Ch8

VIDEO TAPE

By : Han Kang Woo

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, EXO Member, etc

Main Cast : KaiSoo

Genre : Romance, Friendship

Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja

Rated : M plus, NC

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

o

o

o

o

Keheningan dan deras hujan menyatu padu. Jongin dan Kyungsoo masih berpelukan, dengan Kyungsoo yang melingkarkan kedua tangannya dipunggung Jongin.

Baru saja Kyungsoo mengungkapkan perasaannya, rasa yang selama ini disimpannya sendiri. Rasa yang muncul seiring waktu dan seringnya Jongin bertemu dengannya.

Itulah jawaban dari degup jantung Kyungsoo yang tidak beraturan, nafas sesak, keringat didahi dan suhu tubuh meninggi. Gejala yang mirip demam itu muncul karena namja kecil itu mencintai atau jatuh cinta, hanya kepada satu namja, yaitu Kim Jongin.

Belum ada kata kata lagi yang terucap pasca pengakuan cinta Kyungsoo, namun perlahan Jongin membalas pelukan Kyungsoo. Lengan kokoh namja itu naik dan membalas pelukan tiba tiba Kyungsoo tadi.

"Terima kasih karena mencintaiku..." gumam Jongin, meneduhkan dan lembut.

Hanya itu, tidak ada kata lain. Jongin sama sekali tidak menunjukkan balasan apa apa, maupun penolakan. Semuanya seperti menggantung.

Kyungsoo mematung, dia sebenarnya mengharapkan jawaban Jongin, jawaban apakah namja tampan itu juga mencintainya atau tidak. Tapi dia tidak boleh egois, pengungkapan cintanya itu sudah cukup membuatnya tenang dan lega.

"Kau tenang saja, aku akan mencari seseorang yang menerormu itu. Ponselmu akan kembali..." kata Jongin lagi, dia tidak bisa menjamin video seks di ponsel itu bisa kembali tanpa tersalin ditempat lain. Tapi yang pasti dia akan mencari pelaku yang meneror Kyungsoo.

Kyungsoo tidak menimpali, namja itu memejamkan matanya, masih menanti jawaban Jongin. Ya atau tidak.

"Ayo kita ketempat teduh, nanti kau sakit." gumam Jongin,

"Ahh..." Kyungsoo mendesah, jawaban itu tidak kunjung muncul. Jongin sama sekali tidak menyinggung lagi pernyataan cintanya beberapa saat yang lalu.

Kyungsoo melepaskan pelukannya, segukan dan isakannya masih terdengar, walau sudah perlahan mereda. Air matanya terhapus air hujan.

Jongin tersenyum pada Kyungsoo, lalu melepaskan tas pungggungnya, merubah posisi tas punggung itu kebagian dada, seraya berjongkok kemudian.

"Naiklah di punggungku... Aku akan menggendongmu." sahut Jongin,

Kyungsoo tidak bergerak, namja itu mematung.

"Naiklah, aku tidak ingin kau sakit. Hujan semakin deras." ulang Jongin, masih dengan posisi menjongkoknya.

Kyungsoo mengusap air hujan diwajahnya, lalu bergerak dan naik ke punggung Jongin, namja itu akhirnya mau digendong tanpa dipaksa.

Jongin tersenyum lagi. Lalu kembali berdiri dengan Kyungsoo dipunggungnya, tangan namja bermata bulat itu melingkar dilehernya.

Dert... Dert..

Jongin melangkah pelan, namun tegap dan mantap. Dia melewati motor besarnya yang diparkir acak ditepi trotoar dekat jembatan. Waktu itu dia sangat tergesa gesa karena melihat Kyungsoo yang hendak lompat dari jembatan, jadi posisi motornya terparkir tidak bagus.

Jongin terus melangkah, sudah agak jauh dari area jembatan. Beberapa kendaraan roda empat melintas, dalam guyuran hujan. Tidak jauh dari posisi mereka, sebuah kios atau toko yang sudah tutup dengan penerangan. Toko itu mempunyai cukup tempat untuk berteduh. Jongin mengarahkan langkahnya kesana.

Beberapa menit kemudian, Jongin tiba di toko tertutup itu. Dia menurunkan Kyungsoo dipunggungnya, sedikit susah, karena Kyungsoo tidak bergerak.

"Kyungsoo, kita berteduh sementara disini..." kata Jongin, memberi tanda Kyungsoo untuk turun.

Namun tidak ada jawaban dan pergerakan dari namja kecil itu, hanya nafas teratur yang terdengar.

"Ahh, ternyata kau tidur." gumam Jongin, seraya tersenyum. Dia akhirnya berusaha menurunkan Kyungsoo dari punggungnya dengan pelan dan lembut. Menyandarkannya ke dinding toko.

Jongin mendesah halus, lalu duduk disamping Kyungsoo. Namja tampan itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah jaket tebal. Kebetulan tas tersebut anti air, jadi isi dalamnya sama sekali tidak basah.

Jongin memakaikan jaketnya itu ke tubuh Kyungsoo yang basah, mirip selimut. Dia sebenarnya ingin mengganti baju Kyungsoo yang basah itu, tapi tentu saja tidak mungkin.

"Kasihan kau Kyungsoo..." Jongin menggumam pelan. Iba dengan keadaan Kyungsoo.

Jongin dan Kyungsoo berteduh berdua di toko yang tutup itu. Jongin menyandarkan kepala Kyungsoo ke bahunya. Penampakan mereka mirip adegan dalam drama Korea populer. Udara dingin terus menusuk tulang.

Hujan yang awalnya sangat deras, perlahan mereda. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah sangat malam.

Jongin menoleh dan memandang wajah Kyungsoo. Lagi lagi senyuman terpatri dibibirnya. Namja itulah yang baru saja menyatakan cinta padanya.

Ponsel Kyungsoo menyembul dari dalam saku celana namja itu, Jongin tanpa pikir panjang kemudian mengambil ponsel itu. Sesuai pengakuan Kyungsoo, bahwa ponsel namja itu ditukar oleh seseorang dan orang itu melakukan teror disertai ancaman.

Ponsel itu walaupun basah, namun tidak mati. Keadaan itu tentunya merupakan keuntungan bagi Jongin. Namja tersebut menekan tombol dan membuka pesan dalam ponsel itu. Dia membaca cepat 3 pesan yang ditujukan untuk Kyungsoo.

Jongin menggeleng kasar, pesan itu memang sangat menyakitkan dan propokatif.

"Aku berjanji akan mengungkap siapa orang yang meneror dan mengancammu Kyungsoo..." tukas Jongin, mengepalkan tangannya.

Dia menyalin nomor ponsel si peneror itu yang notabene nomor itu adalah nomor milik Kyungsoo. Dimana nomor hp dan ponsel namja itu ada pada si peneror misterius tersebut.

Jongin mencoba menghubungi nomor itu, namun nihil, nomor tersebut tidak aktif. Dia mencoba lagi, tapi tetap sama saja.

"Baiklah, aku akan mengungkap ini di sekolah besok." gumam Jongin lagi, sangat yakin bahwa pelakunya pasti teman sekolah mereka.

Namja tersebut berdiri, mengarahkan tangannya ke udara, mengecek hujan yang mereda.

"Ayo Kyungsoo, kita pulang. Aku akan mengantarmu pulang." Jongin menoleh ke arah Kyungsoo.

Tidak ada jawaban dari Kyungsoo, namja itu masih lelap.

Jongin mendekati Kyungsoo dan berjongkok disamping namja itu, mengecek dahi Kyungsoo.

"Ah, kau demam.. Bagaimana ini..."

Jongin panik, ternyata sejak tadi Kyungsoo panas, suhu tubuhnya tinggi. Hal itu dikarenakan namja itu terkena air hujan selama beberapa jam.

"Aku akan membawamu ke rumahku..."

Dan akhirnya, Jongin kembali menggendong Kyungsoo dan membawa si mata kelereng itu ke motornya yang terparkir.

Jongin mendudukkan Kyungsoo dibagian depan, lalu dia sendiri duduk dibelakang namja itu. Mengulangi posisi saat kabur dari area belakang sekolah kemarin.

Jongin tancap gas, dengan tangan kanan mengatur kemudi dan tangan kiri memegang tubuh Kyungsoo, agar tidak jatuh.

Motornya melaju dengan kecepatan sedang, kembali membelah jalanan kota Seoul yang mulai ramai pasca hujan mereda.

o

o

o

o

O...O...O...O

Jongin tiba dirumahnya yang mewah dan besar. Dia memarkirkan motornya didepan halaman rumahnya. Namja itu menggendong Kyungsoo untuk masuk kerumahnya.

"Tuan muda, tuan perlu bantuan?" tanya seorang pelayan dirumah Jongin, pelayan itu terpogoh pogoh mendekati tuannya.

"Tidak terima kasih... Masukkan saja motorku ke garasi." jawab Jongin,

"Baik tuan muda."

"Oh, hampir lupa... Bagaimana keadaan appaku?" tanya Jongin, menghentikan sejenak langkahnya.

"Sama saja tuan muda. Tuan besar sedang tidur sekarang." jawab si pelayan, menerangkan.

"Baiklah, pantau terus keadaan appaku. Sampaikan pada suster untuk terus mengecek kondisi appaku." perintah Jongin.

"Baik tuan muda." pelayan itu mengangguk dan pamit mundur.

Setelah itu, Jongin kembali melangkah dengan Kyungsoo yang ada digendongannya. Dia membawa Kyungsoo masuk ke dalam kamar pribadinya.

Dia lantas menidurkan namja kecil yang sedang demam itu di atas kasur. Membuka bajunya yang basah dan menyelimutinya. Dia juga mengambil baskom berisi air dingin dan alat kompres demam. Lalu mengompres dahi Kyungsoo. Semua dikerjakannya sendiri, tanpa meminta bantuan pelayan.

"Tidurlah, semoga panasmu lekas turun." gumam Jongin, mengelus rambut jatuh Kyungsoo, dia akan menyuruh Kyungsoo meminum obat saat namja bermata bulat itu bangun.

Suasana hening.

Jongin merasa bersalah pada Kyungsoo, karena dirinyalah seks yang tidak terencana saat dihotel itu terjadi dan terdokumentasi menjadi sebuah video. Dia sama sekali tidak menyalahkan Kyungsoo yang tidak menghapus video itu. Dia paham, bahwa Kyungsoo tentunya hanya ingin menyimpan video satu satunya itu menjadi koleksi pribadi.

Dan rasa bersalah selanjutnya adalah dia sama sekali belum memberikan tanggapan dan jawaban atas pernyataan cinta Kyungsoo untuknya. Entahlah, dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Maafkan aku Kyungsoo..." gumam Jongin lagi, nyaris tidak terdengar.

Kyungsoo tertidur dengan nyenyak malam itu, disampingnya ada Jongin yang setia bersamanya. Mereka tidur berdua dalam satu ranjang. Namun belum ada ikatan apa apa. Mereka berdua masih sekedar teman, teman biasa, teman sekolah, teman sekelas dan teman sebangku. Tidak lebih.

Jongin berjanji pada dirinya akan menyelesaikan masalah Kyungsoo besok pagi di sekolah.

Namja tampan itu akhirnya terlelap dan memasuki alam mimpi, mengarungi malam.

o

o

o

o

O...O...O...O

Pagi tiba.

Jongin terbangun pagi pagi sekali, disebelahnya Kyungsoo belum bangun. Dia mengecek suhu tubuh namja itu dengan meletakkan telapak tangan ke dahinya.

"Ah, sudah normal... Syukurlah." Jongin tersenyum lega, ceria. Andai saja keadaan Kyungsoo belum membaik, dia berencana membawa namja itu ke rumah sakit.

Jongin beranjak dari ranjangnya, dan lekas ke kamar mandi, membersihkan tubuh alias mandi pagi.

Setelah mandi, namja tersebut mengambil seragam pakaian barunya, karena seragam yang kemarin basah.

Dia sejenak menatap penampilannya di cermin besar, sebelum berpakaian. Matanya terfokus pada tato bertuliskan KAI dipinggang bagian kirinya, tato itu hanya berukuran kecil. Dia tersenyum kecil dan menoleh kearah Kyungsoo yang masih tidur.

"Aku masih ingat kau menyuruhku telanjang dada hanya untuk melihat tatoku ini... Itu sangat menggelikan dan lucu." kata Jongin pada dirinya sendiri.

Namun senyumannya perlahan pudar, dia mendekati Kyungsoo dan duduk di sisi ranjang.

"Maafkan aku Kyungsoo... Mungkin kau masih mengiraku pura pura lupa malam itu saat di kamar hotel. Tapi, aku benar benar tidak ingat. Dan karena kejadian itu, aku sepertinya tidak boleh minum lagi. Aku tidak ingin peristiwa itu terulang. aku menjadi orang berbeda saat mabuk... Maafkan aku Kyungsoo." Jongin menggumam pelan.

Jongin mendesah halus, memegang pergelangan tangan Kyungsoo yang lemas.

"Tapi... Aku sangat beruntung, aku melakukan seks itu denganmu. Bukan orang lain... Kau namja yang baik Kyungsoo." lanjut Jongin, meremas pelan tangan Kyungsoo, kemudian melepaskannya.

Jongin lantas berdiri, memastikan bahwa Kyungsoo sudah baik baik saja. Setelah itu berjalan menuju pintu kamarnya. Dia menoleh sekali lagi dan menatap Kyungsoo.

"Istirahatlah, aku akan menyelesaikan semuanya." tutup Jongin, mantap dan yakin.

Namja itupun keluar dari kamarnya, dan menutup pintu dengan perlahan.

o

o

o

o

Jongin tidak langsung berangkat ke sekolahnya. Namja itu terlebih dahulu mengunjungi ayahnya yang sedang terbaring sakit di kamar.

"Bagaimana keadaan appa?" tanya Jongin, sesaat namja itu tiba dan duduk disamping ayahnya.

Sang ayah menarik nafas dalam, lalu menatap anak satu satunya itu.

"Seperti biasa Jongin, seperti biasa." jawab ayah Jongin, sangat pelan.

"Appa jangan berpikir macam macam, kesembuhan appa adalah yang terpenting."sahut Jongin, memberikan semangat pada ayahnya.

Ayah Jongin terkena penyakit komplikasi, antara maag, jantung dan stroke. Penyakit yang sering menyerang diusia senja. Pemilik perusahaan di kota Bucheon itu sudah lama terbaring dan menyerahkan perusahaannya kepada asisten kepercayaannya untuk di kelola. Baru seminggu lamanya dia dan anaknya pindah ke kota Seoul. Dan otomatis Jongin juga harus pindah sekolah. Sedangkan ibu Jongin sudah lama meninggal, sudah 5 tahun yang lalu.

"Berangkatlah ke sekolahmu. Kau pasti terlambat lagi." ucap ayah Jongin, mencoba memegang tangan anaknya, namun gagal.

Perlahan Jongin yang meletakkan tangan ayahnya ketangannya, disertai desahan.

"Terlambat sedikit tidak masalah appa." timpal Jongin. Itulah sebabnya selama ini dia selalu telat datang di jam pertama sekolahnya. Karena dia terlebih dahulu berbicara dan menemani ayahnya yang sakit.

Jongin mendapatkan firasat bahwa ayahnya tidak lama lagi meninggalkannya, jadi sedapat mungkin jika ada waktu, dia ada disamping ayahnya.

"Appa sebenarnya menginginkan kau mengenalkan calonmu pada appa." kata ayah Jongin, tersenyum.

"Jangan bahas itu lagi appa."

"Itu penting Jongin. Siapapun yang kau bawa dan perkenalkan kepada appa, appa pasti akan merestuimu. Asal kau bahagia."

Jongin terdiam sejenak mendengar penuturan ayahnya itu. Selama ini dirinya memang belum pernah mengenalkan kekasih atau pacarnya pada sang ayah. Dia selalu tertutup masalah pribadi dan asmara.

Setelah cukup lama bercakap dan berbincang dengan ayahnya. Jongin minta pamit untuk berangkat kesekolah. Dia sama sekali tidak menceritakan membawa seseorang ke rumah tadi malam.

Dan akhirnya, namja tampan berkulit seksi itu berangkat ke sekolahnya, masih dengan kuda besi alias motor besarnya yang setia menemani.

o

o

o

o

O...O...O...O

Jongin duduk dibangkunya dengan tenang, dia berhasil masuk dan berikan toleransi oleh guru walau terlambat. Kali ini adalah jadwal mengajar saem Luna, guru cantik yang mengasuh mata pelajaran sastra dan bahasa.

Jongin meletakkan sebuah miniatur pinguin di bangku milik Kyungsoo yang kosong. Miniatur binatang kutub itu dibelinya untuk digunakan gantungan kunci motor, tapi setelah menimbang, dia batal menjadikannya gantungan kunci. Entah mengapa miniatur pinguin itu mengingatkannya pada seseorang, dan orang itu adalah Kyungsoo.

Ditangannya tergenggam erat sebuah ponsel berwarna putih, ponsel dari saku Kyungsoo. dia sengaja membawanya, untuk menyelidiki dan mengungkap siapa orang yang meneror serta mengancam Kyungsoo.

'Aku akan membuat perhitungan dengannya...' batin Jongin, geram dalam hati.

Tidak jauh dari Jongin, si Baekhyun terus menoleh dan melirik kearah bangku Kyungsoo yang kosong. Baru kali ini Kyungsoo tidak masuk dan tidak ada kabar.

"Hei hitam, apa kau melihat Kyungsoo?" kata Baekhyun, memelankan suaranya, tapi masih bisa terdengar oleh Jongin.

"Dia sakit." jawab Jongin, juga dengan suara pelan.

"Sakit? Kapan... Dia tidak mengabariku."

"Dia dirumahku sekarang. Kau tenang saja."

"Apa kau menculiknya? Jangan macam macam dengan temanku." nada Baekhyun sedikit meninggi, namun belum mengalihkan perhatian seisi kelas.

"Tentu saja tidak. Dia temanku." jawab Jongin, tersenyum kecil.

"Apa kalian pacaran?" tanya Baekhyun, berani dan vulgar.

"Ten.. tentu saja tidak." jawab Jongin, mendadak gagap. Padahal dia bicara jujur.

"Lalu kenapa Kyungsoo dirumahmu? Dia tidak pernah mengunjungi rumah teman sekelas lain, begitu juga dengan rumahku." heran Baekhyun.

"Ceritanya panjang. Aku akan menjelaskannya kapan kapan. Kau tenang saja, Kyungsoo akan baik baik saja."

"Ok kalau begitu. Kyungsoo kuserahkan padamu. Jaga dia dengan baik." kata Baekhyun, lebay, seakan dirinyalah ibu kandung Kyungsoo.

"Tentu saja." balas Jongin.

Percakapan singkat itupun berakhir, karena saem Luna selesai menerangkan pelajaran dan menyuruh siswa siswi bertanya.

Baekhyun membatalkan niatnya mencari tahu asal usul dan identitas Jongin yang pernah diminta oleh Kyungsoo. karena sepertinya sahabatnya itu sudah tahu, terbukti dengan keberadaan sahabatnya itu dirumah Jongin sekarang.

o

o

o

o

Dari jam pelajaran pertama hingga kedua, belum ada tanda si peneror yang mengirimkan pesan singkat ke ponsel yang dipegang Jongin.

Sebenarnya dia bisa saja meminta operator seluler melacak keberadaan pengguna nomor itu, tapi dia bersikeras akan berusaha sendiri mengungkapnya. Terlebih ada video seks yang masih harus disembunyikan dan orang luar tidak boleh tahu.

Waktu istirahat pun tiba, semua siswa dan siswi keluar kelas, kecuali Jongin dan Baekhyun. Baekhyun mengajak Jongin untuk makan dikantin, tapi namja itu menolak secara halus. Dan akhirnya Baekhyun pergi sendiri.

Hening, tinggalah Jongin sendirian.

Menunggu, menunggu dan menunggu. Itulah kegiatan yang sejak tadi dilakukan Jongin. Namja itu memegang erat ponsel putih dibawah mejanya, menunggu.

Masih menunggu,

Menunggu.

Dan.

Ponsel itu mendadak bergetar, ada sebuah pesan singkat yang masuk, Jongin bersemangat dan dengan cepat membaca pesan itu :

'Bagus, ketidakhadiranmu di sekolah menjadi tanda bahwa kau mengikuti perintahku. Tapi, aku ingin melihat berkas kepindahanmu sudah ada di meja administrasi pagi ini. Kau harus pindah sekolah dan jangan beritahu Kim Jongin.'

Jongin membaca pesan itu dengan tangan terkepal, si pengirim pesan tersebut sudah sangat keterlaluan. Amarahnya tersulut, namun dia harus tenang dan berpikiran dingin.

Selesai membaca pesan itu, dengan cepat Jongin mengarahkan pandangannya ke arah jendela, namun tidak ada siapa siapa disana, dia kemudian berdiri.

Dan...

Sekelebat bayangan seseorang tampak disamping pintu, bayangan itu berasal dari seseorang yang mengintip dan langsung kabur.

'Kena kau...' batin Jongin, yang melihat bayangan orang itu.

Namja tersebut berjalan pelan kearah pintu, ditangan kirinya adalah ponsel yang diambilnya dari saku Kyungsoo dan ditangan kanannya adalah ponselnya sendiri. Dia sudah mensave nomor peneror itu yang notabene adalah nomor milik Kyungsoo (ponsel Kyungsoo ditukar).

Jongin melangkah keluar kelas, sedapat mungkin terlihat biasa. Agar si peneror tidak curiga padanya. Dia yakin bahwa si pengintip hanya ingin memastikan bahwa Kyungsoo memang tidak ada di kelas. Dan si pengintip itu adalah si peneror, orang yang sama.

Langkah Jongin belum terhenti, namja itu berjalan dan pasang telinga. Setelah dirasa tepat, dia menelfon nomor Kyungsoo itu, menelfon dengan menggunakan nomornya.

Tersambung, telefonnya terhubung.

Jongin terus pasang telinga.

Dan...

'Someone call the doctor...' deringan telefon milik Kyungsoo terdengar, walau samar.

Jongin semakin bersemangat, telefonnya di reject. Dia mencoba lagi, dan kembali tersambung.

'Someone call the...'

Suara deringan telefon itu bersumber dari arah samping perpustakaan sekolah.

Jongin yakin sekarang, dia mengikuti arah sumber suara, terus mencoba menelfon walau panggilannya terus menerus di reject. Yang dibutuhkannya adalah suara deringan telefon yang tidak di silent oleh si peneror itu.

Jongin beberapa menit kemudian, tiba di samping perpustakaan. Dia melangkah nyaris berlari. Kedatangannya itu membuat seseorang yang berdiri disamping tembok perpustakaan kaget.

"Ah, sial..." gumam seseorang itu, Jongin mendekatinya.

"Akhirnya kau kutemukan..." seru Jongin, secepat kilat mengarahkan tangannya dan mencengkram baju seragam orang itu.

Orang tersebut adalah seorang namja, bukan yeoja.

"Kenapa kau melakukannya..." geram Jongin, semakin mengeraskan cengkramannya, hal itu membuat si namja bergetar dan ponsel ditangannya jatuh.

Ponsel bermerk gambar apel tergigit berwarna putih itu tergeletak dirumput, namun tidak rusak.

"Ap..apa yang.. yang kau katakan.." kilah namja itu, seorang namja berkulit sangat putih, kontras dengan warna kulit Jongin.

"Jangan pura pura tidak tahu, kau meneror Kyungsoo. Buktinya itu..." kata Jongin, seraya menunjuk ponsel milik Kyungsoo yang jatuh ke tanah.

"Aa.. Itu.. itu, anu... aku..."

"Cepat katakan, kenapa kau melakukannya.. Atau aku akan menghajarmu." bentak Jongin, keras dan lantang. Dia sama sekali tidak main main.

Si namja putih itu menciut, seperti marmut. Tubuhnya bergetar dan dahinya berkeringat, sangat takut.

"Katakan..." ulang Jongin, sama kerasnya.

"Ba.. Baik.. Aku.. aku mengaku, maafkan aku. Jangan pukul aku." akhirnya si namja mengaku, dengan terpaksa.

Jongin mendesah kasar, dia berhasil menemukan pelaku peneror dan pengancam Kyungsoo.

"Siapa namamu?" tanya Jongin, dia hanya pernah melihat namja itu sesekali melintas didepan kelasnya, tapi tidak tahu siapa namanya.

"Se.. Sehun.. Oh Se Hun." jawab namja itu. Bernama Sehun. Namja tingkat pertama, adik kelas Jongin dan Kyungsoo.

Jongin diam sejenak, memperhatikan wajah takut namja yang bernama Sehun itu.

"Kenapa kau mengancam Kyungsoo? Kenapa?"

"Itu... anu..."

"Apa kau menyukai Kyungsoo? Atau... Kau menyukaiku?" lanjut Jongin, bertanya dengan berani.

Sehun menggeleng cepat, keringat di dahinya menetes. Dia hampir saja kencing dicelana.

"Ti.. tidak.." jawab Sehun, putus putus.

"Lalu? Apa motifmu? Kau hanya bercanda... Atau perlu uang dengan mengancam? Katakan..."

Sehun mencoba bungkam alias tutup mulut, tapi wajah marah Jongin dihadapannya terlihat sangat horor, dia semakin takut dan ciut.

"Ak.. aku disuruh oleh seseorang... Aku tidak tahu apa apa." jawab Sehun, mengatakan yang sebenarnya.

"Siapa yang menyuruhmu? Kau tidak bohong kan?" selidik Jongin, mencoba melihat kebohongan di mata namja tampan dan putih itu.

"Aku tidak bohong... Aku memang disuruh."

"Siapa yang menyuruhmu?"

"It.. Itu.. Anu.. Dia..."

"Katakan, jangan berbelit..."

"Aku.. Aku disuruh oleh seorang asisten guru baru. Aku.. aku dibayar dengan uang. Maafkan aku." ungkap Sehun, keringatnya semakin banyak saja.

"Asisten guru baru? Siapa dia?"

"Asisten guru itu baru seminggu masuk di sekolah ini. Usianya sangat muda." jawab Sehun.

"Apa dia yeoja?"

"I..iya.."

"Siapa namanya?"

"Aku.. aku tidak tahu. Dia belum memperkenalkan diri. Dia memanggilku saat aku berusaha mengurus nilaiku yang hancur di ruang guru. Saat itu kami bertransaksi... Semua pesan singkat yang aku kirimkan pada Kyungsoo semua darinya, aku hanya meneruskan saja. Sekali lagi aku minta maaf. Aku hanya suruhan." jawab Sehun, menjelaskan apa yang diketahuinya.

Jongin mengendurkan cengkraman tangannya di kerah baju Sehun. Dia nampak berpikir keras.

"Dimana asisten guru itu sekarang?" Jongin terus melanjutkan investigasinya dan hari ini harus tuntas.

"Aku tidak tahu, sepertinya belum datang..."

"Apa kau punya fotonya?"

"I..ya, aku punya."

"Tunjukkan..."

"Le.. lepaskan aku dulu."

Jongin akhirnya melepaskan cengkraman eratnya di baju seragam Sehun. Dia menunggu namja itu menunjukkan foto si asisten guru yang dimaksud.

Sehun dengan tangan gemetar merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya sendiri, dia mengutak atik ponsel itu untuk mencari foto si asisten yang sempat diabadikannya diam diam di ruang guru.

Setelah foto diponselnya ditemukan, dia dengan ragu ragu menyodorkannya ke depan wajah tampan Jongin.

"Ini fotonya..." gumam Sehun,

Jongin memperhatikan foto dilayar ponsel yang ditunjukkan oleh Sehun itu, dengan seksama dan teliti.

Deg.

Matanya membulat kemudian.

"Dia... Kenapa dia muncul lagi?"

o

o

o

o

o

o

o

TBC

O...O...O...O...O...O...O

Chap 8 up, maaf ya... Kali ini aku tidak bisa janji bisa update cepat lagi seperti biasa, hehehe... Terima kasih atas respon dan reviewnya di chap lalu, itu sangat berharga. Ending FF ini mungkin di chap 11 atau 12.

SalamLove

Han Kang Woo