Chapter 2

.

.

.

Sebenarnya entah sejak kapan seorang Park Jinyoung mulai memetakan kepribadian seseorang hanya dari streotype kelompok.

Siswa yang sering terlambat ke sekolah pasti orang yang malas belajar

"Padahal asrama kita hanya 10 meter dari sini" Jinyoung menggelengkan kepala—jengah setiap kali ada yang datang terlambat

Ya, para siswa St Hana wajib masuk asrama yang berjarak sangat dekat dari sekolah. Maka dari itu alasan telat biasanya sangat tidak terima karena… ayolah—apa lagi alasanmu untuk datang tidak tepat waktu selain bangun kesiangan

Jinyoung juga menduga jika para siswa 'cheerleader' pasti *uhuk* lebih feminim dari pria remaja norma—

"Salah besar!" sela Kyuhyun tiba tiba muncul entah darimana ketika Jinyoung sedang membahas masalah ini dengan Yugyeom, "Kau tidak lihat Sungmin? Ketua Cheerleader? Dia bahkan lebih ganas dari guru killer kita—Kim Heechul" ucap Kyuhyun dengan mimik muka serius. Inget kemarin hampir merenggang nyawa di tangan Sungmin.

Jinyoung memutar kedua bola matanya. Berita kalau Kyuhyun—ketua basket dan Sungmin—ketua Cheerleader bak anjing dan kucing yang ga bisa akur sudah menjadi legenda satu sekolah.

"Iya betul juga kata Kyuhyun hyung" Yugyeom ikut membenarkan, tapi sebelum Jinyoung bisa membalas ucapannya, kedua mata mereka menangkap lengkingan suara khas Lee Sungmin dari kejauhan

"Kyaaa jepitan pink-ku hilang!"

Jinyoung menghela napas berat, "Yang seperti itu dibilang ganas?"

.

.


.

.

Maka tidak heran ketika Jinyoung juga memandang sebelah mata anak basket.

Sekumpulan remaja yang bagi dia tidak lebih dari sekedar ajang pamer saat mau masuk klub basket.

Ayolah, siapa yang tidak tahu jika bisa masuk klub paling terkenal di sekolahmu maka otomatis kau sendiri bisa jadi pria incaran para siswi di luar sana

Tidak terkecuali klub basket

Klub yang paling banyak mencetak penghargaan bahkan semenjak St Hana didirikan. Merupakan kebanggaan tersendiri jika bisa masuk kesana

Tapi—yang membuat senyum sinis Jinyoung terlihat adalah bagaimana streotype anak basket sama saja dimana mana

Mereka merasa sebagai orang populer, sering mendapat hadiah dari pada siswi yang setiap pulang sekolah menunggu mereka di luar pintu gerbang dan bahkan punya fans klub sendiri

"Sekumpulan orang bodoh" gumam Jinyoung yang asyik membaca buku sambil berjalan pulang menuju asrama mereka. Ekor matanya menangkap sekumpulan remaja perempuan yang sibuk berteriak histeris seakan akan baru bertemu dengan Boyband kesayangan mereka sambil berdesakan memberi hadiah pada anak basket yang baru selesai latihan

Entah gumaman Jinyoung yang terlalu keras atau Mark yang saat itu berdiri lebih dekat sehingga ucapan itu lagi lagi terdengar

Mark sontak marah. Ia bingung, kesal dan tidak percaya—bagaimana bisa siswa yang tidak tahu apa apa tentang basket bisa dengan mudahnya menghina mereka

"Permisi" Mark menyeruak dari kerumunan penggemarnya lalu berjalan cepat ke arah Jinyoung yang berada beberapa langkah di depannya

"Guys…" Kedua mata waspada Jaebum mengintai Mark dari kejauhan, "Lebih baik kita ikuti dia, perasaanku tidak enak"

Seluruh tim basket mengangguk patuh sambil berusaha melepaskan diri dan mengekori Mark dari belakang

Keputusan Jaebum sangat tepat karena belum sempat menghampiri Mark, tiba tiba saja teman mereka itu, menghadang Jinyoung lalu mendorongnya ke belakang

"Wohaaa Mark!" teriak Jackson, Jaebum dan Youngjae refleks berlari menyusul sebelum terjadi hal yang tidak mereka inginkan

"Apa maumu?" kata Jinyoung tenang, meski sedikit shock karena seorang Mark Tuan tiba tiba mendorongnya kasar

"Seharusnya aku yang bertanya apa maumu?" Mark mendenguskan napas keras keras, "Apa sih salah anak basket terhadapmu, nerd!" ejeknya, "Kalau ada masalah bilang saja, jangan menghina di belakang"

Wajah Jinyoung berubah tegang, "Aku hanya kesal melihat sekumpulan orang bodoh seperti kalian" ujarnya dengan lantang meski ia sedikit takut karena melihat kilatan marah di mata Mark

"Kau—" Belum sempat Mark membalas ucapan Jinyoung, Jaebum dan yang lain sudah berhasil sampai di depan mereka

"Mark!" desis Jaebum mau menarik lengan temannya itu, "Sudahlah biarkan saja dia, jangan bertengkar disini sebelum kita ketahuan guru" ia memberi peringatan, Jaebum pun menatap tidak suka ke arah Jinyoung

Oke… siapa yang akan suka dengan seorang Park Jinyoung. Seorang perfeksionis, pemenang juara umum satu sekolah dan sederet penghargaan lain secara akademis.

Jinyoung bukan dibenci karena otaknya yang kelewat pintar, bukan karena itu…

Tapi lebih pada sifatnya yang penuh prasangka. Seluruh siswa sudah pernah menjadi korban cibiran Jinyoung, tidak ada seorangpun yang mau menjadi temannya, baik di sekolah atau diasrama

Yugyeom adalah pengecualian, lagipula Yugyeom junior yang tidak sekelas dengan Jinyoung sehingga anak baru itu tidak tahu seperti apa Jinyoung di perlakukan oleh teman sebayanya

"Tapi dia kelewatan Jaebum" balas Mark dingin, dengan mudah dihempaskan tangan Jaebum yang memegangnya lalu berjalan ke arah Jinyoung

"Nerd! Jaga mulutmu karena kami ini bukan sekumpulan orang bodoh"

Jinyoung mengangkat sebelah alisnya, "Kalau begitu kalahkan aku dalam akademik" tantangnya berani

"Dan kalahkan aku dalam pertandingan basket" balas Mark enteng

Bibir Jinyoung terkatup rapat

"See? Kita sama sama ahli dalam bidang berbeda, berhenti mengomentari orang semamumu, nerd!" Mark sengaja menaikkan nada suaranya pada kata terakhir.

Beberapa murid basket, terbatuk menahan tawa sambil Mark membalikkan badan penuh senyum kemenangan

Mereka pun berlalu dari hadapan Jinyoung—mendahului sang juara sekolah masuk ke gerbang asrama

Jinyoung mematung di tempat, kedua tangannya terkepal erat disertai kedua mata yang terus menatap punggung Mark penuh kebencian

"Lihat saja nanti" geram Jinyoung menahan marah

.

.

.

.

.

"Selamat pagi anak anak!" sapa Kim Heechul kelewat riang yang membuat siswa kelas 11 langsung merinding ngeri

"Ngga biasanya Heechul dateng ramah gitu, pasti ada apa apa nih" ujar Jaebum melirik sangsi ke depan

"Bener banget" balas Jackson sama yakinnya

Bagaimana mereka tidak ketakutan kalau guru paling killer satu sekolah datang penuh senyum pagi itu.

"Jangan bilang…." Mark yang duduk di depan Jackbum bersama dengan Youngjae, mulai curiga

"Nah anak anak, bagaimana kita memulai pagi yang cerah hari ini dengan tes dadakan!" ujar Heechul dengan senyum merekah lebar

"MWO!" Pekikan panik terdengar dari seluruh penjuru ruang kelas

"Hahahaha, ayolah" Heechul mengibaskan tangannya di depan para murid, "Senam otak pagi pagi bagus untuk kalian" ucapan Heechul kali ini di sertai seringai licik karena melihat murid sekelas cuma bisa mengeluh tanpa perlawanan

"Keluarkan kertas selembar dan alat tulis di atas meja" titah Heechul seraya berjalan membagikan selembar soal ke masing masing meja

Jaebum mengeluh, Jackson mengutuk dalam hati sementara Youngjae hanya mengangkat bahu—diantara mereka berempat, Youngjaelah yang paling pintar sehingga tidak heran, dia biasa saja menghadapi tes dadakan

"Sial!" Mark mengumpat pelan. Kedua matanya bergerak gelisah sambil sesekali melirik tidak senang ke arah Heechul yang sudah berjalan ke meja mereka berdua

"Nah—sekarang kerjakan dengan tenang. Kalian semua saya berikan waktu 1 jam, di mulai dari sekarang!"

Semua murid baik yang ogah ogahan, maupun pasrah, mulai membaca teliti soal test dari Heechul. Guru bahasa mereka satu ini sangat susah ditebak. Pernah suatu saat mereka meremehkan tes dadakan seperti sekarang dari Heechul tapi ternyata apa? Hasil dari tes tersebutlah yang dimasukan ke dalam raport!

Jadi tidak heran kalau sekarang murid kelas 11-A berusaha sekuat tenaga agar hasil dari test tidak terlalu mengecewakan

Sementara semua orang sibuk mengerjakan soal, Mark, yang duduk di samping Youngjae, menelan ludah susah payah. Ia melirik ke arah Heechul yang sedang mengitari seberang ruangan

Mark sedikit bernapas lega, dengan pelan dan hati hati, ia mengeluarkan sebuah note kecil dari dalam laci, membuka acak beberapa lembar sebelum membaca tulisan disana lalu menyalin ke dalam kertas jawaban

"Dia mencontek…" bisik Jinyoung yang kala itu sedang berjalan membawa buku PR dari ujung koridor.

Jinyoung tadinya tidak bermaksud menatap ke arah Mark kalau saja ia sedang tidak menyapa ramah Heechul yang berdiri di depan pintu kelas

Tatapan Jinyoung yang ingin beralih ke depan tanpa sengaja menangkap gelagat mencurigakan dari Mark

"Jinyoung? Hei?" Heechul mengguncang lembut pundak Jinyoung yang mematung di sampingnya, "Apa yang kau—" Kedua pupil mata Heechul melebar saat ia menangkap apa yang dilihat Jinyoung

"Mark Tuan! Berhenti mengerjakan soalmu dan temui aku setelah kelas berakhir!" teriakan kencang Heechul pagi itu menjadi awal bencana besar bagi Mark

.

.


.

.

"Mark! Hei—" kedua tangan Jackson tidak berhasil menghentikan langkahnya, Jaebum dan Youngjae yang juga berniat menahan Mark, sia sia saja

Mark terus berjalan cepat—melesat menerjang kerumunan para siswa di jam istirahat sebelum masuk ke ruang kelas 11-B

"Kau?!" Kedua tangan Mark terulur menarik kerah kemeja Jinyoung yang kaget setengah mati, "Apa sih masalahmu!" teriak Mark di depan wajah Jinyoung, "Apa urusanmu kalau aku mencontek! Semua orang pernah mencontek! Tapi kenapa kau harus mengadu pada Heechul-shi? Mau di cap anak baik, ha?"

Jinyoung yang mendengar tuduhan dari Mark langsung melepaskan diri, wajah mereka sama sama merah padam—menahan marah

"Aku tidak mengadu bodoh! Heechul-shi yang melihat!" balas Jinyoung tidak terima namun tak lama seringai remeh muncul di bibirnya, "Lagipula pelajaran bahasa segampang itupun kau mencontek? Kau seharusnya malu pada diri sendiri!"

Wajah Mark berubah pucat sebelum begitu saja tangan kanannya meluncur tepat ke depan Jinyoung

BUKK

Jinyoung terkapar di lantai, "Apa yang?! Ia tidak tinggal diam, Jinyoung segera bangkit berdiri dan juga melayangkan tinjunya

"Fight! Fight! Fight!" Bukan membantu, teman sekelas Jinyoung malah mengerumuni mereka berdua sekarang yang sibuk berkelahi

"Ah tidak!" Jackson mendesah panjang saat sampai di kelas Jinyoung bersama dengan Jaebum dan Youngjae, "Mark berhenti!" Mereka bertiga bergegas menyeruak ke tengah kerumunan

.

.

.

"Well Well… saya tidak menyangka akan bertemu dua kali denganmu Mark Tuan" sindiran Heechul tidak berhasil membuat Mark berbicara

Mereka berdua sekarang, Jinyoung dan Mark berada di ruangan Heechul—sang Guru bahasa dan juga Guru kedisiplinan

Setelah Jackson dan Jaebum berhasil melerai mereka berdua, entah muncul darimana tiba tiba saja Heechul sudah berada di kelas Jinyoung sambil tersenyum manis lalu menyuruh kedua siswa itu ke ruangannya

"Kalian tahu berkelahi sangat dilarang di sekolah kita" suara Heechul tidak lebih dari sekedar bisikan, tapi baik Jinyoung maupun Mark tahu betapa berbahayanya arti bisikan tersebut

"Tahu Heechul-shi" jawab Jinyoung merasa sangat menyesal, seharusnya dia tidak terpancing pukulan Mark, sekarang apa beda Jinyoung dengan Mark? Rekornya sebagai murid teladan sudah ternoda

"Tapi ini tidak berpengaruh dengan nilai saya kan Heechul-shi? Kumohon, aku akan terima hukuman apapun" lanjut Jinyoung lagi yang berhasil membuat Mark sampai berpaling menatap muak ke arah Jinyoung

"Sebegitu pentingkah nilai untukmu, nerd" sindir Mark

"Jangan memulai lagi Mark" sela Heechul sebelum Jinyoung bisa membalas, "Dan tidak untukmu Jinyoungie, ini tidak ada hubungannya dengan akademik meski yah… harus di akui, saya agak kecewa padamu Jinyoung" Heechul menggelengkan kepalanya sedih

Mark menatap mereka berdua tidak percaya, Jinyoungie? Owh jangan katakan guru galak seperti Heechul sekalipun punya anak kesayangan

'Oh great! Pasti hukuman kami berat sebelah' pikir Mark negatif

"Dan seperti yang kalian tahu, apa hukuman terberat yang akan diterima para murid yang tertangkap basah sedang berkelahi?" Pernyataan Heechul bak petir di siang bolong, Jinyoung dan Mark sama sama melotot ke arah Heechul dengan perasaan ngeri

"Tidak, tidak! Aku tidak mau!" Mark yang pertama kali menolak

"Kumohon Heechul-shi, apapun hukumannya selain itu! Aku mau membereskan taman setahun penuh, atau membersihkan toilet tidak apa apa, asal jangan itu!" bisik Jinyoung nyaris memohon

Heechul tersenyum sangatttt manis

"Aku tidak akan memberi pengecualian meskipun itu kamu Jinyoungie… kau harus terima hukuman ini—ah tidak, kalian berdua" Heechul melirik wajah Mark yang mengeras

Mark dan Jinyoung tidak berkutik, mereka diam seribu bahasa

"Baiklah, Mark! Kau harus segera mengepak barangmu agar pindah ke kamar Jinyoung" Seolah tidak melihat wajah sengsara mereka berdua, senyum manis Heechul makin lebar, "Nah sekarang kau punya teman sekamar Jinyoungie, bukan itu bagus?"

Jinyoung menutup wajah dengan kedua tangan, "Tidak… sama sekali tidak bagus" bisiknya merana

.

.

.

Di sekolah St Hana, ada hukuman unik yang diterapkan untuk menghentikan perkelahian serius antar murid. Sang pendiri St Hana tahu jika sekolah khusus remaja pria pasti sulit terhindarkan dari perkelahian secara fisik. Oleh karena itu, ditetapkan satu hukuman bagi para murid yang tertangkap basah sedang berkelahi

Hukuman yang sebenarnya tidak berat, namun entah kenapa para murid lebih rela jika hukuman mereka ditukar dengan membersihkan taman selama setahun seperti yang Jinyoung katakan, atau dijemur di depan tiang bendera selama seminggu penuh ketimbang harus menerima hukuman satu ini

Karena hukuman unik ini mengharuskanmu tinggal satu kamar dengan orang yang menjadi musuhmu. Itu hal mengerikan yang sebisa mungkin dihindari oleh murid St Hana, apalagi ditambah mereka akan diawasi lebih ketat oleh guru kedisiplinan yang tidak lain tidak bukan adalah Kim Heechul

Mungkin kalau bisa diadakan pungutan suara, para murid lebih senang pura pura berdamai satu sama lain daripada harus berurusan dengan Kim Heechul

.

.

.

"Mark—"

"Jangan bicara! Semua sudah terjadi" Dengan serampangan dan masih dalam keadaan marah, Mark melemparkan asal semua bajunya keluar dari lemari

Jaebum mengisyaratkan Jackson agar diam, tidak ada gunanya menghibur Mark kalau dia sedang marah

"Sampai berapa lama?" tanya Youngjae berusaha mencairkan suasana

Mark mendengus panjang, "Sampai seorang Kim Heechul merasa aku dan Jinyoung tidak akan berkelahi lagi selamanya… yang berarti itu tidak mungkin" tambah Mark dengan jengkel, Ia menyerah—Mark berbalik menatap teman temannya, "Sungguh! Apa sih yang salah dengan anak itu! Pantas saja dia tidak punya teman!"

"Mark, kami akan mengunjungimu sesering mungkin" hibur Jackson yang menjadi teman sekamar Mark dari awal masuk sekolah, "Anggap saja kau hanya perlu melihat dia ketika pergi tidur dan itu bukan masalah bukan?"

"Kau benar" Mark mencoba menenangkan diri sambil bangkit berdiri untuk mengambil seluruh barangnya dari atas tempat tidur

"Sini kubantu" kata Jaebum ikut memindahkan barang barang milik Mark. Youngjae juga sibuk melipat selimut Mark sementara Jackson dengan susah payah menyeret koper Mark keluar dari pintu

Mereka bergerak dalam kebisuan yang tidak disengaja dan ketika mereka mengantarkan Mark sampai di depan pintu kamar Jinyoung, Jackson menepuk pundak Mark—penuh simpati bercampur rasa kasihan, "Good Luck!"

Mark memutar kedua bola matanya, "Yeah" jawab Mark asal asalan—keberutungannya sudah hilang semenjak bertemu dengan murid sombong bernama Jinyoung

"Siap?" Jaebum memberi aba aba

"Tidak. Akan. Pernah. Siap" Mark menekankan kata per kata, tapi apa daya, Jaebum sudah membuka pintu kamar Jinyoung berada dan Youngjae berdua dengan Jackson mengangkat koper Mark ke dalam

Kamar Jinyoung sangat unik. Di dalamnya ada tangga kecil menuju atas dimana terdapat lantai kecil beserta beranda yang memakan setengah ruangan

Disanalah Jinyoung berada, ia menata ke arah bawah dengan enggan lalu tanpa mengatakan apapun, Jinyoung membaringkan diri ke atas tempat tidur

"Paling tidak lantai bawah milikku sepenuhnya" gumam Mark agak merasa puas

"Kecuali kamar mandi dan bak pakaian kotor" teriak Jinyoung dari atas, "Itu milikku juga"

"Whatever" gumam Mark dalam bahasa inggris, "Do you mind?" Ia menatap Jackbumjae penuh harap sebelum ketiga temannya itu mengangguk lalu membantu Mark membereskan semua barang miliknya

Dalam sekejap tawa dan kelakar memenuhi ruangan bawah. Jinyoung agak terkejut—tidak mengira bahwa teman teman Mark akan tinggal lebih lama

Namun… di dalam lindungan selimut tebal, jemari Jinyoung meraba lebam biru di dekat tulang pipi

"Aku tidak mengadukanmu…" bisik Jinyoung sambil merengkuh tubuh lebih ke dalam selimut agar tidak mendengar suara tawa mereka yang seolah menyindir kesendiriannya

.

.

.

TBC

.

.

Maaf kalau ada kekurangannya dan di tunggu komen kalian reader XD