EXCHANGE TWINS
SexyBabyWolf & PrincessWolf present
Oh Sehun seorang ice prince harus rela menyerah untuk menakhlukkan Luhan sang princess. Dan ia juga merasa dipecundangi kembarannya karena bisa menarik perhatian Luhan semudah membalik telapak tangan. Namun banyak rahasia terjadi dibalik semua itu. Curious? Check this out. Warning: GS, OTP12, crack pair slight. Hunhan, JaeEun, slight HunEun, JaeHan couple lain menyusul. Yang gak suka monggo diclose saja. Yang mau review silahkan dengan bahasa yang pantas dan yang gak mau review juga gpp. Dyo tidak berminat FANWAR.
Holla, Dyo comeback(?) lagi! dan gomawo untuk menunggu Dyo dengan kesabaran yang hampir habis. alasan utama karena laptop kesayangan belum sembuh dan lagi Dyo harus ngetik dari awal. dan itu beribu kali lebih menyebalkan daripada membuat yang baru. oh ya untuk reviewnya Dyo sudah baca semua tapi masih belum bisa balas. gomawo atas masukan yang sangat membantu anon-ssi. karena pada dasarnya saya dan Princess Babo tidak mengerti bahasa jepang. dan lagi ini FF duet jadi ada dua penulis yang membuat dengan gaya berbeda. but thanks at last. dan kabar baik atau buruk ya(?) mulai chapter 3 sampai end mutlak hanya Dyo yang mengerjakan karena Princess lagi kena Writerss block. gomawo dukungannya dan jangan kapok nunggu karena Dyo masih numpang di laptop teman hehehe dan yang tidak suka itu ada tanda silang dipojok kanan atas. diklik aja, life is simple. jangan dibuat rumit. woah Dyo jadi cerewet, kkeut. happy reading.
N.B : gomawo untuk review, fav, dan follow yang diberikan. mungkin ceritanya sudah pasaran dan ada yang sudah tahu mungkin. banyak typo dan mungkin kesalahan lainnya, jwesonghamnida. tapi, ya terima kasih lagi, yang menyempatkan diri review. yang gak reviewpun gpp karena saya open source(?) keke, ditunggu chap selanjutnya 3 saranghae bbuing~
Chapter 3
Jaehyun POV
Aku hanya diam sambil mendengarkan yeoja cerewet ini bicara. Ck, aku bosan dengan situasi seperti ini. Jika saja aku tidak ingat nasihat umma, maka aku akan meninggalkannya disini.
"Jadi, bagaimana Hyunaa? Kamu mau membantuku?" aku mengalihkan tatapanku pada yeoja cerewet ini.
"Apa keuntungannya bagiku? Aku tidak mau mempertaruhkan statusku jika imbalan darimu tidak menguntungkanku." Luhan berdecak malas dan menatapku.
"Arraseo. Aku akan melakukan apapun untukmu karena aku juga kesusahan menghabiskan uangku." Kini gantian aku yang berdecak dan meminum cola ku.
"Baiklah, kurasa aku akan berfikir lagi. Jadi, bisakah kita pulang sekarang karena aku cukup lelah dengan perjalanan dari Jepang kemarin."
"Na arra chagia!"
"Yaak, jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan seperti itu." aku bergidik dan berdiri.
"Kau harus terbiasa, chagi! Karena aku akan memanggilmu seperti itu setiap hari!" aku mendengus dan mengacak rambutku frustasi sebelum akhirnya dia menyeretku.
Author POV
Jaehyun telah sampai dirumahnya setelah Luhan menurunkannya di blok depan. Jaehyun tidak mau ambil resiko kalau namja sok tua -yang mengaku hyungnya- itu akan melihatnya dengan Luhan.
"Danyeowasseoyo(aku kembali/pulang)!" ucap Jaehyun sambil membuka pintu. Belum sempat ia mendongak, tubuhnya terhempas ke pintu dan kini didepannya Sehun menatapnya garang.
"Yaa hyung, waegeuraesseo?" tanya Jaehyun bingung. Sehun sama sekali tidak menjawab. Namun ia mengepalkan tangannya bersiap melayangkannya pada Jaehyun.
"Sehunaaa, hajima!" umma mereka berteriak histeris dan segera menarik Jaehyun dalam pelukannya. Daeun dan Kyuhyun yang semula berada diruang tengah ikut berlari menghampiri Sungmin diruang depan.
"Yaa, waeirrae?" ucap Kyuhyun kala melihat istrinya sesenggukan sambil memeluk Jaehyun.
"Jika yang hyung permasalahkan adalah Xi Luhan, aku akan menjelaskannya setelah membersihkan diriku!" Jaehyun berucap dingin sambil mengecup pipi ummanya. Wajahnya pun sama sekali tak bersahabat. Jauh lebih menyeramkan dibanding wajah Sehun yang marah. Jaehyun menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya tanpa bicara apapun. Mereka semua tahu jika saat ini putra bungsu keluarga Oh tidak sedang dalam keadaan baik baik saja. Daeun pun berinisiatif menyusul namjanya keatas. Saat ia masuk, Jaehyun tengah bersiap melepas seragamnya untuk mandi.
"Untuk apa kau kemari? Menghakimiku seperti hyung?" suara dingin itu terlontar begitu saja dari bibir tipis namja itu. Daeun hanya tersenyum kecut mendengarnya. Jika biasanya namjanya menggodanya dengan suara aegyo, maka kali ini hanya suara dinginnya saja yang terdengar.
"Bukan begitu Hyunaa. Aku hanya ingin bertanya sebenarnya ada apa?"
"Itu sama saja, Jung Daeun! Kau bisa menungguku dibawah." Ucap Jaehyun lalu berjalan kekamar mandi dengan menenteng handuknya. Belum sampai mencapai pintu, Daeun memeluk Jaehyun dari belakang.
"Jangan seperti ini Hyunaa, aku tahu kau tidak bersalah karena kau tidak pernah marah seperti ini. Tapi kumohon, jangan bicara sedingin itu padaku!" isakan lolos dari bibir Daeun dan itu membuat dinding es Jaehyun meleleh. Dengan pelan dibaliknya wajah Daeun.
"Mianhae, aku kira kau juga seperti hyung! Aku sama sekali tidak ingin melakukannya. Tetapi aku takut jika nantinya kau berpikiran sama seperti Sehun. Luhan bukan apapun bagiku, hanya ada Oh Daeun didalam sini!" Jaehyun menyentuhkan tangan Daeun ke dadanya dan menyambar bibir Daeun dengan cepat dan intens. Bahkan kini Daeun ikut membalas pagutan manis kekasihnya. Jaehyun memerangkap pinggang Daeun dan menggiringnya ke kamar mandi. Sepertinya Sehun harus menunggu lebih lama karena kegiatan Jaehyun dan Daeun.
XXX
Sementara itu diruang bawah Sehun mendapat omelan gratis dari appa dan ummanya dari A sampai Z tentang Jaehyun yang tidak boleh terkena pukulan pada kepalanya.
Flashback
Dua orang namja tengah bermain bersama dihalaman rumah yang luas. Namja dengan kulit putih bernama Oh Sehun sedang asyik bermain ayunan dengann saudara kembarnya, Oh Jaehyun. Kedua namja itu saling bergantian mendorong ayunan dan terlihat sangat senang.
"Hyungaa, ayunkan lebih cepat. Wihiii, Jaehyun telbang."teriak Jaehyun cadel khas anak berusia 4 tahun.
"Aith ya, ini thudah terlalu cepat! Dathar dongthaeng babo!" balas Sehun kesal pasalnya ia sudah kepayahan mendorong ayunan yang dinaiki dongsaengnya. Sementara dongsaengnya sama sekali tidak puas dengan hasil kerja hyungnya. Dengan kesal Sehun mendorong lebih cepat dan disambut pekikan antusias Jaehyun. Keduanya sangat asyik bermain hingga tak tahu apa yang menjadi awal mulanya, tiba tiba saja Jaehyun terpeleset dan jatuh setelah diayun Sehun dengan cepat. Mungkin buka salah Sehun. Namun kedua bocah itu sama sekali tak mengerti kan? Kepala Jaehyun terbentur batu dan Sehun sudah berteriak kesetanan. Kyuhyun dan Sungmin langsung berlari keluar karena teriakan Sehun. Sesampainya dirumah sakit, Jaehyun mendapat perawatan serius.
"Kami tidak berharap banyak pada oprasi kali ini! Namun kurasa putra anda sangat kuat. Namun sangat disayangkan karena salah satu pembuluh darah dikepala putra anda mengalami kebocoran dan kami tak bisa mengatasinya. Tapi Tuhan juga menunjukkan kuasanya, kebocoran itu tersumbat oleh darah yang sudah menggumpal. Maka dari itu saya hanya bisa berpesan untuk tidak membuat kepalanya terguncang maupun menghantam benda lainnya." Tutur dokter pada Kyuhyun dan Sungmin. Sementara Sehun sudah menerobos masuk kedalam ruang rawat dongsaengnya.
"Jaehyunaah, mianhae. Hyung mengayun terlalu kerath. Kau jadi jatuh, hikth!" Sehun terisak sambil memandang dongsaengnya yang menatapnya sendu dengan kepala berbalut perban.
"Gwenchana hyung, hyung tidak salah kok. Kan aku yang meminta hyung untuk mengayun lebih cepat. Uljima, allaseo?" sahut Jaehyun dengan lemas. Kyuhyun dan Sungmin yang hendak memarahi Sehun mengurungkan niatnya karena mendengar kedua putranya berbicara seperti itu. Ini bukanlah salah keduanya, ini hanya sebuah kecelakaan.
Flasback off
"Apa kau ingat kejadian itu?" Sungmin terus memojokkan putra sulungnya dan jika begitu Sehun hanya bisa diam. Beruntunglah ketika Sungmin hendak bicara handphonenya berbunyi.
"Kami akan menyelesaikan diatas. Daeun tidak bisa turun." Sehun langsung naik dan masuk kedalam kamar Jaehyun. Amarah yang sebelumnya memuncak langsung hilang saat melihat sahabatnya tengah bergelung manja pada dada bidang namdongsaengnya.
"Ya, Se**ya! Kau apakan Daeun?" Sehun melototkan matanya saat menyadari baju yang dipakai Daeun adalah piyama Jaehyun. Daeun mengerjapkan matanya dan tersenyum lelah pada Sehun.
"Bisakah kau tidak berteriak hyung? Biarkan dia istirahat!" sahut Jaehyun tajam. Daeun terkikik geli dan semakin menyurukkan kepalanya kepelukan kekasihnya.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Sehun lalu duduk disamping ranjang.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas yeoja itu memintaku untuk beraliansi dengannya. Dia menyuruhnya menjadi fake boyfriendnya selama yang ia mau. Aku menolak dan dia tetap memaksaku. Lagipula kau tahu bukan jika aku sudah bersama dengan Daeun? Dan aku tidak akan melepasnya hanya untuk yeoja pemilik hatimu itu." ucap Jaehyun panjang lebar membuat Sehun menjatuhkan rahangnya.
"Kau menerimanya?" Jaehyun mengangkat bahunya acuh.
"Molla, mungkin akan menerimanya tapi tujuanku hanya satu dan itu kau harus mau ikut peraturannya." Sehun mengernyitkan dahi.
"Maksudmu?"
"Aku akan menerimanya jika kau janji tidak akan mengacaukannya. Semua siswa tahu jika kau dan dia tidak bisa akur. Dan aku tahu jika dia diincar banyak si**l namja diluar sana. Aku hanya mengusulkan jika aku menerimanya itu karena aku berbaik hati menjagakan dia untukmu dari namja lain. Dengan syarat kau tidak akan mengacaukannya. Lagipula semua juga sudah menjadi milik Daeun." Ucap Jaehyun membuat Sehun mengangguk paham.
"Na arra, kau memang playboy Oh Jaehyun!"
"Dan kau payah, Oh Sehun!" sahut Jaehyun tak mau kalah.
"Oppaa~" Daeun melirik pada Jaehyun yang terpancing.
"Geumanhae(cukup), ayo tidur. Aku lelah!" bisik Daeun manja. Sehun memutar bola matanya malas dan beranjak dari kursi.
"Hyung, jangan mengacaukan niat baikku. Karena aku tidak akan melakukannya lagi jika semuanya berantakan" ucap Jaehyun lalu memeluk Daeun. Sehun hanya tersenyum dan keluar dari kamar dongsaengnya.
Jaehyun POV
Untunglah aku tidak terlambat. Ugh, gara gara kemarin terlalu bersemangat aku sampai bangun kesiangan. Ditambah lagi aku lupa jika kau meninggalkan mobilku disini. Aku baru saja meletakkan tas dan duduk dengan tenang. Hampir aku kembali ke alam mimpi jika saja tak ada gerakan yang mengusikku.
"Morning chagia! Bagaimana tidurmu semalam?" ucapan manja yang disertai gelayutan manja ditanganku mau tak mau membuatku membuka mata. Aku menatapnya tajam dan ia hanya tersenyum.
"Aigoo… mianhae chagia. Aku menganggu tidurmu. Kau pasti lelah sepanjang perjalanan dari Jepang, arra?" aku berdecak malas. Kau benar, tapi selain itu kegiatan semalam benar benar membuatku loss energy.
"Hmm, aku lelah. Biarkan aku tidur sebentar." Ucapku malas. Luhan hanya tersenyum lalu menarikku keluar kelas. Aku memekik dan meronta tapi dia tetap menarikku. Mengabaikan tatapan aneh dan iri dari seua orang. Dia berhenti menarikku disalahs atu kursi taman. Ia duduk dan menepuk pahanya. Membuatku menaikkan alis bingung.
"Kau bilang lelah, cha kemari!" dia menarikku dan memaksa merebahkan badanku. Kini kepalaku berada dipangkuannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman. Seperti belaian umma, ia membelai kepalaku hingga aku merasa mengantuk dan tertidur.
XXX
Aku terbangun karena bantal yang kugunakan ditarik. Hampir saja aku mendarat ditanah dengan tak terhormat jika kakiku tidak turun duluan.
"Siapa namja kurang ajar ini Lu? Kemarin kau pulang dengannya, dan sekarang aku melihatmu tidur berdua dengannya. Ada hubungan apa kau dengannya?" aku memutar mata malas dan berkacak pinggang pada namja yang seenaknya menarik Luhan untuk berdiri. Apa namja ini bodoh? Bukankah kemarin Luhan sudah menjelaskan padanya?
"Lepaskan Myungsoo! Dia kekasihku, Jaehyun. Jadi mulai sekarang jangan menggangguku lagi." Luhan menghentakkan tangan namja itu dan bergelayut manja padaku.
"Luhan, kau tak akan pernah bisa kabur dariku. Kau milikku Lu!" aku menggeleng malas dan menatap malas pada namja idiot ini.
"Geumanhae se**ya(berhenti s**lan), kau tidak mendengar Luhan bilang apa? Kau tidak punya harga diri? Dia sudah menolakmu dan kau masih seperti ini? Oh sesange!" ucapku lalu merengkuh Luhan dalam pelukanku. Aku merasakan Luhan tersentak dalam pelukanku. Namja itu menggeram lalu pergi dengan kesal.
"Aaah, berapa lama aku tertidur? Aku bisa dihajar appa jika ketahuan membolos!" Luhan melepas pelukanku lalu tersenyum sambil menggeleng imut.
"Kau baru tertidur 20 menit dan hari ini Park Sonsaeng tidak masuk." Aku menghela nafas lega lalu berbalik dan ebrjalan kekelas.
"Yaa Jaehyunaa, kau meninggalkanku disini?" rengekan manja itu membuatku memutar mata malas. Yeoja seperti ini digilai seluruh namja termasuk aniki sialan sok tua itu? Apanya yang terlihat bagus dari yeoja ini?
"Kalau tak mau ditinggal jangan hanya berdiri disana, dasar pendek!" ujarku membuatnya mengepalkan tangannya dan bersiap memukulku. Aish, aku benci tipe yeoja yang digoda malah galak seperti ini. Dengan cepat aku berlari kekelas sambil menertawakannya. Sepertinya menyenangkan mengerjai yeoja ini.
Sehun POV
Pelajaran kosong dan ini benar benar surga bagiku. Aku dengan bebas bisa menyelesaikan bermain game di psp milikku. Namun belum lama aku bermain kudengar langkah yang keras masuk kedalam kelas dan aku melihat Jaehyun disana.
"Yaa se**ya, kenapa kau berlari dan masuk kemari? Kau tidak ada pelajaran?" Jaehyun menggeleng dengan nafas tersenggal.
"Selamatkan aku dari yeojamu hyung!" dia langsung menunduk begitu Luhan lewat.
"Ada apa sebenarnya?" beruntung saat ini kelas sedang sepi dan hanya ada beberapa haksaeng(murid) termasuk aku didalam kelas.
"Aku mengatainya pendek karena dia sangat manja dan itu mengiritasi telingaku. Sehunaa, aku menerima tawarannya dan syarat yang kuajukan sangat simpel. Jangan sampai tahu jika kita kembar dan aku sudah berpacaran dengan Daeun. Satu lagi, jangan memintaku berhenti ditengah jalan karena kau sudah setuju dari awal." Aku hanya mengangguk acuh dan menatap Jaehyun.
"Ketahui batasannya, Oh Jaehyun!"
"Arraseo cadel!" ucapnya yang langsung berlari ketika kau ingin mendampratnya. Dia baik, tapi lebih banyak menyebalkannya. Dan aku beruntung memiliki kembaran sepertinya.
Author POV
Hampir satu bulan ini Luhan dan Jaehyun menjadi trending topik karena kabar hubungan mereka. Jika Daeun bisa menerima semua rencana Jaehyun dengan penuh pengertian, maka hal itu berbanding terbalik dengan Sehun. Namja itu sama sekali tidak bisa diam jika tahu Luhan sedang bersama dengan Jaehyun. Entah pergi berdua atau hanya sekilas melihatnya. Meski kesal setengah mati, Sehun tahu jika dongsaengnya itu hanya menjalankan tugas untuk menjaga Luhan. Tapi tetap saja dia cemburu. Contohnya seperti saat ini. Dikantin sekolah, Luhan sedang menyuapi Jaehyun dengan mesra. Mengabaikan tatapan membunuh dari dua namja berbeda tempat. Myungsoo menatap Jaehyun sambil mendumal kesal sementara Jaehyun yang tak sengaja melihat Myungsoo hanya tersenyum lalu mengacungkan jari tengahnya sambil menyeringai. Tak ayal hal itu membuat Myungsoo bertambah geram dan menghampiri Jaehyun dengan tangan mengepal. Satu langkah dan Jaehyun tak menyadari Myungsoo sudah berada dibelakangnya.
"Akh!" Myungsoo terdorong kebelakang sebelum sempat menyentuh Jaehyun. Dan kini seorang namja memandangnya dengan tatapan remeh sambil berdiri.
"Aigoo, jangan mengganggu orang yang sedang berkencan. Kau benar benar bosan hidup hm?" Jaehyun yang semula kaget kini melemparkan senyum pada Johny.
"Entah itu kebetulan atau tidak, tapi kau selalu tepat waktu dude!" Jaehyun berhigh five dengan Johny dan menyilahkannya duduk disampingnya. Hal itu membuat Luhan cemberut dan menarik manja lengan Jaehyun.
"Kau mengacuhkanku baby, ish aku benci itu!" Jaehyun menoleh dan mendeathglare Luhan sembunyi sembunyi.
"Mianhae, apa aku tak boleh menyapa sahabatku hm?" Jaehyun berucap sambil berpura pura tersenyum manis dan memebelai pipi Luhan. Membuat Johny menggeleng dan Sehun dipojok sana mendelik tak suka.
"Not my mean!" ucap Jaehyun tanpa suara pada Sehun. Membuat namja albino itu mendengus dan mendeathglare Jaehyun.
"Kalian benar benar romantis seperti yang dibicarakan seluruh siswa disini. Aku sampai iri, apalagi namja itu." Johny melirik Myungsoo yang menatap tajam mereka.
"Kalian tidak akan bisa lolos dariku! Luhan hanya milikku dan…"
Bruuk
"Opps, mian. Bari mikeureojeotnae(kakiku terpeleset)!" Myungsoo kembali tersungkur saat Sehun dengan sengaja menendangnya saat ingin keluar. Sementara Jaehyun dan Johny tersenyum saja. Johny tahu semua ini, tentu saja.
"Aigoo, kasihan sekali orang ini. Kau berlutut didepan Jaehyun?" Taeyong datang lalu duduk disamping Johny. Ketiga namja itu tertawa mengejek pada Myungsoo sementara Luhan tetap cemberut karena merasa diabaikan.
"Oh man, gadismu marah!" Jaehyun berhenti tertawa karena ucapan Taeyong dan menoleh pada Luhan.
"Aah, mianhae. Aku terlalu asyik memandang namja ini!" ucap Jaehyun terkesan meremehkan sambil melirik Myungsoo.
"Baiklah, kita kumpul saja nanti ditempat biasa." Taeyong menyela dan segera menarik Johny pergi bersamanya. Seperginya dua namja itu, Luhan memandang dengan tajam pada Jaehyun. Jaehyun memutar matanya malas melihat Luhan ngambek padanya. Jika sudah begini pasti Luhan akan meminta hal yang sangat menyebalkan bagi seorang Jaehyun.
"Aku tidak mau tahu pokoknya nanti sepulang sekolah kau harus menemaniku titik!" ucap Luhan sambil melipat kedua lengannya didepan dada dan menatap Jaehyun dengan tajam. Bahkan Luhan tak memberikan waktu bagi namja itu untuk bicara dan menariknya keluar kantin. Meninggalkan Myungsoo yang menatap keduanya dengan geram.
Disepanjang jalankeduanya ditatap semua siswa yang ada disana. Ada tatapan kagum dan juga iri. Dimana wajah dingin dan kekanakan Jaehyun dan wajah cantik Luhan membuat semua siswa disana tak berhenti menatapnya.
"Kenapa dunia tidak adil sekali? Kenapa semua namja tampan harus bersama dengan yeoja sok cantik itu? Oh sesange!" Luhan berhenti berjalan saat mendengar gumaman yeoja itu dan juga otomatis memaksa Jaehyun untuk berhenti berjalan. Sementara yeoja yang bergumam tadi berdiri kaku. Luhan berbalik dan mendekati yeoja itu.
"Bisa kau mengulang apa yang baru saja kau katakan?" ucap Luhan sambil menatap tajam pada yeoja itu. Yeoja itu hanya menunduk diam sementara Luhan memandang dengan tajam. Jaehyun hanya diam memandang bagaimana kedua yeoja itu berhadapan.
"Kau bisu atau tuli hm? Aku menyuruhmu mengulang apa yang kau katakan barusan." Bentakan Luhan membuat suasana bertambah hening dan yeoja yang mengatai Luhan tadi tertunduk takut. Tak jauh dari sana Sehun juga sedang memperhatikan Luhan dan Jaehyun.
"Luhannie, bisa kau tinggalkan saja yeoja itu dan segera pergi? Kau tidak mau terlambat kan?" ucapan lembut Jaehyun membuat Luhan menoleh padanya dan menatap Jaehyun nyalang. Jaehyunpun hanya menaikkan alisnya sebelah menanggapi ucapan Luhan. Luhan akhirnya mengalah dan memejamkan matanya.
"Kau selamat kali ini, tapi jangan harap dihari lain." Ancam Luhan lalu menarik Jaehyun keluar.
XXX
"Menyebalkan…awas saja yeoja itu nanti!" pekikan Luhan didalam mobil membuat Jaehyun menggeleng kesal. Sedari tadi gadis itu berteriak memaki dengan volume tinggi.
"Xi Luhan, bisa kau diam? Kau mau kuturunkan disini?" Kini giliran Jaehyun yang berteriak karena kesabarannya telah habis. Luhan terdiam mendengar suara Jaehyun. Melihat yeoja itu terdiam selama hampir lima menit membuat Jaehyun merasa bersalah.
"Mianhae, aku tidak berniat membentakmu!" ucap Jaehyun membuat Luhan menggeleng sambil menunduk.
"Ania, mianhae. Aku benar benar kekanakan. Tidak seharusnya aku begitu!" cicit Luhan pelan membuat Jaehyun menghela nafas.
"Arraseo, jadi kemana kita sekarang" Luhan menatap Jaehyun dengan mata penuh harap.
"Aish, jangan tunjukkan pandangan anak anjing itu!" gerutu Jaehyun setelah tak sengaja memandang waah Luhan. Luhan merengut pelan lalu memandang depan.
"Aku ingin pergi ke Namsan. Tapi aku tidak mau naik cable car." Ucap Luhan lirih. Jaehyun mengernyit.
"Memang bagaimana cara naik ke puncak tanpa cable car? Kau mau mendaki tangga satu persatu? Hell no, that impossible miss Lu! Wasting my energy." dengus Jaehyun.
"Kalau begitu ke Lotte World saja!"" jawab Luhan.
"Itu terlalu kekanakan Xi Luhan!" sahut Jaehyun malas.
"Kalau begitu aku mau ke Paris!" Jaehyun menghela nafas lelah mendengar permintaan gadis disampingnya ini.
"Mana ada tiket yang langsung berangkat hari ini? Sudahlah, kita ke Namsan dan kau tidak perlu takut karena ada aku disampingmu, arraseo?" Luhan tanpa sadar memandang Jaehyun. Ia merasa sedikit tenang dan mulai nyaman berada disamping namja itu.
"Seandainya saja Sehun bisa sepertimu!" batin Luhan sambil mengamati wajah serius Jaehyun yang sedang mengemudi. Dilain tempat Myungsoo terlihat tersenyum licik. Ia dan Ravi tengah merencanakan sesuatu untuk menghabisi Jaehyun.
"Pokoknya aku tidak mau bocah itu bebas. Kalau perlu buat dia terbaring dirumah sakit karena berani merebut Luhan dan menghancurkan harga diriku!" ucap Myungsoo sambil menyeringai penuh dendam.
XXX
Jaehyun terlihat menyusuri lorong menuju kelasnya.
"Ooh, lihat namja asing yang berlaga menjadi boss ini! Kau sendirian? Kemana dua anak buahmu itu hm?" Myungsoo muncul dari sebelah tangga dan itu membuat Jaehyun terpaksa berhenti .
"Kenapa lagi kau kemari? Menyingkirlah, aku malas berurusan denganmu!" ucap Jaehyun malas lalu berjalan melewati Myungsoo. Tepat satu langkah Ravi menahan bahu Jaehyun.
"Sondaejimara(jangan menyentuhku), kau pikir tanganmu bersih ha?" ucap Jaehyun sambil menampik keras tangan Ravi. Pada dasarnya Ravi yang tempramen diperlakukan begitu pastilah emosi. Ravi menggeram bersiap menghantam Jaehyun dengan kepalan tangannya. Jaehyun reflek menghindar dan membalas pukulan Ravi. Myungsoo yang geram juga menendang Jaehyun. Jaehyun mengerang pelan merasakan nyeri pada punggungnya. Kedua namja itu bergantian menyerang Jaehyun. Beruntung selama berada di Jepang ia selalu berlatih karate dengan dua teman idiotnya itu. jadi dia bisa menghindari serangan dua namja itu. tak lama kemudian Jaehyun berhasil membuat Myungsoo dan Ravi bersandar pada tembok dan terengah.
"Cukup!" ketiga namja itu menoleh dan mendapati Sehun berdiri didepan mereka dengan gengnya.
"Kalian mau ]unjuk kebolehan bertarung disini? Kalian tidak sadar dimana kalian berkelahi hm? Kalian tidak punya rasa malu ditonton banyak orang seperti ini?" ucapan dingin Sehun berhasil membuat ketiganya mengedarkan pandangan kesekeliling. Myungsoo dan Ravi yang geram memilih pergi daripada berurusan dengan Sehun dan gengnya setelah melemparkan tatapan sinis pada Jaehyun yang hanya dijawab dengan acungan jari tengah dari namja tinggi itu.
"Kau, temui aku diatap sekolah setelah membenahi penampilanmu!" ucap Sehun dingin lalu pergi begitu saja.
"F**k off, Oh -dumbass- Sehun!" umpat Jaehyun lalu berjalan pergi dari lorong. Bukan tanpa alasan moodnya pagi ini sangat buruk. Salah satu pengaruh besarnya adalah Sehun sendiri. Setelah kemarin Jaehyun dan Luhan keluar dan pulang kemalaman, Sehun mendapati Jaehyun dibelikan banyak macam barang bermerk yang tentu saja membuat Sehun marah.
Flashback
"Kau bisa menolaknyakan?" ucap Sehun memicing.
"Menolak rejeki bukan kebiasaanku Oh Sehun yang tampan. Lagipula kuanggap ini adalah bayaran dari kerja kerasku menghadapi yeoja super manjamu itu. Jadi kau diam saja, dan tak bisakah kau iklas untuk kali ini?" ucap Jaehyun lalu menenteng hampir sepuluh tas belanjaan itu kekamarnya.
"Kembalikan barang itu padanya besok atau kubakar semua VCD gamemu!" ancam Sehun membuat Jaehyun menggeram emosi.
"Aku lelah Oh sialan Sehun! Dan jangan memancing emosiku!" ucap Jaehyun lalu membanting pintu kamarnya. Sehun menghela nafasnya. Benar, ia kesal karena Jaehyun dengan mudahnya bisa mendapatkan perhatian dan juga hati Luhan. Ish, apa yang salah dengannya dan apa yang tidak ia miliki seperti Jaehyun?
Flasback off
Jaehyun masih menggumam kesal sambil membenahi penampilannya ditoilet. Ia kesal selain karena perdebatannya dengan Sehun semalam, kekasihnya sedang absen karena harus pergi ke Busan mengurus rencana kuliahnya disana. Lengkap sudah mood breakernya. Myungsoo dan Ravi yang -dengan segala kesialan itu- menantangnya berkelahi dan sekarang dia harus menghadapi baka anikinya.
Setelah yakin penampilannya rapi, ia pergi ke atap dan membuka pintu.
"Apa yang kau lakukan tadi? Kau fikir kau hebat begitu? Ingat ini sekolah!" ucap Sehun langsung mendamprat Jaehyun begitu pemuda yang lebih muda 7 mneit darinya itu menutup pintu atap.
"Dia menyerangku duluan, dan kau ingin aku diam saja? Such a smartass!" ejek Jaehyun sambil menatap Sehun nyalang. Johny dan Taeyong yang baru saja tiba membeku mendengar ucapan kasar Jaehyun. Mereka berdua tahu jika sudah begini maka emosi Jaehyun sudah benar benar memuncak.
"Aku lebih tua darimu, jadi jaga mulutmu" balas Sehun geram.
"Who care? Katakan saja apa maumu. Aku malas mendengar ocehan tak bermutu darimu." Sehun mengatupkan rahangnya yng mengeras. Ia mencoba untuk tidak meledak dan menghajar Jaehyun disini.
"Jauhi Luhan" ucapan Sehun tegas membuat Jaehyun memandangnya intens.
"Mwo?"
"Jauhi Luhan!"
TBC
mian kalau ada typo dan kata kata yang tidak baku ya, see ya~ saranghae bbuing~ :D
