Ch7

VIDEO TAPE

By : Han Kang Woo

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, EXO Member, etc

Main Cast : KaiSoo

Genre : Romance, Friendship

Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja

Rated : M plus, NC

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

o

o

o

o

Kyungsoo membatin. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Masalah demi masalah terus menimpanya. Dan masalah tersebut bukanlah masalah kecil.

Namja itu masih ditempatnya, dan kemudian Jongin mengagetkannya.

"Kyungsoo..." panggil Jongin, pelan, namun masih bisa terdengar.

"Y.. Ya." jawab Kyungsoo, gugup. Dia pusing harus melakukan apa.

Jongin muncul dan masuk melalui pintu gudang, namja itu khawatir dengan Kyungsoo.

"Ponselmu ada kan?" tanya Jongin, mendekati Kyungsoo.

"Ad.. Ada... ini." jawab Kyungsoo, terpaksa berbohong, dia menunjukkan ponsel ditangannya pada namja itu.

"Oh, syukurlah. Kita selamat." timpal Jongin, mengelus dadanya. Dia tentunya tidak ingin video intimnya bersama Kyungsoo menjadi konsumsi publik.

Kyungsoo menampilkan senyuman kaku pada Jongin, desahan kasarnya beberapa kali terdengar. Tanda bahwa dia resah, takut, pusing, gelisah dan khawatir, secara bersamaan. Namun Jongin sama sekali tidak sadar hal itu.

"Kalau begitu ayo kita pulang. Aku takut kita ketahuan oleh penjaga sekolah tadi." ajak Jongin, dia mengibas ngibaskan bagian kerah baju seragamnya, untuk menimbulkan efek sejuk.

Kyungsoo setuju dan menjawab dengan anggukan pelan, nyaris tidak kentara. Pikirannya sulit fokus sekarang.

Dan akhirnya kedua namja itu kembali memanjat tembok sekolah, untuk keluar. Kali ini sudah tidak sulit lagi. Tapi Jongin masih membantu Kyungsoo untuk memanjat. Hingga mereka berdua bisa melintasi tembok belakang sekolah tanpa ketahuan.

o

o

o

o

Jongin dan Kyungsoo berjalan beriringan menuju motor Jongin yang terparkir. Dalam perjalanan Kyungsoo tidak mengucapkan kata apapun, ekspresi wajahnya sulit diartikan.

Jongin sesekali melirik Kyungsoo dan mengamati ada yang aneh dengan namja itu.

"Hm... Kau sepertinya terlihat tidak baik. Apa kau sakit?" tanya Jongin, dia memberanikan diri bertanya.

Kyungsoo tidak menjawab pertanyaan Jongin. Namja itu menunduk sambil jalan.

"Apa kau sudah memeriksa video itu? Masih ada kan?" Jongin mengganti pertanyaannya. Entah kenapa pertanyaan itu terlintas begitu saja dibenaknya.

Lagi lagi Kyungsoo tidak menjawab, namja itu bungkam seribu bahasa.

Jongin mendesah dengan sikap diam Kyungsoo, dia mencoba untuk memahami bahwa namja itu pastinya belum bisa menerima perlakuannya waktu mabuk malam itu.

"Baiklah, ayo kita pulang..." kata Jongin kemudian, posisinya sudah disamping motornya. Bersiap memasukkan kunci motor.

Kyungsoo perlahan mendongak, menatap Jongin dengan ekspresi serius. Matanya sedikit berkaca kaca.

"Jongin... Aku pulang sendiri dan kau pulang sendiri. Kita masing masing..." kata Kyungsoo, akhirnya membuka suaranya.

"Tidak, aku akan mengantarmu pulang." tolak Jongin, dia menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak mau diantar olehmu..." nada Kyungsoo meninggi. Terlintas lagi pesan singkat yang dituliskan oleh seseorang diponsel yang kini dipegangnya. Pesan yang menyuruhnya menjauhi Jongin.

"Aku tidak habis pikir denganmu Kyungsoo, aku temanmu, teman sekolahmu. Tapi kau menganggapku seperti musuh, kau..."

"Cukup Jongin. Aku tidak ingin berdebat denganmu." potong Kyungsoo, cepat.

Jongin terdiam, dia nampak berpikir sejenak. Matanya mengarah ke daerah depan sekolah, yang jaraknya sudah cukup jauh dari posisinya.

"Kyungsoo, ajuhsi penjaga gerbang mengejar kita..." pekik Jongin, lantang. Dia menampilkan ekspresi kaget.

Kyungsoo menoleh cepat, juga kaget. Mata O_O nya berputar tidak fokus. Dan diluar dugaannya, Jongin mengangkat tubuh kecilnya dan menaikkannya ke atas motor, proses itu sangat cepat.

"Jo.. Jongin, apa yang ka..."

"Tidak ada waktu lagi, ajuhsi itu sudah semakin dekat..." potong Jongin, lekas naik dan duduk dibagian belakang Kyungsoo. Jadi Kyungsoo didepan dan Jongin dibelakang. Namun tetap Jongin lah yang menjalankan motor tersebut.

Namja tan itu langsung tancap gas, dan motor besarnyapun melaju kencang, meninggalkan area belakang sekolah.

o

o

Wajah Kyungsoo memerah diatas motor, bukan karena angin tapi karena Jongin yang ada dibelakangnya, yang seperti memeluknya.

"Jo.. Jongin, aku tidak melihat seseorang mengejar kita..." Kyungsoo berujar dan menormalkan dirinya. Lengan kokoh Jongin disamping kiri dan kanannya seakan melindunginya.

Jongin berdeham singkat,

"Maafkan aku... Itu tadi sengaja. Supaya kau mau ikut dan tidak berontak. Maaf..." ungkap Jongin, angin menerbangkan rambutnya yang tidak menggunakan helm.

"Apa? Kau bohong..."

"Maaf, aku berbohong supaya kau bisa ikut denganku." timpal Jongin cepat, agar Kyungsoo tidak salah sangka.

"Kau.. Ah, turunkan aku. Sekarang..." suara Kyungsoo meninggi.

"Tidak, kau harus ikut denganku." Jongin lagi lagi menolak permintaan Kyungsoo.

"Turunkan..."

"Tidak."

"Aku akan lompat..." ancam Kyungsoo.

"Silahkan saja."

Jongin malah semakin melajukan motornya, kencang dan semakin kencang. Kyungsoo menciut seketika.

Kyungsoo tidak protes lagi, namja itu akhirnya membiarkan Jongin mengantarnya pulang. Karena percuma saja berdebat.

Waktu terus berlalu.

Motor yang dikendarai Jongin terus melaju, dan melewati arah rumah Kyungsoo. Hal itu disadari oleh namja kecil itu.

"Jongin, sepertinya kita salah jalan." gumam Kyungsoo.

"Kita tidak salah jalan." jawab Jongin.

"Tapi arah rumahku sudah lewat."

"Maaf Kyungsoo, tapi... Aku akan membamu ke rumahku." sahut Jongin, tidak terduga.

"Rumahmu?"

"Ya, aku ingin kau..."

"Stop, berhenti disini. Berhenti cepat... Kau berbohong lagi. Aku... Aku tidak akan mempercayaimu lagi. Kau bohong. Kau mengatakan akan mengantarku pulang..." Kyungsoo berontak, keras. Yang membuat motor sedikit oleng. dan hampir saja menabrak pengguna jalan yang melintas.

"Berhenti, turunkan aku... Sekarang..." Kyungsoo mengguncang dirinya. Lebih keras.

Jongin menghela nafas, dan lekas menghentikan motornya di tepi trotoar, dengan terpaksa.

Ciitt, ban motor Jongin berdecit keras. Motorpun berhenti.

Kyungsoo turun dari motor, dengan susah payah. Wajahnya menegang.

"Mulai hari ini, jauhi aku..." tukas Kyungsoo, keras. Setelah mengucapkan itu, dia langsung meninggalkan Jongin sendirian di motornya.

"Kyungsoo... apa maksudmu?" panggil Jongin, berusaha turun dari motornya.

"Jauhi aku."

Kyungsoo berlari melintasi jalanan, kebetulan ditempat mereka berhenti ada halte persinggahan bus. Dan kebetulan juga bus sedang berhenti dan sebentar lagi jalan. Kyungsoo naik kedalam bus dan duduk dikursi paling belakang.

'Maafkan aku Jongin. Kita memang harus saling menjauh. Untuk kebaikan kita berdua.' batin Kyungsoo, air matanya jatuh, namun lekas dihapusnya.

Jongin mematung di motornya, dia gagal membawa Kyungsoo bersamanya. Namja tersebut hanya bisa menatap bus yang membawa Kyungsoo menjauh.

"Kyungsoo, aku hanya ingin kau memaafkan kesalahanku dan kita bisa berteman baik." gumam Jongin pada dirinya sendiri, disertai desahan halus.

Namja tampan itu akhirnya memutuskan untuk pulang tanpa Kyungsoo. Lagipula dia bisa bertemu lagi dengan Kyungsoo disekolah.

Angin sepoi sepoi kembali menerbangkan rambut namja itu.

o

o

o

o

O...O...O...O

Kyungsoo tiba dirumahnya. Dalam perjalanan tadi namja itu menangis dalam diam di bus. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Keadaan mengharuskannya menjauhi Jongin. Agar video seksnya tidak tersebar. Dan yang masih misteri, dia belum tahu siapa orang yang mengambil dan menukar ponselnya. Dia sama sekali belum mempunyai bayangan, apa orang itu namja atau yeoja?

'Ya tuhan, tolonglah aku...'

Kyungsoo masih sibuk dengan pikiran dan masalahnya, tepat saat itu, ayahnya berdiri didepan pintu dengan pose melipat lengan di dada, menghalanginya.

"Dari mana saja kau?" tanya ayah Kyungsoo, terkesan horor.

"Eh, ehm... anu appa, aku dari... Dari rumah teman. Ada tugas." jawab Kyungsoo, terbata bata.

"Kenapa tidak pamit?"

"Maaf appa. Tapi biasanya aku langsung..."

"Kenapa ponselmu tidak aktif?"

"Eh, baterai ponselku mati appa, jadi..."

"Kau jangan seperti kakakmu itu. Tidak mau mendengar nasehat appa. Dan lihat sekarang apa yang terjadi padanya." potong ayah Kyungsoo, menyela anaknya.

Kyungsoo mengangguk dan menunduk. Masalah kakaknya, Yoona, kembali teringat.

"Cepat masuk. Temanmu menunggu diatas." tutup ayah Kyungsoo, lalu kembali masuk kedalam rumah.

Kyungsoo mendongak lagi, ingin bertanya teman yang mana. Tapi ayahnya itu sudah masuk kedalam. Dia mencoba memahami sikap ayahnya yang semakin bertambah keras pasca terbongkarnya kehamilan Yoona. Dia hanya bisa berharap waktu bisa mencairkan sikap ayahnya yang keras.

Namja bermarga Do itu masuk kedalam rumahnya dan naik ke atas kamarnya.

o

o

o

o

"Baek..."

Kyungsoo masuk kedalam kamarnya dan sudah ada temannya, Baekhyun, diatas ranjang. Berpose centil.

"Kyung, appamu kenapa? Dia hampir saja mengusirku pulang. Padahal biasanya aku memang langsung masuk dan tidak ada apa apa." Baekhyun bertanya, saat si empunya kamar sudah datang.

"Ada masalah Baek, begitulah." jawab Kyungsoo, mendesah. Dia membuka sweaternya dan duduk disamping Baekhyun.

"Masalah apa? Apa kau ketahuan pacaran dengan anak kompleks sebelah?" gumam Baekhyun, menebak nebak bercanda. Dia tertawa lebay.

"Masalah besar Baek, sangat besar." Kyungsoo tidak ikut tertawa, wajahnya serius.

Baekhyun lantas menghentikan tawa cetarnya itu.

"Masalah apa? Ceritakan padaku."

Kyungsoo memandang Baekhyun, berpikir sejenak dan memutuskan tidak menceritakan masalah yang menimpa kakaknya. Namun menggantinya dengan cerita versi yang lain.

"Yoona noona diusir oleh appamu? Kenapa bisa begitu?" tanya Baekhyun, setelah Kyungsoo sedikit bercerita.

"Bukan diusir, tapi hanya di suruh pindah rumah. Appa menyuruh Yoona noona kerumah saudara omma." jawab Kyungsoo, mengubah cerita dengan versinya.

"Kenapa begitu, apa Yoona noona melakukan kesalahan?"

"Sedikit. Yoona noona hanya disuruh tinggal disana dan fasilitas di kurangi, tanpa mobil dan sebagainya. Appa hanya ingin noona sadar dan disiplin. Kau mengerti kan Baek?" jelas Kyungsoo, memberikan alasan yang terlintas dipikirannya. Masalah kehamilan kakaknya adalah masalah pribadi keluarga. Dan sangat tidak tepat jika diceritakan kepada orang lain, walau teman sekalipun.

"Ya, aku paham." kata Baekhyun, disertai anggukan.

Kyungsoo tersenyum kepada sahabatnya itu. Terlintas dipikirannya untuk curhat masalah ponselnya yang hilang, ketakutannya jika videonya tersebar dan pesan yang menginginkan dirinya menjauhi Jongin. Tapi setelah menimbang, dia memutuskan tidak menceritakan masalahnya itu.

Hening.

Ponsel Baekhyun tiba tiba berdering, namja imut itu lekas mengangkatnya.

"Halo..." nada Baekhyun malas.

"Halo honey, kau dimana? Jangan katakan kau lupa dengan jadwal kita." kata suara namja diseberang sana.

"Hm, aku.. Aku sedang diacara arisan ommaku. Aku sibuk." jawab Baekhyun, asal saja, bohong.

"Jangan bohong honey. Aku tahu kau sedang free."

"Ehm... Bagaimana kalau besok saja Chanyeol. Aku benar benar sibuk."

"Tidak bisa. Ini konsekuensi kekalahkanmu honey. Jangan menolak."

"Tapi... Ah, baiklah. Aku segera kesana."

Baekhyun menutup telefon dengan kasar. Memasukkan kembali ponselnya itu disaku.

"Kau pacaran dengan Chanyeol?" tanya Kyungsoo tiba tiba, namja itu sejak tadi memperhatikan percakapan Baekhyun.

"Tentu saja tidak." jawab Baekhyun, heboh.

"Lalu, kenapa taruhannya harus seperti itu?" tanya Kyungsoo lagi, yang sudah tahu pembayaran taruhan antara Baekhyun dan Chanyeol, yaitu seks.

"Begitulah, aku ingin sesuatu yang beda dan ekstrim. Tapi aku kalah... Jadi beginilah." desah Baekhyun.

Untuk diketahui, Baekhyun dan Chanyeol memang sama sekali tidak pacaran, hanya sekedar junior dan senior disekolah saja. Mereka sering berinteraksi disekolah, karena Baekhyun merupakan namja yang blak blakan dan Chanyeol adalah namja yang suka membully.

Chanyeol suka membully Baekhyun, dengan kata kata dan gerak tubuh, tapi Baekhyun tentu saja melawan dan membalas. Dia tidak mau diremehkan. Hingga akhirnya mereka taruhan bola dengan hasil akhir kekalahan Baekhyun.

Baekhyun mau tidak mau harus menjadi uke Chanyeol selama sebulan dan melakukan adegan seks yang dijadwalkan sesuai kemauan Chanyeol. Dan parahnya lokasi adegan mereka bukan di kamar, tapi ditempat tempat lain, misalnya di parkiran, toilet, gudang dan sebagainya.

"Baiklah Kyung, aku pulang dulu. Jerapah sialan itu sudah menungguku... Padahal aku baru saja datang kesini." kata Baekhyun, pamit.

"Iya Baek. Tapi Chanyeol tidak menyakitimu kan?"

"Sakit tentu saja, sakit sakit nikmat... Haha...hahha.." jawab Baekhyun, tertawa membahana.

Setelah itu, namja bereyeliner tersebut meninggalkan Kyungsoo dikamarnya. Turun dan pergi menemui Chanyeol dirumahnya.

o

o

o

o

O...O...O...O

Besoknya.

Kyungsoo memasuki ruangan kelasnya. Namja imut itu duduk di bangkunya dengan pelan. Sejak semalam dia menangis dalam diam dikamarnya, yang mengakibatkan matanya sembab seperti baru bangun tidur.

Baekhyun juga ada diruangan itu, namja tersebut sejak tadi hanya bisa duduk dibangkunya. Holenya perih, karena sejak semalam dia dan Chanyeol menghabiskan malam dengan kegiatan 'yess no'.

Kyungsoo menatap bangku Jongin, lagi lagi bangku namja itu kosong di jam pertama. Jongin membolos lagi.

Beberapa menit kemudian, Guru mata pelajaran Matematika masuk. Pelajaranpun berlangsung, semua siswa fokus dengan materi pelajaran yang rumit. kecuali Kyungsoo.

Namja itu terus memperhatikan tempat duduk Jongin yang kosong, entah mengapa ada rasa rindu yang membuncah dalam dirinya. Dia sangat ingin melihat Jongin sekarang. Kembali terbayang bagaimana moment momentnya bersama Jongin selama beberapa hari terakhir ini,

Moment yang membuat jantungnya berdegup kencang, dahinya berkeringat, dadanya bergemuruh dan suhu tubuhnya naik. Semua rasa yang sulit dijelaskan dan selalu datang tiba tiba.

'Jongin ah...' Kyungsoo membatin.

Dia menyuruh Jongin menjauhinya, tapi dari hati terdalamnya dia sulit menjauh dari namja tampan itu. Sangat sulit.

Beberapa jam kemudian, jam pertama dan kedua pelajaran berakhir. Semua siswa dan siswi disana keluar kelas, kecuali Kyungsoo dan Baekhyun.

"Kyung, apa kau mau ke kantin?" tanya Baekhyun, meringis tertahan, dia merogoh tas sekolahnya untuk mengambil uang.

"Tidak Baek. Aku tidak lapar. Kau pergi saja." jawab Kyungsoo, lesu.

"Baiklah kalau begitu, tapi apa kau mau kubungkuskan makanan?"

"Tidak Baek."

"Mungkin es krim?"

"Tidak Baek."

"Atau jus mengkudu?"

"Baek..."

"Oh, baiklah. Aku pergi... aku pergi." Baekhyun berkata cepat, sambil tertawa. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan tertatih keluar kelas.

Kyungsoo mendesah dibangkunya. Dia sendirian sekarang dikelas.

Sunyi, sepi.

Namun tiba tiba seorang namja datang dan langsung masuk kelas tiba tiba, namja itu berjalan tegesa gesa.

"Yah, kelas sudah selesai..." gumam namja itu saat melihat kelas kosong, tidak benar benar kosong karena masih ada Kyungsoo didalam.

Kyungsoo sedikit kaget dengan kedatangan si namja yang tiba tiba, matanya sedikit membulat.

'Jongin...'

Si namja tersebut memang Jongin. Lagi lagi dia datang terlambat dan tidak mengikuti pelajaran pertama dan kedua. Matanya kemudian mengarah ke Kyungsoo, lalu tersenyum.

"Ah, Kyungsoo..." kata Jongin, berjalan mendekati Kyungsoo, dahinya sedikit berkeringat, karena baru saja memanjat tembok belakang sekolah lagi.

Sesuai peraturan sekolah, siswa dan siswi tidak diperkenankan masuk jika pelajaran sudah berlangsung. Jadi jalan satu satunya, Jongin harus kembali memanjat tembok belakang sekolah agar bisa masuk.

Kyungsoo tidak membalas sapaan Jongin, sebenarnya dia ingin bertanya kenapa namja itu lagi lagi terlambat, tapi niatnya itu diurungkan.

Jongin mendudukkan diri disamping Kyungsoo, bangkunya sendiri.

"Kyungsoo, apa kau tidak ke kantin?" tanya Jongin, pertanyaan yang juga dilontarkan oleh Baekhyun beberapa menit yang lalu.

Kyungsoo tidak menjawab, dia menoleh kearah jendela kelas, buang muka.

"Kita bisa sama sama. Atau kau mau kubelikan sesuatu?" lanjut Jongin.

Lagi lagi Kyungsoo tidak menjawab, namun seperti biasa jantungnya berdegup kencang lagi jika Jongin ada didekatnya.

"Atau kau mau..."

"Diamlah Kim Jongin, tolong jauhi aku... Pergi dariku." bentak Kyungsoo, suaranya menggema diruangan tersebut.

"Kyungsoo, kau selalu begitu padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku..." kata Jongin, merasa Kyungsoo semakin marah padanya.

Kyungsoo ingin berteriak lagi, namun ponsel disakunya bergetar, tanda ada pesan singkat yang masuk. Namja itu lekas menarik ponsel itu dan membaca pesan singkat yang masuk tersebut :

'Ini peringatan terakhir, jauhi Kim Jongin. Jangan berbicara padanya. Dan aku minta kau pindah sekolah tanpa memberitahunya, pindah dan keluar dari kota Seoul. Kalau tidak, kau bisa tahu sendiri akibatnya.'

Kyungsoo membaca pesan singkat yang masuk itu, dia baru sadar bahwa pesan itu dikirim dengan menggunakan nomor ponselnya.

Namja itu dengan cepat mengarahkan pandangannnya ke pintu kelas, lalu ke jendela, tapi nihil. Tidak ada seorangpun yang mencurigakan dan mengintainya.

Jongin yang sejak tadi memperhatikan tingkah aneh Kyungsoo, bertanya.

"Kyungsoo, ada apa?"

Kyungsoo berdiri dan berjalan cepat ke jendela kelas, melongok keluar, tapi lagi lagi tidak ada orang. Hanya beberapa siswa dan siswi yang melintas secara normal, tidak ada yang patut dicurigai. Namja itu mencoba menelfon nomornya, namun hanya pesan tidak aktif yang diterimanya. Nomornya itu tidak bisa dihubungi.

'Aneh, apa pesan yang dikirim itu hanya kebetulan saja saat ada Jongin disampingku?' Kyungsoo bertanya tanya dalam hati.

"Ada apa Kyungsoo?" ulang Jongin, masih tidak paham.

Kyungsoo untuk kesekian kalinya tidak menjawab pertanyaan Jongin. Dia resah dan gelisah, ponsel ditangannya tergenggam erat, ingin rasanya dia melemparkannya ke lantai. Kemudian, ponsel itu bergetar lagi, pesan singkat kedua masuk :

'Aku memberimu waktu sampai sore, urus kepindahanmu. Dan buat Kim Jongin tidak bisa menemuimu lagi. Kalian berdua harus menjauh. Aku tidak main main. Video seksmu akan ku kirim ke keluargamu jika perintahku tidak kau laksanakan.'

Mata Kyungsoo berkaca kaca setelah membaca pesan singkat tersebut, keadaan makin rumit dan sulit saja.

Tanpa ba bi bu, Kyungsoo menarik tas sekolahnya dan berjalan cepat ke luar kelas, tapi Jongin yang ada disampingnya dengan sigap menahan dan memegang pergelangan tangannya.

"Kyungsoo, apa ada yang menerormu? Katakan padaku." ucap Jongin, yang sedari tadi memperhatikan sikap dan bahasa tubuh namja kecil itu. Terutama ponsel berwarna putih ditangan Kyungsoo.

Kyungsoo tidak meronta, dia membiarkan pergelangan tangannya dipegang. Lalu menatap wajah Jongin dengan serius.

"Jongin, kau pernah mengatakan bahwa aku bisa meminta apa saja asal aku memaafkan perlakuanmu saat di hotel malam itu." kata Kyungsoo, berusaha sebiasa mungkin.

"Ya, itu benar. Kau bisa meminta apa saja."

"Baiklah, dan sekarang... Aku minta kau menjauh dariku, tidak mendekatiku dan melupakan bahwa kita pernah saling mengenal. Aku memaafkanmu..." setelah berkata itu, air mata Kyungsoo yang sejak tadi ditahan, tumpah juga, berlinang deras.

Namja bermata bulat itu lalu menginjak kaki Jongin dengan keras, yang membuat si namja menjerit kesakitan.

"Aww, ahh..."

'Maafkan aku Jongin...' batin Kyungsoo, yang tangannya sudah terlepas dan bebas. Dia berlari, keluar dari kelas sambil menangis. Tidak peduli dengan siswa dan siswi yang memandang heran padanya disepanjang jalan.

"Kyungsoo, tunggu... Ada apa ini, sikapmu semakin aneh..." sahut Jongin, memanggil Kyungsoo. Namja itu menahan sakit di kakinya dan lekas mengejar Kyungsoo.

Jongin merasa bahwa Kyungsoo dalam dilema dan masalah sekarang ini. Masalah yang mungkin sama besarnya dengan masalah yang menimpa kakak perempuan namja itu.

Dia akan mencari tahu.

o

o

o

o

O...O...O...O

Malampun tiba.

Kyungsoo beberapa jam yang lalu meninggalkan sekolahnya, dan otomatis tidak mengikuti mata pelajaran jam keempat hingga jam terakhir. Hingga malam tiba, namja imut tersebut tidak pulang kerumahnya.

Langit mendung mengiringi langkahnya yang pelan dan gontai, udara dingin yang menusuk tulang tidak dipedulikannya. Hatinya galau, gundah dan resah. Berbagai masalah yang menimpanya membuat semangat hidupnya hilang.

'Ya tuhan, aku harus bagaimana?' Kyungsoo membatin, dia menelusuri jembatan Banpo yang seperti tidak berujung itu.

Wajah Jongin terlintas dibenaknya, bayang bayang namja tampan itu sulit hilang walau dia sudah berusaha melupakannya. Rasa itu kembali muncul, rasa yang hanya timbul jika namja tan itu ada didekatnya.

Kyungsoo perlahan menghentikan langkahnya, dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Gerimis sudah mulai turun dan diikuti dengan suara gemuruh petir dan hujan deras.

Tar, dressstt..

Kyungsoo membiarkan dirinya kehujanan, membiarkan baju seragam dan tasnya basah kuyup. Dia sama sekali tidak peduli.

Namja itu mematung di bibir jembatan, pandangannya kosong. Tepat saat itu, timbul pikiran pendeknya.

"Lebih baik aku mati, dan semuanya berakhir..." gumam Kyungsoo, air matanya jatuh berlinang dan air hujan menyatu dengan air matanya itu.

Kyungsoo memutuskan akan bunuh diri dengan melompat dari jembatan. Itulah jalan terakhir yang dipikirkannya.

'Omma, appa, Yoona noona... Jongin.. Maafkan aku.' Kyungsoo memejamkan mata indahnya, membiarkan dirinya melemas,

Jatuh,

Dan...

"Uh, ap.. apa yang kau lakukan?"

Bugh.

Seorang namja tiba tiba memeluk tubuh Kyungsoo dari belakang, memeluknya dengan erat. Tubuh basah kuyup mereka menyatu. Plang besi jembatan menahan tubuh mereka berdua.

Kyungsoo membuka pejaman matanya, seseorang menggagalkan niatnya bunuh diri.

"Jo.. Jongin.."

"Kyungsoo, apa yang kau lakukan. Kau bisa mati jika melompat." namja tersebut lagi lagi adalah Jongin, namja yang selalu hadir untuk Kyungsoo. Terlambat sedikit saja, bisa dipastikan bahwa tubuh Kyungsoo akan jatuh dan hidup namja itu akan berakhir.

"Lepaskan tubuhku. Lepaskan... Lepaskan..." Kyungsoo berontak keras.

"Aku mencarimu sejak tadi, ternyata kau disini."

"Lepaskan aku..."

"Tidak, aku akan memelukmu sampai kau tenang." timpal Jongin. Pelukannya semakin erat saja. Dagunya mengarah ke ceruk leher Kyungsoo.

"Lepaskan..."

"Tidak."

Hening, hanya suara hujan yang terdengar.

Pelukan hangat dan lembut Jongin tersebut perlahan membuat Kyungsoo tenang. Selalu seperti itu. Kehadiran seorang Kim Jongin akan selalu membuat seorang Do Kyungsoo merasa nyaman, aman dan tentram.

Hening lagi.

"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa? Berbagilah denganku... Berceritalah. Mungkin aku bisa membantu." gumam Jongin, tepat ditelinga Kyungsoo.

Kyungsoo tidak menjawab, namja itu menangis dalam diam, suara air hujan meredam isakannya.

"Tolong katakan sesuatu..." ulang Jongin, lembut. Pelukannya semakin dipererat.

Isakan Kyungsoo semakin menjadi, air matanya mengalir dan terhapus oleh air hujan.

"Ka.. Kau ti.. tidak akan bi.. bisa membantu.. tidak bisa." isak Kyungsoo, terbata bata.

"Aku akan berusaha membantumu. Percayalah..." Jongin meyakinkan Kyungsoo agar jujur dan mengungkapkan semuanya.

Dert..dert.. Dert.. Air hujan terus mengguyur. Kyungsoo terdiam lagi, bibirnya bergetar, ingin mengucapkan sesuatu, tapi sangat sulit.

Jongin perlahan melepaskan pelukannya. Dia menuntun Kyungsoo yang sudah tenang itu ke tempat lebih aman, tapi masih dalam area bibir jembatan.

Namja tampan itu meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi Kyungsoo, wajah mereka saling berhadapan.

"Katakan saja, aku akan membantu sebisaku..." ucap Jongin,

Kyungsoo menundukkan wajahnya sambil terisak, air hujan menyamarkan rona wajahnya yang memerah.

"Aku... Aku..."

"Katakanlah."

Kyungsoo menarik nafas lagi dan memutuskan untuk bercerita dan jujur.

"Pon.. ponselku ditukar oleh seseorang. Ponselku yang sebenarnya hilang, dan video seks kita masih ada diponsel itu..." Kyungsoo menjeda sejenak kalimatnya, mengambil nafas.

Jongin tidak menyela Kyungsoo, dia akan mendengarkan hingga namja itu bercerita hingga akhir.

"Dan orang yang.. yang mengambil ponsel itu mengancamku. Dia.. dia menyuruhku untuk... untuk menjauhimu..."

"Menjauhimu, aku harus pindah sekolah. Agar.. agar kita tidak bertemu lagi... Kalau tidak, video seks itu akan disebarkan dan ditunjukkan kepada kedua orangtuaku... aku.. Aku tidak ingin itu terjadi, omma dan appaku pasti akan kecewa dan terpukul, masalah keluargaku sudah sangat banyak..." Kyungsoo terisak isak lagi, bibir tebalnya semakin bergetar.

Jongin belum menyela kalimat Kyungsoo, karena dia tahu kalimat namja itu belum selesai. Sebagai gantinya, dia mengelus pipi Kyungsoo, lembut. Dan memberikan isyarat agar Kyungsoo menyelesaikan ceritanya.

"Aku... aku sudah memilih untuk menjauhimu... Tapi... tapi aku.. aku tidak bisa... aku... aku.. ahh..." isakan Kyungsoo semakin keras.

Dan secara mendadak Kyungsoo menghamburkan dirinya dan memeluk tubuh basah dan seksi Jongin, memeluk dengan sangat erat. Isakannya semakin keras.

"Aku tidak bisa men.. menjauh darimu, karena... karena aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu Jongin..." akhirnya Kyungsoo mengungkapkan rasa yang selama ini membuncah dalam dadanya.

Rasa yang selalu muncul itu adalah rasa cinta dan sayang, yang hanya untuk namja itu, Jongin. Namja yang mengambil first timenya dalam keadaan mabuk.

Deg.

"Kau mencintaiku?" tanya Jongin, nyaris tidak terdengar.

"Y.. Ya, aku mencintaimu Jongin ah."

Guyuran hujan semakin deras saja.

o

o

o

o

o

o

o

TBC

O...O...O...O...O...O...O

Tidak berlama lama, Terima kasih atas Review dan responnya di ff ini, gomawoo ya. FF ini fast update lagi karena review kalian. Maaf jika mengecewakan...

Salam

Han Kang Woo