Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic. Fanfic is just for fun, guys! ;)
Genre : Romance/Drama
Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku
A/N: this is the last chapter~! Dedicated to all of SasuHina lovers and all of the readers of this fanfiction.
Hope you enjoy this last chapter!
Happy reading!
Chain of Love
Chapter 12 – Good Luck
Because he's loved by Fortune Goddess
and it's him, only him
that can hold her hand still.
From now on, till forever.
Together in the name of love,
bound by only a red-thread.
.
.
.
"Kelihatannya kau sedang kesusahan, ya, Hinata?" tanya pemuda itu dengan seringai sinis di wajahnya. "Kudengar perusahaan Uchiha sedang mengalami kesulitan. Apa kautahu kenapa?"
Hinata menggigit bibir bawahnya sesaat. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut, tapi pada akhirnya, senyum meremehkan sang pemuda membuatnya membuka mulut.
"A-apa aku perlu menjawab pertanyaan itu, Kabuto-san?"
Hebino Kabuto mengangkat bahu sebelum ia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di salah satu batang pohon yang besar. Ia melipat tangannya di depan dada sebelum membenarkan posisi kacamatanya.
"Yah," gumam Kabuto sambil menyeringai, "seandainya saja kau tidak menyeretnya ke dalam masalahmu sejak awal, tentu dia tidak akan berada dalam kesulitan seperti ini."
Hinata membelalakkan mata. Kesadarannya seakan dihantam oleh fakta yang sebenarnya sudah sangat ia ketahui. Kegugupan dan kecemasan semakin melandanya—terlihat dari tangannya yang mulai menutupi mulut dan bola mata yang terfokus pada tanah di bawahnya.
"Aku benar, 'kan?" sambung Kabuto lagi sambil menegakkan tubuhnya. Pemuda itu kemudian bergerak ke arah Hinata dan kemudian mengangkat dagu gadis itu. "Semua gara-gara kau, Hinata-chan."
Hinata menepis tangan Kabuto dan melangkah mundur. Wajahnya semakin pucat sementara bibirnya tampak gemetar. Ia sudah tahu mengenai hal itu—demi Tuhan. Meskipun demikian, dikonfrontasi secara terang-terangan seperti ini tetap saja membuatnya merasa tidak nyaman. Lebih daripada itu, Hinata seolah semakin diyakinkan mengenai nasib buruk yang dibawanya pada tiap-tiap orang yang ia sayang.
"Nah, nah," lanjut Kabuto sambil mengangkat kedua tangannya, "bahkan di saat seperti ini pun kau masih melawan. Apa kau tidak bisa bersikap baik padaku sedikit, Hinata-chan? Padahal aku datang untuk menawarkan kerja sama yang tidak akan merugikanmu."
"Kerja … sama?"
"Tinggalkan Uchiha itu. Dan aku akan mempertimbangkan untuk bersikap lunak padanya," jawab Kabuto enteng. "Tidak sulit, bukan?"
"Kau … memintaku untuk mengkhianati Sasuke-kun?"
Kabuto tertawa. Tawa yang licik dan begitu tidak menyenangkan di telinga Hinata. Saat itu, Hinata tahu bahwa tebakannya tidak salah.
Kabuto memintanya untuk meninggalkan Sasuke bukan semata-mata karena Kabuto menginginkannya—seperti yang ia tunjukkan di awal-awal pertemuan mereka. Sekarang, yang ada dalam benak pemuda berambut perak itu hanyalah kejatuhan dan kehancuran Sasuke. Bisa saja, saat Hinata setuju untuk meninggalkan Sasuke, Kabuto tidak lantas memenuhi janjinya untuk 'melepaskan' Sasuke.
Siapa yang bisa percaya pada orang yang sudah menghancurkan perusahaanmu? Bagaimanapun, Orochimaru dan Kabuto adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas jatuhnya perusahaan Hyuuga. Merekalah yang membuat Hinata terperangkap dalam takdirnya sekarang.
Meski saat ini Hinata tidak menyesal karena ia terlanjur mengenal dan mencintai Sasuke, tapi mungkin menikahi Uchiha tengah itu adalah suatu kesalahan. Ia telah menyeret Sasuke dalam nasib buruk yang tidak sepatutnya pemuda itu dapatkan. Pun demikian, Hinata juga tidak bisa memutar waktu untuk kembali ke masa lalu. Yang bisa ia lakukan adalah maju ke depan.
Sekelebat pemikiran merasuki benak Hinata. Seandainya ia menerima tawaran Kabuto, bisakah keberuntungan justru berbalik pada Sasuke? Bisakah Hinata menjatuhkan kesialannya pada orang di hadapannya ini?
Tapi ….
"Aku … tidak akan mengkhianati Sasuke-kun," jawab Hinata pada akhirnya. Lugas dan tegas. "Tidak. Akan. Pernah."
Benar. Hinata tidak akan mengkhianati Sasuke. Kalaupun suatu saat dia harus bercerai dengan Sasuke, Hinata akan memastikan bahwa perceraian mereka terjadi bukan karena akal licik Kabuto.
Hinata tersenyum kecut. Sedikitnya, dia bersyukur bahwa pemikiran negatif tentang perceraian tidak serta-merta membuatnya menyambut penawaran Kabuto. Akal sehatnya masih bisa bekerja dan menunjukkan jawaban yang harus ia berikan pada musuh di hadapannya ini.
"Oh?"
"Bahkan," lanjut Hinata dengan senyum sedih yang tersirat, "bahkan ketika aku tahu bahwa mungkin memang aku yang menyebabkan kejatuhan perusahaan Sasuke-kun, aku tetap tidak akan mengkhianatinya."
"Kau …."
"Kalau sudah tidak ada yang ingin kaubicarakan, aku permisi!" Hinata menunduk sekilas sebelum ia kemudian berbalik dan bersiap menjauh dari Kabuto.
Kabuto yang tidak terima atas kata-kata dan perbuatan Hinata, langsung menahan gadis itu di tangannya. Hinata menoleh sementara tangannya secara refleks berusaha berontak dari cengkeraman Kabuto.
"Tidak usah bertingkah sok kuat, Hinata. Apa kautahu, tiap tindakan yang kaulakukan bisa semakin membuatku membenci Uchiha Sasuke? Dan kautahu? Aku tidak akan segan-segan menggunakan berbagai macam cara untuk menjatuhkan pemuda angkuh itu!"
"A-aku tidak bisa memercayaimu!" balas Hinata masih sambil berusaha melepaskan diri dari Kabuto. "Seandainya aku menuruti keinginanmu, tidak ada jaminan bahwa kau akan menepati janjimu untuk tidak mengganggu Sasuke-kun!"
"Hmph. Jadi kau ingin melihatnya semakin hancur? Hahahaha! Kau benar-benar pintar, Hinata! Sangat pintar!" Kabuto semakin mengeratkan cengkeramannya ke lengan Hinata.
"Dengar," lanjutnya sambil mendekatkan wajah ke arah Hinata, "sesungguhnya aku tidak peduli apa kau berniat meninggalkannya atau tidak. Yang kuinginkan memang hanya melihat pemuda angkuh itu jatuh! Jatuh sampai ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain merangkak dan menciumi kakiku—meminta belas kasihan."
Hinata membelalakkan mata. Inilah wajah asli Kabuto sebenarnya. Yang pemuda itu inginkan memang hanyalah membuat Sasuke semakin jatuh dan terpukul. Bagi Kabuto saat ini, Hinata tidak lebih sebagai alat pelengkap untuk membantu usahanya dalam menjatuhkan Sasuke. Dendam, keserakahan, iri hati, dan amarah adalah hal-hal yang semakin membutakan mata Kabuto.
"Baiklah, jika kau tidak mau meninggalkannya, biar aku saja yang membuatmu meninggalkannya!" sambung Kabuto lagi sambil mengelus pipi Hinata dengan punggung tangannya yang bebas.
Hinata mengernyit jijik akibat perlakuan Kabuto padanya. Satu kata terus berputar dalam kepalanya: Lari! Hinata harus kabur secepatnya. Karena itulah, dengan mengerahkan segenap kekuatannya, Hinata langsung mengayunkan tangannya yang bebas dan memberikan satu hantaman keras di pipi Kabuto.
Terkejut, Kabuto langsung melepaskan cengkeramannya. Hinata tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menjauh dari Kabuto. Sebelum ia semakin menjauh, Hinata memberi satu pandangan tidak senang pada Kabuto.
"Kau … menyedihkan."
Setelah itu, Hinata segera berlari secepat yang ia bisa untuk meninggalkan taman belakang sekolah. Kabuto yang akhirnya sadar dari keterkejutannya langsung mendecih.
"Sial!" Ia sudah akan mengejar Hinata saat mendadak dering ponsel mengganggu konsentrasinya. Kabuto segera melihat siapa yang menghubunginya dan ia pun memberikan satu pandangan bertanya. "Moshi-moshi, Tousan?"
Kabuto mengangkat kepalanya dan melihat Hinata sudah lenyap dari pandangan. Ia menghela napas dan memberikan fokus perhatian sepenuhnya pada kata-kata sang ayah. Namun, bukan berita baik yang diterimanya. Seketika, wajah Kabuto pun menjadi pucat.
"Tidak mungkin! Apa maksud Tousan?" Kabuto menggeram sementara tangannya menggenggam ponselnya semakin erat—seolah siap menghancurkannya kapan saja. "Brengsek!"
o-o-o-o-o
Hinata bersembunyi di balik salah satu tembok dan menengok ke belakang sesaat. Tidak ada yang mengejar. Kabuto tidak mengejarnya. Hinata pun menghela napas lega karena itu.
Nyaris saja, kejadian waktu itu terulang, batinnya. Hinata pun bergidik memikirkan kemungkinan itu. Ia menggeleng cepat-cepat dan meyakinkan dirinya bahwa ia sudah lolos dari situasi mengerikan tersebut.
Sekarang, ujar batinnya lagi, sebaiknya aku mencari Shion dan Tenten.
Hinata menoleh ke kanan dan kirinya. Ia kembali melangkah, menyelinap berhati-hati di lorong sekolah agar posisinya tidak terlihat oleh Kabuto. Tadi Hinata bisa meyakinkan diri kalau Kabuto memang tidak mengikutinya. Namun, siapa yang tahu pasti? Pemuda itu bisa saja sewaktu-waktu keluar dari tempat persembunyiannya untuk menerkam Hinata. Pokoknya, Hinata harus sangat waspada.
Karena itulah, ia nyaris terlonjak saat sebuah tepukan mendarat di bahunya. Ia nyaris berteriak seandainya ia tidak berhasil menahan diri terlebih dahulu.
"Te-Tenten."
"Ternyata kau ada di sini," ujar Tenten sambil menyeringai. "Aku mencarimu ke mana-mana tapi ternyata kau sudah tidak ada di taman belakang."
"Aku …."
"Nanti saja kaujelaskan apa yang terjadi dengan si cowok kacamata itu. Ikut denganku, kita kembali ke kantin. Shion baru saja mendapatkan suatu informasi yang luar biasa!"
Hinata hanya bisa mengerjap kebingungan. Namun ia tidak bisa bertanya apa-apa saat itu karena Tenten terlanjur menyeretnya.
o-o-o-o-o
Di kantin, Shion sudah menunggu Hinata. Wajahnya semringah, menunjukkan kesenangan dan kepuasan yang tidak ditutup-tutupi. Segera saja, Shion menyodorkan iPhone-nya ke depan wajah Hinata—berharap gadis berambut indigo itu tidak lagi pesimis dan kembali tersenyum manis.
Reaksi pertama Hinata adalah ketidakpercayaan. Ia seketika menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Ia kemudian mengangkat kepala dan melalui tatapan matanya, ia meminta Shion menjelaskan.
Siaran berita dengan cara streaming melalui internet di iPhone itu masih terus berjalan, tapi Hinata sudah tidak lagi memfokuskan konsentrasinya di sana. Ia hanya ingin tahu—apa berita ini adalah kenyataan? Bukan rekayasa? Bukan sekadar manipulasi media?
Sejujurnya, Shion tidak bisa memastikan. Hanya satu orang yang saat ini bisa diminta penjelasan. Dan tepat saat Shion hendak memberi saran, ponsel Hinata berdering pelan.
Nama Uchiha Sasuke terpampang di layarnya.
"Sa-Sasuke-kun?"
Shion mengangkat alis. "Ada apa? Dia menelepon?"
Anggukan Hinata menjadi jawaban bagi kedua sahabatnya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Hinata pun menekan tombol 'jawab' dan segera ia menempelkan ponselnya ke telinga.
"Moshi-moshi …," sapa Hinata terlebih dahulu.
"Hinata …."
"… U-ukh …." Entah mengapa, tenaga Hinata seolah menghilang seluruhnya begitu ia mendengar suara Sasuke yang lembut menyapa. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dan tubuhnya pun melorot hingga ia harus ditahan oleh Tenten.
"Kau tidak apa?" bisik Tenten sambil menahan lengan Hinata dan kemudian membantu gadis itu agar bisa kembali berdiri tegak.
Hinata mengangguk. Sejujurnya, semua kejadian yang terjadi belakangan ini cukup menguras tenaga Hinata dan juga membuatnya lelah secara psikologis. Lalu, begitu ia dihadapkan pada berita yang menenangkan hatinya, rasanya seolah satu beban terangkat dari pundaknya.
Hinata merasa lega. Sangat lega. Bahkan, bisa dibilang, ia melupakan sama sekali soal perceraian yang akhir-akhir ini ia pikirkan sebagai satu-satunya jalan keluar untuk permasalahan rumah tangganya dengan Sasuke.
"Moshi-moshi? Hinata? Ada apa?" tanya Sasuke merasa heran karena mendadak suara Hinata menghilang.
"Tidak," jawab Hinata sambil tersenyum. Jari telunjuknya menghapus bulir air mata yang tidak sempat keluar. "Aku hanya … aku hanya senang mendengar suara Sasuke-kun."
Jawaban Hinata membuat Tenten dan Shion saling menukar pandang dan menyeringai. Tenten yang ada di dekat Hinata langsung menyikut gadis itu. Hinata sesaat lupa bahwa ia tidak sedang seorang diri. Begitu ia menjumpai wajah Tenten dan Shion yang menyeringai menggoda, wajah Hinata pun merah padam.
Dengan segera, Hinata melarikan diri dari kedua temannya dan bersembunyi di belakang satu tembok. Ia menggigit bibir bawah dan mengintip ke arah teman-temannya. Shion hanya menyangga wajahnya dengan sebelah tangan sementara Tenten menggerakkan tangan dengan gestur yang menyiratkan agar Hinata fokus saja pada telepon yang tengah diterimanya.
Hinata mengangguk seraya tersenyum dan kembali menolehkan kepalanya—tidak lagi menghadap ke teman-temannya. Ia mengatur napas dan fokus mendengar suara Sasuke. Tetapi justru kali itu, Sasuke yang tidak bersuara sama sekali. Hinata mengernyitkan alis.
"Sasuke-kun?"
"Ah? Maaf." Suara Sasuke terdengar agak samar—seolah ia tengah menutup mulutnya dengan tangan. "Aku hanya tidak menyangka, kau akan mengatakannya terang-terangan."
Wajah Hinata kembali memerah dan mulutnya tidak bisa mengatup.
"I-ituu … ano …." Suara Hinata terdengar nyaris mencicit.
Ia sendiri tidak sadar akan apa yang dia katakan sebelumnya. Dia hanya merasa ingin mengatakannya dan itulah yang ia katakan. Sekarang, saat menilik sekilas ke belakang, rasanya pernyataan itu memang terbilang cukup berani untuk seorang Hinata.
"Sudahlah. Kau di mana sekarang? Masih di sekolah?"
"Ya," jawab Hinata sambil memainkan ujung roknya. "Ummm … Sasuke-kun … soal berita itu …."
"Aku akan menjemputmu sekarang," potong Sasuke tanpa membiarkan Hinata menyelesaikan pertanyaannya. "Bisa menungguku di gerbang?"
Hinata mengangkat alis. Ia akan segera bertemu Sasuke. Seharusnya, ia bisa merasa senang dan tenang. Apalagi, setelah mendengar berita yang membuatnya benar-benar lega tersebut.
Namun, bersamaan dengan jawaban 'ya' yang terdengar bergetar, jantung Hinata justru semakin berdetak tidak keruan.
o-o-o-o-o
Mobil berwarna hitam yang familier di mata Hinata tiba setelah sekitar sepuluh menit ia menunggu sendirian. Menunggu bukanlah hal menyulitkan bagi Hinata. Meskipun hanya sendiri, ia adalah tipe yang cukup sabar menunggu. Selama menunggu, Hinata bisa membiarkan pemikirannya berputar cepat dan merancang berbagai macam kemungkinan di dalam kepalanya.
Bagi sebagian orang, mungkin menunggu seorang diri adalah hal yang paling menyebalkan dan membuang waktu. Tenten dan Shion yang termasuk dalam sebagian orang itu pun sempat menawarkan diri untuk menemani Hinata, tetapi gadis berambut indigo itu hanya meminta mereka mengantarkan Hinata sampai gerbang—sebagai antisipasi kalau-kalau Kabuto masih ada di lingkungan sekolah. Namun, setelah beberapa menit bersama dan tidak ada tanda-tanda bahwa Kabuto akan menyerang, Hinata mempersilakan teman-temannya untuk pulang.
Tentu Shion dan Tenten tidak serta-merta pulang. Kalau saja Shion tidak segera ditelepon orang rumahnya, mungkin gadis berambut pirang itu akan tetap menemani Hinata. Dengan berat hati, Shion pun beranjak meninggalkan kedua temannya.
Setelah Shion pulang, Hinata kemudian membujuk Tenten agar gadis itu pulang. Tenten tampak ragu awalnya, tapi Hinata meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja. Lalu, satu argumen tambahan dari Hinata, bahwa Hinata akan merasa canggung dan kikuk jika bertemu Sasuke dengan keberadaan Tenten di sampingnya, membuat Tenten tersenyum kecil dan menepuk kepala Hinata sebelum ia berpamitan pulang.
Dan beginilah kondisinya sekarang. Mobil hitam Sasuke datang dan Hinata menyunggingkan senyum kecil sebelum ia memasuki kursi di sebelah kursi pengemudi.
Begitu pintu mobil sudah kembali tertutup, suara Sasuke-lah yang pertama terdengar di antara kedua insan tersebut.
"Maaf membuatmu menunggu."
"A-ah. Tidak apa-apa," jawab Hinata yang sedikit tersentak.
Lagi-lagi. Jantungnya seakan tidak bisa bekerja sama. Entah firasat apa ini. Hinata tidak tahu. Kalau bisa, ia justru ingin mengabaikannya.
Untuk itulah, Hinata berusaha memulai topik yang menghancurkan keheningan yang otomatis tercipta di antara mereka.
"Sasuke-kun, aku sudah melihat berita itu," Hinata memulai. Ia kemudian melirik Sasuke untuk melihat ekspresi wajah Sasuke.
Wajah Sasuke tetap terlihat tenang. Nyaris tidak berekspresi. Namun, Hinata seakan bisa merasakan kesenangan yang terpancar dari wajah Sasuke. Hal ini membuat Hinata mau tidak mau mengulas senyum.
"Perusahaan Hebino … di ambang kebangkrutan, bukan?"
Sasuke menyeringai. "Yah …."
"Apa … apa yang sebenarnya kaulakukan?" Hinata menggerakkan tangannya ke depan dada. Sungguh, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bagaimana dengan semua kesialan yang selama ini terjadi?
Sasuke melepaskan tangan kiri dari setir untuk kemudian menepuk pelan kepala Hinata. "Sudah kubilang kalau aku sangat dicintai Dewi Keberuntungan, bukan?"
"Sasuke-kun …."
"Hn. Kauyakin mau mendengarkan cerita mengenai kelicikanku, Hinata?"
Hinata mengerjap-ngerjapkan mata. "Eh?"
"Berita kebangkrutan perusahaan Uchiha itu hanya salah satu bagian dalam rencana." Sasuke mulai menjelaskan. "Aku tidak akan cerita detailnya, tetapi … soal berita-berita yang menjatuhkanku termasuk berita yang melibatkanmu—ini ulah salah satu tangan kananku, dia bergerak tanpa meminta izinku—semua itu juga hanyalah awal."
"Maksudmu?"
"Untuk mengalihkan fokus Orochimaru dan Kabuto." Sasuke kini hanya memegang setir dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menyandar pada kaca dan jemarinya sedikit menutup mulut. Matanya mengawasi jalan dengan saksama. "Sementara itu, kubiarkan salah satu tangan kananku yang sudah menyusup ke sana mengerjakan bagiannya, mencari celah, dan sebagainya."
Hinata menahan napas. Semuanya … manipulasi?
"Lalu, kubiarkan perusahaan Uchiha salah menandatangani kontrak pemesanan dan kusebarkan berita bahwa perusahaan Uchiha tengah goyah karena kesalahan itu. Di saat itulah, Shikamaru …."
"Shikamaru?"
"Tangan kananku yang sempat menyusup ke perusahaan Hebino," ujar Sasuke tanpa berhasil menyembunyikan senyum kemenangannya lebih lama, "dia yang mengatur semua jual-beli di perusahaan Hebino. Dia mencari celah di saat Hebino merasa senang karena perusahaan Uchiha yang kupimpin tinggal menunggu waktu sebelum kejatuhan. Dia mengatur agar perusahaan Hebino kemudian salah mengambil langkah hingga harus berutang banyak ke konsumen dan perusahaan lain."
Jemari Hinata terdiam di depan bibirnya. Matanya lekat dan erat memandang Sasuke. Inilah kelicikan yang dikatakan Sasuke. Permainan kotor orang-orang di dunia bisnis.
"Singkatnya, Shikamaru berhasil membalik keadaan. Bahkan, sebagian besar dari piutang yang harus dibayarkan perusahaan Hebino akan kembali ke tangan ayahmu. Perusahaan Hyuuga bisa memulai bisnisnya kembali. Lalu …." Sasuke mengernyitkan alis. "Sekian."
"Cu-curang," celetuk Hinata—nyaris spontan—begitu ia bisa memahami benar-benar apa yang terjadi di balik runtuhnya perusahaan Hebino.
Mata Sasuke sekilas terbelalak. Namun selanjutnya ia tersenyum maklum.
"Bukankah perusahaan Hebino pun melakukan hal yang sama untuk menjatuhkan perusahaanmu? Aku hanya mengatur agar apa yang mereka ambil dari perusahaan keluargamu, kembali ke tangan keluargamu."
Tatapan Hinata kini teralih pada kedua pahanya. Senyumnya perlahan mengembang.
Memang benar, ini dunia bisnis—dunia yang belum Hinata pahami sepenuhnya. Mungkin banyak permainan kotor dalam dunia bisnis, tetapi, tiap-tiap langkah yang Sasuke ambil selalu didahului pertimbangan matang. Dengan demikianlah, Sasuke berhasil memenangkan pertarungannya dengan keluarga Hebino.
Jika boleh diperhitungkan, Sasuke telah berhasil membalaskan dendam keluarga Hyuuga. Mungkin bukan sekadar membalas dendam; memberi pelajaran lebih tepat.
"Hina—"
"Sasuke-kun," Hinata memulai lagi, "terima kasih!"
Hinata kemudian menoleh ke arah Sasuke dengan senyum lebar yang terkembang. Wajahnya yang tersenyum begitu menggambarkan kepolosan gadis tersebut.
"Kau berhasil … membuat mereka menerima ganjarannya. Sasuke-kun memang hebat. Be-berbeda denganku yang hanya bisa melakukan hal kecil…."
"Memang apa yang kauharapkan?" tanya Sasuke setelah menghela napas. "Kau itu … masih anak-anak."
Pernyataan Sasuke membuat mata Hinata membesar karena terkejut. Ia tahu. Ia sangat tahu kalau dirinya masih anak-anak. Tapi, ia bukan tidak berusaha sama sekali, 'kan? Hinata bukan lepas tangan begitu saja. Setidaknya, ia mencoba.
Selama beberapa saat, Hinata tidak bisa melepaskan pandangannya dari Sasuke. Tapi kemudian, secepat yang ia bisa, Hinata menundukkan kepala. Kedua tangannya kini sudah terkepal di atas kedua pahanya. Bibirnya bergetar.
Perasaan leganya lenyap sudah. Sebagai ganti, kekhawatiran mengambil alih.
Kenapa Sasuke mengatakan hal yang menyakitkan hati seperti itu? Hinata merasa seakan Sasuke sama sekali tidak menghargainya—suaminya itu tidak melihat perjuangannya sama sekali.
"Aku memang … masih anak-anak, ya?" Hinata mati-matian menyembunyikan getaran dalam suaranya. Namun, ia tidak berhasil. "Berbeda dengan Sasuke-kun. Berbeda dengan Karin-san yang lebih bisa diandalkan."
Alis Sasuke mengernyit. "Apa hubungannya dengan Karin?" tanya Sasuke sambil melirik ke arah Hinata.
Gadis berambut indigo itu menggelengkan kepala dan memeluk tasnya erat-erat. Kepalanya terus menunduk.
"Hinata?"
Hinata tidak lagi menjawab. Dari posisinya, Sasuke tidak bisa mengetahui dengan pasti apa Hinata menangis atau tidak. Yang ia tahu, ia-lah yang sudah membuat suasana di antara keduanya menjadi tidak enak—canggung.
Padahal seharusnya mereka gembira karena berhasil menjatuhkan perusahaan Hebino. Kenapa keadaan justru berbalik menjadi tidak menyenangkan seperti ini?
Sasuke dan kata-katanya yang tajam menusuk. Apa lagi jika bukan karena itu?
Sasuke menghela napas panjang.
Sasuke tidak pernah ingin membuat Hinata bersedih. Bukan itu maksud kata-katanya tadi. Tapi ….
Akan tetapi … kenyataannya, hubungannya dengan Hinata saat ini justru membuat gadis itu seolah terbelenggu—terbebani. Ia memang berhasil 'membalasakan dendam' Hinata dan keluarganya yang telah diperdayai keluarga Hebino. Tetapi, apa Sasuke juga berhasil menyelamatkan hati Hinata?
Baiklah. Jika ia tidak tahu, bukankah lebih baik ditanyakan? Lagi pula, mungkin justru ini kesempatan. Inilah saat yang terbaik untuk menyelesaikan semuanya.
"Tsk," decak Sasuke sambil melarikan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Hinata sempat merasa ketakutan. Tetapi ia berhasil mengatasi ketakutan tersebut dengan menggenggam erat-erat pegangan di pintu mobil.
Hinata pun tidak melayangkan protes apa-apa pada Sasuke yang mendadak memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lebih tepatnya, ia masih enggan menatap, apalagi berinteraksi dengan Sasuke.
Pikiran Hinata terus menyerukan bahwa ia hanya ingin pulang. Pulang dan bergelung di kamarnya. Pulang dan merutuki dirinya yang sama sekali tidak membantu apa-apa. Pulang … dan menyesali dirinya yang hanya seorang anak-anak yang tidak bisa apa-apa.
Begitu mobil berhenti dan Hinata siap turun, ia justru terperangah. Sasuke tidak membawa mereka ke rumah. Sebaliknya, ia memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran umum dari areal … pemakaman.
Mau tidak mau, Hinata akhirnya memalingkan wajahnya dan menatap Sasuke dengan kebingungan. Kali ini Sasuke bisa melihat jejak-jejak kekacauan yang tercetak di wajah Hinata. Matanya sedikit memerah—dengan sedikit jejak-jejak air mata di pelupuk. Bahkan, di kedua pipinya, masih tersisa aliran air mata yang telah berhasil diseka Hinata diam-diam.
Sasuke menghela napas. Entah mengapa, gadisnya itu seolah enggan memperlihatkan air mata di depannya. Seperti dulu. Seperti saat pertemuan kedua mereka di pemakaman ibu Hinata.
"Ayo turun."
"Kita …."
"Semenjak kita menikah, kita belum pernah sekali pun mengunjungi ibumu, 'kan?" Sasuke terdiam beberapa saat. "Mungkin, kita juga bisa sekaligus mengunjungi Neji."
Setelah mengatakan itu, Sasuke keluar dari mobil, diikuti Hinata yang tergesa keluar. Sasuke kemudian mengunci mobilnya dan berjalan di depan Hinata. Mulut Hinata sudah akan terbuka—hendak berteriak takut-takut untuk memanggil Sasuke. Namun, ia urung.
Beberapa saat, Hinata hanya terdiam sembari mengamati sekelilingnya. Pemakaman. Selalu menjadi pemandangan yang tidak menyenangkan baginya.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri ada sisi dalam diri Hinata yang merasa senang karena Sasuke membawanya ke sini. Ia bisa bertemu dengan ibunya. Bahkan dengan Neji.
Walaupun demikian, Hinata tidak bisa membiarkan perasaan senangnya mendominasi. Kekecewaan dari pembicaraan sebelumnya dengan Sasuke serta rasa ingin tahu kenapa Sasuke justru membawanya ke sini menjadi dua topik besar yang tengah bercokol dalam benak Hinata. Sayangnya, dengan berdiam diri seperti ini, Hinata tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa. Tanpa melangkah, ia tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya.
Sambil memeluk tasnya dengan kedua tangan, Hinata pun setengah berlari sampai ia berada tidak jauh di belakang Sasuke. Begitu jarak di antara keduanya tinggal sekitar satu meter, Hinata pun berhenti berlari. Ia mulai berjalan dengan perlahan—toh Sasuke juga tidak tampak terburu-buru.
Selama perjalanan, Hinata bergantian menatap jalan beraspal kelabu dan punggung Sasuke. Matanya masih menyiratkan kesenduan saat melihat sosok tegap pemuda di hadapannya. Tetapi, mati-matian ia menahan diri agar air mata itu tidak lolos lagi.
Hinata tidak ingin menangis di depan Sasuke. Meski saat ini perasaannya hancur, ia tidak ingin semakin memperlihatkan bahwa dirinya hanyalah … anak kecil yang tidak bisa apa-apa. Ia tidak ingin dianggap sebagai anak kecil yang lemah.
Pelukan Hinata pada tasnya mengerat. Dan gigi-giginya sedikit menggigit bibir bawah.
Aku akan menemui Kaasan—bahkan Neji-niisan. Tidak seharusnya aku berwajah seperti ini.
Hinata akhirnya memilih mengempit tasnya sementara dan kemudian dia menepuk-nepuk pipinya perlahan. Tanpa ada yang melihat, gadis itu berlatih untuk tersenyum. Tidak bisa terlihat benar-benar tulus—Hinata menyadarinya. Namun itu lebih baik dibandingkan memperlihatkan air mata.
Langkah Sasuke terhenti di depan batu nisan yang terlihat bersih. Di sana tertulis nama seorang wanita Hyuuga.
Hyuuga Himeka—ibu Hinata.
Dengan kedua tangan yang masih tersimpan nyaman di masing-masing saku celananya, Sasuke menengok ke arah Hinata. Pundak Hinata sedikit berkedik saat mata keduanya kembali bertemu. Secepat kilat, Hinata kemudian membuang muka meskipun kakinya terus melangkah sampai dia berada tepat di samping Sasuke.
Keduanya kemudian berjongkok dan mengatupkan kedua tangan—Hinata meletakkan tasnya di jalan tepat di sebelahnya. Mata keduanya terpejam dan tampaknya masing-masing mulai larut dalam doa masing-masing.
Kaasan, ini Hinata. Aku ….
Doa Hinata seolah terganggu saat mendadak, ia mendengar suara Sasuke yang berada tepat di sampingnya.
"Maaf sebelumnya karena kami tidak membawa apa-apa. Maaf juga karena kami baru sempat mengunjungi Anda, Nyonya Hyuuga—ah, maksudku … Kaasan."
Mata Hinata terbuka begitu mendengar suara Sasuke. Ia kemudian melirik ke samping. Dilihatnya Sasuke yang menunjukkan suatu senyuman di wajahnya. Mata pemuda itu masih terpejam dan wajahnya tetap mengarah pada batu nisan di hadapannya.
"Benar, saat ini saya telah menikahi putri Anda. Padahal dia baru berusia lima belas tahun."
Kepala Hinata perlahan bergerak agar ia bisa lebih leluasa melihat ke arah Sasuke. Hinata sudah benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang akan dilakukan Sasuke.
"Lima belas tahun … dia masih begitu muda. Masih banyak yang bisa dia lakukan, tetapi aku justru mengikatnya dengan tali pernikahan." Sasuke tetap memejamkan mata sementara mulutnya terus berbicara—tenang dan terkendali. "Hinata saat ini seharusnya masih menjalankan kegiatan bersekolahnya. Menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Mungkin juga—walau aku enggan mengatakannya-mungkin juga berpacaran dengan teman seumurannya."
Hinata masih termangu di tempat.
"Tidak seharusnya ia memikirkan beban berat dari suatu pernikahan. Tidak seharusnya juga ia bertingkah kuat dan berlaku layaknya orang dewasa. Belum. Belum saatnya. Ia masih bisa menikmati saat-saat ia menjadi seorang remaja yang bebas, bermanja-manja, menikmati hidupnya …."
Tidak bisa. Hinata tidak bisa lagi menahan air matanya. Mulutnya terbuka dan bersamaan dengan itu, air matanya mengalir. Tangannya kemudian bergerak untuk menutup mulutnya—mencoba meredam suara isak tangis yang tak terbendung.
"Dan kini … aku merasa berdosa karena telah membiarkannya menanggung beban orang dewasa di mana seharusnya Hinata belum harus memusingkan perkara semacam itu. Alih-alih menyelamatkan dan membahagiakannya, aku justru kerap membuat bersedih. Maafkan aku."
Kedua tangan Hinata pun terulur dan tanpa bisa dicegah ia …
… memeluk leher Sasuke.
Sasuke sesaat sempat terkejut hingga ia membuka mata. Lalu begitu kedua onyx-nya melihat sosok Hinata yang menyembunyikan kepala di pundaknya, seulas senyum melintas di wajah Sasuke. Ia melepaskan katupan tangannya dan sebagai gantinya ia menepuk lengan Hinata.
"Kau masih lima belas tahun, Hinata," ujar Sasuke lembut, "aku bukannya mau mengejekmu dengan mengatakan bahwa kau masih anak-anak tapi … tapi aku rasa, di umurmu ini, kau sudah terlalu banyak menanggung beban yang tidak seharusnya kautanggung. Sampai-sampai kau berpikiran bahwa dirimu adalah pembawa sial."
Pundak Hinata bergetar naik-turun. Ia tidak bisa menahan tangisannya—meskipun ia tetap melakukannya dalam diam. Tidak ada raungan, hanya samar-samar isakan.
"Tidak bisa apa-apa … memangnya kenapa?" imbuh Sasuke lagi. "Di saat aku masih berusia lima belas tahun, aku pun belum bisa apa-apa. Aku masih seorang bocah kecil yang sombong. Jadi, kenapa kau harus memaksakan diri dan melakukan hal-hal yang memang bukan kewajibanmu?"
Sasuke menarik napas. "Lagi pula, kau bukannya 'tidak bisa apa-apa'. Aku tahu, kau sudah melakukan yang bisa kaulakukan. Seperti, klarifikasi soal berita media tersebut …."
Sasuke kemudian menjauhkan kepala Hinata dari pundaknya sementara sebelah tangannya masih menggenggam sebelah tangan Hinata.
"Aku tidak ingin menuntutmu melakukan hal-hal yang terlalu berat. Kautahu, pada dasarnya kehidupan semacam ini belum saatnya kauhadapi."
"Tapi aku …."
Sasuke memotong ucapan Hinata dengan mengecup dahinya. Ia kemudian mengecup pipi Hinata dan kemudian mata Hinata—berusaha menghentikan air mata yang mengalir dari kedua pelupuk mata sang gadis tersayang.
Sasuke menyelipkan jemarinya di antara jemari Hinata sebelum ia menjauhkan wajahnya. Ia melihat ke arah nisan ibu Hinata sebelum ia memperlihatkan sebuah senyum.
"Maaf, Kaasan. Mungkin … selama beberapa saat, aku tidak akan bisa memanggilmu 'Kaasan' lagi. Aku sudah memutuskan. Karena kini, sudah tidak ada orang-orang yang akan mengganggunya."
Mata Hinata terbelalak. Namun, genggaman tangan Sasuke seolah menyadarkannya apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan begitu tangan Sasuke menyentuh pipinya—meminta agar keduanya kembali berhadapan—Hinata dapat menduga apa yang akan dikatakan oleh Sasuke selanjutnya.
o-o-o-o-o
Di ruang keluarga kediaman Uchiha, terdapat Fugaku yang tengah terduduk di sofa. Tidak jauh dari tempat Fugaku, ada Itachi yang kemudian meletakkan sebuah mug di meja yang ada di depannya. Ia melirik ke arah tunangannya yang ada di sebelah kanan. Yamanaka Ino—yang akan segera berganti nama menjadi Uchiha Ino—tampak terbelalak dengan kedua tangan yang masih memegang mug berisi cairan yang sedikit mengepulkan asap.
Itachi-lah yang kemudian memecah keheningan tersebut.
"Kalian yakin?"
"Kok … begitu?" Ino menimpali. "Kenapa tiba-tiba?" Ia menelan ludah.
"Kenapa kalian harus bercerai?"
Tangan yang sejak awal saling bergenggaman itu menggenggam semakin erat. Keduanya saling bertukar pandang dan sang gadis berambut indigo menggangguk mantap.
Sasuke kemudian menoleh ke arah ayahnya, Itachi, dan Ino secara bergantian.
"Sejak awal, ini semua kesalahan, bukan?" Sasuke memulai. "Pernikahanku dengan Hinata … terbentuk karena pertalian utang-piutang dan bisnis."
Itachi mengangkat sebelah alis. "Kupikir kalian sudah saling menyayangi satu sama lain?"
Sasuke mendengus pelan sementara Hinata mengangkat sebelah tangan ke depan mulut. Wajah gadis itu bersemu kemerahan seakan menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
"Yah, silakan kau menjawab pertanyaanmu itu sendiri, Itachi," jawab Sasuke malas. "Yang jelas, aku sudah memutuskan."
Sasuke menoleh ke arah Hinata dan sekali lagi keduanya mengunci pandangan. Ingatan saat mereka masih berada di areal pemakaman seolah menarik mereka kembali ke masa lalu.
.
.
.
"Aku …."
"Kau ingin kita bercerai, 'kan, Sasuke-kun?" Hinata mendahului Sasuke untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Dari ekspresi Sasuke yang mendadak menegang, Hinata bisa menduga kalau tebakannya tidak salah.
"Yah, aku …." Sasuke menggaruk tengkuknya. "Aku harus melepaskanmu. Bukan karena kesialan atau semacamnya. Kau tahu, seandainya kau pembawa sial pun, aku tidak—"
"Karena aku masih terlalu 'anak-anak' untukmu?"
"Tsk. Hentikan berpikiran negatif seperti itu," tukas Sasuke.
"Iya. Karena aku masih terlalu 'anak-anak'. Kau pasti tidak menginginkan istri yang kekanakan macam aku," balas Hinata dengan air mata yang perlahan sudah mengering.
"Jangan bercanda! Bukan karena aku tidak menginginkanmu! Justru aku—"
Perkataan Sasuke yang menggebu sekali lagi terpotong. Kali ini, oleh tawa kecil dari arah Hinata. Hinata kemudian mengajak Sasuke untuk berdiri dari posisi berjongkok mereka yang tidak nyaman dengan menarik tangan pemuda tersebut.
"Aku bercanda," ujar Hinata lembut. "A-aku tahu. Sasuke menghendaki perceraian ini demi aku." Hinata menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga. "Sasuke-kun selalu memikirkan hal yang terbaik untukku. Kalau aku meragukannya, bisa-bisa aku dimarahi Sai-kun dan Sakura-san."
Hinata tersenyum lembut saat ia mengingat kedua orang yang pernah menasihatinya mengenai sifat pesimisnya. Mereka benar; Hinata semakin yakin kalau apa yang pernah Sai dan Sakura ucapkan padanya adalah suatu kebenaran. Hinata bisa melihatnya dengan jelas sekarang.
Hinata adalah seseorang yang pesimis dan kurang bisa menghargai tiap keberuntungan yang ia miliki. Ia hanya bisa memandang segala sesuatu dari sisi negatif dan kemudian menyalahkan dirinya. Dia mungkin memang orang yang seperti itu.
Setidaknya, beberapa saat sebelum ini.
Namun, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Setelah satu langkah ke depan, Hinata masih bisa terus melangkah maju. Tidak masalah jika hanya satu gerakan lambat dan perlahan, yang jelas perjalanannya untuk menjadi lebih baik tidak berakhir hanya sampai di sini. Pun, dukungan dari Sasuke akan menjadi pendorongnya untuk terus menyambut masa depan dengan lebih optimis.
"Itu karena aku mencintaimu, kautahu?" Perkataan Sasuke sedikit menyentak Hinata.
Sasukek kemudian melepaskan pegangan tangan Hinata dan kemudian menggerakkan jemarinya untuk menyisir poninya sedikit ke belakang—gerakannya sedikit kikuk. Tentu, mengungkapkan perasaan yang sebenarnya sama sekali bukan keahlian pemuda-pemuda Uchiha.
"Sejak dulu. Sampai sekarang pun …."
Hinata terdiam dan membiarkan Sasuke sekali lagi menguasai pembicaraan.
"Karena itulah, yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia."
"Terima kasih," jawab Hinata tulus, "ta-tapi … bagaimana kalau aku mengatakan bahwa kebahagiaanku adalah saat aku berada di samping Sasuke-kun?"
Sasuke tidak menjawab. Ekspresinya juga terlihat sedikit datar.
"Kau yang telah mengajariku banyak hal. Kau yang membuatku sadar, bahwa aku sangat … sangat membutuhkan Sasuke-kun dalam hidupku."
"Hinata," mulai Sasuke lagi, "bercerai denganmu sekarang … bukan berarti aku akan menghilang dari kehidupanmu."
Sasuke maju satu langkah—kembali menghilangkan jarak di antara mereka.
"Kita memulai semua ini dengan cara yang salah. Karena itu … aku hanya ingin memperbaikinya."
Hinata menunduk dan memejamkan matanya. Sebelumnya, Hinata pun sempat memikirkan perceraian—untuk alasan yang irasional. Namun sekali ini, Hinata bisa memandang jalur perceraian sebagai alternatif yang lain. Bukan sekadar untuk menghindarkan Sasuke dari kesialan atau apa pun namanya.
Tidak. Bagi Hinata, Sasuke terlalu dicintai oleh Dewi Keberuntungan—sebagaimana Hinata mencintai pemuda itu.
Bukankah pemuda itu juga sudah mengatakannya sendiri? Hinata tidak perlu lagi mencemaskan hal-hal semacam ia akan membawa kesialan bagi Sasuke. Faktanya, Sasuke memang telah berhasil membalik keadaan. Bahkan semua hal yang Hinata kira kesialan awalnya, tak lebih dari sekadar sandiwara yang sudah direncanakan dengan matang.
Kenyataan ini sedikitnya menampar pemikiran Hinata. Menyadarkan dan menariknya kembali ke kesadaran bahwa semua ketakutannya selama ini hanya ilusi belaka. Tidak ada kesialan yang akan menimpa Sasuke. Hinata pun … bukan anak pembawa kesialan. Semua yang terjadi selama ini, tidak lebih dari ketidakberuntungan yang memang dapat menimpa siapa pun.
Seandainya Hinata memang anak pembawa sial pun, bukankah Sasuke bisa menangkal semua kesialan itu? Ah—benar. Mungkin Sasuke memang telah berhasil menarik Dewi Keberuntungan untuk berpihak padanya.
Namun, seperti kata Sasuke, pernikahan mereka adalah suatu kesalahan. Pernikahan mereka awalnya tidak didasari oleh perasaan cinta satu sama lain. Bukan ini ikatan yang harusnya mempersatukan mereka.
Mata Hinata kembali terbuka saat dirasakannya kedua tangan besar Sasuke merangkum pipi Hinata.
"Sasuke-kun … akan menungguku?"
"Akan kutunggu. Kali ini … kita tidak akan lagi terburu-buru. Kita akan memulai semuanya secara perlahan."
"Hmmm … lalu … se-setelah bercerai nanti, bagaimana dengan status kita?"
Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Hinata kemudian menyentuhkan bibirnya ke bibir Hinata dalam sekejap.
"Kau tertarik dengan status pacaran?"
Hinata menjawab ciuman Sasuke dengan sebuah ciuman ringan yang lain—kala itu ia sedikit berjinjit.
"Be-berarti kita akan tinggal terpisah, 'kan?"
Sasuke kembali mengecup bibir Hinata sebelum ia menjawab,
"Ya. Tapi aku bisa menjemputmu pulang sekolah, mengajakmu berkencan—"
Hinata sekali lagi menyentuhkan bibirnya untuk memotong ucapan Sasuke.
"Dan aku … akan membuatkanmu bekal sebelum kau berangkat kerja. Lalu mungkin di kelas aku … aku akan membayangkanmu hingga guru menegurku."
Sasuke terkekeh kecil. "Apa itu gambaran hubungan pacaran yang ada di benakmu?"
Wajah Hinata merona. "Apa itu salah?"
Sasuke tersenyum.
"Tidak sama sekali."
Lalu keduanya pun kembali berciuman. Kali ini semakin dalam. Sebelah tangan Sasuke bahkan menahan kepala Hinata sementara tangannya yang lain memeluk pinggang Hinata. Hinata sendiri dalam posisi berjinjit dan melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke.
Begitu bibir keduanya terpisah karena kebutuhan oksigen, Hinata kemudian menundukkan kepalanya.
"Kita melakukannya … di depan Kaasan. Nggg … juga Neji-niisan." Mata Hinata melirik ke batu nisan lain yang berada di sebelah nisan ibunya.
"Biarkan saja. Mereka pasti tidak keberatan," jawab Sasuke sambil memeluk Hinata dan sekali lagi mengecup keningnya. "Daripada itu, aku harap walau kita berpisah sementara, kau tidak akan melirik lelaki lain—apalagi jika lelaki itu berambut cokelat panjang."
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum tawa kecil meluncur dari bibirnya.
"Aku tidak akan bisa begitu. Bu-bukankah Sasuke-kun sendiri yang berpotensi selingkuh? Dengan Karin-san?" tantang Hinata sambil memisahkan diri dari Sasuke. Gadis itu kemudian membungkuk untuk mengambil tasnya.
"Makanya, apa hubungannya dengan Karin?"
"Me-menurut Sasuke-kun?" tanya Hinata sambil menjulurkan lidah.
Sasuke mengangkat alis. Ia kemudian memegang dagunya.
"Apa ini bentuk kecemburuanmu, hn?"
Hinata tidak menjawab dan hanya memberikan satu senyuman kecil. Ia kemudian berlari terlebih dahulu ke arah mobil—meninggalkan Sasuke yang sesaat terperanjat dan kemudian menghela napas.
Sasuke tidak langsung mengejar Hinata. Ia menengok sekali lagi ke arah nisan Hyuuga Himeka.
"Aku pulang dulu, Kaasan." Sasuke terdiam sejenak. "Sampai saatnya tiba, aku akan kembali ke sini. Kali itu … aku akan meminta izinmu terlebih dahulu untuk bisa menikahi Hinata."
Sasuke menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Mungkin tidak akan dalam waktu dekat. Perjalanan Hinata masih panjang. Ia masih bisa mengejar cita-cita dan impiannya. Karena itu …."
Ucapan Sasuke selesai sampai di sana. Ia tersenyum dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Setelah itu, ia pun meninggalkan pemakaman dan beranjak kembali ke arah parkiran mobilnya.
.
.
.
Pembicaraan di ruang keluarga tadi akhirnya ditutup dengan izin dari Fugaku. Fugaku mengatakan bahwa semua ini adalah jalan kehidupan Sasuke dan Hinata. Selama tidak membawa dampak buruk bagi keluarga Uchiha maupun Hyuuga, Fugaku tidak akan mencegah mereka.
Ino yang terlihat paling keberatan (mungkin jika saat itu Mikoto ada, Nyonya Uchiha itu juga akan menunjukkan gelagat yang sama). Akan tetapi, Itachi kemudian mengatakan bahwa mereka pasti akan melakukan pernikahan ulang. Kali ini, bukan lagi pernikahan yang tertutup. Pesta pasti akan diadakan dan Hinata akan menjadi pengantin paling cantik sedunia.
"Tetapi sebelum itu, tentu kau dulu yang akan menjadi pengantin paling cantik sedunia."
Gombalan Itachi pada Ino langsung mengubah arah pemikiran Ino. Gadis berambut blonde itu pun menjadi kehilangan kata-kata bahkan ketika Hinata meminta izin untuk kembali ke kamar dan membereskan barang-barangnya.
Kini, Sasuke dan Hinata telah berada di kamar Hinata untuk membereskan barang-barang gadis itu. Hinata mulai dengan menarik keluar kopernya dari bawah tempat tidur dan mulai mengeluarkan baju-bajunya dari dalam lemari. Sementara Sasuke membantunya dengan mengangkat barang-barang Hinata yang ada di atas meja dan memasukkan ke dalam sebuah tas yang lain.
Mereka berdua bekerja dalam situasi yang bisa terbilang hening. Hanya sesekali mereka bertukar sapa—saat Sasuke bertanya apa salah satu barang Hinata mau dibawa pulang atau ditinggalkan atau bahkan dibuang saja. Hinata sendiri lebih memilih untuk menjawab seperlunya di kala itu.
Setelah tugasnya selesai, Sasuke bertanya apa lagi yang bisa ia bantu. Hinata menjawab bahwa semua sudah nyaris selesai. Hinata tinggal memasukkan beberapa baju dan menutup kopernya. Setelah itu, ia siap pulang ke rumah Hyuuga kapan pun. Ayahnya sudah diberi tahu dan Hiashi sendiri menunggu penjelasan langsung dari keduanya.
Saat melihat Hinata yang kesulitan untuk menutup kopernya, Sasuke pun segera bangkit dan mendekat ke arah Hinata. Ia kemudian membantu gadis itu hingga kopernya yang penuh padat bisa tertutup dengan sempurna. Setelahnya, kedua insan itu saling bertukar pandang dan melempar senyum.
Tanpa ada yang memberi aba-aba, Sasuke dan Hinata kemudian mendudukkan diri mereka dengan nyaman di kasur.
"Kalau kau mau, kau bisa tidur di sini malam ini. Besok pagi, aku akan mengantarmu ke sekolah seperti biasa dan sorenya baru kita mengurus perceraian sekaligus menjelaskannya pada ayahmu," saran Sasuke tanpa melihat ke arah Hinata.
Hinata tampak menimbang sesaat.
"Me-menurut Sasuke-kun lebih baik seperti itu?"
Sasuke menoleh ke arah Hinata. Sasuke sudah hendak berkata-kata, tapi entah mengapa perkataannya terasa tersangkut di kerongkongan. Hinata yang masih menanti jawaban Sasuke pun tidak bisa menahan senyumnya. Gadis itu kemudian menyentuh tangan Sasuke.
"Aku pulang hari ini saja." Hinata kemudian menggenggam tangan Sasuke dengan kedua tangannya dan mendekatkannya ke mulut. Gadis itu kemudian memejamkan matanya. "Ka-kalau aku berada di kamar ini, bahkan satu hari lebih lama, mungkin bisa-bisa kita … tidak ingin lepas dari situasi nyaman ini."
Sasuke mengangkat alisnya.
"Sasuke-kun," ujar Hinata yang kali ini sudah membuka matanya, "sebelumnya aku memang tidak pernah mengatakan apa-apa padamu. Tapi aku … aku ingin menjadi seorang chef yang andal."
"Eh?"
"Aku suka memasak dan cita-cita itu terus mendekam dalam benakku. Sampai pernikahan kita ditentukan, aku pun akhirnya melupakan mimpi itu. Namun, kali ini aku akan mengejar mimpi itu."
Sasuke membiarkan senyumnya lolos hingga tertangkap kedua mata Hinata. Lalu, dengan tangannya yang bebas, Sasuke menepuk kepala Hinata.
"Kau pasti bisa menjadi chef yang hebat. Sejak pertama mencicipi masakanmu setelah kau pindah ke sini, aku tahu kalau kau memiliki bakat memasak."
Hinata tersenyum dengan kepala yang sedikit dimiringkan ke samping.
"Lalu … impianku yang lain …."
"Ya?"
"Ja-jangan ditertawakan, ya?" Mendadak wajah Hinata memerah.
"Hn?"
Hinata kemudian melepaskan tangannya dari tangan Sasuke dan membuat isyarat agar Sasuke mendekatkan telinganya. Dengan suara yang nyaris mencicit, Hinata kemudian mengungkapkan rahasianya.
Mata Sasuke pun terbelalak. Ia kemudian menjawab pertanyaan Hinata dengan satu pelukan hangat pada awalnya. Lalu, suatu bisikan diberikan Sasuke.
Wajah Hinata semakin memerah. Tapi gadis itu terlihat sangat, sangat senang. Ah—keduanya terlihat sangat senang.
Tak lama, pelukan mereka terlepas, dan Sasuke pun berkata,
"Nah, kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang. Mungkin ayahmu sudah tidak sabar untuk tahu apa yang terjadi."
"Ah, iya!" Hinata pun bangkit berdiri.
Sasuke memanggil beberapa pelayan untuk membantu mereka membawa barang-barangnya. Setelah para pelayan keluar dari kamar untuk membawa barang-barang Hinata ke mobil, Hinata pun justru terdiam. Ia memandang sekeliling kamarnya. Lalu tersenyum.
"Aku akan ke sini lagi. Pasti. Suatu saat nanti," ujarnya berbisik pada dirinya sendiri.
Sasuke yang tengah menunggu di depan pintu kemudian menoleh ke arah Hinata.
"Hinata?"
"Aku ke sana sekarang."
Hinata pun meninggalkan kamar yang sudah menemaninya selama beberapa bulan terakhir—tak lama, ia pun akan meninggalkan rumah mewah kediaman Uchiha ini.
Tidak ada perasaan sedih, karena toh mereka tidak benar-benar terpisah. Ini hanya sementara, sampai saatnya keduanya dapat benar-benar bersatu—terikat kembali oleh bukan yang lain selain benang merah di masing-masing kelingking mereka.
Lalu, pintu kamar itu pun tertutup. Menyisakan kenangan bisu yang akan mendekam di sana sampai saatnya masa depan memperlihatkan cerita yang lebih indah.
.
.
.
" … impianku yang lain …."
"Ya?"
"Ja-jangan ditertawakan, ya?"
"Hn?"
"Aku … aku selalu bermimpi untuk bisa menghidangkan masakan buatanku sendiri pada suamiku nantinya—pada orang yang benar-benar kucintai sepenuh hati."
"Akan kudukung penuh, selama orang yang menjadi suamimu itu adalah aku. Ah, bukan. Memang hanya aku yang akan menjadi suamimu nantinya. Tidak akan ada yang lain. Tunggu saja, aku akan segera mengikatmu lagi. Kali ini, bukan karena uang, bukan karena utang … tapi karena cintamu adalah aku. Dan saat itu, aku tidak akan pernah melepasmu lagi."
.
.
.
***FIN***
Jadi, sampai di sinilah cerita Chain of Love! Saya akan pasang tanda complete karena memang, ini ending yang udah saya pikirkan untuk cerita ini. Tapi nih, saya menjanjikan satu epilogue untuk cerita ini, walau saya nggak tahu kapan epilogue-nya akan di-publish. Mehehe.
Moga-moga, ending Chain of Love ini nggak mengecewakan minna-san. *dagdigdugduerlah* X""))
Mulai dari sini ke bawah, akan ada balesan review non-login (kayak biasa, yang login sudah saya bales via PM langsung) dan ucapan terima kasih untuk semua yang udah mendukung fanfict ini sampai di sini. Boleh di-skip kok, kalau nggak mau baca. :""))
Balesan review non-login:
pipipiaaaa: awww~ really? Seneng banget kalau ada yang jatuh cinta ama cerita ini, apalagi cinta ama author-nya /eh/ :"""D huwaa, saya terharu, syukurlah kalau nggak membosankan. X"D btw, ff ini ada humornya, ya? #amnesia
K: kyaa! Syukurlah kalau bagus! *berubah jadi asap* ini udah update~ douzo! :3
ZheCaga: gomennasai! Itaino-nya nggak banyak, karena emang fokusnya bukan mereka. Dan lagi-lagi mereka di sini cuma nyempil. Saisaku malah cuma nyempil nama D"":
Guest (1): ini update-annya :D
Guest (2): glek! A-ada Yamato-sensei *horor* D"": iya niih~ si pojok (sok) gahoel udah hilang tenggelam cintanya sasuhina (?)
Ayuzawa Shia: haaai~ thanks udah rnr ff ini yah, nut-chan #hug X""D
Gui gui M.I.T: wkwkwkw, nggak tahu deh, ini masuk happy, sad, atau setengah-setengah XD soal itaino, belum kepikiran bikin ff baru tentang mereka sih, walau keinginan ada, ide nggak ada. U.U lol, aku juga suka lho bagian sasukarin yang itu~ mehehe.
aiko: hihihi! Syukurlah kalau kamu suka age gap-nya sasuhina. X"D dan soal happy ending, gimana menurut kamu dengan ending kayak gini? XD
Ucapan terima kasih:
1. Untuk semua yang udah review fanfict ini, buat yang review dari chapter pertama sampai chapter kemarin, ataupun yang loncat-loncat:
Rey-kun, Freyja Lawliet, Miyabi Kise, lonelyclover, Anna just reader, Kimidori Hana, u;va-chan, Aiwha Katsushika, Shiroonna Hyouichieffer, ika-chan, suzumiya, risa-chan-amarfi, Lollytha-chan, Mungkin abstrak, yuuaja, harunaru chan muach, Sugar Princess71, Lilyka, uchihyuu nagisa, Saqee-chan, Hizuka Meyuri, uchan, Miya-hime Nakashinki, YamanakaemO, Chikuma Yafa-DamselFly, el Cierto, Anasasori29, Sakurinrinn, Noirceur602, FYLIN, Airi Princess'Darkness AngeL, Vytachi W.F, Handa-chan, Risawolminyu, Park Hye Lin, hina-chan, Hyou Hyouichiffer, Persephone paboo, ImHm-Chan, NaraUchiha'malfoy, Himeka Kyousuke, Yukina Kanzaki, Haru3173, keiKo-buu89, chibi tsukiko chan, fallenmoka, MB Kise-chan, Chikuma, n, ageha-davis, baka-lavender, Cendy Hoseki, Shuuta Hikaru, Lilith/Amai Yuki, Belibers, Cactus. mo, Tana-chan Blue, sabaku no ligaara, Ma Simba, zoccshan, Kiyo Ry, mei anna aihina, kuronekomaru, AoiKishi, Uchiha 'Pytha' No Aka Suna, Firah-chan, El Lavender, Shyoul lavaen, Handa Degkhaa, Animea Lover Ya-ha, nitachi-chan loves itachi, syafria meily, mari isozaki, Aiwha Liu, Dae Uchiha, suka snsd, Miyacchime, Yamanaka Chika, N. 'Riry' Sakura, T, Ayuzawa Shia, Mikky-sama, Son Sazanami, rosecchin, Pooh, Hanyou Dark, Aiwha0766, Hanna uzumakki, Shena BlitzRyuseiran, HARU, LavenderOnyx, WidiwMin, akira, Mamoka, N. 'Riry' Sakura, Nara Kazuki, Miyuki Hara, ck mendokusei, AnnisssARA, Minami Huzu, VilettaOnyxLV, i'm Cloud, Cherryl19, lavender hime chan, Indigo Mitha-chan, mitchiru1312jo, Azura Asahara, shawol21bangs, blue night-chan, diane ungu, Saruwatari Yumi, putri mentari, HyuUchi May, Dewi Natalia, Airawliet2327, chemistryrain, Aden L kazt, The Young Lady, chibi beary, eL-Uchiha Himechan, gui gui M.I.T, Maple Lattes, lily, yoonhae. elfxotics, malaijahhat, Moku-Chan, princessalien, eurekabigail, K, ritsuka hijiri, HyUchi Mai, Aisanoyuri, sei shii, ZheCaga, Mia Cho, pratiwirahim, Anne Garbo, Ms. Kudet, YeonJung46, KS, gece, Tata, Qia. hyiekmachqweenlophcoklat, Nivellia Neil, Naruhinalover, Ye2n sasuhina, Toto Suki, Neerval-Li, diandra, aika, flowers lavender, Kirei murasaki, lily hime, Noal Hoshino, sari lestari, Kappa, Koukei, uchiga, kirei-neko, Kamichama NekoChi, Tsubasa, Genji Naru, NarutoisVIP, mitchiru1312jo, Na'cchan Tsuki No Me, ayunsoraya, FaffaHany, Sweety Nime, s, mademoiselledi, linna, JelLyFisH, Curly and Blonde, pipipiaaaa, lavender bhity-chan, azzahra, upa1008, Luscania'Effect, makanmelulu, aiko, Yomu-chan, star azura, Yuka akimura, Nyanmaru desu, .39750, pororo90, dlestari152, dan semua yang nge-review pakai name 'guest'. :D
2. Untuk semua yang udah nge-fave fanfict ini:
Aden L kazt, Airawliet2327, Airi Princess'Darkness AngeL, Amai Yuki, Anasasori29, Anne Garbo, AnnisssARA, Azura Asahara, Black Devil Rinko, Cactus. mo, Chikuma Yafa-DamselFly, Cho Rae Ji, Daiyaki Aoi, Dewi Natalia, Dhen Hyuga Kuchiki, Dina Yoon, El Lavender, FaffaHany, Fressia Athena, Genji Naru, Haru3173, Hima Sakusa-chan, Himeka Kyousuke, Hyou Hyouichiffer, HyuuShiina-san, Indigo Mitha-chan, Kamaliah, Kamichama NekoChi, Kirei murasaki, KyuubieChan Chiedhoekid, Lilyka, Lin Hekmatyar, Lollytha-chan, Mia Cho, Mikky-sama, MiyukiHara, Moyahime, Mrs. Tweety, Ms. KuDet, Na'cchan Tsuki No Me, Nara Kazuki, Neerval-Li, Noal Hoshino, Ookinachan, Qia. hyiekmachqweenlophcoklat, Renata.W, Rishawolminyu, Sakurinrinn, SaraRaHime, Sugar Princess71, Sweety Nime, Tana-chan Blue, Uchiha 'Pytha' No Aka Suna, Uchiha gamabunta, VilettaOnyxLV, Yoshihiro Rei, Yukina Aizawa-Hiatus, Yukina Kanzaki, Zoccshan, adeliamaulinaa, aiko megami, alluring scarlet, auricavip, ayunsoraya,blue sky21, chibi tsukiko chan, ck mendokusei, crystahime, dei-enjel, dlestari152, el Cierto, eurekabigail, harunaru chan muach, jack93838, kHaLerie Hikari, keiKo-buu89, kuronekomaru, lavender bhity-chan, lavender hime chan, mademoiselledi, mademoiselleidi, malaijahhat, mei anna aihina, mitchiru1312jo, nika murasaki, nitachi-chan loves itachi, novitaalviani, nuranalaili, , pororo90, pratiwirahim, ringohanazono6, rosecchin, shawol21bangs, silvery vermouth, star azura, syafria meily, tinaff359, uchihyuu nagisa, wiwinaris. yoorasphinx, yoonhae. elfxotics.
3. Untuk semua yang udah nge-follow fanfict ini:
Airawliet2327, Amai Yuki, Anasasori29, Anne Garbo, AnnisssARA, Black Devil Rinko, Cho Rae Ji, Dewi Natalia, Dhen Hyuga Kuchiki, Dina Yoon, DindaCiHatake, Genji Naru, Haru3173, Indigo Mitha-chan, Inolana WillowShimmer, Kamaliah, Kamichama NekoChi, Kirei murasaki, Kudou.Mouri, Kuroi5, KyuubieChan Chiedhoekid, Lightto, Lollytha-chan, Maple Lattes, Merai Alixya Kudo, Mia Cho, Mikky-sama, Miya-hime Nakashinki, MiyukiHara, Moyahime, Ms. KuDet, Mungkin abstrak, NaraUchiha'malfoy, NarutoisVIP, Noal Hoshino, Noirceur602, Ookinachan, Renata.W, Sakurinrinn, SaraRaHime, Shena BlitzRyuseiran, Son Sazanami, Sweety Nime, Tana-chan Blue, Uchiha 'Pytha' No Aka Suna, Uchiha Yuki-chan, Uchiha gamabunta, Yomu-chan, Yoshihiro Rei, Yukina Kanzaki, Zoccshan, alluring scarlet, ayunsoraya, blue sky21, dei-enjel, ditimerita2, dlestari152, fififafa, fyori nogi, harunaru chan muach, kHaLerie Hikari, lavender hime chan, mademoiselledi, mademoiselleidi, malaijahhat, nika murasaki, novitaalviani, nuranalaili, pipipiaaaa, ringohanazono6, rkWizard, rosecchin, salwakimura, shawol21bangs, star azura, syafria meily, wiwinaris.yoorasphinx, yoonhae. elfxotics.
4. Untuk semua reader yang udah membaca fanfict ini!
Thanks buat kalian semua (moga-moga nggak ada yang kelewat atau salah tulis). Tanpa kalian, Chain of Love mungkin nggak jadi seperti ini sekarang. Makasiiiih sebanyak-banyaknya untuk dukungan teman-teman sekalian. Aku bener-bener terharu kalian mau ngasih apresiasi sedemikian rupa untuk ff ini. Sekali lagi, makasih banyaaak! #hug satu-satu
Special thanks buat Sugar Princess71 yang pertam kalinya nge-request ff ini ke saya. Tanpa dia, ff ini dipastikan tidak ada. Ehehe. X""D
Sekian cuap-cuap saya di chapter terakhir ini. Nah, moga-moga masih pada mau baca dan review, ya … pendapat, opini, masukan, kritik, scene yang disukai, scene yang nggak disukai, dll, sila ditumpahkan via review. I'll really, really appreciate it, especially if you tell me with nice words. :""3
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
