Chapter 5
.
.
.
"Hi"
Park Jinyoung yang duduk di bangku penonton—3 tingkat lebih tinggi dari jajaran pemain basket, menengadah ke atas, melihat orang yang menyapanya
"Hai juga Sungmin hyung" sapa Jinyoung ramah sambil bergeser memberikan tempat duduk untuk ketua Cheerleaders itu
"Bagaimana dengan nasihatku? Benarkan?" seloroh Sungmin yang membuat tawa renyah Jinyoung meledak
"Yeah, sangat tepat Hyung" balas Jinyoung sambil memutar bola matanya
Sungmin tersenyum puas sementara Jinyoung kembali melemparkan pandangannya ke arah lapangan dimana para pemain inti sedang berlatih
Ya, berkat undangan Mark, Jinyoung memberanikan diri mendatangi lapangan—toh banyak juga siswa sehabis pulang sekolah yang nongkrong disini daripada langsung kembali ke asrama
"Kyaaaa Mark!"
"Jaebum Oppa semangat!"
"Kyuhyun Oppa!"
"Jackson!"
Kepala Jinyoung spontan menoleh ke samping lapangan, disana sudah berkumpul segerombolan siswi dari sekolah lain yang saling berteriak histeris seolah olah mereka sedang menonton konser idol terkenal bukannya menonton permainan basket
Beberapa pemain sempat tersenyum malu malu seperti Jaebum atau Jackson. Sedangkan Kyuhyun? Sang Cassanova klub basket itu malah dengan sok kepedean melemparkan ciuman jarak jauh yang membuat teriakan para yeoja itu makin menjadi jadi
"Dasar" gerutu Sungmin yang ditangkap oleh Jinyoung
Jinyoung sendiri malah memfokuskan tatapannya pada Mark yang bahkan tidak menoleh sama sekali pada kumpulan fans mereka
Mark bahkan tidak menatap Jinyoung ketika ia datang ke lapangan untuk pertama kalinya seperti undangan Mark dua hari yang lalu
Pria berambut merah itu malah serius berlatih passing berdua dengan Youngjae, mendengarkan arahan pelatih Park—pelatih basket di sekolah St Hana
Begitu seriusnya Mark berlatih hampir sama dengan begitu fokusnya Jinyoung menatap teman sekamarnya itu. Jinyoung bahkan perlu dikagetkan oleh Sungmin yang menyatakan kalau latihan tim basket akan segera berakhir
"Aku balik duluan ya"
"Oke, terima kasih hyung"
Sungmin melambaikan tangan lalu beranjak pergi dari situ. Jinyoung sendiri memilih menunggu sampai seluruh tim keluar terlebih dahulu, karena jujur—ia masih agak segan jika berhadapan dengan Mark atau sahabat sahabatnya
"Kalian sudah bekerja keras!" seru para yeoja yang dengan rapi dan terlatih, menyingkir untuk memberikan jalan pada para tim
Beberapa siswi dengan malu malu, memberikan botol minum pada pemain kesukaan mereka atau handuk kecil yang diterima dengan sopan oleh para pemain
Tapi lagi lagi Jinyoung sampai mengangkat alis melihat Mark yang tidak menerima satupun hadiah
Padahal penggemarnya tidaklah sedikit, namun para yeoja itu sepertinya mengerti watak Mark yang langsung bersingut keluar meninggalkan teman teman timnya di belakang
.
.
.
.
.
"Ah segarnya" Mark mengusap puas rambutnya yang basah akibat keramas. Ia keluar dari kamar mandi dengan perasaan lebih rileks, meski hanya untuk sementara karena begitu tatapan Mark menangkap tanda lingkaran merah di kalender, Mark melenguh pelan
Memilih tidak mau memikirkannya, Mark mengedarkan pandangan ke lantai atas—tempat dimana Jinyoung tampak sedang sibuk sendiri
"Kau sedang apa?" Tanpa merasa sungkan, Mark berani menaiki tangga kecil yang menempel di tembok. Kedua matanya melebar saat melihat lantai kamar Jinyoung penuh oleh buku buku pelajaran
"Ujian semester tinggal 2 minggu lagi" jawab Jinyoung tanpa mengalihkan pandangan dari atas buku catatannya
"2 minggu?! Shit!" umpat Mark sambil memijit kepalanya yang tambah pusing
Gerakan gusar Mark menarik perhatian Jinyoung, "Kau kenapa?" tanyanya heran, "Jangan bilang kau lupa"
"Iya aku lupa" jawab Mark jujur, dengan lemas ia duduk di dekat anak tangga terakhir sambil menatap lesu catatan Jinyoung
"Hmm, mau kubantu belajar?" tawar Jinyoung sambil lalu
Mark tersenyum tipis mendengar tawaran Jinyoung, "Trims, tapi masalahku bukan itu saja, pertandingan babak penyisihan basket juga di mulai seminggu setelah ujian" suara Mark bernada serius yang membuat Jinyoung kali ini benar benar berhenti belajar dan malah balik menatap teman sekamarnya
"Pantas saja" komentar Jinyoung sebelum sibuk menulis sesuatu lagi
"Pantas apanya?" tanya Mark
"Tidak." Jinyoung menutup buku di pangkuannya sebelum kembali berbicara, "Kudengar dari Heechul Seosaengnim nilaimu tidak begitu buruk kecuali di pelajaran bahasa, apa kau mau kita belajar bersama untuk pelajaran itu saja?"
Mark tersenyum tipis—ia sangat menghargai kecemasan Jinyoung yang diluar dugaan, namun… bukan ujian semester yang sebenarnya Mark takutkan
.
.
.
.
.
Basket bukan sekedar permainan atau cabang olahraga bagi seorang Mark Tuan
Basket lebih dari itu
Begitu kedua kaki Mark berdiri di lapangan basket, ia merasa hidup—semangatnya berkobar dua kali lipat seolah olah disinilah seharusnya Mark berada
Satu tim basket juga bisa melihat bagaimana sikap dan perangai Mark berubah 90 derajat ketika dia bermain basket
Mark yang tidak banyak bicara, yang tampak cuek, bisa berubah menjadi ganas, vokal dan gesit ketika ia bersentuhan dengan bola basket
Mark berlatih dua kali lebih keras bukan karena dia memaksakan diri menjadi tim inti. Tidak, Mark tidak seperti itu. Ia mencintai basket lebih dari apapun.
.
.
.
"Memang sesusah apa pertandingan babak penyisihan basket?" tanya Jinyoung ketika ia dan Yugyeom berjalan pulang dari perpustakaan menuju asrama
"Hmm aku juga tidak begitu mengerti Hyung, tapi kalau tidak salah—babak penyisihan ini adalah tingkat terbawah untuk mengikuti pertandingan nasional se-Korea Selatan" jelas Yugyeom sambil coba mengingat ingat, "Mulai dari babak penyisihan tiap sekolah satu daerah, mereka bertanding secara kompetisi kemudian setelah terpilih satu pemenang dari daerah tersebut maka bisa maju ke tingkat nasional"
Jinyoung yang tidak pernah mengikuti basket mencoba mencerna pelan pelan penjelasan adik kelasnya itu
"Jadi maksudmu, pertandingan basket 3 minggu lagi itu baru permulaan?"
"Betul Hyung! Yah kuharap tim basket kita bisa menang, karena kalau tidak akan menjadi nilai jelek secara akumulasi"
"Begitu"
Diam kembali menyelimuti mereka berdua. Lelah karena belajar seharian di perpustakaan membuat baik Jinyoung atau Yugyeom ingin segera mungkin sampai ke dorm namun langkah Jinyoung tiba tiba terhenti saat mendengar bunyi dentuman keras dari dalam lapangan basket yang berada tepat di samping kiri gerbang sekolah
"Hyung? Kau mau kemana?" pertanyaan Yugyeom diacuhkan oleh Jinyoung yang refleks membelok dari depan gerbang
Di dalam lapangan tampak sosok Mark yang berlari kesana kemari, mencoba shoot dari berbagai sudut. Jinyoung mau tak mau terpana kagum dengan kemampuan Mark yang bisa men-shoot tanpa satu pun yang gagal
"Mark hyung memang andalan tim basket kita" puji Yugyeom yang akhirnya menyusul Jinyoung
Jinyoung terdiam. Ia melihat sosok Mark yang sama seperti 2 hari kemarin. Mark yang tidak melihat di sekelilingnya kecuali di dalam lapangan basket, Mark tidak melihat atau menoleh sedikit pada Jinyoung dan Yugyeom yang menontonnya diam diam di depan pintu lapangan atau pada senja yang mulai menghiasi sore hari ini
"Entah berapa lama si bodoh itu berlatih" bisik Jinyoung yang sudah siap tertidur di kasurnya. Bahkan saat kepala Jinyoung terjulur—mencuri pandang ke lantai bawah, Mark belum juga kembali
"Sudah jam 9…" Jinyoung menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerah lalu membaringkan tubuh senyaman mungkin kemudian terlelap dalam waktu singkat
.
.
.
.
.
Mark tidak mengerti. Ia memang tidak pernah mengerti apa pentingnya nilai akademis bagi seorang Jinyoung
Sejauh mata memandang, Mark tidak melihat ada siswa yang segiat Jinyoung dalam hal belajar demi ujian semester. Well, apa mungkin siswa seangkatannya juga berpikir seperti Mark yang mengira ujian semester tidak perlu dianggap serius, apalagi ini bukan ujian akhir yang menentukan kenaikan kelas. Ditambah lagi, akan ada ujian remedial untuk perbaikan nilai
Lalu kenapa bagi Mark sikap Jinyoung terlalu berlebihan?
"Mungkin dia perfeksionis?" tebak Jackson ketika mereka makan di kantin pada jam istirahat
"Mungkin" Mark mengangguk setuju sambil melirik Jinyoung yang berbeda dua meja dari mereka. Teman sekamarnya itu seperti biasa makan berdua dengan adik kelas yang bernama Yugyeom
Yugyeom tampak sesekali mencoba mengajak bicara Jinyoung yang malah sibuk membaca catatan di tangannya. Bahkan tidak sekali Mark menangkap Yugyeom harus mengingatkan Jinyoung untuk menghabiskan makan siangnya ketimbang harus terus menerus membaca
Jinyoung tidak peduli sekitarnya ketika dia sedang belajar
Mark tertegun, sikap Jinyoung sekarang kenapa… seolah olah mengingatkan Mark pada…
.
.
.
.
.
"Jinyoung?"
"Hmm"
"Ya! Aku bicara padamu!"
"Aku mendengarkan Mark, bicara saja"
Dengan berani Mark menarik buku yang disalin Jinyoung secara kasar
"Ya!" teriak Jinyoung marah
"Kau?! Ini hanya ujian semester, tapi kau belajar seolah olah sekarang sedang ujian negara atau apa?" Mark menghela napas, menatap tajam Jinyoung sebelum mengembalikan buku yang diambil ke tangan Jinyoung, "Kau itu juara satu angkatan Jinyoung, apa kau tidak terlalu memaksakan diri? Kau tidak akan gagal" Mark mengucapkan kalimat terakhir dengan sinis—ada nada iri dalam suaranya
Jinyoung menunduk dalam dalam sambil pura pura menulis, "Aku tidak boleh gagal, Mark"
"Tidak boleh?" Mark menaikkan sebelah alisnya dengan bingung
"Iya, katakanlah keadaan yang memaksaku belajar dengan giat" sambung Jinyoung terus menghindari tatapan Mark, baru kali ini dia bicara hal yang menurutnya pribadi pada orang lain kecuali Yugyeom
Terdengar helaan napas panjang dari Mark sebelum pria ini duduk di samping Jinyoung. Mark mengambil satu buku pelajaran lalu membolak balikannya dengan malas
"Apa kau sebenarnya tidak suka belajar?" tanya Mark
Jinyoung menggeleng, "Aku suka belajar, kau tahu—aku suka sekali membaca, jadi tidak heran bukan kalau aku bisa tahu segalanya" Jinyoung tersenyum tipis saat Mark menoleh ke arahnya
"Juga tidak heran kalau kau bisa juara sekolah" ungkap Mark pelan
"Iya" Ada kesedihan yang tertera dalam suara Jinyoung yang membuat Mark kembali bingung
"Lalu kenapa kau harus terpaksa melakukan sesuatu yang kau sukai?" Pertanyaan Mark menohok perasaan Jinyoung. Refleks ia menoleh—menatap kedua bola mata cokelat yang perlahan lahan menjebaknya
Jinyoung menahan napas, disatu sisi ia merasa tidak nyaman berbicara hal ini dengan Mark, namun disisi lain, Jinyoung merasa… Mark bukanlah orang lain
Mark seperti…
"Karena aku tidak boleh gagal" kata Jinyoung miris, "Itu adalah beban ketika kau harus terus berhasil hanya karena kau melakukan sesuatu yang kau sukai"
Sebuah seringaian menghiasi bibir Mark, ia tertawa pelan—sudah ia duga. Jinyoung memang tepat seperti apa Mark pikir selama ini…
"Kenapa kita tidak dibiarkan menjalani semua seperti apa adanya… kenapa harus ada standar, seperti kau Jinyoung—kau harus menjadi juara dan aku…" Mark tertunduk—merasakan beban yang ia tanggung berbulan bulan akhirnya menumpuk dan ingin meledak sewaktu waktu
"Aku juga tidak boleh gagal dalam pertandingan penyisihan besok"
Perkataan Mark barusan membuat kedua pupil mata Jinyoung melebar. Ia menahan napas, merasa kesesakan sama sama menghampiri mereka berdua
.
.
.
.
.
Pagi hari di hari Minggu
.
Jinyoung duduk termenung di atas kasurnya sementara Mark di lantai bawah sudah bersiap untuk berangkat latihan basket
Mereka berdua tidak berkata apapun. Pembicaraan mereka kemarin itu membuat Jinyoung dan Mark sama sama berpikir
Terlalu banyak spekulasi atau rasa ingin tahu pada masing masing pihak
Mark yang ingin tahu alasan yang membuat Jinyoung harus menjadi juara kelas sementara Jinyoung sendiri kaget dengan pengakuan Mark
Mark selalu membuat Jinyoung berulang kali merasa bersalah. Jinyoung sudah salah menilainya saat pertama kali mereka bertemu dan sekarang…
Jinyoung merasa dirinya dan Mark berada disituasi yang sama
"Aku pergi" kata Mark pamit sambil memegang gagang pintu
"Selamat berlatih" balas Jinyoung basa basi
Saat pintu tertutup, Jinyoung kembali termenung. Ia berulang kali berpikir mengenai kondisi mereka berdua
Ujian semester dan Pertandingan babak penyisihan…
Kedua hal itu menjadi bagian terpenting untuk Jinyoung maupun Mark
.
.
.
.
.
"Hei Mark"
"Hmm?" Mark yang menoleh dari atas catatannya. Ia mendapat undangan belajar bersama dari Jinyoung pulang sekolah tadi. Maka disinilah Mark, duduk di lantai 2 bergabung dengan Jinyoung
"Apa yang kau takutkan dari babak penyisihan? Bukankah sekolah kita termasuk no 3 tingkat nasional tahun kemarin?" tanya Jinyoung di sela sela acara belajar mereka
"Yah aku tidak akan secemas ini jika lawan kita bukan no 2 tingkat nasional" ujar Mark lelah, ia sampai tidak melihat keterkejutan di wajah Jinyoung, "Mereka berada dalam satu prefektur dengan kita, kau tahu sekolah Star High?"
Jinyoung mengangguk pelan, dia tahu sekolah Star High yang berjarak hanya setengah jam menggunakan bus kota
"Dan karena pada satu perfektur hanya bisa diwakili oleh satu sekolah, maka lawan kita tahun ini sangat berat, apalagi kudengar dari perfektur Busan tim kuat bermunculan"
Jinyoung tidak berani komentar banyak, karena meskipun kadar otaknya level jenius, ia mungkin buta sama sekali mengenai dunia basket
"Tapi kau juga bukan lawan yang mudah"
Jemari Mark yang sedang menyalin catatan milik Jinyoung terhenti seketika dan saat Mark mendongak—ia bisa melihat tatapan itu di mata Jinyoung
"Tim basket kita juga kuat, jadi bermainlah seperti biasa—seperti dirimu sendiri"
Pandangan Mark berubah nanar, namun tak lama tatapannya melembut disertai sebuah senyuman di bibirnya
"Kalau begitu kau juga, jangan terlalu kejam pada dirimu—kau pasti bisa bertengger di tempat pertama seperti yang selalu kau lakukan"
Tawa Jinyoung meledak meski mendengar nada sarkasme dari kalimat Mark namun entah kenapa Jinyoung merasa Mark tulus mengatakan itu
"Berarti tidak ada lagi yang kita takutkan" kata Jinyoung santai—beban di pundaknya mendadak buyar dan terganti rasa kelegaan yang aneh
Mark mengangguk kecil, "Pertandinganku seminggu setelah ujian, kalau kau mau menonton, datang saja"
Jinyoung meringis menyesal—ah kenapa pendaftaran ulang harus bertepatan dengan pertandingan Mark!
"Aku ada urusan di sekolah, sorry" ucap Jinyoung tidak enak, apa ini hanya imajinasi Jinyoung atau memang raut wajah Mark kelihatan agak kecewa?
"No problem, aku bisa jamin kau menyesal tidak menyaksikan pertandingan spektakuler abad ini" ejek Mark yang membuat Jinyoung mendenguskan napas
"Kalaupun aku datang, kau tidak akan sadar Mark. Kau selalu begitu ketika berada di lapangan. Yang bisa kau lihat hanya bola basket, lawan dan teman satu tim. Kau seperti orang lain saat bertanding, kau tahu itu?"
DEG
Mark membeku di samping Jinyoung
Bagaimana bisa seorang Park Jinyoung menilai dirinya lebih cepat dari para sahabat sahabat Mark
"Mark?" Jinyoung mengayunkan tangan kanannya ke depan wajah Mark yang mematung, dengan cepat Mark menangkap tangan Jinyoung lalu menatapnya dalam dalam, "A—apa?" kata Jinyoung gugup
"Aku pasti bisa menang" bisik Mark
"Dan aku pasti bisa mendapatkan nilai tertinggi kembali" balas Jinyoung
"Kita bertemu setelah pertandingan?" tawar Mark
"Boleh" Dengan halus, Jinyoung melepaskan cengkraman Mark karena merasa kurang nyaman berbicara dalam jarak dekat, sangat dekat hingga Jinyoung bisa merasakan sapuan napas Mark di wajahnya
.
.
.
.
.
Ujian semester sedang berlangsung. Semenjak hari pertama hingga telah berjalan hari ketiga, Jinyoung dan Mark makin jarang bertemu. Terkadang Jinyoung tidur lebih cepat ketika Mark masih berlatih setelah belajar ke lapangan basket ataupun sebaliknya, Jinyoung belajar hingga dini hari sementara Mark sudah tertidur pulas akibat kelelahan dua hari tidur lebih larut dari biasanya
Keduanya juga berbeda kelas hingga interaksi mereka di sekolah nyaris tidak ada. Namun meski begitu, ada perubahan jelas yang terllihat dari Jinyoung dan Mark
Mereka paling tidak saling membalas senyum ketika berpapasan di koridor kelas
.
.
.
Pada hari keberangkatan para anak basket menuju balai kota untuk bertanding babak penyisihan, Jinyoung sedang berada di ruang administrasi sekolah di temani oleh Yugyeom
"Kukira kau ingin menonton pertandingan kita? Jarang sekali bukan sekolah mengijinkan muridnya keluar asrama kalau bukan untuk mendukung acara olahraga" kata Jinyoung yang dari pagi bisa melihat segerombolan murid baik kelas 10 hingga kelas 12 kesenangan bisa pergi keluar meski itu hanya sebagai pendukung tim basket
"Tidak, lebih baik aku menemanimu Hyung" Jinyoung terharu melihat perhatian Yugyeom, ia kadang bingung kenapa Yugyeom bisa menemukan kebaikan di setiap orang yang ditemuinya
Sungguh, bahkan pertama kali mereka bertemu, Jinyoung pun mengatakan sesuatu yang pedas pada Yugyeom namun adik kelasnya ini malah semakin sayang padanya
Agak aneh bukan?
"Tapi aku senang kau bisa ranking pertama lagi Hyung, selamat!" ucap Yugyeom riang
Jinyoung terkekeh pelan, "Mau kutraktir ramen di kantin?" tawarnya
"Boleh hyung!"
Sepanjang hari sambil menunggu proses administrasi selesai, Jinyoung dan Yugyeom mengitari asrama dengan perasaan lega setelah ujian berakhir, apalagi kondisi asrama yang kosong akibat ditinggal pergi oleh para siswa
Saat matahari mulai terbenam, muncul suara ramai ramai dari arah depan asrama. Jinyoung dan Yugyeom yang asyik menonton TV di ruang tengah asrama, menoleh ke belakang
"Sial! Tinggal sedikit lagi!"
"Iya! Kita hanya selisih tipis! Argh andai saja!"
Suara gumaman satu sama lain, diikuti raut wajah kecewa dan beberapa menggerutu pelan membuat Jinyoung merasakan firasat buruk
"Jangan katakan… kita kalah…" kata Yugyeom terbata bata—ia balas memandang Jinyoung dengan pandangan hampa sementara kakak kelasnya itu malah spontan bangkit berdiri lalu berjalan cepat menuju kamarnya dengan Mark
.
.
.
CKLEK
Dengan perlahan sekali, Jinyoung membuka pintu kamarnya. Ia tidak mengharapkan ada Mark disini, mungkin ia malah tidak akan pulang
Namun ternyata Mark ada di atas tempat tidurnya, berbaring membelakangi Jinyoung
Ada seribu ucapan, seribu kata yang ingin Jinyoung ungkapkan, tapi sekarang semua itu malah tertahan di bibirnya
Mark gagal sedangkan dia berhasil
Ini tidak adil. Erang Jinyoung dalam hati
"Mark—"
"Bisa tinggalkan aku sendiri?" suara Mark pecah, ada permohonan di dalam kalimat itu yang membuat Jinyoung tidak tahan ingin memeluk Mark saat itu juga
"Baik… aku ada di atas jika kau membutuhkanku" Langkah Jinyoung tertatih tatih menuju anak tangga, namun kembali—Jinyoung tidak yakin bisa ke atas, dan mengacuhkan Mark seperti permintaan teman sekamarnya itu
Jinyoung memilih duduk di tengah anak tangga, menatap Mark dari atas sana—bergerumul dalam pikirannya apakah lebih baik Jinyoung memaksa Mark bicara daripada didiamkan seperti ini atau Jinyoung harus menghormati privasi Mark
Jinyoung merasa tidak berdaya… seolah olah ia yang kalah dalam pertandingan itu, seolah ia berada disana, merasakan apa yang Mark alami
Tubuh Mark bergerak sedikit membuat Jinyoung duduk lebih tegak, namun Mark tampaknya benar benar ingin tertidur hingga Jinyoung hanya bisa memandang pedih dari kejauhan
.
.
.
Ddrtttt Ddrtttt
"Nggg…" Jinyoung menyipitkan kedua matanya, ia melihat ke sekeliling—keadaan kamar mereka gelap gulita, tanpa Jinyoung sadari dirinya ikut terlelap seperti Mark di anak tangga
Ddrrttt
"Handphone?" Tangan kanannya dengan gesit merogoh kantung celana untuk mengambil telepon genggam namun tidak ada panggilan sama sekali
Ddrrtttt
Cahaya kecil muncul dari sebelah Mark yang masih tertidur di atas kasurnya
Handphone Mark bergetar terus menerus
"Kuangkat atau tidak?" Sambil dilema, Jinyoung akhirnya menyerah sambil bangkit berdiri lalu berjalan mendekati tempat tidur Mark, "Siapa tahu penting" pikir Jinyoung membenarkan tindakannya
Ia mengambil handphone milik Mark—disana nama pemanggil tertulis dengan jelas
'Dad'
"Ayahnya…" Jinyoung melirik pelan sambil bergantian menatap Mark dan handphone ditangannya. Dengan sebelah tangan yang bebas, Jinyoung berusaha membangunkan Mark
"Mark, Appamu menelepon!" ujar Jinyoung mengeraskan suaranya
Mark mengerang sebentar sebelum kembali tertidur pelan
"Ya! Aishh bagaimana kalau… terjadi sesuatu—" Tanpa berpikir lagi, Jinyoung langsung mengangkat telepon Mark
"Mark?"
Jinyoung menelan ludah saat mendengar suara berat yang berbicara bahasa asing
"Bukan" Jinyoung yang jenius, berusaha menjawab sebisanya menggunakan bahasa inggris
"Oh, bisakah saya berbicara dengan Mark?" tanya pria itu dengan sopan
"Sepertinya tidak karena Mark sedang tertidur pulas" Jawab Jinyoung sesekali melirik wajah Mark yang tampak tenang
"Dia tidak sedang menghindar bukan?" ucapan selanjutnya dari Ayah Mark membuat Jinyoung terheran heran
"Menghindar—apa yang sebenarnya—"
"Dia kalah dalam pertandingan bukan? Tadi saya menonton live lewat skype Mark…"
Ada nada suara merendahkan yang tidak Jinyoung sukai dari ucapan Ayah Mark
"Lalu? Dia baru kalah sekali, ada kemungkinan tim basket kami bisa mengejar ketinggalan. Apalagi saya dengar kita hanya kalah tipis, mu—mungkin selisih angkanya tidak terlalu jauh! Dan itu berarti apa? Anak anda kalah secara terhormat!" Jinyoung berbicara dengan menggebu gebu, ia tidak habis pikir bagaimana seorang Ayah bisa? Setelah apa yang Mark alami?
Tidak ada yang bisa lebih merasa kecewa dari Mark sekarang ini
Keheningan seketika muncul dari arah seberang hingga akal sehat memukul isi otak Jinyoung
Apa aku bicara keterlaluan? Oh shit!
"Maksud saya…" Jinyoung mengatur napasnya sambil menatap wajah Mark dalam gelap, "Basket adalah dunianya… bagi Mark tidak ada yang lebih penting daripada basket saat ini"
"Lalu? Apa gunanya semua itu? Seharusnya Mark harus kembali ke LA, kembali pada keluarganya dan bersekolah seperti biasa. Aku masih tidak percaya dia memilih basket daripada keluarganya. Lagipula bisa kulihat jika dengan kemampuannya sekarangpun, dia tidak bisa menang"
"Dia harus menang?!" ucap Jinyoung sambil menggeleng tidak percaya, "Kenapa dia harus menang? Karena dia takut dipisahkan dari apa yang dia sukai. Apa anda tidak bisa melihat wajah Mark ketika dilapangan? Dia berbeda bukan? Aku saja sampai tidak bisa mengenalinya… berikan dia kesempatan, kumohon… apa artinya satu kegagalan?" Jinyoung merunduk—merasa barisan air mata mulai menggenangi pelupuk matanya, "Andai anda bisa melihat bagaimana kondisi Mark sekarang, mungkin anda tidak akan tega berkata seperti itu…"
Keheningan kembali merambat pembicaraan tersebut
"Please?" ucap Jinyoung sekali lagi
TUT TUT
"Eh?" Jinyoung menatap layar telepon yang memberitahunya jika pembicaraan sudah terputus
Lutut Jinyoung gemetar hebat. Ia tersuruk ke bawah seraya menaruh kembali handphone Mark di atas tempat tidur
"Park Jinyoung bodoh! Apa yang kau lakukan! Bodoh bodoh bodoh!" Jinyoung tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri karena berani berdebat langsung dengan Ayah Mark
Dengan gusar Jinyoung susah payah naik ke atas, mencoba berbaring meski merasa tidak tenang dan berdoa semoga ucapannya bisa ditarik saat itu juga
Karena Jinyoung takut… takut kalau ucapannya malah membuat hubungan Ayah dan anak tersebut semakin renggang
.
.
.
Mark berjalan mondar mandir di depan kelasnya yang telah kosong sehabis jam pulang berbunyi. Sebenarnya sejak kemarin, Mark telah menghindari Jinyoung
Ia tidak mau melihat tatapan kasihan Jinyoung setelah mendengar tentang kekalahan mereka. Mark juga tidak tahan harus membicarakan hal itu lagi bahkan pada sahabat sahabatnya
Untung Jaebum, Jackson dan Youngjae juga mengerti perasaan Mark, sehingga mereka sebisa mungkin menghindari topik tentang pertandingan kemarin
Dddrtt
Mark membuka handphone yang berada di tangannya sejak tadi
Satu pesan masuk—dari Jackson
'Ketua ingin membicarakan soal pertandingan berikutnya, kami menunggumu'
Ya, sebenarnya Mark tahu masih ada kemungkinan mereka masuk ke babak selanjutnya karena sistem penyisihan pada pertandingan basket didasarkan pada sistem kompetisi, bukan turnamen
Sistem kompetisi, membuat tim basket sekolah mereka harus bertanding secara bergantian dalam satu perfektur yang terdiri dari 6 tim basket
Sehingga masing masing tim basket saling bertanding satu sama lain dan hasilnya akan terakumulasi. Nilai tertinggi itulah yang menentukan tim basket sekolah mana yang menjadi perwakilan untuk tingkat nasional
'Baik, aku akan segera kesana' balas Mark tidak pasti
Tatapan Mark menggelap, merasa harapannya mulai pupus perlahan demi perlahan
Mark ingat akan janji pada Ayahnya ketika dengan keras kepala Mark bertekad ingin tinggal di Korea demi mengejar cita citanya menjadi pemain basket
"Aku tetap harus menelepon Dad, siapa tahu dengan aku—"
Dddrttt
Bertepatan dengan itu, handphone di tangan Mark bergetar, pria berambut merah ini semakin ketakutan saat nama Ayahnyalah yang tertera di layar telepon
Mark memejamkan matanya—mencoba mengusik ketakutan karena dia tahu betul Ayahnya pasti akan menuntut Mark untuk kembali lagi ke LA
Maka dari itu Mark memaksakan diri—memaksakan diri untuk menang. Membuat basket pelan pelan berubah menjadi beban di pundak Mark
Ia hanya ingin menikmati apa yang ia sukai dan apa itu salah?
Ddrrttt
Bunyi getaran itu kembali membuat lamunan Mark buyar, dengan berat hati ia mengangkat telepon dari Ayahnya
"Hai Dad" Sapa Mark mencoba beramah tamah
"…."
Tidak ada jawaban dari seberang hingga jeda 10 detik agak membuat degub jantung Mark makin tidak teratur
"Dad?"
"Mark…"
"Ya?"
"Bagaimana kabarmu?"
Mark sampai menjauhkan telepon dari telinganya sambil menatap sangsi seolah olah bisa melihat wajah Ayahnya dari sana
"Well… aku baik baik saja…" jawab Mark pelan
"Ayah dan Ibumu juga sehat disini" kening Mark berkerut kebingungan. Hubungannya dengan sang Ayah bukanlah hubungan yang bisa dibilang harmonis.
Sebagai anak tunggal, Ayahnya sangat keras terhadap Mark, jadi jangan heran jika Mark tumbuh sebagai anak yang pasif dalam hal berbicara atau bersikap
Ayah Mark bahkan baru merasakan kekerasan kepala anaknya itu ketika Mark berkata ingin bermain basket
Mulai dari situ, setiap telepon atau email, selalu didahului dengan ceramah panjang yang mengatakan Mark akan menyesal dengan pilihannya itu
Well, Mark terkadang ingin tertawa miris jika membaca email dari Ayahnya
Seolah Mark berjuang sendirian di negeri asing, bahkan ayahnya sendiri tidak berada di pihak Mark
Ia sendirian, menahan segalanya, menopan beban berat akibat keinginannya
"Dad tidak ingin bertanya tentang pertandinganku?" akhirnya Mark yang mulai pembicaraan
"Aku tahu kau kalah" ucapan lugas ayahnya membuat Mark menundukkan kepala. Ia bersiap menerima kritikan tajam, tuntutan balik ke rumah atau apapun itu, namun perkataan selanjutnya malah membuat Mark kaget setengah mati
"Lalu kenapa jika kau gagal sekali?"
"Eh?!"
"Kau kira Ayah tidak tahu kau sengaja menyambungkan sykpe agar kami bisa menonton pertandingan pertamamu menuju tingkat nasional. Kau ingin membuktikan kau bisa berdiri dengan keinginanmu sendiri. Dan Mark… kau telah membuktikannya…"
Mark terdiam, bibirnya bergetar—ia kehabisan kata kata
"Sejujurnya, Ayah selalu mencerewetimu, memaksamu untuk kembali itu tak lebih dari keegoisan orangtua, kau anak kami satu satunya. Apa kau tidak rindu Ibumu?! Kau tahu dia malah menangis sepanjang pertandingan karena melihat dirimu yang makin lama semakin dewasa…"
"Dad…"
"Maaf kalau aku tidak bisa berkata lebih lembut, maaf kalau setiap kita bicara, hanya ada pertengkaran"
"Tidak! Tidak… kumohon… aku hanya…" Mark tidak menyangka, Ayahnya—ayahnya berkata sesuatu yang sangat ia tunggu, "Aku juga bertahan disini, seorang diri… karena aku ingin membuatmu bangga, kemarin itu—a—aku juga… berusaha sekuat mungkin untuk menang…"
"Kau tidak harus menang untuk membuat aku dan Ibumu bangga, kamu selalu bangga padamu"
Mark menahan sekuat tenaga agar tidak menangis saat itu juga. Baru kali ini dia merasa sangat merindukan keberadaan Ayahnya yang keras dan Ibunya yang selalu menjadi penengah di antara mereka
"Jadi jangan terpaku untuk menang sekarang, kejarlah impianmu… Kami akan selalu berada disini, menunggumu pulang, ketika kau menginginkannya, bukan karena paksaan"
SHIT!
Mark duduk di bangku taman, menundukkan kepalanya dalam dalam sambil berusaha mengusap matanya tanpa kelihatan siapapun
"Ngomong ngomong, kau punya teman yang baik" Bisa Mark rasakan Ayahnya juga kaku untuk bicara dari hati ke hati sehingga Ayahnya langsung mengubah topik pembicaraan
"Who?"
"Seseorang yang mengangkat telepon dariku ketika kau sedang tertidur"
Tidak mungkin salah satu dari Jackson, Jaebum ataupun Youngjae karena mereka langsung meninggalkan Mark sendirian di kamar sebelum Jiny—
"Ah Jinyoung"
"Jinyoung? Aku belum pernah mendengarnya, dia teman barumu?"
"Teman kamar yang baru, yes"
"Bilang padanya, Dad titip salam"
Dahi Mark berkerut curiga, "Apa yang kalian berdua bicarakan?"
"Tidak banyak" ucap Ayah Mark diikuti suara tawa yang menggelegar, "Hanya saja… aku tidak menyangka teman barumu bisa mengenal dirimu sebaik sahabatmu yang lain"
"Contohnya?" tanya Mark masih penasaran
"Dia berkata, 'Basket adalah dunia Mark'. Sungguh Mark jangan marah padanya karena mengangkat telepon dariku. Dia anak baik. Dia bahkan membelamu mati matian"
Sebuah senyuman lebar tergambar di wajah Mark sambil merilekskan posisi duduknya
"Tahu tidak Dad, apa yang aku rasakan setiap kali aku melihat Jinyoung"
"Apa?"
Mark bangkit berdiri, berjalan santai menuju luar gerbang—lupa dengan janji berkumpul di lapangan basket lalu malah melangkah ke arah asrama St Hana
"Aku merasa Jinyoung seperti cerminan diriku. Kami suka berada dalam situasi yang sama meski yah tidak 100% mirip, kau mengertikan Dad?"
"Hmm… mengerti, sangat mengerti malah…"
"Lalu aku juga bisa menebak bagaimana Jinyoung melakukan ini, melakukan itu karena aku seperti berkaca pada diri sendiri" Mark makin mempercepat langkahnya begitu sadar dua blok lagi, dia akan sampai di depan kamarnya
"Ini lucu"
"Apa yang lucu Dad?" balas Mark kesal mendengar suara tawa dari seberang saat Mark bercerita tentang kemiripannya dengan Jinyoung
"Lucu sekali karena aku juga merasakan hal yang sama ketika bertemu dengan Ibumu"
BRAKK
Refleks, tangan Mark membuka pintu kamar secara brutal
"Jangan bercanda Dad!"
"Hahaha"
Meski begitu, senyum lebar terus tertera di wajah Mark. Setelah mengucapkan janji akan menelepon lebih sering, Mark menutup pintu kamar di belakangnya
"Jinyoung?" panggil Mark sambil melangkah lebar lebar menaiki sekaligus dua anak tangga ke atas
Kemiripan Mark dan Jinyoung bahkan terlihat dengan adegan sekarang. Sama seperti Jinyoung menemukan Mark sudah terbaring di atas tempat tidur, begitu juga saat ini Mark menangkap sosok Jinyoung yang tertidur pulas di atas kasur
"Mungkin ia kelelahan" gumam Mark seraya berjalan mendekat, ia berlutut di samping Jinyoung lalu menatap wajah damai teman sekamarnya yang sedang terlelap
"Thank you…" Mark mencondongkan ke depan, menutup jarak lebih dekat lalu secara spontan mencium kening Jinyoung, "Thanks for everything…" bisik Mark sebelum mengubah posisinya menjadi duduk di samping tempat tidur
Jinyoung mengerang lembut—bersingut mendekati Mark disertai sebuah senyuman di wajahnya
.
.
.
TBC
.
.
.
Ada satu alasan kenapa gw ga bisa mengkatagorikan FF ini sebagai FF angst. Karena aslinya gw ga bisa nulis angst dan aslinya juga gw itu penulis komedi. Jadi maafkan aja kalau cerita serius ini gw selingi komedi, serius lagi, terus ganti komedi, ayolah biar suasana semakin ramai :D
Biar reader juga merasa seperti di atas rollercostter setiap kali baca FF ini hehehehe
Maafkan kalau ada kekurangan, yang pasti jangan larang saya ngelawak ya, kan ketawa bikin berkah hehehehe
Yang pasti semoga cerita ini bisa saya tuntaskan hingga akhir, dan sekali lagi maafkan kekurangan author bodoh ini ya
Saya cinta kalian, para reader. Karena kalianlah, ada yang namanya seorang author
Love,
Arisa a.k.a Krylun
