"Wah, Ejo jo! Kalungmu bagus sekali!"
"Tentu saja, aku kan dapat dari Hong Kong.." Ucap Ejo jo membanggakan kalungnya setelah itu melihat ke arahku, "Bagaimana menurutmu, Taufan?"
Oh, please Ejo jo, itu terlihat seperti kalung wanita. Apa kau yakin itu dari Hong Kong? Apa kau yakin itu asli? Menurutku kau dibodohi oleh orang tuamu agar kau senang Ejo jo. Dan terakhir...
"Kenapa Taufan? Jangan melihat kalungku seperti itu! Kau tidak menyukainya?" Ejo jo menajamkan pandangannya terhadapku. Oh, great! Apa yang harus aku katakan sekarang?
"E- ehm, nggak kok! Kalungmu bagus sih, jadi ingin memandanginya terus hehe.." Kenapa aku katakan itu?!
"Ya aku tau kalung ini bagus, jangan pernah berpikir untuk mencurinya lho ya!" Balasnya, disambung oleh tawaan Popo.
"Boleh aku lihat sebentar, Ejo jo?" Aku mengulurkan tanganku perlahan
"Boleh saja, tapi hati hati ya! Karena ini kalung mahal."
Aku pun menyentuhnya langsung. Hm, yap, tanpa ragu aku menyatakan bahwa ini adalah kalung plastik. Ah, ada sedikit tonjolan— tulisan? Ukiran? Kalau ini mahal, mereka tidak mungkin memberikan sedikit pun goresan kan? 'Ejo jo' really? REALLY?
Sekarang aku tahu, ini tidak asli, tidak mungkin dari Hong Kong, dan..
Sejak kapan aku jadi suka berpikiran negatif begini ya?
Disclaimer: BoBoiBoy punya Animonsta
Summary: BoBoiBoy Taufan, periang dan konyol, bagaimana dengan masa lalunya? "Apa ini yang namanya pem-bully-an ya?"/ "Lagipula nanti ya akan kacau lagi"Author masih newbie m(_ _ m)..
WARNINGS: OOCs, Typos
Author's Note: Akhirnya selesai juga chap 2 yang saya sendiri bingung gimana mau nulisnya. Saya kurang bisa mengekspresikan diri. Jadi membuat character di fanfic ini berekspresi pun kurang bisa.. Maafkan daku.. Makasih atas reviews, fav, dan follownya.. Saya pikir nggak akan ada yang mau baca fanfic ini. Maaf ya, alurnya nggak jelas, soalnya saya rencananya mau buat cerita yang lompat2 alurnya hehe.. Tantangan dikit. Supaya mengurangi rasa bingung, saya tambahi ket. waktunya hehe (walaupun masih membuat bingung) Happy reading!
"Namanya Briolette Diamond, hanya dijual di Hong Kong."
"Oh, aku ingat sekarang! Yang termahal ke 4 di dunia itu kan?"
"Waah! Kok bisa sih?"
"Enak yaa.. Aku juga pinginn.."
Aku hanya bisa menatap teman teman yang berkumpul mengelilingi Ejo jo sambil memakan bekal yang sudah dibuatkan dad. Walaupun kalau soal teknik memasak mom lebih unggul dari dad, masakan dad lebih kaya rasa dari masakan mom. Aneh kan?
Kalau bekalku sudah habis, enaknya ngapain ya? Aku tidak mau kumpul dengan anak anak yang di sana.. Hmm, ke kak Gopal ah..
10 menit sebelum istirahat selesai, aku pun melangkahkan kakiku ke kelas Kak Gopal. Itu sih rencana dramatisnya. Sayangnya Air...
BRUK!
"Atatat..! Taufan! Kenapa kau berdiri di sini?"
"Bukannya kau yang menabrak aku?"
"Aah, sudahlah!"
Aku lihat Air yang.. ehm? Bersembunyi di bawah meja? Kenapa ya? "Kenapa kau sembunyi di sini Air? Dikejar hantu ya? hehehe"
"Bukan hantu, Taufan! MONSTER!"
"Hah?"
"Monster, Taufan! MONSTER! Mama Zilla mengejar aku!"
"Mama Zilla?"
"MAMA ZILLA? GYAAAA!" Sekelas terasa seperti dilanda gempa bumi dalam hitungan detik. Siapa Mama Zilla?
"Taufan! Sembunyi! Kalau sampai ditangkap Mama Zilla, kau nggak akan bisa kabur lagi!" Suara Air yang gemetaran mengingatkanku.
"Siapa Mama Zilla?"
Jangan jangan mereka ini terlalu sering menonton tentang hero yah? Monsternya pun sampai keluar di dunia nyata.. Seharusnya mereka tonton sajalah ehm.. alat pencuci piring yang berada di laut itu apa namanya? Ah, sudah! Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu!
"Pokoknya, Taufan, kalau kamu ditangkap, kamu bakal dicakar berkali-kali sama Mama Zilla!" Baru pertama kali aku melihat Air sepanik ini. Sepertinya menarik.
Kuambil beribu langkah untuk keluar kelas, ah bukan, puluhan langkah? Yap, itu lebih tepat. Baik, coba kita lihat siapa Mama Zilla itu.. m..?
"..."
"Taufaaaan, haati haaatiii~" Popo berbisik agak keras di bawah meja yang berada di belakangku.
".. Mama Zilla sudah pergi kok, teman teman, Air." Ucapku sambil langsung keluar kelas. Untuk apa? Tentu saja mengikuti 'Mama Zilla' yang sudah pergi setelah melakukan mondar-mandir-di-depan-kelas.
"TAUFAN! Jangan mengikutinya!"
Ejo jo? Kenapa kok dia yang mengatakannya? Kenapa? Memangnya Mama Zilla menakutkan? Tidak bisakah aku mendekatinya? Bolehkah aku bicara sedikit saja dengannya? Aah! Jadi makin penasaran!
"Kau tau sendiri, Taufan. Jangan. Mengikuti. Mama. Zilla!"
"...?" Aku ingin sekali mengikuti Mama Zilla.. Ehm, alasan alasaan..
"Buat apa aku mengikuti Mama Zilla? Aku cuma mau buang sampah, trus ke kelas Kak Gopal saja kok. Tidak bolehkah?"
Ohoh.. Jenius, Taufan, kau jenius! Sekarang lihat ekspresi Ejo jo.. Yap, tentu saja
Ia memandangku sirik
"Ya, boleh kok." Oooh.. Nadanya rendah.. Nggak papa kan aku pergi? Gawat gawat gawat gawat memangnya kenapa aku tidak boleh mengikutinya? Dan kenapa disekitar Ejo jo terlihat aura hitam seperti di kartun kartun yang sering kulihat?
Ah, nanti aku kehilangan Mama Zilla, cepat cepat!
Aku langsung meninggalkan kelas dan menuju ke kelas Kak Gopal—bukan, kelas Mama Zilla
[PULANG SEKOLAH]
"Coba saja kalau waktu istirahat lebih panjang haah.." Ucapku sambil membuka bungkusan ice cream yang baru saja kubeli di depan sekolah. Bukan karena udara panas, tapi untuk mengisi waktu sambil menunggu aku dijemput oleh mom.
Kenapa Mom belum datang juga ya? Euuuh, mom cepat dong, sudah 30 menit aku menunggu dan nggak ada siapa siapa lagi nih di sekolah..
Eh? Itu.. Mama Zilla? Kok jam segini belum pulang yah? Kalau sedang bermain sepak bola sendiri terlihat normal kok. Nggak serem, nggak kelihatan bisa mencakar kok. Kenapa teman teman takut semua ya?
Bolanya jatuh. Aah, sayang sekali! Pemain andalan bernomor punggung 10—Mama Zilla tidak dapat menyelesaikan triknya. Mama Zilla kemudian berjalan mendekati.. AKU? Eh? Gimana nih? Lari? Teriak? Tapi siapa yang akan menolong?
"Hey!"
"Eeh?" Aku menunjuk diriku sendiri, sedikit gugup bukan sedikit lagi.. SANGAT GUGUP
"Kau. Teman sekelas Air kan?"
"I—iya.. Ma—Maa—Mama Zilla?"
"Hahah~ yah, itulah sebutan mereka padaku"
Sebutan? Kenapa semua menyebutnya Mama Zilla? Dia kan lelaki?
"Kamu.." Hiiih! A—Aah, tenang Taufan, tenaang, "Apa kamu juga takut padaku?"
"Eh? Kenapa tanya padaku—"
"Tentu saja karena banyak yang takut padaku.. Aku akan mencakar mereka lahh, menembakkan beam lah.."
"Hmpff— menembakkan beam? Hahahah" Kenapa zaman sekarang sangat dipenuhi imajinasi gila? "Mama Zilla sebenarnya tidak menakutkan kok kalau menurutku."
"Kau.. Terima kasih ya.." Ooh, kalau Mama Zilla tersenyum tampan juga kok. Tapi kenapa orang seperti Mama Zilla mempertahankan wajahnya yang menakutkan ya? "Sebenarnya aku ingin memberitahukanmu.."
Waah! Rahasia Mama Zilla!
"Ah, sudahlah akan kuberitahu kalau kau sudah kelas 4—"
"Tak apa! Walaupun aku masih 1 SD, pemikiranku bagaikan kakek nenek zaman sekarang kok!" Lagipula, rahasia Mama Zilla juga pasti menarik hehe
"Ehm, kalau kau sudah sekolah menengah, kau ingin masuk sekolah mana?"
Eeh? Aku kan masih kelas 1 SD, mana mungkin memikirkan hal seperti itu? Mm.. Mari kita lihat sekolah tenar zaman sekarang, "SMP Concierge mungkin..?"
"Oh, berarti kau tahu tentang sekolah itu. Ini akan mempermudah. Kusarankan jangan masuk ke sekolah itu."
Bagaikan adegan di sebuah drama siang, angin bertiup—Naah, aku hanya ingin bilang bahwa tatapan mata Mama Zilla.. Serius.. 1000% serius mungkin..
"Kalau kau tidak memiliki keistimewaan, kau tidak akan bisa masuk ke sana."
Keistimewaan? Apa maksudnya?
DIIN!
Mobil mom! Cih, andaikan mom datang lebih lambat. Andaikan Mama Zilla mengatakannya lebih cepat. Andaikan aku bisa menanyakannya.. Ooh, apa maksudnya keistimewaan?
"Taufan, akhir akhir ini tulisanmu berbeda ya." Ucap mom yang sedang memasak makan malam di dapur.
"E—Eh? Masa sih?" Gawat, mom nggak boleh sampai tau kalau Ejo jo sudah melakukan banyak hal, "Me—Memangnya tulisanku yang sekarang.. Bagaimana?" Jujur saja, aku tidak pernah melihat bukuku sendiri. Toh aku sudah tahu apa yang akan dicatat oleh wali kelas sudah ada di buku paket
"Hmm.. Bagaimana mengatakannya ya? Kalau dulu tulisanmu bulat bulat lucu begitu.." Eh? Maaf ya mom, kalau tulisanku aneh.. "Yang sekarang jadi tajam tajam seperti rumput.."
"Ehm, iya, mom. Akhir akhir ini malas menulis rasanya. Hehe" Gawat, aku nggak bisa menatap mom.
"Itu bukan tulisanmu, Taufan. Mom tahu" Hee? Ini yang namanya insting kewanitaan? Insting seorang ibu? Mom keren bangeet, "Taufan, tatap mom! Apa saja yang terjadi di sekolah?"
"Ehm.. Sebenarnya Mom," Sudahlah, aku nggak mungkin menang dengan insting mom, "Ejo jo dan aku sering bertukar buku catatan, notes harian, dan latihan ulangan,"
"Sampai latihan ulangan juga? Taufan! Kau tidak boleh membiarkan Ejo jo melakukannya lagi! Beranilah untuk bilang NO! Ke Ejo jo!"
"Baik, mom."
"Kau sebaiknya melakukannya, Taufan, atau lebih buruk lagi. Ejo jo akan bertukar ujian denganmu juga!"
Yap, walaupun mom berkata seperti itu, mana mungkin aku bisa bilang ke Ejo jo kalau aku tidak mau bertukar barang lagi?
Tak apa, Taufan! Memang Ejo jo bisa apa? Semua orang membenciku? Hah! Nggak mungkin dia bisa melakukannya kan? Semua membenciku pun tak apa. Toh biasanya juga aku sendirian.
[NEXT DAY]
"Selamat pagi.." Ucapku pelan. Sudah kuputuskan, aku akan mengatakannya pada Ejo jo hari ini.
"Ah! Akhirnya kami datang juga, Taufan!" Balas Ejo jo sebelum menarik tanganku ke luar kelas, "Aku punya permintaan."
"Permintaan?"
"Ya. Taufan," Ejo jo meletakkan kedua tangannya dipundakku, "Tolong, jangan biarkan seorang pun mendekati Ying."
"Eh?! Kenapa?" Balasku segera
Apa Ejo jo punya pengalaman menyedihkan dengan Ying? Hm.. Mungkin aku sebaiknya tidak ikut campur ya? Toh, aku juga nggak dekat dengan Ying kok. Mungkin membuat teman teman menghindarinya pun tak apalah..
"Mm.. Kenapa ya?" Aku melihat ekspresi Ejo jo yang terlihat bingung dengan aura berwarnahijau keunguan di sekitar wajahnya. Eh? AURA APA ITU?
Aku menggelengkan kepalaku cepat. Oh, mungkin cuma khayalanku. Mana mungkin Ejo jo bisa menggunakan kekuatan seperti di kartun yang biasa kulihat tiap pagi itu?
"Yah, pokoknya lakukan sajalah.." Jawaban Ejo jo yang kurang jelas membuatku memiringkan kepala tanda bertanya
"Oh ya, Ejo jo! Aku juga perlu bicara denganmu." Yap, tentu saja melakukan seperti yang mom katakan.
"Ya, kalau kau sudah menyelesaikan permintaanku dulu."
"Hm, oke. Tapi bagaimana supaya orang orang menghidari Ying?"
"Entah, aku tak peduli bagaimana caramu. Entah kau akan menculik Ying, atau memberitahu semua orang satu per satu agar menjauhinya. Terserah kau." Jawab Ejo jo yang kemudian meninggalkan tempatnya dan kembali ke kelas
Yah sudahlah. Lakukan saja hahah
Lagipula aku, Taufan harus mengakhiri ini cepat
TBC?
