Ch12

VIDEO TAPE

By : Han Kang Woo

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, EXO Member, etc

Main Cast : KaiSoo

Genre : Romance, Friendship

Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja

Rated : M plus, NC

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

o

o

o

o

Jongin pulang dengan perasaan suka cita, dia mengendarai mobilnya dengan sedikit tergesa gesa, ingin cepat sampai dirumah dan bertemu dengan Kyungsoo.

'Kyungsoo, aku akan menemui kedua orangtuamu. Untuk meminta restu hubungan kita." gumam Jongin, sambil menyetir mobil. Dia sebagai namja akan menunjukkan keberaniannya, meminta restu secara langsung.

Beberapa menit kemudian, namja yang jago dance itu tiba dirumahnya. Dia turun dari mobil dan lekas masuk kedalam rumahnya.

o

o

"Kyungsoo... Kyungsoo..."

Jongin memanggil nama Kyungsoo, namja itu masuk kedalam kamarnya dan tidak melihat Kyungsoo didalam kamarnya itu.

"Kyungsoo ya, kau dimana?" Jongin panik, dia sudah mencari di dalam kamar mandi, tapi nihil, namja bermata bulat itu tidak nampak.

Namja itu keluar kamarnya, berpapasan dengan salah satu pembantunya.

"Apa kau lihat temanku? Apa dia keluar kamar?" tanya Jongin, sangat cepat, sangat panik.

"Oh, yang tadi siang tuan muda gendong itu... Dia sekarang ada didalam kamar tuan besar." jawab si pelayan, membungkuk.

"Dalam kamar appaku?"

"Iya tuan muda. Tuan bisa melihatnya sendiri."

Jongin tanpa pikir panjang, lekas menuju kamar ayahnya. Dia nampak belum percaya jika Kyungsoo ada disana. Namja itu berhenti tepat disamping pintu kamar ayahnya, tidak masuk, hanya mengamati dari luar.

Terlihat Kyungsoo sedang berbicara dengan ayah Jongin, bercengkrama seperti ayah dan anak.

"Jongin belum pernah sama sekali membawa temannya kesini, juga di rumah lama, Bucheon. Kau adalah orang pertama." kata ayah Jongin alias tuan Kim, suaranya pelan, sedikit serak.

"Benarkah ajuhsi? Apa Jongin sama sekali belum pernah membawa yeoja atau siapapun, mungkin pacarnya?" Kyungsoo bertanya. Mencoba akrab.

"Sama sekali tidak pernah. Dia anakku satu satunya. Pewaris semua kekayaan keluarga. Aku berharap dia mendapatkan pendamping secepatnya, sebelum aku berpulang..." gumam ayah Jongin, menerawang.

"Ajuhsi jangan bilang begitu, kondisi ajuhsi pasti akan membaik."

"Aku semakin tua, sakitku juga sulit disembuhkan. Yang aku inginkan sekarang adalah kebahagiaan anakku, Jongin... Hanya itu."

"Jongin pasti akan bahagia ajuhsi... Pasti." ucap Kyungsoo, harapannya sama dengan harapan ayah Jongin itu.

"Jadilah teman yang baik bagi Jongin. Ingatkan dia jika melakukan hal hal tidak baik." pinta ayah Jongin, wajah tuanya penuh harap.

"I..iya ajuhsi." Kyungsoo menyanggupi, walau dalam hatinya dia ingin mengatakan bahwa Jongin bukan lagi 'temannya' tapi sudah menjadi pacar alias 'kekasihnya'.

Jongin yang sejak tadi berdiri didepan pintu, mendengar semua percakapan antara Kyungsoo dan ayahnya.

'Dialah yang akan mendampingiku appa, bukan yang lain.' ucap Jongin dalam hati.

o

o

o

o

O...O...O...O

3 hari kemudian.

Kyungsoo sangat cepat akrab dengan ayah Jongin yang terbaring sakit. Namja imut itu sesekali menggantikan suster pribadi untuk memberi makan sekaligus menyuapi tuan Kim itu. Ayah Jongin sama sekali tidak keberatan jika Kyungsoo tinggal dirumahnya, malah dia sangat senang.

Walau begitu, baik Jongin maupun Kyungsoo belum ada yang berani jujur dengan hubungan mereka, hubungan itu masih ditutup rapat hingga waktu yang tepat. Menunggu hingga kondisi tuan Kim membaik, walau sepertinya kemungkinan itu sangatlah kecil.

Pagi itu, Jongin dan Kyungsoo berpelukan mesra di dalam kamar milik Jongin, atau lebih tepatnya Jongin yang memeluk Kyungsoo dari belakang.

"Jongin ah, terima kasih atas semua yang kau lakukan selama ini. Kau menolak yeoja itu demi aku." kata Kyungsoo, memegang lengan Jongin yang melingkar dipinggangnya.

"Lupakan itu, yeoja itu hanya jadi masa lalu. Sesuai janjiku, hanya ada kau dan aku... Selamanya." timpal Jongin, menaruh dagunya di ceruk leher Kyungsoo.

Kyungsoo kegelian, namun dia berusaha terlihat biasa. 3 hari terakhir ini Jongin memang sering bermanja ria dengannya. Namun mereka belum sampai pada tahap hubungan intim.

Jongin mengeratkan pelukannya,

"Dan pagi ini kita akan ke sekolah, bersama sama..." Jongin berujar, semalam mereka berdua sudah membicarakan akan masuk sekolah bersama.

"Tapi, aku... aku masih takut Jongin ah."

"Tenanglah, ada aku. Kita ke sekolah dan melihat keadaan yang sebenarnya. Kita tidak akan dikeluarkan begitu saja."

"Baiklah. Kalau begitu kau mandi dulu." ucap Kyungsoo, malu malu.

"Aku ingin mandi denganmu." goda Jongin, menggesek kesekkan dagunya ke leher Kyungsoo.

"Jongin ah, itu geli..." protes Kyungsoo, enak enak geli.

"Jadi malam itu kau tidak kegelian." kata Jongin, menyinggung kejadian indah saat di Pulau Jeju.

"Oh.. Ah, jadi kau mengingat kejadian malam itu... Kau mengaku."

"Tentu saja aku tidak ingat. Aku hanya menebak nebak saja." jujur Jongin, yang sudah tahu jika minumannya malam itu diberikan sesuatu oleh Soojung, hingga membuat dirinya terangsang, lupa diri dan menjadi orang lain.

"Tapi Jongin ah... Ehm.. Aku..aku sempat berpikir bahwa kejadian malam itu bisa.. bisa terulang lagi... terulang dalam keadaan kau sadar sepenuhnya." gumam Kyungsoo, malu. Dia menunduk, wajah cutenya memerah lagi.

"Kita bisa mengulanginya, jika kau meminta. Kapan saja." Jongin menimpali dan menyanggupi kalimat Kyungsoo yang bernada meminta itu.

"Ya.. tapi.. bu.. bukan sekarang..."

"Aku tahu. Kita bisa menunggu sampai waktunya tepat." tutup Jongin, lalu melepaskan pelukannya. Mereka berdua saling berhadapan dan mengangguk. Jongin mencium singkat bibir Kyungsoo, lalu kemudian lekas mandi.

Cinta kasih kedua insan itu dari hari ke hari semakin besar. Dan siapapun tidak ada yang bisa memisahkan mereka.

o

o

o

o

O...O...O...O

Jongin dan Kyungsoo baru saja tiba di sekolah mereka, Geongnam High School. Dua namja berbeda tinggi badan itu berjalan berdampingan. Kyungsoo sejak tadi menunduk, sedangkan Jongin tetap dengan gayanya yang biasa, cool, namun tetap sopan.

Beberapa yeoja yang duduk didepan kelas melirik dan menunjuk ninjuk mereka, sembunyi sembunyi. Yeoja itu bergerombol.

"Mereka sangat berani menampakkan wajah di sekolah ini..." kata salah satu yeoja, bertampang galak.

"Tidak tahu malu..." timpal yeoja lain.

"Tapi mereka sangat hot, aku ingin menonton lanjutan adegan mereka." yeoja yang lain malah beraegyo, mendukung.

"Aku harap ada Video Jongin vs Kyungsoo part 2" yeoja fujoshi terang terangan berkomentar.

"Aku mimisan..."

Dan berbagai komentar komentar lainnya.

Jongin dan Kyungsoo tidak memperdulikan komentar itu. Mereka berdua menuju ke kelas yang sudah mulai ramai oleh siswa dan siswi. Namun langkah mereka dihentikan oleh salah seorang guru cantik yang sejak tadi menuggu kehadiran mereka.

"Kalian berdua ikut aku ke ruangan kepala sekolah." tukas guru itu, dia adalah wali kelas mereka, saem Victoria.

Jongin dan Kyungsoo saling pandang, tanpa mengucapkan kata kata, mereka mengikuti saem Victoria menuju ruang kepala sekolah.

o

o

o

o

"Jadi kami di keluarkan?" Jongin memukul meja didepannya, dia dan Kyungsoo beberapa menit yang lalu dihadapkan kepada kepala sekolah turun temurun di sekolah itu, Sooman.

"Itu keputusan sekolah. Kami semua sudah mengadakan rapat terbatas. Perwakilan ketua kelas juga memberikan tanda tangan mereka, agar pelaku video intim yang merusak citra sekolah di keluarkan... Dan itu adalah kalian." ucap si kepala sekolah, tegas.

Jongin dan Kyungsoo tidak membantah video itu, mereka mengakui bahwa merekalah pemeran utamanya.

Kyungsoo menundukkan wajahnya, menggesek sapatunya ke lantai, ketakutannya jadi kenyataan, dia dan Jongin dikeluarkan dari sekolah.

Jongin menoleh, melihat Kyungsoo yang shock dan bergetar, namja tampan itu lekas memegang tangan Kyungsoo, memberikan ketenangan. Hal itu dilakukannya tepat didepan Sooman dan saem Victoria.

"Baiklah, aku dan Kyungsoo menerima keputusan sekolah." ujar Jongin, lantang.

"Jongin ah, tapi..."

"Kau tenang saja Kyungsoo, sekolah bukan ini saja. Masih banyak sekolah lain yang mau menerima kita. Kau tenang, aku bersamamu." Jongin mengeratkan pegangan tangannya, seperti biasa itu bisa membuat Kyungsoo tenang.

Kyungsoo mengangguk pelan, dia akhirnya setuju. Semua diserahkan kepada Jongin, namja pelindungnya. Tapi, dia tidak tahu bagaimana reaksi kedua orangtuanya jika tahu dia dikeluarkan. Masalahnya semakin bertambah.

"Terima kasih kerja samanya. Ini untuk nama baik sekolah. Kami akan memanggil kedua orangtua kalian untuk me..."

"Jangan libatkan orangtua kami. Aku dan Kyungsoo sudah menerima keputusan pengeluaran kami. Jangan persulit kami lagi." potong Jongin, sorot matanya serius.

Si kepala sekolah tampak berpikir, dia meminta saran wali kelas Jongin dan Kyungsoo dengan isyarat mata, menimbang nimbang dan membuat keputusan cepat.

"Baiklah, orangtua kalian tidak akan dilibatkan." kata kepala sekolah, setelah mendapat masukan dari wali kelas disampingnya.

Jongin menarik nafas lega mendengar keputusan kepala sekolah tua itu, hal yang sama juga dirasakan Kyungsoo.

"Kalian di keluarkan terhitung hari ini dan surat keputusan pengeluaran itu menyusul kemudian." lanjut si kepala sekolah, memberikan sinyal bahwa hari ini juga Jongin dan Kyungsoo harus angkat kaki dari sekolah.

"Kami mengerti." kata Jongin, lalu berdiri dari duduknya, secara otomatis Kyungsoo juga ikut berdiri.

"Maaf, aku tidak bisa membantu kalian." saem Victoria berujar dan memandang Jongin Kyungsoo bergantian.

"Tidak apa apa saem, terima kasih."

Dan akhirnya, Jongin dan Kyungsoo meninggalkan ruangan kepala sekolah itu, tetap berpegangan tangan. Jongin tidak melepaskan tangannya. Pemandangan itu membuat banyak yeoja, terutama yeoja kelas satu yang memandang iri. Ada yang mengumpat, kecewa, dan ada juga yang mendukung.

Video seks itu telah membuat dampak besar bagi hidup Jongin dan Kyungsoo. Dampak yang akan berlangsung sampai waktu yang tidak ditentukan.

o

o

o

o

O...O...O...O

Kyungsoo duduk terdiam disamping Jongin, mereka berdua berada di dalam mobil. Namja bermata bulat itu memandang keluar jendela mobil, matanya berkaca kaca. Memandang deretan pertokoan dan gedung yang mereka lewati. Dia mendesah beberapa kali, kalut.

"Kyungsoo ya, kau tidak apa apa?" tanya Jongin, melirik singkat kekaksihnya itu sambil menyetir mobil.

"Aku tidak apa apa." jawab Kyungsoo, nyaris tidak terdengar.

Jongin menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah toko penyewaan baju pengantin. namja itu merasa bahwa Kyungsoo belum bisa menerima keputusan kepala sekolah tadi.

"Jangan sedih. Ini bukan akhir segalanya. Kita akan bersekolah ditempat lain, bersama sama." kata Jongin, menenangkan Kyungsoo.

"Aku takut Jongin ah... Takut... Omma dan appaku pasti.. Ah..." Kyungsoo terisak isak pelan, air matanya tumpah juga.

"Jangan takut, ada aku... Kemarilah." ucap Jongin, merentangkan kedua tangannya, memberikan tanda bagi Kyungsoo untuk merebahkan tubuh ke dadanya.

Kyungsoo langsung menghamburkan diri di dada Jongin, menangis tertahan, Jongin memeluk dan membelai rambutnya.

"Hari ini juga aku akan menemui appamu, aku akan menjelaskan semua padanya..."

"Hari ini?" kaget Kyungsoo,

"Ya, hari ini. Aku tidak akan mengulur waktu." jelas Jongin.

"Tapi... Bagaimana kalau appaku tidak bisa menerima. Appa sudah mengusirku dan sekarang aku dikeluarkan dari sekolah. Appa pasti semakin marah." takut Kyungsoo.

"Jangan pikirkan itu dulu Kyungsoo ya. Aku akan berusaha... Kau percaya padaku kan?"

"Aku sangat percaya padamu." balas Kyungsoo, menyetujui keinginan Jongin tersebut.

Jongin masih memeluk Kyungsoo dalam dekapan dadanya, tiba tiba matanya melihat penampakan seorang yeoja dari luar mobil.

"Kyungsoo ya, bukannya itu noonamu..." seru Jongin,

"Noonaku?"

"Sepertinya."

Kyungsoo menarik tubuhnya dari Jongin, sambil mengusap sisa air matanya dia menoleh kearah pandangan Jongin, tidak jauh disana.

"Yoona noona." lonjak Kyungsoo, Jongin benar, kakaknya berjarak beberapa meter dari mobil.

"Pergilah dan temui noonamu, kau pasti merindukannya." gumam Jongin, memberikan waktu pada Kyungsoo.

"Kau tidak ikut?"

"Lebih baik tidak. aku akan menunggumu disini." jawab Jongin, tersenyum.

"Baiklah kalau begitu."

Jongin mencium singkat bibir Kyungsoo, hal yang akan selalu dilakukannya setiap hari. Ciuman yang membuat Kyungsoo menjadi tenang dan nyaman.

"Aku mencintaimu Jongin ah."

"Aku juga mencintaimu Kyungsoo ya."

Kyungsoo memandang lagi wajah kekasihnya, setelah itu dia keluar mobil dan menemui kakaknya.

o

o

o

o

Kyungsoo berlari dan memanggil nama kakaknya, langkahnya berdebam di trotoar.

"Yoona noona..." pekik Kyungsoo, keras.

Seorang yeoja menoleh cepat, dia tidak sendiri, ada yeoja lain yang bersamanya. Yeoja itu memang Yoona, kakak Kyungsoo.

"Soo ya." Yoona balas memekik, gadis cantik itu sangat senang melihat adik laki laki satu satunya itu.

"Noona kemana saja..." Kyungsoo langsung memeluk Yoona, erat, matanya berkaca kaca lagi.

"Aku beberapa kali menelfonmu Soo ya, tapi tidak diangkat." timpal Yoona, membalas pelukan Kyungsoo.

Kakak dan adik itu meluapkan perasaan bahagia mereka, karena hampir seminggu lamanya mereka tidak bertemu.

"Kenapa wajah noona pucat?" tanya Kyungsoo, setelah dia melepaskan pelukannya, namja itu memandangi wajah cantik kakaknya lekat lekat.

"Itu karena aku hamil Soo ya, wajar." jawab Yoona, tersenyum manis.

"Bagaimana kandungan noona? Baik baik saja kan? Namja itu bagaimana? Dia mau bertanggungjawab kan? Dia harus menikahi noona. Noona sudah sangat menderita, noo..."

"Soo ya, pertanyaannya satu satu. Aku susah menjawabnya." ucap Yoona, seraya mencubit pelan pipi Kyungsoo. Kebiasaan yang selalu di lakukannya pada adiknya itu.

"Maaf noona..." Kyungsoo tertawa pelan, dia terlalu bersemangat.

"Aku baik baik saja Soo ya, kandunganku juga. Seunggi akan bertanggungjawab. Kami akan menikah lusa, dan aku ingin kau datang dan menjadi saksinya." terang Yoona, memegang dan mengelus perutnya. Perut yang belum terlalu membuncit, mengingat usia kandungan baru mendekati dua bulan.

"Noona akan segera menikah?"

"Iya Soo ya... Seunggi dan aku sepakat menikah. Aku tidak ingin kandungan ini membesar sebelum menikah." jawab Yoona.

"Tapi.. Bagaimana dengan omma dan appa? Noona tidak meminta restu mereka?" tanya Kyungsoo, mendesah.

Yoona menggeleng pelan, wajah cantiknya masih menyiratkan rasa bersalah kepada kedua orangtuanya. Seharusnya dia tidak melakukan 'dosa termanis' bersama Seunggi sebelum waktunya. Dia 'kebablasan' dalam berpacaran.

"Setelah aku menikah dengan Seunggi, baru aku memberitahukan pernikahan itu pada omma dan appa. Aku belum berani datang dan memohon restu mereka, terutama appa... Aku tahu tabiat appa bagaimana Soo ya. Maka dari itu aku mengambil keputusan menikah saja. Omma dan appa Seunggi juga belum tahu. Kami belum bisa jujur mengenai masalah ini." jelas Yoona, panjang lebar, yeoja cantik itu menundukkan wajahnya.

"Tapi apa pernikahan noona sah tanpa wali dan saksi dari omma dan appa?"

"Aku tidak tahu Soo ya. Aku sudah terlanjur salah. Aku tahu itu... Aku hanya berusaha melakukan yang aku bisa, walau omma dan appa sudah kecewa dan malu dengan masalahku."

"Semua akan baik baik saja noona..."

"Maafkan aku Soo ya, aku tidak bisa menjadi contoh kakak yang baik untukmu." gumam Yoona, semakin merasa bersalah.

"Noona jangan bilang begitu. Noona tetap menjadi kakak yang terbaik untukku." kata Kyungsoo, tidak ingin kakaknya memikirkan hal hal tidak penting, takut jika kandungan kakaknya bisa terganggu.

Kyungsoo sempat mau jujur dengan masalah yang juga menimpanya, namun setelah berpikir, dia memutuskan tidak bercerita dulu.

"Sekarang noona tinggal dimana?" tanya Kyungsoo kemudian,

"Ah, hampir lupa. Kenalkan ini teman baikku, namanya Taeyeon. Aku tinggal dirumahnya. Dia juga tahu semua masalahku." jawab Yoona, sambil memperkenalkan yeoja cantik yang hampir seumuran dengannya, yeoja itu tepat disampingnya.

Kyungsoo membungkuk sambil mengucapkan namanya, si yeoja yang bernama Taeyeon juga balas membungkuk, saling memperkenalkan diri.

"Terima kasih karena sudah mau menampung noonaku." kata Kyungsoo, membungkuk berkali kali.

"Bukan masalah, Yoona dan aku sudah seperti saudara." timpal Taeyeon. Tersenyum manis.

"Soo ya, bagaimana denganmu? Sekolahmu baik baik saja kan? Kau bersama siapa?" tanya Yoona, matanya menyapu sekitarnya, mencari sosok lain yang mungkin bersama adiknya itu.

"Hm.. Aku.. Aku bersama Jongin." jawab Kyungsoo, tergagap. Namun tidak menjawab pertanyaan mengenai sekolahnya.

"Namja yang kemarin di kamarmu itu?"

"Ya noona, dia ada disana, menungguku." jawab Kyungsoo, seraya menunjuk mobil Jongin yang berjarak beberapa meter darinya.

"Apa kalian... Hh.. Kalian..." Yoona tidak tahu harus bertanya bagaimana, tapi dia rasa Kyungsoo tahu kemana arah pertanyaannya itu.

"Ya noona. Ka..kami berpacaran. Maafkan aku noona." Kyungsoo menundukkan wajahnya, jujur.

Yoona mendesah halus, yeoja yang hampir mirip dengan wajah Krystal itu memegang bahu adiknya,

"Aku tidak mempermasalahkan kau berpacaran dengan siapa. Yang penting kau bahagia. Cuma satu pesanku, kau harus bisa jaga diri. Jangan sepertiku..." Yoona memberikan nasihatnya sebagai seorang kakak. Dia akan memberikan restunya pada siapa saja yang dicintai oleh adiknya itu, yang penting adiknya bahagia dengan pilihannya.

"Terima kasih noona." lega Kyungsoo, kakaknya tidak marah padanya.

"Baiklah Soo ya... Apa kau ingin ikut ketempatku?" ajak Yoona, setelah dia mengobrol lama. Dia tidak enak dengan Taeyeon yang juga bersamanya sejak tadi.

"Sepertinya tidak noona. Aku ditunggu Jongin... Tapi aku berjanji akan datang ke acara pernikahan noona." jawab Kyungsoo.

"Aku mengerti. Jaga dirimu..." Yoona sekali lagi memeluk adiknya, Kyungsoo juga balas memeluknya.

"Noona juga jaga diri." timpal Kyungsoo, terisak haru.

Pelukan hangat dan rindu itu akhirnya terlepas. Yoona dan Kyungsoo berpisah ditempat itu. Yoona dan temannya, Taeyeon pergi dengan berjalan kaki, sedangkan Kyungsoo kembali ke mobil Jongin.

Kyungsoo menarik nafas dalam, rasa rindunya hilang sudah, dia sudah bertemu dengan kakak perempuannya dengan keadaan dan kondisi sehat.

'Maafkan aku Yoona noona, aku belum bisa jujur kalau aku diusir oleh appa dan juga dikeluarkan dari sekolah.' Kyungsoo membatin, dia berjanji akan jujur suatu saat nanti, tapi bukan sekarang.

Namja bermata owl itu melangkah kearah mobil Jongin, dia tidak ingin terlalu lama meninggalkan pacar pertama dan terakhirnya itu. Jonginlah menjadi alasannya bisa bertahan sampai sekarang ini.

Tidak jauh dari