VIDEO TAPE
By : Han Kang Woo
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, EXO Member, etc
Main Cast : KaiSoo
Genre : Romance, Friendship
Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M plus, NC
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
o
o
o
o
Kyungsoo dan Jongin tersentak kaget, kedua namja itu menoleh bersamaan kearah sumber suara.
"Saem..."
Kyungsoo tidak melanjutkan kalimatnya, namja itu dengan cepat melepaskan diri dari dekapan Jongin. Dan untungnya, Jongin melepaskannya.
Jongin membungkuk beberapa kali kepada guru yang memergoki mereka.
"Maafkan kami saem..." kata Jongin. dia menundukkan wajahnya. Demikian juga dengan Kyungsoo, dia juga membungkuk, tapi tidak mengucapkan apapun.
Si guru yang memergoki mereka adalah guru wanita. Guru biologi dan sekaligus menjadi wali kelas Kyungsoo dan Jongin. Victoria.
"Ikut ke ruanganku sekarang." ulang saem Victoria, memberikan kode kepada Jongin dan Kyungsoo untuk mengikutinya.
Mau tidak mau, Jongin dan Kyungsoo mengekor guru mereka. Tidak ada percakapan dan kata yang terucap dalam perjalanan dari gudang sekolah ke ruangan guru mereka itu. Kedua namja itu bungkam.
o
o
"Duduk..." kata saem Victoria, sesaat setelah tiba diruangannya, guru cantik itu duduk di singgasananya.
Kyungsoo dan Jongin duduk, berdekatan. Karena memang hanya ada dua kursi didepan meja di ruangan tersebut.
Hening sejenak, saem Victoria memandang Jongin dan Kyungsoo bergantian,
"Apa kalian berdua pacaran?" tanya saem Victoria, tegas dan lantang. Guru wanita itu memulai introgasinya.
Jongin dan Kyungsoo tidak langsung menjawab, mereka saling lirik singkat.
"Tidak saem." Kyungsoo yang menjawab, sangat pelan.
"Lalu, kenapa kalian berduaan di gudang belakang sekolah?"
"Kami hanya berduaan, dan tidak melakukan apa apa." jawab Kyungsoo lagi.
"Tapi sepertinya yang aku lihat berbeda. Kalian berdua saling dekap, sangat intim. Aku rasa kalian berdua memiliki hubungan khusus. Jujur saja..." saem Victoria terus mengulik.
"Tidak saem, saem hanya salah duga. Kami hanya teman, tidak lebih." lagi lagi Kyungsoo yang memberikan jawaban, sedangkan Jongin masih diam.
Saem Victoria menghela nafasnya, berat.
"Kalian pastinya sudah tahu, bahwa kehormatan sekolah adalah yang utama. Bagaimana jika ada siswa atau siswi lain yang melihat kalian melakukan adegan mesum di gudang. Lalu mereka merekamnya dan menyebarkannya. Nama sekolah pasti tercemar dan hancur. Kalian memakai atribut sekolah... Dan untung saja, hanya aku sendiri yang memergoki kalian, wali kelas kalian berdua." jelas saem Victoria, dia mengetuk ngetuk meja dengan jari panjang lentiknya.
"Kami paham saem." Kyungsoo menimpali dan menunduk.
"Karena kalian sudah melanggar, jadi aku akan..."
"Hukum aku saja saem, jangan Kyungsoo. Aku yang memaksa Kyungsoo ke gudang itu. Dia tidak salah. Aku yang salah." tiba tiba Jongin berseru dan memotong kata kata gurunya itu.
"Memaksa? Kau memaksanya?" tanya saem Victoria, ingin tahu lebih jauh.
"Iya saem, aku memaksanya. Akulah yang salah." Jongin sedikit berbohong.
"Baiklah, aku tidak akan mencampuri masalah pribadi antara kalian berdua. Aku hanya mengkhawatirkan nama baik sekolah. Tapi yang pasti kalian berdua akan mendapatkan hukuman, aku tidak mungkin menghukum salah satu dari kalian saja."
Kyungsoo menahan nafasnya,
"Aku akan memanggil orangtua kalian." tegas saem Victoria.
"Ja.. Jangan saem, jangan panggil omma dan appaku, tolong saem... Aku rela mendapatkan hukuman apa saja, asal orangtuaku tidak dilibatkan." ujar Kyungsoo cepat, panik dan takut.
"Tapi, orangtua kalian harus..."
"Tolonglah saem, jangan panggil orangtuaku." mohon Kyungsoo, nadanya mengiba, dia meremas tangannya.
Hening lagi, saem Victoria tampak berpikir. Dia menimbang nimbang tingkat kesalahan dua namja didepannya itu.
"Baiklah, aku tidak akan memanggil orangtuamu."
"Terima kasih saem." lega Kyungsoo, membungkuk sambil duduk.
Kyungsoo tentunya tidak ingin ayah dan ibunya dipanggil ke sekolah. Terutama ayahnya. Dia pasti dicecar habis habisan dan ditanya macam macam. Terlebih lagi dengan masalah kakaknya, Yoona, yang masih harus disembunyikan.
"Dan kau Kim Jongin, kau adalah siswa pindahan disini. Tadi pagi kau tidak masuk mata pelajaranku. Apa alasanmu?" kali ini saem Victoria memandang Jongin agak lama.
"Maaf saem, aku ada urusan tadi pagi. Sangat penting." jawab Jongin, memberikan alasannya, tapi tidak mendetail.
"Jadi kau panjat pagar untuk masuk sekolah?"
"I.. Iya saem. Aku minta maaf."
Saem Victoria mendesah mendengar jawaban anak muridnya itu.
"Kau tahu bahwa sekolah ini tidak menerima siswa preman dan berandalan. Dan kelakuanmu itu mencerminkan keduanya. Aku sebagai wali kelasmu sangat kecewa." tukas guru cantik itu.
"Aku minta maaf. Maafkan aku saem." gumam Jongin, membungkuk beberapa kali.
Saem Victoria mendesah lagi, lalu memandang jam tangannya.
"Baiklah, aku akan memberikan kalian hukuman. Kalian harus membersihkan toilet sekolah, semuanya. Selepas jam pelajaran berakhir. Dan untuk kau Kim Jongin, ditambah dengan membersihkan ruang paduan suara besok pagi, karena sudah membolos dan tidak masuk mata pelajaranku." kata saem Victoria, memberikan hukuman kepada dua namja berbeda warna kulit itu.
"Baik, saem." ucap Kyungsoo dan Jongin, nyaris bersamaan.
"Ya sudah. Kalian kembali ke kelas, sekarang." tutup guru muda, seksi dan cantik itu. Mengakhiri percakapan.
Kyungsoo dan Jongin berdiri bersamaan, membungkuk sebanyak dua kali, kemudian meninggalkan ruangan itu, menuju kelas mereka.
Untung saja, masalah terselesaikan. Tanpa harus melibatkan orangtua mereka.
o
o
o
o
O...O...O...O
Sehabis jam pelajaran terakhir, Kyungsoo lekas menuju ke toilet belakang sekolah. Dia terlebih dahulu pamit kepada Baekhyun, supaya temannya itu tidak mencarinya. Baekhyun awalnya ingin membantu, tapi dia menolaknya, tidak ingin temannya itu juga mendapatkan masalah karena ikut membantu membersihkan toilet.
Kyungsoo berjalan gontai menuju toilet sekolah, dan setibanya di sana, sudah ada Jongin yang menunggu. Namja tan itu berdiri tepat di depan pintu toilet paling kanan. Karena kebetulan ruang toilet ada 8. Dan semua toilet itulah yang harus dibersihkan.
Kyungsoo memandang Jongin sekilas, sewaktu di kelas mereka memang tidak saling sapa. Tepatnya, Kyungsoo yang tidak ingin disapa.
Kyungsoo mengarah ke toilet lain dan mengabaikan Jongin, namun namja itu menghalangi langkahnya.
"Kyungsoo, kau tidak marah padaku kan?" kata Jongin, lembut, tepat didepan Kyungsoo.
Kyungsoo tidak menjawab, dia memasang wajah datar.
"Aku yang akan membersihkan semuanya, kau bisa duduk disana." lanjut Jongin lagi, sambil menunjuk tempat duduk dari semen yang tidak jauh dari toilet.
Lagi lagi Kyungsoo tidak menjawab atau menimpali. Dia melangkah lagi dan menghindari Jongin.
"Kyungsoo..."
"Minggirlah Kim Jongin, kau menghalangi jalanku..." bentak Kyungsoo, tiba tiba.
"Kau masih marah ya? Tolong maafkan aku... Aku..."
"Minggir kataku..." Kyungsoo membentak lagi, kali ini sangat keras.
Jongin menghela nafas pelan, dia menggeser tubuhnya dan membiarkan Kyungsoo melewatinya, masuk kedalam salah satu ruang toilet.
Kyungsoo membersihkan toilet dalam diam, menyikat dan menyiram. Dia betul betul mengabaikan Jongin yang juga membersihkan toilet disebelahnya.
Namja bermata bulat itu masih mengingat jelas perkataan Jongin yang akan melakukan apa saja, asalkan dia memaafkan namja itu. Dan hingga saat ini, dia belum mengutarakan apa keinginannya.
'Aku kecewa padamu Jongin...' batin Kyungsoo.
Hampir sejam lamanya Kyungsoo dan Jongin membersihkan toilet. Semua siswa di sekolah mereka sudah kembali ke rumah masing masing. Jadi, hanya mereka berdua yang masih ada di sekolah. Selain penjaga sekolah tentunya.
Kyungsoo mengelap keringat di dahinya, hukumannya telah selesai. Dia telah selesai membersihkan toilet bersama Jongin.
Keringat di dahi Kyungsoo belum sepenuhnya hilang, namja itu ingin mengelap lagi dengan tangannya, tapi secara mendadak Jongin mengarahkan tangannya dan mengelap keringatnya itu dengan sapu tangan.
"Kau tidak cocok bekerja keras seperti ini Kyungsoo..." gumam Jongin, wajahnya berkilat seksi, dia sendiri tidak mengelap keringatnya. Dan hal itu membuatnya semakin tampan dan maskulin.
Kyungsoo ingin menepis tangan Jongin di dahinya, tapi entah kenapa dia tidak bisa. Dia malah mematung, dengan wajah memerah. Sepertinya terpesona dengan Jongin yang ada didepannya.
Selalu seperti itu, sosok Jongin selalu membuat jantung Kyungsoo berdetak cepat, darah berdesir dan panas dingin. Kyungsoo tidak tahu kenapa jadi seperti itu. Apa ini yang dinamakan Jongin effect?
"Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu. Aku bawa motor." ucap Jongin, dia sedapat mungkin tidak menyinggung mengenai masalah video seks itu. Takut Kyungsoo marah lagi dan membentaknya.
"Tidak usah. Aku pulang sendiri." tolak Kyungsoo, membuang muka.
"Kali ini saja, kau terlihat lelah dan lemah. Aku tidak ingin kau..."
"Aku tidak lemah. Aku namja kuat." seru Kyungsoo,
"Maaf, bukan maksudku begitu. Aku hanya tidak ingin kau sakit atau..."
"Sudahlah Kim Jongin. Kau pulang sendiri. Dan jemput saja yeoja yang waktu itu. Dia pasti menunggumu." ketus Kyungsoo, tidak sadar malah menyinggung mengenai yeoja waktu itu.
"Yeoja? Yeoja yang mana?" Jongin tidak mengerti.
"Ah, sudahlah..." kata Kyungsoo, menghentakkan kakinya.
Jongin tampak berpikir keras, membaca reaksi Kyungsoo itu.
"Apa.. Apa kau cemburu?" tanya Jongin, wajahnya serius.
"Cem.. Cemburu? Aku.. Cemburu? Tidak mungkin. Kau bicara apa." gagap Kyungsoo, matanya berputar tidak fokus.
"Aku tahu kau cemburu Kyungsoo." yakin Jongin, tidak salah dengan tebakannya.
"Sudahlah, Pembicaraan kita tidak ada ujungnya." seru Kyungsoo, menghentikan percakapan dengan cepat. Dia mengelak dengan pernyataan Jongin.
Namja berbahu sempit itu membalikkan tubuh dan meninggalkan Jongin, dia melangkah cepat, nyaris berlari. Tasnya terguncang guncang dipunggungnya.
"Kyungsoo, tunggu... Kita belum selesai..." panggil Jongin, juga meraih tasnya yang diletakkan acak dan memakainya. Dia mengejar Kyungsoo.
Kyungsoo tidak menjawab, namja itu terus melangkah. Entah kenapa matanya berkaca kaca, tapi belum menangis.
'Aku bingung dengan semua ini. Bingung dengan perasaanku sendiri... Ya tuhan...' Kyungsoo membatin, dan terus melangkah, melewati beberapa ruangan kelas, menuju pintu gerbang depan.
Kegalauan itu muncul kembali.
o
o
o
o
Kyungsoo berhasil pulang dan menghindari Jongin. Dia menggunakan jasa bus seperti biasa. Karena kakaknya, Yoona hari ini tidak berangkat kuliah, jadi otomatis mereka tidak bisa sama sama lagi.
Kyungsoo menendang kerikil kecil menggunakan sepatunya, dia jalan menunduk. Sebentar lagi dia sampai ke rumahnya. Kejadian di sekolah tadi terus mengusik pikirannya. Galau dan gundah.
Namun kegalauan dan kegundahannya harus disimpannya dulu, karena tiba tiba dari arah rumahnya terdengar suara orang berteriak dan orang menangis, secara bersamaan.
"Pergi dari rumah ini. Kau bukan bagian dari keluarga ini lagi."
Kyungsoo mendongak dan kaget. Dia mengarahkan pandangannya jauh kedepan, tepat didepan rumahnya.
"Yoona noona." gumam Kyungsoo, sadar dengan apa yang terjadi. Namja itu lekas berlari dengan cepat, mendekati sumber keributan didepan rumahnya.
Kyungsoo tiba kemudian, dan semakin kaget karena melihat kakak perempuannya yang tersungkur di tanah, depan rumah. Ayah mereka membentaknya.
"Kau mempermalukan keluarga... Pergi sekarang." ayah Kyungsoo membentak, dia masih menggunakan baju kantornya. Matanya berkilat marah.
"Maafkan aku appa... Aku.. Menyesal." isak Yoona, wajahnya pucat, matanya sembab.
Ayah Kyungsoo menggeleng kasar, telunjuknya mengarah ke jalan raya, sudah jelas bahwa dia mengusir anak perempuannya itu.
Kyungsoo mematung melihat peristiwa yang sama sekali tidak diharapkannya. Dia tentu saja tahu apa sebabnya. Dia mendekati kakak perempuannya tersebut.
"Ad.. Ada apa ini?" tanya Kyungsoo, berlutut disamping Yoona, untuk membantu kakaknya itu berdiri.
"Menjauh darinya. Dia bukan anak appa dan omma lagi. Dia orang lain sekarang." seru ayah Kyungsoo, kasar.
"Appa bicara apa. Yoona itu kakakku, anak appa dan omma." kata Kyungsoo, matanya berkaca kaca, memegang bahu kakaknya itu.
Ayah Kyungsoo mendengus, raut wajahnya marah dan geram. Urat wajah dan lehernya terlihat jelas.
"Kakakmu hamil. Sementara dia masih kuliah. Appa tidak habis pikir. Appa selalu menasehatinya untuk bisa jaga diri, jaga pergaulan. Jangan pulang malam... Dia perempuan, harus menjaga mahkotanya yang berharga. Tapi dia malah menyerahkan semuanya kepada lelaki tidak jelas." geram ayah Kyungsoo.
Kyungsoo diam mendengar kata kata ayahnya. Secepat itu semuanya terbongkar. Padahal baru kemarin kakaknya itu jujur padanya bahwa sedang hamil. Usia kandungan yang masih muda. Dan sekarang kedua orangtuanya sudah tahu.
"Noona, ke.. Kenapa appa bisa tahu?" bisik Kyungsoo, sangat pelan, tepat ditelinga kakaknya.
"Om..omma me..nemukan.. Tespek itu.." jawab Yoona, terbata bata dan terisak.
Beberapa jam yang lalu ibu Kyungsoo terus menanyakan kenapa Yoona tidak masuk kuliah, wajah anaknya itu sangat pucat. Walau Yoona tidak menunjukkan tanda tanda hamil, tidak muntah dan juga mual. Tapi sebagai seorang ibu, tetap saja ada perasaan aneh.
Saat anaknya ke kamar mandi, ibu Kyungsoo merapikan bantal dan sprei di kamar Yoona. Dan tidak sengaja melihat alat tes kehamilan, yang menunjukkan tanda positif. Tespek itu disembunyikan dibawah bantal. Dari sanalah semuanya terungkap.
Ibu Kyungsoo bertanya kepada anaknya, memaksanya jujur, dan tepat pada saat itu ayah Kyungsoo datang, ada berkas yang terlupa. Dia diperlihatkan tespek itu oleh istrinya dan cecaran pertanyaan pun tidak terelakkan. akhirnya Yoona mau mengaku bahwa dia sedang hamil.
Kyungsoo mendesah, memegang pelipisnya. Dia mencari sosok yang mungkin bisa mencairkan dan mengubah keputusan ayahnya. Yaitu sang ibu.
Kyungsoo mencari cari ibunya, ternyata ibunya sejak tadi terduduk disamping tembok, tersembunyi pot bunga besar. Nyonya rumah itu terisak isak, sangat syok. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu yang baik.
"Omma, omma..." Kyungsoo memanggil ibunya, dan panggilan itu dijawab ibunya dengan isakan tertahan.
"Appa omma, maafkan Yoona noona. Walau bagaimanapun noona adalah anak appa dan omma." kata Kyungsoo, memohon dengan sangat.
"Keputusan appa tidak akan berubah. Ommamu juga tidak bisa mengubahnya. Appa kecewa, kakakmu harus pergi dari rumah ini. Sekarang juga."
"Tapi appa..."
"Diam, jangan ikut campur." bentak ayah Kyungsoo, lalu masuk kedalam rumah. Keputusannya sudah final.
"Ap..pa, kenapa tega sekali..." Kyungsoo terisak isak, air matanya lolos lagi.
"Su..sudahlah Soo ya.. Aku.. Aku tidak.. Apa apa. Kau tenang saja." gumam Yoona, berusaha tegar. Dia mengusap air matanya dan mencoba tersenyum pada adik laki lakinya itu.
"Tapi noona mau tinggal dimana?" tanya Kyungsoo, linangan air matanya semakin deras.
"Aku akan tinggal... Dengan teman. Jangan menangis, kau namja. Adikku ada seorang namja yang kuat." timpal Yoona, lirih.
"Aku.. Aku tidak menduga akan jadi seperti ini... Ini.. Ah.." Kyungsoo tidak bisa melanjutkan kata katanya.
"Sudahlah Soo ya, aku baik baik saja. Aku.. Aku akan menjaga kandunganku, aku tidak akan menggugurkannya." gumam Yoona,
"Tapi bagaimana dengan pacar noona itu, Seunggi. Dia akan bertanggungjawabkan?"
"Seunggi akan bertanggungjawab, dia sudah janji. Yang jadi masalah adalah kuliahnya. Kami sama sama masih kuliah."
"Dia harus menikahi noona, harus."
Yoona mengangguk, mengisyaratkan untuk tidak memperpanjang pembicaraan. Karena ibu mereka berjalan pelan dan mendekati mereka.
"Ini... Ini uang untukmu, pergunakan dengan baik.. " kata ibu Kyungsoo, sangat pelan. Nyonya rumah itu memberikan beberapa lembar uang won dengan tangan gemetar.
"Maafkan aku omma, maafkan aku... Mengecewakan omma." Yoona langsung memeluk ibunya, dengan posisi duduk. Biasanya sang ibulah yang bisa mengerti.
"Semua sudah terjadi... Omma tidak bisa memutar waktu. Omma hanya bisa berharap kau.. Kau menjaga anak dikandunganmu itu. Anak itu tidak bersalah..." gumam ibu Kyungsoo, walau kesedihan dan rasa kecewanya sulit hilang.
"I.. Iya omma.."
Kyungsoo mengelus pelan bahu kakaknya, memberikan ketenangan. Dia tidak bisa berbuat apa apa. Keputusan ayahnya untuk mengusir kakaknya itu tidak bisa diubah. Mungkin hanya waktulah yang bisa mengubah dan melunakkan ayahnya.
Peristiwa terbongkarnya kehamilan Yoona itu tentunya membuat suasana harmonis di keluarga kecil itu tidak sama lagi, semuanya berubah.
Yoona terusir, dan bukan tidak mungkin Kyungsoo juga mengalami hal yang sama suatu hari nanti, dengan sebab berbeda.
Siapa yang tahu...
o
o
o
o
O...O...O...O
Kyungsoo menangis dalam diam dikamarnya, beberapa saat yang lalu kakaknya, Yoona, sudah pergi dengan membawa barang seadanya.
Kyungsoo tentunya sangat sedih dan terpukul dengan pengusiran kakak perempuannya itu. Dia sama sekali tidak menduga bahwa ayahnya akan semarah itu. Dan memutuskan mengusir anaknya sendiri dari rumah.
Namja imut itu menghapus pelan air matanya, dia mencoba tegar dan mengingat pesan kakaknya, untuk tidak bersedih, karena semua sudah terjadi dan tidak perlu disesali.
Dia tidak akan putus kontak dengan kakaknya itu, karena dia punya nomor ponselnya.
'Ah, lebih baik aku menelfon dan menanyakan dimana Yoona noona sekarang...' batin Kyungsoo, lalu duduk diatas ranjangnya. Dia mencari ponselnya yang biasanya disimpan disaku celana.
Tapi setelah mencari, ponsel itu tidak ditemukannya.
Deg.
'Ya tuhan, ponsel itu. Jangan jangan...'
Kyungsoo terlonjak, tubuhnya langsung menegang. Dia lupa mengambil ponselnya di atas meja reot digudang belakang sekolah.
Kyungsoo panik, bukan kepalang. Mencengkram kepalanya sendiri.
"Mati aku..." Kyungsoo merutuk kasar.
Bisa dikatakan bahwa hidup dan mati Kyungsoo ada diponsel itu, karena diponsel itulah terdapat video seksnya bersama Jongin. Dan jika video itu tersebar, Kyungsoo bisa tamat.
'Yaa Tuhan...'
Tanpa buang buang waktu, namja kecil itu lekas menarik sweaternya yang tergantung, memakainya dengan cepat. Dan lekas keluar dari kamarnya. Dia berburu dengan waktu sekarang.
Namja itu bisa keluar rumah tanpa ayah dan ibunya yang bertanya. Karena kedua orangtuanya itu sedang dikamar, menenangkan diri.
Kyungsoo berlari cepat melintasi halaman rumahnya, dia berdoa dalam hati semoga ponselnya itu masih didalam gudang sekolah. Belum diambil oleh orang lain.
Kyungsoo masih berlari cepat, tapi tiba tiba langkah cepatnya itu dihentikan oleh seorang namja. Namja yang masih menggunakan seragam sekolah.
"Kyungsoo..." kata namja itu, menghalangi jalan Kyungsoo.
"Jo.. Jongin..." kaget Kyungsoo, dia berhenti mendadak.
Namja itu memang Jongin, dia tidak pulang ke rumahnya dan malah memutuskan mengikuti Kyungsoo diam diam, menggunakan motornya. Dan pengusiran Yoona tadi tentunya juga diketahuinya. Karena sejak tadi, namja tan itu mengintip dibalik pagar rumah keluarga Kyungsoo.
"Kau.. Kau.. Kenapa bisa disini?" kekagetan Kyungsoo belum hilang.
"Maaf, aku memutuskan kesini. Kalau aku memberitahumu, kau pasti akan mengusirku." jawab Jongin, tersenyum. Ini adalah kali keduanya kerumah Kyungsoo, dia tahu rumah Kyungsoo dari teman teman sekelas di sekolah.
"Kim Jongin, aku tidak ada waktu meladenimu... Aku buru buru." tukas Kyungsoo, nada bicaranya agak meninggi.
"Sebentar saja, aku tidak akan menyerah sebelum kau memaafkan kesalahanku. Dan kita bisa berteman baik." timpal Jongin, kalimatnya ditekan.
Kyungsoo menggeleng pelan, disertai dengusan kasar.
"Kau memang preman dan berandalan... aku minta kau pulang, sekarang..." Kyungsoo membentak, bentakan ala Satansoo, kejam.
"Aku tidak akan pulang..."
"Kau keras kepala."
"Aku tidak keras kepala, kau yang keras kepala dan tidak mau membuka hati."
"Apa? Hati? Kau bicara hati. Apa kau punya hati, menjamahku seenaknya, setelah itu pura pura lupa. Aku tidak semudah itu percaya..." Kyungsoo berseru nyaris berteriak. Padahal posisi mereka di tepi jalan sekarang.
"Aku sudah katakan bahwa aku tidak ingat. Aku mengakui bahwa itu aku. Aku yang melakukan seks denganmu, di video itu. Tapi aku betul betul tidak ingat adegan seks itu. Sama sekali tidak." Jongin mengulangi pengakuannya, kala di gudang sekolah.
"Ohh, kau siap siap saja Kim Jongin... Video itu sebentar lagi akan tersebar luas dan kau akan malu, dunia akan menontonnya." seru Kyungsoo, otomatis.
"Maksudmu?"
"Ponselku tertinggal di gudang belakang sekolah. Dan video seks itu ada di ponsel tersebut. Kau pasti paham maksudku." jawab Kyungsoo.
Jongin terdiam sejenak, lalu tersenyum.
"Aku tidak masalah. Namja di video itu memang aku, bukan orang lain. Jika video itu tersebar dan dilihat orang, mau bagaimana lagi. Itulah konsekuensi dari sebuah video. Video memang untuk ditontonkan..." sahut Jongin, tentunya tidak serius.
"Kau.. Kau sangat menyebalkan." Kyungsoo menghentakkan kaki ke tanah, kesal.
Namja bermata owl itu lekas memutar arah dan meninggalkan Jongin sendirian. Waktunya betul betul sangat sempit.
"Kyungsoo tunggu..." teriak Jongin, mengejar Kyungsoo, dia berlari cepat.
Kyungsoo tidak menjawab, langkahnya semakin dipercepat, tapi Jongin masih lebih cepat. Namja itu memegang tangannya.
"Tunggu dulu, biarkan aku mengantarmu ke sekolah. Aku punya motor... Kau pasti ingin ke gudang belakang sekolah untuk mengambil ponselmu itu kan?" kata Jongin, menebak dengan pasti. Tebakan buah manggis yang tepat.
Kyungsoo meronta, mencoba melepaskan genggaman tangan Jongin dari pergelangan tangannya.
"Kau tidak ada waktu, maksudku kita tidak ada waktu... aku akan mengantarmu, kita bisa sampai dengan cepat menggunakan motorku." ulang Jongin.
Kyungsoo berpikir, penawaran Jongin tidak buruk.
"Tolonglah."
"Tapi..."
"Sekali ini saja, biarkan aku mengantarmu. Aku juga tidak ingin video itu tersebar."
"Please Kyungsoo..."
"Baiklah."
Plong.
Akhirnya Kyungsoo setuju juga. Jongin tersenyum senang. Dia belum melepaskan tangannya dari Kyungsoo. Dia menuntun namja imut itu kearah motornya, yang berjarak tidak jauh dari tempat mereka.
Beberapa menit kemudian, Jongin menaiki motornya. Dengan Kyungsoo yang juga naik dibelakangnya.
"Berpeganglah yang kuat, aku akan melajukan motor dengan cepat." kata Jongin, menoleh singkat.
Kyungsoo hanya diam, tapi yang pasti degup jantungnya tidak normal lagi. Ini kali pertamanya berboncengan dengan Jongin. Rasa yang sulit dijelaskan itu kembali muncul.
"Berpeganglah..." ulang Jongin, ketika merasa Kyungsoo tidak bereaksi.
Kyungsoo masih diam, namja itu duduk tanpa berpegangan.
Jongin menoleh lagi, dan mengarahkan kedua tangannya, memegang tangan Kyungsoo untuk dilingkarkan ke pinggangnya.
"Begini lebih baik... Aku takut kau jatuh kalau tidak perpegangan."
Wajah Kyungsoo memerah hebat, kedua tangannya sudah melingkar sempurna dipinggang Jongin. Dia bisa merasakan ABS namja itu.
Jongin tersenyum, lalu dengan cepat tancap gas. Wuussss. Motor besarnya melaju dengan cepat, membelah jalanan kota Seoul yang selalu ramai.
Dua namja sekelas itu bagaikan pasangan sejoli yang baru saja 'jadian'. Tapi dalam kenyataannya tidak. Belum ada ungkapan kata kata apapun yang mengarah kesana.
Mereka saat ini hanya sebatas teman yang dipertemukan dalam sebuah kamar hotel, hingga terjadi seks yang tidak direncanakan.
Kisah mereka masih terus berlanjut.
o
o
o
o
O...O...O...O
Hanya dalam 10 menit saja, Jongin dan Kyungsoo tiba di depan gerbang sekolah mereka. Jongin memarkirkan motornya agak jauh dari sekolah mereka itu.
Kyungsoo dalam perjalanan tidak mengucapkan kata apa apa, begitu juga saat tiba didepan sekolahnya, sepatah kata belum juga terucap darinya.
Jongin memaklumi sikap Kyungsoo itu, dia paham bahwa namja itu masih sulit menerima pemerkosaan kasar dan liar saat di hotel malam itu. Tapi yang pasti, dia akan terus berusaha mendapatkan maaf dari Kyungsoo. Bagaimanapun caranya.
Kyungsoo melangkah cepat dan mendekati gerbang sekolah yang terutup. Seorang penjaga sekolah keluar dari pos jaganya.
"Maaf ajuhsi, bisa kami masuk?" tanya Kyungsoo, menampilkan ekspresi imut dan memelas.
"Tidak bisa. Gerbang sudah dikunci." jawab si penjaga gerbang. Dia mengenali Kyungsoo dan Jongin sebagai dua namja yang dihukum membersihkan toilet sekolah beberapa saat yang lalu.
"Tapi ajuhsi, di dalam ada kelas eskul basket dan lainnya kan? Seharusnya gerbang masih buka." Kyungsoo tidak menyerah.
"Kelas eskul hari ini libur. Apa kau tidak membaca jadwal." ketus si penjaga, tidak bisa kompromi.
"Sebentar saja ajuhsi, 5 menit saja."
"Tidak bisa."
"Tapi ajuhsi..."
"Sudahlah Kyungsoo, jangan dipaksakan." Jongin menyela, dia menarik pelan tangan Kyungsoo. Namja itu membungkuk singkat kepada si penjaga gerbang, kemudian berlalu bersama Kyungsoo, kesamping sekolah.
"Jongin, kau kenapa. Aku berusaha meminta untuk masuk. Tapi kau malah me..."
"Tenang dulu Kyungsoo, ajuhsi yang tadi tidak bisa dipaksa. Kita lewat jalan lain saja, untuk masuk kedalam sekolah." jelas Jongin, lembut.
"Jalan lain?"
"Ya, kita memanjat tembok belakang sekolah." kata Jongin, menawarkan opsi bagi Kyungsoo.
"Memanjat?"
"Ya, memanjat. Tenang, kau tidak perlu memanjat. Kau tunggu disini saja, biar aku yang memanjat dan mengambil ponselmu itu." Jongin tersenyum.
Kyungsoo tidak perlu berpikir lama dengan ide Jongin itu.
"Aku tidak mungkin menunggu disini. Aku akan ikut memanjat juga." ucap Kyungsoo, lantang.
"Baiklah kalau begitu, ayo..." Jongin masih tersenyum dan lagi lagi memegang tangan Kyungsoo, untuk berjalan bersama sama ke tembok belakang sekolah.
Kyungsoo menurut, membiarkan tangannya dipegang dan dituntun. Wajahnya lagi lagi memerah hebat.
o
o
o
o
Tembok tinggi menjulang dengan cat putih tepat didepan Kyungsoo dan Jongin. Tembok itu betul betul tinggi, yang tentu saja sangat sulit dipanjat.
"Sebaiknya kau disini saja Kyungsoo, biar aku yang..."
"Tidak, aku juga akan panjat. Yang didalam itu ponselku, jadi aku yang harus mengambilnya." potong Kyungsoo.
"Baiklah. Kita bersama sama." Jongin tidak akan memaksa.
Kyungsoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tembok itu benar benar tinggi, sedangkan tubuhnya lumayan pendek. Jongin dengan cepat membaca pikirannya.
"Naik ke bahuku, itu lebih mudah..." saran Jongin. Seraya berjongkok didepan Kyungsoo.
Kyungsoo awalnya berniat menolak, tapi dia tidak ada pilihan lain, naik ke bahu Jongin tentunya akan membantu untuk bisa naik keatas tembok.
Tanpa buang waktu, Kyungsoo lekas naik ke bahu lebar Jongin. Sementara itu Jongin perlahan berdiri tegak, menopang tubuh kecil Kyungsoo tersebut.
Kyungsoo berhasil naik keatas tembok, dia menatap sekeliling, tidak ada siapapun yang melintas, mereka masih aman.
"Kau bisa lompat kan?" tanya Jongin dibawah sana, dahinya berpeluh keringat, bobot tubuh Kyungsoo tidak ringan walau tubuh namja itu kecil.
Kyungsoo tidak menjawab, wajahnya pucat. Dan hal itu membuat Jongin paham. Kyungsoo takut melompat.
"Baiklah, tetap diatas sana. Aku akan naik..." kata Jongin, lalu dengan sigap melompat dan mengaitkan tangannya keatas tembok, namja tersebut terlihat seperti spiderman yang lincah. Dengan sedikit usaha, Jongin berhasil naik keatas tembok yang tidak berkawat tersebut. Dia sudah berpengalaman.
"Tetap disitu Kyungsoo, aku akan lompat duluan."
Jongin melompat ala Wolf dan mendarat dengan mulus ditanah. Namja tampan itu lalu merentangkan kedua tangannya, bersiap menadah Kyungsoo.
"Lompatlah... Aku akan menangkap tubuhmu." seru Jongin, menampilkan senyuman khasnya.
Kyungsoo tampak ragu diatas sana, dia seperti anak kecil yang baru saja dibuang oleh tantenya, ekspresinya antara takut, imut, dan galau. Campur aduk.
"Lompatlah, percaya padaku..." ulang Jongin, masih dengan posisinya, merentangkan kedua tangan.
Hening.
Kyungsoo menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Dia percaya dengan Jongin yang akan pasang badan dibawah sana.
Dan...
Kyungsoo melompat dengan tidak elit.
Bugh.
Tubuh kecil Kyungsoo bertubrukan dengan tubuh seksi Jongin. Namja tan itu berhasil menangkap tubuh Kyungsoo, tapi karena lompatan Kyungsoo yang asal, maka akibatnya Jongin kehilangan keseimbangan. Mereka berdua jatuh dengan Kyungsoo yang menindih Jongin. Posisi mereka intens dan intim.
Deg.
Wajah mereka berdua sangat dekat, dengan bibir hampir berciuman. Deru nafas mereka menyatu satu sama lainnya.
Beberapa detik saling berpandangan, akhirnya Kyungsoo sadar dan memisahkan dirinya.
"Ma.. Maaf..." gagap Kyungsoo, untuk keseribu kalinya wajahnya memerah.
"Tidak apa apa." timpal Jongin, tersenyum meneduhkan.
Kyungsoo tertunduk malu, mirip yeoja yang baru saja dilamar oleh seorang pangeran. Posisinya terduduk, merutuki dirinya yang selalu salah tingkah.
Jongin perlahan berdiri, senyuman masih menghiasi wajah tampannya. Dia menepuk nepuk pelan celana sekolahnya yang kotor.
"Sebaiknya kau cepat mengambil ponselmu. Aku akan menunggu disini, jaga jaga siapa tahu ada yang melihat kita." kata Jongin.
"Ba..baiklah." sahut Kyungsoo, masih menunduk.
Posisi mereka berdua memang sudah sangat dekat dengan gudang rusak sekolah. Hanya perlu berjalan beberapa langkah saja.
Kyungsoo berjalan menuju gudang tersebut, sementara Jongin menunggu dan melihat lihat keadaan sekitar.
'Mudah mudahan ponselku masih disana.' batin Kyungsoo, berharap.
Namja bermata burung hantu itu tiba dan lekas masuk kedalam gudang, suasana sepi dan aman. Matanya langsung tertuju ke meja reot didalam gudang tersebut.
Dan...
Sebuah ponsel berwarna putih tergeletak diatas meja.
"Masih ada... Untunglah..." lega Kyungsoo, hatinya melonjak senang. Ponselnya belum berpindah tangan.
Dia mengambil cepat ponsel itu, menggenggamnya dan ingin memasukkannya kedalam saku, tapi... Ada yang beda.
Ponsel itu memang berwarna putih, tapi merknya beda. Bukan merk berlogo apel tergigit seperti kepunyaannya.
Kyungsoo pucat pasi, ponselnya di tukar oleh seseorang.
"Ini... Ini bukan ponselku..." Kyungsoo menggumam pelan, stres seketika.
Dia menekan tombol ponsel itu sembarang, layar ponselpun menyala terang. Ada sebuah pesan singkat di ponsel itu, yang sepertinya disengaja diketik oleh seseorang.
Kyungsoo dengan cepat membacanya :
'Hai namja jalang. Jauhi Kim Jongin... Buat dia membencimu. Kalau tidak, aku bisa memastikan bahwa video seks murahanmu akan menyebar dengan cepat di jejaring sosial, forum online, dan situs sekolah atau paling parah sampai ketangan kedua orangtuamu yang terhormat itu. Jangan berpikir lama lama dan lakukan semua yang kuminta.'
Dunia Kyungsoo seakan runtuh, dia membaca pesan itu beberapa kali, keringat dingin membasahi dahi lebarnya. Dia dalam masalah besar sekarang.
Kakak perempuannya bermasalah dan sekarang dia juga bermasalah. Dan mungkin masalahnya itu berdampak lebih parah lagi. Bisa menghancurkan dirinya, sekolahnya dan keluarganya.
Kyungsoo menggenggam keras ponsel murahan ditangannya dan memandang kearah Jongin yang masih setia menunggunya disamping tembok sekolah.
'Jongin ah, Aku harus bagaimana...'
o
o
o
o
o
o
o
TBC
O...O...O...O...O...O...O
Chaptet 6 update. Udah panjangkan? Maaf kalau alur ff ini cepat, tapi seperti itulah plotnya, hehehee. Bersyukur karena ff ini masih ada yang suka.
Hampir lupa, Apa chapter ini terbaca? Soalnya ffn kemarin error, dan aku takut ff yang kupublish malah tidak terbaca atau tidak tampil di list cerita yang new publish.
Aku hampir saja nggak update hari ini, tapi karena masih ada yang Review dan suka dengan ff ini. Jadi aku publish chap barunya. Dan berharap ffn berbaik hati dan tidak error lagi.
Aku cinta kalian semua, terima kasih Reviewnya ya... Jangan bosan bosan memberikan comment2nya.
SalamExoL
Han Kang Woo
