VIDEO TAPE
By : Han Kang Woo
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, EXO Member, etc
Main Cast : KaiSoo
Genre : Romance, Friendship
Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M plus, NC
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
o
o
o
o
Namja bermata owl itu melangkah kearah mobil Jongin, dia tidak ingin terlalu lama meninggalkan pacar pertama dan terakhirnya itu. Jonginlah menjadi alasannya bisa bertahan sampai sekarang ini.
Tidak jauh darinya, Jongin masih setia menunggu didalam mobil. Namja itu tidak akan pernah lelah menunggu.
"Maaf Jongin ah, aku lama." kata Kyungsoo, saat dirinya sudah sampai dan masuk kembali kedalam mobil.
"Tidak apa apa. Bagaimana keadaan noonamu, dia baik baik saja kan?" Jongin menyunggingkan senyuman.
"Noonaku baik baik saja. Dia sebentar lagi menikah, dan aku berencana datang." jawab Kyungsoo.
"Syukurlah kalau begitu. Aku turut senang."
Dua namja itu saling melemparkan senyuman terbaik mereka. Senyuman yang saling menguatkan dan melengkapi. Jongin kemudian menanggalkan senyumannya dan menggantinya dengan wajah serius.
"Apa kau siap sekarang?" tanya Jongin, menggenggam tangan kanan Kyungsoo, erat.
"Siap apanya?"
"Ke rumahmu, bertemu dengan kedua orangtuamu."
"Se..sekarang?"
"Ya, sekarang juga."
"Tapi..."
"Aku akan berbicara langsung dengan appamu..."
"Tapi kau tidak tahu bagaimana tabiat appaku, dia sangat keras... Sangat berbeda dengan appamu." jelas Kyungsoo.
"Tenang saja, aku akan berusaha." Jongin untuk kesekian kalinya meyakinkan Kyungsoo agar berani dan tidak takut lagi.
"Baiklah Jongin ah, kita pergi." Kyungsoo menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan, Jongin selalu bisa menenangkannya.
"Ayo."
Dua kekasih yang saling mencintai itu akhirnya mengakhiri percakapan. Mereka saat ini juga akan bertolak menuju rumah keluarga Kyungsoo. Untuk menjelaskan semuanya sekaligus mendeklarasikan hubungan cinta mereka.
Waktu terus berjalan.
o
o
o
o
O...O...O...O
Hanya butuh waktu tiga puluh menit lebih untuk tiba dihalaman depan rumah keluarga Do. Jongin menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Kyungsoo. Wajah mereka berdua terlihat tegang, terutama Kyungsoo, sejak tadi namja itu meremas tangannya sendiri yang berkeringat.
Hening.
"Kau tidak apa apa kan?" tanya Jongin, seraya menghapus bulir keringat di dahi Kyungsoo dengan tangannya.
"Aku tidak apa apa." jawab Kyungsoo, sangat pelan. Dia tersenyum, senyuman kaku yang dipaksakan. Dia masih saja resah dan gelisah.
"Kau mencintaiku kan?" tanya Jongin lagi.
"Tentu saja. Aku sangat mencintaimu Jongin ah." jawab Kyungsoo.
"Aku juga sangat mencintaimu Kyungsoo ya. Cinta kita akan menjadi kekuatan untuk kita berdua. Percaya padaku, semua akan baik baik saja." ujar Jongin, yang tidak bosan bosannya memberikan energi semangat bagi Kyungsoo.
Dua namja itu saling berpelukan. Lalu saling kecup, yang juga berlangsung singkat.
"Ayo kita turun, aku akan jalan didepan dan kau dibelakangku. Aku yang akan berbicara dengan appamu." "Baiklah."
Mereka berdua turun dari mobil, dan lekas masuk kedalam area rumah Kyungsoo.
o
o
o
o
Pintu depan rumah Kyungsoo terbuka, namun tidak ada siapa yang duduk diteras rumah. Rumah itu sangat sunyi dan sepi, tetangga disamping rumah juga tidak ada yang tampak.
Dua namja itu berjalan pelan, tidak ada yang terucap dari bibir mereka berdua. Jongin sempat ingin memegang tangan Kyungsoo sambil jalan, namun dia membatalkan niatnya itu karena momentnya kurang pas.
Jongin ingin memencet bell disamping pintu, namun tiba tiba sesosok pria tua muncul dari dalam rumah, wajahnya serius dan galak.
"Maafkan aku ajuhsi. Aku..."
"Siapa kau? Mau apa?" tanya si pemilik rumah, dia adalah ayah Kyungsoo, tuan Do.
"Perkenalkan ajuhsi, namaku Jongin. Kim Jong In. Aku ingin mengatakan sesuatu ten..."
"Tunggu.. Tunggu, bukannya kau yang..." potong ayah Kyungsoo, dia agak sedikit mengenali wajah Jongin. Pria tua itu berpikir dan mengingat ingat.
"Maaf ajuhsi, bisa kita bica..."
"Tunggu, aku ingat sekarang... Kau.. Kau adalah pemuda yang melakukan hubungan intim dengan anakku, Kyungsoo. Aku ingat.. Itu kau.." seru ayah Kyungsoo, suaranya menggaung di ruang tamu itu.
"Iya ajuhsi, itu memang aku. Aku minta maaf. Aku sudah menyakiti anak ajuhsi." kata Jongin, jujur. Dia membungkuk beberapa kali.
Wajah ayah Kyungsoo berubah horor, dadanya naik turun, partner seks anaknya sudah ada didepan matanya. Namun dia mencoba untuk tetap tenang, walau hati dan dadanya sangat panas.
"Mana anakku?" tanya ayah Kyungsoo kemudian, suaranya masih keras.
Jongin mencoba memandang mata ayah Kyungsoo, lalu menggeser tubuhnya ke kanan, hingga sosok Kyungsoo yang kecil nampak. Sejak tadi Kyungsoo berlindung dibelakangnya.
"Ap..appa..." gagap Kyungsoo, dia berjalan dua langkah, sambil menunduk.
Ayah Kyungsoo menatap anaknya, agak lama. Dia menarik nafas dalam, sepertinya terus mencoba menahan amarahnya. Sebagai seorang ayah, ada rasa rindu yang dirasakannya kepada anak lelakinya itu.
Hening lama.
"Kyungsoo, masuk kedalam... Sekarang." ujar ayah Kyungsoo, menatap wajah anaknya yang menunduk.
Kyungsoo mendongak, mata bulatnya fokus pada sosok ayahnya itu. Ayah yang menyuruhnya untuk masuk.
"Masuk sekarang. Temani ommamu yang terbaring di kamar." ulang ayah Kyungsoo, kali ini memelankan suaranya.
"Kyungsoo, masuklah.. Dengarkan kata appamu, dia tidak marah padamu." gumam Jongin, menyuruh Kyungsoo mengikuti perintah ayahnya. Dia sedikit lega karena ayah Kyungsoo itu tidak memarahi anaknya.
Kyungsoo menoleh singkat pada Jongin, kekasihnya itu mengangguk padanya, anggukan disertai senyuman. Bergumam bahwa semuanya akan baik baik saja.
Kyungsoo akhirnya melangkah dan masuk kedalam rumah, namun langkahnya itu terhenti saat melewati ayahnya yang berdiri disamping sofa.
"Ajuhsi, aku ingin membicarakan se..."
"Sudah, kau jangan bicara lagi. Lebih baik kau pulang. Aku akan melupakan masalah ini. Masalah rekaman video yang dikirimkan itu. Melupakan semuanya. Pergilah, jangan kembali... Lupakan bahwa kau pernah melakukan itu dengan anakku." lagi lagi ayah Kyungsoo memotong kata kata Jongin.
"Tapi ajuhsi... Kedatanganku ingin menjelaskan semuanya. Aku..."
"Lupakan dan per..."
"Dengar dulu ajuhsi, aku belum selesai. Izinkan aku menyelesaikan kalimatku" seru Jongin, sedikit kesal karena kelimatnya selalu dipotong oleh ayah Kyungsoo.
Ayah Kyungsoo akhirnya diam, dia melipat tangan kedadanya, nampak tuan do itu menahan amarahnya dengan usaha keras, susah payah.
Jongin tersenyum dan membungkuk dua kali, berterima kasih.
"Aku menyesal atas adanya video itu. Rekaman video itu bukannya direncanakan ajuhsi. Perlu ajuhsi ketahui bahwa Kyungsoo tidak salah apa apa. Ini semua kecelakaan, bukannya direncanakan..." Jongin sejenak menjeda kata katanya, untuk menarik nafas.
"Semua salahku ajuhsi, aku yang memaksa Kyungsoo melakukannya malam itu. Aku dalam keadaan mabuk. Semua salahku. Kyungsoo sama sekali bukan pemuda pelacur seperti yang ajuhsi tuduhkan. Dia adalah namja baik baik selama disekolah, tidak pernah membolos sekolah. Akulah yang salah ajuhsi..."
"Jika kau hanya ingin menyampaikan itu, sudahlah. Aku sudah katakan bahwa aku sebagai appa Kyungsoo akan melupakannya. Dan..."
"Tapi aku mencintai Kyungsoo, aku mencintai anak ajuhsi." kali ini Jongin yang memotong kata kata tuan Do, memotongnya dengan ungkapan pengakuan cintanya pada Kyungsoo.
Deg.
"Apa? Ka..kau..."
"Aku mencintai Kyungsoo, ajuhsi... Dan aku ingin meminta restu dari ajuhsi." ulang Jongin, mantap dan jelas. Dia akhirnya mengaku dengan perasaannya didepan ayah Kyungsoo.
"Ka..kau.. Mencintai. Maksudmu mencintai... Mencintai Kyungsoo?" ayah Kyungsoo ingin memperjelas, berharap salah dengar.
"Ya ajuhsi. Mencintai dan menyayangi Kyungsoo. aku dan Kyungsoo sudah berpacaran ajuhsi."
Jdeerr,
Ayah Kyungsoo memegang dadanya, hampir jantungan dengan pengakuan Jongin itu. Pengakuan yang tidak pernah terpikirkan selama ini.
"Kau jangan main main..." bentak ayah Kyungsoo, lantang dan keras.
"Aku tidak main main ajuhsi. Aku dan Kyungsoo saling mencintai." terang Jongin, sangat berani.
Kyungsoo yang sejak tadi diam membisu, mencoba mengucapkan sesuatu, bibir tebalnya bergetar hebat.
"I..iya appa. Aku..aku dan Jongin saling mencintai. Aku menyukai Jongin, appa." Kyungsoo bergumam, terputus putus dan nyaris tidak terdengar.
Ayah Kyungsoo menoleh kebelakang, memandang anaknya dengan tidak percaya. Dia menggeleng kasar, dengan tangan terkepal.
"Apa kau sakit? hah... Kau gila. Apa ini yang appa ajarkan padamu. Kau sudah mengecewakan appa dan omma. Ommamu masih sakit, ini semua gara gara ulahmu. Sekarang kau muncul dan kembali... Membawa berita seperti ini. Appa kecewa padamu Kyungsoo." tukas ayah Kyungsoo.
"Tapi aku mencintainya appa. Perasaan tidak bisa dibohongi appa. Aku..."
"Sudah, cukup... Kau masuk sekarang." bentak ayah Kyungsoo, kemarahannya semakin memuncak.
Jongin maju beberapa langkah, tanpa pikir panjang, namja itu berlutut. Seperti prajurit yang kalah perang.
"Aku mohon ajuhsi, restui hubungan kami. Aku akan membahagiakan Kyungsoo." Jongin berkata, dengan posisi berlututnya itu.
"Diam kau..."
Ayah Kyungsoo tanpa aba aba langsung melayangkan tendangannya kearah Jongin. Bugh. Tendangannya tepat mengenai bahu Jongin.
"Argh..." Jongin menahan rasa sakit dibahunya, namun tidak bergeming.
Bugh... Bugh...
Ayah Kyungsoo memegang kedua bahu Jongin, kemudian melayangkan pukulan berkali kali ke wajah Jongin. Yang membuat namja itu tersungkur dilantai, bibirnya berdarah.
"Hentikan appa. Jangan sakiti Jongin." pekik Kyungsoo, histeris. Dia secepat kilat berlari dan mendekati Jongin.
"Kau tidak apa apa Jongin ah...?" mata Kyungsoo berkaca kaca, ayahnya sudah main tangan terhadap Jongin.
"Aku tidak apa apa Kyungsoo ya. Tenang saja." Jongin tersenyum, seraya memegang sudut bibirnya.
"Ak..aku sudah katakan, ini..ini tidak akan berhasil.. Hiks.. Hiks.." gumam Kyungsoo, air matanya berlinang, dia terisak isak, memegang pipi Jongin yang merah.
"Ini ujian bagi cinta kita Kyungsoo. Aku tidak akan menyerah." tegas Jongin, juga memegang tangan Kyungsoo yang ada dipipinya.
"Jangan bermesraan didepanku. Kalian membuatku muak." seru ayah Kyungsoo, ingin memukul dan menghantam Jongin lagi, namun Kyungsoo dengan cepat menghentikannya.
"Sudah appa, jangan pukul Jongin lagi.. Hiks.. Tolong appa." Kyungsoo memegang lutut ayahnya, memohon. Matanya sangat sembab.
"Biarkan aku menghajarnya, dia pantas menerimanya."
"Jangan appa."
"Ajuhsi, maafkan aku jika membuat kekacauan dirumah ajuhsi. Tapi aku datang untuk meminta restu ajuhsi. Aku paham dengan perasaan ajuhsi, tapi aku.. Aku sangat mencintai Kyungsoo." Jongin kembali ke posisi berlututnya, rembesan darah segar dari bibirnya tidak dipedulikannya.
Ayah Kyungsoo menarik keras kakinya, agar lepas dari pegangan Kyungsoo, tuan Do itu tanpa buang buang waktu langsung menarik sebuah lukisan besar didinding ruang tamu. Membuang lukisan tersebut kelantai, lukisan yang menampilkan foto keluarga itu kacanya pecah berkeping keping.
"Pergi sekarang... Atau aku akan menembak kepalamu." teriak ayah Kyungsoo, mengacungkan sebuah pistol kecil kearah Jongin, dikepala. Pistol itu diambilnya dari lubang kecil dibelakang lukisan keluarga tadi.
Deg.
"Ap..appa.. apa yang appa lakukan.." kaget Kyungsoo, tidak menyangka bahwa ayahnya ingin menembak Jongin.
"Diam."
"Appa... Tolong..."
"Pergi dari rumah ini... Sekarang..."
Jongin tidak bergeming, namja tampan itu tetap bertahan ditempatnya, dengan posisi berlutut.
"Aku hitung sampai tiga, jika kau masih keras kepala... Aku betul betul akan menembak kepalamu." ancam tuan Do, tidak main main. Dia sesekali memegang dadanya, karena jantungnya sedikit bermasalah.
"Satu."
"Jongin ah, pulanglah... Tolong.." kata Kyungsoo, terisak isak. Sepertinya usaha Jongin gagal untuk meminta restu orangtuanya.
"Tidak Kyungsoo, aku tidak akan pulang." balas Jongin.
"Tolong pulang, aku tidak ingin kau terluka."
"Kyungsoo ya, aku ti..."
"Tolong Jongin ah, demi aku... Pulanglah. Walau kita tidak bisa bersatu. Tapi hanya kau yang ada dihatiku... Selamanya."
"Dua."
"Tapi Kyungsoo..."
"Demi aku.. Demi cinta kita, pulanglah.. Aku mohon." paksa Kyungsoo, dia tidak ingin Jongin nya sampai tertembak.
Hening sejenak.
Lalu...
Jongin dengan gerakan sangat pelan berdiri, dia menyanggupi permintaan Kyungsoo.
"Baiklah, aku akan pulang." kata Jongin, terpaksa. Dia mengepalkan tangannya. Usahanya untuk meraih, bersatu dan mendapatkan restu tidak berhasil. Dia gagal. Dia tidak bisa meluluhkan hati batu ayah Kyungsoo.
Kyungsoo mendesah lega, sambil menghapus air matanya yang sejak tadi berlinang deras.
"Tapi aku akan kembali." tutup Jongin, menatap bergantian tuan Do dan Kyungsoo, setelah itu namja tersebut meninggalkan rumah Kyungsoo. Melangkah gontai keluar rumah.
'Jongin ah, maafkan appaku... Aku mencintaimu...'
Semua berakhir tidak sesuai harapan. Cinta tulus dan suci itu tidak mendapatkan restu. Akhir yang tragis bagi Jongin dan Kyungsoo.
Kyungsoo merosot dari tempatnya, menatap penampakan Jongin yang mulai menghilang, Sosok tampan yang bibirnya terluka akibat pukulan ayahnya. Dia menghapus air matanya lagi, namun air mata itu terus saja berlinang. Dihapus dan berlinang lagi.
'Kita mungkin akan bersatu di kehidupan yang lain Jongin ah.'
o
o
o
o
O...O...O...O
Malampun tiba.
Kyungsoo menangis terisak isak didalam kamarnya. Namja kecil itu telungkup diatas ranjang dengan wajah ditenggelamkan ke bantal. Kesedihannya semakin menjadi. Dia dipisahkan dengan Jongin.
'Kenapa appa... Kenapa... Aku sangat mencintai Jongin. Aku tidak bisa hidup tanpanya...' batin Kyungsoo, merintih pilu.
Ponselnya disita oleh ayahnya. Ponsel yang masih berisi video seksnya itu kini di offkan dan tersimpan didalam lemari dikamar ayahnya. Dia sama sekali tidak bisa menghubungi Jongin sekarang.
Ayahnya juga mengatakan akan segera pindah rumah. Karena sangat malu dengan tetangga. Kepindahan mendadak itu direncanakan lusa.
'Ya tuhan...'
Namja itu betul betul tidak menyangka akan berakhir seperti ini, ayahnya sulit diluluhkan. Harapan itu hancur berkeping keping.
Hening.
Kyungsoo berteman sepi, dia mengunci diri dalam kamarnya. Sesekali dia mencengkram sprei ranjangnya, bantalnya sudah basah oleh air mata.
Namun tiba tiba, ada sebuah suara ketukan pelan di jendela kamarnya. Ketukan yang tergesa gesa.
Deg.
Kyungsoo menoleh kearah jendelanya. Kaget. Mata sembabnya membulat.
"Jo.. Jongin.." Kyungsoo tidak percaya dengan penglihatannya.
Orang yang mengetuk jendelanya memang Jongin. Namja tan itu nekat datang kembali dan memanjat kamar Kyungsoo. Kenekatan karena cinta. Dia belum menyerah.
"Buka jendelanya Kyungsoo..." kata Jongin, hanya gerak bibirnya saja yang terlihat, suaranya tidak terdengar oleh Kyungsoo.
Kyungsoo tanpa buang waktu lekas membuka jendela kamarnya, masih sulit percaya jika Jongin kembali lagi.
"Jongin ah, kau..."
"Aku mengatakan akan kembali Kyungsoo, dan aku menepatinya sekarang." timpal Jongin cepat. Namja itu melompat dan masuk kedalam kamar Kyungsoo.
Tanpa abcde, Jongin langsung melayangkan ciumannya ke bibir Kyungsoo. Dia mencium Kyungsoo dengan penekanan, agak lama. Dan tentu saja Kyungsoo menyambut ciuman itu, walau awalnya agak kaget.
Sudut bibir Jongin yang berdarah tidak menurunkan kualitas ciumannya, ciuman yang akan selalu dirindukan dan diingat oleh Kyungsoo, selamanya.
Hingga bebebapa saat ciuman itu terlepas juga.
"Kyungsoo ya, kau masih mencintaiku kan?" tanya Jongin,
"Tentu saja Jongin ah, kau tidak perlu mempertanyakan itu lagi. Aku akan selalu mencintaimu." jawab Kyungsoo, dengan mata berkaca kaca.
"Kalau begitu, sekarang ikut aku... Aku akan membawamu pergi." kata Jongin, mengutarakan tujuannya datang malam begini.
"Pergi?"
"Ya, pergi. Aku akan membawamu pergi. Kita tidak akan terpisah."
"Ta..tapi..."
"Kau mencintaiku kan?"
"Y..ya, tapi..."
"Aku ingin selalu bersamamu Kyungsoo. Appamu sudah membuat keputusan untuk tidak memberikan restu. Tapi itu bukan akhir dari segalanya buatku... Aku tidak akan menyerah. Ikutlah bersamaku." ucap Jongin, memegang kedua pipi Kyungsoo, lembut.
Kyungsoo bungkam, dia sesekali melirik kearah pintu kamarnya, siapa tahu saja ayahnya menguping dari luar, tapi sepertinya aman. Diluar kamar sunyi dan sepi.
"Ikutlah denganku Kyungsoo. Aku berjanji akan melindungi dan menjagamu." ulang Jongin, terus meyakinkan Kyungsoo.
Kyungsoo memejamkan matanya singkat, lalu membukanya lagi. Desahannya terdengar jelas.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Kita akan terus bersama." kata Kyungsoo, akhirnya setuju.
"Terima kasih."
Jongin memeluk tubuh kecil Kyungsoo, dia sangat bahagia Kyungsoo mau ikut dengannya. Cinta mereka akan dibawa pergi, bersama sama.
"Ayo kita pergi sekarang." Jongin melepaskan pelukannya dan berganti memegang lengan Kyungsoo.
"Tu..tunggu dulu Jongin ah."
Kyungsoo dengan cepat mengambil sebuah kertas kosong diatas meja belajarnya, lalu menuliskan sesuatu disana, pesan untuk ayah dan ibunya.
'Appa.. Omma... Maafkan aku tidak bisa menjadi anak yang baik. Aku pergi bersama namja yang aku cintai. Aku akan baik baik saja. Jaga diri appa dan omma. Salam cinta.'
Kyungsoo meletakkan kertas pesan itu dibawah bantal, setetes air mata membekas diatas kertas itu, air mata penyesalan dari Kyungsoo karena sudah mengecewakan ayah dan ibunya. Namun keputusannya untuk pergi bersama Jongin sudah bulat.
"Ayo kita pergi Jongin ah." kata Kyungsoo, menghapus pelan air matanya dengan punggung tangannya.
"Baiklah."
Jongin memegang lagi tangan Kyungsoo, menuntun kekasih kecilnya itu naik ke jendela kamar. Mereka mengulangi adegan saat memanjat tembok belakang sekolah, moment itu sangat mirip. Sampai akhirnya mereka berdua mendarat mulus di tanah.
'Maafkan aku omma.. Appa... Aku mengejar kebahagiaanku.' Kyungsoo membatin. Menatap kamarnya, mungkin untuk terakhir kalinya.
Pasangan kekasih itu kabur. Kabur untuk mempertahankan cinta mereka yang tidak mendapatkan restu. Mereka sudah berjanji akan selalu bersama, apapun yang terjadi. Mungkin hanya kematian yang bisa memisahkan mereka.
Kekuatan cinta itu memang begitu besar.
o
o
o
o
O...O...O...O
Jongin dan Kyungsoo tiba di stasiun kereta api Seoul Station setengah jam kemudian. Mereka memesan tiket perjalanan dari kota Seoul ke kota Bucheon, tempat asal Jongin.
Dua namja itu masih berpegangan tangan saat masuk kedalam KTX (Korean Train Express). Dan menduduki tempat duduk mereka yang berdampingan.
Belum ada sepatah kata yang terucap, mereka membisu. Pikiran mereka masing masing sibuk dan bercabang, tapi yang pasti keputusan mereka untuk pergi bersama tidak bisa diubah lagi.
KTX yang mereka tumpangi belum berangkat. Jongin merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Mencari nomor kontak disana dan menekan tombol panggil.
"Halo hyung"
"Halo Jongin. Kau dimana?" orang yang ditelfon Jongin mengangkat panggilan.
"Maaf hyung, aku di stasiun kereta api sekarang. aku ingin meminta bantuan hyung... Tolong jaga appaku." kata Jongin, to the point.
"Kau bicara apa? Memangnya kau mau kemana?" tanya orang yang dipanggil kakak oleh Jongin itu. Dia adalah orang kepercayaan ayah Jongin. Orang yang diserahkan kepercayaan untuk mengelola perusahaan pasca ayah Jongin jatuh sakit. Namanya Kim Jaejoong, seorang pekerja keras, mantan karyawan di perusahaan tuan Kim. "Aku tidak bisa menjelaskannya hyung. Tapi aku meminta dengan sangat, tolong jaga Appaku... Hingga aku kembali." terang Jongin.
"Baiklah, kau tenang saja. Aku akan menjaga appamu. Tuan Kim sudah kuanggap sebagai ayahku juga."
"Terima kasih hyung. Aku senang hyung bisa mengerti."
"Aku paham Jongin. Jaga dirimu baik baik."
"Sama sama hyung."
Jongin menutup telefonnya, dia mendesah lega. Dia bisa pergi dengan tenang sekarang. Namja itu menoleh dan menatap Kyungsoo disampingnya, mengeratkan pegangan tangannya.
"Kau tidak menyesal ikut denganku kan?" tanya Jongin, wajahnya dan wajah Kyungsoo sangat dekat.
"Tentu saja tidak. Aku sudah memutuskan ikut denganmu." jawab Kyungsoo, mencoba menampilkan senyuman khas bentuk hatinya.
"Tapi bagaimana dengan pernikahan noonamu? Kau berjanji akan datang kan."
"Yoona noona pasti paham jika aku tidak datang. Dia sudah tahu bahwa kita berpacaran Jongin ah." timpal Kyungsoo, disertai desahan.
"Aku minta maaf, karena akulah kau tidak bisa datang."
"Bukan salahmu Jongin ah. Aku sudah membuat keputusan ini... Aku hanya ingin selalu bersamamu, selamanya."
"Bersama dan tidak terpisahkan." tambah Jongin.
"Apa kita akan kembali lagi ke kota ini?"
"Tentu saja, walau bagaimanapun orangtua kita ada di kota ini. Tapi setelah keadaan membaik, aku tidak bisa berjanji kapan kita akan kembali. Kau paham kan?"
"Aku paham Jongin ah."
Hening sesaat,
Jongin dengan pelan meraih bibir Kyungsoo, kembali menempelkan bibir mereka, berpagutan. Mereka berciuman didalam KTX yang mulai ramai dengan penumpang lain. Tapi mereka tidak mempedulikan itu, tidak mempedulikan apa kata orang, tidak peduli dengan cibiran, tidak peduli dengan umpatan. Yang mereka pedulikan hanyalah rasa cinta mereka yang meluap.
Setelah beberapa saat, ciuman lembut itu terlepas, benang saliva nampak dari sudut bibir mereka.
"Apa ini sakit?" tanya Kyungsoo, seraya memegang lembut sudut bibir Jongin, memegang hingga ke pipi.
"Tadinya sakit, tapi sekarang tidak lagi. Setelah kau memegangnya." jawab Jongin, disertai godaan khasnya. Namja tampan itu tersenyum.
Wajah Kyungsoo memerah, dia malu. Namja bermata bulat itu tidak pernah mengira jika Jongin lah yang pada akhirnya menjadi kekasihnya, namja partner seksnya yang terekam dalam sebuah video yang menghebohkan. Dan kini dia tidak bisa berpisah dengan namja tampan itu. "Saranghae Kyungsoo ya..." ucap Jongin, lembut.
"Nado saranghae Jongin ah..." balas Kyungsoo, sama lembutnya. Mereka berdua untuk kesekian kalinya mengungkapkan lagi perasaan cintanya.
Hening.
Kyungsoo merebahkan kepalanya ke dada bidang Jongin, dia bisa mendengar detak jantung namjanya itu. setetes air mata menggenangi pipinya, air mata bahagia sekaligus air mata permintaan maaf kepada ayah dan ibunya. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Jalan untuk tetap bersama Jongin, sampai mati.
'Kau akan bahagia Kyungsoo, aku akan menjadi sayap pelindungmu... Selamanya.' batin Jongin, membelai rambut Kyungsoo. Itu janjinya.
KTX yang membawa mereka perlahan bergerak, kereta api cepat itu akan segera melaju kencang dari kota Seoul ke kota Bucheon. Melaju bersama cinta mereka yang sejati. Cinta yang tidak akan lekang oleh waktu.
Selamanya, abadi.
o
o
o
o
o
o
o
END
O...O...O...O...O...O...O
Chapter akhir terpublish, uff.. Maaf jika jelek, no NC dan tidak sesuai harapan pembaca. Aku tidak tahu apakah ini butuh squel atau tidak.
Maaf juga untuk chap 12 kemarin, sepertinya terpotong lagi. Aku sudah republish beberapa kali, tapi sama saja. Jadi terpaksa aku edit lagi chap 13 ini dan menambahkan part yang terpotong itu. Maaf kalau membuat tidak nyaman.
Terima kasih pada pembaca setia (dengan akun dan tanpa akun) yang selalu memberikan waktu mereview ff Kaisoo ini, aku hanya bisa membalasnya dengan update cepat tiap waktu. Gomawoo ya...
Sampai jumpa lagi dilain waktu.
Salam sayang.
Han Kang Woo
