Ini hari pertamaku dan Lu Han resmi menjadi mahasiswi di Seoul University. Seperti Chan Yeol sunbae, kami diwajibkan tinggal di asrama. Nasib baik kamarku dan Lu Han bersebelahan.
Setelah merapihkan barang- barangku, Chan Yeol sunbae mengajakku makan di cafetaria gedung seni. Lu Han tidak mau ikut, katanya ingin tidur. Kalian tahu ? Aku merasa Chan Yeol sunbae akhir- akhir ini sangat perhatian padaku. Katanya sih dia sudah di amanati oleh kedua orangtuaku untuk menjagaku, tapi sejujurnya aku merasa sedikit tak nyaman. Terlebih lagi dia memintaku memanggilnya 'Oppa', katanya agar lebih enak didengar. Sejujurnya dulu aku sangat ingin memanggilnya seperti itu, tapi takut dia tidak mau, tapi sekarang malah dia yang meminta.

"Tidak terasa ya Soo, kita masih bersama sampai sekarang"
Aku tersenyum menanggapi perkataan Chan Yeol Oppa kemudian melanjutkan makanku. Iya, dulu juga aku sempat berpikir kalau kami akan menjadi jauh karena Chan Yeol Oppa mulai masuk universitas. Ternyata tak sesuai pemikiranku, kami malah semakin dekat, bahkan ibunya pernah mengatakan padaku kalau pemuda itu rela setiap minggu pulang ke rumah karena ingin bertemu denganku. Alasannya memang terlalu merayu tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku merasa bahagia, aku merasa berarti untuknya.

"Iya, Oppa benar. Aku harap saat suatu hari nanti Oppa tahu kalau aku memiliki sisi buruk, Oppa tidak akan menjauhiku" kata- kata itu meluncur begitu saja. Namun memang itu yang aku harapkan, aku tidak ingin ada orang yang menjauhiku ketika mereka tahu aku menyimpang.

"Aku tidak mungkin menjauhimu kalau kata- kata cintamu selalu memenuhi pikiranku"

Ah, kata cinta ya ? Kata cinta yang dulu diabaikan. Kenapa sekarang dia malah mengingatkanku pada masa lalu yang begitu memilukan ?

"Soo ?" "Ya ?" Kubereskan dulu peralatan makanku dan mendorongnya sedikit kesamping kemudian membersihkan bibirku dengan tisu yang disodorkan Chan Yeol Oppa.

"Apa kau pernah merasa kalau orangtua kita terlihat bahagia saat melihat kita sering bersama ?" Aku mengangguk. Kenyataannya memang seperti itu. Apalagi ibuku, dia yang paling mendukung aku memiliki hubungan istimewa dengan pemuda tampan dihadapanku.

"Pernahkah terlintas dibenakmu kalau kau juga merasakan hal yang sama seperti mereka ?" Aku terdiam, masih belum menangkap inti pembicaraan ini. "Sejujurnya, aku merasakan hal yang sama seperti mereka" Sekarang aku seperti tidak memiliki lidah. Sulit berbicara namun aku sadar tenggorakanku tercekat. Ingin menangis tapi tidak sepantasnya. Kenapa baru sekarang dia mengatakannya ? Kenapa setelah aku merasa diriku hina ? Kalau saja dia mengatakannya sejak awal, aku pasti tidak akan mencintai Baek, aku tidak perlu membohongi ibu dan semuanya akan berjalan dengan mudah.

"Eum, maaf Soo. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman" Ya Tuhan, senyum gugupnya semakin membuat gundah hatiku. .

.

"Baek, apa kau memiliki cinta pertama ?" Kupandangi wajah Baek yang saat itu sedang memetik gitarnya. Dia terdiam sejenak kemudian menatapku dalam. "Tentu saja"
"Siapa orang itu ? Apa lelaki ?" Baek langsung menggelengkan kepalanya. "Tentu tidak. Cinta pertamaku ya kau. Dulu memang ada beberapa perempuan cantik yang mendekatiku, tapi belum mampu membuatku jatuh cinta" Aku ikut tersenyum melihat senyum lembut Baek. Aku juga merasa senang menjadi cinta pertama gadis itu.
"Kenapa bertanya seperti itu ? Apa kau kembali memikirkan pemuda bertubuh tinggi itu ?" Aku tersenyum kecil melihat Baek yang memeluk gitarnya dan langsung menatapku dalam. Baek benar, aku memang sedang memikirkan Chan Yeol Oppa dan perkataannya tadi siang. Dulu, sebelum aku dan Baek berpacaran, aku memang sering bercerita pada Baek tentang perasaanku pada Chan Yeol Oppa. "Kau kembali mencintai pemuda itu ?" Mataku langsung melebar mendengar pertanyaan Baek. "Jangan bercanda !" Dengusku "Lalu ?" "Entahlah, aku hanya merasa aneh pada hatiku dan aku tidak mengerti" kataku sambil menghela napas "Tadi siang dia mengatakan yang seolah dia membalas cintaku yang dulu" Setelah itu aku terdiam. Ingin melihat bagaimana tanggapan Baek tentang ini, dia juga malah diam. Namun kedua mata sipitnya menatapku sendu. Sesekali dia memetik senar gitarnya. Menatapku lagi kemudian menghela napasnya. "Seandainya kita ada ditempat yang sama, aku ingin memelukmu erat dan mengatakan tidak bisakah kau hanya melihatku ?" Video call langsung dimatikan bersamaan kalimat terakhir Baek yang menciptakan nyeri didadaku. Aku salah bicara ya ? Aku hanya ingin berbagi cerita, bukan malah membuatnya bersedih.

~oOo~

Sejak hari itu, komunikasi antara aku dan Baek menjadi semakin renggang. Mulai sibuknya aku dalam kegiatan universitas menambah jarak komunikasi kami. Video call hanya beberapa kali kami lakukan dalam sebulan meski pesan singkat darinya selalu menghiasi layar ponselku. Kalau sudah begini, aku sering merasa salah padanya. Dulu, kalau dia terlambat menghubungiku pasti langsung kumarahi, sedangkan aku sekarang sering sengaja terlambat membalas pesannya karena merasa lelah pada kegiatan kampus. Rasa bersalahku semakin besar ketika hari itu Baek ingin melakukan video call tapi aku menolaknya karena sedang menemani Chan Yeol Oppa ke toko buku. Bukannya aku tidak ingin melepas rindu dengannya, aku hanya tidak ingin melakukan video call di toko buku, kurang memuaskan. Aku tahu waktu itu Baek sangat kecewa meski dia berkata tidak apa- apa. Terlebih lagi saat itu dia tahu aku sedang bersama Chan Yeol Oppa. Meski dia tidak bertanya, aku selalu meyakinkan dia kalau aku selalu mencintainya.

~oOo~

Aku baru tahu kalau dikelasku ada yang memiliki kelainan sepertiku. Namanya Jung Jessica dan Im Yoon Ah. Sebenarnya aku sudah curiga dari awal karena melihat mereka sangat akrab. Bukan akrab seperti aku dan Lu Han. Bahkan hari itu aku dan Lu Han pernah saling berpandangan aneh karena melihat Jessica dan YoonA masuk bilik toilet yang sama. Lu Han langsung bertanya padaku dengan berbisik apa aku juga pernah melakukan hal yang sama seperti mereka ? Dan aku langsung menggeleng dengan cepat. Aku tidak berbohong. Aku memang sudah beberapa kali bercinta dengan Baek, tapi aku dan dia tidak pernah melakukannya di toilet.

"Terkadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orang- orang seperti mereka" aku mengernyitkan dahiku, tidak mengerti apa yang barusan dikatakan oleh Chan Yeol Oppa. "Coba kau putar kepalamu, arah jam sembilan" aku langsung mengikuti arahan pemuda didepanku dan aku hanya mampu membulatkan mulutku. Ada Jessica dan YoonA diseberang sana. Mereka saling menyuapi dan sesekali YoonA mengusap rambut pirang Jessica. Uh, mereka membuatku iri.

"Mereka romantis ya" kataku tanpa sadar dan membuahkan tatapan mematikan dari Chan Yeol Oppa

"Ah, maksudku kalau YoonA lelaki, pasti adegan seperti itu sangat romantis" kataku dengan terbata karena gugup. Bisa kulihat Chan Yeol Oppa menganggukkan kepalanya dan membuatku bernapas lega. Ah, tapi Jessica dan YoonA memang sangat romantis. Membuatku iri. Terlebih lagi mereka seolah tidak peduli pada orang- orang disekeliling mereka yang menatap jijik. Padahal YoonA yang seorang butchi memiliki rambut panjang seperti Jessica, membuat mereka semakin terlihat jelas lesbi dan anehnya mereka tidak malu, tidak seperti aku yang masih merasa canggung kalau pergi dengan Baek. Uh, aku tiba- tiba saja merindukan Baek. Kulihat jam ditanganku, sudah jam 10. Baek sudah pulang belum ya ? Aku segera pamit pada Chan Yeol Oppa untuk kembali ke kamar dengan berdusta ada tugas yang lupa aku kerjakan.

Begitu sampai dikamar, aku melihat teman sekamarku masih bergelung dibalik selimut. Huh, mentang- mentang libur dia belum bangun meski hari sudah siang. Ah, tapi peduli apa ? Aku segera mengambil ponselku yang kuletakkan diatas meja belajar dan langsung menghubungi Baek. Tidak perlu menunggu lama untuk melihat wajah Baek menghiasi layar ponselku. "Baru saja aku mau menghubungimu" aku tersenyum lebar melihat Baek yang merajuk "Aku terlalu merindukanmu" kataku jujur dan Baek tersenyum padaku. Baek mengatakan kalau dia juga sangat merindukanku. Hm, aku baru sadar kalau rambut Baek sekarang sudah mencapai leher. Dia terlihat lebih feminim sekarang dan harus ku akui kalau dia terlihat sangat cantik. "Menurutmu apa aku harus potong rambut ?" tanyanya karena aku membahas rambutnya yang mulai memanjang "Tidak perlu, aku suka melihat kau seperti itu" jawabku jujur. Memang aku sedikit iri padanya, bagaimana mungkin dia yang seorang butchi dalam hubungan kami terlihat lebih cantik ? Setelah itu kami membicarakan hal yang selalu berakhir dengan tawa meledak kami. Ah, rasanya aku sudah lama tidak tertawa bersama Baek. Aku memang rindu membicarakan hal- hal ringan dengannya tapi selalu membuahkan senyum manis dibibirnya dan dibibirku. "Sayang, aku mengantuk" aku terkekeh karena ini sudah kali ke sepuluh Baek menguap selama obrolan kami. Padahal sejak awal aku sudah menyuruhnya tidur tapi dasar dia yang nakal tidak mau dengar. Tidak perlu menunggu lama, Baek mematikan video call yang diakhiri flying kiss darinya. Aku merona hebat, bahkan sampai wajah Baek tidak terlihat pun aku masih tidak bisa berhenti tersenyum, rasanya seperti jatuh cinta lagi meski pada orang yang sama. "Kyung Soo ?" aku berhenti tersenyum mendengar panggilan Seo Hyun, teman sekamarku. Aku langsung berbalik menghadapnya sambil memasang senyum kembali. "Ya ?" "Maaf, boleh aku bertanya ?" Dahiku mengernyit melihat Seo Hyun yang sekarang salah tingkah. Berulang kali gadis itu menggaruk tengkuknya sambil menggumam. "Tanyakan saja" "Em, itu, apa kau lesbi ?" Jantungku langsung tertohok mendengarnya. Pertanyaan yang sederhana dan sangat mudah dijawab jika saja aku mau jujur. "Ah maaf jika lancang, tadi aku tidak sengaja melihat orang yang melakukan video call denganmu, dia terlihat sangat cantik tapi kenapa obrolan kalian terdengar mesra ?" Aku masih terdiam mendengar pernyataan Seo Hyun, kenapa aku tidak sadar kalau Seo Hyun sudah bangun ? Apa sekarang dia merasa jijik padaku ? Atau takut padaku ? "Kalau kau keberatan tidak perlu menjawab" Seo Hyun tersenyum lembut, melipat selimutnya dengan rapih kemudian bermaksud melangkah ke kamar mandi tapi aku langsung menahannya dengan kata- kataku. "Ya, kau benar. Aku memang menyimpang dan gadis tadi adalah kekasihku" entah dapat keberanian darimana aku mengatakan hal seperti itu. Jantungku terus berdegup kencang menunggu reaksi dari Seo Hyun tapi gadis itu tetap diam ditempatnya tanpa berbalik. "Kalau kau merasa tidak nyaman, aku akan bilang kepada kepala asrama untuk pindah kamar" kataku lirih namun aku yakin Seo Hyun mendengarnya karena gadis itu sekarang berbalik menghadapku. Dia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan, melihatku seolah sedang menelanjangiku dan selanjutnya dia malah tersenyum kecil membuatku tidak mengerti. "Jangan seperti itu. Aku juga dulu sama sepertimu" Eh ? Mataku langsung membulat. Sungguh sulit dipercaya gadis sepolos Seo Hyun ternyata pernah menyimpang juga. "Kau kenal YoonA kan ? Dia temanku di bangku high school sekaligus mantan butchiku" dan aku semakin tercengang dibuatnya. Pantas saja Seo Hyun selalu menghindar jika bertemu YoonA. "Kenapa kalian bisa berakhir ?" Pertanyaan itu begitu saja meluncur dari bibirku. "Kau tahu ? Hubungan sesama perempuan tidak ubahnya hubungan pasangan normal. Mungkin posisi kita yang sebagai feme tidak jauh berbeda dengan sifat asli kita, feme itu manja dan ya seperti aku dan kau" aku terdiam melihat ekspresi Seo Hyun yang seperti orang putus asa. Aku jadi merasa bersalah padanya. Tidak seharusnya aku meminta dia menceritakan kisah cinta lamanya. .

Kupandangi layar ponselku dengan sendu. Membuka satu persatu fotoku dengan Baek. 'Butchi tidak ubahnya lelaki. Dia yang berkharisma sangat suka tebar pesona. Pada dasarnya Butchi suka feme yang dewasa yang mampu mengerti dia. Memang pada awalnya dia menerima kita apa adanya, tapi semakin berjalannya waktu dia akan mengenal banyak feme dan hatinya pun akan mulai berubah. Dia akan menemukan feme yang mungkin lebih mengerti dia dan akhirnya akan membandingkan dengan kita. Jadi kau sudah mengerti kan kenapa aku berakhir dengan YoonA ?' Kata- kata Seo Hyun tadi siang masih berputar di otakku. Membuat berbagai pikiran negatif tentang Baek bermunculan. Aku takut kalau Baek sama seperti YoonA. Terlebih lagi, menurutku Baek memang sangat berkharisma. Rasanya aku ingin menghubungi Baek tapi aku urungkan karena aku tahu jika aku mulai meragukannya lagi dia pasti akan marah padaku dan akhirnya kami bertengkar lagi. Padahal baru tadi pagi kita bisa berbicara mesra lagi. Dengan hati gelisah, aku menarik selimut sampai sebatas dada. Memaksa mataku terpejam, berusaha melupakan segala pikiran buruk tentang Baek.

TBC