Tidak terasa sudah lima bulan aku dan Baek menjalin hubungan. Sampai saat ini semuanya berjalan baik-baik saja, bahkan terkesan indah. Aku merasa sangat beruntung memiliki kekasih seromantis dan sebaik Baek.

Pernah suatu hari saat pulang sekolah Baek menelponku dan mengatakan tidak bisa menjemputku karena motornya sedang diperbaiki. Aku bisa megerti, namun hujan datang dengan tiba- tiba sebelum aku keluar kelas. Aku yang bingung hanya bisa berdiam diri didepan kelas sambil menunggu hujan reda.

Kuedarkan pandanganku kesekitar. Rupanya sekolah sudah mulai sepi. Kuhela nafasku. Sepertinya aku harus nekat menerjang hujan.

Aku sudah mengambil ancang- ancang untuk berlari sebelum sebuah tangan menarik pinggangku dan membuatku menoleh kebelakang.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Sayang"

Baek ?!

Bukankah dia bilang tidak bisa menjemputku ? Kenapa sekarang malah ada dihadapanku ? Dia juga membawa payung berwarna biru muda.

"Aku sudah bilang kan kalo motorku rusak ? Jadi maaf ya kalau aku hanya mengantarmu dengan sepasang kaki ini" kata Baek sambil tersenyum kecil.

"Harusnya kau tidak perlu menjemputku, hujan sedang lebat"

"Maka dari itu aku menjemputmu. Aku tidak mau kekasihku yang cantik ini jadi sakit karena kehujanan"

Ugh ! Kenapa wajahku memanas ? Sialan !

"Ayo pulang, hari sudah mulai gelap"

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum saat Baek menggenggam erat tanganku.

Rasanya seperti di drama saja, berjalan di bawah hujan bersama orang yang dicintai dengan satu payung yang melindungi kami.

Selama di perjalanan, kami lebih banyak diam namun tangan kami saling menggenggam semakin erat.

.

.

.

.

From : Chan Yeol sunbae

Soo, apa kau sibuk ? Aku ingin menelponmu

Aku menatap resah ponsel ditanganku, pasalnya siang ini aku sedang makan siang bersama Baek. Sebenarnya aku ingin sekali Chan Yeol sunbae menelponku. Aku sedikit merindukannya, hanya sedikit.

"Ada apa sayang ?"

"Ah, tidak. Tidak ada apa- apa" dustaku karena Baek menyadari keresahanku.

Baek hanya mengangguk meski aku yakin dia masih ingin bertanya. Aku pun melanjutkan makanku dan melupakan pesan dari Chan Yeol sunbae. Seharusnya aku sudah melupakan pemuda itu karena aku sudah bersama Baek. Namun entah kenapa hati kecilku mengatakan tidak boleh melupakan pemuda itu.

"Baek Hyun ?!"

Aku dan Baek refleks menoleh kearah suara yang memanggil nama Baek. Ada seorang perempuan berpipi chubby yang berjalan cepat kearah meja kami sambil tersenyum lebar.

"Min Seok" kata Baek sambil ikut tersenyum.

Begitu sampai di meja kami, Min Seok mengerutkan keningnya saat menatapku. Dia seperti tidak suka padaku, tapi kenapa ?

"Dia Kyung Soo, kekasihku" Baek Hyun mengerlingkan matanya dan membuat mulut perempuan bernama Min Seok itu terbuka lebar. Dia malah menatapku dan Baek bergantian.

"Kau gila Baek ! Dimana akal sehatmu ?" Suara Min Seok seperti orang yang sedang menahan emosi.

"Ini hidupku, bukan hidupmu" sungut Baek

"Kau akan menyesali ini Baek !" Kata Min Seok sambil berlalu begitu saja. Aku tidak bisa menyembunyikan keherananku. Dia kenapa sih ? Kenapa marah- marah begitu ? Apa dia tidak suka Baek menjalin hubungan denganku ?

"Jangan hiraukan dia, mungkin dia sedang PMS" kata Baek sambil terkekeh, aku hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu.

.

.

.

"Kau baru pulang Soo ?"

Aku yang saat itu sedang tiduran dikasurku menoleh kearah Ibu yang sedang berdiri di ambang pintu kamar.

"Iya Eomma"

Kulihat Ibu mulai memasuki kamarku. Memperhatikan isi kamar ini dengan pandangan yang sulit diartikan. Ibu berhenti di depan meja belajarku, dapat kulihat wanita yang kusayangi itu menghela nafas saat melihat figura yang berisi fotoku dan Baek. Ibu mengusap foto itu pelan. Aku hanya diam dan memperhatikan Ibu.

"Eomma tahu, Baek Hyun memang lebih tampan dari Chan Yeol, dia lebih romantis dan sangat perhatian"

Rahangku mulai mengeras, aku tahu pembicaraan ini akan berlanjut kemana.

"Tapi harusnya kau menuruti kata- kata Eomma, Baek Hyun tidak baik untukmu"

Sudah kuduga akan seperti ini.

"Tolong jangan meragukan naluri seorang Ibu" kata Ibu dengan wajah memohon.

Maaf Bu, aku tidak bisa. Aku sangat mencintai pemuda itu.

"Semalam Chan Yeol menelpon, katanya minggu depan dia akan pulang" kata Ibu mengalihkan pembicaraan karena aku sama sekali tidak menanggapi ucapannya. Bukan maksudku menjadi anak durhaka. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana menanggapi perkataan Ibu tentang Baek.

"Dia juga mengatakan akan berkunjung kesini" aku tidak bisa pura- pura buta saat melihat senyum lebar menghiasi bibir ibu. Aku tahu, Ibu sangat ingin aku bersama Chan Yeol. Tapi aku lelah bu, aku lelah menunggu pemuda itu membalas cintaku. Lagipula dia berkunjung kesini juga karena dia sudah menganggapku sebagai adiknya. Dia pernah berkata begitu kan ? Jadi tolong Bu, biarkan aku bahagia dengan pilihanku.

.

.

.

.

"Oh Baby, I'll take You to the sky, forever You and I, You and I, You and I .. and will be together till we die.. "

"Kenapa diam ?"

"Aku lupa lanjutannya"

Aku tertawa melihat Baek yang memeluk gitarnya dengan lesu. Padahal awalnya dia begitu bersemangat menyanyikan lagu itu untukku.

"Tidak apa, aku sudah sangat senang kau mau menyanyi untukku" kataku sambil tersenyum lebar dan mencium pipinya membuat Baek tersenyum cerah.

"Main ke rumahku mau ? Di rumah sedang sepi" ajak Baek sambil menggenggam kedua tanganku.

.

.

Ini kali pertama aku berkunjung ke rumah Baek. Rumahnya tidak lebih besar dari rumahku tapi entah kenapa suasananya membuatku nyaman. Mungkin karena di depan rumah Baek banyak ditanami bunga- bunga. Ibunya pasti sangat menyukai keindahan.

Setelah Baek memasukkan motorny ke garasi, Baek mengajakku masuk ke rumahnya.

Bukannya tadi Baek bilang rumahnya sepi ? Tapi kenapa ada seorang perempuan duduk di sofa yang ada di depan tv ?

"Yi Xing ? Kau bilang akan pulang malam ?" Baek bertanya pada perempuan yang sedang membelakangi kami.

"Iya, aku bosan makanya pulang" jawab Yi Xing tanpa membalik tubuhnya

Baek hanya mengangkat bahunya kemudian memeluk pinggangku dan mengajakku ke kamarnya.

Aku sedikit tercengang melihat kamar Baek yang bernuansa err- pink ? Aku meringis, ternyata kekasihku ini lebih feminim dariku.

"Duduk saja di kasur. Aku membuat minum dulu" kat Baek sambil keluar dari kamar.

Aku perhatikan isi kamar Baek. Ini tidak bisa disebut kamar laki- laki. Kamar ini terlalu girly. Kamar Baek juga terlalu rapih untuk seorang laki- laki. Aku benar- benar bingung.

Kuperhatikan beberapa foto yang menggantung di dinding kamar. Ada foto Baek bersama teman- temannya, ada foto Baek dengan bandnya, ada foto Baek bersamaku dan ada foto Baek bersama seorang perempuan yang terlihat lebih dewasa darinya, apa itu Yi Xing ?

Ku alihkan mataku ke foto lain, ada foto seorang pria dewasa, wanita dewasa dan dua orang perempuan kecil, yang terlihat lebih tinggi berambut hitam panjang dan dikuncir satu mirip dengan Yi Xing dan yang lebih kecil berambut pirang dikuncir dua mirip dengan.. siapa ya ? Aku seperti tidak asing. Senyumnya, matanya, seperti ..

"Itu memang Baek Hyun"

Aku hampir saja meloncat saat sebuah suara yang terkesan dingin menyapa indra pendengaranku. Bisa kulihat perempuan yang kutebak bernama Yi Xing itu memandangku tajam.

"Ta- tapi foto ini .."

"Byun Baek Hyun memang perempuan"

Jantungku rasanya seperti lepas begitu saja. Lelucon apa ini ?!

"Jangan ikut campur urusanku" tiba- tiba saja Baek sudah mendesis di ambang pintu

"Tapi ini salah Baekki !" Bentak Yi Xing

"Soo, ayo aku antar pulang" Baek menarik tanganku. Aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Baek perempuan ? yang benar saja ! Kekasihku ini laki- laki. Tidak mungkin aku berpacaran dengan perempuan, aku masih normal !

.

.

"Tanyakan apa yang kau tidak mengerti Soo ?"

Aku baru sadar kalau aku dan Baek sudah sampai didepan rumahku. Aku segera turun dari motornya dan menatapnya ragu.

"Baek, apa benar ?"

"Ya, aku memang seorang perempuan" kata Baek dengan senyum kecut.

Kepalaku langsung pening mendengarnya. Demi Tuhan ! Jadi selama ini aku menjalin hubungan sesama jenis ? Hubungan terlarang ? Aku lesbi ? Argh ! Bagaimana bisa ?!

"Soo .."

"Aku masuk dulu, selamat sore"

Aku langsung berlari memasuki rumahku dan membiarkan Baek terus memanggil namaku. Aku ingin menangis sekarang !

TBC