Sudah seminggu lebih Baek pergi. Selama itu pula kami hanya bertukar sapa lewat aplikasi chatting yang bernama Line, itu pun kami tidak sempat untuk melakukan video call karena kami yang sama- sama sibuk. Terlebih lagi perbedaan jam antara Seoul dan New York sekitar sepuluh jam, membuat kami masih cukup sulit untuk menyesuaikan waktu meski hanya untuk sedikit melepas rindu.
Seperti hari ini, aku rela melewatkan waktu istirahatku disekolah untuk bertukar pesan dengan Baek. Lu Han sendiri meski awalnya sempat protes karena harus makan di kantin sendirian, sekarang sudah bisa memakluminya. Hah, Long distance relationship memang cukup menyiksa.
Aku mengotak- ngatik ponselku dengan gelisah, sudah lima belas menit berlalu tapi Baek belum mengirimiku pesan. Ingin aku mengirim pesan duluan tapi Baek pernah melarangku, katanya hanya dia yang boleh mengirimiku pesan duluan. Semilir angin yang masuk lewat jendela kelas yang terbuka membuatku semakin gelisah. Dua puluh menit lagi bel masuk akan berbunyi. Hatiku mulai merasa dongkol, aku baru saja memutuskan akan bermain game saat sebuah pesan akhirnya masuk. Wajahku langsung cerah begitu mendapati pesan dari Baek.
Baek : Maaf Sayang, aku baru pulang. Hari ini sangat melelahkan :(
Aku : Tidak apa, aku mengerti.
Baek : Really miss You Aku : Miss You too, Baek Aku tersenyum membayangkan wajah Baek disana. Dia pasti sekarang sedang cemberut karena kelelahan dan merindukanku. Meski baru mulai belajar disana, kekasihku itu memang langsung mendapat banyak tugas. Katanya untuk mengejar pelajaran yang tertinggal. Namun senyumku langsung pudar. Baek itu ambisius, dia pasti bisa mengerjakan semua tugasnya dan itu artinya dia biaa melupakan kesehatannya.
Aku : Kau sudah makan ?
Baek : Sudah Aku : Sungguh ?
Baek : Iya Sayang Aku : Tapi aku merasa kekasihku sedang berbohong Baek : Itu hanya perasaanmu Aku : Perempuan itu peka Baek : Hei, kau lupa ? Aku juga Perempuan Aku : Kalau kau perempuan, kau tidak mungkin berbohong. Ah, sepertinya kekasihku ini sudah menjadi lelaki sungguhan. Sudah mulai berbohong.
Baek : Yak ! Jangan samakan aku dengan lelaki, aku tidak suka ! Baiklah, aku memang belum makan. Aku lelah, ingin langsung tidur T.T Aku : Yeah, terserah kau. Kalau nanti kau mati kelaparan, dengan mudah bisa kucari butchy yang lebih keren.
Baek : Jahaaaaaaaatttt !
Aku tertawa membaca balasan dari Baek. Kalau dia ada didekatku, sudah dapat dipastikan pipiku akan habis dicubitinya.
Baek : Baiklah, aku akan makan setelah ini. Tetap mencintaiku ya ?
Aku : Iya Sayang Rasanya bibirku tidak bisa berhenti tersenyum. Meski hanya berbalas pesan dengan obrolan yang tidak penting, hatiku selalu terasa hangat jika dilakukan bersama Baek.
Dia orang yang selalu mengerti diriku. Dia orang yang mampu mencintaiku dengan tulus. Dia yang bisa membuatku tanpa berpikir panjang untuk merubah orientasi sex diriku dan dia orang yang aku inginkan untuk menemani hidupku selamanya.

~oOo~

Ibu selalu mengatakan bahwa ia sangat senang karena Baek tidak pernah lagi datang ke rumah. Dia merasa bersyukur karena katanya aku anak yang baik sehingga mau menuruti kata- katanya. Padahal sungguh durhaka diriku, membohongi terlalu jauh orang yang paling mencintaiku. Terkadang saat malam tiba aku juga sering menangis. Memikirkan bagaimana reaksi kedua orangtuaku saat nanti tahu kalau anaknya memiliki kekasih seorang gadis. Aku sangat tahu kalau hubungan ini salah, tapi cinta membuatku tidak bisa berpikir sehat. Hanya ada nama Baek di pikiranku. Oh, apa yang harus kulakukan ? Mungkinkah orangtuaku suatu hari nanti bisa menerima hubungan terlarang yang aku jalani dengan Baek ? Mungkinkah orangtuaku dikemudian hari bisa menikahkanku dengan Baek ?
Ah, aku terlalu banyak berkhayal.

~oOo~

Hari kelulusan sudah kulewati tanpa halangan yang berarti. Hari- hari yang menegangkan selama duduk dibangku sekolah tidak akan menyapa lagi. Aku merasa senang sekaligus sedih. Senang karena berarti aku tidak harus setiap hari datang kesekolah dan bisa bersantai dirumah untuk waktu yang cukup lama sambil menunggu ujian masuk universitas. Sedih karena dirumah aku sendirian sedangkan kalau sekolah aku selalu banyak teman. Namun setidaknya Lu Han bisa mengurangi kesedihanku karena terkadang dia masih suka datang kerumahku dan menginap. Bicara soal Lu Han, dia juga berniat masuk ke universitas yang sama sepertiku. Universitas yang sama dengan Chan Yeol sunbae. Rencananya kami juga akan mengambil modern music. Itulah sebabnya kenapa Lu Han masih berkunjung kerumahku, katanya biar mencari informasi bersama.
"Hei, ada chat dari Baek !" Lu Han melemparkan ponselku yang tadi sedang dimainkannya kearahku yang saat itu sedang membaca novel ditempat tidur. Langsung kuambil ponsel itu sedangkan Lu Han memilih bermain game dengan laptopku.
Baek : Sayang ?
Aku : Iya ?
Baek : Aku rindu, kita video call ya ?
Aku : Aku tunggu Tanpa menunggu lama, ada panggilan video call dari Baek. Aku langsung berlari menuju balkon karena tidak ingin mengganggu Lu Han.
"Kenapa lama sekali ?" Dengus Baek begitu aku mengangkat video call darinya "Maaf, tadi aku berlari dulu dari kamar. Disana ada Lu Han"
Baek hanya mengangguk- anggukan kepalanya tanda mengerti. Aku sangat senang karena baru kali ini kami melakukan video call. Wajahnya masih tampan seperti pertama kali kita bertemu. Namun penampilannya saat ini membuatku khawatir. Kantung berwarna hitam mulai menghiasi matanya, pipinya juga lebih tirus.
"Baek, apa kau hidup dengan baik disana ?"
"Tentu saja, memangnya kenapa ?" Aku menghela nafas. Gadis itu, kenapa dia tidak menyadari perubahan pada dirinya ? "Kau terlihat lebih kurus" kataku pelan. Baek terlihat berpikir sejenak.
"Ya kau benar. Beratku turun" Aku mendesah dan Baek sepertinya menyadari kekhawatiranku "Hei, kita melakukan video call bukan untuk menjadikanmu sedih tapi saling melepas rindu, iya kan ?" Aku tersenyum sambil mengangguk. Iya, Baek benar. Setelah lama tidak saling bertatap muka, harusnya kami membahas hal- hal yang menyenangkan.
Baek kemudian bercerita kalau dia sudah bisa beradaptasi dengan baik disana. Teman- teman yang menyenangkan membuatnya tidak merasa asing. Yah, pada dasarnya Baek adalah orang yang supel. Dia juga mengatakan akan kalau kemampuan bermain musiknya semakin bertambah. Dia sudah mulai ahli bermain drum dan sekarang sedang tahap belajar bermain piano. Ah, kalau mendengar ceritanya, sekolah disana terdengar penuh warna. Aku jadi ingin kesana tapi rasanya mustahil. Orangtuaku tidak akan menginjinkan, lagipula aku tidak bisa jauh dari orangtuaku.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi di Seoul, yang artinya malam sudah mulai larut di New York. Tak terasa sudah lebih dari satu jam kami melakukan video call. Baek juga sudah menguap beberapa kali. Dia pasti sangat mengantuk. Aku bermaksud mengakhiri obrolan kami tapi Baek melarang, katanya masih rindu. Dasar keras kepala. Aku langsung memarahinya dan dia akhirnya menyetujui ucapanku meski dengan tampang tidak rela.
"Baiklah, aku akan tidur. Tapi besok kita video call lagi ya ? Kau sudah mulai bersantai dirumah kan ? Nanti setiap pukul sembilan malam disini, ini akan menjadi video call wajib untuk kita" Aku tertawa mendengar kata- kata Baek, orang itu ada- ada saja. Dengan terpaksa langsung kuakhiri percakapan kami, aku tidak tega melihat mata Baek yang sudah hampir terpejam.

~oOo~

Baek menepati janjinya, video call rutin kita lakukan. Tidak peduli meski saat itu aku baru bangun tidur atau sedang menyiram tanaman sekalipun, yang penting bisa saling melepas rindu. Kadang aku suka tertawa sendiri, kenapa rinduku dan Baek seperti tidak ada habisnya ya ?
Aku merasa hubunganku dengan Baek semakin rekat, membuatku yakin kalau suatu hari nanti aku bisa hidup dibawah atap yang sama dengannya.

~oOo~

Hari minggu pagi, Chan Yeol sunbae sudah datang kerumahku. Dia memang pulang kerumahnya tadi malam dan mengirimiku pesan, mengajakku lari pagi. Aku menyetujuinya, tidak ada alasan untuk menolak, terlebih lagi aku memang tidak memiliki kegiatan lain.
Chan Yeol sunbae mengenakan kaos berwarna putih dan celana training berwarna abu- abu. Sebenarnya pakaian yang ia kenakan biasa saja, tapi dasarnya orang yang memakai tampan jadi dia terlihat keren.
Setelah meminta izin pada ibu yang saat itu sedang memasak, aku dan Chan Yeol sunbae segera keluar rumah. Kami berlari kecil, tidak jauh- jauh, hanya mengelilingi komplek perumahan kami. Sesekali kami bersenda gurau yang berakhir dengan cubitan dariku dipinggangnya. Dia malah tertawa dan berlari meninggalkanku membuatku mau tak mau mengejarnya.
"Hei, bagaimana kalau kita mampir dulu dikedai Bibi Han ?" tanya Chan Yeol sunbae begitu aku sudah berhasil menyamai larinya.
"Kupikir bukan ide yang buruk" jawabku sambil tersenyum. Setelah itu kami menambah kecepatan lari kami untuk segera sampai di kedai Bibi Han.
Begitu sampai di kedai, Bibi Han menyambut kami dengan hangat. Dia juga sempat memelukku dan mengatakan merindukan aku dan Chan Yeol sunbae.
Dulu saat Chan Yeol sunbae masih duduk dibangku high school, kami memang rutin lari pagi pada hari minggu dan selalu berakhir dengan sarapan hoedeok di kedai Bibi Han. Jadi wajar saja jika kami merasa akrab dengan wanita paruh baya itu.
"Ah, tak kusangka kalian masih bersama. Kalian memang serasi" Aku hanya tertawa menanggapi perkataan Bibi Han, sedangkan Chan Yeol sunbae malah menggaruk tengkuknya. Dari awal, Bibi Han memang menyangka kami sepasang kekasih.
Kami mencari tempat duduk dipinggir jendela, tempat favorit kami saat berkunjung ke kedai ini. Melihat orang yang berlalu lalang merupakan hiburan tersendiri.
"Soo ?"
"Ya ?"
"Coba kau lihat anak kecil dibangku taman itu" aku mengikuti arah pandang Chan Yeol sunbae. Ada anak perempuan kecil berkuncir dua yang sedang bercanda dengan orangtuanya. Mereka terlihat bahagia. Tawa lepas anak itu membuatku tersenyum secara tidak sadar.
"Dia manis sekali kan ?" Aku mengangguk tanda setuju dengan kata- kata Chan Yeol sunbae "Terkadang aku sering membayangkan jika suatu hari nanti bisa memiliki keluarga yang harmonis serta memiliki anak- anak yang lucu dan manis. Kau tahu kan anak kecil itu sangat menyenangkan ?" Hatiku seperti dihantam batu rasanya. Keluarga yang harmonis ? Anak- anak yang lucu dan manis ? Kenapa aku tidak pernah berpikir sejauh itu ? Dulu, sebelum mengenal Baek, aku memang selalu memimpikan hal seperti itu. Berharap suatu hari nanti aku bisa menjadi istri Chan Yeol sunbae, menciptakan keluarga yang harmonis serta membesarkan buah cinta kami bersama. Namun, sepertinya mimpi seperti itu harus ku kubur sedalam mungkin. Tidak mungkin aku bisa meraihnya jika bersama Baek.
"Ya, sunbae benar" lirihku bersamaan sesak yang memenuhi dadaku.

~oOo~

Sejak perkataan Chan Yeol sunbae minggu lalu, aku mulai menjauhi anak kecil. Memang terasa susah karena aku sangat menyukai anak kecil, tapi aku harus berusaha agar saat aku hidup bersama Baek nanti tidak akan membuatku kecewa karena tidak bisa memiliki makhluk manis itu. Bahkan saat kemarin bibiku menitipkan putrinya yang masih berusia tiga tahun, aku sama sekali tidak mau mengajaknya bermain atau pun memandikannya. Ibuku sampai heran karena melihat tingkahku yang seperti anti pada sepupuku itu, sebab ibuku tahu kalau aku selalu antusias jika si mungil itu datang kerumah.
"Kau sakit Soo ?" Ibuku terlihat sangat khawatir "Tidak bu, hanya merasa bad mood" dan ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Pasti ibu menyangka kalau aku sedang pra menstruasi syndrome.

~oOo~

Ini masih pagi tapi hatiku sudah terasa buruk. Baru juga aku selesai mandi dan membuka akun instagram, mataku langsung melebar melihat foto Baek terpajang begitu manis dengan seorang gadis. Kalau dilihat dari wajahnya, gadis itu seperti orang asia. Masalahnya kenapa Baek mengunggah fotonya dengan gadis lain ? Baru pertama kali dia melakukan ini. Biasanya dia hanya mengunggah foto bersama teman laki- lakinya. Hatiku semakin buruk saat melihat jam diponselku. Sudah pukul 11, artinya sudah lewat satu jam dari waktu biasa Baek menghubungiku. Hatiku semakin tidak karuan rasanya. Aku ingin menghubunginya tapi bagaimana kalau dia marah ? Aku juga tidak ingin Baek marah padaku, tapi aku aku belum bisa tenang sebelum mendengar penjelasan dari Baek.
Namun sepertinya Baek bisa merasakan kemarahanku disini, buktinya beberapa menit kemudian ponselku berbunyi. Ada video call dari Baek.
"Sayang, maaf" "Kukira kau lupa menghubungiku" aku mendengus melihat wajah memelasnya "Mana mungkin Soo" Entah kenapa, hatiku tiba- tiba saja merasa marah. Foto Baek dan gadis itu tidak bisa lepas dari otakku.
"Aku lelah Soo dan tadi aku ketiduran"
Aku diam namun terus menatapnya tajam.
"Jangan seperti ini Soo, bersikaplah dewasa"
Darahku langsung mendidih mendengarnya. Apa selama ini aku sangat kekanakan ? Aku tidak suka dengan perkataannya. Aku langsung memarahinya. Aku tidak suka dia terlambat menghubungiku karena itu artinya dia mengingkari janji, aku juga tidak suka dia mengambil foto dengan gadis lain. Aku ini tipe orang yang mudah cemburu, sangat posesif dan harusnya dia tahu itu.
"TIDAK MUNGKIN AKU HANYA BERTEMAN DENGAN LELAKI !"
"AKU TIDAK PEDULI !" Ini kali kedua kami saling berteriak. Dia yang selalu merasa dirinya benar dan aku yang begitu takut kehilangan dia. Semua berbaur menjadi satu. Tangisanku mulai terdengar lagi, aku tidak peduli dia yang mengataiku terlalu mendramatisir. Dia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Memang kusadari akhir- akhir ini aku selalu merasakan firasat buruk tentang Baek.
"KALAU KAU MEMANG TIDAK SUKA SIFATKU, TIDAK SUKA SIKAPKU, BUAT APA DIPERTAHANKAN LAGI ? KITA AK-"
"TUTUP MULUTMU DO KYUNG SOO !" tubuhku langsung bergetar. Tatapan mata Baek seakan ingin membunuhku. Bisa kurasakan pipiku semakin basah.
"Jangan pernah lagi kau mengatakan itu" desisan Baek membuat aura mencekam menyelimuti tubuhku. Aku tidak bisa melihatnya marah padaku, aku juga tidak ingin membuatnya marah. Sifat posesifku yang sudah melebihi batas membuatku tanpa sadar selalu mengawali pertengkaran diantara kami.
"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, aku terlalu mencintaimu" kuhapus lelehan airmataku. Rasanya semakin sulit berbicara dalam keadaan seperti ini.
"Aku tahu, aku juga sama sepertimu. Tapi kau menyakitiku, jika kau seperti ini artinya kau tidak mempercayaiku" aku terdiam melihat Baek memandangku dengan mata yang mulai memerah. Aku sudah menyakitinya ternyata. Kuhapus lagi airmataku. Merenungkan kata- kata Baek. Aku ingin percaya padanya, aku ingin mencoba mengerti dia namun kenapa rasanya terlalu sulit ? Terlebih lagi dia yang terpisah jauh dariku, aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dia lakukan.
"Apa aku bisa mempercayaimu ?" Lirihku "Kau bisa mempercayaiku Soo"
Rasa lega sama sekali tidak muncul membuatku semakin yakin kalau orang yang sedang berbicara denganku sudah tidak sama lagi. Senyum terakhirnya sebelum menutup panggilan terasa begitu hambar dimataku. Mata itu mengungkapkan rasa lelah. Lelah pada rutinitasnya ? Atau lelah padaku ? Aku tidak tahu.

TBC