Ch4

VIDEO TAPE

By : Han Kang Woo

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, EXO Member, etc

Main Cast : KaiSoo

Genre : Romance, Friendship

Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja

Rated : M plus, NC

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

o

o

o

o

Deg.

Kyungsoo dan Jongin menoleh bersamaan. Mereka berdua kaget dengan kemunculan Yoona yang tiba tiba dibalik pintu.

"Noona." mata Kyungsoo membulat, seperti hampir keluar.

"Oh..."

Jongin dengan cepat meraih baju kaosnya dan lekas memakainya. Sehingga namja tampan itu tidak telanjang dada lagi. Kyungsoo belum sempat melihat apakah ada tato dibagian pinggang kiri namja itu.

"Maaf... Maaf.." Jongin membungkuk beberapa kali kepada Yoona, dia sadar bahwa keadaannya tadi sangat tidak sopan.

Yoona menampilkan ekspresi datar kepada Jongin, kemudian mendekati adiknya sendiri.

"Kau tidak seharusnya..."

"Aku tidak melakukan apapun noona. Ka.. Kami tidak pacaran. Kami hanya teman sekolah..." potong Kyungsoo cepat, menjelaskan dengan tergesa gesa. Wajahnya masih memerah.

"Tapi apa yang aku lihat, kalian..."

"Noona hanya salah sangka, di.. dia membuka bajunya karena kepanasan." Kyungsoo kembali memotong perkataan kakak perempuannya itu. Dia melirik singkat kearah Jongin, meminta dukungan.

"Y, ya ya, aku membuka baju karena kepanasan. Maafkan aku. Aku tidak sopan." Jongin berkata cepat, mendukung kalimat Kyungsoo, dia membungkuk lagi kepada Yoona.

Kakak Kyungsoo itu nampak menarik nafas, dia belum percaya seratus persen. Mata indahnya mengarah kebagian zipper celana Jongin, masih tertutup rapat. Demikian juga dengan zipper Kyungsoo, belum terbuka.

"Ya sudah, aku hanya ingin meminjam kamera videomu. Maaf kalau aku langsung masuk tadi, aku buru buru." kata Yoona, nada suaranya sudah melembut, khas seorang yeoja cantik.

"Ka.. Kamera video?" gagap Kyungsoo,

"Ya, kau tidak memakainya kan. Aku hanya ingin meminjamnya sehari ini saja."

"Tap.. Tapi..." Kyungsoo langsung ketakutan, tapi ketakutannya perlahan lenyap saat mengingat bahwa file video seksnya di kamera itu sudah dihapus, dan salinannya sekarang ada diponselnya.

"Kameranya di tasku, sebentar." kata Kyungsoo kemudian, bernafas lega. Dia dengan cepat mengambil tasnya dan mengeluarkan benda segiempat itu dari sana.

"Nah, ini noona."

"Terima kasih." Yoona menerima kamera video itu, dengan senyuman.

"Baiklah, aku pergi dulu..." Yoona menatap singkat kearah Jongin yang masih disana, lalu berbalik menuju pintu.

"Tu.. Tunggu noona." Kyungsoo menghentikan kakaknya itu.

"Ada apa?"

"Noona mau keluar lagi?"

"Ya."

"Tapi, appa dan omma memesan kalau noona tidak boleh terlalu sering pulang larut, karena..."

"Ah Soo ya, orangtua memang begitu. Mereka terlalu berlebihan. Aku ada urusan, tugas kuliah." jelas Yoona, masih disertai senyuman manisnya.

"Noona bertemu dengan appa dan omma dibawah kan?"

"Tidak, mereka tidak ada dibawah." jawab Yoona sembari menggeleng pelan.

"Tapi omma dan appa..."

"Sudahlah Soo ya, aku sudah terlambat. Aku pergi dulu." tutup Yoona, tersenyum lagi, lalu keluar dengan cepat dari kamar milik Kyungsoo, menutup lagi kamar itu.

Hening.

Kyungsoo mendesah halus. Kakak perempuannya itu memang sulit menerima pendapatnya.

Namja bermata bulat indah itu berpikir lagi, dan berharap Yoona tidak menceritakan apa yang dilihatnya beberapa saat yang lalu, bersama Jongin.

'Lagi pula aku tidak melakukan apa apa. Yoona noona hanya melihatku bersama Jongin, didalam kamar.' batin Kyungsoo, yang disesalkannya mungkin adalah penampakan Jongin yang telanjang dada tadi, yang mungkin saja membuat kakaknya berpikir yang macam macam.

Hening lagi.

Kyungsoo dan Jongin saling bertatapan, agak lama. Tapi Kyungsoo lah yang tidak kuat dan menolehkan wajahnya, memandang kearah lain.

"Maaf, yang tadi belum selesai, kau belum menjelaskan apa apa. Aku akan membuka bajuku lagi..." kata Jongin, memecah kebisuan, namja itu memegang tepi bajunya, bersiap membuka baju lagi.

"Tidak, jangan membuka baju lagi." Kyungsoo berkata cepat, menghentikan niat Jongin.

"Kenapa?"

"Tidak, lanjutkan saja mencatatmu... Kau harus mencatat banyak materi." jawab Kyungsoo, mengalihkan topik dengan cepat.

"Tapi, kau belum..."

"Sudahlah Kim Jongin. Mencatatlah sekarang, atau aku akan mengusirmu pulang." seru Kyungsoo, kejam. Seperti ibu tiri yang membentak anak selingkuhan suaminya.

"Baiklah." Jongin setuju dan tidak protes lagi.

Namja tampan itu kembali duduk di kursi belajar Kyungsoo, dia menoleh sekilas pada Kyungsoo, lalu kembali melanjutkan kegiatan menulisnya, dengan benak dipenuhi tanda tanya.

Kyungsoo memegang dahinya sembari mendesah. Dia kembali duduk di sisi ranjangnya, galau lagi.

'Namja itu pernah minum minum, pernah ke pulau Jeju, pernah menginap di hotel pulau itu. Dan waktunya bersamaan denganku... Wajah mereka sama, suaranya mirip, tubuhnya, semuanya. Tapi... Tapi kenapa dia sama sekali tidak ingat malam itu? Tidak ingat denganku. Apa mungkin dia hanya pura pura tidak ingat? Dan sikapnya sekarang hanyalah kedok semata. Sikap baik dan lembutnya hanyalah topeng, padahal sebenarnya dia adalah namja preman, berandalan, mesum dan suka memperkosa siapa saja.' Kyungsoo membatin, berbagai pertanyaan dan kemungkinan muncul dibenaknya.

'Seandainya saja aku tidak bertemu dengannya lagi. Peristiwa malam itu pastinya hanya tinggal sejarah saja. Dan aku pasti bisa melupakannya suatu saat nanti, walau tidak mudah.'

Kyungsoo mengusap wajah imutnya, dia melirik lagi kearah Jongin yang menulis diam. Dan disaat bersamaan, Jongin juga melirik kepadanya.

Deg.

Tatapan mereka bertemu, seperti ada kilatan tidak tampak yang menghubungkan netra mereka.

Kedua namja itu tidak mengucapkan apa apa. Hanya tatapan singkat yang berbicara. Setelahnya, keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing masing.

Waktu berlalu dengan lambat.

o

o

o

o

O...O...O...O

Malampun tiba,

Jongin belum pulang dari rumah Kyungsoo. Namja berkulit tan itu masih mencatat, namun tidak fokus, yang berakibat lamanya waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tulisannya.

"Kyungsoo sayang, turun kesini sebentar..." panggil ibu Kyungsoo dibawah sana.

"Iya omma." jawab Kyungsoo,

Namja itu tanpa berkata kata lagi, langsung turun ke bawah, memenuhi panggilan ibunya. Meninggalkan Jongin sendirian dikamar.

Ibu Kyungsoo menunggu anaknya didepan tangga. Nyonya rumah itu tampak sangat rapi dan anggun.

"Temanmu masih diatas?" tanya ibu Kyungsoo, tersenyum.

"Iya omma."

"Panggil dia makan nanti, kalian makan bersama."

"Memangnya omma mau kemana?" tanya Kyungsoo, melihat penampilan ibunya yang tidak seperti biasa.

"Omma dan appamu mau keluar sebentar lagi. Ada acara pertemuan relasi appamu. Kakakmu Yoona mana?"

"Yoona noona mungkin belum pulang." jawab Kyungsoo, pelan.

"Ahhh, appamu tadi marah marah. Kakakmu itu sulit dihubungi. Ponselnya mati... Omma tidak habis pikir dengan sikap dan tingkah kakakmu sebulan terakhir ini." desah ibu Kyungsoo, menerawang.

"Omma tenang saja. Yoona noona sebentar lagi pulang. Aku akan menelfon omma kalau dia sudah pulang." Kyungsoo berusaha menenangkan ibunya. Dia tersenyum bentuk hati.

Ibu Kyungsoo mengangguk, juga tersenyum, dia memegang bahu anaknya pelan, kemudian berlalu ke beranda depan. Ayah Kyungsoo sudah menunggu di depan rumah, dalam mobil.

Kyungsoo mengikuti penampakan ibunya yang mulai menghilang didepan. Setelah itu, namja tersebut masuk ke dalam dapur, untuk mengambil makanan untuk Jongin.

o

o

o

o

Kyungsoo masuk kedalam kamarnya, sambil membawa nampan yang berisi makanan untuk Jongin.

"Hm, lebih baik kau makan dulu. Hari sudah malam..." kata Kyungsoo, sangat pelan. Dia meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja.

Jongin menghentikan aktifitasnya, dia menoleh dan memandang wajah Kyungsoo,

"Terima kasih, sebentar lagi selesai. Aku makan dirumah saja." tolak Jongin, halus, disertai senyuman khasnya.

"Jangan menolak, ini pesan ommaku. Makanlah dulu." tukas Kyungsoo.

"Tapi..."

"Jangan menolak. Aku sudah membawanya."

"Baiklah, aku akan makan. Sebelumnya aku minta maaf karena malah merepotkanmu." Jongin menampilkan wajah tidak enak.

Kyungsoo tersenyum, sedikit. Namun tidak menimpali kata kata Jongin.

Jongin mulai makan.

"Kau tidak makan juga?"

"Emh.. Ah, aku belum lapar, kau makan duluan." Kyungsoo menjawab grogi, karena kebetulan sejak tadi memandangi Jongin yang makan itu. Wajahnya lagi lagi memerah.

Jongin kembali melanjutkan menyantap makanannya, walau dia sama sekali tidak lapar. Tapi untuk menghargai Kyungsoo, dia makan juga.

Hening.

Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah pukul 11 malam. Jongin sudah menghabiskan makanannya sejak lama. Kedua orangtua Kyungsoo juga belum pulang.

Kyungsoo mondar mandir di kamarnya, sementara Jongin melanjutkan kegiatannya, yang hampir selesai.

"Apa kau masih lama?"

"Sebentar lagi, tinggal sedikit lagi." jawab Jongin, tulisannya acak acakan, tidak bagus seperti tulisan Kyungsoo.

"Sudah hampir tengah malam, appa dan ommamu pasti khawatir denganmu." kata Kyungsoo lagi,

"Tenang saja, aku namja dan sudah besar. Appa dan ommaku sudah terbiasa kalau aku pulang malam. Jadi tidak ada masalah." timpal Jongin, jujur.

"Ya, aku tahu... Tapi tetap saja..."

"TIDAAAKKKKK..." terdengar jeritan keras, yang membuat Kyungsoo batal melanjutkan kalimatnya.

Kyungsoo kaget dan berpaling memandang kearah pintu,

"Itu suara Yoona noona..." tukas Kyungsoo, sangat hafal dengan suara kakak perempuannya itu.

"Ah, terjadi sesuatu dibawah sana. Ayo kita lihat..." Jongin berkata cepat, berdiri dari duduknya.

"Tidak, kau disini saja. Aku yang akan melihat kebawah." sahut Kyungsoo, mencegah.

"Tapi, siapa tahu saja ada perampok dan..."

"Itu hanya suara kakak perempuanku, kau tenang disini saja..."

"Tapi, aku sangat mengkhawatirkanmu kalau turun sendiri, berbahaya..." ucap Jongin, tanpa saringan.

"Apa? Kau khawatir padaku?"

"Tentu saja, kau temanku." jawab Jongin, otomatis.

Wajah Kyungsoo merona merah mendengar jawaban Jongin itu, namun dia lekas sadar dengan cepat.

"Aku turun dulu. Kau disini dan jangan kemana mana." tutup Kyungsoo, lalu berjalan cepat menuju pintu kamarnya, membuka pintu itu dan menutupnya lagi.

Jongin hanya bisa mendesah sendirian.

o

o

o

o

Kyungsoo turun kelantai bawah, dia mengendap endap sambil membawa tongkat bisbol yang diambilnya dibawah tangga tadi. Siap siaga jika benar ada seorang perampok yang masuk rumahnya, dan menyakiti kakaknya.

'Itu suara Yoona noona, apa dia sudah pulang?' batin Kyungsoo, bertanya tanya.

Namja pendek itu berjalan menuju kamar kakaknya, pelan dan pelan.

"Noona... Noona... Apa noona sudah pulang?" panggil Kyungsoo, dengan suara rendah.

Tidak ada jawaban.

"Noona jawab aku. Aku mendengar teriakan noona... apa noona sudah pulang? Jawablah." ulang Kyungsoo, kali ini meninggikan suaranya.

Ada suara dan pergerakan didalam kamar pribadi Yoona.

Dan perlahan pintu membuka.

"Noona, noona tidak apa apa?" lega Kyungsoo, ternyata memang kakak perempuan cantiknya itu sudah pulang.

Yoona tidak menjawab, yeoja itu menundukkan wajahnya, terisak pelan, dia memegang benda kecil ditangan kirinya.

"Noona kenapa menangis? Apa noona sakit?" tanya Kyungsoo, langsung khawatir tingkat dewa.

Yoona lagi lagi tidak memberikan jawaban apa apa, dan tiba tiba dia memeluk Kyungsoo dengan erat, erat dan keras.

"Hiks.. Hiks.. Soo ya, bagaimana ini... Bagaimana..." Yoona terisak isak, sambil memeluk adik satu satunya itu. Kakak Kyungsoo itu bergetar hebat dalam pelukan Kyungsoo, dia beberapa saat kemudian melepaskan pelukannya, masih tertunduk.

"Berceritalah noona, aku akan menjadi pendengar yang baik." gumam Kyungsoo, mencoba membuat kakaknya bicara jujur.

Yoona tampak menarik nafas dalam, menghembuskannya pelan. Dia mendongak, dan memandang wajah adiknya. Matanya sembab, walau hal itu tidak memudarkan kecantikan alaminya.

"Soo ya, kau harus janji tidak mengatakannya kepada siapapun. Berjanjilah..." ujar Yoona, memohon.

"Berjanji apa noona? Aku tidak paham."

"Berjanjilah... Berjanji..."

"Ba.. Baiklah, aku berjanji..." sanggup Kyungsoo, walau sama sekali belum tahu pokok permasalahan.

Yoona menaikkan tangan kanannya dan memberikan benda kecil berwarna putih pada Kyungsoo, gerakannya takut takut.

Kyungsoo menerima benda putih kecil itu, mengamatinya.

Deg.

Benda itu sebuah tespek, alat tes kehamilan.

Kyungsoo bergetar, terutama bagian tangannya, benda itu hampir jatuh ditangannya. Namun dia berusaha tetap normal dengan posisinya.

Dia memandang lagi tespek itu, mengamati dengan seksama, lebih jelas.

Dan...

Positif.

Tespek itu menunjukkan hasil yang positif, dengan sangat jelas.

Kyungsoo menatap lagi wajah kakaknya,

"No.. Noona ha... Hamil?" tanya Kyungsoo, tidak percaya.

Yoona mengangguk, nyaris tidak kentara. Dia semakin terisak isak, linangan air matanya semakin deras.

Kyungsoo menarik nafas panjang, sambil memegang pelipisnya. Pengakuan kakaknya itu sangat mengagetkan dan tidak terduga.

"Siapa yang melakukannya noona?" Kyungsoo kembali bertanya, wajahnya tegang.

Yoona tidak bisa menjawab, isakannya semakin keras.

"Ja.. Jangan be.. ri tahu... omma dan appa.. " gagap Yoona, seakan putus asa.

"Aku tidak akan memberitahu omma dan appa. Noona harus tenang..." sahut Kyungsoo, mencoba menenangkan kakaknya itu. Dia menoleh kebelakang, melihat lihat siapa tahu saja kedua orangtuanya sudah datang. Dan untungnya mereka belum datang.

"Ak.. Aku menyesal, sangat menyesal..." rutuk Yoona, disela isak tangisnya.

"Noona tenang, noona duduk dulu..." kata Kyungsoo, seraya menuntun kakak perempuannya itu untuk duduk di tepi ranjang.

"Siapa yang melakukannya noona? Siapa?" Kyungsoo mengulangi pertanyaannya.

"Te.. Teman kuliah." jawab Yoona, lirih.

"Dia pacar noona?" tanya Kyungsoo lagi, dan kakaknya itu mengangguk pelan.

"Apa dia memaksa noona melakukannya?" Kyungsoo mengepalkan tangannya, geram.

"Ti.. Tidak, kami melakukannya karena cinta. Aku mencintainya." jujur Yoona, tidak menyembunyikan lagi, dia memutuskan jujur dengan adiknya itu.

Kyungsoo perlahan mengendurkan kepalan tangannya, dia awalnya mengira kakaknya itu terkena bencana pemerkosaan, hingga hamil, namun dia salah.

Yoona memegang kedua tangan Kyungsoo, meremasnya.

"Aku harus bagaimana Soo ya, harus bagaimana... Aku takut... Sangat takut... Bagaimana kalau omma dan appa tahu. Terutama appa... Aku takut..." isakan Yoona menjadi lagi, matanya semakin sembab.

Kyungsoo tampak berpikir keras, jawaban dari pertanyaan dan ketakutan kakaknya itu memang sulit.

"Ba.. Bagaimana kalau noona menggugurkannya saja?" Kyungsoo memberikan saran,

"Tidak, itu tidak mungkin. Itu sangat berbahaya.. Aku... Aku..."

"Maaf noona, maafkan aku. Lupakan saranku yang tadi. Itu memang berbahaya, aku tidak ingin noona kenapa kenapa." Kyungsoo dengan cepat meralat ucapannya. Dia menyesal telah mengucapkan saran bodoh itu.

"Semua salahku Soo ya, andai saja aku tidak... Ahh..." Yoona menenggelamkan wajahnya ketelapak tangannya, dia stress.

"Noona tenang... Si.. Siapa nama namja itu? Apa dia yang biasa datang ke sini?" tanya Kyungsoo, mengingat sosok namja yang biasa datang mencari kakaknya.

"Ya, dia... Namanya Lee Seung Gi. Pacarku." aku Yoona.

"Ah, ternyata dia." desah Kyungsoo, kasar. Dia banyak menyesalkan status pacaran namja dan yeoja di Korea, yang biasanya tidak sah jika tanpa bumbu seks didalamnya, dengan kata lain setiap ada kata pacaran, berarti ada seks bebas didalamnya.

"Noona tenang dulu, kita pikirkan nanti. Noona istirahatlah. Aku akan menyembunyikan ini dari omma dan appa." janji Kyungsoo, membalas remasan tangan kakaknya. Dia mengembalikan tespek itu pada kakaknya.

Yoona mengangguk, lalu menghapus air matanya yang sejak tadi mengalir terus. Dia sedikit tenang karena sudah curhat dan membagi masalahnya. Masalah yang sama sekali tidak kecil.

"Noona istirahat, aku keluar dulu." gumam Kyungsoo, lalu menarik selimut dan menutupi tubuh kakaknya yang baru saja terbaring.

"Terima kasih Soo ya..." ucap Yoona, segukan.

"Sama sama noona."

Akhirnya Kyungsoo keluar dari kamar pribadi kakaknya itu, dia menutup kembali pintu kamar tersebut, dan membiarkan kakaknya istirahat sekaligus menenangkan diri.

'Ya tuhan, kenapa hal ini bisa terjadi. Bagaimana kalau omma dan appa tahu. Hati mereka pasti hancur, sakit dan kecewa.' batin Kyungsoo, mendesah panjang.

Namja itu tidak sadar bahwa air matanya juga berlinang, secara otomatis, sedih dengan musibah yang menimpa kakak perempuan satu satunya. Dia menghapusnya cepat.

Namja bersenyum bentuk hati itu memutar tubuhnya untuk kembali ke lantai atas, tapi...

Deg.

Langkahnya terhenti, dia kaget lagi. Jongin berdiri tepat didepannya, wajah namja itu serius.

"Jo.. Jongin..."

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menguping. Tapi, aku mendengar masalah yang menimpa kakakmu." kata Jongin, menampilkan ekspresi menyesal.

Jongin memang turun mengikuti Kyungsoo, karena dia khawatir.

Kyungsoo tidak ingin larut dalam kekagetannya, dia menoleh singkat kearah kamar kakaknya, setelah itu menarik lengan Jongin, untuk menjauh dari sana.

Kyungsoo menarik Jongin menuju ruang tengah,

"To.. Tolong, jangan bocorkan rahasia ini. Jangan katakan apa yang kau dengar kepada orang lain. Tolong... Aku..." mohon Kyungsoo, dia sengaja menjauhkan Jongin dari kamar kakaknya, agar kakaknya itu tidak mendengar percakapan mereka.

"Tenang, tenanglah... Aku janji akan tutup mulut. Kau bisa mempercayaiku." timpal Jongin, langsung menyanggupi. Dia menaikkan telapak tangannya ke udara, berjanji.

"Benar? Kau janji..."

"Ya, aku janji."

Tanpa terduga, Kyungsoo langsung menghamburkan dirinya dan memeluk tubuh Jongin. Namja kecil itu terisak isak pelan.

"Aku takut... Aku takut..." isak Kyungsoo, memeluk Jongin dengan erat.

Jongin sedikit kaget dengan pelukan Kyungsoo yang mendadak itu. Tapi dia membalas pelukan dari namja itu, dengan menaikkan tangannya dan mengelus pungggung Kyungsoo.

"Kau takut kenapa?" Jongin bertanya lembut.

"Takut... Takut dengan masalah yang menimpa kakakku. Appaku sangat keras, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika appa tahu semua ini." jawab Kyungsoo, curhat.

"Kau harus tenang. Semua sudah terjadi. Kau harus tenang dan memikirkan langkah selanjutnya, bicarakanlah kembali pada kakakmu itu. Pasti ada jalannya." Jongin berucap bijaksana dan sangat dewasa.

"Kakakku sudah melakukan itu dan hamil, dan aku juga sudah..." kata Kyungsoo, namun menghentikan kalimatnya, dia hampir saja keceplosan.

"Kau, kau sudah apa?" Jongin menangkap kata kata terakhir Kyungsoo.

"Bu.. Bukan apa apa." ujar Kyungsoo cepat. Dia hampir saja mengatakan 'sudah melakukan hubungan seks'. Dan hal itu tentunya akan mengecewakan kedua orangtuanya.

"Sekarang kau tenang, semua akan baik baik saja." Jongin tersenyum setelah mengucapkan itu, dia senang karena sikap Kyungsoo kepadanya perlahan cair. Walau masih banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga kini.

Kyungsoo tenang dalam pelukan Jongin, dia memejamkan matanya pelan. Menghirup aroma tubuh Jongin lembut. Ketenangan menjalari tubuhnya.

"Apa benar ini kau yang malam itu Jongin? Kau terasa beda. Kau sangat lembut dan baik." gumam Kyungsoo, tanpa sadar.

Deg.

"Malam itu? Aku... Kau bicara apa?" tanya Jongin, sangat serius.

"Ya, kau yang malam itu... Mengambil first timeku, kita melakukan seks." kata Kyungsoo pelan, lena.

"SEKS?"

deg.

Kyungsoo tersadar, dia tidak menyadari salah bicara dan mengungkapkan semuanya. Dia dengan gerakan super langsung melepaskan pelukannya.

"Ak.. Aku salah bicara. Aku... Aku..."

"Tidak, kau pasti tidak salah bicara. Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan. Kau mengatakan malam itu, seks..."

"Bu.. Bukan apa apa Jongin. Itu... Aku..." Kyungsoo gagu,

"Tidak Kyungsoo, jelaskan padaku." Jongin memegang kedua bahu sempit Kyungsoo, sedikit mengguncangnya. Dia butuh penjelasan dan kepastian.

Kyungsoo menunduk dan memejamkan matanya, sepertinya dia harus mengatakannya. Yang akan dimulainya dengan terlebih dahulu bertanya.

"Ap.. Apa kau punya tato?" tanya Kyungsoo, mendongak kembali dan memandang wajah Jongin. Ekspresinya takut takut.

"Tato?"

"Ya, tato... Di pinggang bagian kirimu."

"Aku..."

Belum sempat Jongin memberikan jawaban, mendadak pintu depan diketuk oleh seseorang, ketukan keras dan cepat. Jongin batal memberikan jawabannya.

"Ak.. Aku akan membuka pintu." gumam Kyungsoo, lalu meninggalkan Jongin diruang tengah itu.

Jongin tidak ingin sendiri disana, dia mengekor Kyungsoo kedepan.

Kedatangan tamu tersebut membuyarkan semuanya.

Kyungsoo membuka pintu, dia awalnya menyangka mungkin ayah dan ibunya yang mengetuk pintu, tapi ternyata bukan.

"Baek..." seru Kyungsoo, didepan pintu. Dia sedikit kaget.

"Maaf Kyung, aku mengganggu malam begini. Tapi, bisakah aku bermalam dirumahmu? Chanyeol jerapah itu terus mencariku, aku kalah taruhan dengannya. Jadi namja itu terus menagih bayarannya. Bukan bayaran uang, tapi bayaran yang lain. Aku kesulitan memenuhinya. Jadi tolong untuk hari ini saja biarkan aku bermalam dirumahmu, please..." cerocos Baekhyun, sangat cepat seperti kereta api otomatis yang remnya blong. Namja itu tersengal sengal, habis berlari.

"Tenanglah Baek, aku tentu saja mengijinkan menginap dirumahku." timpal Kyungsoo, walau belum mengerti apa yang dibicarakan oleh sahabatnya itu.

"Terima kasih, terima kasih... Kau memang sahabat terbaik se Korea... Ohh..." Baekhyun berterima kasih, dan langsun tertegun karena melihat Jongin dibelakang Kyungsoo.

"Kau..."

Jongin tersenyum pada Baekhyun, disertai bungkukan singkat.

"Dia..."

"Oh, Jongin baru saja menyalin catatan sekolah yang tertinggal." jelas Kyungsoo cepat, agar Baekhyun tidak berpikiran macam macam.

"Oh begitu." Baekhyun magut magut.

Jongin melewati Kyungsoo dan Baekhyun, dan memutar tubuhnya, hingga dia sudah berada di area luar beranda.

"Kalau begitu aku pulang dulu, terima kasih Kyungsoo." kata Jongin, minta pamit. Tapi wajahnya menyiratkan keingintahuan yang belum terjawab.

"Oh, kau.. Ah, baiklah." timpal Kyungsoo, walau sebenarnya dia masih ingin Jongin lebih lama dirumahnya. What?

"Tapi perlengkapan sekolahmu, tas..."

"Aku sudah membawanya." sahut Jongin, seraya menunjukkan tas punggung sekolahnya yang tersampir.

"Oh."

"Aku pulang dulu." tutup Jongin, membungkuk lagi kepada Kyungsoo dan Baekhyun. Setelah itu, namja tersebut berbalik dan berlalu, pulang.

Hening.

Kyungsoo menghela nafasnya, agak berat.

Baekhyun yang ada disamping Kyungsoo, menyikut pinggang temannya itu.

"Kau tidak memberitahuku bahwa kau sudah akrab dengan namja baru itu." kata Baekhyun, sedikit menggoda.

"Kau bicara apa Baek. Dia hanya datang menyalin catatan sekolahku, hanya itu." timpal Kyungsoo, wajahnya merah lagi.

"Tapi apa kau sudah menanyakan mengenai video..."

"Belum Baek, apa kau gila. Aku bisa malu sendiri jika namja pemerkosa itu bukan dia. Aku harus hati hati..." potong Kyungsoo cepat.

"Oh, kau seharusnya terang terangan dengannya... Dia..."

"Sudahlah Baek... Kita membicarakan masalah kau saja, kenapa Chanyeol itu mengejarmu, apa kau mencuri dompetnya?" ucap Kyungsoo, bercanda.

"Ahh, aku hampir lupa. Bawa aku ke kamarmu, sembunyikan aku dilemarimu. Ayo naik..." jerit Baekhyun, lebay. Dia menarik tangan Kyungsoo, untuk naik keatas kamar namja kecil itu.

Kyungsoo membiarkan dan mengikut, dia menoleh sekilas ke halaman rumahnya, tempat dimana Jongin menghilang.

'Jongin...'

o

o

o

o

Baekhyun menarik Kyungsoo masuk kedalam kamar, seakan dirinyalah pemilih sah kamar itu. Dia melepaskan pegangan tangannya kemudian dan menghamburkan dirinya diatas kasur, menelungkup.

"Aku galau Kyung, aku galau..." desah Baekhyun, seperti yeoja yang baru saja dipoligami oleh pacarnya.

"Kau memang selalu galau Baek..." Kyungsoo menimpali, memutar bola matanya.

"Tapi ini beda, namja tiang itu terus meminta bayaran taruhan, bukan bayaran uang... Tapi... Ah... Mati aku." Baekhyun menenggelamkan wajahnya kedalam kasur empuk Kyungsoo.

"Itu karena kau terlalu berani taruhan. Memang taruhannya apa?" tanya Kyungsoo, penasaran juga.

"Taruhannya..."

Terdengar suara bell rumah Kyungsoo, yang membuat kalimat Baekhyun terpotong. Rumah Kyungsoo memang memiliki bell, jadi pintu depan bisa di ketuk ataupun memencet bell disampingnya.

"Sebentar Baek, aku buka pintu dulu. Mungkin saja itu omma dan appa." kata Kyungsoo, yang diangguki oleh Baekhyun.

Kyungsoo lekas keluar kamar dan langsung turun ke lantai dasar, berjalan cepat menuju pintu depan. Membukanya.

Dan...

Bukan kedua orangtuanya yang datang, tapi...

"Jongin..."

Kyungsoo kaget, namja tampan itu kembali dan belum pulang.

"Maafkan aku, aku datang lagi." kata Jongin, yang memutuskan tidak pulang dulu.

"Apa ada yang... yang terlupa?"

"Tidak ada yang terlupa... Tapi ada yang belum selesai." sahut Jongin, tidak akan pulang sebelum pertanyaan dibenaknya terjawab.

"Maksudnya..."

Jongin menarik nafas dalam, melangkah beberapa langkah untuk menyempitkan jarak dari Kyungsoo.

"Apa tato yang kau maksud itu, adalah ini..." ujar Jongin, sambil menaikkan kaosnya dibagian sebelah kiri.

Jreeng.

ABS seksi Jongin terpampang nyata, dan bukan hanya itu, sebuah tato kecil dibagian pinggang kirinya terlihat jelas sekarang.

Tato itu bukan gambar, tapi tulisan yang terangkai, bertuliskan : Kai

Deg.

Kyungsoo mematung, tubuh kecilnya bergetar lagi. Semuanya semakin jelas. Tidak perlu menduga atau berprasangka lagi.

"Ja.. Jadi memang kau, yang malam itu..."

o

o

o

o

o

o

o

TBC

O...O...O...O...O...O...O

Chapter 4 up, chap ini udah panjangkan? Mudah2an udah ya, hehehee... Masih banyak yang perlu dijelaskan sih, dichap depan ya. Termasuk moment2 Kaisoo, juga Chanbaek, mungkin..hehehee...

Review dari pembaca semua menjadi penyemangat untuk terus melanjutkan ff ini, kemungkinan selesainya diatas chap 10, seperti ff ku yang lain.

Review lagi ya, bagaimana tanggapannya di chap ini? Jangan bosan2 memberikan Reviewnya, supaya bisa fast update seperti biasa lagi.

Chap ini khusus kalian yang mereview.

Kiss

Han Kang Woo