VIDEO TAPE
By : Han Kang Woo
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, EXO Member, etc
Main Cast : KaiSoo
Genre : Romance, Friendship
Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M plus, NC
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
o
o
o
o
Jongin mengusap wajahnya dengan satu tangan, penampakan foto yang ditunjukkan oleh Sehun membuatnya resah, gelisah sekaligus tidak percaya.
'Perempuan itu muncul lagi.' Jongin membatin.
Sehun yang sejak awal ingin kabur karena takut, mengamati ekspresi wajah Jongin.
"Apa hyung mengenalnya?" tanya Sehun, takut takut. Kali ini menggunakan kata 'hyung' untuk menghormati Jongin yang lebih tua.
"Sedikit." Jongin menjawab pelan, mengusap wajahnya lagi.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu hyung." kata Sehun, kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana.
"Sebentar.. Tunggu." tahan Jongin, dia belum selesai. Investigasinya belum tuntas.
Sehun batal pergi, dia terdiam sambil menunggu kalimat selanjutnya dari Jongin.
Jongin perlahan menunduk, mengambil ponsel putih milik Kyungsoo yang dijatuhkan oleh Sehun tadi. Menggenggamnya dengan erat.
"Dimana kau dapatkan ponsel ini?" tanya Jongin,
"Hm.. Itu, aku.. aku mendapatkannya di gudang belakang sekolah." jawab Sehun, menunduk.
"Jadi kau sempat mengintai aku dan Kyungsoo?" mata Jongin menyipit tajam.
"Sedikit, maafkan aku hyung. Aku hanya diperintahkan untuk mendapatkan celah dan cara bagaimana agar hyung berdua berpisah, hanya itu. Aku tidak tahu motif utama asisten guru baru itu, tapi sepertinya dia menyukai hyung. Itu hanya tebakanku saja." jawab Sehun, pelan.
"Jadi kau sempat melihat apa yang kami lakukan di dalam gudang sekolah?"
"Ya, aku me.. melihat hyung berdua berciuman, maksudku hyung mencium bibir si mata bulat itu."
"Kau sepertinya berbakat menjadi mata mata, Oh Sehun." sahut Jongin, tersenyum.
Sehun tertunduk, dia menggesekkan sepatunya di tanah. Betul betul tidak menyangka bahwa dia ketahuan secepat ini oleh Jongin.
"Aku tidak menyalahkanmu Sehun. Tenang saja, kau juga sudah mau jujur dan menceritakan apa yang kau tahu." Jongin menepuk nepuk pelan bahu lebar Sehun.
"Jadi hyung tidak marah padaku?"
"Tentu saja tidak."
Sehun tersenyum lega, mengusap dada bidangnya. Dia takut jika Jongin marah dan malah menjadi musuhnya disekolah.
"Ambil kembali ponselmu, ini ponsel yang kau tukarkan?" kata Jongin, seraya menyodorkan ponsel berwarna putih yang hampir mirip dengan ponsel milik Kyungsoo, hanya beda merk saja.
"Ah, iya. Ini ponselku. Ponsel cadangan... Ma..maafkan aku karena menukar ponsel Kyungsoo." Sehun menerima ponsel itu sembari membungkuk beberapa kali.
"Aku paham. Yang penting ponsel milik Kyungsoo kembali." timpal Jongin, ditangan kakanannya kini tergenggam ponsel Kyungsoo, ponsel yang berisi video seksnya.
"Aku minta kau pura pura tidak tahu bahwa aku mengetahui ini semua. Bisakan?" lanjut Jongin, kembali dengan nada serius yang penuh penekanan.
"I..iya, aku akan pura pura." sanggup Sehun, mengangguk.
"Aku akan membayarmu juga..." Jongin merogoh sakunya untuk mengambil beberapa lembar uang won disana,
"Tidak... Tidak.. Jangan beri aku uang. Aku sudah merasa bersalah dan menyesal. Seharusnya aku tidak mengikuti kemauan asisten guru baru itu." potong Sehun cepat, menolak dibayar.
"Terima saja, sebagai..."
"Tidak, tolonglah..." Sehun terus memberikan penolakannya.
"Oh, baiklah." Jongin akhirnya batal memberikan uang tutup mulut pada Sehun. Dia menepuk lagi bahu namja tampan berkulit putih itu.
"Kalau bisa aku minta nomor ponsel hyung? Supaya aku bisa memberikan informasi baru dikemudian hari... Bisa kan?" ucap Sehun, pelan.
"Tentu saja bisa." jawab Jongin, lalu menyebutkan nomor handphonenya. Nomor itu diketik cepat oleh Sehun.
"Terima kasih hyung. Kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi maafkan aku." Sehun membungkuk beberapa kali pada Jongin.
"Ya." Jongin balas membungkuk.
akhirnya Sehun bisa pergi dari sana, meninggalkan Jongin sendirian di area samping perpustakaan.
Jongin sempat sedikit kaget waktu mengetahui bahwa namjalah yang melakukan peneroran itu, namja yang disuruh. Dia sempat berpikir Sehun menyukainya, kalau itu terjadi entah siapa yang akan menjadi uke, dia atau Sehun? Pertanyaan yang membingungkan.
'Aku harus memastikan sendiri bahwa itu dia...' batin Jongin, mengepalkan tangannya, merujuk pada sosok yeoja yang gambarnya ditunjukkan oleh Sehun beberapa saat yang lalu.
Namja itu mengantongi ponsel milik Kyungsoo yang sudah kembali dan lekas meninggalkan area samping perpustakaan.
o
o
o
o
O...O...O...O
Jongin tidak langsung masuk kedalam kelasnya, walau bell jam pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Namja itu bergerak menuju ruang guru yang letaknya tidak jauh dari kelasnya.
Dia tiba disana beberapa saat kemudian, ruang guru itu lumayan luas, banyak ruangan disana, yang ditempati khusus untuk guru guru yang mengajar di sekolah Geongnam High School.
Jongin tidak langsung masuk, dia berdiri disamping pintu masuk utama disana. Seorang guru lelaki melintas didepannya.
"Maaf saem, aku mau bertanya." kata Jongin, sopan.
"Tanya apa?" si guru yang lumayan gemuk itu berhenti dan memandang Jongin.
"Hm, apa disini ada guru yang bernama Krystal?" tanya Jongin, itulah nama yeoja yang dilihatnya di ponsel milik Sehun.
"Krystal?"
"Ya saem, namanya Krystal. Bukan guru, tapi asisten guru." terang Jongin.
"Setahuku tidak ada guru maupun asisten guru yang bernama Krystal. Aku lumayan lama mengajar di sekolah ini." sahut guru tambun itu.
"Apa saem yakin?"
"Ya, aku yakin... Maaf, aku masih ada urusan. Kau lebih baik kembali ke kelasmu." tutup si guru, seraya meninggalkan Jongin.
Jongin mendesah halus. Dia sangat yakin bahwa yeoja itu bernama Krystal, yeoja yang pernah hadir dalam masa lalunya. Yeoja yang disinyalir bertanggungjawab atas peneroran dan ancaman pada Kyungsoo.
Jongin tidak patah semangat, namja itu akan terus berusaha dan memastikan semuanya. Dia menoleh kearah kelasnya, melihat kelasnya sudah masuk dan seorang guru sudah mengajar, dia absen lagi.
'Aku harus memastikan dan menyelesaikan hari ini juga.'
Namja itu menoleh kearah lain lagi, tepat saat itu, seorang yeoja cantik nan seksi berjalan kearahnya. Dia memakai kacamata. Roknya sangat mini, sebatas paha, ditarik sedikit saja bisa dipastikan celana dalam yeoja itu akan nampak. Sangat seksi atau lebih tepatnya super seksi.
Jongin tertegun, bukan terpesona, itulah sosok yang dimaksudkannya.
"Krystal, ternyata memang kau." Jongin menggumam. Berdiri mematung ditempatnya.
Si yeoja terus berjalan, dan berhenti. Dia agak kaget, terlihat dari matanya yang terbeliak, dia merapikan letak kacamatanya, lalu berdeham.
Yeoja itu tiba didepan Jongin, dia tersenyum.
"Ah, aku senang melihat oppa disini." katanya, senang.
Jongin tidak membalas sapaan yeoja itu, dia menampilkan ekspresi datar, sangat datar. Dengan sorot mata menusuk.
"Kai oppa."
"Jangan sebut nama itu disini. Namaku Jongin..." seru Jongin, tidak ingin nama panggilan yang disematkan oleh teman teman lamanya disebut. Dia lebih suka dipanggil Jongin, nama lahirnya.
"Oppa sombong sekali.."
"Sudahlah, jangan berbasa basi. Aku tidak tahu kenapa kau bisa ada disini... Aku hanya ingin kau menjelaskan sesuatu padaku. Mengenai ancaman dan teror yang kau lakukan pada temanku.. Jelaskan, apa maksudmu." Jongin langsung to the point. Dia memasukkan kedua tangan disaku celananya.
"Ohh, wait.. Oppa tenang, jangan terburu buru. Aku tidak paham apa yang oppa katakan." kata yeoja itu, sedikit kaget dengab cecaran Jongin.
"Jangan pura pura, aku tahu siapa kau... Jelaskan padaku." tegas Jongin, wajah horornya kembali muncul.
Si yeoja langsung gugup, dia memperbaiki lagi letak kacamatanya yang merosot.
"Baiklah oppa, kita bicara diruangan Sulli saja." ucap yeoja itu, lalu mememberikan kode pada Jongin untuk mengikutinya. Langkah sepatu hak tingginya berdebam dilantai.
Jongin tanpa pikir panjang langsung mengekor si yeoja, dia akan mengikuti permainan apa yang sedang dimainkan oleh yeoja masa lalunya itu. Tapi yang pasti dia harus menjadi pemenang atas permainan itu.
o
o
o
o
Jongin duduk dikursi yang terletak didepan meja disana. Si yeoja juga duduk, dengan anggun. Ruangan itu adalah ruangan milik Sulli, guru baru yang menjadikan si yeoja asistennya.
"Jelaskan padaku, semua.. Krystal." kata Jongin, tidak ingin berlama lama.
"Namaku bukan Krystal di sekolah ini. Tapi Soojung." timpal yeoja itu, yang memang adalah Krystal aka Soojung. Yeoja itu memilih nama 'Krystal' agar mirip dengan nama Jongin, yaitu 'Kai', sama sama berinisial K.
"Terserah, siapapun namamu. Aku hanya ingin tahu kenapa kau melakukan semua ini..." tukas Jongin,
Soojung tampak berpikir, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangannya, dua botol kecil minuman dan meletakkan dua benda itu diatas meja.
"Sebaiknya oppa minum dulu. Supaya pikiran oppa bisa tenang." ucap Soojung, bernada seksi yang menggoda.
Jongin menatap penampakan dua botol minuman yang diberikan oleh Soojung itu, dan bayang bayang di pulau Jeju kembali terlintas.
Hening sejenak,
"Tunggu, aku kenal dengan botol minuman ini..." gumam Jongin, mengingat ingat. Matanya bergantian menatap botol itu dan wajah Soojung.
"Seingatku kau tidak datang waktu itu, saat di pulau Jeju.." lanjut Jongin lagi,
Soojung berdiri dari kursinya. Berjalan pelan menuju pintu dan mengunci pintu ruangan itu. Kemudian menoleh kearah Jongin.
"Itu seingat oppa saja, tapi aku datang waktu itu." timpal Soojung, berdiri seksi.
"Jadi kau yang membawa minum keras itu ke sana?" Jongin bertanya, dia harus memastikan sesuatu yang hampir terlupa.
"Tentu saja oppa. Aku yang berbaik hati membeli minuman itu. Pada awalnya aku hanya ingin kita berdua saja yang minum, supaya lebih romantis. Tapi teman teman oppa yang norak itu merusak semuanya." jelas Soojung.
"Untuk apa kau datang?"
"Ya untuk mengucapkan salam perpisahan pada oppa."
"Perpisahan apanya. Kau sama sekali tidak ke luar negeri. Kau bohong." tukas Jongin, nadanya meninggi.
"Aku batal melanjutkan pendidikan keluar negeri oppa. Dan aku memutuskan mendaftar sebagai asisten guru baru disekolah ini. Bukankah itu jauh lebih bagus. aku bisa bertemu oppa lagi."
"Kau pasti menyogok, kau masih terlalu muda untuk mengajar."
"Bukan mengajar oppa, hanya sekedar asisten, dengan kata lain tangan kanan guru, tidak lebih."
Jongin diam, wanita muda didepannya itu sepertinya menyembunyikan banyak sesuatu dan dia harus mengungkapnya.
"Kau mencampur apa diminuman keras itu?" tanya Jongin, seraya menunjuk botol diatas meja.
Soojung gelagapan, tidak menduga pertanyaan itu terlontar dari bibir Jongin.
"Mencampur apanya oppa. Aku tidak paham yang oppa katakan." kilah Soojung, dia gugup.
Jongin menatap wajah cantik Soojung, dia sudah mengerti sesuatu.
'Ternyata minuman malam itu sudah kau campur sesuatu. Itulah sebabnya aku bisa lupa diri dan malah melakukan seks dengan Kyungsoo.' batin Jongin, menebak dengan yakin. Efek minuman keras biasa tidak akan membuat peminumnya lupa total, sekaligus terangsang secara bersamaan.
Jongin sudah menduga bahwa Soojung datang ke pulau Jeju malam itu, namun tidak menampakkan diri. Yeoja tersebut sepertinya berencana memberikan minuman itu saat dia kembali ke hotel. Meminum hanya berdua saja. Dan bisa ditebak, saat Jongin mabuk, maka orang lain selain dirinya hanyalah Soojung. Jadi Soojung lah yang akan menjadi tempat pelampiasan seks malam itu. Namun semua itu tidak terjadi.
Jongin malah melakukan seks dengan Kyungsoo, bukan dengan Soojung. Walau sama sama ada 'Soo' nya.
Jongin semakin paham sekarang.
"Baiklah, aku sudah menyadari sesuatu... Dan kembali ke persoalan awal, kenapa kau meneror dan mengancam temanku, Kyungsoo... Dia tidak salah apa apa padamu." seru Jongin, waktunya sudah terambil banyak bersama Soojung.
Soojung mendesah kasar, posisinya masih berdiri didepan pintu yang dikuncinya. Dia berharap Jongin lekas meminum meniman keras yang ditawarkannya.
"Krystal, aku tidak ingin main kasar... Cepat katakan..." suara Jongin naik beberapa oktaf.
"Oppa..."
"Katakan... Sekarang..."
"Baiklah, baiklah... Aku melakukannya karena aku mencintai oppa. Aku tidak rela oppa dengan yang lain." ungkap Soojung, disertai nada seperti membentak. Wajahnya memerah, kesal.
Jongin mendesah mendengar pengakuan Soojung itu,
"Tapi kita belum pernah pacaran. Belum ada kata cinta. Kau tidak berhak melakukan teror itu, Kyungsoo hanyalah..."
"Hanyalah rekan seks oppa yang memuakkan... Begitu. Aku sudah menonton video itu, aku serasa ingin muntah, oppa melakukannya bersama seorang namja yang sama sekali tidak memiliki vagina... Oppa seperti bi..."
"Cukup... Cukup... Kau sudah keterlaluan." tangan Jongin terkepal kuat, wajahnya memerah marah, urat lehernya terlihat jelas.
"Kenapa? Oppa tidak terima... Dia hanyalah namja pendek, mata lebar. Aku tidak rela oppa melakukan seks dengannya. Seharusnya akulah yang..."
"Cukup. Kau tidak tahu malu. Itulah salah satu sebab aku tidak bisa jatuh cinta padamu. Kau tidak pantas dicintai..." geram Jongin, kemarahannya sudah diubun ubun.
"Jangan ganggu Kyungsoo, namja itu tidak salah apa apa." lanjut Jongin.
"Persetan dengannya..."
"Aku tidak akan tinggal diam jika kau mengganggu Kyungsoo lagi." ancam Jongin, tidak main main.
"Terserah, aku tidak akan menyerah. Oppa akan menjadi milikku... Selamanya." setelah mengucapkan kalimat itu, yeoja tersebut menyambar tas tangannya, membuka pintu yang dikuncinya, lalu kabur meninggalkan Jongin.
Jongin terdiam ditempatnya, menatap penampakan Soojung yang menghilang dibalik pintu, dia menggeleng.
'Kau tidak akan mendapatkan cintaku, never...' batin Jongin.
Namja tampan itu sudah mengetahui siapa sebenarnya biang dari semuanya, Sehun tidak bohong. Pelaku dan aktor utamanya adalah Soojung aka Krystal. Yeoja yang sejak lama mengejarnya namun dia sama sekali tidak punya rasa pada yeoja itu.
Jongin merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel milik Kyungsoo, dia memencet tombol on hingga layar ponsel menyala, menampilkan wallpaper si pemilik dengan pose imut, dua jari disebelah pipi.
'Lebih baik aku pulang... Kyungsoo pasti sudah bangun.' batin Jongin, tersenyum.
Dia berharap masalah yang membelit Kyungsoo sudah bisa terselesaikan.
o
o
o
o
O...O...O...O
Jongin membolos dari jam pelajaran sekolah. Dia lagi lagi pulang sebelum waktunya. Karena khawatir dengan keadaan Kyungsoo dirumahnya, terlebih karena dia lupa berpesan kepada pelayan dirumahnya untuk melihat keadaan namja kecil itu.
Motor besarnya melaju kencang dan tiba dihalaman rumahnya dengan cepat. Tanpa memasukkan motor itu ke garasi, dia langsung masuk kedalam rumahnya.
"Appaku bangun atau sedang tidur?" tanya Jongin kepada salah satu pelayan rumahnya yang melintas.
"Sedang tidur tuan muda." jawab si pelayan, membungkuk pelan.
Jongin mengangguk, kemudian langsung berjalan kearah kamarnya. Membuka pintu kamar itu dan lekas masuk. Dia tersenyum kecil, saat mendapati Kyungsoo masih tidur.
'Kau terlihat sangat lucu dan imut Kyungsoo...'
Jongin meletakkan tas sekolahnya keatas meja nakasnya, lalu membuka baju seragam sekolahnya, ingin menggantinya dengan baju kaos.
Sementara itu, diatas ranjang, Kyungsoo bergerak pelan, seakan merasakan kehadiran Jongin di ruangan itu.
"Jongin ah..." gumam Kyungsoo, lirih.
"Ya.. Kau sudah bangun?" Jongin menoleh cepat, batal memakai baju kaosnya.
"Joonginn..."
"Ya, aku disini." jawab Jongin, bergerak kearah namja itu, duduk disisi Kyungsoo dan memegang tangannya.
Deg.
Tangan namja kecil itu panas. Jongin panik kembali, padahal tadi pagi suhu tubuh Kyungsoo sudah normal. Jongin mengarahkan tangannya dan memegang dahi lebar Kyungsoo, disana malah lebih parah, semakin panas.
"Jongin ah... Jongin ah..." kata Kyungsoo lagi, dia mengigau. Matanya terpejam dan dahinya berkeringat.
"Ya ya.. Aku disini Kyungsoo..." balas Jongin, menggenggam erat tangan Kyungsoo.
"Jongin ah.. Jangan tinggalkan aku... Jangan pergi.." racauan Kyungsoo semakin menjadi. Kepalanya bergerak kekiri dan kanan, gelisah.
"Aku disini, aku tidak akan kemana mana." Jongin berusaha menenangkan Kyungsoo.
"Jongin ah... Jangan pergi.. Jangan pergi..."
"Aku disini."
Jongin naik keatas ranjang, lalu tidur disamping Kyungsoo. Namja itu melingkarkan tangannya ke pinggang Kyungsoo, memeluknya. Semua itu dilakukannya refleks dan tanpa pikir panjang.
"Tenanglah Kyungsoo, aku disampingmu. Aku akan menemani dan menjagamu." gumam Jongin, tepat ditelinga Kyungsoo.
Hening.
Secara ajaib, Kyungsoo perlahan tenang. Nafas namja itu teratur dan berirama. Kehadiran dan pelukan Jongin membuatnya tenang.
Hening lagi.
Kyungsoo membuka pejaman matanya, mata beningnya memandang langit langit kamar. Namja itu menoleh, dan matanya beradu dengan mata milik Jongin.
"Syukurlah, kau bangun..." gumam Jongin, sembari tersenyum lega.
Kyungsoo membalas dengan senyuman juga, namun tidak mengucapkan apa apa. Dia lagi lagi sedekat ini dengan Jongin, memeluknya tanpa menggunakan baju.
"Tidurlah lagi jika kau masih lemas. Aku akan tetap disini." lanjut Jongin, nafasnya menyapu wajah Kyungsoo.
Kyungsoo memejamkan matanya pelan lalu membukanya lagi, disertai desahan halus. Dia sempat melupakan masalah yang membelitnya, melupakan mengenai ponselnya yang ditukar, melupakan video seksnya yang akan disebarkan oleh seseorang, melupakan bahwa kedua orangtuanya panik mencarinya. Semua itu dilupakan, yang ada saat ini hanyalah Jongin. Sosok namja tampan nan seksi yang memeluknya erat.
'Apa arti semua ini Jongin ah, apa arti ciuman waktu itu? Apa arti pelukan yang sudah tiga kali kau lakukan? Apa arti perhatian yang selama ini kau berikan... Aku sudah mengungkapkan bahwa aku mencintaimu, tapi kau tidak memberikan jawaban apa apa. Seandainya kau menolak, aku sedapat mungkin menerimanya... Walau terasa sakit. Namun kau menggantung semuanya. Aku tidak mengerti.' Kyungsoo membatin, berbagai tanya memenuhi benaknya.
Pelukan Jongin ditubuh Kyungsoo semakin erat, namja tampan itu kemudian berbisik ditelinga Kyungsoo.
"Hm.. aku sudah mendapatkan ponselmu kembali, ada disakuku..." bisik Jongin, memberikan info penting untuk Kyungsoo.
"Pelakunya hanya iseng saja, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah memperingatkannya. Dia tidak akan mengulangi perbuatannya itu. Video kita aman..." lanjut Jongin, masih dengan nada rendah.
Kyungsoo tersenyum mendengar informasi yang diberikan oleh Jongin. Dalam hatinya sangat lega, masalahnya berkurang satu. Namun lagi lagi, dia tidak menanggapi dengan kata kata.
"Untuk sementara kau disini dulu, sampai kau benar benar sehat. Aku akan mengantarmu pulang bila keadaanmu sudah benar benar baik." Jongin kembali menggumam, setiap kata yang terucap darinya membuat Kyungsoo tenang, tenang dan tenang.
Sunyi dan senyap lagi.
Kyungsoo menggerakkan tangannya dan melingkarkannya ke tubuh setengah telanjang Jongin, pergerakannya ragu ragu, takut jika Jongin marah atas aksinya itu. Namun setelah beberapa detik, Jongin sama sekali tidak menunjukkan protes apa apa.
"Jongin ah..." gumam Kyungsoo, suara indahnya akhirnya keluar.
"Ya, apa kau perlu sesuatu?" Jongin menimpali dengan bertanya. Posisi wajahnya dan wajah Kyungsoo hanya beberapa inci saja, sangat dekat dan intens.
"Tidak, Aku.. aku ingin..."
"Ingin apa? Katakan saja, aku akan menurutinya."
"Aku... Aku... Aku ingin menciummu." ucap Kyungsoo, dengan wajah memerah. Tubuh kecilnya sedikit bergetar saat mengucapkan permintaannya.
"Menciumku?"
"Y.. Ya, itupun kalau kau tidak ke..."
"Tentu saja tidak, kau bisa menciumku, dibagian mana saja." potong Jongin, tanpa pikir panjang. Dia menuruti kemauan Kyungsoo yang ingin menciumnya.
Glek, Kyungsoo menelan ludahnya kasar. Secara tidak terduga, Jongin menuruti permintaannya yang aneh. Permintaan yang hanya cocok dilontarkan oleh pasangan kekasih.
Hening, Jongin dan Kyungsoo saling tatap, intens.
Dan tanpa berlama lama, Kyungsoo menggerakkan kepalanya, memajukan tubuh dan mendekatkan bibir tebalnya ke bibir seksi Jongin. Nafas mereka bertemu.
Dan...
Chup.
Kyungsoo mencium bibir Jongin, lembut. Bibir mereka berpagutan dan menempel intim. Kyungsoo sedikit memiringkan wajahnya agar ciuman itu tenggelam semakin dalam, dalam dan dalam.
"Hm..mff..ah.."
"Mm..mfff..ckh...uf.."
Bunyi kecipak saliva dan desahan nafas mereka saling memburu, Kyungsoo mengarahkan tangannya dan memegang pipi Jongin.
Ciuman mereka berlangsung lama. Belum ada yang berinisiatif melepaskan ciuman itu. Bagi Kyungsoo, itu adalah ciuman cintanya bagi Jongin. Ciuman lembut sekaligus panas.
Semua perabotan di kamar mewah Jongin menjadi saksi bisu menyatunya dua bibir itu. Pagutan yang seakan tidak berujung.
Tiba tiba...
Ponsel milik Jongin berbunyi, melantunkan nada dering dari lagu boybad Korea terkenal. Bunyi ponsel itu meraung raung minta diangkat. Namun Jongin tidak mempedulikannya, ciumannya bersama Kyungsoo masih lebih penting.
Deringan itu terhenti sejenak, lalu berbunyi lagi, lagi dan lagi. Bunyi yang mengganggu moment indah antara Jongin dan Kyungsoo.
Dan akhirnya ciuman itu terlepas juga. Jongin yang melepasnya.
"Maaf.. Ah.. Aku angkat telefon dulu.." kata Jongin, terengah engah, nafasnya hampir habis. Dia dengan cepat merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari sana.
Kyungsoo mengangguk paham, saliva Jongin tertinggal disudut bibirnya, namun dia tidak ingin menghapusnya.
Jongin memandang wajah Kyungsoo tidak enak, lalu mengangkat panggilan di ponselnya.
"Halo..." angkat Jongin.
"Halo hyung... Hyung dimana?" tanya orang yang menelfon diseberang sana.
"Aku di rumah."
"Maaf hyung, aku Sehun... Aku ingin eh.. Menyampaikan sesuatu pada hyung..." kata orang yang menelfon itu, yang ternyata Sehun.
"Menyampaikan apa?"
"Eh.. Se.. Sekolah heboh hyung..."
"Heboh kenapa? Aku tidak paham." Jongin mengernyitkan dahinya.
"Video seks hyung bersama Kyungsoo tersebar di sekolah... Banyak teman teman yang sudah menyaksikannya. Maafkan aku hyung... Bukan aku yang menyebarkannya. Aku bersumpah..." jelas Sehun, tersendat sendat.
Deg.
"Ke.. Kenapa sampai tersebar?" Jongin kaget bukan main, dia melirik Kyungsoo singkat yang ada disampingnya.
"Aku.. Aku tidak tahu hyung. Sepertinya si asisten guru baru itu sempat menyalin video seks hyung itu, tanpa sepengetahuanku... Maafkan aku hyung."
Jongin mendesah kasar, ponsel masih ditelinganya. Dia meremehkan ancaman Soojung aka Krystal sewaktu di sekolah, dan sekarang video itu sudah tersebar dan disaksikan banyak orang. Bukan hanya dirinya yang mendapat masalah besar atas insiden tersebarnya video itu, tapi Kyungsoo juga.
'Bagaimana aku menjelaskannya pada Kyungsoo...' batin Jongin, resah dan gelisah.
Babak baru akibat video seks itu dimulai. Fase klimaks dan bencana mungkin tidak terelakkan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
o
o
o
o
o
o
o
TBC
O...O...O...O...O...O...O
Hampir aja tidak update hari ini, hehehe...tapi review pembaca semua membuat chap 9 FF ini bisa lanjut.
Tidak bisa ngomong banyak lagi, takutnya pembaca bosan dengan author note diakhir FF ini, he..he.. Review lagi ya.
Salam cinta
Han Kang Woo
