Aku baru saja berdiri saat melihat Baek dan teman- temannya keluar dari kampus. Semua temannya laki- laki. Aku berlari kecil.

"Baek !"

"Oppa !"

Kenapa ? Kenapa harus ada Su Ho lagi ?!

Bisa kulihat Baek yang tersenyum lebar pada Su Ho, namun saat melihatku dia malah menyipitkan kedua matanya. Kenapa Baek ? Apa sekarang kau membenciku ?

Aku tak percaya jika Baek memang tidak lagi menginginkanku.

Berhenti melihatku seperti itu Baek. Kau membuatku sakit.

Air mata mulai jatuh lagi ke pipiku. Aku tidak peduli Su Ho dan teman- teman Baek yang memandangku aneh. Aku segera berlari dari tempat itu. Aku ingin pulang.

Aku duduk dibangku halte yang terletak tidak jauh dari kampus Baek.

"Baek, hikss.. "

Rasanya susah sekali menghentikan tangis ini.

Kupukul- pukul dadaku untuk menghilangkan sakit yang bersarang disana. Namun tidak bisa. Begitu sesak, membuatku menjadi sulit bernapas.

Mataku sedikit membulat saat merasakan sebuah tangan mengusap punggung kananku. Namun aku tidak peduli karena masih mengatur napasku yang tersenggal.

"Jangan menangis lagi"

Aku langsung menolehkan kepalaku kesamping. Ya Tuhan, apa aku bermimpi ? Baek berdiri disampingku. Dengan cepat kuhapus air mataku dan segera memeluk Baek.

Kupeluk dia dengan sangat erat.

"Baek" sial, kenapa harus menangis lagi.

"Kumohon Soo, aku tidak bisa melihatmu menangis. Kau membuatku sakit" Baek memelukku tidak kalah erat. Diusapnya rambutnya dan dikecupinya ujung kepalaku.

Setelah tangisku sedikit reda, Baek dengan perlahan bermaksud melepaskan pelukannya. Namun aku menahannya dengan memeluknya semakin erat. Kusembunyikan kepalaku didadanya. Sungguh, pelukannya terasa begitu hangat dan aku sangat merindukannya.

.

.

"Ayo, diminum Soo"

Aku mengangguk kecil dan menerima segelas jus apel yang disodorkan Baek padaku. Saat ini aku memang berada dirumah Baek.

Baek duduk disampingku sambil memeluk pinggangku dengan tangan kanannya.

"Aku merindukanmu Soo, sangat"

"Aku juga Baek"

Kulihat Baek tersenyum. Sangat manis. Dia semakin merapatkan tubuhnya padaku. Mengusap pipiku dengan lembut kemudian menyatukan keningnya dengan keningku. Beberapa detik kemudian bisa kurasakan bibirnya yang mulai mengecupi bibirku.

Aku tahu dia perempuan, sama sepertiku. Namun jujur saja, aku tidak bisa melihatnya seperti perempuan. Bagiku dia tetaplah laki- laki.

Kurasakan kecupan Baek semakin menuntut. Aku bermaksud membuka bibirku saat lidah Baek meminta izin untuk masuk. Namun tiba- tiba saja, bayangan Su Ho yang memeluk tangan Baek melintas begitu saja.

Segera kudorong tubuh Baek yang akhirnya memutuskan ciuman diantara kami.

"Kenapa Soo ?" Baek menautkan alisnya sambil membetulkan frame kacamatanya.

"Su Ho" cicitku tidak yakin

Baek malah mengerutkan keningnya. Kenapa dia bersikap seolah- olah tidak mengerti ?

"Waktu itu aku melihatmu dengan dia di lotte world. Beberapa hari yang lalu kau juga menjemputnya di sekolah. Kalian terlihat sangat dekat. Kalian memiliki hubungan kan ? Kalian pacaran ?" aku bertanya sambil menunduk, memilin ujung dress yang kukenakan.

"Ya. Kau benar."

Meski aku sudah tahu, tetap saja rasanya begitu menyakitkan.

"Oh" hanya kata itu yang keluar dari bibirku.

Semakin kutundukkan kepalaku. Tidak berani melihat Baek. Aku malu pada diriku sendiri. Dulu aku yang menyia- nyiakan Baek dan bodohnya sekarang malah menyesal.

"Aku dan Su Ho memang memiliki hubungan"

Aku tersentak saat Baek kembali menyelipkan tangannya untuk memeluk pinggangku.

"Tepatnya sebagai sepupuku bukan pacarku"

!

!

Apa katanya tadi ? Sepupu ?

Kulihat Baek yang sedang tersenyum jahil kearahku. Jadi selama ini aku sudah tertipu ?

Ya Tuhan !

"Soo.. Jangan bilang kau cemburu melihatku dan Su Ho" oh lihatlah seringai Baek. Pipiku benar- benar merah sekarang. Ugh, harus kusembunyikan kemana mukaku ?

"I-itu kan salahmu juga !" Kataku salah tingkah

"Maksudmu ?"

"Waktu di lotte world padahal kau melihatku tapi kau malah pergi begitu saja. Waktu tadi aku ke kampusmu, kau membiarkan Su Ho bermanja denganmu tapi kau malah memicingkan mata padaku. Apa kau memang tidak ingin lagi bertemu denganku ?" tanyaku dengan nada yang mengandung amarah.

Kulihat Baek menatapku dalam, kemudian memejamkan matanya.

"Saat di lotte world, aku memang sengaja menghindarimu. Aku tidak ingin kau merasa terganggu karena melihatku"

Dia terdiam sesaat untuk menghela nafasnya

"Meski aku harus rela menahan sakit karena berpura- pura tidak mengenalmu, terlebih lagi saat itu kau bersama seorang pria. Aku takut kalau dia kekasihmu"

"Baek-"

"Aku belum selesai Soo" potong Baek

"Saat tadi dikampus apa kau melihatku memakai kacamata ?" Tanya Baek sambil menunjuk frame kacamatanya.

Aku menggeleng kecil. Rasanya begitu malu karena sudah menuduh Baek yang tidak- tidak. Wajar saja tadi dikampus Baek menyipitkan matanya saat melihatku, rupanya ia tidak memakai softlense. Lagipula jarakku dengan dia tidak sedekat dia dengan Su Ho.

"Baek, maaf" kataku sambil menunduk.

"Sshh, bukan itu yang ingin aku dengar Soo" kata Baek sambil menangkup wajahku. Mencium keningku hangat.

"Aku mencintaimu Do Kyung Soo, sangat mencintaimu" bisiknya dengan merdu

"Aku juga mencintaimu Baek" kucium pipi Baek tapi dengan cepat Baek membawa bibirku kedalam ciuman hangatnya. Membuatku mendesah dalam kenikmatan yang aku rindukan.

.

.

~oOo~

.

.

Dari hari ke hari, aku dan Baek semakin terlihat mesra. Aku sudah tidak ragu mengakui diriku sebagai feme meski aku masih merahasiakan hal ini dari kedua orangtuaku dan Chan Yeol sunbae. Aku sudah memberitahu Lu Han, reaksinya sungguh diluar dugaan, si Rusa itu malah menjerit kemudian memelukku sambil mengatakan " Ya ampun Kyung, kau serius ? Aku kira hal semacam itu hanya ada dalam fanfiction tapi ternyata, oh oh oh, Baek memang butchy yang sesuai dengan yang aku bayangkan selama ini. Kalian memang serasi. Aku setuju. Restuku menyertai kalian !" Kedengarannya memang aneh, mana ada orang yang terdengar bahagia saat tahu sahabatnya memiliki kelainan ? Tapi aku senang karena dia tidak menjauhiku.

Aku dan Baek juga sudah memberitahu hubungan kami pada Yi Xing dan Su Ho. Mereka berdua memiliki tanggapan yang berbeda.

"Aku senang Oppa sudah memiliki kekasih sekarang. Terlebih lagi Kyung Soo sangat imut. Aku suka melihat kalian" tanggapan Su Ho sangat wajar karena dia seorang feme sama sepertiku jadi dia tidak merasa aneh. Su Ho juga tidak mau berhenti memanggil Baek dengan sebutan Oppa, katanya Baek memang lebih cocok menjadi laki- laki.

"Sejujurnya aku tidak mengerti jalan pikiran kalian. Hubungan tabu seperti ini tidak akan mudah diterima oleh masyarakat. Ah, terserah kalian, aku pusing" itu tanggapan Yi Xing, memang diluar harapan aku dan Baek tapi setidaknya dia tidak berniat memisahkan kami.

.

.

~oOo~

.

.

Sore itu aku sedang menghabiskan waktu bersama Baek, rencananya aku juga akan menginap. Tadi aku sudah meminta ijin pada ibu, tentu saja tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku bilang pada ibu akan menginap di rumah Lu Han untuk mengerjakan tugas dan ibu dengan mudah mengijinkanku. Sejujurnya rasa bersalah selalu menemaniku karena akhir- akhir ini aku jadi sering berbohong pada ibuku, tapi mau bagaimana lagi ?

"Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang ?" Tanya Baek yang saat itu sedang tiduran dipahaku. Dia mengusap lembut pipiku.

"Aku hanya sedang berpikir sampai kapan kita harus menyembunyikan hubungan kita dari orangtuaku ?"

"Aku selalu siap mengatakan hubungan kita pada orangtuamu dan kau tahu itu"

"Ya, kau benar" desahku.

Kami memang sudah terlalu sering membahas hal ini dan selalu berujung dengan pertengkaran kecil. Semuanya karena aku yang masih terlalu takut. Aku takut melihat wajah kecewa kedua orangtuaku jika tahu kalau anaknya menyimpang.

Baek sendiri tidak ambil pusing perihal orangtuanya. Orangtuanya sudah berpisah sejak dia berusia sepuluh tahun. Ibunya menikah lagi dengan seorang pengusaha di Jepang karena Ayahnya yang terlalu sering bermain wanita. Itulah sebabnya dia memutuskan menjadi lesbi. Baek tidak ingin disakiti laki- laki.

Sejak orangtuanya berpisah, Baek hanya tinggal dengan Yi Xing yang saat itu sudah berusia tujuh belas tahun. Mereka tidak memilih tinggal bersama ibu atau ayah mereka. Mereka lebih memilih tinggal berdua dan menyewa sebuah apartement. Meski begitu, kedua orangtua mereka rutin mengirimi uang setiap bulannya bahkan sampai Yi Xing bekerja pun mereka masih rutin mengirim uang.

"Kau lapar ?" Baek mendudukkan dirinya disampingku

"Tidak"

"Tapi aku lapar" keluh Baek

"Ya sudah, ayo kutemani" aku menarik tangannya untuk bangun tapi dia malah menarikku kembali sehingga membuatku kembali terduduk dikasurnya.

"Kau ini kenapa ? Katanya lapar ?"

"Sayang, sudah berapa lama kita tidak bercumbu ?" pipiku langsung merona mendengar pertanyaan Baek. Kenapa dia bertanya seperti itu ? Kenapa juga tubuhnya semakin rapat dengan tubuhku ?

"Baek" desisku saat Baek menidurkanku dan tubuhnya mulai menaiki tubuhku

"Aku sangat merindukan saat- saat seperti ini, Sayang" bisiknya ditelingaku. Aku melenguh saat dia mulai menggigiti telingaku. Ah, aku juga merindukan saat- saat seperti ini. Aku rindu sentuhannya, aku rindu ciumannya disetiap inchi tubuhku.

Kalian perlu tahu, meski Baek selalu menyentuhku tapi dia tidak membiarkanku gantian menyentuhnya. Dia bilang, asal aku puas maka dia akan ikut puas. Seperti saat ini, aku sudah tidak mengenakan apapun tapi dia masih memakai pakaiannya dengan lengkap.

"Butchy sejati tidak akan melepaskan seluruh pakaiannya saat sedang bercinta dengan kekasihnya" kata Baek saat aku bertanya kenapa dia hanya melepas jaketnya tanpa melepas t-shirtnya saat pertama kali kami bercinta.

TBC