"Ying, nanti aku pinjam penghapus ya. Aku kelupaan bawa nih." Ucap seorang murid lelaki yang duduk di depan Ying
"Oh, ya, silakan." Jawab Ying singkat
Sekilas aku melihat kejadian itu. Ying orang yang pendiam ya? Sepertinya bukan orang yang suka membuat masalah. Tapi kenapa Ejo jo nggak suka sama Ying ya? Ah sudahlah, mungkin bukan urusanku. Mungkin aku tidak perlu memikirkan masalah orang lain ya..
Tak lama, bel istirahat berbunyi. Aku dengan segera menuju ke anak yang tadi di depan Ying—akh! Kenapa aku susah sekali mengingat nama orang?! Kita sebut saja manusia random A.
"Ehm, bisa bicara sebentar?"
Manusia random A pun langsung menoleh kepadaku dengan tatapan maksudnya-perlu-bicara-denganku? Tentu saja dia akan merasa begitu, Taufan, bodoh!
Kenapa ia merasa begitu, kau tanya? Tentu saja karena diriku tak bisa menyebut namanya... Sepertinya aku benar benar perlu mengingat nama orang dengan benar.
"Ee—" Manusia random A itu pun membuka mulutnya sambil melemparkan pandangannya ke seluruh sudut kelas, "Kau perlu bicara.. Denganku?"
Bingo! Aku langsung mengangguk mendengarnya
"Oke, kenapa?" Tanyanya
Aku mulai membuka mulutku, 'kau harus menjauhi Ying'
Itu yang kupikirkan selagi membuka mulutku. Sayangnya, pita suaraku tidak mau bekerja sama denganku. Ayo, Taufan! Bicara! Kenapa suaraku tidak bisa keluar?!
Aku langsung menutup mulutku, Takut kalau air ludahku akan keluar.
Tentu saja bukan karena itu!
Aku merasa aneh. Aneh sekali.. Kenapa orang yang berada di depanku ini harus menghindari Ying? Kenapa Ejo jo memintaku melakukan ini? Kenapa aku melakukan ini? Untuk apa aku melakukannya? Apakah ini berguna untukku? Setelah melakukan ini apa yang kudapat?
"Kenapa, Taufan?"
"Hah?" Oh iya, orang ini berada di depanku ya?, "Kok kau tahu namaku—Ah—bukan.. Maaf ya.. tidak jadi... Hehehe" Ya, aku tidak bisa mengatakannya pada manusia random ini..
Aku langsung berlari dengan kencang. Entah ke mana, pokoknya di tempat itu, kepalaku pasti bisa tenang sejenak—ukh!
Au.. Beberapa ucapan kesakitan lepas dari mulutku. Aah, karena nggak fokus, begini deh jadinya..
"Aaw! Taufan?"
"Hm? Siapa?"
"Eeeeh? Kamu nggak tahu aku?" Ucap anak yang dengan tidak sengaja sudah kutabrak tadi. Astaga, aku sudah menabraknya, bukannya minta maaf malah menanyakan namanya. Fokus Taufan, Fokus!
Anak lelaki di depanku mengenakan jaket berwarna merah tanpa lengan dan ia tampak sangat.. uhm, free? Atau.. casual? Yap! Gayanya itu membuat wajahnya tampak ehm.. Ber—cahaya? Oke, mungkin suatu saat aku akan menyesal mengakatannya tapi..
Anak itu BENAR BENAR bercahaya! Siapa dia?
"Sudahlah, mungkin kamu nggak kenal aku. Tapi aku tahu, orang bertemu karena itu adalah takdir."
Astaga, terlalu bersinar! Dewa! Dia pasti dewa! Tapi kenapa seorang dewa bisa ada di sini? Dewa yang asli, tolong katakan padaku!
Disclaimer: BoBoiBoy punya Animonsta
Summary: Periang, suka melucu, dan selalu konyol. Siapa yang tidak kenal dengan Taufan ini? Mungkin kamu pun bisa jadi iri dengan sifatku yang periang ini. Eits, tunggu dulu sampai kamu tahu sifatku saat masih di sekolah dasar. "Apa ini yang namanya pem-bully-an ya?"/ "Lagipula nanti ya akan kacau lagi" Author masih newbie m(_ _ m).. Happy Reading!
WARNINGS: OOCs, Typos
Nggak bisa, aku nggak bisa bilang ke semuanya untuk menjauhi Ying. Aku nggak tahu alasannya. Tapi kalau nggak kulakukan, aku nggak akan pernah bisa bilang Ejo jo kalau aku nggak mau bertukar barang dengannya lagi..
Saatnya meluruskan ini. Oke, susun strategi, bilang ke Ejo jo kalau aku nggak bisa minta semua orang menjauhi Ying tanpa alasan, dengar alasan Ejo jo, katakan kalau ini terakhir kalinya aku mendengar permintaannya. Oke, sip!
Aku kembali melangkahkan kakiku, mulai berlari. Aku harus mengatakannya pada Ejo jo. Aku sudah tak mau melakukan semua ini lagi!
KRIIING
Oh. My. God. Kenapa selalu tak ada waktu untuk aku? Bukannya aku tokoh utama di cerita ini? Sudahlah, yang pasti, semua hal harus beres sebelum aku dijemput mom nanti siang!
Mom, please datanglah telat lagi!
Aku melanjutkan langkahku ke kelas tapi—
[NORMAL POV]
Hanya tinggal selangkah saja Taufan dapat masuk ke kelasnya sebelum sang wali kelas datang, tapi sebelum itu terjadi, Taufan merasakan tarikan yang sangat kencang. Mungkin itu tarikan terkencang yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Taufan pun mengangkat wajahnya, berusaha melihat siapa yang menarik tangannya, "E—Ejo jo?! Kenapa—"
"Yo, Taufan! Ikut kami sebentar ya hehe.."
Tanpa berbicara, Taufan hanya menuruti, mengikuti Ejo jo menuju hanya-Tuhan-yang-tahu-tempat-apa-itu.
Setelah berada di tengah lapangan, Ejo jo menghentikan tarikannya. Membiarkan tangan kanan Taufan bebas dari cengkramannya. Refleks, Taufan langsung mengelus tangannya yang mungkin sudah memerah sekarang.
"Ejo—"
BUAKH!
Tak sempat Taufan menyelesaikan kata katanya, Taufan sudah merasakan tekanan yang sangat keras di pipinya. Ejo jo memukul Taufan?
Hal itu diulang kembali oleh Ejo jo hingga Taufan hanya bisa mengeluarkan nafasnya yang mulai memberat, bukan mengeluarkan kata katanya. Belum sempat Taufan menarik nafas, kembali dirasakannya pukulan keras di pipi Taufan.
Ejo jo melakukannya terus menerus. Hingga pandangan Taufan mulai kabur. Tanpa Taufan ketahui, Popo datang mendekatinya sambil membawa seember air. Siap mengguyurnya
"Inilah yang kamu dapat kalau membantah aku sekali saja." Ucap Ejo jo tajam. Yang sempat membuat Taufan merinding dari ujung kaki hingga kepala.
'Kenapa? Kenapa, Ejo jo? Aku melakukan kesalahan apa? Membantah.. Kapan?' Hal itu terus menerus berlalu lalang di pikiran Taufan hingga—
BYURR!
"Hah!" Pekikan kecil terlepas dari mulut Taufan disambung oleh nafas yang berat.
[TAUFAN POV]
Dingin.. Dingin sekali.. Kenapa kok begini? Kenapa?
Berbutir cairan hangat mulai mengalir di pipiku yang panas akibat pukulan Ejo jo. Hahah.. Kantung mataku sudah nggak tahan ya.. Hahah.. Haha..
Suara isakan sudah memenuhi gendang telingaku sebelum aku mengetahuinya. Air mata mulai membasahi pipiku, menyelaraskan suara isakanku.
Aku tak bisa memikirkan apa apa lagi.
Apa yang terjadi sebenarnya? Inikah yang namanya pembulian di sekolah? Ini kan hal yang cuma terjadi di film dewasa, kenapa ada di dunia nyata?
Padahal sekolah itu seharusnya menyenangkan kan? Tapi kenapa? Kenapa harus seperti ini? Apa salahku? Lagipula, bukannya tiap orang mempunyai hak yang disebut pendapat masing masing? Kenapa?
Aku cuma ingin belajar.. Bermain, seperti yang biasanya dilakukan Kak Gopal di sekolah.. Kak, kau di mana? Nggak kelihatan aku di tengah lapangan ini?
Aku mengistirahatkan kepalaku sekali lagi di tanah. Tanpa kusadari, kesadaranku sudah menjauh dariku.
"Aku tahu kok kalau kamu bisa jadi pemimpin yang baik untuk klub ini."
"Bagaimana kau tahu? Waktu aku jadi ketua kelas saja semuanya serasa berantakan."
"Nggak kok! Kelas yang kamu atur... ... .. kok"
Heh? Aku bukan ketua kelas.. kok
Oh, ya tentu saja. Mimpi kan? Oke, sekarang aku di mana? Aku melemparkan pandanganku ke sekelilingku.
[Jangan lupakan! 4 Sehat 5 Sempurna]
[Kesehatan sebagian dari iman]
Apa maksudnya sebagian dari iman? Kesehatan..
Oh, berarti ini di UKS sekolah. Aku baru tahu kalau sekolahku mempunyai ruangan ini. Andaikan aku nggak berbaring di sini, mungkin aku nggak akan pernah tahu ya..
Oke, kenapa aku berbaring di UKS?
Oh, ya, Ejo jo...
"Taufan! Kamu nggak papa?" Suara ini.. Air ya?
"Air..?" Akh, pita suaraku yang malang. Sepertinya tergores. Kok bisa ya?
"Hah? Air? AIR! Bu Guruu! Tempat mengambil air di mana?!" Teriak Air panik.
"Air?" Ucap seorang wanita dewasa. Aku melihatnya bangkit dari tempat duduknya. Oh, inikah guru kesehatan? Apa ini pertama kali aku melihatnya? Oh, bukan! Aku ingat, aku pernah menyapanya di hari pertama sekolah, "Sebentar ya, Taufan, sebelum ibu ambilkan air, Ibu periksa sebentar luka luka mu ya."
"Ah, tidak perlu air, Bu." Ucapku. Cuma mau manggil Air saja kok. Kenapa Air bisa jadi sepanik itu ya?
"Oh, oke, Ibu lihat luka lukamu ya." Aku mengangguk
Kuharap hari ini cepat berlalu. Aku nggak mau mengingatnya lagi. Ejo jo..
Sayangnya, sampai sekarang—aku sudah SMP—pun aku tetap nggak bisa melupakannya
Aku Taufan, kelas 1 SD. Anak kecil yang ber-otak tua (bukan tuna ya) Baru saja mengalami hal yang luar biasa.
TBC?
Author's note: Akhirnya bisa apdet juga.. Maafkan diriku yang gampang sakit ini.. Sebagai ucapan minta maaf, aku kasih omake di bawah hehe.. Oke, mungkin banyak yang bingung tentang Taufan, Taufan itu anak kls 1 SD yang suka sekolah. Punya kakak, Gopal. Untuk sementara cuma itu dulu yang bisa aku bilang.. Dan untuk Halilintar, Gempa dkk akan muncul di chapter mendatang. Sebenernya author pengennya munculnya di chapter selanjutnya, tapi masih bingung beberapa hal. Jadi tolong ditunggu ya hehe.. Thanks for reading!
OMAKE
DIIN!
Klakson mobil mom berbunyi memenuhi telingaku.
Walaupun bukan jam pulang sekolah, Guru Kesehatanku sudah meneleponkan mom untuk menjemputku. Katanya aku nggak mungkin bisa melanjutkan kelas dengan muka seperti ini.
Aku membuka pintu mobil. Aku nggak bisa melihat mom..
"Taufan, apa yang terjadi? Kenapa kamu terluka? Siapa yang memukulmu?"
Nggak, aku nggak mau jawab, mom, jangan sekarang, please.
"Taufan! Kenapa, Taufan?!"
"Mom. Tolong.. Di rumah saja.." Jawabku singkat tanpa melihat mom. Aku masih nggak bisa melihat mom..
"Oke, Taufan. Kita lanjutkan di rumah. Tapi tolong singkirkan kantung plastik itu dari mukamu! Astaga, berapa banyak yang kau pakai, Taufan." Ucap Mom yang berusaha melepaskan 10 kantung plastik yang tadinya kupakai, sambil menyetir mobil.
Akhirnya aku bisa melihat mom.
