Sejak hari pertunanganku itu, Baek tidak pernah lagi menghubungiku. Aku bukan tidak berusaha untuk menghubunginya, dia memang seperti memutus komunikasi denganku. Ponselnya tidak bisa dihubungi, akun media sosialnya pun seperti ditutup. Hanya satu pertanyaanku saat itu, sebenarnya apa yang terjadi ?
Pernah sekali aku bertemu dengan Yi Xing, dia mengatakan kalau Baek sudah kembali ke New York. Aku yakin semuanya bukan tanpa sebab.
Setelah dua tahun Baek tidak menghubungiku, aku pun hanya mengiyakan ketika keluargaku dan keluarga Chan Yeol Oppa mempercepat pernikahan kami. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak karena apa yang kupertahankan selama ini tidak memberi kepastian kepadaku.
"Sayang, aku pulang" aku menoleh kebelakang dan melihat suamiku yang berjalan mendekatiku. Aku hanya tersenyum lebar ketika Chan Yeol memeluk dan mencium keningku. Rumah tangga yang begitu hangat seperti inilah yang sejak kecil aku harapkan. Namun sekarang rasanya begitu hambar karena cintaku tak sepenuhnya untuk Chan Yeol.
"Apa Oppa mau makan sekarang ? Biar kusiapkan dulu"
"Tidak perlu, biar nanti aku saja yang menyiapkan. Orang hamil tidak boleh terlalu lelah" hatiku berdesir mendengar kata- katanya. Seharusnya aku bersyukur memiliki suami seperti Chan Yeol yang selalu memperlakukanku seperti seorang putri.
Setelah itu aku menggandeng tangan Chan Yeol dan mengajaknya ke kamar. Kubuka jas kerja serta dasinya. Ah, semuanya memang harus berjalan seperti ini, tapi aku tetap tidak bisa berbohong. Aku masih selalu berharap kalau suatu hari nanti Baek akan kembali padaku.
~oOo~
Siang ini aku merasa sangat bosan dirumah. Rumah ini memang terasa sangat sepi karena hanya aku dan suamiku yang menghuninya. Disini tidak ada pembantu karena aku tidak terbiasa ada orang lain berkeliaran dirumahku, ya walaupun seminggu tiga kali Chan Yeol selalu meminta pembantu dirumah orangtuanya untuk datang membersihkan rumah kami. Dia bilang, dia tidak akan membiarkanku kelelahan mengurusi rumah yang tidak bisa dibilang kecil ini, terlebih lagi saat ini aku sedang mengandung.
"Hah !"
Biasanya aku menghabiskan waktu siangku dengan tidur, atau melihat drama di tv, tapi sekarang aku tidak berminat sama sekali.
Kuedarkan pandanganku ke setiap penjuru kamar. Mataku tiba- tiba saja menatap lama pada komputer milik Chan Yeol. Entah kenapa aku merasa tertarik untuk mendekatinya. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang akan aku lakukan dengan komputer milik Chan Yeol. Ah, mungkin bermain game akan sedikit membunuh rasa bosanku, tapi tidak jadi. Aku lebih memilih membuka- buka file dokumen milik Chan Yeol.
Aku tersenyum melihat beberapa foto artis Chan Yeol. Ya, suamiku adalah seorang musisi sekaligus pemilik sebuah agency entertainment. Agency miliknya sudah bisa dibilang cukup terkenal di Korea Selatan dan aku begitu bangga akan hal itu.
Aku beralih ke sebuah folder dengan nama "Impian". Aku langsung menutup mulut dengan kedua tanganku, mataku juga terbuka lebih lebar. Ya Tuhan, aku ingin menangis rasanya. Aku begitu terharu melihat sederet rencana yang dibuat Chan Yeol untuk masa depan keluarga kami.
Mulai dari design kamar untuk buah hati kami kalau nanti sudah lahir. Sekolah mana yang nantinya akan dimasuki oleh si kecil. Kemudian ketika anak kami nanti sudah besar, dia akan mengajakku liburan ke Paris. Ada banyak foto- foto penjuru kota Paris yang akan dijadikan tempat tujuan kami. Ah, lalu dia juga sudah mulai menyimpan asuransi untuk si kecil kami. Dia juga berencana akan membuat rumah untuk anak kami nanti.
Aku benar- benar tidak menyangka kalau Chan Yeol sangat mencintaiku dan calon anak kami. Dia memikirkan semuanya begitu matang. Apa ini alasan dulu dia menolak cintaku ? Bukan karena dia tidak mencintaiku, tapi karena dia ingin aku merasakan kebahagiaan yang nyata ?
Ya Tuhan, aku sungguh berdosa padanya karena dulu sempat mencintai orang lain.
Kutarik napasku kemudian menghembuskannya perlahan. Rasanya begitu lega. Aku hidup dengan pria yang sangat mencintaiku.
Kututup folder "Impian" itu dengan senyum yang masih setia menghiasi bibirku. Aku mencoba membuka E-mail Chan Yeol.
Mataku langsung membulat begitu membaca nama pengirim pesan yang pertama.
Byun Baek Hyun
Baek ?
Mungkinkah ?
Dengan tangan gemetar, aku mencoba membuka pesan itu.
To : Park Chan Yeol
Aku ikut bahagia mendengarnya Park. Aku selalu berharap kebahagiaan menyertai kalian berdua.
Minggu depan aku akan berkunjung ke Seoul, bolehkah aku bertemu dengan Kyung Soo ? Aku ingin bicara dengannya karena sejak hari itu aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Aku merindukannya.
To : Byun Baek Hyun
Terimakasih Baek Hyun.
Tentu saja kau bisa menemuinya, aku tahu kalian pasti saling merindukan. Aku yakin Kyung Soo pasti merasa bahagia bertemu denganmu.
Kalau kau sudah sampai di Seoul, beritahu saja. Atau perlu aku menjemputmu ke bandara ?
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Chan Yeol dan Baek Hyun saling berkomunikasi ? Tapi kenapa Baek tidak mau menghubungiku ? Kenapa juga Chan Yeol tidak memberitahuku ?
Apa Chan Yeol mengetahui hubungan terlarangku dengan Baek ?
Ya Tuhan, dadaku bergemuruh dengan hebat.
~oOo~
"Kau tahu ? Aku masih tidak percaya kalau kau sekarang menjadi istriku"
Aku tersenyum lembut mendengar kata- kata Chan Yeol. Tangan besarnya masih setia mengusap perut besarku bahkan sesekali bibirnya mengecupi. Perasaan hangat begitu mendominasi hatiku saat ini.
"Tapi sejak pertama kali kau mengucapkan cinta padaku, aku sudah bisa merasakan kalau kau yang akan menjadi ibu dari anak- anakku"
Aku tidak membalas perkataannya, hanya bibirku yang bergerak untuk mencium pipinya. Sudah saatnya aku kembali seperti dulu. Mencintai Chan Yeol dengan sepenuh hatiku.
Namun hatiku sedikit resah mengingat masa laluku yang begitu kelam. Haruskah aku memberitahu Chan Yeol ? Tapi aku takut dia kecewa atau lebih parahnya lagi langsung menceraikanku karena aku terlalu hina untuk bersanding dengannya. Apa lebih baik aku tetap menyimpan baik- baik rahasiaku ? Ah tidak, aku tetap harus memberitahunya. Aku tidak mau kalau suatu hari nanti dia malah tahu dari orang lain dan itu akan sangat memalukan.
"Oppa ?" Ku usap rambut Chan Yeol yang terasa halus ditanganku. Suamiku mendongak dan menatap mataku seolah bertanya ada apa ?
"Aku ingin memberi tahu padamu tentang Baek" kataku dengan gugup. Aku bisa melihat kerutan di dahinya. Sepertinya dia sedang berpikir.
"Maksudmu Byun Baek Hyun ? Yang fotonya kau pajang diruang keluarga ?" Aku mengangguk. Sebisa mungkin aku berusaha menenangkan detak jantungku yang mulai berdegup tidak normal.
"Aku dan Baek-"
"Ah !"
Aku membulatkan mataku. Suamiku ini kenapa sih ? Mengagetkanku saja !
"Aku baru ingat kalau lusa dia akan berlibur ke Seoul. Dia juga mengatakan ingin bertemu denganmu"
Aku terdiam. Bingung harus berkata apa. Perlukah aku melanjutkan kata- kataku yang sempat dipotong Chan Yeol ? Atau lebih baik aku menanggapi perkataan Chan Yeol ?
"Benarkah ? Kenapa aku tidak tahu ya ?" Akhirnya aku lebih memilih menanggapi Chan Yeol. Memasang wajah seolah- olah aku masih belum tahu apa- apa.
"Kau yakin ? Aku kira dia sudah memberitahumu" kali ini aku bingung sungguhan.
Benarkah apa yang Chan Yeol katakan ? Dia benar- benar tidak tahu kalau aku dan Baek tidak lagi berkomunikasi ?
Aku hanya mampu menggeleng kecil sebagai pengganti jawaban. Rasanya memang sangat aneh ketika Chan Yeol lebih tahu tentang Baek, padahal aku yang mantan kekasihnya.
~oOo~
Aku tidak tahu apa sebenarnya maksud suamiku. Sore itu dia mengajakku ke taman yang ada di komplek perumahan kami, yang kemudian baru kusadari ada Byun Baek Hyun disana. Duduk disebuah bangku panjang dibawah pohon maple. Jantungku berdebar begitu cepat tanpa bisa aku kendalikan. Baek masih sama seperti terakhir kali yang kulihat, hanya rambutnya saja yang berubah, berwarna kecokelatan.
Baek tersenyum lebar menyambutku dan Chan Yeol. Percakapan yang tercipta antara Baek dan Chan Yeol cukup membuatku mengernyitkan dahi. Kenapa mereka akrab sekali ? Kenapa malah aku yang merasa asing disini ?
"Ah, kalian tunggu disini ya. Aku ada perlu sebentar"
Aku hanya diam melihat punggung Chan Yeol yang semakin menjauh. Meninggalkanku dan Baek.
Kami hanya diam. Tidak tahu harus mengisi kekosongan ini bagaimana. Begitu banyak pertanyaan yang berputar dikepala untuk wanita disampingku ini.
Ku usap perutku sambil tersenyum kecil kala aku merasakan sebuah tendangan dari buah cintaku dan Chan Yeol. Kulakukan usapan dengan gerakan memutar sambil memejamkan mataku. Merasakan semilir angin sore yang mampu membuatku terlena.
"Kau terlihat sangat bahagia"
Aku tahu itu suara siapa tanpa harus aku membuka mata. Suara yang dulu selalu mengisi hari- hariku, menemani tidurku.
"Menurutmu ?"
Aku tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Yah, lagipula itu tidak penting.
Perlahan kubuka kembali kedua mataku dengan tangan yang masih setia mengelus perut buncitku. Aku sedikit mengernyit mendengar helaan napas Baek yang cukup kencang. Aku menoleh kearahnya. Tatapannya lurus ke depan tapi aku tahu tatapannya kosong. Dia sedang memikirkan sesuatu dan entah kenapa aku tidak ingin bertanya.
"Maafkan aku Soo"
Aku terdiam
"Maaf untuk semua yang telah kulakukan padamu"
Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana ? Lidahku terasa kelu dan darahku terasa mengalir begitu deras.
Bayangan dua tahun yang lalu saat dia menghilang kembali berputar jelas di ingatanku. Haruskah aku marah padanya ? Atau menangis menumpahkan rasa kecewaku ? Aku jelas tidak bisa bersikap biasa menghadapi wanita dihadapanku ini. Wanita yang namanya selalu kusebutkan disetiap malamku. Wanita yang saat ini masih selalu kuharapkan untuk bisa menjadi pendamping hidupku.
"Kenapa Baek ?"
"Maaf-"
"Kenapa kau kembali ?"
Ingin sekali aku memukul dan memakinya karena sudah datang dan pergi seenaknya. Apa dia tidak tahu bagaimana hancurnya aku dulu ? Apa dia tidak merasakan bagaimana sakitnya hatiku menahan rindu yang seolah ingin membunuhku ?
"Aku hanya ingin menjelaskan semuanya"
Kembali kurasakan nyeri itu kala mata sipitnya menatapku dengan putus asa. Kumohon Baek, jangan seperti ini. Jangan hancurkan usahaku untuk mencintai Chan Yeol sepenuh hatiku.
"Dulu, aku pernah berpikir bagaimana caranya agar bisa selalu hidup denganmu. Membangun rumah tangga yang sebenarnya aku pun berpikir tidaklah wajar. Kemudian akan mengadopsi seorang putri kecil yang lucu lalu kita beri nama Hyun Soo, gabungan dari nama kita"
Hatiku trenyuh melihat senyum tipis menghiasi bibirnya. Benarkah dia sempat memiliki rencana seperti itu ? Benarkah dia dulu sangat mencintaiku ? Tapi kenapa ? Kenapa dia pergi tanpa kuketahui alasannya ?
"Tapi semua hanya menjadi rencana yang tak sempat kujadikan nyata. Waktu telah merubah segalanya"
"Apa maksudmu ? Jangan berbelit- belit"
Kulihat dia tersenyum kecil. Mendongakkan kepalanya. Menatap langit sore yang mulai berwarna kuning keemasan.
"Apa kau ingat ketika aku masih di New York dan mengunggah foto dengan seorang gadis ? Kemudian kau memarahiku ?"
Aku terdiam berusaha menggali ingatanku. Ah, gadis asia itu. Bagaimana mungkin aku melupakannya.
"Dia mengingatkanku pada sosok ibuku, begitu lembut dan rapuh. Dia juga yang membuatku-"
"CUKUP !"
Hatiku terasa panas mendengarnya. Dia memuji gadis lain didepanku ? Dia mencintai gadis itu kan ?
"Aku belum-"
"APA ? KAU INGIN MENGATAKAN KALAU KAU MENCINTAI GADIS ITU MAKANYA KAU MENINGGALKANKU ?!"
napasku begitu memburu. Aku benar- benar tidak bisa mengontrol emosiku. Rasanya pandanganku pun mulai buram akibat air mata mulai menggenang. Ya Tuhan, kenapa kau tidak bunuh saja wanita dihadapanku ? Aku benar- benar membencinya !
"Y-ya, kau benar"
Tes !
Tes !
Kenapa aku harus menangisi wanita dihadapanku ? Wanita yang nyatanya sudah mengkhianatiku ?
"Apa kalian sud- Kyung Soo ?!"
Pandanganku semakin tidak jelas. Airmata ini semakin mengalir begitu deras. Bahkan ketika Chan Yeol datang dan membawaku kedalam pelukannya, tubuhku serasa melayang. Aku kesal, aku benci dan aku ingin memaki diriku sendiri. Kenapa dulu aku begitu bodoh menjalani hidupku ?
"Baek-"
"Aku sudah menjelaskannya Chan Yeol. Terimakasih telah mempertemukanku dengan Kyung Soo"
Aku berusaha pura- pura tuli. Mengeratkan pelukanku pada pinggang suamiku. Meski aku tidak bisa membohongi hatiku kalau separuh nyawaku terasa hilang bersama langkah kaki Byun Baek Hyun yang semakin jauh. Menyisakan sepi yang lebih mendalam. Menghancurkan rangkaian rindu yang tersusun dengan rapih disetiap hela napasku.
~oOo~
Cerita kelamku dan Baek benar- benar telah berakhir. Takkan ada lagi Do Kyung Soo yang menunggu dan berharap pada seorang Byun Baek Hyun.
Sekarang aku akan menjalani hidupku dengan semestinya. Mencintai seseorang yang memang seharusnya aku cintai.
END
Epilog
Author POV
Baek Hyun tidak tahu kalau rasa cintanya pada Kyung Soo masih sama seperti dulu. Dia ingin mengatakan yang sejujurnya pada gadis itu. Nyatanya, Kyung Soo sudah lebih dulu memakinya.
"APA ? KAU INGIN MENGATAKAN KALAU KAU MENCINTAI GADIS ITU MAKANYA KAU MENINGGALKANKU ?!"
Demi Tuhan, tidak seperti itu kenyataannya. Gadis difoto itu tidak pernah merebutnya dari Kyung Soo. Justru gadis itu yang membuka hatinya untuk sadar siapa dirinya.
"Y-ya, kau benar"
Entah kenapa rasanya lebih baik Kyung Soo tidak tahu yang sebenarnya. Mungkin akan lebih baik kalau gadis itu membencinya.
Baek Hyun masih ingat ketika hari itu dia bertemu Chan Yeol dirumah Kyung Soo. Baek Hyun juga tahu kalau sebenarnya hari itu Kyung Soo dan Chan Yeol akan bertunangan. Dia sebenarnya sudah lama mengenal Chan Yeol karena dulu pria itu seperti mencari tahu tentang Baek Hyun.
Baek Hyun tidak pernah bisa lupa saat hari itu dia menerima panggilan dari nomor yang asing baginya. Ya, itu Chan Yeol.
'Kau Byun Baek Hyun ? Aku Park Chan Yeol dan aku yakin kau tahu siapa aku'
'Aku tahu kau dan Kyung Soo adalah sepasang kekasih dan aku juga tahu kalau kau seorang perempuan. Sama seperti Kyung Soo'
Ternyata Chan Yeol benar. Kyung Soo tidak mungkin bisa hidup bahagia dengannya. Baek Hyun hanya bisa membuatnya menangis. Terlebih lagi ketika seminggu sebelum acara pertunangan mereka, Chan Yeol sudah terlebih dahulu memberitahu Baek Hyun tentang pertunangan itu.
Lalu Baek Hyun bisa apa ? Memperjuangkan cintanya yang sebenarnya tidak wajar ? Kemudian menghancurkan impian banyak orang ? Baek Hyun sudah merasa cukup hina. Dia tidak akan melakukan hal keji itu.
Baek Hyun yang sebelumnya sudah menguatkan hatinya untuk menyaksikan pertunangan Kyung Soo dan Chan Yeol ternyata malah memilih pergi. Meski Chan Yeol mengejarnya, dia tidak peduli. Ternyata hatinya tidak sekuat yang ia bayangkan.
Kemudian Baek Hyun kembali ke New York dengan keadaan seperti orang yang kehilangan segalanya. Dia sangat terlihat tidak bersemangat menjalani harinya. Lalu gadis di foto itu, gadis yang bernama Sulli kembali mendekatinya. Kembali menyemangatinya kalau langkah yang diambil Baek Hyun memang benar. Bahkan gadis itu dengan bersemangat mencoba menjodohkan Baek Hyun dengan kakanya, Kris.
"Baek ?"
Baek Hyun segera memeluk Kris dengan erat. Pria keturunan Kanada itu hanya mampu mengusap punggung wanita cantik dihadapannya. Dia tahu apa yang baru saja terjadi didepan sana. Baek Hyun membohongi Kyung Soo dan Kyung Soo yang memakinya.
Baek Hyun tidak bisa untuk tidak menangis. Rasanya dia begitu bodoh selalu membuat orang yang dicintainya menangis.
"Kris-"
"Aku tahu Baek, aku mengerti"
Baek Hyun semakin mengeratkan pelukannya ketika Kris mengecupi kepalanya.
Dia tidak boleh seperti ini. Dia tidak boleh muncul dihadapan Kyung Soo lagi. Wanita itu sudah bahagia bersama suaminya dan mungkin memang sudah saatnya Baek Hyun menutup lembaran hitam dihidupnya.
