Chapter 3

.

.

.

"Park Jinyoung kan?"

Panggilan akrab dari seberang lapangan basket sontak membuat langkah Jinyoung ke perpustakaan terhenti

"Ya?" jawab Jinyoung saat sosok bertubuh agak pendek tersebut mendekatinya, dari dekat Jinyoung bisa melihat sepasang gigi kelinci mengintip dari bibir pria itu

"Perkenalkan Lee Sungmin—ketua Cheerleader St Hana" ucap Sungmin sambil mengulurkan tangan dengan bangga

"Park Jinyoung" balas Jinyoung ramah—oh pantas wajah pria ini tidak asing, siapa yang tidak tahu mengenai klub yang menghebohkan satu sekolah

Ya, gara gara pria bernama Lee Sungmin inilah, sebuah klub berdiri dengan tujuan untuk memberi semangat pada klub olahraga yang lain. Entah kepala sekolah otaknya sedang terbentur atau terhipnotis dengan bujukan maut Sungmin sampai sampai ia menandatangani berita acara yang mengijinkan klub cheerleader terbentuk

"Ada keperluan apa Sungmin-shi?" tanya Jinyoung

"Singkirkan panggilan formal shi, cukup hyung saja—dan oh ya! Kudengar kau dihukum oleh si Heechul itu!" kalimat terakhir Sungmin membuat senyum Jinyoung menghilang

"Ya sepertinya begitu" kata Jinyoung miris, ia masih merindukan kamar asramanya yang dulu dia kuasai seorang diri

Tanpa ada tambahan seorang Mark Tuan

Sungmin menghela napas panjang sambil tak lupa melempar pandangan penuh simpati seolah olah dia sedang berduka cita, "Sebaiknya kau persiapkan diri… karena…" Ia menghela napas lagi, "Pasti berat punya teman sekamar yang kau benci dan membencimu balik, terutama ketika mereka…" Suara Sungmin menghilang pada kalimat terakhir

"Tunggu dulu hyung? Kau sepertinya paham sekali, jangan bilang kau juga—"

"Yup! Aku juga sekamar dengan Cho Kyuhyun karena ketahuan berkelahi di depan hidung Kim Heechul saat istirahat"

"Oh" Jinyoung balik menatap kasihan Sungmin seakan mereka berada dalam satu perahu sekarang

"Nah—karena kita senasib, aku ingin memberi tahumu sesuatu" tangan kanan Sungmin terulur menepuk bahu Jinyoung yang agak kaget saat sorot mata Sungmin berubah serius

.

"Kamarmu yang tadinya rapi dan bersih, akan berubah berantakan, yah—aku memang tidak kenal Mark secara dekat, tapi coba buktikan ucapanku saat melihat keadaan lantai bawahmu"

.

"Apa yang kau lihat?" celetuk Mark saat mendapati Jinyoung masuk ke dalam kamar sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling lantai 1. Di ujung dekat pintu masuk, tempat sampah tergeletak jatuh hingga isinya tumpah kemana mana, remah biskuit di meja kecil samping tempat tidur dan yang terparah…

"Bau apa ini?" Hidung Jinyoung mengendus seperti anjing pelacak, ia spontan berjalan menuju bak pencucian baju kotor yang merupakan milik mereka berdu—

"Mark! Sudah berapa minggu kau tidak mencuci jins ini? Baunya ughh!" pekik Jinyoung saat menangkap basah sumber bau yang berasal dari jins Mark di atas tumpukan baju kotor

"Baru 5 minggu" jawaban cuek Mark dihadiahi tatapan ngeri oleh Jinyoung

"Baru katamu?! Ya! Sekarang kau ikut aku tempat pencucian!"

"Tidak mau! Aku sedang sibuk sekarang!" balas Mark masih sibuk mengetik sesuatu pada laptopnya, "Lagipula biasanya kau tidak secerewet ini Jinyoung"

"Karena bau jinsmu sudah menyebar kemana mana, lagipula kau sibuk apa sih!"

Sebelum Mark bisa menyembunyikan layar laptopnya, Jinyoung sudah kelewat cepat bergerak melihat layar laptop Mark dan begitu dia tahu apa yang di maksud 'sibuk' oleh Mark, Jinyoung akhirnya meledak

"MARK TUAN! HENTIKAN GAME CLASH OF TITANSMU SEKARANG JUGA!"

.

.

.


.

.

Sepanjang perjalanan menuju bagian belakang asrama, Mark mengatupkan mulutnya rapat rapat. Ia belum pernah semarah ini oleh Jinyoung

Kukira hubungan kami sudah lebih membaik, eh ternyata lebih parah. Lagipula kenapa aku mau saja sih menuruti si nerd ini! Teriak Mark dalam hati sambil mengikuti langkah Jinyoung menuju ruang pencucian

Ruang pencucian berada tepat di belakang kantin. Di dalam ruangan ini terdapat 10 mesin cuci modern yang bisa membuat bajumu langsung kering tanpa harus menjemurnya. Hal ini ditujukan untuk menghemat waktu para siswa yang tinggal di asrama

"Aku bisa mencuci sendiri" sindir Mark saat melirik Jinyoung masih mengikutinya hingga ke dalam

"Bagus, sebaiknya kau tahu Mark kita tinggal sekamar sekarang jadi kau harus menjaga kebersihan kamar juga" kata sok bijak Jinyoung mendapat cibiran dari Mark yang malah memutar kedua bola matanya

.

.

.

.

"Oke, aku akan ke lapangan sekarang, bye" Mark mematikan handphone di tangannya lalu bergegas mengganti baju dan celana pendek untuk bermain basket

Di hari sabtu seperti sekarang, para siswa St Hana tetap tidak bisa keluar untuk sekedar hangout atau pacaran dengan siswi lain misalnya. Mereka tetap harus berada di asrama meskipun dalam waktu weekend

Inilah kelemahan St Hana, kau hanya bisa keluar kalau mendapat ijin khusus dari kepala Sekolah atau menjadi juara umum seperti Jinyoung misalnya yang mendapat pengecualian karena prestasinya

"Kau? Memakai baju yang sama dengan dua hari lalu? Baju itu sudah kotor Mark!" komentar polos dari lantai 2 dimana Jinyoung sedang membaca buku di beranda

Ekor mata Mark melirik acuh Jinyoung, "Bukan urusanmu! Lagipula bajuku masih bersih!"

"Tapi—"

BRAKKK

Mark yang malas mendengar nasihat dari Jinyoung langsung keluar dengan membanting pintu, meninggalkan Jinyoung menarik napas panjang. Di dalam pikirannya sekarang terngiang ucapan dari Lee Sungmin

Kuharap Mark tidak secuek Kyuhyun mengenai kebersihan, karena kau tahu orang orang seperti itu hanya akan merepotkanmu! Lebih baik kau nasehati Mark sebelum dia…

"HUATCHIM!"

Jinyoung menggulingkan tubuhnya kesana kemari—susah tidur karena semenjak Mark pulang jam 10 malam tadi, pria berambut merah itu tidak berhenti bersin bersin

"Huatchim huatchim!"

"Arghh! Mark kau bisa diam tidak!" teriak Jinyoung dari balik selimutnya

Srootttttt

"Cerewet" balas Mark dengan suara serak

Jinyoung membeku di atas tempat tidur, "Owh jangan katakan kau?!"

Terlambat…

Jinyoung menepuk kepalanya saat suara bersin Mark berubah menjadi batuk batuk pendek

"Dugaan Sungmin hyung terlalu tepat" lirik Jinyoung sambil meringis kecil

Malam itu, Jinyoung tidur lebih larut dari sebelumnya

.

.

.


.

.

Paginya Jinyoung yang biasa berangkat jam 6 pagi, turun ke bawah sambil melirik ke arah teman sekamarnya—Mark

Mark tidak terlihat lebih baik. Suara gigi bergemeletuk dan batuk batuk berlomba keluar dari bibir Mark yang pucat pasi

"Apa kubilang! Jangan pakai baju kotor, kau tidak mendengarnya sih!" gerutu Jinyoung gemas ingin memarahi Mark

Tapi tak lama tatapan Jinyoung berubah sayu, perlahan lahan Jinyoung melangkah ke arah tempat tidur Mark lalu membetulkan selimut pria itu lebih rapi

"Dasar!" bisik Jinyoung kemudian keluar dari kamar

.

.

.

.

"Buka mulutmu Mark aaaaaa"

"Tidak mau Jackson! Kau ingin membunuhku! Ini sudah sendok ke 5 kau menyuapkan sirup batuk! Aku bisa overdosis!"

"Tapi kalau cuma 1 sendok seperti yang tertulis disini, kau kapan bisa sembuh"

"Tidak sebanyak itu juga Jackson, sudahlah Mark lebih baik kau berbaring lagi, aku dan Youngjae membawa selimut dari kamar kami, Jackson juga! 3 selimut pasti membuatmu makin hangat"

"J..ae…bum… aku sss—susah naap"

"Apa katanya Youngjae? Mark kau bicara apa sih!"

"Ya! Kok wajah Mark membiru, Jaebum! Kita bisa membunuhnya tidur dengan 4 selimut setebal ini, ayo singkirkan!"

Napas Mark terdengar lebih teratur meski lebih mirip sengauan ketimbang bernapas biasa. Mark menatap horor ketiga temannya yang langsung datang begitu mendengar Mark tidak masuk karena sakit

Oke, dia memang terharu dengan perhatian dari ketiga sahabatnya, tapi seharusnya Mark belajar dari pengalaman kalau dirawat mereka bertiga malah memperparah keadaan! Bukan bikin sembuh

"Lebih baik aku ke klinik sekarang" desis Mark, ia memegangi keningnya yang terasa pusing

"Mungkin dari awal seharusnya begitu, ayo kita bantu dia" ucap Youngjae bernada minta maaf

Mark merubah posisinya menjadi duduk sebelum merapikan rambutnya yang berantakan

"Lagian tega sekali sih nerd bernama Jinyoung itu! Kau kan teman roommatenya! Masa dia tidak mau merawatmu" keluh Jaebum sambil melipat kedua tangan di dada sementara Mark mengganti celananya dengan yang lebih sopan

Sebenarnya tanpa mereka sadari, Jinyoung yang mereka bicarakan sedang berada di depan pintu semenit yang lalu

Tangan kanan Jinyoung baru terulur ingin mendorong pintu kamarnya yang sudah terbuka saat mendengar kritikan dari Jaebum—sahabat Mark

"Iya, apa susahnya tadi pagi dia membangunkanmu atau jika Jinyoung lebih baik dia membawamu langsung ke klinik sekolah" tambah Jackson yang membuat Jinyoung mengepalkan sebelah tangannya dari luar

"Aku tidak peduli" tanggap Mark yang membuat Jinyoung makin enggan masuk ke dalam, apalagi dengan membawa mangkuk yang tertutup rapi di tangan kirinya

"Ayo kita pergi!" Jinyoung menoleh dengan panik, dimana ia bisa bersembunyi kalau sepanjang koridor hanya di kelilingi kamar kamar asrama dan tembok panjan—

CKLEK

"Eh? Jinyoung?" suara Youngjae berhasil menghentikan langkah kaki Jinyoung yang hendak lari sekencang mungkin

Jinyoung merapatkan kedua kakinya dengan kikuk, "Hai" ucap Jinyoung merasa malu ketangkap basah hendak kabur

Mark, Jackson dan Jaebum yang masih berhenti di depan pintu, menatap aneh ke arah Jinyoung, "Kau sudah pulang ternyata" sindir Jaebum masih tidak suka terhadap teman sekamar Mark itu

Kepala Jinyoung tegak balas menatap ke empat anak basket di depannya, "Iya, sudahlah aku mau masuk dul—"

"Apa ditanganmu Jinyoung?" pertanyaan polos Youngjae membuat semua mata tertuju pada sebuah mangkuk yang di pegang Jinyoung

TERKUTUKLAH KAU CHOI YOUNGJAE! Pekik Jinyoung benar benar malu setengah mati

"I—ini"

"Oh my! Kau membawakan bubur untuk Mark?!"

Oke fix! Jinyoung benar benar ingin menggaruk tanah lalu menenggelamkan diri ke dalam lubang itu sekarang juga! Oh sebelumnya, mungkin Jinyoung harus membunuh Choi Youngjae terlebih dahulu!

Rona merah memenuhi wajah Jinyoung dengan kepala tertunduk dalam dalam—enggan melihat reaksi Mark yang benar benar terkejut

"Ayo masuk! Keburu buburnya dingin ya kan Mark?" ucap Youngjae bernada sumringah

"I—itu…" Jinyoung mengutuk berulang kali saat menyadari Mark sama sama gugup seperti dirinya

Bahkan Jackson dan Jaebum sampai kehilangan kata kata saat mengikuti langkah Mark yang ditarik masuk kembali oleh Youngjae

Jinyoung membututi mereka dari belakang, ia mungkin masih sibuk berpikir apakah ada jurus membalikkan waktu karena kalau boleh memilih, Jinyoung lebih senang dia tidak bersikap sentimentil tadi siang, bukannya memikirkan pelajaran, Jinyoung malah sibuk meminta beberapa obat dari klinik, meminjam termometer dan terakhir—hal bodoh yang Jinyoung lakukan adalah meminta ibu kantin membuatkan bubur yang akan diambil sehabis pulang sekolah untuk Mark

"Hmmm" Jinyoung sok berdeham saat menaruh mangkuk bubur di samping tempat tidur Mark, "Panasmu berapa derajat?" tanyanya sambil menatap wajah pucat Mark yang kembali berbaring

Mark melirik teman temannya yang tampak salah tingkah, "Kami tidak sempat mengeceknya" ucap Jackson sambil nyengir lebar

Terdengar dengusan kecil dari Jinyoung sebelum mengeluarkan termometer yang ia pinjam dari klinik sekolah, "Angkat tangan kananmu"

Mark menurut dengan patuh dan segera Jinyoung menjepit termometer di sela sela ketiak Mark

"Kau pasti belum makan siang bukan?" tebak Jinyoung sambil menaruh mangkuk dalam pangkuannya

Mark menggeleng—ia masih terkesima dengan sikap Jinyoung yang tidak pernah terduga

Padahal sepuluh menit yang lalu, Mark masih berpikiran sama seperti Jaebum. Jinyoung tidak akan peduli padanya, malah Mark yakin Jinyoung akan mengejeknya karena mudah sakit

Tapi ternyata tidak

Seorang Park Jinyoung selalu berhasil mengejutkan Mark Tuan

"Nah sekarang aaaaa" Jinyoung mengangkat sendok menuju bibir Mark

ZINGGGG

Jinyoung membatu, dengan muka merah sampai leher ia menaruh kembali sendok ke atas mangkuk, "Maaf… kau bisa makan sendiri—aku…"

"UHUK" Terdengar tawa sengaja dari Jaebum diikuti cekikikan tidak wajar milik Jackson yang membuat Jinyoung kembali mengutuk dirinya

"Tidak apa apa, aku bisa makan sendiri" ujar Mark sambil mengambil mangkuk dari tangan Jinyoung, tidak lupa Mark melemparkan tatapan tajam yang membuat tawa ledekan Jaebum dan Jackson menghilang, "Terima kasih Jinyoung, sungguh… ini…" Mark kehilangan kata kata

Perasaan Jinyoung lebih ringan saat mendengar ucapan Mark, "Tidak masalah, ah ya aku juga membawa obat penurun panas dari klinik" Dikeluarkannya satu plastik dari dalam tas lalu ditaruh di samping Mark

Kembali, bukan hanya Mark yang diam seribu bahasa, bahkan Jackson, Jaebum dan Youngjae sampai tidak percaya dengan perilaku Jinyoung yang ternyata berbeda dari prasangka mereka sebelumnya

"Cepat sembuh" ucap Jinyoung tulus sebelum garis wajahnya berubah mengeras, "Lain kali kau harus mendengarkanku! Siapa suruh kau memakai baju kotor! Lihat sekarang kau malah sakit!"

Bibir Mark mencebik kesal, "Bajuku kemarin masih bersih! Kalau mau salahkan cuaca Jinyoung!"

"Cuaca kemarin terang benderang dasar bodoh!"

Youngjae geleng geleng kepala sementara ia mendekati Jackson dan Jaebum, "Kalian tahu cara mereka bertengkar mengingatkanku pada siapa? Appa dan Umma di rumah"

Jackson dan Jaebum tertawa mendengar kelakar Youngjae, "Memang, tapi aku tidak menyangka Jinyoung perhatian juga terhadap Mark" komentar Jaebum

"Iya siapa sangka" balas Jackson kembali asyik memperhatikan Mark dan Jinyoung berdebat panjang lebar mengenai cuaca

Bahkan dalam keadaan seperti itu, siapapun bisa melihat kalau sikap marah Jinyoung hanya kamuflase dari sikap khawatir Jinyoung pada Mark—musuh bebuyutannya

Ah apa mereka masih bermusuhan?

.

.

.


.

.

"Itu baju kapan Mark? Jangan katakan—"

"Tidak Jinyoung, baju ini bersih, baru kucuci"

Jinyoung yang sedang mengayunkan kedua kaki di sela sela beranda mengangguk puas sementara Mark bersiap siap untuk pergi latihan basket di hari Sabtu

"Kau tahu, kau boleh ikut ke lapangan basket kalau kau mau"

Kedua pupil mata Jinyoung melebar mendengar tawaran Mark yang tidak disangka sangka dan rona merah sedikit demi sedikit mulai menjalar di pipinya

TBC

.

.

.

Maaf ya baru update :'( dan maaf juga kalo ceritanya mulai ngalor ngidul. Mudah mudahan reader ngga bosan dan masih sudi baca cerita ini ya ^^

Thank you juga atas komennya, meski itu hanya sedikit tapi sangat berharga buat saya

Thank you so much