Ying adalah seorang anak wanita yang sangat ambisius.

Ambisius untuk mendapat nilai terbaik, ambisius untuk mendapatkan banyak teman, dan yang paling utama baginya adalah ambisius untuk memiliki segalanya.


Disclaimer: BoBoiBoy punya Animonsta

Summary: Periang, suka melucu, dan selalu konyol. Siapa yang tidak kenal dengan Taufan ini? Mungkin kamu pun bisa jadi iri dengan sifatku yang periang ini. Eits, tunggu dulu sampai kamu tahu sifatku saat masih di sekolah dasar. "Apa ini yang namanya pem-bully-an ya?"/ "Lagipula nanti ya akan kacau lagi" Author masih newbie m(_ _ m).. Happy Reading!

WARNINGS: OOCs, Typos


Hal ini terjadi saat Ying masih berada di taman kanak kanak.

"Ying, maafkan mama ya. Tapi mama sama papa harus pergi dulu."

"Kemana, ma? Kapan pulangnya?" Tanya si kecil Ying.

"Mama ingin belajar mendesign baju. Mama akan ke Amerika." Jawab ibu Ying sambil membelai kepala putri tunggalnya, "Papa akan ke Australia karena ada pekerjaan di sana."

"Ying nggak boleh ikut?"

"Ying, kamu harus dewasa. Jangan bergantung pada orang lain saja. Janji sama mama kalau kamu akan belajar sangat sangat sangaat rajin oke?" Ibu Ying mengusap usap kepala Ying dengan keras namun penuh kasih sayang yang membuat Ying tertawa kecil merasakan usapan ibunya, "Selama mama pergi, kamu akan dijaga oleh nenek. Jadilah anak yang baik, ya!"

"Ya!" Angguk Ying perlahan, "Ma, kalau mama pulang nanti, Ying pasti sudah jadi presiden!"

Ucapan Ying kecil membuat mamanya tertawa kecil, "Ya, kalau kamu nggak jadi presiden, mama hukum kayak begini!" Mama Ying menyerang Ying dengan menggelitiki sekujur tubuh Ying

Tubuh mungil itu pun jatuh, terbaring merasakan gelitikan mama tercintanya.

"Janji ya, mama pasti pulang!" Ucap mama Ying sambil memeluk jari kelingking Ying dengan jari kelingkingnya.


[Halo? Ying?]

"Mama! Gimana kabarnya, ma? Mama sekarang di mana? Kerjaannya berat? Kapan mama pulang?"

[Sabar, sabar! Daripada itu, sekarang kamu sudah bukan murid taman kanak kanak lagi ya? Selamat ya, Ying! Sekolah dasar ya? Sekarang kamu sudah lebih besar, Ying]

"Hehe.. Jadi? Kapan mama pulang?" Dengan cepat Ying langsung mengganti topik pembicaraan.

Tentu saja sebagai seorang anak kecil, apalagi masih di TK, pasti merasa berat ditinggal orang tuanya. Tapi, Ying adalah salah seorang anak yang cukup berani untuk menjadi anak yang tidak tinggal dengan orang tuanya.

[Sebenarnya, minggu ini mama bisa pulang, tapi..]

"Eeeh? Nggak bisa pulang?" Bagi Ying, hal yang paling penting sekarang bukanlah alasan mengapa mamanya tidak bisa pulang, melainkan sebuah fakta bahwa mamanya itu tidak bisa pulang. Itulah hal yang mengecewakan Ying.

[Dengarkan mama, Ying.] Kata ini membuat mulut Ying tertutup rapat seketika [Papa mendapat masalah di kantornya.]

"M.. Masalah?"

[Ya, jadi papa harus mengurus banyak hal di sini. Ying, mama punya pesan buat kamu. Jangan pernah lupakan ini.] mendengarnya, Ying mengangguk perlahan. Walaupun hal itu tidak dapat dilihat mamanya, mama Ying tetap bisa merasa bahwa Ying mendengarkan dengan baik. Mungkin ini yang disebut ikatan batin?

[Jangan percaya siapapun! Kecuali bila orang itu memberikan keuntungan buatmu.]

"Keuntungan?"

[Ya. Mungkin sekarang kamu nggak ngerti, tapi suatu saat pasti..]

"Ma, Ying ngerti kok."

Sedikit ketawa geli terdengar dari telpon rumah Ying, [Begitu baru anak mama. Sudah ya, Ying. Di sini sudah larut malam. Mama mau istirahat dulu. Besok hari pertama sekolah kan? Kamu juga harus siap siap! Belajar lebih rajin agar cita citamu jadi presiden hehe.. Tercapai]]

"Iya, ma! Dadaa!"

Telepon ditutup. Sedikit perasaan aneh mengganjal di hati mama Ying. Mama Ying tidak bisa bicara banyak hal pada Ying. Bahkan hal terpenting pun masih tidak bisa dibicarakannya. Hal terpenting, bahwa sebenarnya papanya telah tidak ada di dunia ini.

Kecelakaan? Bukan. Itu bukanlah sebuah kecelakaan. Itu kesengajaan. Kalau saja papa Ying tidak sepintar itu. Kalau saja papa Ying tidak dikirim ke Australia. Karena itu, kalau Ying sampai mewarisi kepintaran papanya, mungkin hal yang sama akan terulang.


"Hai, kamu Ying kan?"

"ehm.. Iya, hai.." Ying melambaikan tangannya acuh tak acuh.

"Namaku Ejo jo! Mau jalan bareng nggak?"

'Kayaknya orang ini nggak bakal menguntungkan aku deh' Pikir Ying dalam hati.

"Jalan bareng.. Ehm.. Maaf, ya. Aku harus langsung pulang, nenekku menunggu nanti." Ucap Ying sambil menghindari kontak mata dengan Ejo jo.

"Oh, oke" Ejo jo pergi dengan muka masam. Tentu saja Ying tidak melihatnya. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menghindari kontak mata dengan Ejo jo. Ia tidak bisa mempercayai orang seperti dia.

"Hai! Aku Ejo jo! Kau siapa?" Ejo jo kembali menyapa orang lain. Karena suaranya yang berat dan keras, Ying meliriknya sedikit. Kenapa Ejo jo mau jalan bareng cewek ya?

"Aku.. Taufan.." Ucap seorang anak lelaki yang tidak diketahui Ying. Ying melihatnya sambil memperhatikan orang yang bernama Taufan itu. Sepertinya bukan tipe anak yang pintar berteman. Mungkin pelajarannya pun juga tidak terlalu bagus.

Hal yang dipikirkan Ying itu terbukti. Tiap kali wali kelas mereka memberikan pertanyaan, Taufan tidak pernah menjawabnya. Bagi Ying, ini merupakan sebuah kesempatan untuk menjadi nomer satu.

Pertama nomer satu di kelas, lalu di sekolah, di Pulau Rintis, lalu nomer satu di seluruh dunia! Pemikiran anak kecil yang polos..


Nomer 5

Bukan nomer satu? Siapa yang nomer satu? Mata Ying bergeser dari nomer lima ke atas. Namun terhenti di nomer 2. Taufan.

Tapi, dia nggak aktif di kelas, wajahnya pun nggak menarik, apa bagusnya dia? Ying mulai memutar otaknya. Ia melihat ke sekelilingnya. Di mana Taufan? Kenapa nggak ada di sini?

"Hey, Taufan!" Taufan? Refleks, Ying langsung menoleh.

"Mau kemana? Mau jalan bareng kita nggak?" Ejo jo lagi.. Mereka sudah jadi teman dekat?

"Oh, hey! uhm.. Ejo jo?" Dari sinilah Ying mulai tertarik dengan kehidupan Taufan yang sebenarnya pelupa, namun pintar dalam pelajaran.

Ying terus mengikuti Taufan kemanapun ia pergi. Bahkan setelah istirahat ia rela tidak masuk ke kelas, menunggu Taufan. Karena itu, ia melihat kejadian yang mengerikan bagi seorang anak SD. Dan itu membuatnya bersyukur ia masih belum mempercayai siapapun.


"Nenek, mama, papa nggak telpon?" Ucap Ying pada neneknya

"Nggak." Jawab nenek Ying singkat, "Tapi mengirim e-mail pada nenek. Katanya seminggu lagi bisa mengambil cuti sebulan."

"Eh?! YES!"

Sayangnya, hal itu terus terulang hingga Ying sudah kelas 5 SD.

Dunia ini hanya ditinggali oleh 2 jenis orang. Yang menguntungkan dan tidak menguntungkan. Itulah dunia Ying sekarang hingga SMP.

TBC?


Author's Note: Akhirnya bisa update juga.. maaf ya cuma extra chapter..

Eeh, ceritanya nggak jelas ya? Maafkaan.. Saya sendiri juga bingung. Saya udah coba berkali kali baca tapi masih belum bisa menemukan ketidakjelasannya. Mungkin ini bisa membantu: inti ceritanya keseharian Taufan yang nggak biasa.

Pembullyannya keterlaluankah? Soalnya aku mau buat yang semacam diceplok telur, dijauhi, nggak diajak ngomong, tapi saya pikir lagi. Mungkin kalau cowok pembullyannya pukul2an jadi saya buat deh pukul2an XD. oot, pembullyan juga terjadi di kelas 1 SD lho!

Kayaknya bakal molor updatenya nih.. Maafkan.. Tapi tiap bulan pasti ada chap baru kok ^^ sorry for typos! Keep reading!