Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

No commercial advantages is gained by making this fanfic. Fanfic is just for fun, guys! ;)

Genre : Romance/Drama

Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku

A/N: For this chapter, I really want to dedicate it to Hyou Hyouichiffer and Diane Ungu. Makasih banyak buat Rani-chan dan Diane-chan untuk support-nya selalu #hagu

Then, for this chapter also, enjoy reading!


Chain of Love

Chapter 11 – Step Forward


There was no other way to turn back.

To the future, to a better future,

she will move her legs and

start running.

.

.

.

Dengan perasaan waswas, Hinata berjalan memasuki kompleks sekolahnya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, pandangan menusuk dan menuduh dari beberapa siswa semakin intens dirasakan. Ini bukan hanya sekadar perasaan Hinata, kasak-kusuk di sekelilingnya jelas ditujukan pada dirinya.

Hari itu sudah lewat sekitar tiga hari sejak awal munculnya berita tidak mengenakan tentang Sasuke. Perlahan, identitas gadis SMA yang semula disamarkan mulai tersebar. Sampai saat ini, memang masih inisial yang disebutkan. Namun, beberapa anak yang orangtuanya bergerak dalam bidang bisnis sudah mulai membisikkan sepatah dua patah kata mengenai gadis SMA yang dimaksudkan dalam surat kabar. Gosip tak lama lagi akan menyebar dan kebenaran akan gosip itu tak lama lagi akan terkuak.

Hinata tahu jelas posisinya. Sebetulnya, dia tidak menyalahi hukum yang berlaku di Konoha. Batas usia minimal bagi perempuan untuk dapat menikah di Konoha adalah 15 tahun [1]—meski demikian tentu banyak yang beranggapan bahwa usia itu terlampau muda untuk menjalin rumah tangga.

Tentu saja, jika tidak ada kejadian ini, pernikahan bukanlah prioritas utama yang ada di pikiran Hinata. Hinata tidak bisa menyalahkan teman-temannya yang mulai melemparkan pandangan tidak menyenangkan.

Sembari berusaha mengabaikan tiap tatapan yang menusuk, Hinata terus berjalan memasuki gedung sekolah. Dalam hati ia merasa bersyukur bahwa akhir-akhir ini bukan Sasuke-lah yang mengantar jemputnya. Telah diatur oleh Itachi sebuah mobil yang jarang dipakai keluarga Uchiha dan seorang supir kepercayaan yang bisa mengantar jemput Hinata—meski Hinata awalnya menolak dan mengatakan bahwa ia bisa berangkat sendiri. Namun setidaknya, dengan ini Hinata bisa sedikit mengaburkan kebenaran gosip yang sudah terlanjur tersebar.

Setelah menukar sepatu, Hinata melangkah menaiki tangga secara berhati-hati. Begitu ia melewati lorong yang dapat mengantarnya menuju ruang kelas, satu panggilan terhadap namanya membuat Hinata berhenti di tempat.

Belum hilang rasa terkejutnya, Hinata harus terima dirinya diseret paksa oleh seseorang. Bukan seorang-dua orang. Dan ketiganya kini sudah berada di pojokan dekat ruang biologi yang jarang dilalui orang.

Hinata menatap lekat-lekat pada dua orang pelaku yang telah membawanya menjauhi keramaian. Sosok Shion yang tampak marah dan Tenten dan yang dipenuhi rasa ingin tahu. Hinata segera tahu—apa yang dikehendaki oleh kedua temannya tersebut.

"Baiklah, apa perlu kujelaskan bagaimana ceritanya sampai aku dan Tenten-senpai memutuskan untuk membawamu ke sini?" mulai Shion tidak sabar.

Hinata menggeleng sambil tersenyum. "A-aku sudah punya gambaran sendiri."

"Bagus," jawab Shion sambil mengangguk puas. "Jadi kau juga sudah tahu alasan mengapa kami bermaksud menginterogasimu, 'kan?"

"Kau benar-benar sudah menikah dengan Uchiha Sasuke itu, Hinata-chan?" tanya Tenten menyela.

Untuk beberapa saat, Hinata hanya terdiam. Tepat seperti dugaannya. Yah, gosip memang tidak akan menunggu waktu lama sampai tersebar sedemikian rupa. Samar, Hinata justru teringat akan Mikoto-okaasan.

Seperti inikah rasanya menjadi artis? Pemikiran menggelikan itu memaksa Hinata untuk mengumbar suatu senyum simpul.

"Hinata?"

"Ya?" ujar Hinata dengan wajah tanpa dosa. Dia menatap Shion dan Tenten bergantian sebelum ia melanjutkan dengan berhati-hati, "Oh—benar. So-soal berita di koran itu, ya?"

Shion dan Tenten mengangguk di saat yang nyaris bersamaan. Hinata tersenyum. Sebuah pemikiran sekonyong-konyong memasuki benaknya.

Inikah kesempatan yang dimaksud Sasuke-kun?

Dan selama beberapa saat, pikiran Hinata berputar kembali ke malam pertama dia di rumah keluarga Hyuuga.

.

.

.

Setelah berbicara dengan Hiashi, Hinata yang sudah dipenuhi determinasi langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia harus menyiapkan diri untuk sekolah di keesokan harinya. Ia tidak mau datang dengan wajah sembap habis menangis dan mata mengantuk karena kurang tidur.

Kamar bergaya Jepang tradisional itu membuat Hinata tersenyum simpul. Sudah cukup lama ia meninggalkan kamar bernuansa kecokelatan tersebut tapi kamar itu tampak tak berubah sedikit pun. Setelah menyalakan lampu kamar, segalanya jadi terlihat lebih jelas. Meja belajarnya masih bergeming di bawah jendela yang ditutupi tirai kelabu tipis, lemari bukunya pun tetap berada di tempatnya—di samping meja belajar. Lemari bajunya juga tidak mengalami perubahan posisi; jika ada yang berubah, itu hanyalah jumlah baju yang terdapat di dalam lemari tersebut.

Melewati kamar yang berukuran tidak terlalu besar tersebut, Hinata bergegas ke kamar mandi melalui pintu kayu yang ada di sebelah oshiire—lemari tempel tempat menyimpan futon (kasur tidur). Setelah berendam sesaat dan membasuh diri, Hinata kemudian mengenakan piyama putih dengan motif polkadot berwarna kelabu dan soft-pink.

Selesai berpakaian, gadis itu kemudian mengeluarkan futon dari oshiire dan menghamparkannya di atas tatami di bagian tengah ruang kamar yang memang kosong. Hinata bergerak sedikit ke arah saklar lampu dan mematikannya sebelum ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai ke batas dada. Helaan napas meluncur lirih dari kedua lubang hidungnya. Matanya untuk beberapa saat terpejam. Hinata bersiap tidur.

Tapi, ada sesuatu yang kurang. Ada sesuatu yang telah diambil dari rutinitasnya. Meski intensitas aslinya tidak sesering yang Hinata rasakan, tapi Hinata benar-benar merasa kehilangan. Ia kemudian menjadi yakin bahwa ia … merindukan pelukan hangat Sasuke yang bisa mengantarkannya ke alam mimpi. Sangat.

Mata Hinata kembali terbuka. Kini tatapannya menerawang memandang langit-langit—seolah di langit-langit ada jawaban akan tindakan yang harus dilakukannya agar bisa tidur cepat malam ini. Tapi langit-langit tidak bisa bersuara, pun menunjukkan suatu sontekan mengenai langkah yang harus dilakukan Hinata. Otaknyalah yang kemudian mendapat ilham dan otak yang samalah yang menggerakkan Hinata hingga kembali ke posisi duduk.

Setengah merangkak, diraihnya sebuah tas yang semula ia letakkan di dekat meja belajar dan dikeluarkannya ponselnya. Keraguan sekilas mendera, tapi … ah—sudahlah! Tidak ada salahnya mencoba.

Lama nada panggil itu berbunyi. Lama waktu yang diperlukan untuk orang di seberang sana mengangkat panggilan teleponnya. Di saat Hinata nyaris membatalkan panggilan dan melupakan semua keputusan spontannya, suara yang bahkan belum lama ia dengar sudah memberikan jawaban yang diharapkan Hinata.

"Hinata …," jawab suara itu terdengar ragu-ragu, "… ada apa?"

"… Sasuke-kun." Hanya itulah kata pertama yang bisa meluncur dari mulut Hinata yang saat itu tengah duduk bersimpuh dengan bahu yang sedikit bergedik tegang. Ia tidak menyangka—sama sekali—bahwa suara Sasuke bisa begitu membuatnya tercekat. Tercekat oleh rasa berdebar, tercekat oleh kesedihan, dan tercekat oleh kerinduan. Hinata merasa dirinya konyol—tapi semua gadis yang sedang dilanda cinta kerap berpikiran sama seperti dirinya, 'kan?

"Ya?" jawab Sasuke dengan nada datarnya kembali.

Hinata menelan ludah. Dia menelepon Sasuke tanpa alasan. Lagi-lagi hanya berdasarkan dorongan. Kali ini apa lagi yang bisa ia ajukan sebagai topik pembicaraan? Mengenai Neji-kah?

Neji. Ya, mungkin Hinata bisa meluruskan kesalahpahaman ini terlebih dahulu.

"Sasuke-kun, a-aku ingin menceritakan sesuatu. Kuharap … kau mau mendengarkannya."

Hening sejenak. "… Ya."

Hinata menarik napas panjang. Segera setelah itu, dimulailah cerita Hinata yang terdengar terbata-bata. Meski kegugupan melanda, Hinata berusaha menjelaskannya dengan tuntas. Entah Sasuke bisa memahaminya atau tidak, yang saat ini Hinata pikirkan hanya memberikan penjelasan sebaik-baiknya pada Sasuke. Ia tidak ingin menambah masalah Sasuke—ia harus menjernihkan masalah mengenai Neji ini sesegera mungkin.

"Ka-karena itulah, aku sungguh-sungguh minta maaf padamu. Aku—"

"Hinata," sela Sasuke cepat.

"Y-yaa—?"

"Apa kau masih mencintai Neji?"

Tak butuh waktu lama bagi Hinata untuk menjawab, "Aku pernah mencintai Neji-nii. Dan mulai sekarang, mungkin untuk selamanya, aku … aku tidak akan pernah melupakannya lagi. Dia … orang yang berharga bagiku. Orang pertama yang mengajarkanku arti menyayangi … dalam konteks ya-yang ro-romantis." Hinata tersenyum sekilas. "Walau mungkin waktu itu terlalu cepat untuk anak seusiaku.

Beberapa saat, Sasuke membiarkan keheningan mengambil alih. Hinata menunggu dengan sabar sampai Sasuke kembali berbicara.

Kata Sasuke akhirnya, "Kalau begitu, bagaimana perasaanmu padaku sebenarnya?"

Rona merah dengan cepat menjalari wajah Hinata. Hinata belum akan membuka mulutnya saat Sasuke kembali menambahkan pertanyaannya,

"Apakah kau pernah memikirkanku—walau hanya sedikit?"

"Sasuke-kun," jawab Hinata perlahan. Ia menarik napas panjang dan kemudian menyatakannya dengan tegas, "aku mencintaimu."

Kali ini keheningan melanda keduanya tanpa ada yang mengendalikan. Hinata memang tidak bisa melihat, tapi dalam benaknya, terbayang sosok Sasuke yang terkejut dan kemudian tersenyum samar.

"… Kalau begitu, itu lebih dari cukup."

"Apa itu berarti … kau memaafkanku?"

"Hn. Walau sejujurnya, aku masih sedikit sakit hati, tapi aku rasa aku bisa memaafkanmu," jawab Sasuke terus terang. "Aku memang masih tidak habis pikir, kenapa kau bisa membawa nama laki-laki yang pernah mengisi hidupmu di saat kita sedang menikmati kebersamaan kita? Lebih parahnya lagi, aku … sama sekali tidak tahu kalau laki-laki yang pernah begitu berarti bagimu adalah sepupumu sendiri."

Hinata tersenyum lembut. Ia menukar posisi ponselnya lebih mendekat ke telinga kiri. Setelah ia menceritakan semua tentang Neji—tanpa membahas ketakutannya secara berlebihan dan histerianya mengenai masalah 'pembawa sial'—Hinata merasa jauh lebih lega. Tubuhnya seketika menjadi rileks. Dan ia kini kembali merasakan dorongan untuk berbaring.

"Ka-kau stalker yang tidak cukup baik, Sasuke-kun."

"… Ya. Sayang sekali."

Hinata tertawa kecil. Ia tidak pernah menyangka bahwa berbicara dengan Sasuke akan terasa begitu menyenangkan. Namun, setelah topik mengenai Neji selesai dibahas, otak Hinata kembali menyodorkan topik lain untuk dibicarakan.

"Ngomong-ngomong, Sasuke-kun," ujar Hinata, "aku … sudah melihat koran."

"Kau sudah—apa?"

"Aku sudah melihat koran bisnis yang memuat berita tentangmu," ulang Hinata dengan tegas. "Itu …."

"Ulah Orochimaru, tidak ada keraguan lagi," jawab Sasuke cepat. "Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Berita itu tidak bertahan lama."

"Ka-kau benar-benar berpikiran bahwa berita itu tidak akan bertahan lama?" tanya Hinata setengah terkejut.

"…"

"Kupikir, justru tidak akan lama sampai semua koran membahas tentang itu …."

"Kau … takut?"

Hinata menggeleng—meski Sasuke tidak dapat melihatnya. "Tidak. Itu … fakta. Ku-kurasa, kita memang tidak bisa menyembunyikannya terlalu lama."

"Hn."

"Lalu, apa … apa yang akan kaulakukan?"

"Tidak ada," jawab Sasuke singkat, "aku akan membiarkannya sampai aku tahu intensinya."

"Kau tidak akan membalas?"

"Jika kesempatan itu sudah datang … ya." Sasuke terdiam beberapa saat. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan membereskan ini semua. Setelah itu …."

"Setelah itu …?"

Tidak ada lagi suara. Kekosongan mendera. Hinata memiringkan kepala dan menjauhkan ponselnya dari telinga. Setengah meringis, Hinata memandang tak percaya pada ponsel yang sudah berlayar gelap seakan tak bernyawa. Baterai habis membuatnya harus menelan ludah kecewa karena pembicaraan yang masih menggantung di udara.

Dengan cepat, Hinata meraih tas yang sama dengan tas yang semula menyimpan ponselnya dan mengambil charger. Hinata kemudian bergerak sedikit menghampiri meja belajar untuk menyambungkan charger tersebut ke stopkontak . Begitu ia menyalakan kembali ponselnya, satu mail sudah bertengger sebagai notifikasi.

'Kurasa belum waktunya membicarakan hal itu denganmu. Tapi nanti, kesempatan itu pasti akan datang. Semua ada waktunya. Untuk sekarang, kau tidak usah memikirkannya terlalu dalam. Fokus saja pada masalah sekolahmu. Selamat tidur.'

.

.

.

"… nata …."

"Hinata!"

Hinata tersentak kembali dari lamunannya akan malam itu. Ya, ia ingat pembicaraan mengenai kesempatan yang telah Sasuke singgung. Sasuke memang menyuruhnya melupakan, Sasuke memang mengatakan agar Hinata fokus pada masalah sekolahnya dan bahwa semua masalah itu akan Sasuke selesaikan. Namun, bukankah Hinata sudah bertekad untuk menjadi penyokong bagi Sasuke? Kalau-kalau ada yang bisa ia lakukan ….

Dan menurutnya—Hinata semakin yakin—inilah yang dinamakan kesempatan.

"Shion, Tenten-senpai," panggil Hinata dengan pandangan memohon, "kalian … percaya padaku, bukan?"

Shion mendelik bingung sambil berseru, "Hah?"

Tenten tidak menjawab, ia memilih melihat reaksi Shion selanjutnya. Hening tidak lama-lama terjadi, Shion pun menghela napas panjang.

"Walau kita baru saja menjadi teman, kurasa aku bisa memercayaimu."

Tenten memandang Shion sejenak sebelum ia kemudian mengangguk sebagai jawaban.

Hinata tersenyum setelah ia menghela napas lega. "Kalau begitu, aku akan menceritakannya semua pada kalian. Kurasa … pulang sekolah nanti?"

Shion memasang pendengarannya dan kembali mengatupkan mulut yang sudah hendak terbuka. Bel sekolah—selalu berbunyi di saat yang tidak tepat.

"Baiklah, pulang sekolah nanti."

o-o-o-o-o

"Hmh," suara dengusan terdengar sesaat sebelum tawa membahana di ruang kerja yang sedikit berantakan tersebut, "Hahahaha! Ini menarik! Lihat ini, Kabuto!"

Kabuto yang semula sedang terduduk di sofa untuk menerima tamu sambil memisahkan tumpukan berkas langsung menoleh ke arah sang ayah yang masih berada di balik meja kerjanya. Orochimaru membentangkan sebuah koran dan kemudian melemparnya ke atas meja. Ia kemudian melihat koran-koran lain dan sekali lagi ia tertawa penuh kepuasan.

"Mereka menulis hal-hal yang menyudutkan si bajingan Uchiha itu."

Kabuto tersenyum sembari menggerakkan tangannya untuk membenahi posisi kacamata.

"Bukan itu esensi utamanya, 'kan, Tousan?" tanya Kabuto. "Yang kita harapkan adalah perusahaan maupun rumahnya didatangi wartawan-wartawan yang begitu mengganggu—berusaha mendapat berita dan keterangan-keterangan dari si Uchiha tengah itu. Setelahnya, Shikamaru akan mengacaukan urusan saham dan kontrak jual beli dari dalam. Kejatuhan Uchiha sudah di depan mata."

Orochimaru mengangguk. "Dan itu karena mereka berani melawan kita. Nah, bagaimana dengan Nara Shikamaru? Aku belum mendapat kabar apa-apa darinya."

"Tenang saja, Tousan. Tidak usah terburu-buru. Orang seperti dia, tahu kapan timing yang tepat untuk melakukan serangan."

Sekali lagi Orochimaru mengangguk. Ia kemudian mengaitkan jemarinya dan menjadikan tangannya tersebut sebagai tumpuan untuk dagunya. "Meskipun demikian, aku masih meragukannya."

Kabuto tersenyum licik. "Tidak masalah. Toh kita sudah memulai dengan langkah-langkah untuk menjatuhkan Uchiha. Seandainya ia ternyata pengkhianat sekalipun, tidak ada pengaruhnya bagi kita, bukan?"

"Jangan menurunkan kewaspadaan, Kabuto," ujar Orochimaru memperingatkan. Matanya berkilat tajam tatkala anak semata wayangnya itu menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Nara Shikamaru itu bukan lawan yang bisa kauremehkan."

"Ah. Aku mengerti," jawab Kabuto sambil kembali memunggungi ayahnya. Tangannya kembali bekerja memisahkan beberapa dokumen yang masih bertumpuk di atas meja. "Rasanya bagaikan keajaiban mendapatkan dia di pihak kita. Terlalu mudah. Bukan begitu?"

"Yaa—"

"Tidak perlu khawatir, Tousan. Apa pun intensi si Nara itu, aku akan memastikan bahwa Uchiha-lah yang terlebih dahulu jatuh sebelum mereka sempat menyerang balik."

o-o-o-o-o

"Kau tidak mau menjawab apa pun tuduhan yang dialamatkan padamu, Sasuke?" Mata sipit Shikamaru tampak memperhatikan tiap gerak-gerik sang direktur muda. Sementara itu, tangannya menyodorkan sebuah dokumen yang harus ditandatangani oleh Sasuke.

"Tidak," jawab Sasuke sambil meneliti dokumen yang dibawakan Shikamaru padanya. "Sia-sia saja menanggapi lelucon murahan macam itu." Sasuke membubuhkan tanda tangannya di atas kertas dan kemudian mengambalikannya pada Shikamaru yang baru saja selesai menguap.

"Padahal sedikit serangan balik tidak ada ruginya. Memuaskan wartawan yang haus gosip pun akan menjadi kesenangan sendiri, 'kan? Yah, hitung-hitung mungkin bisa menjadi suatu kejutan kecil juga bagi mereka."

Sasuke tercenung. "Itu bukan bagianku." Sekilas Sasuke mulai melamun—terlihat dari pandangannya yang menerawang. Ia seolah melihat tapi ia tak benar-benar mengamati.

Shikamaru terkekeh dan ini menyentak Sasuke kembali pada kenyataan. "Baik, baik," ujarnya sambil mengibas-ngibaskan satu dokumen tersebut. "Terserah kau saja."

"Shikamaru," panggil Sasuke tepat sebelum Shikamaru meninggalkan ruangannya, "apa aku harus memberitahumu bahwa aku tahu dengan jelas apa saja yang sudah kaulakukan?"

Shikamaru terdiam beberapa saat sebelum ia menyeringai sinis. "Lelucon yang buruk, bukan?" Setelah itu, Shikamaru menghilang dari ruangan Sasuke. Pintu kembali tertutup.

Sasuke tampak menimbang sesuatu sebelum ia kemudian bergumam lirih, "Dan aku tahu apa yang harus kulakukan." Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran tinggi kursi direktur yang dilapisi kulit kualitas terbaik. Matanya terpejam selama beberapa saat tapi ia tidak benar-benar bisa mengistirahatkan otaknya yang penat karena mendadak pintu ruangannya kembali diketuk.

"Masuk," ujar Sasuke singkat. Dengan satu izin tersebut, masuklah seorang gadis berambut merah terang sambil membawa sebuah nampan dengan cangkir kopi di atasnya.

"Kopinya," ujar sang sekretaris berpakaian cukup terbuka tersebut. Sasuke menganggukkan kepala dan menyuruh sekretarisnya yang bernama Karin itu untuk meletakkan cangkir kopinya ke atas meja pendek di dekat sofa. Karin menuruti perintah non-verbal Sasuke sebelum ia berbalik dan memperlihatkan sebuah note kecil. "Wartawan-wartawan itu membuatku cukup kesal," mulai Karin sambil menaikkan posisi kacamatanya, "coret semua?"

Sasuke mengangguk. "Tidak ada gunanya meladeni mereka."

Karin terkikik. "Aku sudah banyak mendengar," ujar Karin sambil mendekat ke arah Sasuke dan meletakkan tangannya ke pundak Sasuke. Sebetulnya, Karin adalah teman Sasuke sejak masa SMA dahulu. Oleh karena itu, perlakuan Karin yang tidak mencerminkan kesopanan itu sudah biasa di mata Sasuke. Meski demikian, Sasuke tetap sesekali menegurnya jika dirasanya Karin sudah kelewatan. "Sebenarnya satu skandal tidak akan merugikanmu, 'kan, Pak Direktur?"

Sasuke mendengus. Ia kemudian menepis tangan Karin. "Sebaiknya kau kembali ke meja kerjamu dan lakukan tugas-tugasmu."

Karin tertawa. "Kaku seperti biasa," celoteh Karin sambil menyibakkan rambutnya.

"Dan kau penggoda seperti biasa," balas Sasuke sambil mengambil sebuah dokumen dari tumpukan yang ada di atas meja dan mulai membacanya.

"Tapi tidak pernah mempan padamu," jawab Karin sambil melipat tangannya di depan dada. "Toh sejak dulu matamu hanya terpaku pada gadis cilik itu."

"Hn."

Mendengar jawaban khas itu, Karin hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum singkat. "Semoga saja berita-berita di koran yang semakin sadis tidak lantas menghancurkan 'kelinci kecil' kesayanganmu itu." Sasuke memilih tidak menanggapi dan dengan itu, Karin keluar dengan sendirinya dari ruang kerja sang direktur muda.

Sasuke memilih menghentikan kegiatan membaca dokumennya selama beberapa saat. Matanya tampak kembali menerawang di balik kacamata kerja yang sudah ia gunakan. Seulas senyum tipis kemudian tersungging di bibirnya.

"'Kelinci kecil' itu jauh lebih tangguh dari yang bisa ditunjukkan oleh sosok luarnya. Aku rasa, dia akan segera bergerak walau aku tidak memintanya." Sasuke menghela napas dan mengangguk. "Mungkin … satu kejutan kecil, memang bukan hal yang buruk."

o-o-o-o-o

Waktu berlalu sedemikian cepat hingga tiba saatnya waktu pulang sekolah yang sudah ditunggu. Di kantin yang sudah sepi—tidak ada orang lain kecuali tukang bersih-bersih dan pemilik kedai yang hendak bersiap pulang—duduklah tiga orang gadis dengan perawakan yang saling bertentangan satu sama lain. Ketiganya mengelilingi sebuah meja bundar berwarna kecokelatan yang terletak agak ke sudut. Mereka cukup berhati-hati memilih tempat dan berusaha meminimalisir suara mereka agar tidak sampai terdengar oleh orang-orang yang tidak diharapkan.

Tidak banyak basa-basi yang mereka lakukan. Rasa penasaran sudah membuat cerita demi cerita bergulir dengan cepat. Tidak ada yang menyela selama Uchiha Hinata bersuara. Saat mendadak hening, Shion ataupun Tenten akan segera memberi pertanyaan pancingan yang membuat Hinata kembali harus membuka mulut. Cerita pun mengalir nyaris tanpa henti.

Sejujurnya, Shion dan Tenten begitu takjub melihat suatu ketegasan dalam pancaran mata Hinata. Entah apa yang terjadi, dalam waktu singkat saja, Hinata yang biasanya tampak ragu-ragu, kini terlihat lebih percaya diri. Meski terkadang ia akan berhenti sejenak dan memandang takut-takut pada Shion dan Tenten, tapi Hinata kemudian akan melanjutkan setelah mengangguk dengan berbagai pertimbangan dalam kepala.

"Be-begitulah," ujar Hinata. "Semua … yang diceritakan koran itu, omong kosong." Hinata menggeleng. "Semua itu fitnah."

Tenten menelan ludah sesaat. Rasanya ia masih tidak bisa percaya akan fakta yang disodorkan di depan hidungnya. Namun, ia pun tidak bisa membayangkan bahwa Hinata adalah seorang pembohong. Rasa-rasanya gadis manis itu juga tidak terlihat memiliki bakat sebagai aktris yang andal. Tangannya terkait di atas meja—bergerak sedikit karena gelisah.

"Aku percaya padamu," ujar Shion bahkan sebelum Tenten bisa memberikan respons. Spontan, Tenten pun mendongak. Shion melanjutkan, "Aku … aku akan membantumu mengatasi kesulitan dengan pers. Apa yang harus kulakukan? Ah, Tousan-ku punya hubungan dengan beberapa media, mungkin aku harus mencoba memanfaatkan itu?"

"Shion …."

Mendengar ucapan Shion, Tenten seolah mendapatkan kepercayaannya. Gadis dengan rambut kecokelatan yang dicepol dua itu tersenyum dan kemudian mengangguk.

"Aku juga. Aku memutuskan untuk percaya padamu, Hinata-chan." Tenten akhirnya membiarkan tangannya bergerak ke pundak Hinata. "Katakan pada kami, apa rencanamu selanjutnya?"

"Tenten-senpai …." Hinata tersenyum dengan lebih lebar. Ia kemudian menunduk dan dengan cepat berkata, "Arigatou gozaimasu!"

Shion memotong kegiatan Hinata berterima kasih dengan mengatakan bahwa ucapan itu sebaiknya disimpan untuk terakhir. Sekarang, mereka mulai membahas mengenai langkah yang akan Hinata ambil. Hinata sendiri mengaku, yang ada dalam benaknya adalah melawan tulisan-tulisan miring tentang Sasuke dengan menyebarkan berita yang sesungguhnya.

Jika memang demikian langkah yang akan dia ambil, Shion mengatakan bahwa ia bersedia bertanggung jawab untuk menerbitkan satu cerita dari sisi yang lebih objektif. Dia akan meyakinkan ayahnya agar diberi kesempatan untuk memberi kesaksian yang kemudian akan dicatat oleh media.

"Tapi, apa menurutmu ini benar-benar tidak akan menjadi masalah? Maksudku, semua orang jadi akan tahu identitasmu, lho? Dan mungkin, kau tidak akan bisa hidup tenang dalam waktu dekat," tanya Shion memastikan.

Hinata mengangguk. "Aku tahu. Kalau perlu, aku ingin memberikan langsung klarifikasi yang mereka inginkan."

"Apa menurutmu Uchiha-san akan setuju dengan caramu?" tanya Tenten setengah merenung. Kakinya bergerak menepuk-nepuk lantai sementara bola matanya memandang ke atas. Belum mendapat jawaban, Tenten mendadak menoleh ke arah Hinata. "Dia bilang, dia tidak mau melakukan apa-apa terlebih dahulu, 'kan?"

Hinata mengangguk. "Y-yaa. Tapi menurutku, untuk masalah ini, memang sebaiknya bu-bukan Sasuke-kun yang turun tangan."

"Kurasa aku mengerti," ujar Shion cepat, "tentu media akan lebih 'percaya' pada penuturan 'siswi SMA' yang sudah dinikahi secara sewenang-wenang oleh Uchiha-san."

"Dan berita yang mereka dapat akan lebih menarik," gumam Tenten seolah tanpa sadar. "Benar. Kalau begitu, ayo kita lakukan? Aku juga baru saja mendapatkan ide. Bagaimana kalau sekalian saja, Hinata mendatangi para media itu sendiri?"

"Maksudmu?" tanya Shion sambil menautkan alisnya.

"Aku akan mengantarkan Hinata ke perusahaan Uchiha sekarang juga." Tenten mengucapkan itu sembari melemparkan cengiran jahil. Ia bahkan mengedip sekilas.

Shion dan Hinata berpandangan sekilas. Shion kemudian yang pertama menanggapi rencana itu.

"Bukan ide buruk."

Hinata mengangguk penuh persetujuan. Ia kemudian mengamati kedua sekutu barunya. Sebuah senyum tak henti menghias wajahnya. "Terima—"

"Terima kasihnya nanti saja," potong Shion sambil menyeringai. Gadis itu kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Setelah semua ini selesai."

Terpengaruh oleh tindakan Tenten, Hinata pun bangkit berdiri. Terakhir, Tenten pun bersiap di posisinya. Gadis enerjik itu kemudian mengulurkan tangannya dalam keadaan menelungkup. Shion yang mengerti maksud Tenten, langsung menimpali tangan Tenten dengan tangannya. Shion kemudian menoleh ke arah Hinata.

"Untuk keberhasilan rencana kita."

Satu tangan lain pun menimpa kedua tangan sebelumnya.

o-o-o-o-o

Seorang gadis tengah terdiam di ruang tamu keluarga Uchiha. Di pangkuannya terdapat sebuah majalah yang tidak biasa ia baca—majalah bisnis dan saham. Ia yang biasa berkutat dengan majalah fashion, hanya sedikit sekali mengerti mengenai dunia bisnis. Namun, halaman yang ia baca kali ini dapat dengan mudah diterima oleh otaknya.

"Omong kosong semua!"

Ia mendengus dan menggeleng dengan kesal. Tanpa perasaan, ia menutup majalah itu dan melemparnya ke atas meja. Helaan napas kemudian terdengar di ruangan yang sepi tersebut.

Mata berwarna birunya kemudian menangkap satu benda yang menjadi kesukaannya berada di sudut ruangan—di dalam vas di atas suatu meja. Ia pun beranjak dari posisi nyamannya di atas sofa dan menyentuh ujung kelopak bunga berwarna merah muda yang menarik perhatiannya tadi. Dengan sedikit memaksa otaknya untuk kembali berputar, Ino segera tahu kalau bunga itu adalah bunga yang pertama dibeli Itachi di toko bunganya. Sungguh hebat melihat bahwa bunga-bunga itu belum juga layu.

Masih cukup terekam dalam benaknya bagaimana Itachi meminta sarannya mengenai bunga yang bisa ia berikan untuk adiknya yang akan segera menikah. Ino tidak pernah mengira kalau pada akhirnya, ia akan terlibat langsung dengan pelanggan yang menurut kesan pertamanya itu begitu … memesona.

"Stephanosis, Orange Blossom, Heather Pink …," gumam Ino nyaris berbisik, "kebahagiaan dalam pernnikahan, cinta yang abadi … dan keberuntungan."

"Maaf, Nona …."

Ino menarik tangannya dan menoleh pada asal suara yang memanggilnya. Tidak jauh dari tempatnya, Ino bisa melihat seorang pelayan berambut pendek yang tersenyum. Ino membalas senyuman itu sembari memutar tubuhnya untuk menghadap sang pelayan keluarga Uchiha.

Sudah berkali-kali Ino meminta mereka menghentikan sebutan 'Nona' itu, tapi sepertinya para pelayan itu juga sama keras kepalanya dengan dirinya. Padahal Ino merasa dia hanyalah orang asing yang mungkin setara dengan para pelayan itu. Untuk dipanggil 'Nona', rasanya ada sesuatu yang salah. Tapi, jika ia benar-benar akan menikah dengan Itachi nanti ….

Ino terbelalak akan pemikirannya sendiri. Ia pun menepis jauh-jauh pemikiran tersebut dan memfokuskan perhatiannya pada sang pelayan yang masih menunggu responsnya. Setelah Ino menanyakan maksud kedatangan pelayan tersebut, pelayan itu pun menyodorkan sebuah surat pada Ino.

Ino menerima surat itu. Dan seketika ia terkejut melihat tulisan tangan yang ada di amplop. Begitu ia membalik amplopnya untuk melihat nama pengirim, yang bisa Ino dapati hanyalah sebuah inisial, tanpa alamat.

A. S.

Dengan sedikit tidak sabaran, Ino mempersilakan pelayan tadi untuk pergi dan ia pun langsung merobek amplop untuk mengeluarkan surat yang ada di dalamnya. Tiga lembar surat dengan tulisan tangan yang begitu familiar kini memenuhi pandangannya.

Ino terlalu larut membaca kata demi kata yang tertulis di surat itu. Ia bahkan sampai tidak mau repot-repot menjatuhkan diri ke sofa untuk membuat dirinya lebih nyaman. Isi surat itu telah merampas semua kesadarannya. Isi surat itu adalah jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini selalu mengganggunya. Isi surat itu adalah sesuatu yang kemudian membuat kebenciannya semakin pudar dan kebingungannya meningkat menyeruak.

"Ino?"

Sebetulnya, Ino tidak perlu mengangkat kepala untuk melihat siapa yang memanggilnya—ia hafal dengan suara itu. Namun, toh Ino melakukannya juga untuk memandang langsung ke pemilik bola mata kelam yang tengah tersenyum kepadanya tanpa rasa curiga.

Air mata mendadak menetes dari kedua bola mata Ino. Sebuah senyum getir yang menambah keterkejutan seorang Uchiha Itachi kemudian menyusul menghias wajah Ino.

"Shino sudah menjelaskan semuanya padaku," ujar Ino tegas, "melalui surat-surat ini."

Itachi yang sudah berhasil mengendalikan keterkejutannya, kini memasang ekspresi datar. "Padahal dia sudah berjanji tidak akan ikut campur lagi." Pemuda berambut hitam panjang itu semakin mendekat ke arah Ino. "Berani sekali dia melanggar perjanjian."

Ino meringis. "Dia tahu kau tidak akan bisa menang mudah kalau dia tidak menceritakan yang sebenarnya." Ino tidak bergerak dan membiarkan Itachi semakin memperkecil jarak di antara mereka. "Apa kaupikir dengan bersikap menyebalkan dan membuat dirimu sendiri terlihat jelek di mataku, aku akan menyerah padamu?"

Itachi mengulurkan tangannya untuk menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi pipi Ino.

"Bukan," jawab Itachi sedikit ragu-ragu, "aku hanya tidak ingin membuatmu sakit hati karena kenyataan yang sebenarnya."

Pada akhirnya, Itachi memutuskan untuk mengakhiri semua sandiwara yang membuatnya jadi orang menyebalkan di mata Ino. Tentu surat dari Shino sudah menjelaskan semua, bahkan mengenai syarat sebenarnya yang Itachi ajukan sebagai ganti memberikan Shino sepasang mata baru melalui operasi dan membiarkan pemuda itu pergi meninggalkan Ino yang selama ini berjuang untuk mengembalikan penglihatannya. Itachi sebenarnya sedikit mengumpat dalam hati karena pada akhirnya ia mungkin akan menjadi pihak yang dibantu oleh Shino.

Sementara Itachi sesaat larut dalam pemikirannya, Ino telah memejamkan mata dan membiarkan suara Itachi tadi sedikit membiusnya. Ino tidak ingin terang-terangan mengakui, tapi samar-samar ia sudah melihat kejelasan dari perilaku Shino. Shino memang tetap baik padanya, tapi perasaan itu … sudah tidak ada lagi. Dan mungkin, perasaan dalam diri Ino yang selama ini ia yakinkan pada dirinya pun ….

"Aku juga tidak ingin kemudian kau menjadikanku pelarian karena rasa patah hatimu. Aku lebih suka kau menolakku mati-matian sambil belajar mengenai aku yang sebenarnya secara perlahan."

Suara Itachi sesaat menyentak Ino. Namun kemudian raut kelegaan di wajah Ino tertangkap oleh mata Itachi. Itachi pun tidak dapat menahan senyumnya lebih lama.

Ino akhirnya membuka mata sebelum ia kemudian menyeka sisa-sisa air matanya dengan punggung tangan.

"Tapi aku tidak mengerti," ungkap Ino lemah, "kenapa kau bisa mempunyai perasaan sedalam itu padaku? Padahal, aku rasa, pertemuan pertama kita terjadi belum begitu lama. Bagaimana bisa kau bertingkah seolah …."

"Aku sendiri tidak mengerti," ujar Itachi sambil menyentuh dagunya. "Itu terjadi begitu saja. Saat pertama melihatmu, aku langsung tertarik. Dan saat aku sadar … aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu."

Wajah Ino memerah dengan hebat begitu mendengar pernyataan dari Itachi. Ia pun menunduk dan kemudian menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang mencerminkan bahwa gadis itu sedikit salah tingkah.

"O-oh, ya?"

"Ya," jawab Itachi lagi, "bahkan untuk bisa mendapatkanmu, aku akan berusaha melakukan apa pun. Termasuk menyambut kesempatan yang mendadak datang padaku dan—"

"—Dan berpura-pura menjadi orang yang menyebalkan," potong Ino sambil menghela napas. Itachi hanya tertawa kecil.

"Kalau kau memulai semuanya dengan membenciku, aku bisa meyakinkan diri bahwa jika suatu saat kau menerimaku, itu bukan karena kau menjadikanku pelarian."

"Langkahmu terlalu berisiko," ucap Ino perlahan, "bagaimana kalau pada akhirnya aku tetap tidak bisa menerima dan justru malah terus membencimu?"

Itachi menggenggam tangan Ino dan kemudian menyelipkan jemarinya. Ia kemudian semakin mendekatkan wajahnya pada Ino. Satu senyum ditunjukkan pemuda itu.

"Kautahu? Keluarga Uchiha itu memang sangat suka mengambil risiko."

o-o-o-o-o

Setelah beberapa puluh menit perjalanan dengan menggunakan mobil keluarga Uchiha yang memang diperuntukkan untuk mengantar jemput Hinata, akhirnya Hinata dan Tenten sampai di gedung perusahaan Uchiha tempat Sasuke menjadi direkturnya. Keduanya berpandangan sekilas dan kemudian berpegangan tangan untuk saling menguatkan. Setelah Tenten mengangguk, mereka pun membuka pintu mobil.

Kerumunan wartawan yang sedang menunggu di pintu depan gerbang kala itu kesulitan masuk karena pengamanan ketat dari pihak perusahaan. Melihat kerumunan orang yang (sangat) mungkin mengejarnya, nyali Hinata langsung menjadi ciut. Namun, toh ia tidak berniat mundur. Ini adalah kesempatan yang baik.

Sesuai perkiraan, beberapa wartawan (baik wartawan bisnis maupun wartawan infotainment yang menganggap bahwa berita tentang pengusaha muda yang sedang naik daun adalah ladang mereka) tampak langsung menyadari kehadiran Hinata. Dan mereka pun mulai berlarian menghampiri gadis itu kemudian mengerumuninya. Pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan perihal rumah tangga Sasuke dan Hinata pun buru-buru dilancarkan.

"Uchiha Hinata, bukan? Tolong jelaskan bagaimana hubungan Anda sebenarnya dengan Uchiha Sasuke? Kalian benar-benar sudah menikah?"

"Dari seragammu, kau masih siswi SMA bukan?"

"Kau putri tunggal keluarga Hyuuga. Bagaimana ceritanya sampai kau bisa menikah dengan Uchiha Sasuke?"

"Benarkan pernikahan ini adalah pernikahan politik karena keluarga Hyuuga mengalami kebangkrutan?"

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan secara bertubi-tubi itu membuat Hinata merasa pening dalam sekejap. Lidahnya terasa kelu, padahal ia sudah menyiapkan diri untuk memberikan jawaban-jawaban yang dapat membersihkan nama baik Sasuke. Kenyataan memang tidak berjalan semudah imajinasi bagi Hinata. Jantungnya berdegup kencang. Kekuatan yang ia rasakan sebelumnya terasa sedikit amblas.

"Minggir, minggir! Tolong beri jalan! Hinata mau bertemu dengan suaminya tercinta!" Suara Tenten seketika membuat Hinata yang sempat membatu kini kembali melangkahkan kakinya semakin mendekati pintu depan gedung.

Ini tidak sesuai rencana. Hinata harus mengatakan sesuatu! Sesuatu yang bisa memuaskan rasa ingin tahu wartawan itu—sesuatu yang bisa memulihkan nama baik Sasuke.

Hinata masih bungkam sementara Tenten mulai melihatnya dengan cemas—sembari menjalankan tugasnya sebagai bodyguard Hinata dan menghalau beberapa wartawan yang mulai menghimpit. Meski keduanya tetap berjalan, tapi tidak sepatah kata pun terlontar dari mulut Hinata. Sampai, satu pertanyaan membuat Hinata berdiri tegak di atas kedua kakinya.

"Apa kau benar-benar mencintai Uchiha Sasuke? Bagaimana perlakuannya terhadapmu sebenarnya?"

Bisa. Hinata bisa menjawabnya. Keberanian itu kembali timbul dalam diri Hinata. Sementara jawaban yang akan dia lontarkan masih terngiang dalam kepalanya, seulas senyum kini menghiasi wajah Hinata.

"Sa-Sasuke-kun sangat baik hati. Dia tidak pernah memaksaku."

Hinata terdiam sejenak dan membiarkan pikirannya melayang-layang ke saat-saat awal pertemuan mereka sampai saat mereka melakukan bulan madu di Kirin-shima. Tidak, Sasuke memang tidak pernah memaksanya. Yang laki-laki itu lakukan lebih pada merebut hati Hinata secara perlahan dan kemudian menunggu. Menunggu sampai Hinata sendiri yang menyadari perasaannya dan kemudian jatuh pada pelukannya.

Senyum Hinata pun semakin terkembang sementara kedua pipinya merona.

"Dan … ya. Aku mencintainya."

Hanya sepatah kata dan semua keributan itu berhenti seketika. Hinata dan Tenten pun seketika melewati kerumunan para wartawan dan menerobos masuk ke dalam gedung perusahaan setelah memberi tahu identitas mereka pada petugas keamanan yang berjaga.

o-o-o-o-o

Hinata dan Tenten tengah menaiki lift sebagaimana petunjuk dari salah seorang karyawan wanita di front office. Awalnya, karyawan wanita tersebut sudah menawarkan diri untuk mengantarkan Hinata dan Tenten sampai ke ruang Sasuke, tapi Hinata menolak dengan halus dan mengatakan bahwa ia bisa mencari ruang Sasuke seorang diri asal diberikan petunjuk yang jelas. Sekilas, terlihat raut kekecewaan di wajah wanita tersebut—sepertinya ia juga penasaran dengan Hinata sehingga ia ingin tahu lebih banyak mengenai istri direkturnya yang masih tergolong muda tersebut.

Kini, setelah hanya tinggal Tenten dan Hinata (setelah mereka berhasil menghindari tatapan penuh tanya dari beberapa karyawan), akhirnya Tenten bisa menghela napas lega. Gadis bercepol dua itu langsung menyandarkan tubuhnya di salah satu sisi lift sambil terkekeh. Tangannya kemudian menaikkan salah satu tali tas cokelatnya yang sempat melorot sampai ke lengan.

"Kau luar biasa, Hinata-chan. Kau berhasil membuat para wartawan itu bungkam."

Hinata menanggapi perkataan Tenten itu dengan senyum tipis dan alis yang sedikit turun. "Se-sejujurnya, aku merasa sangat tegang tadi. Mereka … terlihat sangat buas."

Tawa Tenten pun semakin pecah. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyetujui gambaran Hinata mengenai para wartawan di halaman depan perusahaan tadi. Buas. Mengerikan. Akan melakukan apa pun untuk mendapatkan berita yang mereka inginkan.

"Semoga dengan ini mereka tidak lagi menulis yang aneh-aneh di berita, ya?" ujar Tenten sambil menggulirkan bola matanya ke atas. "Kau sudah mengatakannya dengan jelas, kalau masih ada yang menulis hal-hal yang tidak-tidak … mereka bisa langsung dituntut."

Hinata terdiam. Sejujurnya ia sedikit buta mengenai masalah hukum. Karena itu, mendengar penuturan Tenten, Hinata pada akhirnya hanya bisa bergumam lirih, "Semoga."

Keheningan pun mengambil alih. Berkat itu, otak Hinata kemudian dapat berputar cepat dan mengajukan pertanyaan vital yang sebelumnya tidak terlalu terpikirkan.

"E-etto … Tenten-senpai," ujar Hinata dengan wajah yang memucat sementara matanya terpaku pada nomor lift yang menyala dan menunjukkan angka sembilan. Satu lantai lagi dan dia akan mendapati sebuah ruang di sisi barat yang merupakan ruang suaminya. "Apa … apa yang harus kukatakan pada Sasuke-kun mengenai kedatangan kita ke sini?"

Tenten menoleh kepada Hinata dan sebelum sempat ia menjawab, pintu lift terbuka seraya mendentangkan suatu bunyi penanda. Keduanya masih terdiam selama beberapa saat di lift sebelum pintu lift nyaris menutup. Tenten pun buru-buru menekan tombol 'Open' untuk mempertahankan posisi pintu agar tetap terbuka.

Sebelah tangannya kemudian terulur dan menarik tangan Hinata.

"Ah, katakan apa sajalah. Tidak usah terlalu kaupikirkan." Tenten menyeringai sambil mengangkat bahunya dengan enteng. Ia kemudian setengah menyeret Hinata keluar dari lift. "Seorang istri ingin menemui suaminya, itu bukan hal yang salah, 'kan?"

"Ta-ta-tapi … bagaimana kalau kedatanganku justru mengganggunya? Aku … aku belum mengatakan pada Sasuke-kun bahwa aku akan datang hari ini."

Sekilas, Tenten meringis. Ia sudah hendak berargumen lagi saat suara seorang wanita mendadak menegur mereka.

"Wah, wah. Bukankah ini Uchiha Hinata?"

Hinata dan Tenten serentak menoleh hanya untuk menemukan seorang gadis berambut merah menyala. Gadis itu mengenakan kacamata ber-frame hitam di depan kedua matanya yang berwarna senada dengan rambutnya.

"Benar. Dia Uchiha Hinata," Tenten menggantikan Hinata menjawab. "Ano, apa Uchiha-san ada di ruangannya?"

Gadis berambut merah itu melipat tangannya di depan dada dan memiringkan kepalanya. Ia kemudian menatap Tenten lekat-lekat sebelum ia mengalihkan pandangannya pada Hinata yang tampak sangat tegang. Setelah menaikkan posisi kacamatanya, gadis itu tersenyum manis.

"Ya. Dia belum beranjak dari ruangannya semenjak jam makan siang tadi. Mari saya antarkan ke ruangannya."

"Eh … ano … tapi bukankah Anda mau ke tempat lain tadi?"

"Tidak usah kaupikirkan," jawab si gadis berambut merah tadi, "aku hanya mau ke pantry untuk mengambil teh."

Dengan itu, Hinata dan Tenten pun mengikuti pemandu mereka sampai ke ruangan Sasuke. Di depan ruangan Sasuke, sang gadis berambut merah langsung mengetuk pintu dan setelah mendapat jawaban dari Sasuke, gadis itu pun membuka pintunya.

"Sasuke, istrimu datang," ujar gadis itu dengan nada santai dan seolah tidak menunjukkan kehormatan. Hal ini tentu membuat Hinata mengernyitkan alis.

"Jangan bercanda, Karin," jawab Sasuke yang masih sibuk dengan dokumen-dokumen di tangannya. Ia mengecap salah satu dokumen tanpa mau repot-repot menoleh ke arah pintu. "Kau bukan istriku."

Mendengar ucapan Sasuke itu, mata Karin mengerjap beberapa saat sebelum ia tertawa geli. Sasuke pun menoleh dengan alis yang mengernyit dan seketika ia terkejut melihat Hinata yang sudah didorong maju oleh Karin.

"Aku memang bukan istrimu. Tapi anak ini … istrimu, bukan?" Karin mengatakannya dengan nada yang sedikit mencemooh. "Nah, sudah kuantarkan, ya?" Karin pun mendorong Tenten keluar dengan paksa dan menutup pintu setelah Hinata benar-benar berada di dalam ruangan Sasuke.

Dokumen di tangan Sasuke sudah terlepas begitu saja, tapi pemuda berambut raven itu masih tampak bingung di tempatnya. Begitu Hinata menolehkan kepalanya untuk memandang ke lain arah, barulah Sasuke sadar bahwa gadis di hadapannya bukan ilusi. Yang ada di ruangannya saat ini memang istrinya—Hinata. Hinata yang masih mengenakan seragam sekolahnya pula.

"Hinata," ujar Sasuke sambil bangkit dari kursinya, "kenapa kau ada di sini?"

"A-a-aku …," jawab Hinata sambil menggenggam tali tas selempangnya, "anoo …." Hinata menelan ludah sesaat sebelum dengan wajahnya yang memerah, gadis itu membungkukkan tubuh sembilan puluh derajat. "Maafkan aku!" serunya cepat. "Aku … tidak bermaksud mengganggumu."

Sasuke yang sudah berada di depan Hinata langsung menjawab cepat, "Bukan begitu. Aku sama sekali tidak merasa terganggu." Alisnya mengernyit kemudian. "Aku hanya bingung. Apa yang kaulakukan di sini?" Sasuke mengulang pertanyaannya kembali.

Hinata sudah kembali berdiri tegak dan kini memberanikan diri untuk menatap Sasuke. Mulutnya beberapa kali terbuka seolah hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian ia mengatupkannya kembali. Setelah Sasuke menaikkan satu alisnya untuk mempertegas bahwa ia masih menunggu jawaban Hinata, Hinata pun menjawab,

"Aku … ini sebenarnya salah satu tindakan dari serangkaian rencana untuk mengembalikan nama baikmu," ungkap Hinata dengan jujur. Wajahnya semakin memerah tapi mulutnya sudah tidak bisa berhenti. "Aku sudah mengatakan pada para wartawan itu kalau kau sama sekali tidak memaksaku untuk menikah dan bahwa aku men-men-men-menci—"

Sasuke tidak membiarkan Hinata meneruskan ucapannya. Pemuda itu langsung merengkuh Hinata ke dalam pelukannya. Senyumnya terkembang tanpa sepengetahuan Hinata.

"Terima kasih," ucap Sasuke lembut sambil membelai kepala Hinata.

Kehangatan merasuki rongga dada Hinata. Wajahnya yang menempel di dada bidang Sasuke tidak henti-hentinya memperlihatkan rona merah. Namun, Hinata sangat menyukai sensasi yang ia rasakan saat ini. Meski demikian, ia masih ragu-ragu untuk membalas pelukan Sasuke. Bahkan sampai akhirnya Sasuke memisahkan jarak di antara mereka, yang bisa Hinata lakukan hanyalah bergeming.

Ia mencintai Sasuke; itu tidak perlu ditanyakan lagi. Namun, ketakutan tidak sepenuhnya hilang dari benak Hinata. Apakah cintanya pada Sasuke tidak akan mengantarkan pemuda itu pada kesialan? Apakah cintanya pada Sasuke tidak akan membuat pemuda itu menemui hal-hal buruk?

Memikirkan hal itu, perasaan nyaman yang sebelumnya Hinata rasakan perlahan memudar. Perutnya terasa melilit dan ia mulai merasakan mual mendera. Wajahnya memucat oleh ketakutan dan tubuhnya menjadi kaku karena ketegangan.

"Hinata ...? Kau … tidak apa-apa?" tanya Sasuke saat ia melihat perubahan dari raut wajah Hinata.

Hinata mengangkat wajah dan memandang Sasuke. Gadis itu tampak mati-matian mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia bahkan mencoba menyunggingkan seulas senyum.

"Aku tidak apa-apa," jawab Hinata. Ia kembali menunduk dan membiarkan Sasuke bertanya-tanya. "Sasuke-kun, ka-kautahu sekarang, kalau aku … aku juga mencintaimu."

Sasuke mengernyitkan alisnya lagi. "Ya," jawab Sasuke singkat.

"Tapi … kau harus tahu sesuatu," lanjut Hinata. Gadis itu kembali terdiam sebelum akhirnya ia menghirup napas dalam-dalam dan menegakkan tubuhnya. "Mencintai … tidak selamanya harus saling memiliki, 'kan?"

Jelas, di dalam hatinya Sasuke sangat terkejut. Namun dalam waktu sepersekian detik, Uchiha tengah itu berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia pun segera tahu pokok permasalahan yang hendak dibahas Hinata.

"Kalau yang kaumaksud adalah perpisahan karena kau takut akan membuatku mengalami kesialan, maka aku tidak setuju dengan pernyataan itu," ujar Sasuke tegas.

Sekali ini, giliran Hinata yang terbelalak. "Dari mana kau …."

"Hiashi-tousan yang mengatakannya padaku." Sasuke membalik tubuhnya hingga kini ia tidak lagi memandang ke arah Hinata. Tangannya kemudian menyentuh tengkuk. "Katanya, kau takut membuatku mengalami hal buruk. Katanya, kau terlalu disayang Dewa Kesialan."

Hinata terdiam.

"Tapi aku, aku adalah orang yang sangat disukai oleh Dewi Keberuntungan," lanjut Sasuke sambil beranjak ke kursinya dan sedikit mendudukkan tubuhnya di pinggir meja. "Karena itulah, aku tidak akan menerima alasan itu untuk berpisah denganmu."

Hinata sudah akan mengucapkan sesuatu. Tapi Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Lagi pula, belum saatnya." Sasuke menyeringai. "Pertunjukkan baru akan dimulai, Hinata."

Bersamaan dengan itu, pintu depan menjeblak terbuka—memperlihatkan sosok Karin yang tampak terburu-buru. Sasuke sendiri mendecih dan kemudian berjalan melewati Hinata untuk menghampiri Karin.

"Ada apa?"

"Sebelumnya maaf mengganggu percakapanmu dengan istrimu," ujar Karin sambil melirik ke arah Hinata, "tapi aku mendapat kabar dari Kiba. Telah terjadi kesalahan dalam distribusi barang. Beberapa barang yang dikirim tidak berfungsi sebagaimana semestinya dan ini menimbulkan komplain dari customer."

Sasuke kembali mendecih dan kemudian melipat tangannya di depan dada.

Karin menaikkan posisi kaca matanya dan kemudian melirik lagi ke arah Hinata. "Bukan hanya itu. Beberapa barang yang masuk, ternyata tidak sesuai dengan pesanan kita." Karin menghela napas panjang. "Dan anehnya, di surat kontrak itu sudah tertera cap dan tanda tanganmu. Bisa kaujelaskan hal ini, Sasuke?"

"Aku selalu membaca tiap-tiap dokumen yang diberikan padaku dengan hati-hati!" jawab Sasuke dengan ketus, yang justru membuat Hinata—bukan Karin—berkedik.

Karin sendiri tampak tenang dan mengangkat bahunya. Ia kemudian menggerakkan kepalanya ke arah Hinata. Sasuke kemudian menolehkan kepalanya ke arah Hinata yang tampak semakin takut dan kalut. Gadis itu memang tidak begitu paham mengenai persoalan yang tengah dibicarakan Sasuke dan Karin, tapi samar-samar, Hinata tahu bagaimana kondisinya. Buruk. Kesialan sudah mendekat.

"Maaf, Hinata … bisa kau …."

"Ah, y-yaa. Aku … aku pulang sekarang," jawab Hinata dengan cepat. Hinata cukup sadar diri. Ia tidak dibutuhkan di sini. Bahkan mungkin, seharusnya ia tidak ke sini. Sama sekali. Kehadirannya mungkin malah memperburuk keadaan. Berbagai pemikiran negatif mulai bermunculan, satu mengikuti lainnya.

Sasuke tidak membutuhkannya—suaminya itu sudah punya seorang sekretaris yang cakap yang dapat mendampinginya. Sasuke tidak membutuhkannya—keberadaan Hinata saja justru sudah membawa kesialan bagi Sasuke. Dan seolah semakin mempertegas dugaan Hinata, begitu ia sudah melangkah keluar dari ruangan Sasuke, samar-samar ia masih bisa mendengar percakapan Sasuke dan Karin.

"Kautahu, 'kan, kesalahan ini telah membuat perusahaan rugi besar. Mungkin, milyaran ryou—itu kata Kiba setelah dia melakukan perhitungan kasar."

o-o-o-o-o

Beberapa hari setelah kejadian di kantor Sasuke, Hinata sudah kembali ke kediaman Uchiha. Namun, sama seperti sebelum-sebelumnya, Sasuke semakin jarang berada di rumah. Sama seperti sebelumnya pula, media masih memberitakan hal-hal sensasional seputar Sasuke—walau intensitasnya sudah jauh berkurang. Pernyataan Hinata yang ia ucapkan di depan kantor Sasuke—ditambah usaha Shion untuk mengklarifikasi segala berita miring—memang cukup berhasil memulihkan nama baik Sasuke tapi media tetap tidak berhenti sampai di sana.

Bukan hanya persoalan rumah tangganya yang kini diungkit, gaung mengenai perusahaan Uchiha yang mengalami kerugian pun menjadi sorotan utama. Semua perihal Sasuke menjadi beruta utama dalam majalah dan koran bisnis. Meski ketenaran Sasuke tetap tidak bisa dibandingkan dengan sang ibu—Mikoto—yang memang merupakan seorang artis, tapi sedikitnya Sasuke telah mendekati ketenaran artis-artis pendatang baru.

Di sekolahnya sendiri, Hinata harus menghadapi nasib yang tak jauh berbeda dari Sasuke. Hampir semua murid kini mengetahui statusnya sebagai istri seorang Uchiha Sasuke. Ada yang jelas-jelas menunjukkan aura permusuhan, ada yang menunjukkan aura menyepelekan—karena mungkin terpengaruh oleh media yang menyatakan bahwa Hinata menikah demi uang, ada pula yang justru terang-terangan mendekat karena merasa bisa mendapat keuntungan tersendiri.

Keadaan ini membuat Hinata jengah dan risih. Kalau bukan karena Shion dan Tenten, Hinata dapat dipastikan akan menjalani hari-hari yang bagaikan neraka di sekolah yang sebelumnya nyaman. Kedua temannya itu benar-benar memberikan penghiburan dan kekuatan yang Hinata butuhkan. Tidak jarang, berkat keberadaan Shion dan Tenten, kasak-kusuk yang jelas menentang Hinata dapat diredam. Walau tidak sekelas dengan keluarga Uchiha, keluarga Akuyami—keluarga Shion—juga termasuk keluarga yang dipandang di daerah Konoha.

"Media-media itu tidak bisa berhenti berkicau," ujar Shion sambil melempar sebuah majalah ke atas meja kantin. Ia kemudian menyeruput jus jeruknya.

"Tapi ngomong-ngomong," sela Tenten sambil melipat tangannya di atas meja dan memajukan tubuhnya, "apa benar perusahaan yang dikelola Sasuke akan bangkrut?"

Hinata menatap Tenten selama beberapa saat sebelum ia menggeleng. "A-aku tidak tahu. Sasuke-kun tidak pernah membicarakannya denganku."

"Hah?"

"Aku tidak begitu mengerti perihal kerja perusahaan dan pasti karena itu dia menganggapku tidak kompeten," ungkap Hinata terus terang, "lagi pula, Sasuke-kun … dia sudah punya sekretaris yang bisa diandalkan untuk mengatasi persoalan perusahaan. Campur tanganku … pasti tidak dibutuhkan. Dan aku memang tidak bisa melakukan apa-apa."

Hinata menunduk setelah menyelesaikan kalimatnya. Shion dan Tenten kini saling melempar pandang.

"Hinata-chan … kau tidak sedang cemburu, 'kan?" tanya Tenten berhati-hati. "Maksudku, si Karin itu memang sexy dan kelihatannya cakap, tapi kan—"

"A-aku kesal," jawab Hinata seolah nyaris tanpa dipikir. Shion dan Tenten tidak dapat mengendalikan ekspresi keterkejutan mereka. "Aku cemburu dan kesal pada Karin yang lebih diandalkan Sasuke. Tapi … aku lebih kesal pada diriku sendiri. Yang tidak bisa berbuat apa-apa selain membawa kesialan bagi Sasuke-kun."

"Lagi-lagi," ucap Shion dengan nada yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan, "kau masih percaya cerita kesialan dan sebagainya itu?"

Hinata mengernyit mendengar cemoohan Shion. Namun ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia maklum jika Shion tidak percaya—Hinata tidak mau memaksa Shion dan Tenten untuk memercayai ceritanya yang satu ini.

"Itu hanya pikiran negatifmu, Hinata. Buang jauh-jauh pemikiran negatif itu!" ujar Shion sambil menepuk pundak Hinata. "Pasti ada sesuatu yang bisa kaulakukan."

Masih enggan menatap Shion maupun Tenten, Hinata tetap menundukkan kepalanya. Pun demikian, ia tidak membiarkan kata-kata Shion lolos dari cengkeraman benaknya. Kata-kata itu bahkan seolah terus berputar dalam benak Hinata.

Pasti ada sesuatu yang bisa kaulakukan.

Ada. Ada yang bisa Hinata lakukan. Meskipun ini terdengar konyol, tapi bukankah hal inilah yang selalu muncul dalam pemikiran Hinata tiap malam akhir-akhir ini? Dia tahu, Shion dan Tenten pasti marah jika Hinata mengutarakan pemikirannya ini. Mereka akan mengolok-olok Hinata sebagai seseorang yang masih kekanakan—dan Hinata tidak bisa menyangkal.

Pemikiran mengenai kesialan yang bisa ia bawa untuk Sasuke memang akan terdengar bagaikan cerita anak-anak yang tidak masuk akal. Namun bagi Hinata, berbagai kejadian buruk yang menimpa orang-orang terdekatnya telah sedikitnya meruntuhkan pemikiran rasional Hinata. Dan tentu, dari pemikian yang tidak rasional itulah, ada sebuah jalan yang dapat ditempuh oleh Hinata.

Walau sama sekali tidak yakin dengan keputusan ini, perceraian adalah satu-satunya jalan yang saat ini memenuhi benak Hinata. Ia tahu, ia tidak dapat mengajukan perceraian di saat seperti ini—saat Sasuke sedang tengah bergelut dengan masalahnya. Ia akan menjadi orang yang tidak tahu diri apabila ia meninggalkan Sasuke dalam keadaan susah.

"Uchiha Hinata." Satu suara angkuh terdengar dari dekat meja tempat Hinata dan teman-temannya terduduk. Seketika, tiga pasang mata memandang kedatangan tamu tak diundang tersebut. Namun, hanya Hinata yang terbelalak saat ia mengetahui siapa yang baru saja mendatanginya.

"Bisa kita bicara sebentar?" Sebuah seringai tidak mengenakkan ditunjukkan sang pemuda berkacamata. Seringai itu mengingatkan Hinata akan pengalaman tidak menyenangkannya dahulu. Namun, gentar sekarang tidak akan mengantarkan Hinata pada apa pun. Bahkan, sedikitnya Hinata melihat sebuah cahaya samar dengan kedatangan pemuda yang tidak ia sukai tersebut.

Dengan tekad bulat yang muncul tiba-tiba setelah ia melihat cara lain untuk membantu Sasuke, Hinata pun berdiri dari tempat duduknya. Ia siap mengikuti sang pemuda meskipun Tenten dan Shion sudah melarangnya.

Hinata tidak tahu, ke mana jalan yang ia tempuh sekarang akan membawanya. Hinata hanya tahu bahwa untuk saat ini, tidak ada jalan untuk melangkah mundur dan melarikan diri. Sasuke sudah melakukan banyak hal untuk membantunya. Kali ini giliran Hinata yang akan mengusahakan apa pun bagi pemuda yang telah berhasil menanamkan cinta di hatinya.

***To Be Continued***


[1] Oke, ini cuma karangan saya aja. Kalau di Jepang sendiri batas orang boleh nikah kalau nggak salah untuk cowoknya 18 tahun dan untuk ceweknya 16 tahun. Btw, seperti yang saya pernah singgung di chapter-chapter sebelumnya, tata cara pernikahan di Jepang itu emang gampang, lho. Perceraiannya juga. /eh/

Sebelumnya, saya benar-benar minta maaf atas keterlambatan update yang sampai … berbulan-bulan ini. Maaf sebesar-besarnya. U.U

Moga-moga chapter ini nggak mengecewakan. Dan … saya sendiri baru sadar, ternyata judul chapter ini (yang sebenarnya udah saya buat dari lama) ternyata mirip yaa ama determinasi Hinata di chapter 633 kemaren. Mwehehehe.

Oh, ya, sekadar informasi, chapter depan adalah last chapter buat Chain of Love. :"D

Terus, terima kasih banyak untuk semua review yang sudah masuk, terima kasih untuk dukungan kalian semua! Nah, sekarang saya mau bales-balesin review non login yang udah masuk dulu, ya (yang login, kayak biasa, saya langsung bales via PM). :D

aika: tenang, Sasuke baik-baik (?) aja kook. Hehehehe. Maaf yah telat banget update-nya u.u

K: maaf telat update-nya u.u Btw, iya, nggak bakal sampai 15 chapter kok. Next chapter tamat dan paling ada satu chapter tambahan buat epilogue :3

lily hime: iyaaa, pasti dilanjutin kok. Kan udah mau tamat juga. Hehehe. Nggak apa-apa kok, di-review tanpa login pun udah bener-bener ngasih semangat buat aku. Makasih banyak yaaa! X""D

sari lestari: makasiiih :"D ini udah lanjut, moga-moga masih mau read n review yaa. :D

eL-Uchiha Himechan: maaf update-nya lama yaa. *cek tangan ama kepala* *merinding disko* ;_; anyway, moga-moga chapter ini nggak mengecewakan, ya :"D

Kappa: hubungan sasuhina membaik, kok, membaik … pada waktunya~ X""D

Koukei: thank you udah suka fanfict ini! Chapter depan chapter terakhir kok. Dan paling ada tambahan 1 epilogue. :D

uchiga: salam kenal juga :D syukurlah kalau kamu menganggap cerita ini bagus. Hehe. Happy ending nggak ya? *nari-nari bareng Akamaru yang dateng entah dari mana*

Tsubasa: haai! Salam kenal jugaa. Makasih yaah udah mau read n review ff ini. Thanks juga buat support-nya! Moga-moga masih mau read n review chapter ini ya :D

ZheCaga: gomen, nggak bisa bikin satu chapter ItaIno-nya x_x soalnya ff ini juga udah mau tamat, jadi … begitulah. Hehehe. Tapi di chapter ini ada ItaIno-nya kan nyempil? Moga-moga memuaskan :"3

Minori Hikaru: iyaap, udah mau akhir. Hahaha. Next chapter itu last chapter. Stay tune ya XD ItaIno ada tuh di chapter ini, nyempil. Tapi maaf ya nggak bisa banyak-banyak. Eheheh *garuk-garuk kepala*

Diane Ungu: silakaan, update-annya. Maaf yah lama banget u.u

Guest 1: wkwkwk, maaf yaa, ItaIno-nya nggak bisa banyak-banyak. Tapi case mereka juga udah selesai di chapter ini. :"3

s: iyaa, ini udah dilanjut :")

linna: dilanjut kook. Cuma kemaren emang sempat stuck. Maaf lama ya update-nya u.u

Guest 2: sama-sama, lho. Tapi heran juga, kalau nggak suka kan kamu bisa loncatin aja bagian garing itu, sengaja ditaruh di bawah, kan, biar bisa langsung dilewat buat yang nggak suka. Lucu juga lihat kamu kayaknya malah fokus banget ama si pojok sok gahoel ketimbang cerita intinya sendiri X""))

JelLyFisH: hehehe, jawaban soal ItaIno-nya ada di chapter ini. Moga-moga memuaskan. :"D

Done! Selanjutnya, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu!

Okay, langsung aja, silakan beri tahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~