CHAPTER 3
.
.
.
Hidup sekamar dengan Mark ternyata tidak seburuk yang Jinyoung kira.
Mark menepati kata katanya. Ia tidak menganggap keberadaan Jinyoung, sama seperti yang Jinyoung lakukan
Mereka berdua saling menghindar satu sama lain. Untuk satu hal ini, mereka bekerja sama terlalu kompak karena ternyata hukuman yang diberikan Heechul—guru kedisiplinan mereka tidak berdampak apa apa
Hubungan Mark dan Jinyoung memang tidak memburuk, tapi tidak juga membaik.
.
.
.
.
"Mark, ayolah~" bujuk Jackson sekian kali
"Tidak" Mark tertawa rendah sambil sibuk browsing pada laptop dipakuannya, "Kalian pergilah" usir Mark halus
"Sudah kubilang apa Jackson, dia tidak akan mau" Jaebum menggelengkan kepala
"Iya" kali ini giliran Youngjae yang mendesah panjang, "Kau seperti baru mengenal Mark" sindirnya yang membuat Mark dan Jaebum tertawa lepas
"Baik—baiklah" Jackson pura pura mengangkat kedua tangan—menyerah, "Ayo kita pergi sementara seperti biasa, Mark lebih suka berdiam diri di dalam kamar"
Ejekan Jackson tidak membuat Mark mengubah keputusan, ia malah mendorong tubuh Jackson bangkit dari tempat tidurnya, "Bersenang senanglah, bawakan aku oleh oleh ya" Ia malah sempat bergurau kecil sementara Jackson menatap Mark tidak percaya
"Dengar ya aku mengajakmu karena… yeah… kau tahu…" Jackson menengadahkan kepala—menjurus ke lantai atas tempat dimana Jinyoung berada
Beruntung ada beranda kecil di tepi lantai sehingga mereka yang di bawah tidak bisa melihat sosok Jinyoung sepenuhnya, sosok yang bisa mendengar perkataan mereka dari tadi…
"Aku tidak akan apa apa" ucap Mark bosan, "Dia tidak akan mengubah apapun, tenang saja, kami tidak akan saling membunuh"
"Berjanjilah tidak akan ada masalah lagi" balas Jaebum separuh bergurau kepada Mark
"Promise!" jawab Mark dalam bahasa inggris
Ketiga teman Mark itu melirik sebentar ke lantai atas sebelum akhirnya menyerah, mereka keluar dari kamar Jinyoung dan Mark
Mark menghela napas panjang sebelum melanjutkan acara bermalas malasan sambil browsing internet
.
.
Dari lantai atas, Jinyoung mengerutkan dahi
Mark menolak tawaran hangout teman temannya, apakah itu tidak aneh? Hoho, tidak mungkin Mark lebih senang berada sekamar dengan Jinyoung ketimbang pergi dengan sahabatnya
Tidak mungkin. Jinyoung berani memotong telinganya jika itu terjadi
.
.
Namun…
Sehari, dua hari. Selama seminggu mereka sudah berada dalam satu kamar. Jinyoung belajar satu hal
Mark memang senang menyindiri
Dia lebih memilih berada di atas tempat tidur, mendengarkan musik sambil browsing internet hingga berjam jam
Tampaknya Jackson, Jaebum dan Youngjae tahu akan hal itu. Setelah kejadian pertama, mereka tidak lagi tampak memaksa Mark pergi bersama mereka, memang ada kejadian dimana Mark akan keluar bersama mereka bertiga, namun tidaklah sering
Dan apapun yang Jinyoung saksikan membuatnya agak bingung
Satu prasangkanya terhadap Mark patah begitu saja
.
.
.
.
"Fuih" Kedua mata Jinyoung seketika terpejam. Sesekali ia mengurut kening, merasa seluruh bahan pelajaran yang baru diulang memenuhi isi kepalanya
Jinyoung menghela napas lagi—memutuskan untuk istirahat sejenak sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, termasuk lantai bawah dimana tempat tidur roommatenya berada
Tempat tidur Mark kosong
"Mungkin dia keluar dengan temannya" gumam Jinyoung masa bodoh. Namun tak lama ia tersenyum kecil sambil mengambil handphone di atas kasur
Hei
Jinyoung mengirim pesan ke Yugyeom, sahabatnya
Hyunggggg
Jawaban segera dari Yugyeom membuat Jinyoung tersenyum lebar
Aku bosan di kamar, mau pergi keluar? Mungkin menonton film
Hyung, maaf… hari ini aku harus menyelesaikan paper untuk presentasi besok T^T
Kedua pundak Jinyoung spontan merosot saat membaca jawaban Yugyeom
Begitu, tidak apa apa, mungkin aku akan pergi sendiri belajar yang rajin
Jinyoung langsung menutup handphonenya lalu bergegas turun ke bawah. Tidak ada Yugyeom bukan berarti Jinyoung membatalkan niatnya untuk mencari hiburan keluar
.
.
.
"Anda ingin menonton film apa?"
"Fast and Furious 7" jawab Mark dan Jinyoung pada waktu yang berbeda
Mark datang setengah jam lebih awal daripada Jinyoung tapi praktis mereka berada di tempat yang bersamaan
Mark yang selesai latihan basket langsung pergi seorang diri ke bioskop tanpa menunggu teman temannya. Ia memang seperti itu sehingga Jackson, Jaebum ataupun Youngjae tidak ada yang tersinggung dengan perlakuan Mark
Mark beruntung mendapat jam pertama pemutaran perdana Fast and Furious 7 sementara Jinyoung yang datang belakangan mendapat jam kedua yang berselang 2,5 jam
Perbedaan jam tersebut otomatis membuat mereka berdua tidak tahu jika salah satu musuh besarnya berada di dalam ruangan yang sama. Berterimakasihlah pada ketenaran film ini sehingga bioskop penuh dengan para penggemar race car
Mark dan Jinyoung sama sama tidak punya ide kenapa mereka memilih film ini. Iseng mungkin.
Mereka mungkin juga tidak menyangka jika film yang lebih banyak adegan action berhasil membuat kedua remaja ini tertegun di akhir cerita
.
.
.
Langkah kaki Jinyoung tak tentu arah saat pulang sehabis menonton film. Dalam diam Jinyoung masih terbayang beberapa potongan adegan film tersebut, sejenak Jinyoung tertawa miris, "Kenapa aku jadi sentimentil" ejeknya pada diri sendiri
KREK
Jinyoung membuka pintu kamarnya dengan gontai. Ia mungkin akan mengindahkan keberadaan Mark seperti biasa jika saja alunan lagu yang diputar remaja berambut merah itu tidak berhasil membuat Jinyoung membeku
"Kurasa aku punya hak menyetel lagu sekeras apapun yang kumau" ucap Mark sinis—salah menanggapi reaksi diam Jinyoung
Jinyoung menelan ludahnya susah payah, "Ya, kau berhak" kata Jinyoung pelan
Bukan, bukan itu alasan mengapa Jinyoung langsung berdiri kaku
Tapi kenapa dari sekian lagu, Mark harus menyetel satu lagu yang Jinyoung kenal betul baru ia dengar dari film yang baru di tonton
Jinyoung naik ke atas, duduk di bawah kasur, mencoba mengambil asal satu buku yang tergeletak di lantai
Namun bukannya belajar, pikiran Jinyoung malah melayang entah kemana seraya mendengarkan lagu yang memenuhi ruang kamar mereka
Di lantai bawah, keadaan Mark tidak beda jauh. Ia terus menatap nanar lirik yang tertera pada layar di hadapannya
.
.
.
.
"Mark Tuan" panggil Heechul pelan namun penuh intimidasi
Mark menatap sang guru acuh tak acuh
"Kau tahu kan kenapa aku memanggilmu kesini?"
Mark memutar bola matanya—bosan, "Saya tahu—" Belum sempat Mark membela diri, sebelah tangan Heechul sudah terangkat, menyuruhnya berhenti, "Nilaimu lumayan bagus, Matematika 89, Fisika 78, Kimia 86 tapi…" Heechul menggelengkan kepala saat mengangkat kertas jawaban Mark mengenai pelajaran bahasa
"32?" suara Heechul separuh mengejek yang membuat Mark mengalihkan pandangan ke samping, "Dan itu didapat dari hasil mencontek, bagaimana kalau kau tidak mencontek? Kau mungkin bisa mendapat nilai nol"
Mark meremas kedua tangannya—tegang, "Aku bisa mengulang!" ucap Mark sambil melayangkan tatapan penuh harap
Ayolah jangan katakan, ia gagal lagi… Mark tidak mau mengirimkan nilai serendah itu pada kedua orangtuanya
Alis Heechul terangkat sebelah, "Kau mau remedial? Ujian ulang hanya dua minggu dari sekarang dan apa aku punya jaminan kau tidak akan mencontek lagi?"
Mulut Mark terbuka, ingin mengucapkan apa saja janji yang bisa membuat guru killer di depannya luluh, namun saat bersamaan Mark tidak percaya diri
Bagaimana kalau ia gagal lagi?
Melihat tampang putus asa Mark, Heechul tersenyum penuh arti, "Aku tidak sekejam yang kau pikir" ucapan sarkastis Heechul berhasil membuat Mark mendongak
"Kau boleh ujian remedial dengan satu—ah tidak, dua syarat!" Kedua jari Heechul terangkat membentuk simbol Victory di depan Mark yang merasa aura kegelapan memenuhi sekelilingnya
"Pertama, kau dilarang keras mencontek, dan kedua" Heechul benar benar menyeringai sekarang yang membuat Mark positif merasa malapetaka akan segera menimpanya
Dan benar saja, saat Heechul mengucapkan apa syarat kedua, Mark langsung otomatis terperanjat
"Tidak akan!" tolak Mark
"Iya, kau harus!" balas Heechul enteng, "Kecuali kalau kau mau mengirim raport sejelek ini pada orangtuamu di LA sana" ancaman Heechul berhasil membuat Mark bungkam untuk yang kedua kali.
"Panggil Park Jinyoung kemari" perintah Heechul mutlak
Terdengar geraman pelan dari Mark sebelum ia dengan enggan beranjak keluar dari ruangan Heechul.
.
.
.
Jinyoung mengerang keras. Bagaimana bisa Heechul seongsaenim melakukan ini padanya. Apa salah Jinyoung sampai Heechul memberi hukuman dengan menyuruh Jinyoung untuk mengajari Mark pelajaran bahasa!
"Youngjae juga pintar seongsaenim, suruh dia saja mengajari Mark" elak Jinyoung terang terangan menolak gagasan Heechul
Mark menatap benci Jinyoung sementara Heechul hanya menggeleng pelan, "Dia tidak sepintar dirimu dan aku rasa kau biasa mengajari orang seperti kau mengajari Yugyeom, ayolah Jinyoung… kau murid terpintar satu angkatan" pujian Heechul tak lantas membuat Jinyoung setuju
Mungkin jika dia bukan Mark, Jinyoung tidak akan sejelas ini menolak tawaran Heechul
"Ini perintah" kata Heechul dengan tegas, tidak lagi membujuk
"Tsk! Baiklah!" Jinyoung langsung berdiri dan hendak keluar cepat cepat dari sana sebelum berbalik ke arah Mark, "Setiap jam 2. Di tempatmu" ucap Jinyoung
"Jam 3" sanggah Mark cepat—tanpa menatap Jinyoung, "Aku masih ada latihan basket selesai sekolah"
"Terserah" Jinyoung memutar kedua bola matanya sambil berlalu dari hadapan Mark.
.
.
.
.
Tuk Tuk Tuk
Mark memainkan pulpen di tangannya selagi menunggu Jinyoung yang sibuk membuka buku pelajaran bahasa. Tak lama Mark tersenyum miris, mereka berdua hampir 2 minggu tinggal satu kamar tapi baru kali ini Jinyoung turun ke bawah lalu duduk berhadap hadapan seolah mereka bukan kedua orang yang saling membenci
"Kau sudah menguasai kata kerja dasar ke dalam bentuk formal atau informal?" Jinyoung bertanya sambil masih mencari cari soal latihan untuk Mark di dalam buku pelajaran, ia tidak melihat bagaimana mimik wajah Mark mengeras
"Tidak"
"Apa?" jawaban lugas Mark berhasil menarik perhatian Jinyoung dari atas buku
"Aku tidak bisa, oke!" balasan Mark terlalu defensif sehingga Jinyoung mendengus keras—campuran antara tidak percaya dan kesal
"Pelajaran semudah itu, kau—" Jinyoung berhasil mengerem perkataan selanjutnya—berusaha menahan diri untuk tidak memulai pertengkaran
'Ingat, aku disini hanya untuk mengajarinya… ayolah Jinyoung kau pasti bisa' itu kalimat mantra yang diulang Jinyoung dalam hati
"Baiklah… beritahu aku, sampai sejauh mana kau memahami pelajaran bahasa?" Jinyoung berkata sesopan yang ia bisa
Kedua tangan Mark spontan mengambil sebuah buku notes kecil, membukanya secara acak sambil melirik enggan ke arah Jinyoung, "Se..sebuah kalimat?"
"Essai?" kata Jinyoung balik bertanya
Mark tersenyum sinis, "Sejak kapan sebuah essai mencakup hanya satu kalimat?" ejeknya
"I see… kau jago soal menghina orang" ujar Jinyoung masa bodoh. Diambilnya buku pelajaran lalu memaparkannya di depan Mark, "Kerjakan soal 1- 3, nanti akan kukoreksi kosakata yang kau tulis"
Mark menarik lebih dekat buku dari tangan Jinyoung lalu membaca lebih jelas soal yang dibicarakan Jinyoung, perlahan lahan raut muka Mark berubah gusar
"Kenapa? Jangan katakan, kau tidak bisa mengerjakan soal semudah ini" ucap Jinyoung dingin
"Kukira hanya aku yang pintar menghina orang" gumam Mark sambil mulai menulis jawaban satu persatu
.
.
.
15 menit kemudian
Jinyoung menguap lebar sambil melirik jam di tangan kirinya. Terlalu lama pikir Jinyoung sambil sesekali menatap wajah serius Mark yang sedang menulis di atas kertas
"Hei, kau sudah terlalu lama… mana sini biar kulihat!" tanpa permisi Jinyoung langsung menarik kertas jawaban Mark yang mendapat erangan protes dari sang empunya
Sebaris
Dan sebaris lagi
Kedua pupil mata Jinyoung melebar, ia akhirnya berhasil mengalihkan perhatian pada Mark yang balas menatapnya tajam
"Ini?!" Jinyoung bingung harus berkata sehalus apa supaya Mark tidak sakit hati lalu memukulnya seperti terakhir kali mereka bertengkar
"Apa?!" tantang Mark balik
Jinyoung memejamkan matanya lalu memijit kening perlahan lahan. Jinyoung tidak menyangka jika Mark jauh lebih bodoh dari perkiraannya
"Baiklah… tenang…" ujar Jinyoung pelan, tak lama setelah bisa menguasai diri, ia kembali menatap lurus ke arah Mark, "Coba tuliskan kata 'mengerti'" suruh Jinyoung seraya menyerahkan satu kertas kosong untuk Mark
Mark menggoreskan dua huruf hangul lalu menyerahkannya pada Jinyoung
Dan benar tebakan Jinyoung, untuk kata kata dasar saja Mark masih salah menuliskan
"Lihat" ditaruhnya kertas jawaban Mark di tengah tengah mereka, "Yang kau tulis sekarang itu berarti 'membaca' bukan 'mengerti'" Jinyoung menjelaskan sambil menuliskan sebuah huruf hangul, "Untuk kata 'mengerti' ukiran di bawah lebih membentuk angka 2 sementara untuk kata 'membaca' kau tinggal menambahkan angka 7 kecil disamping 2"
Mark melihat seksama bagaimana Jinyoung mengoreksi tulisannya, refleks ia mengangguk paham sebelum menarik kembali notes kecil dari samping lalu menuliskan jawaban benar Jinyoung
"Nah kita coba lagi, tulis kata 'menikah'" Jinyoung menyilangkan kedua tangan sementara Mark tanpa banyak bicara kembali sibuk menulis jawaban.
"Salah" kata Jinyoung hanya dalam sekali lihat, Ia lagi lagi mempraktekan cara menulis hangul yang baik, "Kau salah mengoreskan satu garis saja artinya bisa berbeda jauh" penjelasan Jinyoung di dengar baik oleh Mark yang mulai bisa berkonsentrasi
"Kita ulangi lagi" Jinyoung pun sama—ia tidak langsung menyerah, padahal bisa saja Jinyoung bersikap cuek dan menyuruh Mark belajar sendiri dari buku pelajaran
Tapi itu bukanlah sikap Jinyoung apalagi ia bisa lihat Mark berusaha menjawab seluruh perintah Jinyoung meskipun harus susah payah
Dari situlah Jinyoung bisa melihat bagaimana pelajaran yang bagi dia gampang namun tidak bagi orang lain
Belum lagi Jinyoung merasa ada yang ganjal karena setiap kali ia mengoreksi jawaban Mark, pria pemain basket itu pasti menulis ulang di buku notesnya. Apakah tidak buang buang waktu?
"Ada apa?" pertanyaan Mark membuyarkan lamunan Jinyoung
"Tidak" Jinyoung buru buru menggeleng hingga secara tak sadar kepalanya menangkap jam kecil di samping tempat tidur Mark, "Sudah jam 7 malam…" erangnya kelelahan, "Besok saja kita lanjutkan"
"Jam 3?" ujar Mark sambil membereskan buku yang berserakan
"Jam 3" kata Jinyoung setuju, ia bangkit berdiri dengan membawa buku miliknya, "Oh ya, aku tidak akan mengajarimu perubahan kalimat lampau yang menjadi soal utama jika kau belum menguasai kata kata dasar, ingat itu"
"Oke?" Mark mendesah panjang tapi pria ini tidak banyak protes atau balik menyindir Jinyoung, bagaimanapun Mark sadar kalau Jinyoung mengajarinya dengan benar, tidak memandang kalau mereka musuh bebuyutan atau bukan
"Bagus" Jinyoungpun berbalik naik ke atas tangga menuju tempatnya di lantai 2
.
.
.
.
"Tidak tidak… sseon, bukan seon!"
"Apa bedanya sseon dan seon? Aku mengucapkannya dengan benar" kata Mark melotot tajam Jinyoung
"Lihat bibirku, Sseon" Mark menatap bagaimana bibir Jinyoung sedikit menahan 'S' pertama sebelum lanjut mengucap 'Seon'
"S..seon" contoh Mark sekali lagi
"Hampir benar, sseon" koreksi Jinyoung penuh sabar
Mark menggigit bibirnya sebelum mengucapkan kata itu entah untuk berapa kali, "Sseon?"
Sebuah senyum puas tertera di bibir Jinyoung, "Kau benar"
Ucapan Jinyoung spontan membuat rasa percaya diri Mark meningkat tapi tidaklah lama karena kemudian wajah Jinyoung kembali serius sambil menyerahkan soal kepada Mark, "Tapi jangan cepat puas, kali ini kau harus belajar menyusun kalimat"
Mark mendesah panjang—berusaha mengusir rasa lelah yang menimpanya setelah belajar seharian di sekolah di tambah lagi latihan basket kemudian pelajaran ekstra dengan Jinyoung
"Baiklah" jawab Mark pasrah
.
.
.
"Kulihat kau akrab dengan anak nerd itu belakangan ini" ucapan random Jaebum siang itu di lapangan basket membuat Mark mengerutkan dahi
"Sejak kapan belajar dengan orang lain bisa dibilang akrab?" balas Mark acuh tak acuh
Dari arah belakang terdengar teriakan perintah Kyuhyun ketua basket mereka yang sibuk mentraining anggota klub baru
Setelah menghabiskan hampir sejam pemanasan dan latihan rutin, Mark seperti biasa langsung mengemasi baju kotornya supaya bisa sampai ke asrama tepat waktu
"Yah tapi belajar bersama bisa dibilang awal dari pertemanan" Jarang jarang Youngjae ikut menggoda Mark namun sekalinya ia berbuat begitu, Mark bisa menyimpulkan kalau ketiga sahabatnya sudah mulai menggosipkan Mark di belakang
"Dia disuruh oleh si guru killer dan aku tidak mau gagal di ujian remedial" penjelasan Mark masih mendapat tanggapan remeh dari Jaebum, Jackson ataupun Youngjae
"Hei! Dengar, ini tidak mengubah apapun!" bela Mark
"Kau yakin? Apa kau tidak aneh kenapa Jinyoung niat sekali mengajarimu? Masa dia tidak punya motif apa apa" perkataan Jackson berhasil membuat Mark berhenti membereskan pakaian kotornya
Iya… kenapa Mark tidak pernah berpikir sejauh itu…
Tidak mungkin kan Jinyoung sungguh sungguh mengajari Mark hanya karena disuruh oleh Heechul?
Pikiran Mark masih dipenuhi ucapan Jackson bahkan ketika ia pamit pulang ke asrama seorang diri tanpa ditemani Jackson, Jaebum ataupun Youngjae
KREK
"Ah akhirnya kau datang juga" Jinyoung sudah duduk manis di bawah dekat tempat tidur Mark dengan tumpukan buku di sisi kanan dan kirinya, "Lihat aku sudah menyusun beberapa kalimat dari urutan paling mudah hingga paling sulit sehingga ketika kau mengerjakannya bertahap kau akan semakin paham"
Saat tangan kanan Jinyoung mengulurkan beberapa lembar kertas yang sudah dijilid rapi ke arah Mark, pria berambut merah ini malah menatapnya sangsi
"Kenapa kau sampai serajin ini menuliskan kalimat untukku?"
"Eh?" Jinyoung berbalik dan sekarang ia menatap lekat perubahan wajah Mark yang tampak tak bersahabat
"Apa maksudmu?" kata Jinyoung memastikan, ada yang aneh dari Mark—Jinyoung tidak tahu itu, hanya… jangan katakan kalau…
"Iya kenapa kau sampai rela rela mencarikan soal untukku, menyusunnya dari level mudah sampai paling sulit" Mark menyunggikan senyum separuhnya yang entah kenapa tampak mengejek di mata Jinyoung, "Kau tidak punya maksud tertentu di balik ini semua bukan?"
Oke, ini mulai keterlaluan. Jerit Jinyoung dalam hatinya. Bagaimana bisa Mark berkata seperti itu setelah seharian Jinyoung sengaja meluangkan waktu di sela sela istirahat, membaca ulang buku pelajaran milik Yugyeom hanya untuk mempermudah Mark belajar
"Itu karena—" Karena aku bisa melihat niatmu untuk mau belajar.
Namun Jinyoung menelan dalam dalam ucapannya, ia malah merunduk—mulai mengambil kembali buku bacaannya dari atas karpet
"Sudah cukup Mark. Kalau kau merasa aku punya maksud tertentu lebih baik kita tidak belajar lagi" Sial. Jinyoung malah merasa bersalah mengatakan itu. Jangan… ayolah… Mark masih butuh bantuanmu, sebuah ucapan muncul di dalam benak Jinyoung
"Aku juga bisa belajar sendiri" meski berkata begitu, ia bisa melihat raut kesedihan tampak dalam wajah Jinyoung dan untuk pertama kali, Mark merasa dia agak keterlaluan
Jinyoung kembali ke atas dalam diam, tidak ada lagi pertengkaran, adu pukul atau apa.
Mark menghempaskan tas basketnya ke tas tempat tidur sambil menatap nanar kertas pemberian Jinyoung yang masih ia pegang
.
.
.
.
Pagi hari
Seperti keseharian Jinyoung. Pas jam 6 pagi, pria remaja paling pintar satu angkatan ini pasti berangkat tepat waktu.
Setelah memastikan semua buku dan peralatannya untuk hari itu rapi, Jinyoung pun turun ke lantai bawah
Tanpa sengaja ekor matanya menangkap sosok Mark yang tertidur pulas dengan buku buku berserakan di samping tempat tidur
Jinyoung menghela napas berat, "Dia yang mulai, bukan aku" kata Jinyoung membenarkan diri, baru selangkah lagi menuju pintu kamar, tatapan Jinyoung beralih pada kertas di tangan Mark
Kertas yang penuh contoh soal dari Jinyoung, bisa dilihat Mark mati matian mengerjakannya semalaman
Jinyoung tertawa muram, secara spontan ia mengambil kertas itu dari tangan Mark lalu membaca kilat jawaban per jawaban yang tertera disana
.
.
.
.
"Kau tidak enak badan?" celetuk Jackson berhasil menghentikan tingkah bodoh Mark yang hanya mengaduk nasinya ketika mereka makan siang
"Tidak juga" jawaban Mark tidak memuaskan mereka bertiga hingga Jaebum bertukar pandangan penuh tanya pada Youngjae yang hanya bisa mengangkat bahunya
"Apa masalah ujian remedial bahasa? Tenanglah Mark, kau pasti bisa melewatinya" kalimat penghiburan Jaebum tidak memberikan reaksi berarti dari Mark, karena teman mereka itu malah semakin dalam merundukkan kepala
"Sepertinya tidak bisa" gumam Mark sangat pelan. Ketika sudah berpikir jernih, Mark merasa sangat tolol karena mengkonfrontasi Jinyoung, apa urusannya jika Jinyoung punya maksud tertentu selama itu tidak menyangkut ke dalam pelajaran, toh selama ini Jinyoung mengajarkan hal sesuai buku pada Mark dan bukan sebaliknya
Lagipula sehabis acara mengajar ini selesai mereka bisa saling membenci kembali
"Mark?"
"Tidak, aku tidak apa apa" Mark memasang senyum palsu, ia tidak mau bercerita masalah semalam pada ketiga sahabatnya. Dengan lunglai, Mark mengeluarkan buku notes yang ia bawa kemana mana lalu membaca ulang beberapa catatan dari Jinyoung yang ia tulis kembali
TENG TENG
"Jam masuk…" desah Jackson kecewa, "Ayo, aku tidak mau terlambat di kelas Heechul"
Mendengar nama Heechul, Mark buru buru mengangkat nampan, mengantongi buku notesnya di dalam saku serampangan yang malah membuat buku tersebut jatuh ke lantai selagi Mark malah buru buru lari keluar kantin mengikuti Jaebum, Jackson dan Youngjae
"Hei anak muda, bukumu tertinggal!" teriakan Ibu Kantin yang mengacungkan notes kecil milik Mark ke atas tidak bisa didengar keempat anak basket itu, sosok mereka sudah menghilang di belokan koridor
"Ada apa Adjumma?" tanya seorang siswa yang kebetulan lewat
Sang Adjumma menoleh ke belakang, "Ah Jinyoung… ini ada buku yang tertinggal, bisa tolong kau berikan pada Guru piket siapa tahu murid itu mencarinya"
Jinyoung menatap lekat lekat buku notes bersampul cokelat yang ia tahu betul siapa pemiliknya, "Biar langsung saya berikan saja Adjumma" ia tersenyum simpul sebelum mohon diri dari sana
Sepanjang perjalanan singkat menuju kelasnya sendiri, Jinyoung membuka buku kecil itu dengan rasa penasaran
'Anyyeong'
Itu kata pertama yang tertera di halaman awal
Jinyoung mengangkat alis, bisa melihat tulisan hangul Mark sangat kasar dan salah pengejaan
Kata berikutnya bertuliskan hal yang sama, 'Anyeong' namun kata itu pun di coret panjang kemudian tulisan hangul 'Anyyeong' kembali terulang di bawahnya
Langkah kaki Jinyoung terhenti. Pandangan matanya meredup saat membaca beberapa halaman yang penuh dengan tulisan sama yang dicoret berulang kali
"Dia…" bisik Jinyoung
Setelah hampir menghabiskan 5 halaman tersendiri untuk berhasil menuliskan satu kata, kali ini Mark mencoba menyusun kalimat
'Halo nam saya Mark Tuan'
'Jalo naam saya Mark Tuan'
'ahlo nama saaya Mark Tna'
Jinyoung tertegun, dunia seakan berhenti sekarang. Ia tidak mengindahkan seisi koridor yang kosong karena jam pelajaran sudah di mulai. Tatapan Jinyoung tidak bisa teralih dari isi buku milik Mark
Dalam diam Jinyoung terus membalikan lembar demi lembar dimana ada beberapa kalimat berbeda
'Namaku Mark dan aku sangat menyukai basket' – kalimat informal
'Nama saya Mark Tuan dan saya sangat menyukai basket' – kalimat formal
'Mohon bantuannya'
'Nama saya Mark, saya berasal dari LA, kedua orangtua saya berdarah Taiwan tapi kami seluarga tinggal di Amerika'
"Sekeluarga" refleks Jinyoung membenarkan kata dalam kalimat Mark, tak lama Jinyoung memejamkan mata perlahan sebelum kembali berjalan menuju ke arah kelasnya yang bersebelahan dengan kelas Mark
Dan saat melewati kelas 11-2, Jinyoung mencuri pandang ke dalam—melihat Mark yang sedang sibuk menyimak pelajaran
Jinyoung melirik Mark dan buku ditangannya secara bergantian, membayangkan bagaimana Mark pertama kali datang ke Seoul, belajar menulis hangul dari awal dan membiasakan diri hanya dalam hitungan bulan…
Bahkan Jinyoung yang hanya berasal dari Busan bisa merasakan susahnya beradaptasi di Seoul dimana remaja disini biasa menertawakanmu jika bicara dengan logat daerah
Bagaimana dengan Mark?
Jika Jinyoung saja masih sering merindukan rumah, apalagi Mark?
"Aishhhh" ujar Jinyoung sambil menggelengkan kepalanya, "Itu bukan urusanmu Jinyoung… biarkan saja" Jinyoung membuang perasaan simpatinya untuk Mark, karena entah kenapa, saat melihat Mark, Jinyoung seperti melihat cerminan dirinya
.
.
.
.
"Kyaa Mark Oppa! Kau sangat keren!"
Teriakan para penggemarnya dari luar lapangan tidak membuat Mark merasa senang. Ia hanya tersenyum tipis sebelum berbalik ke barisan para pemain
Dan senyum itu hilang
Ingat mengenai perjanjian kita Mark, kau boleh sekolah di Korea Selatan untuk mengejar impianmu menjadi pemain basket kalau nilai pelajaranmu tidak merah. Papa tidak mau kau lebih mementingkan basket tanpa peduli pada akademik
Lakukan ini demi orangtuamu Mark
Desahan panjang terdengar dari mulut Mark. Ia ingat betul bagaimana betapa bodohnya ia dulu saat mengetahui jika St Hana dari Korea Selatan berhasil menjuarai pertandingan di LA. Semenjak itu Mark mempunyai mimpi ingin sekolah disana agar bisa menjadi bagian dari tim basket
Mark mengacuhkan pendapat Ayahnya, Ibunya maupun para sahabatnya
Tinggal di negara orang tidaklah mudah. Mark tahu itu.
Tapi apa dia tahu jika prakteknya seribu kali lebih berat? Tidak
Mark tidak tahu…
Ia ingat bagaimana ia harus mendaftar sambil membawa kamus kemana mana sambil mencoba berbicara sedikit mungkin agar tidak ditertawakan oleh orang lain.
Bahkan untuk menulis satu kata paling mudah, Mark butuh berulang kali karena ia tidak terbiasa menulis huruf hangul.
Ada satu malam ketika Mark begitu putus asanya sampai ia melemparkan pulpen ke luar jendela karena setelah mencoba dan terus mencoba, tulisannya tetap salah
Dan sekarang ketika Mark berhasil beradaptasi, bisa menjadi tim utama basket St Hana. Mark harus tersandung dengan pelajaran yang ia benci setengah mati
Pelajaran bahasa Korea Selatan
Mark tertawa miris sambil mengeluarkan lembaran soal dari Jinyoung yang ia coba mengerjakan tadi malam
"Sepertinya kali ini aku benar benar dalam bahaya" desis Mark seraya merapikan kertas kusut di atas pahanya
"Eh?" Kedua mata Mark melebar saat melihat jawabannya yang mendapat coretan sana sini disertai pembetulan di sampingnya
"Dia… tidak mungkin…" Mark seolah tertampar keras keras saat membaca koreksi dari Jinyoung. Ia benar benar tidak percaya, setelah pertengkaran mereka, setelah tuduhan Mark, Jinyoung ternyata masih…
"Mark? Something wrong?" Jackson yang fasih bahasa inggris, menyapa Mark yang memucat sehabis membaca sebuah kertas yang Jackson tidak tahu apa
"Aku duluan!" jawab Mark beranjak berdiri, merampas tasnya lalu buru buru berlarian keluar lapangan. Ia tidak mendengar desahan kecewa dari gerombolan gadis sekolah lain atau pandangan bertanya tanya dari semua anak basket
Yang Mark tahu, sekarang ia ingin sampai asrama secepat mungkin
.
.
.
BRAKK
Mark membuka pintu kamarnya terlalu keras sampai sampai Jinyoung yang berada di lantai atas terlonjak kaget
"Hmm" Jinyoung membereskan tenggorokannya sebelum memberanikan diri turun ke bawah menemui Mark, "I—ini tadi buku milikmu terjatuh di kantin" Jinyoung merasa sedikit malu dan bersalah karena sudah membuka buku milik Mark tanpa ijin
"A…" Mark tidak bisa berkata kata, sejujurnya ia kehabisan kata kata. Mark merasa sangat bersalah—sama bersalahnya dengan Jinyoung saat ini
Mereka berdua sekarang terdiam—sibuk dengan pikiran masing masing
Tapi satu hal yang pasti, Mark dan Jinyoung sama sama berpikir jika ternyata kenyataan yang mereka lihat selama ini salah…
Mark dan Jinyoung melihat satu sama lain dengan cara berbeda, bukan lagi atas prasangka dan dugaan dugaan mereka
Mark yang pertama kali maju sambil mengulurkan selembar kertas soal ke arah Jinyoung
"Maukah kau mengajariku lagi?" pinta Mark kali ini berani memandang lurus ke depan Jinyoung
Senyum Jinyoung merekah lebar, disatu sisi ia merasa lega karena Mark tidak marah atau menuduhnya mengenai buku yang ditemukan Jinyoung sementara disisi lain ia merasa sangat senang bisa membantu Mark
"Pasti" jawab Jinyoung
Dalam sekejap lantai bawah berubah menjadi tempat belajar Jinyoung dan Mark, seolah pertengkaran sebelumnya tidak pernah terjadi, Jinyoung kali ini lebih serius mengajari Mark hingga kebagian terkecil, bukannya Mark protes atau apa, namun saat Mark mencuri pandang ke Jinyoung, dia tahu ada satu hal yang membuat Jinyoung begitu semangat
"Ada yang membuatmu bahagia hari ini?" celetuk Mark saat Jinyoung sedang membaca jawaban Mark
"Hmm?" Jinyoung menengadahkan kepala, kedua bola matanya mengamati Mark seksama, "Waktu itu sebenarnya kau tidak berniat menyontek bukan?"
"Ha?" Gantian Mark yang kaget karena Jinyoung malah balik bertanya, "Aku…"
"Sudahlah, sekarang aku akan pastikan kau bisa lulus dengan usaha sendiri, kau tidak perlu menyontek lagi" Jinyoung tersenyum simpul sambil menyerahkan kertas jawaban milik Mark
Mark bingung melihat perubahan sikap Jinyoung yang terlalu drastis, ia pun menerima kertas jawaban dalam diam
"Kau juga menyukai lagu di bagian ending film Fast and Furious 7" Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan dari Jinyoung
Sekali lagi, Mark menatap bingung Jinyoung, tapi Mark segera mengenyahkan pikiran buruk tentang pria di depannya ini. Sudah cukup kesalahpahaman membuat mereka berdua menjadi bermusuhan
Lagipula Mark mulai berpikir Jinyoung tidak seburuk dugaannya
"Aku memang menyukainya" jawab Mark tenang sambil mengerjakan soal berikutnya dari Jinyoung, "Lagu itu bercerita tentang keluarga…"
Jinyoung terdiam lalu menundukkan kepala, berpura pura membaca buku bahasa di pangkuannya
"Keluarga…" gumam Jinyoung sepelan mungkin
"Iya…" jawaban Mark membuat Jinyoung spontan menoleh lalu mendapati Mark berhenti menulis dan menatap ke arahnya, "Lagu itu membuatku ingat rumah…"
Jinyoung tenggelam dalam tatapan Mark yang seolah olah mengingatkan dia tentang dirinya sendiri
Mereka berdua sama, seperti satu koin yang hanya berbeda dikedua sisi
Jinyoung melihat sosoknya dalam sorot mata Mark seolah Mark bisa menembus ke dalam dan menelanjangi pikiran Jinyoung
"Pasti sangat berat saat kau pergi ke Seoul seorang diri" ucap Jinyoung spontan
Mark terpana, bagaimana Jinyoung bisa tahu?!
"Kau tidak akan bisa membayangkannya" balas Mark tersenyum lemah
Aku bisa membayangkannya, bodoh. Pikir Jinyoung
"Daripada itu, bagaimana dengan jawabanku?" Mark mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menyerahkan kertas jawabannya pada Jinyoung
"Hmmm" Senyum tulus Jinyoung terulas lebar di bibirnya, "Bagus sekali… kalimatmu sudah benar, nah sekarang saatnya kau belajar menulis bentuk kalimat lampau yang akan diujikan, dengarkan aku…"
Mark mengubah posisi duduknya, condong ke depan supaya bisa mendengarkan penjelasan Jinyoung lebih jelas.
.
.
.
.
Dari balik pohon pinus besar di tengah taman sekolah, Jinyoung mencuri curi pandang ke depan kelas Mark.
"Hyung kenapa kau pake ngumpet sih! Kalau kau khawatir, kau pergi saja kesana!" tunjuk Yugyeom gemas sendiri dengan sikap kakak kelas kesayangannya ini
"Ssst!" Jinyoung menaruh telunjuk di bibirnya lalu memaksa tubuh besar Yugyeom agar merunduk di belakang dia, "Dengar ya, aku tidak khawatir dengan si bodoh itu!" sanggah Jinyoung
Yugyeom memasang wajah datar, "Tidak khawatir? Lalu apa yang sedang Hyung lakukan sekarang?"
Jinyoung menghela napas panjang, bagaimana caranya menjelaskan Yugyeom kalau dia tidak khawatir pada Mark yang sedang menjalani ujian remedial
Oke… Jinyoung hanya sedikitttt sekali merasa khawatir
"Dia pasti bisa Hyung, kau tenang saja" ucap Yugyeom sedikit menenangkan Jinyoung
"Kau benar, dia pasti bisa" Jinyoung mencoba tersenyum saat mengingat bagaimana hari hari terakhir mereka belajar—Mark mengalami kemajuan pesat. Ia benar benar tipe yang cepat belajar sampai sampai Jinyoung heran sendiri kenapa Mark bisa gagal pada ujian sebelumnya
"Mark! Bagaimana?" ucapan Jackson yang kelewat keras berhasil membuyarkan percakapan Jinyoung dan Yugyeom di balik pohon
Bahkan dari jauh, Jinyoung bisa melihat senyum lebar Mark yang mengacungkan kedua jempolnya ke depan mereka
"Yey!" Jaebum, Youngjae dan Jackson spontan berhambur memeluk Mark sebagai ucapan selamat, mereka berteriak senang sambil mencerca Mark dengan pertanyaan beruntun
"Aishhh dasar mereka itu, hasil belum keluar tapi sudah keburu senang" keluh Jinyoung sambil menggelengkan kepala—tidak percaya
"Tapi kalau melihat sikap Mark, kurasa kali ini dia bisa lolos Hyung" kata Yugyeom ikut tersenyum lebar, "Berbahagialah hyung! Kau berhasil mengajari orang lain!"
Jinyoung menatap penuh sayang pada adik kelasnya itu, "Kau benar, mungkin aku yang terlalu cemas, ayo" Ia mengajak Yugyeom pergi dari sana, tanpa bisa melihat sikap Mark yang sibuk mengedarkan pandangan ke sepanjang koridor kelas
"Kau mencari siapa Mark?" tanya Youngjae
"Bukan" Mark kembali menatap para teman temannya, "Bukan siapa siapa" suara Mark hampir berbisik dan terdengar sedikit kecewa
.
.
.
CKLEK
"Kau darimana?"
Jinyoung hampir terperanjat kaget, masih memegangi gagang pintu saat mendengar suara Mark menyapanya
Dari arah tempat tidur, Mark sedang browing internet dari laptop seperti biasa.
"Dari perpustakaan dengan Yugyeom" jawab Jinyoung spontan tapi tak lama ia menaikkan alisnya, "Tunggu kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu!" tuntut Jinyoung agak kesal
Mark tetap memasang wajah datar, "Aku ujian remedial hari ini"
"Oh" kata Jinyoung sambil menelan ludah susah payah
"Dan kurasa aku tidak menjawab seluruh soal ujian" sambung Mark masih sibuk fokus pada layar laptop
"Aishh jangan bohong! Aku lihat sendiri kau mengangkat kedua jempol di depan teman temanmu! Itu apa artinya kalau bukan ujianmu berjalan dengan lancar!"
ZINGGG, hening seketika
Wajah Jinyoung berubah pucat pasi sementara Mark menoleh dengan mulut menganga lebar sebelum berubah menjadi sebuah seringaian
"Kau ada disana! Kau tahu aku ujian!" tuduh Mark dengan penuh kemenangan, laptopnya sudah dilupakan oleh Mark yang langsung beranjak bangun lalu berdiri di depan Jinyoung
"A—ku…" Jinyoung merunduk salah tingkah, tidak mungkin kan dia mengaku kalau dia mengawasi Mark dari balik pohon, mau ditaruh dimana harga dirinya!
"Wajahmu memerah" goda Mark tertawa puas melihat sikap kikuk Jinyoung
"Diam!" akhirnya Jinyoung bisa mengeluarkan suara tegas, "Oke aku ada disana…" daripada lebih malu lagi, Jinyoung memilih mengaku dosa, "Dan aku rasa kau akan bisa lolos ujian kali ini… selamat"
Wajah bercanda Mark berubah serius saat mendengar ucapan selamat Jinyoung, "Terima kasih karena sudah mengajariku"
"Sama sama" kata Jinyoung tersenyum tulus, melihat itu refleks Mark pun ikut tersenyum sambil tertawa pelan
Setelah beberapa menit, mereka berdua berdiri dengan canggung, tidak tahu ingin bicara apa lagi
"Aku ke atas dulu" Jinyoung orang pertama yang pamit
Mark mengangguk lalu menyingkir untuk memberikan Jinyoung jalan menuju ke arah tangga
"Jinyoung!" panggil Mark yang membuat pria berambut hitam itu langsung menoleh
"Ya?"
Mark merentangkan kedua tangannya, "Lantai bawah selalu terbuka untukmu" ucapnya bersahabat, tampaknya Mark sudah memutuskan untuk tidak membenci Jinyoung kembali
Tidak, ketika Jinyoung menghabiskan jam malam lebih larut setiap hari hanya demi mengajari Mark
Tawa Jinyoung pecah, ia tertawa lepas seolah olah hal itu sudah lama tidak Jinyoung lakukan
"Tapi lantai dua tidak terbuka untukmu Mark" balas Jinyoung menyeringai licik
"Ya! Aku bisa ke atas kapanpun aku mau!"
"Hahahaha" Jinyoung kembali naik ke atas, menanggalkan jaket tebalnya sebelum merebahkan diri ke atas tempat tidur, Jinyoung melamun sejenak lalu kemudian melesatkan pandangan lewat ujung kasur ke arah lantai bawah
Disana, Mark juga sudah merapikan laptop, mematikan lampu dan tidur terlentang di atas tempat tidur
Namun yang mencuri pandangan Jinyoung ketika Mark memandang photo di atas meja—foto keluarganya
Jinyoung menarik diri—mengubah posisi menjadi duduk di atas kasur seraya mengambil photo miliknya di bingkai jendela
"Jika saat itu kau bertanya apakah aku juga menyukai lagu dari film Fast and Furious, mungkin aku juga menjawab sepertimu" bisik Jinyoung saat mengembalikan foto itu lalu mulai tidur dengan membayangkan sekelebat bayangan orang yang ia rindukan
"Lagu itu juga mengingatkanku pada rumah"
.
.
.
TBC
.
.
.
Maaf lebay, maaf kepanjangan, maaf kalo jelek, aishhhh sorry lama baru bisa update T_T ini ngga akan panjang2 kok. Penulisnya newbie disini, moga moga cerita markjin punya gw bisa diterima dengan baik ^^ thank you
