Ujian kelulusan sudah didepan mata, membuatku harus menghabiskan waktuku untuk belajar, belajar dan belajar. Tidak ada jalan- jalan atau shopping bersama Lu Han dan tidak ada kencan bersama Baek. Ugh, ini sangat menyebalkan. Meski begitu, aku sadar kalau ini semua harus aku lakukan demi masa depanku.

Tuk tuk tuk

Suara ujung bolpoint yang sedang aku ketukkan ke meja belajarku. Sesekali masih ku buka lembar demi lembar buku pelajaran yang begitu tebal dihadapanku. Hah, aku mulai jenuh. Kulirik ponselku yang ada di meja bagian atas. Aku ingin menghubungi Lu Han, tapi untuk apa ? Siapa tau nanti dia sedang belajar dan aku malah mengganggunya. Kalau menghubungi Baek ? Ah, aku tidak mau mengganggunya. Akhir- akhir ini dia sangat sibuk dengan band-nya, kuharap suatu hari nanti dia akan jadi musisi terkenal. Lalu aku harus menghubungi siapa ? Aku sedang ingin bercerita saat ini.

Ah, mungkin menghubungi Chan Yeol sunbae tidak ada salahnya, lagipula sudah lama kami tidak berkomunikasi.

Segera ku ambil ponselku dan mencari kontak dengan nama Chan Yeol sunbae. Setelah itu langsung kutekan tombol call di layar ponselku. Nada sambung mulai terdengar, cukup lama. Kenapa Chan Yeol sunbae lama sekali menjawab panggilanku ? Apa dia sedang sibuk ? aku mencoba menghubunginya sekali lagi tapi tetap saja tidak dijawab. Huh, apa dia sudah tidur ? Saat itu aku melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kurasa masih terlalu sore, biasanya Chan Yeol sunbae tidur sekitar jam 11 malam.

Segera kubereskan buku- buku pelajaranku karena aku berniat untuk tidur, tapi baru saja aku berniat menyelimuti tubuhku, ponsel yang kuletakkan diatas meja nakas berdering. Segera kuambil ponsel itu 'Chan Yeol sunbae is calling', tanpa pikir panjang aku menekan tombol yes.

"Halo" ucapku memulai percakapan

"Halo juga Soo, maaf aku baru selesai mandi jadi tidak tahu kalau kau menghubungiku" kata Chan Yeol sunbae diseberang sana

"Tidak apa- apa sunbae"

"Hm, ada apa Soo ?"

"Tidak ada apa- apa, hanya merasa bosan"

"Ceritalah"

Dan kami terus mengobrol, mulai dari membahas cerita- cerita lucu yang berakhir Chan Yeol sunbae meledekku, kemudian laki- laki itu memarahiku karena aku malah menelponnya bukannya malah belajar untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi. Semua obrolan kami terasa begitu normal, seperti kami masih setiap hari bertemu. Hah, kenapa tiba- tiba aku jadi merindukannya ? Aku rindu menaiki sepeda bersamanya, aku juga rindu tangan besarnya yang sering mengusap kepalaku.

~oOo~

From : Byun Baek Hyun

Aku didepan sekolahmu Soo

Aku tersenyum lebar saat membaca pesan dari Baek. Segera kumasukkan peralatan sekolahku kedalam tas. Kemudian aku berlari kecil meski saat itu kudengar teriakan Lu Han yang mengajakku pulang bersama. Kulihat sekilas kalau sahabatku itu merengut dan segera kubalas dengan flying kiss sambil tertawa. Aku semakin tertawa keras karena Lu Han bergaya seperti ingin muntah. Aku tidak peduli. Aku sangat bahagia sekarang karena setelah satu minggu aku tidak bertemu Baek, kekasihku itu malah menjemputku hari ini. Rasanya aku ingin melompat- lompat karena saking senangnya.

Ah iya, kalau Baek menjemputku pasti aku akan pulang terlambat sampai rumah. Aku harus menghubungi ibu dulu sebelum ibu khawatir. Aku menghubungi ibu kemudian mengatakan akan pulang terlambat karena ingin pergi ke toko buku dipusat kota. Ya, daftar kebohonganku pada ibu semakin banyak dan sebenarnya aku juga sering merasa bersalah pada Lu Han karena selalu menjual namanya.

"Baek !" Aku segera memeluk Baek dari belakang saat Baek masih sibuk dengan ponselnya.

"Hei, kenapa kau mengagetkanku ?" Dia memutar tubuhnya kemudian mengacak sedikit poniku

"Aaa, kau merusaknya" rengekku, aku sangat suka bertingkah manja pada Baek

"Tidak apa, kau masih terlihat cantik" Baek mengerlingkan matanya membuat rona merah langsung menyebar diwajahku.

Tidak mau berlama- lama didepan sekolahku, Baek segera membawaku kerumahnya.

Begitu sampai di rumah Baek, aku langsung berlari ke atas menuju kamar Baek. Dirumahnya tidak ada siapa- siapa karena Yi Xing baru pulang nanti malam. Segera kubuka kancing seragam sekolahku, diluar sangat panas dan aku ingin mendinginkan tubuhku.

Aku mendesah saat hawa dingin dari AC yang ada dikamar Baek menerpa tubuhku. Sejuk sekali.

"Apa yang kau lakukan, hm ?" Aku tersenyum merasakan tangan Baek memeluk pinggangku. Dia memelukku dari samping dan menyandarkan kepalanya dipundak kiriku.

"Aku hanya merasa gerah"

"Apa kau lapar ?" Tanyanya. Bibirnya mulai menciumi leherku.

"Tentu saja, kau kan langsung mengajakku kesini dan aku belum sempat makan siang" aku mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipiku, pertanda aku kesal padanya. Dia malah terkekeh dan mengecup kilat bibirku membuatku lagi- lagi merona.

"Tunggu sebentar ya. Aku beli dulu di kedai depan, aku sedang malas memasak" Baek berjalan keluar setelah mengambil dompetnya.

Aku menidurkan tubuhku diatas kasur Baek, memeluk bantal gulingnya. Hm, aroma Baek tercium dengan jelas, terasa begitu memabukkan. Kugulingkan tubuhku kekanan dan kekiri sambil tersenyum- senyum sendiri. Terlihat seperti tidak waras tapi tidak apa, namanya juga orang sedang jatuh cinta.

Sret !

Eh ?

Mataku melebar saat tidak sengaja menjatuhkan sebuah kertas. Aku segera bangun dan mengambilnya. Kertas ini tiket penerbangan, atas nama Byun Baek Hyun dengan tujuan New York ? What the hell ! Apa maksudnya ? Kulihat tanggal perginya, 12 April 2014. Mataku semakin melebar. Segera aku melihat kalender mini di atas meja nakas, sekarang tanggal 10 April. Ya Tuhan, berarti dua hari lagi ?

Hatiku terasa mencelos. Kenapa Baek tidak memberitahuku ? Apa dia bermaksud meninggalkanku begitu saja ? Tapi aku salah apa ? Kurasa selama ini kami baik- baik saja.

Ah tunggu, kenapa aku jadi sensitiv begini ? Mungkin Baek hanya beberapa hari pergi ke New York kan ? Dan mungkin kepergiannya tidak terlalu penting jadi dia tidak atau belum memberitahuku. Iya, aku yakin itu.

"Sayang, aku datang. Cepat keruang makan !" Senyumku mengembang mendengar teriakan Baek dari bawah. Aku berlari kecil menghampiri Baek setelah mengancingkan seragamku.

Senyumku semakin lebar melihat Baek menata spaghetti diatas piring. Baek sangat tahu aku menyukai mie dari Italia itu.

"Ayo duduk disini" Baek menepuk- nepuk kursi disampingnya dan aku menurut. Setelah Baek menuangkan air kedalam gelas kami, acara makan pun dimulai. Kami makan dalam diam, karena aku tidak suka berisik saat makan. Dulu aku sering memarahi Baek karena dia terlalu banyak bicara saat makan.

Setelah selesai makan, kami kembali ke kamar Baek. Kami duduk diatas tempat tidurnya dengan satu tangan Baek yang memeluk pinggangku dan aku menyandarkan kepalaku kepundaknya. Aku sangat suka posisi seperti ini. Terlebih lagi saat ini Baek sedang memainkan jemariku dengan tangan kanannya. Menyelipkan jemarinya diantara ruang kosong jemariku.

"Sayang ?"

"Hm ?"

"Jika suatu hari nanti aku pergi, akankah kau tetap menungguku ? Tetap mencintaiku ?" Aku mendongakkan kepalaku, bermaksud melihat wajah Baek tapi dia menahanku tetap diposisi awal.

"Kau hanya perlu menjawab tanpa harus merubah posisi kita, Sayang"

"Tentu saja aku akan menunggumu dan akan tetap mencintaimu Baek" kataku dengan enteng

"Terimakasih Soo" aku mengangguk sambil tersenyum saat merasakan Baek mengeratkan pelukannya sambil menciumi kepalaku.

"Baek ?"

"Ya ?"

"Nanti jangan lupa bawakan aku oleh- oleh ya ?"

"Maksudmu ?" Entah perasaanku saja atau memang kenyataannya tubuh Baek tiba- tiba saja menegang. Aku mendongakkan kepalaku sambil tersenyum namun langsung pudar begitu saja melihat mata Baek yang terlihat seperti orang ketakutan. Matanya terus bergerak dengan gelisah.

"Tadi aku tidak sengaja melihat tiket penerbanganmu untuk lusa, jahat sekali tidak mau mengajakku" kataku sambil cemberut dan mencubit- cubit pipinya. Aneh, dia malah membuang wajahnya dan menghempaskan tanganku begitu saja.

"Kenapa ? Kau marah ya ? Aku kan hanya bercanda" kupeluk Baek dari belakang dan menggesek- gesekkan kepalaku dipunggungnya.

"Aku harus pergi Soo"

"Iya aku tahu, tapi jangan lama- lama ya, nanti aku rindu" kataku sambil terkekeh

"Menurutmu lima tahun itu waktu yang lama atau tidak ?"

Eh ?

Lima tahun ?

"Tentu saja lama Baek, aku juga yakin kau tidak akan tahan berpisah selama itu denganku" aku menarik kepalanya kebelakang. Mengecup bibir tipisnya. Satu kali, dua kali dan ketiga kalinya Baek mulai menghisap lembut bibir bawahku dan aku menghisap bibir atasnya. Hanya sebentar karena Baek mengakhirinya. Aku merengut. Padahal aku masih ingin berciuman dengannya.

"Kau benar Sayang. Aku pasti tidak akan tahan berpisah denganmu dalam kurun waktu selama itu, tapi itulah yang harus kulakukan" perasaanku mulai tidak enak

"Aku baru saja mendapat beasiswa dari kampusku untuk meneruskan sekolah musik disana, selama lima tahun" jantungku langsung berdetak tidak karuan. Dadaku terasa panas dan tubuhku mulai bergetar. Segera kudorong tubuh Baek menjauhiku. Tidak kupedulikan dia yang menatapku terluka.

"KENAPA BARU MEMBERITAHUKU ? APA KAU KIRA INI MASALAH SEPELE ? KENAPA TIDAK BICARA DULU DENGANKU ?!"

Aku berhak marah. Kenapa dia baru mengatakannya sekarang, disaat aku mulai terbiasa menjalani hidup bersamanya.

"Soo, ini mimpiku. Aku ingin jadi seorang musisi. Aku sudah lama berusaha untuk mendapatkan beasiswa ini. Mengertilah. Jangan seperti anak kecil"

"BAGAIMANA AKU BISA MENGERTI JIKA KAU BARU MEMBERITAHUKU SEKARANG ? PADAHAL KAU SUDAH BERNIAT PERGI SEJAK LAMA. KAU BERNIAT MENINGGALKANKU KAN ? KAU SUDAH BOSAN PADAKU ?"

"SOO ! JANGAN MENYULUT EMOSIKU !"

Rasanya aku ingin menangis sekarang. Baru kali ini Baek membentakku. Seegois dan sekasar apapun aku pada Baek, dia selalu lembut padaku.

Segera kuambil tasku dan bermaksud pergi meski pandanganku mulai kabur karena air mata yang mulai menggenang.

"Kau mau kemana ?" Baek menarik tanganku, aku bermaksud menghempaskan tangannya tapi dia semakin menggenggam erat tanganku.

"Kau tidak boleh pulang dengan keadaan seperti ini"

"Terserah aku mau bagaimana. Jangan campuri lagi hidupku" bisa kurasakan nada bicaraku mulai bergetar karena menahan tangis

"Apa maksudmu ? Aku ini kekasihmu"

"Tidak. Kurasa lebih baik kita pu-"

Bruk !

Mataku melebar sempurna saat Baek langsung menjatuhkanku diatas kasurnya dan dia langsung menindihku.

"Jangan pernah ucapkan kata itu, Soo. Sampai kapanpun" Baek mengatakan itu dengan nada yang begitu dingin dan tatapan yang begitu menusuk. Tubuhnya semakin erat memeluk tubuhku. Aku tak tahan lagi. Setetes air mata lolos begitu saja.

"Kau tidak menganggapku ada. Kau mengambil keputusan sendiri. Kau tidak merasakan sakitnya aku" aku mulai terisak

"Bukan seperti itu. Aku memang sudah berniat pergi dari sebelum aku mengenalmu. Ini mimpi besarku"

"Tapi kenapa kau baru mengatakannya sekarang ? Disaat kau akan pergi ? Ini tidak mudah Baek, ini menyakitiku" tangisku semakin keras. Dadaku rasanya sakit sekali.

"Maaf, aku tahu aku yang salah. Aku hanya tidak sanggup mengatakannya padamu. Kau juga harus tahu kalau ini menyakitiku" Jemarinya menyusuri pipiku, menghapus airmataku yang semakin deras.

"Kalau kau tahu ini menyakiti kita, kenapa tidak kau batalkan saja ? Tetaplah disini bersamaku" aku memohon padanya namun dia malah bangun dari posisinya dan berdiri membelakangiku.

"Mengertilah Soo"

Aku bangun dari posisiku. Tersenyum miris kemudian menyeka airmataku.

"Ya, aku mengerti. Aku mengerti kalau diriku tidak terlalu berharga untukmu"

Baek langsung memutar tubuhnya, bermaksud menyanggah ucapanku tapi langsung kucegah.

"Aku pulang" dan aku langsung berlari keluar rumahnya. Tidak ada gunanya lama berdebat jika pada akhirnya dia akan pergi juga. Mungkin aku memang tidak berarti untuknya, buktinya dia tidak mengejarku kan ?

~oOo~

From : Byun Baek Hyun

Tidakkah kau mengerti kalau ini mimpiku sejak lama ? Tidak mau kah kau mengerti ? Selama ini aku selalu mengerti keinginanmu, bisakah untuk sekali ini saja kau mengalah untukku ? Kau jelas tahu kalau dirimu sangat berharga untukku jadi jangan membuatku harus memilih. Ini sangat sulit.

From : Byun Baek Hyun

Kau sudah berjanji akan tetap menungguku dan mencintaiku jika aku pergi. Tolong jangan ingkari itu.

Aku menghela nafasku dengan berat. Mungkin benar kata Lu Han, aku harus merelakan Baek pergi untuk mengejar mimpinya. Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Maafkan aku yang seperti anak kecil Baek.

Aku melirik jam diatas meja nakas, masih jam 8 malam. Mau tidur, masih terlalu awal. Mau belajar, aku sedang tidak niat dan kalau dipaksa akan berakhir sia- sia.

Hm, mungkin berselancar di internet bisa mengisi waktu luangku. Aku membuka laptopku dan memulai aktivitasku. Aku mau mencari tahu apa ya ?

Ah, New York. Baek kan akan pergi kesana.

Aku mulai membaca bagaimana keadaan di New York. Mulai dari tempat- tempatnya, makanannya, kebudayaannya dan juga iklimnya. Hm, rupanya New York sangat modern. Kira- kira lima tahun kemudian Baek akan jadi seperti apa ya ?

Mataku terus melewati kalimat demi kalimat yang menghiasi monitor laptopku. Aku terpaku. Ada sebuah paragraf yang membuatku resah.

"Minggu lalu negara bagian New York meloloskan

peraturan yang mengizinkan pernikahan sesama

jenis. Dengan demikian ada sembilan negara bagian

di AS yang mengizinkan pernikahan gay dan

lesbian"

Di New York pernikahan sesama jenis sudah legal ? Berarti disana banyak penyuka sesama jenis kan ? Baek disana lima tahun dan itu bukan waktu yang sebentar. Bagaimana kalau Baek melirik gadis lain ? Atau bagaimana kalau banyak gadis- gadis yang menggodanya ? Aku takut. Bagaimana kalau nanti Baek mengkhianatiku ?

~oOo~

"Lu Han, cepatlah sedikit ! Nanti Baek keburu pergi !"

"Ish, matamu itu besar, tidak bisakah kau melihat di depan ada lampu merah ? Mana mungkin aku menerobosnya !"

Aku merengut mendengar kata- kata Lu Han. Kulirik jam tanganku, sudah jam 9.45 dan Yi Xing bilang Baek akan pergi dari rumah sekitar pukul 10. Haduh, bagaimana kalau dia pergi cepat ? Aku juga tidak membiarkan Yi Xing menahan Baek kalau dia pergi, aku ingin memberi kejutan pada Baek.

Aku bernapas lega saat lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Lu Han melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. Aku hanya bisa berpegangan sambil menutup mata dan berdoa. Huh, seandainya bukan dalam keadaan genting, aku pasti sudah memaki- makinya. Bisa- bisanya gadis rumahan seperti dia bertingkah seperti pembalap liar !

Ckitt !

Aku menahan napas merasakan betapa ngilunya Lu Han menginjak rem. Kubuka mataku perlahan, ah aku masih hidup.

"9.50 , masih ada 10 menit untuk ciuman terakhir" aku mendelik pada Lu Han yang saat ini malah memasang cengiran bodohnya. Namun sudah tidak ada waktu untuk memarahi Lu Han, aku segera keluar dari mobil, begitu juga dengan Lu Han.

Bisa kulihat didepan sana Baek sedang memasukkan barang- barangnya kedalam bagasi mobil dibantu Yi Xing dan Su Ho.

"Baek !" Aku berlari kecil untuk menghampirinya. Aku bisa melihat wajah kagetnya membuatku ingin tertawa. Dia pasti menyangka kalau aku tidak akan datang karena sejak pertengkaran kami dua hari yang lalu, aku tidak menjawab teleponnya ataupun pesan darinya.

"Perlu bantuan ?" Kataku sambil tersenyum menggoda. Namun dia diam saja, mendekat padaku tapi tatapannya begitu dingin.

Grep

Dia langsung memelukku.

"Anak bodoh ! Kukira kau tidak akan datang" bisiknya ditelingaku

"Tidak mungkin. Aku harus melihat kekasihku sebelum dia pergi" aku membalas pelukannya. Kami berpelukan sangat erat. Tidak kupedulikan Yi Xing, Su Ho dan Lu Han yang membereskan barang- barang Baek.

Bisa kurasakan kepala Baek yang semakin melesak dileherku. Kubalas dengan usapan- usapan dipunggungnya. Pelukan ini terasa begitu nyaman tapi dadaku tiba- tiba saja terasa sesak dan mataku mulai memanas karena paragraf yang semalam aku baca kembali berputar dipikiranku. Tubuhku bergetar dan aku tahu Baek dapat merasakannya karena dia semakin erat memelukku.

"Soo-"

"Baek ?"

"Ya ?"

"Saat kau pulang nanti, akankah hatimu masih tetap milikku ? Sepenuhnya mencintaiku ?"

"Tentu saja Sayang. Kau bisa pegang janjiku"

Aku berusaha tersenyum meski airmataku mulai menetes.

"Maaf karena sering membuatmu menangis, Sayang" aku menggeleng dalam dekapan Baek. Tidak, dia tidak salah. Aku saja yang terlalu cengeng.

"Baek, sudah jam 10 !" Itu teriakan Yi Xing. Mau tidak mau Baek harus melepas pelukannya.

"Maaf aku tidak mengantarmu ke Bandara. Aku tidak bisa membolos terlalu lama" kataku dengan nada menyesal

"Tidak apa, aku sudah senang melihatmu datang kesini"

"Aku juga tidak ingin menjadi semakin berat melepaskanmu"

"Ya, aku mengerti Sayang" Baek mengecup keningku dengan lembut.

"Ah, tunggu dulu" aku membuka tas sekolahku dan mengeluarkan boneka pororo dengan ukuran sedang.

"Ini untukmu, kau bisa memeluknya saat merindukanku. Jika kau tekan tombol ditengahnya, akan keluar rekaman suaraku. Aku menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu" kataku sambil tersenyum meski air mataku belum berhenti mengalir. Baek memelukku lagi dengan erat.

"Terimakasih Sayang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu"

"Aku juga mencintaimu kekasihku" kulepaskan pelukannya meski aku sangat tidak rela

"Sana pergi, sebelum aku tidak membiarkan kau pergi" aku menunjukkan senyum lebarku. Menyampaikan padanya kalau aku akan berusaha baik- baik saja.

Baek tersenyum kecil, mengusak sedikit rambutku kemudian masuk kedalam mobilnya yang sudah ada Yi Xing dibangku kemudi.

Aku, Su Ho dan Lu Han melambai pada Baek yang masih melambaikan tangannya meski jarak sudah cukup jauh.

Bisa kurasakan Su Ho dan Lu Han yang mengusap pundak kanan dan kiriku. Aku tersernyum membalas mereka.

Ku hapus air mataku perlahan.

Hati ini terasa begitu kosong, aku merasa ini tidak akan berjalan baik- baik saja. Hatiku mengatakan semua ini tak akan sama lagi.

TBC