuh.

***To Be Continued***


A/N: Gomen, karena kemarin sempat tumbang, saya telat dalam meng-update chapter ini. Hontou ni gomennasai. *bow*

Maaf juga, karena di chapter ini nggak ada balasan review dan Pojok (Sok) Gahoel-nya (mungkin malah ada yang seneng dengan nggak adanya pojok garing satu ini :""P). Saya coba nyelesaiin secepat mungkin jadi bisa update secepat mungkin (karena update-an chapter ini sedikit telat dari rencana u.u), jadi untuk kali ini balasan review saya skip (hontou ni gomennasai!). Demo ne, saya tetap baca semua review yang masuk dan saya tetap berterima kasih pada semua reader (silent reader sekalipun) dan reviewer sekalian. Maaf kalau lagi-lagi chapter ini kurang memuaskan.

Okay, langsung aja, silakan beri tahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~