"Eomma harap hubungan kau dan Baek Hyun hanya sebatas teman"
***
"Kenapa Eomma ?"
***
"Jangan bertanya kenapa Soo, Eomma juga tidak tahu. Eomma tahu dia pemuda yang baik, tapi perasaan Eomma tidak enak. Ini naluri seorang Ibu, Soo"
Aku hanya bisa diam saat ibu meremas lembut kedua bahuku. Kenapa ibu tiba- tiba berkata seperti itu ? Apa karena Baek sering datang kerumah ini ? Tapi dimana letak salahnya ?
Kupandangi motor Baek yang semakin menjauhi pekarangan rumahku.
***
"Oh iya, tadi siang Chan Yeol menelpon. Dia sempat menanyakan kabarmu, dia juga bertanya kenapa akhir- akhir ini kau susah sekali dihubungi ?"
***
Aku mencelos mendengar pertanyaan ibu. Baru aku sadari kalau sudah dua minggu lebih aku tidak mengangat panggilan maupun sekedar membalas pesan darinya. Padahal dulu aku sangat antusias dengan segala hal yang berhubungan dengan pemuda itu. Namun aku tahu jawabannya. Cintaku padanya sudah tidak sebesar dulu. Cintaku sudah mulai terbagi, untuk seseorang yang selalu ada untukku. Dia Byun Baek Hyun.
Maafkan aku Eomma.
***
Sore itu aku dan Lu Han baru selesai mengikuti kelas vokal. Kami berjalan melewati koridor yang masih nampak ramai. Sesekali aku dan Lu Han menyapa siswa- siswi yang kami kenal. Sampai akhirnya ada seorang siswi yang menghampiriku.
***
"Kyung, ada titipan untukmu"
Aku dan Lu Han saling berpandangan. Lu Han malah mengedikkan bahunya, tidak tahu.
Meski ragu, aku mengambil setangkai mawar merah dan surat berwarna biru muda yang disodorkan gadis itu.
***
"Aku pergi dulu ya, oh iya si penitip mengatakan agar suratnya langsung dibuka. Bye Kyung Soo, bye Lu Han" Aku dan Lu Han mengerutkan kening menatap punggung siswi tadi yang mulai menjauh. Kubolak- balik surat yang ada ditanganku.
***
"Cepat buka Soo !" aku mendelik melihat Lu Han yang begitu excited. Namun aku menurutinya juga.
***
'Bukankah mawar merah melambangkan sebuah cinta ? Temui aku digerbang sekolahmu karena saat ini aku membawa banyak cinta untukmu'
***
Aku tertawa membaca tulisan yang terkesan gombal itu, tapi Lu Han malah menjitakku. Sahabatku itu langsung mengajakku kembali berjalan, namun hal aneh kembali kami lihat. Disebuah tiang, bersandar sebuah mawar merah. Lu Han langsung mengambil mawar itu.
***
"Untuk Do Kyung Soo" kata Lu Han sambil membaca kartu yang tersemat ditangkai mawar. Meski bingung, aku dan Lu Han tetap berjalan untuk kemudian menemukan mawar merah lagi, lagi, dan lagi. Ditiang- tiang, dipohon- pohon, dengan ucapan yang sama tanpa ada nama pengirim.
***
"Orang ini pasti romantis sekali" aku mengangguk untu menyetujui Lu Han. Kupandangi mawar- mawar yang ada ditanganku dan Lu Han. Siapa yang melakukan ini ? Membuatku bingung. Namun kebingunganku langsung sirna saat mendengar teriakan Lu Han.
***
"Soo, lihat itu Baek ! Woah !"
Aku langsung memutar kepalaku dan benar saja, di depan gerbang sana ada Baek yang dikelilingi siswa- siswi disekolahku. Baek yang melihatku dan Lu Han langsung tersenyum lebar. Dengan langkah lebar dia mendekatiku dan Lu Han. Tunggu dulu ! Yang ada ditangannya itu bunga kan ? Tapi untuk apa ?
***
"Soo"
***
Aku menahan nafas mendengar Baek memanggil namaku dengan nada berbeda. Aku menoleh kesamping, eh dimana Lu Han ? Lalu kenapa semua orang disini memperhatikanku dan Baek sambil tersenyum- senyum seperti itu ?
***
"Soo, mungkin ini terlalu cepat untukmu. Aku- aku, ugh ! Aku bukan orang yang romantis. Aku hanya ingin mengatakan, maukah kau merajut hari indah bersamaku ? Menjadi kekasihku ?"
***
Eh ? Baek menyatakan perasaannya padaku ? Ya Tuhan, mimpi apa aku ?
Uh, rasanya banyak kupu- kupu yang beterbangan diperutku, kakiku juga mendadak lemas.
***
"Kalau kau mau menjadi kekasihku, tolong ambil sebuket mawar merah ditangan kananku, tapi jika kau hanya menginginkan kita berteman, silahkan ambil sebuket lili ditangan kiriku" aduh kenapa Baek sambil tersenyum semanis itu ? Rasanya jantungku hampir berhenti.
***
"Terima ! Terima ! Terima !"
Kuedarkan pandanganku ke seluruh siswa- siswi yang mulai heboh. Oh, apa yang dilakukan Lu Han ? Sial ! Apa dia sedang merekam aku dan Baek sambil tertawa.
***
Kualihkan pandanganku lagi pada Baek. Sepertinya dia sama gugup sepertiku.
"Soo, jika kau tidak ma-"
sret !
Dengan cepat aku merebut sebuket mawar merah ditangan kanannya. Baek mematung tapi setelah langsung tersenyum lebar.
***
"Terimakasih Soo"
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum semanis mungkin saat Baek memelukku kemudian mencium keningku dengan hangat. Bahkan aku mulai tersenyum lebar mendengar siswa- siswi disekitar kami yang semakin heboh.
***
Ah, adakah hari yang lebih indah dari hari ini ?
***
