Chapter 6
.
.
.
"Ugh" Malam jam 12.39, Jinyoung yang masih terlelap, menggeliat tak karuan di atas tempat tidur. Entah terganggu oleh apa, perlahan lahan kedua mata Jinyoung terbuka—menyesuaikan dengan keadaan kamar yang gelap gulita
Dengan gerakan lamban, Jinyoung mengubah posisi menjadi duduk sambil mengusap kedua matanya. Sesekali ia pun menguap ngantuk lalu berpikir untuk melanjutkan tidurnya kalau saja tidak ada sekelebat bayangan melewati depan pintu kamar mereka
Bulu kuduk Jinyoung spontan bergidik, "Setahuku jam segini tidak mungkin ada siswa yang…" belum sempat berkata lebih lanjut, Jinyoung kembali melihat bayangan yang seperti langkah kaki seseorang melewati depan kamarny—
"Hyaaaaaaaaaa" Jinyoung memekik ketakutan seraya bangkit berdiri, meluncur turun ke bawah lalu
BRUK
Tanpa izin sang empunya kasur, Jinyoung langsung memaksakan diri berbaring di samping Mark dalam satu kasur single bad yang pas pasan
"Aissh ada apa ini?" gumam Mark yang refleks membalikkan badan menghadap ke arah Jinyoung, "Eh? Kau?"
"Aku tidur di tempatmu, boleh?" nada suara Jinyoung lebih bernada menutut ketimbang meminta yang membuat Mark agak menaikkan sebelah alisnya—tak percaya
"Kau punya kasur Jinyoung, ayolah~ jangan manja, sana tidur dikasurmu sendiri" kata Mark sambil mendorong tubuh Jinyoung menjauh tapi Jinyoung tetap bersikukuh, bahkan dengan posisinya yang berada di pinggir kasur, Jinyoung makin merasakan ada hawa tidak enak dari arah pintu kamar mereka berdua
"Mark! Sekali ini saja ijinkan aku tidur dikasurmu"
"Memangnya ada apa? Tidak biasanya?" ejek Mark meski dalam keadaan separuh mengantuk
Tubuh Jinyoung bersingut makin dekat ke arah Mark, "Ku—kurasa ada…" Jemari Jinyoung gemetar saat menunjuk ke arah pintu kamar, "Ada yang barusan 'lewat' Mark"
Mark setengah mati menahan tawanya saat mendengar nada ketakutan dalam suara Jinyoung
Ah ternyata anak nerd ini bisa takut hantu juga. Pikir Mark senang
"Oke untuk kali ini saja" balas Mark malas berdebat tengah malam begini
Jinyoung mengerang lega
"Kemari Jinyounggie… " bermaksud menggoda Jinyoung, Mark pun membentangkan kedua tangannya, namun yang tidak disangka, Jinyoung dengan polos malah menyeret tubuhnya mendekat
"…" Mark kehabisan kata kata, ia dengan grogi memeluk Jinyoung sambil sesekali menepuk belakang kepala teman sekamarnya itu
"Tidak ada yang namanya hantu, nerd" sindir Mark sekali lagi
"Ada bodoh!" balas Jinyoung sengit, namun tepukan lembut Mark di kepalanya membuat Jinyoung terbuai dan segera rasa kantuk itu datang lagi
Mark yang merasa nafas teratur Jinyoung menyapu pundaknya, akhirnya mendengus lega, "Nah sekarang bagaimana aku bisa tidur dalam posisi tangan terjepit seperti ini?! Great!" keluh Mark, pegal di tangan kirinya yang menjadi bantal kepala Jinyoung
Namun saat melihat Jinyoung yang bisa cepat terlelap, Mark tidak bisa berbuat apa apa. Ia hanya mencoba memejamkan mata sambil berusaha menjaga jarak tidak terlalu dekat dengan Jinyoung, tapi rasanya percuma—karena begitu Mark tertidur, kedua tangannya dengan otomatis mendekap Jinyoung makin erat dalam pelukannya
.
.
.
.
"Aisshh apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak ada Youngjae. Kurasa aku juga tidak mau mendengar penjelasan Mark soal ini."
"Aku sependapat denganmu Jaebum, ini urusan pribadi mereka. Biarkan saja"
"Tapi bisa jadi skandal satu sekolah, bayangkan berapa fans Mark yang bisa pingsan melihat posisi mereka sekarang" goda Youngjae masih terus senyam senyum sendiri di depan kasur Mark yang ternyata tidak didiami sendiri oleh sahabatnya
"Bukan urusan kita" sahut Jackson sok cuek tapi satu tangannya cekatan mengambil handphone lalu memotret Mark dan Jinyoung yang pagi itu masih belum terbangun juga
"Ya! Ya Jackson! Mark bisa marah!" Jaebum berusaha menghentikan Jackson yang memfoto Mark dan Jinyoung dari segala arah
"Tsk Jaebum! Foto ini suatu saat berharga, percaya padaku! Ayo kita kabur dari sini sebelum ketahuan Mark" Jackson buru buru mengantongi kembali handphonenya lalu lari keluar secepat mungkin
Youngjae dan Jaebum bengong sejenak sebelum berteriak, "Ya tunggu kami!"
Langkah kaki berisik itu berhasil membangunkan Mark dan Jinyoung. Mereka perlahan lahan mengusap kedua mata sebelum dengan jelas melihat ada orang lain di hadapan mereka saat ini
"Ya ampun!" pekik Jinyoung panik
"Mwo?! Kau yang memaksa tidur di kasurku—"
"Bukan itu bodoh, kita terlambat ke sekolah!" Jinyoung yang tidur membelakangi Mark bisa melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.59
"Shit!" Mark dan Jinyoung secepat kilat bangun dari tempat tidur lalu berganti baju tanpa sempat mandi *Kita sudah terlambat Mark Tuan, kata Jinyoung saat Mark protes*
Kedua orang ini berlarian sepanjang koridor asrama, berharap agar bisa tepat waktu masuk ke halaman sekolah
.
.
.
"Ah ah ah..." Napas Mark putus putus saat memasuki ruang kelasnya. Untung guru pelajaran pagi itu belum datang sehingga Mark bisa mengatur napas sejenak di bangkunya
"Kau pasti terlambat" ucap Jaebum dari bangku seberang
Mark mengangguk sambil mengeluarkan botol minum dari dalam tas, "Semua ini gara gara Jinyoung takut tidur sendiri! Aishhh…"
Jackson dan Jaebum menaikkan alis—sambil melemparkan tatapan tak percaya kepada Mark, "Owh… gara gara itu… kami –ehem- kira… uhuk.. yah…" kata Jaebum penuh arti
"Bicaramu kurang jelas!" kata Mark ketus, untung dia tidak menangkap raut mencurigakan nan menggoda dari duo JJ kalau tidak, mungkin Mark bisa menghajar mereka berdua saat itu juga
"Memangnya kenapa Jinyoung takut tidur sendirian?" tanya Youngjae tertarik
Mark menggeleng samar, "Aku juga tidak tahu pasti, dia bilang dia melihat sesuatu—semacam hantu lewat di depan kamar kami, tapi kurasa Jinyoung mengigau. Aku sendiri tidak pernah melihat apa apa padahal aku tidur di lantai bawah"
"Setahuku asrama kita tidak ada cerita seram atau semacamnya, mungkin Jinyoung hanya mimpi buruk" komentar Jackson
"Iya mungkin" Percakapan mereka terputus saat guru pelajaran pagi itu datang ke dalam ruang kelas
.
.
.
.
Sore hari itu, selesai Mark pulang dari latihan basket, Jinyoung mengajak Mark untuk mengambil laundry bersama di ruang cuci. Mereka berdua sekarang lebih akrab setelah hampir sebulan tinggal bersama. Sepanjang koridor, Mark bercerita tentang latihan basketnya yang makin hari semakin berat karena mereka harus mengumpulkan poin dalam pertandingan selanjutnya
"Kali ini kau harus datang menonton" ujar Mark
"Kalau tidak bentrok dengan—"
"Pelajaran, oke" kata Mark bernada menyerah
Jinyoung tersenyum lebar melihat raut kekecewaan di wajah Mark, "Akan kuusahakan! Tapi aku tidak bisa berjanji"
Mark mengulum senyum pelan, "Paling tidak kau berusaha" Ia meninju pelan pundak Jinyoung saat mereka berdua sampai di depan ruang cuci
Tapi ternyata langkah mereka terhenti melihat beberapa siswa bergerumul di depan ruang cuci sambil bicara dengan suara ketus
"Boxerku hilang!"
"Boxerku juga! Perbuatan siapa ini?!"
"Celana dalamku, 1..2..arghhh banyak sekali yang hilang!"
"Mereka kenapa?" Jinyoung dan Mark saling bertukar pandangan sebelum mendekati salah satu siswa yang mereka kenal
"Ada apa Shindong? Ada yang hilang?" tanya Jinyoung pada teman sekelasnya itu
"Boxer dan celana dalam siswa yang mencuci semalam hilang semua" ungkap Shindong dengan raut sedih—dia adalah salah satu korbannya, "Aku tidak tahu siapa yang iseng begini, tapi ini keterlaluan!" tambahnya agak marah sambil berjalan keluar
"Kurasa tidak ada siswa yang mau menyembunyikan boxer orang lain seiseng apapun dia" kata Mark sambil bersingut masuk ke dalam ruang cuci dan memeriksa keranjang miliknya
"Betul juga katamu, mencuri boxer orang—ewww" Membayangkannya saja membuat Jinyoung jijik, ia pun mengikuti Mark memeriksa keranjangnya
"Fuih~ untunglah milikku tidak ada yang hil—"
"Arghh! Boxer kesayanganku juga hilang!" erang Jinyoung kesal, diulangnya mencari hingga dasar keranjang, namun nihil—boxer Jinyoung raib tanpa jejak
"Kau yakin? Motifnya apa? Mungkin tercampur dengan milikku" kata Mark ikut membantu tapi Jinyoung keburu menggeleng sedih, "Boxerku berwarna kuning cerah—motif pikachu, kurasa akan terlihat mencolok di dalam tumpukan pakaianmu yang berwarna hitam, Mark… apa? Kenapa kau memalingkan wajah? Kau menertawaiku ya?! Hei!"
Mark menyerah, tubuhnya sampai membungkuk menahan tawa mendengar motif boxer Jinyoung, "Pikachu? Serius Jinyoung? Kenapa tidak sekalian kau memakai boxer motif doraemon hahahahahahaha"
Wajah Jinyoung berubah masam, "Apa salahnya menyukai pikachu? Iya! Aku menyukai pikachu sampai berusaha mengoleksi gantungan kuncinya dari mesin mainan di supermarket depan stasiun! Lalu apa itu masalah?!" katanya defensif
"Tidak, tidak masalah…" Mark berusaha mengerem tawanya saat merasakan tatapan tajam Jinyoung, "Oke.. ehem… bagaimana kalau kita melaporkan ini pada Heechul-shi? Dia kan Guru Kedisiplinan merangkap guru asrama?
.
.
.
Saat mereka mendatangi ruangan Heechul di ujung koridor, ruangan itu telah penuh oleh para murid yang tadi Mark dan Jinyoung temui di ruang cuci. Mereka secara bersamaan meneriakan hal yang sama
"Boxerku hilang!"
"Boxerku juga!"
"Apalagi milikku, itu boxer limited edition yang harus kau beli di Paris—"
"DIAM!" Teriakan kencang Heechul menghentikan seluruh protes, kedua matanya menyapu ke seluruh ruangannya yang penuh siswa, "Sekarang, kalian isi nama, kelas dan no kamar kalian serta isi barang apa yang hilang. Nanti aku bersama para guru yang lain akan mencari tahu siapa pelakunya. Dan satu lagi! Kwanghee, boxermu itu bukan limited edition, melainkan dijual eceran di pasar malam" penjelasan terakhir Heechul mengundang tawa dari sebagian siswa terkecuali Kwanghee yang langsung tertunduk malu
"Nah apa lagi yang kalian tunggu? Baris dengan rapi!" perintah Heechul yang langsung di patuhi oleh semua orang
"Yah harus mengantri lagi…" gumam Jinyoung agak malas melihat jumlah siswa hampir 20 berjejer di depan ruangan Heechul
"Daripada boxermu tidak balik Jinyoung? Bukannya itu boxer kesayanganmu, motif pikachu" ujar Mark bernada sok serius meski Jinyoung bisa melihat ejekan di sorot mata anak basket itu
"Kau?! Aishh!"
.
.
.
.
Malam harinya
.
Di lantai 2, bibir Jinyoung komat kamit membaca sederetan doa yang ia hapal sambil kedua tangannya terkatup. Kedua matanya terpejam rapat rapat—berusaha mengenyahkan rasa takut yang membuat keringat dingin mengucur di keningnya
Ini sudah jam 11 malam, jangan salahkan Jinyoung kalau semenjak kemarin malam dia tidak bisa langsung tidur
Jinyoung hanya bisa berbaring gelisah tanpa bisa terlelap sama sekali, apalagi beberapa kali ia merasa ada kilatan cahaya dari arah pintu—cahaya yang terhalang bayangan sepasang kaki…
"Tidak!" untuk kedua kalinya, Jinyoung buru buru turun dari tangga sambil membawa bantal kesayangannya
"Mark…"
"No!"
"Ayolah Mark"
"Argh!" Mark yang tadinya mau mengacuhkan Jinyoung, akhirnya terbangun—ia duduk di kasurnya dengan perasaan kesal, "Tidak ada yang namanya hantu Jinyoung, itu hanya perasaanmu"
"Tapi barusan aku lihat—coba kau yang lihat, kalau tidak percaya!" Jinyoung menyeret Mark berdiri lalu menunggu di depan pintu kamar
1 menit…
2 menit…
Hingga 5 menit… Mark berdiri dengan kedua tangan melipat di dada dan menatap tajam ke arah Jinyoung yang menundukkan kepala, "Tadi… ada yang lewat… kenapa kalau kau yang melihat dia malah tidak muncul…"
"Karena yang kau lihat itu memang tidak ada! Aishh sudah jangan ganggu aku lagi! Tidur sana ke atas!" usir Mark tanpa ampun sambil berbaring nyaman kembali di tempat tidur
"Mark…" kata Jinyoung memohon
Mark menggulingkan tubuhnya membelakangi Jinyoung—masa bodoh. Dia tidak mau kejadian mereka telat ke sekolah terulang lagi, mana pakai acara ngga mandi lagi!
Merasa tidak ada harapan, Jinyoung menghembuskan napas dengan berat. Ia tidak mungkin kembali ke atas seorang diri… jadi lebih baik…
BUK
Jinyoung menepukkan bantalnya di lantai samping kasur Mark sambil mencoba memejamkan mata
Di satu sisi, Mark yang merasa Jinyoung masih ada di sampingnya—langsung berbalik dan benar saja, kedua mata Mark melebar saat menangkap tubuh Jinyoung meringkuk di atas lantai kamar
"Kau?! Tsk! Baiklah! Kau boleh tidur denganku! Bangun Jinyoung!" perintah Mark separuh kesal separuh cemas karena Jinyoung tidur tanpa alas sama sekali
"Tidak usah, katamu kau tidak mau terganggu" Mark menganga tak percaya—bisa bisanya Jinyoung sok merajuk di saat seperti ini
"Aku tidak akan mengulangi penawaranku untuk kedua kali" ultimatum Mark berguna, Jinyoung langsung bangkit berdiri lalu…
"Boleh aku tidur di pojok, aku takut Mark…"
Mark memutar kedua bola matanya, Jinyoung benar benar membuatnya susah kali ini. Ia pun menggeser tubuh—memberikan ruang untuk Jinyoung berbaring
Jinyoung loncat ke atas kasur dengan perasaan senang sambil melempar senyum pada Mark yang balas menatapnya datar
"Tidur" ucap Mark jengkel
"Baik" balas Jinyoung tak kalah ketusnya
Seperti dugaan Jinyoung, tidur di samping Mark membuat perasaan takutnya langsung menguap dan dalam hitungan detik, Jinyoung langsung terlelap
"Dasar menyusahkan" gumam Mark sambil sebelah tangannya bergerak ke belakang kepala Jinyoung lalu menepuknya pelan
.
.
.
.
"Kita telat lagi!" teriak Jinyoung pagi itu
"Ini semua gara gara kau!" balas Mark yang serabutan mencari sepasang kaus kaki setelah berganti baju dengan kilat, dan seperti tebakan Mark—mereka tidak sempat mandi lagi!
Jinyoung tidak membalas ucapan Mark. Untung ia membelakangi Mark saat memakai sepatu sehingga teman sekamarnya itu tidak bisa melihat wajah Jinyoung yang memerah
Jinyoung juga bingung, dia tidak pernah telat sebelumnya bahkan tanpa perlu dibangunkan dengan alarm seperti yang Mark lakukan
.
.
.
"Itu karena kau terlalu nyaman tidur dengannya hyung" seloroh Yugyeom saat Jinyoung bercerita padanya pada jam istirahat
Jinyoung memutar kedua bola matanya
"Memang benar kataku? Ayo jujur saja padaku Hyung, apa kau dan Mark hyung—" Yugyeom menyikut pelan pinggang Jinyoung yang menatap aneh pada adik kelasnya itu
"Tidak ada apa apa, aw sakit Yugyeom! Hentikan" seru Jinyoung yang membuat Yugyeom berhenti menggoda hyungnya
"Baiklah~ sekarang kita mau kemana? Bel berbunyi 15 menit lagi" Selagi Yugyeom mengecek jam pada arloji di tangannya, Jinyoung menyapu sekeliling kantin yang tampak di hadapan mereka.
Jinyoung tadinya ingin masuk sekedar membeli roti untuk cemilan tapi begitu tatapannya bersinggungan dengan Mark yang masih nongkrong di kantin bersama teman temannya. Jinyoung membeku
Mark melemparkan tatapan kesal lalu membuang muka dari Jinyoung
"Apa apaan dia?!" geram Jinyoung sambil mengepalkan kedua tangannya
"Ada apa denganmu hyung? Mau kembali ke kantin?" tanya Yugyeom yang tidak tahu kejadian barusan
"Tidak kita kembali ke kelas saja"
Yugyeom menatap Jinyoung sangsi sebelum mengangguk pelan, "Ok" Sebelah tangan bebas Yugyeom bergerak merangkul Jinyoung sambil kedua sahabat itu berbalik menjauh dari depan kantin
"Kau lihat apa Mark?" celetukan polos Youngjae membuyarkan tatapan Mark
"Tidak, tidak apa apa" balas Mark memelankan suaranya sambil sibuk mengaduk makanannya
.
.
.
"Si bodoh itu! Aku tahu tadi malam aku memang menganggunya tidur. Ah tidak—dua hari ini! Tapi bisa tidak dia mengatakan langsung padaku daripada menatapku sinis begitu, dasar bodoh" gerutu Jinyoung tak ada habisnya. Untung sekarang dia pulang ke asrama sendiri tanpa bersama Yugyeom karena bisa ditebak adik kelasnya itu pasti menggoda Jinyoung habis habisan
Jinyoung berhenti tepat di depan gerbang ketika mendengar seruan kekaguman dari para siswi sekolah lain yang biasa menonton latihan basket sekolah mereka
"Apa sih yang mereka kagumi dari sekelompok orang berebutan bola, lebih baik belajar" ejek Jinyoung hendak melangkah lagi kalau seruan itu tidak semakin kencang terdengar
"Kyaaa Mark melihatmu Nayoung!"
"Ji—jinja?"
"Apa kau tidak lihat? Kau beruntung sekali~~"
Beberapa petikan suara itu makin jelas ditelinga Jinyoung karena yeah—langkah kaki Jinyoung malah berjalan mendekati segerombolan siswi di depan lapangan basket
"Lihat! Dia melihatmu lagi!"
Jinyoung berhenti seketika
Meski berada paling belakang, Jinyoung bisa melihat sosok Mark yang ia tahu betul di tengah lapangan sana—namun bukan itu yang membuat Jinyoung terpaku
Melainkan tatapan mata Mark jelas jelas tertuju pada sosok yeoja berambut panjang, memakai tas ransel berwarna pink ; penuh dengan gantungan kunci yang berada paling dekat lapangan
"Kau beruntung Nayoung! Mark biasanya mengacuhkan kita!" pujian dari temannya membuat gadis bernama Nayoung itu tersipu
"Dia biasanya malah mengacuhkan siapapun…" bisik Jinyoung parau dengan lunglai berbalik meninggalkan lapangan basket
.
.
.
.
"Jinyoung"
"Hmm"
"Hei Jinyoung, aku memanggilmu kau dengar tidak?!"
"Iya aku dengar" balas Jinyoung tanpa mau susah payah mengangkat tubuhnya dari atas kasur
Mark yang berteriak dari bawah, berdecak kesal, "Seharusnya aku yang mendiamkanmu tapi kenapa malah?!" gumam Mark sangat pelan sebelum menghela napas dalam dalam, "Kalau kau malam ini mengendap endap lagi ke bawah—"
"Tidak" kali ini Jinyoung sengaja mengeraskan suaranya
"Eh?" giliran Mark terkejut
"Kali ini aku tidak akan menganggumu" Jinyoung makin membenamkan kepalanya ke dalam bantal—sekelebat bayangan siang tadi muncul ke dalam ingatannya dan itu membuat tekad Jinyoung makin bulat, "Ada hantu atau pembunuh bayaran sekalipun yang mengejarku sampai kemari, aku tidak membangunkanmu, jadi tenanglah!" tambah Jinyoung terbawa emosi, ia terengah engah sebentar sebelum mengucapkan kata terakhir, "Selamat malam"
Mark terhenyak sebelum mendengus tak percaya, "Anak itu kenapa sih, aneh"
Jinyoung yang mendengar ucapan Mark hanya bisa menutup wajah dengan selimut
Jinyoung tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ini bukan soal gadis tadi siang bukan? Apa salahnya jika Mark—akhirnya tertarik dengan lawan jenis?
Tidak. Jawab Jinyoung meyakinkan diri sendiri, tapi lebih kepada… Jinyoung merasa terkhianati
Jinyoung mengira impian Mark ingin menjadi pemain basket. Pria berambut merah itu akan fokus pada dunia basket seperti Jinyoung ketika belajar
Tapi ketika dunia Mark bisa teralih dengan mudah oleh kehadiran seorang gadis, lantas Jinyoung bisa berkata apa?
"Aku bukan mau melarangnya… hanya saja… aku merasa seperti berjuang sendiri lagi…" bisik Jinyoung yang jelas kembali tidak bisa tertidur malam itu
DRAP
"Eh?" Dalam keheningan malam, Jinyoung bisa mendengar derap langkah di atas anak tangga
DRAP
"Andwee… ayolah aku tadi hanya bercanda mengatakan soal hantu atau pembunuh bayaran" ucap Jinyoung ketakutan, ia pun semakin menutup kedua matanya sambil meremas kuat selimutnya
DRAP
DRAP
Seluruh tubuh Jinyoung bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi keningnya apalagi ketika langkah kaki itu bergerak mendekat. Jinyoung makin merengkuh dirinya ke dalam selimut
DEG
Kedua tangan memegangi pundak Jinyoung
"Hei! Tenanglah ini aku Mark"
Jinyoung membelalakan matanya lebar lebar—raut wajah familiar Mark yang tampak cemas ada di depannya.
"Aku bisa mendengar suaramu menggumam dari bawah, kau dari tadi tidak bisa tidur? Lihat keringatmu banyak sekali" Mark menarik ujung selimut Jinyoung lalu memakainya untuk menyeka wajah Jinyoung yang masih terdiam dari tadi
"Hei?! Jinyoung? Kau tidak apa apa?"
Jinyoung menatap Mark jengah, tidak apa apa? Andai Mark tahu kalau dialah yang membuat Jinyoung ketakutan dan dia juga yang membuat Jinyoung tidak bisa tidur sama sekali
"Dengar, maafkan aku karena telah bersikap kasar tadi siang dan barusan. Mau kutemani tidur di atas sini?" tawar Mark yang membuat pupil mata Jinyoung melebar tak percaya
Jinyoung langsung mengangguk sambil menyisih hingga punggungnya menabrak tembok dinding
Mark secara lugas berbaring di samping Jinyoung sambil menepuk kepala teman sekamarnya itu
"Kau bisa tidur sekarang" bisik Mark mengubah posisinya berhadapan dengan Jinyoung
"Mark" panggil Jinyoung
"Hmm"
"Hal apa yang menurutmu paling penting saat ini?"
"Basket" jawab Mark spontan, "Dan keluarga, sahabat…" tambah Mark setelah berpikir cepat
Jinyoung membaca raut wajah Mark yang tampak rileks, "Kau tidak pernah berpikiran untuk yeah… berkencan?" tanyanya ragu ragu
"Tidak" balas Mark
"Atau mungkin tertarik dengan seorang yeoja?" kata Jinyoung memancing Mark
"Tidak, apa maksud pertanyaan—" Mark menatap lurus lurus ke arah Jinyoung, meski dalam gelap Mark bisa melihat ada semburat merah di wajah Jinyoung setiap kali dia malu atau…
"Kau sedang tertarik dengan yeoja?" tebak Mark tajam
"Mwo! Kenapa jadi aku?" balas Jinyoung sambil menganga lebar
"Karena nada bicaramu seolah olah ingin meminta nasihat kencan dariku, dengar Jinyoung, mungkin kelihatannya aku expert dalam hal pacaran tapi tidak. Kenyataannya tidak. Itu Jackson bukan aku. Dan lebih baik kau jangan berpikir soal yeoja dulu, tidak baik untuk juara kelas sepertimu"
"Tidak, aku juga sedang tidak tertarik dengan yeoja manapun" Jinyoung merapatkan selimutnya sambil menghela napas lelah
"Good, tidak bagus untukmu" Mark tersenyum lebar sebelum menutup matanya di samping Jinyoung
"Lalu kenapa tadi siang…" Jinyoung tidak sanggup bicara lebih lanjut saat melihat wajah damai Mark yang rela menemaninya *lagi* malam itu
"Ah sudahlah"
.
.
.
.
"Hyung, kau kelihatan lelah akhir akhir ini" komentar Yugyeom yang menemani jam istirahat Jinyoung seperti biasa
Jinyoung menghela napas, "Yeah ada beberapa hal yang terjadi" gumamnya
"Contohnya?" pancing Yugyeom ingin tahu
"Hmm… macam macam" jawab Jinyoung ambigu setelah beberapa saat terdiam. Ia ingin memberitahu Yugyeom tentang penampakan tengah malam di depan kamar asrama tapi mengingat reaksi Yugyeom yang berlebihan bisa bisa adik kelasnya itu malah menyuruh Jinyoung langsung pindah kamar
"Bukan Mark kan?" goda Yugyeom disertai seringai lebar dan sepasang alis yang naik turun di depan Jinyoung
"Tidak!" jawab Jinyoung agak keras, ia jadi kesal lagi mengingat sikap Mark yang sekarang berubah… bagaimana Jinyoung menggambarkannya, terlalu baik?
Bukan hal buruk untuk Jinyoung melihat hubungan teman sekamar mereka semakin baik, tapi kalau hal itu diikuti dengan perubahan drastis Mark di atas lapangan... Jinyoung memilih sosok Mark yang dulu—yang tidak peduli apapun dan siapapun
"Aishhh kenapa aku harus memikirkannya sih!" Jinyoung mengacak rambutnya frustasi
"Hyung! Rambutmu jadi berantakan, dasar" Yugyeom tertawa pelan sambil membetulkan rambut yang menutupi kening Jinyoung
"Apa yang bisa kulakukan tanpamu" bisik Jinyoung lembut
"Tidak ada" balas Yugyeom penuh canda.
Setelah menghabiskan susu kotak mereka di atas meja, Jinyoung dan Yugyeom bergegas kembali ke kelas masing masing.
Dari 2 meja sebelah kanan dari tempat mesin minuman, Youngjae tersenyum lebar penuh arti, "Kulihat akhir akhir ini kau sedang memperhatikan seseorang" Youngjae berkata pada pria yang malah memutar bola matanya, seolah mengelak
.
.
.
.
Pintu kamar yang tiba tiba terbuka sedikit mengagetkan Jinyoung yang sedang tidur terlentang di atas sofa sambil membaca novel kesayangannya. Jinyoung sedikit menegakkan tubuh untuk melihat ke bawah siapa yang datang
"Hanya Mark" gumam Jinyoung kembali membaca novel tapi sedetik kemudian Jinyoung tertegun heran, "Tidak biasanya dia pulang selama ini"
Tidak sampai 5 menit Mark pulang, pintu kamar mereka terbuka lagi dan kali ini para sahabat Mark berceloteh senang yang memenuhi seluruh ruangan
"Keajaiban itu nyata! Amin~" kelakar Jackson sambil membentangkan kedua tangannya ke atas
Mark memutar kedua bola matanya, "Aku mandi dulu"
"Iyalah, kau harus berpakaian rapi karena malam ini kita mau blind date!" kata Jaebum senang
Dilantai atas, Jinyoung langsung menjauhkan buku novel dari wajahnya yang berubah terkejut
"Mark… mau?" Belum sempat Jinyoung berkata lagi, ia mendengar shower di kamar mandi menyala dan segera ketiga sahabat Mark bergosip di lantai bawah
"Biasanya dia tidak mau ikut kalau kita ajak, ini agak aneh—jujur" komentar Jackson pada Jaebum dan Youngjae
"Sangat aneh" balas Youngjae mengangguk setuju, "Dan apa kalian lihat raut wajah Mark berubah pas aku menyebutkan nama yeoja yang ikut? Kurasa diantara gadis itu ada yang menarik perhatian Mark, kalau tidak, masa dia langsung berteriak ingin ikut"
"Memang siapa saja mereka?" tanya Jaebum penasaran
"Mereka teman sekelas yang suka menonton latihan basket kita. Park Sunyoung, Oh Nami, Park Jisun dan Kwan Nayoung" kata Youngjae menghitung jari
Tanpa sepengetahuan mereka, Jinyoung menguping dari atas sana dan seperti yang bisa ia tebak, cepat atau lambat, ketakutan yang ia duga akhirnya terjadi juga
"Kwan Nayoung… gadis itu…" bisik Jinyoung lirih, langsung saja Jinyoung menjatuhkan diri di atas kasur sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam bantal
Obrolan selanjutnya dari Jackson, Jaebum dan Youngjae tidak didengarkannya hingga suara panggilan Mark yang khas berteriak memanggil nama Jinyoung
"JINYOUNG!"
"Yeah aku mendengarmu" balas Jinyoung malas malasan sambil kembali membanting wajahnya ke atas bantal
"Aku akan pergi keluar—"
"Setahuku ada jam malam" potong Jinyoung datar
"Apa kau mau melaporkan kami!" kata Jackson agak defensif
"Tidak, dia tidak akan berbuat begitu" sanggah Mark cepat cepat
"Dan kalian kan tidak boleh keluar asrama" tambah Jinyoung lagi tanpa memperdulikan ucapan Mark
"Jinyoung… ayolah… hanya sebentar" bujuk Mark sedemikian rupa
"Sudahlah Mark, kita tidak harus minta ijin dia. Lagipula kalau Heechul sampai tahu kita bisa menebak siapa yang melaporkan kita" ucap Jaebum dingin
Jinyoung terdiam lagi. Benar kata Jaebum dan Jackson. Dia tidak punya hak apapun melarang kesenangan orang. Ayolah dulu dia tidak peduli, kenapa sekarang Jinyoung malah bersikap kekanak kanakan
"Kami pergi dulu" kata Mark terakhir kali sebelum pintu kamar benar benar tertutup, menyisakan Jinyoung dalam keadaan sangat gelisah karena seperti dugaan Jinyoung, Mark yang biasa lebih senang sendirian di dalam kamar, tidak pernah mengacuhkan ajakan temannya tapi malam ini malah dengan senang hati ingin pergi. Dan itu karena gadis yang bernama Kwan Nayoung
.
.
.
Hingga jam 9 tidak ada tanda tanda Mark akan kembali. Jinyoung bergerak gusar di atas tempat tidurnya. Suasana sunyi senyap malam itu semakin mencekam bagi Jinyoung.
Berulang kali Jinyoung berusaha menutup rapat rapat kedua matanya, sambil mengucapkan kata kata yang sama, "Tidak ada apa apa Jinyoung, tidurlah. Tidak ada bayangan hitam yang lew—Arghhhh!"
Begitu kedua mata Jinyoung berusaha mengintip, ia bisa melihat kilatan cahaya lampu terhalang oleh sesuatu hingga membentuk siluet yang jelas sekali lewat di depan kamarnya dan Mark
"Ma—mark…" Percuma Jinyoung memanggil nama itu, karena sekarang Mark berada entah dimana dan memikirkan Mark hanya membuat Jinyoung mulai sedih
Ia sendirian malam ini dan segera—kemungkinan Jinyoung akan selalu sendirian.
"Yugyeom…" Jinyoung segera menyambar handphone dari atas lemari kecil lalu menghubungi cepat cepat sahabatnya itu
"Hyung? Ada apa malam malam—"
"Yugyeom, tolong aku!"
Pekikan suara ketakutan Jinyoung segera membuat Yugyeom yang sudah tertidur langsung bangkit dari kasurnya lalu keluar kamar dan bergegas lari satu lantai ke bawah
Entah disengaja atau tidak, urutan tingkatannya juga berpengaruh pada urutan kamar di asrama.
Kamar di lantai tertinggi yaitu lantai 3 dikhususkan pada junior kelas X, lantai 2 untuk kelas XI—Kelas Jinyoung, Mark, Jackson, Jaebum dan Youngjae lalu untuk lantai dasar ditempati oleh senior mereka, kelas XII, mungkin ini dimaksudkan agar murid paling senior bisa di awasi oleh guru kedisiplinan mereka yaitu Kim Heechul sebagai satu satunya guru yang tinggal di asrama
Begitu sampai di kamar Jinyoung, Yugyeom langsung naik ke lantai 2 dan menemui Jinyoung membungkus tubuhnya dengan selimut hingga ke atas kepala
Setelah mendengar cerita Jinyoung mengenai penampakan yang akhir akhir ini dia lihat, Yugyeom ikut histeris. Adik kelasnya itu juga berteriak ketakutan kemudian seperti yang bisa ditebak oleh Jinyoung
"Hyung kau sebaiknya pindah dari kamar ini!" saran Yugyeom membuat Jinyoung memutar kedua bola matanya
"Tidak semudah itu! Ayolah, temani aku tidur disini" pinta Jinyoung masih ketakutan
"Andwee Hyung! Kau tahu aku juga penakut" tolak Yugyeom spontan namun sejenak ia tersenyum lebar, "Kalau mau hyung tidur dikamarku saja di lantai atas, disana pasti tidak ada apa apa, ayo"
Jinyoung tidak punya pilihan lain, dia tidak mungkin tinggal di kamar ini seorang diri. Setelah membawa bantal kepalanya, kedua sahabat itu buru buru pergi keluar lalu bergegas menaiki tangga menuju asrama di lantai 3
.
.
.
Jam 10.13
.
Setelah berpisah dengan Jackson, Jaebum dan Youngjae, Mark berjalan riang sambil bersiul menuju kamarnya yang berada di ujung gedung asrama. Sebelah tangan kanan Mark memainkan sesuatu berbentuk lingkaran seperti telur bulat yang transparan, di dalamnya terdapat gantungan kunci figur kartun
KREK
"Jinyoung?" bisik Mark sambil menengadahkan kepala ke arah lt 2 tempat tidur Jinyoung berada
"Aneh, dia bisa di tidur nyenyak, kukira…" Mark mengangkat bahu sambil melepas jaketnya, menaruh di atas kasur dengan sovenir yang ia bawa tadi. Seolah terbiasa, Mark berjalan pelan ke arah anak tangga seolah tidak mau mengganggu tidur Jinyoung
"Jin… you—dimana dia?" Mark kaget setengah mati, buru buru dia turun meluncur ke bawah lalu belok ke arah kamar mandi
BRAK
"Jinyoung?" panggil Mark sambil membanting pintu
Nihil
Pikiran Mark berubah panik, serampangan diambilnya handphone dari saku celana mencoba mencari kontak Jinyoung namun lagi lagi percuma
"Shit! Kenapa aku baru sadar tidak punya nomor handphonenya, aishhh" Mark mengacak rambutnya kesal, kedua matanya mencari cari jalan keluar dalam kegelapan
"Heechul-shi!" Mark berteriak kencang seraya berlari keluar kamar lalu menuju kamar guru kedisiplinan mereka di lantai dasar
.
.
.
"Pengumuman Penting! Di cari murid bernama Park Jinyoung, sekali lagi saya ulangi, Park Jinyoung dari kelas XI supaya segera menghadap!" ucap Heechul memberikan pengumuman dari pengeras suara yang terpasang di setiap sudut lantai asrama
Pengumuman mendadak itu otomatis membangunkan hampir seluruh penghuni asrama, dari lantai 1 hingga lantai 3 bergegas keluar dari kamar mereka dengan bertanya tanya
"Apa dia bikin masalah?" gurau salah satu senior sambil menguap lebar
"Atau Heechul-shi iseng ingin memberitahu entah penghargaan apa lagi yang diterima oleh Jinyoung, dia kan pintar" sindir teman senior itu yang melirik ke sepanjang koridor penuh murid terbangun
.
.
Sementara di kamar Yugyeom di lantai 3
.
"Hyung? Kenapa Heechul-Saem memanggilmu? Kau bikin kesalahan?" tanya Yugyeom cemas
Jinyoung menggeleng tak yakin, "Kurasa tidak ada, sebaiknya aku cepat ke bawah" Sambil di temani Yugyeom, Jinyoung keluar kamar lalu berjalan menuruni tangga, sepanjang perjalanan Jinyoung tertunduk malu—menghindari tatapan ingin tahu dari para junior dan pada lantai 2, teman teman seangkatan Jinyoung juga langsung menoleh ke arahnya
Sebenarnya ada apa ini! Pekik Jinyoung dalam hati. Untung ada Yugyeom di sampingnya kalau tidak Jinyoung bisa kabur menahan malu saat beberapa murid menatap penuh amarah seolah panggilan tadi sudah mengganggu tidur mereka
"Jinyoung!" panggilan seseorang membuat perhatian Jinyoung teralih, di lantai bawah—dekat ruang penyiaran, tampak wajah Mark yang mengeras berubah rileks sambil berjalan cepat menghampiri Jinyoung
"Kau kemana saja!" suara Mark meninggi
"Aku—" Jinyoung menjawab dengan gugup—dari balik pundak Mark, ia bisa melihat sosok Heechul yang mendesah lega
"Dia tidak hilang bukan, sudah kubilang dia masih di dalam asrama" tegur Heechul dengan wajah jengkel setengah mati
"Tapi tetap saja, aku kira…" Mark meremas kedua bahu Jinyoung hingga terasa sakit, "Kau darimana?" tanya Mark sekali lagi
Aneh, ini terasa aneh, karena wajah Mark tampak sangat khawatir, oh my—jangan katakan!
"Jadi kau yang menyuruh Heechul seosaengnim membuat pengumuman tadi?!" tanya Jinyoung tidak percaya
"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab aku, kau darimana!" Mark mempertegas kalimatnya
"Dia dari kamarku" Yugyeom membela Jinyoung sambil berdiri di samping hyungnya, "Hyung ketakutan sendirian di kamar lalu menghubungiku dan aku membawanya ke kamarku"
Mark terdiam seribu bahasa
"Nah sudah jelas masalah kalian? Sekarang kalian semua kembali TIDUR!" Perintah Heechul tidak perlu diulang dua kali, semua murid yang ketakutan langsung menghambur masuk ke dalam kamar, meninggalkan Mark, Jinyoung dan Yugyeom bertiga di depan kamar Heechul
"Kalian juga tidurlah, dan Mark—kalau sekali lagi kau membangunkan hanya untuk masalah pribadi, Kau—" Heechul membuat sebuah garis vertikal di dekat lehernya, "Mengerti?"
"Baiklah" desah Mark lelah
"Bagus" kata Heechul langsung menutup pintu kamarnya
"Aku juga mau tidur, Hyung—kau masih mau dikamarku atau…"
"Engg" Jinyoung melirik ke arah Mark sebelum menundukkan kepalanya saat tatapan mereka bertemu, "Aku terlanjur membawa barang barangku ke dalam kamar Yugyeom, jadi malam ini, aku tidur di kamarnya" beritahu Jinyoung sambil menggaruk belakang kepalanya
Kedua mata Mark melebar, "Oh" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya
"Yeah, sampai besok" ucap Jinyoung buru buru menarik Yugyeom menjauh, Yugyeom menatap hyungnya bingung, "Kau tidak membawa apapun selain bantal kesayanganmu hyung" sindir Yugyeom saat mereka cukup jauh dari Mark
"Diam" balas Jinyoung malas
"Kurasa setelah apa yang dilakukannya, kau agak keterlaluan hyung—aku berani jamin Mark hyung tahu mengenai ketakutanmu bukan makanya dia langsung kalang kabut mencarimu hingga berani membangunkan si macan Heechul" setiap perkataan Yugyeom menambah beban di dada Jinyoung semakin berat
Apa dia memang keterlaluan?
Tapi…
"Mark tidak selamanya bisa menemaniku, malam ini saja contohnya—dia punya jadwal dating so… aku harus terbiasa di tinggal sendirian" kata Jinyoung berusaha terdengar normal
Yugyeom menatap penuh simpati pada Jinyoung
"Hyung… kalau dia punya orang lain seperti pacar misalnya, masa Mark hyung masih bisa memikirkanmu ketika berada di kamar. Ayolah hyung, kau kan jenius, masa kau tidak tahu, kalau Mark hyung tidak menaiki tangga, dia tidak bisa melihat jelas kau ada atau tidak di atas tempat tidur, tapi ternyata apa? Mark hyung tahu kau tidak ada, berarti… dia bahkan sampai pergi ke atas, Mark memperhatikanmu Jinyoung hyung"
Langkah Jinyoung terhenti tepat di depan kamar Yugyeom
"Kau yakin masih mau tidur di kamarku?" bisik Yugyeom dengan lembut
.
.
.
Mark merebahkan diri di atas tempat tidurnya dengan pandangan menerawang ke atas. Cahaya rembulan menembus dari jendela di lantai atas—kamar Jinyoung
Dalam diam dan keadaan gelap, tidak lantas membuat Mark bisa tertidur. Berkali kali, Mark merubah posisi hingga akhirnya dia kembali duduk sebelum akhirnya mengambil minum dari belakang
Ia menatap ke sekeliling ruangan yang terasa sepi, melihat ke langit langit kamar untuk mengusir kebosanan. Seharusnya Mark bisa tertidur, seharian ini dia lelah berlatih basket hingga jam 6 lalu pergi lagi dengan teman temannya
Namun entah kenapa, Mark masih terjaga sambil menatap handphonenya dengan bosan
Ia menatap chat dari Jackson, Jaebum dan Youngjae dalam grup mereka
Ketiga sahabatnya mengatakan hal yang sama, 'Ada apa dengan teman sekamarmu?'
Mark tertawa, rupanya Jackson, Jaebum dan Youngjae belum tahu bahwa Mark-lah yang memaksa Heechul untuk membuat pengumuman mendadak, beruntunglah angkatan mereka berada di lantai 2 kalau tidak, Jackson pasti sudah mengatai Mark gila karena berbuat senekat itu
'Tidak ada apa apa' balas Mark cepat. Ditaruh kembali handphone di atas meja lalu mencoba untuk tidur sekali lagi
KREK
Mark terkesiap saat pintu terbuka dan tampaklah Jinyoung muncul sebelum buru buru menutup pintu kamar
Mereka saling bertatapan
"Aku", "Aku" ucap Mark dan Jinyoung bersamaan
Mark tertawa kecil sebelum mengubah posisinya hingga terduduk di tepi kasur, "Maafkan aku, seharusnya aku tidak pulang semalam ini lalu meninggalkanmu padahal aku tahu—yeah…"
Jinyoung tersenyum simpul, benar kata Yugyeom—bahkan sekarang Mark minta maaf padanya, padahal…
"Kau tidak punya keharusan untuk menjagaku Mark, aku… bisa mengatasinya sendiri… sudahlah lagipula tidak selamanya kau bisa berada disini setiap malam" tambah Jinyoung seolah olah hal itu sudah jelas
"Maksudmu?" Mark mengerutkan keningnya
"Yah… kau akan sering hangout bersama pacarmu, hahaha" Jinyoung tertawa kikuk namun ia langsung berhenti begitu wajah Mark berubah serius, "Pacar? Apa sih maksudmu Park Jinyoung"
Gantian, Jinyoung yang tampak heran, "Kudengar dari Jackson tadi kalian pergi blind date" ungkapnya
"Iya lalu? Astaga!" Mark menepuk keningnya seolah baru paham sesuatu, "Kau kira aku pergi ke? Aishh, kemarilah" ia memanggil Jinyoung mendekat, Jinyoung yang masih kebingungan menurut ajakan Mark lalu duduk di atas tempat tidur
Mark mengambil sesuatu yang ia bawa kemudian menyerahkannya ke dalam tangan Jinyoung, "Ini untukmu"
Jinyoung berusaha membawa raut wajah Mark yang tidak terbaca dalam kegelapan malam
"Apa ini?" tanyanya
"Oh sebentar" Mark berdiri untuk menghidupkan lampu ruangan. Kedua mata Jinyoung menyipit karena kilatan cahaya sebelum menatap benda di tangannya
Jinyoung menganga lebar sebelum terperanjat, "Ini kan?!"
Mark mengangguk penuh semangat
"Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Aku terus mencobanya hampir setiap kali tapi tidak bisa mendapatkan seri pikachu" erang Jinyoung kecewa seraya membuka bungkusan luar transparan yang berbentuk seperti telur tersebut, "Kau lihat gantungan kunciku yang banyak diransel bukan? Aku bahkan dapat seri mario bross 5 kali! Ughh, Yugyeom sampai tidak mau kubagi lagi. Belum seri doraemon ada 2, seri mikey mouse…" Jinyoung terus menghitung ulang koleksi gantungan kuncinya yang didapat dari mesin mainan depan stasiun sementara Mark menatapnya dengan lembut
"Lalu kau bisa bagaimana bisa tahu aku menginginkan ini?" Unjuk Jinyoung mengangkat gantungan pikachu tepat di hadapan Mark yang mengangkat kedua bahunya, "Kau pernah mengatakannya ketika berita boxer para murid hilang" beritahu Mark
"Tapi kejadian itu sudah tiga hari yang lalu… bagaimana kau…" Jinyoung kehilangan kata kata sambil menatap wajah Mark yang menatapnya ingin tahu, "Kau bilang apa Jinyoung?" tanyanya
"Tidak—tidak ada apa apa" Jinyoung mengelus kembali gantungan kunci itu di sertai senyuman lebar, "Susah sekali mendapatkannya karena mesin itu mengacaknya secara random, aku sampai bertengkar dengan adjumma pemilik toko dan menuduhnya berbohong soal seri pikachu…" desahnya panjang
"Adjumma itu tidak bohong karena aku melihat salah seorang yeoja memakai gantungan pikachu di tasnya ketika menonton kami di lapangan basket" ujar Mark yang membuat perhatian Jinyoung teralih
"Yeoja…" ulang Jinyoung dengan kedua mata terbelalak
Mark mengangguk kecil, "Tanpa sengaja aku melihatnya saat berdiri di pinggir lapangan dan begitu aku tahu dia termasuk dalam daftar blind date yang diadakan Jackson, aku langsung setuju datang!" penjelasan Mark ini hampir membuat Jinyoung mengerjapkan mata berulang kali
"Tapi dia benar benar menyukaimu…" bisik Jinyoung mengasihani gadis yang bernama Nayoung
"Aku tidak memberikan dia harapan apapun karena begitu aku datang, aku berkata terus terang untuk meminta bantuannya bagaiman cara mendapatkan gantungan kunci pikachu"
Jinyoung tersenyum pedih, "Lalu bagaimana reaksi gadis itu?"
Kedua mata Mark melirik ke kanan—mengingat ingat, "Wajahnya berubah datar sih—tapi ia tetap menolongku. Katanya, kau cukup mengguncang guncangkan bagian kanan beberapa kali karena gantungan kunci ini berada paling bawah—"
"Mark" potong Jinyoung cepat
Mark berhenti bercerita, "Ya?"
"Kau melukai perasaannya" bisik Jinyoung
Tubuh Mark membatu, "Tapi dia tampak baik baik saja" Mark bersikeras
"Karena dia menghargaimu! Aishh kau ini benar benar tidak sensitif terhadap wanita ya"
Mark tertawa hambar, "Mungkin karena itu aku tidak mempunyai pacar hingga sekarang"
"Mungkin" jawab Jinyoung sependapat. Tatapannya kembali menimang mainan itu dengan perasaan sangat senang, Mark yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum lebar.
"Pengorbananku tidak sia sia" gumam Mark sebelum mengacak rambut Jinyoung, "Ayo kita tidur, besok hari senin, ingat?"
"Ah ya!" Jinyoung yang baru sadar kalau sekarang hampir tengah malam, jadi gusar, "Arghh! Bantalku tertinggal di kamar Yugyeom" erangnya kesal
"Tidak masalah, pakai bantalku saja—kita bisa memakainya berdua" tawar Mark, ia merebahkan diri terlebih dahulu lalu memberi ruang untuk Jinyoung di sampingnya
"Tapi Mark, aku tidak bisa tertidur tanpa bantal—huaaa" Mark yang tidak mau diajak berdebat lagi langsung menarik pergelangan tangan Jinyoung hingga ia terjatuh tepat di sebelah Mark
"Kau akan bisa tidur tanpa bantal itu" janji Mark
Jinyoung menatap ragu, "Bagaimana carany… hoamm…" Saat suara Jinyoung berubah parau, Mark menatapnya penuh kemenangan, "Benarkan dugaanku" komentar Mark sambil terus menepuk kepala Jinyoung yang menjadi kebiasaan barunya setiap kali mereka tidur berdua
"Malam Mar..k.."
"Iya iya, tidurlah" ucap Mark tidak berhenti menepuk kepala Jinyoung yang perlahan lahan tidur, kedua tangan Jinyoung mendekap di dada, dari dalam kepalannya—Mark bisa melihat gantungan kunci itu di pegang erat erat
Seketika kehangatan menjalar dalam tubuh Mark. Masih dengan senyum di bibirnya, Mark membentangkan selimut—menutupi tubuh mereka berdua lalu ikut tertidur pulas
.
.
.
.
Pagi hari
.
"Man… aku tidak mau berkomentar apa apa lagi. Sudah cukup kemarin malam Mark mempermalukan kita dengan bertanya soal gantungan kunci pada acara blind date" Jackson geleng geleng kepala—kecewa
"Seharusnya kita curiga kenapa Mark yang suka menyendiri tiba tiba mau diajak hang out" kata Youngjae bijak
"Yeah karena alasannya dia" unjuk Jaebum pada seseorang yang berada di samping Mark
"Apa kita harus membangunkan mereka?" tanya Jackson
"Tidak, ayo kita berangkat duluan" ajak Youngjae hendak keluar kamar Mark dan Jinyoung namun seperti biasa, Jackson mengambil beberapa foto Mark dan Jinyoung yang masih tertidur pulas
"Lumayan, Mark kau berhutang padaku" kata Jackson dengan senyum jahat di wajahnya
"Ayolah" ajak Youngjae sekali lagi. Mereka akhirnya meninggalkan Mark dan Jinyoung yang belum bangun juga meski jam mulai menunjukkan jam 6.45
.
.
.
"Hyung hyung" Yugyeom menggelengkan kepala sehabis mendengar cerita menggebu gebu dari Jinyoung tentang seluruh kejadian semalam
"Apa?" balas Jinyoung dengan senyum bodohnya saat menimang hadiah gantungan kunci dari Mark
"Kalian jadian saja sana" kata Yugyeom datar
"Ya!"
"Habisnya!" balas Yugyeom nyaris frustasi dengan sikap entah polos atau bodoh dari Jinyoung, "Dia memberimu hadiah Hyung" kata Yugyeom memberi petunjuk pada Jinyoung
"Lalu?" tanya Jinyoung lugu
PLAK. Yugyeom menepuk jidatnya sendiri
"Mark mungkin sering memberi hadiah pada ketiga sahabatnya lalu apa itu berarti ada sesuatu diantara mereka?" kata Jinyoung
"Benar juga sih, eh bukan begitu maksudku" sergah Yugyeom setelah barusan sempat setuju dengan pendapat kakak kelasnya itu, "Tapi… arghh masa hyung tidak sadar juga—"
"Jinyoung!" panggilan seseorang membuyarkan perdebatan antara Jinyoung dan Yugyeom, dari arah kantin, Mark nyaris berlari menghampiri kedua sahabat itu di tengah taman sekolah
"Hi Mark" wajah Jinyoung berubah, senyum merekah di bibirnya dan kedua pupil matanya melebar
"Hi" balas Mark dengan reaksi sama persis seperti Jinyoung
Melihat mereka berdua, Yugyeom makin frustasi
"Sepertinya bukan Jinyoung hyung yang tidak sadar, tapi si pemain basket ini juga" gumam Yugyeom sambil mencuri dengar perbincangan mereka
"Kau bebas sehabis pulang sekolah?" tanya Mark penuh harap
"Iya, aku tidak ada acara—"
"Ada! Denganku!" sela Yugyeom sambil mengangkat tangan ke atas, Mark menoleh ke samping—baru menyadari bahwa adik kelas kesayangan Jinyoung sudah ada dari tadi di sana
"Seingatku kita tidak ada janji, Yugyeom?" balas Jinyoung mengerutkan dahi
"Kau pernah janji mau mengajakku nonton, ayolah hyungggg~~" bujuk Yugyeom memasang tampang sok inosen
"Kapan aku pernah berjanji seperti itu!" suara Jinyoung berubah sewot, ayolah sekarang tanggal tua dan dia belum dapat kiriman bulan ini
"Tanggal 23 Januari jam 17.56" Yugyeom mengarang bebas, ia tahu Jinyoung tidak ingat betul tentang tanggal tersebut. Terlihat jelas dari wajah bingung Jinyoung yang berubah memelas
"Ah~ mianhe, kalau begitu Mark—" Jinyoung berpaling ke depan, "Sepertinya aku akan pergi dengan Yugyeom" ujarnya yang mengundang seruan yes dalam hati seorang Yugyeom
"Tidak apa apa, sungguh" Mark tersenyum paksa, ekor matanya menatap sengit ke arah Yugyeom—setahunya mereka berdua tidak ada masalah, tapi kenapa sekarang Mark merasa tindakan Yugyeom barusan sangat disengaja
"Ayo hyung, kita main ke perpustakaan—kau mau mencari buku Murakami lagi bukan?" dengan sengaja Yugyeom mendorong bahu Jinyoung menjauh dari Mark, "Kami duluan sunbae" ucap Yugyeom sopan
Mark tersenyum kecil tapi begitu Jinyoung dan Yugyeom menjauh wajah Mark berubah datar, "Dia sengaja" gumam Mark sambil berjalan kembali ke kantin
.
.
.
.
Sore itu Mark terbaring malas di atas tempat tidur dengan sebuah buku ia angkat tinggi ke atas lalu dibaca sambil terlentang
Besok lusa, Mark akan ada tes tulisan mengenai pelajaran bahasa dan oleh karena itu, Mark ingin meminta Jinyoung mengajarinya sekali lagi
"Tapi mau bagaimana, si jerapah adik kelasnya itu tiba tiba mengajak Jinyoung nonton! Aishhh" Mark menghempaskan buku di tangannya—frustasi, "Aku jadi tidak bisa konsentrasi…" Baru saja Mark mau memejamkan mata tiba tiba pintu kamarnya terbuka—memperlihatkan Jinyoung yang kembali lebih cepat
"Tidak jadi nonton?" tanya Mark langsung
"Tidak" Jinyoung menggeleng pelan sambil melepas kedua sepatunya lalu duduk di lantai dekat tempat tidur Mark, "Yugyeom ternyata ada ujian susulan pelajaran matematika, ini aneh… tidak biasanya Yugyeom lupa mengenai ujian dan malah mengajakku pergi nonton"
"Karena dia ingin mengerjaiku" desis Mark sambil lalu
"Apa katamu Mark?"
"Bukan apa apa, daripada memikirkan dia—lebih baik kau mengajariku bab ini" Mark mengangkat tubuhnya turun ke bawah untuk duduk di samping Jinyoung
"Yang ini?" unjuk Jinyoung pada halaman yang ditunjukkan Mark
"Iya"
Tanpa membuang waktu, Mark dan Jinyoung tenggelam dalam pelajaran bahasa. Beberapa kali Jinyoung membuat soal lisan yang mulai dijawab cepat oleh Mark. Jinyoung diam diam bangga karena Mark masih ingat dengan pelajaran pertama mereka dan seperti biasa, Mark masih menulis semua ajaran Jinyoung pada buku notes yang suka ia bawa kemana mana
Mereka berdua begitu konsentrasi belajar hingga tidak sadar jam menunjukkan pukul 9 malam.
Jinyoung yang sedang sibuk menulis soal untuk Mark, lewat ekor matanya ia menangkap bayangan lewat di depan pintu kamar mereka
"Mark!" sontak Jinyoung bersingut menjauh sambil mencengkram erat lengan Mark
"Ap—" belum sempat Mark menjawab, jari Jinyoung yang gemetar menunjuk arah sela sela di bawah pintu
Untuk pertama kalinya semenjak hampir seminggu Jinyoung ketakutan, baru kali ini Mark melihat jelas bayangan hitam yang bergerak dari arah luar
"A..ada hantu—" bisik Jinyoung pelan, pelajaran mereka terlupakan. Mark tidak berkomentar apa apa, ia terus menatap bayangan itu hingga bergerak beberapa kali
"Tunggu dulu" kata Mark fokus memperhatikan bentuk bayangan yang menghantui kamar mereka, "Kalau hantu seharusnya bayangannya memanjang seperti manusia… ini tidak… bayangan itu seperti…" Mark tersenyum lebar, ia familiar dengan bentuk bayangan yang barusan lewat di depan kamar
Tanpa rasa takut, Mark berdiri tegap kemudian berjalan lurus ke arah pintu
"Mark apa yang kau lakukan!" bisik Jinyoung yang duduk menempel pada ujung tempat tidur
Mark menoleh ke arah Jinyoung, "Tenanglah kalau tebakanku benar, hantu itu cuma…"
BRAK
Dibuka dengan cepat pintu kamar sehingga obyek yang terus menerus menghantui Jinyoung tersebut, tiba tiba terlonjak kaget
"Guk!"
"Dia anjing liar" ucap Mark dengan puas
"Mwo?!" kata Jinyoung tidak percaya
.
.
.
"Anjing liar?!" seru para penghuni asrama pria yang berbondong bondong turun dari tempat tidur lalu berkumpul di ruang makan
Disana sudah ada Heechul dengan piyama pinknya ditemani Mark yang malah tampak senang mengelus kepala anjing yang duduk di dekat pintu
"Iya anjing ini juga ternyata yang mencuri boxer para murid" beritahu Heechul sambil menunjuk ke arah semak semak dekat taman kecil yang menghubungkan koridor dengan ruang makan, "Ia mencuri beberapa boxer lalu menaruhnya di balik pagar rumput dan memakai boxer kalian sebagai alas tidurnya"
"MWO!" Semua pria yang merasa kecurian – termasuk Jinyoung – langsung teriak tidak terima sambil menatap penuh dendam ke arah anjing yang duduk manis di samping Mark
"Easy chingu" Mark memasang badan di depan anjing liar itu yang menundukkan kepalanya—ketakutan, "Sekarang memasuki musim dingin, jadi tidak heran kalau anjing cerdas mengambil apa saja sebagai alasnya"
"Tapi bukan boxer juga, Mark" sanggah Jinyoung protes
"Sudahlah… lihat kau membuatnya ketakutan" kata Mark menunjuk anjing yang mengais kedua kaki depannya berulang kali
Jinyoung menatap Mark penuh arti, sekali lihat Jinyoung bisa menduga kalau Mark termasuk orang yang mencintai binatang berbulu satu ini
"Masalah boxer, masih bisa dicuci" kata Heechul kembali mengembalikan perhatian anak anak, "Tapi anjing ini? Mau kita apakan?"
"Bawa saja ke penampungan" kata salah satu murid acuh
"Iya, daripada dia mengendap malam malam, membuatku ketakutan" Jinyoung ikut memanas manasi hingga Mark menatapnya tak percaya
"Ayolah Jinyoung dia cuma puppy—anak anjing, kurasa umurnya bahkan belum ada setahun" Mark melemparkan tatapan memelas kepada beberapa teman sekelasnya yang juga kehilangan boxer, "Atau… kita pelihara saja dia disini, lumayan sebagai anjing penjaga asrama" usul Mark antusias
"TIDAK!" Kali ini bukan saja para murid yang berteriak—tapi juga guru mereka, Kim Heechul
"Siapa yang mengurus makannya?" cecar Jackson ikut ikutan tidak setuju
"Belum melatihnya supaya jinak dan tidak mencuri boxer lagi dari ruang pencucian" ujar Youngjae
"Mark…" Jaebum tidak perlu menambahi—dia hanya menggelengkan kepala sebagai pertanda
"Lagipula, aku tidak suka anjing" tambah Heechul menatap sengit sang anak anjing yang ngumpet di balik kaki Mark
"Tapi—ayolah…" Kedua mata Mark yang putus asa berhenti pada sosok Jinyoung yang balas menatapnya segan
"Aku juga tidak suka anak—"
"Jinyoung bantu aku" bisik Mark saat mendekati Jinyoung, Mark juga memberi ruang supaya Jinyoung bisa melihat sosok anjing itu lebih dekat
DEG
Jinyoung langsung menyesal saat itu juga, karena seperti Mark—anak anjing itu pun menatap Jinyoung dengan kedua mata runcingnya yang khas
"Kaing…" suara rintihan keluar dari suara anjing di depan mereka, mau tak mau Jinyoung merasa iba, "Heechul seosaengnim…" panggil Jinyoung cepat
"Tidak Jinyoung—meski kau yang meminta—"
"Lihatlah dia, kasihan"
Heechul melirik cepat ke bawah namun langsung membuang muka, "A..aku"
"Kaing…" Sang puppy mengaiskan kedua kakinya lagi ke bawah, pemandangan yang tampak menyedihkan
Kali ini Heechul berpaling diikuti beberapa murid yang menatap sang anak anjing dengan perasaan terenyuh
"Aku dan Jinyoung yang akan bertanggung jawab, ayolah—" pinta Mark nyaris memohon, "Dia jenis anjing akita—anjing yang sangat setia dan pintar, asrama ini akan beruntung memilikinya"
Beberapa murid terdiam, beberapa lagi berbisik. Sang anak anjing sepertinya mengerti situasi genting sehingga ia berdiri dengan sikap siaga—mencoba jadi anak baik
"See? Dia mudah kita latih" tambah Mark yang membuat pertahanan terakhir Heechul runtuh
"Baiklah! Tapi ingat, kalau dia masih liar mencuri celana lagi, aku akan memanggilmu dan Jinyoung" kata Heechul
"Terima kasih!" balas Mark langsung menghambur memeluk anjing itu erat erat, "Kau boleh tinggal disini!"
"Guk!" sang anjing akita membalas dengan menggogong senang dan menggoyangkan ekornya
"Ah~ Aku lagi lagi terseret" kata Jinyoung pusing
Beberapa murid yang juga suka anjing langsung bergabung dengan Mark, mereka malah sedang memutuskan mau menamai apa anjing baru mereka
"Akita saja, seperti rasnya" pendapat Jackson yang tidak mau pusing
"Tidak keren! Bagaimana kalau Coco?" kata Youngjae setelah berada di pihak Mark juga. Sekarang hampir separuh murid malah asyik ngobrol di ruang makan sementara Heechul, yang tidak mau tidur malam malam—merusak kulit katanya, sudah kembali terlebih dahulu
"Aku tidak suka" sangkal Yugyeom yang ikutan nimbrung
"Lalu apa? Ini sudah malam—hoam" Jinyoung menguap lebar
BRAKK
Tangan Kyuhyun sang ketua basket memukul keras meja panjang, "Kalau begitu tidak ada cara lain, kita harus mengadakan rapat dadakan… ayo berkumpul!"
"Mwo? Apa ini?" Jinyoung menatap takjub para murid yang dengan patuh duduk seperti saat istirahat di meja makan sementara di ujung kanan, Kyuhyun mulai bicara
"Kita putuskan akan memberi nama pada anjing ini, baiklah—kalian lebih suka voting atau apa?"
"Hei Kyuhyun sunbae! Ini sudah malam, kalian seharusnya tidur kenapa malah mengadakan rapat segala?" suara protes Jinyoung tidak dihiraukan siapapun termasuk Yugyeom yang malah mengangkat tangan ingin bicara
"Ya anak kelas X ada apa?" Kyuhyun mempersilahkan Yugyeom bicara
"Kurasa lebih adil kalau Mark hyung atau Jinyoung hyung yang memberi nama karena berkat merekalah anak anjing ini bisa diijinkan oleh Heechul, jadi…" pendapat Yugyeom mendapat gumaman setuju
"Betul juga sih" bahkan Jaebum saja ikut manggut manggut
"Baiklah—tidak ada pilihan lain" Kyuhyun menggeleng kecewa, "Padahal aku mau memberi namanya Starcraft, tapi ya sudahlah. Mark dan Jinyoung—kemarilah, kalian ingin menamainya siapa?"
Mark dan Jinyoung saling bertukar pandangan, "Pikachu", "Ichigo!" ucap Mark dan Jinyoung bersamaan
"Pikachu?" tanya Jinyoung keheranan
"Kau suka pikachu bukan" balas Mark yang membuat beberapa murid heboh menyoraki mereka, "Ehemmmmmm"
Bahkan Sungmin yang duduk di sebelah Yugyeom, mencolek sang junior, "Mereka sudah pacaran?" selidik Sungmin ingin tahu
Yugyeom menggeleng kesal, "Kelihatannya saja tapi percayalah—mereka berdua sama sama bodoh"
Pipi Jinyoung memerah saat ia berkata, "Nama Pikachu tidak cocok, lebih baik Ichigo yang artinya strawberry, bagaimana Mark?"
"Strawberry?" Mark menatap Jinyoung seolah olah teman sekamarnya itu sudah gila, "Dia tidak kelihatan seperti strawberry dan for you info, dia jantan, Park Jinyoung"
"So? Nama Ichigo adalah bahasa Jepang sesuai dengan asal anjing itu!" Jinyoung bersikeras
"Tapi Jinyoung—"
"Hei hei, kalau kalian bertengkar kita tidak akan selesai selesai!Seperti memilih nama anak kalian saja!" sindir Kyuhyun tepat menusuk Jinyoung dan Mark yang tiba tiba seperti tersadar, mereka berdiri menjauh dengan kikuk
Mark yang pertama kali bicara, "Baiklah—Ichigo" ucapnya yang membuat wajah kaget Jinyoung berubah senang
"Ichigoo!" panggil para murid pada anak anjing itu yang sedari tadi asyik tiduran di karpet depan
Sang anjing akita sontak berdiri sambil menyalak 3 kali sebagai pertanda dia senang dengan nama pemberian Jinyoung
"Guk Guk Guk!"
Seluruh murid tertawa senang sambil bergantian mengelus Ichigo—anak anjing baru di asrama St Hana
.
.
.
Setelah menamai anjing akita itu Ichigo, Kyuhyun dan beberapa anak basket juga mengambil tumpukan boxer dari balik semak semak lalu membagikannya kepada setiap murid yang merasa kehilangan
Ichigo pasrah saja memandangi 'tempat tidur' nyamannya berpindah tangan, kedua mata Ichigo terus bergerak melihat boxer boxer tersebut berpindah tangan
Namun ketika salah satu boxer berwarna kuning cerah hendak diberikan pada orang lain, Ichigo menyalak keras
"Guk guk guk!" protes Ichigo langsung meloncat loncat—hendak merebut boxer itu dari tangan seseorang
"Ya ya, ini milikku Ichigo!" balas Jinyoung
"Guk Guk!" Ichigo terus menyalak dan malah ia berputar ke belakang Jinyoung saat pria ini mau menyembunyikan boxer ala pikachu di balik punggung
"Tidak akan kuberikan! Lagipula dari sekian banyak boxer yang kau curi kenapa kau mengincar milikku sih!" kata Jinyoung putus asa
Para murid asrama tertawa keras melihat pemandangan di depan mereka. Ichigo dengan keras kepala masih terus mengitari Jinyoung yang ikut berputar untuk melindungi boxernya
"Kau kenap—Mark tolong aku" ujar Jinyoung tidak tahu harus berbuat apa lagi
Mark yang ikut tertawa akhirnya menghela napas sebelum menghampiri Jinyoung, "Ichigo kau janji tidak akan nakal lagi" nada suara Mark mengeras—perhatian Ichigo teralih, ia melihat Mark sejenak lalu tiba tiba ia mundur teratur dengan kepala tertunduk
"Anak baik" Mark mengelus kepala Ichigo penuh sayang, "Kau kan bisa pakai alas lain, ini kami sediakan untukmu" Di tangan Mark sudah ada satu kain bekas pakai yang diambil dari ruang pencucian
Ichigo memandang kain di tangan Mark dengan rasa tidak suka. Ia malah bergerak menjauh saat Mark sibuk merentangkan alas tidur di atas lantai
"Ichigo!" tegur Mark
Sang anak anjing membuang muka lalu duduk membelakangi Mark, Jinyoung dan murid murid lainnya
"Sepertinya dia suka sekali pada boxermu Hyung" komentar Yugyeom yang mengundang tawa Jaebum dan Jackson
"Tidak usah kau berikan Jinyoung, nanti Ichigo jadi manja apalagi dia masih anak anak, Jangan dibiasakan" Nasihat Mark, "Ayo lebih baik kita semua kembali tidur" tambahnya pada seluruh murid
Semua orang seketika bubar lalu kembali ke kamar masing masing. Jinyoung yang berdiri di dekat Ichigo terus menatap punggung anjing itu dengan perasaan campur aduk
"Jinyoung, sudahlah tidak akan apa apa" Mark bahkan harus kembali sekali lagi untuk menarik Jinyoung karena teman sekamarnya ini masih enggan pergi dari sana
"Tapi—" Jinyoung melepaskan pegangan tangan Mark, berlutut di dekat Ichigo yang masih keras kepala membelakangi mereka
"Ini untukmu" ucap Jinyoung yang membuat Ichigo menoleh. Di atas lantai ruang makan yang dingin, Jinyoung menaruh boxer kesayangannya di atas kain yang telah ditaruh oleh Mark
"Guk!" sahut Ichigo kesenangan, ia meloncat loncat kecil di atas boxer Jinyoung sebelum merebahkan diri lalu mengangkat sedikit kepalanya ke atas—tatapan Ichigo melembut
"Kau ngantuk bukan? Tidur yang nyenyak" Setelah mengelus kepala Ichigo, Jinyoung kembali menghampiri Mark, "Ayo kita kembali ke kamar" ajaknya pada Mark yang melirik Jinyoung penuh selidik
"Itu boxer kesayanganmu Jinyoung" ucap Mark
"Lalu?"
Mark menghentikan langkahnya, "Ichigo juga yang membuatmu ketakutan seminggu ini"
Jinyoung menatap Mark bingung, "Apa sih maksudmu Mark?"
Terdengar helaan napas keputusasaan dari Mark, "Kenapa kau masih baik padanya?"
Senyum merekah pada bibir Jinyoung, "Kenapa butuh alasan untuk berbuat baik?" balasnya retoris
Mark terdiam. Sepanjang jalan menuju kamar mereka, pikiran Mark penuh dengan Jinyoung. Kalau 1 bulan yang lalu ada orang berkata kalau seorang Park Jinyoung itu sebenarnya baik, Mark akan tertawa mengejek. Tapi sekarang, saat Mark menatap punggung Jinyoung yang naik ke atas tangga, Mark tahu, ia salah besar
Park Jinyoung sebenarnya peduli, peduli pada orang sekitarnya
Peduli pada Mark meski dalam keterpaksaan
Peduli pada yeoja yang menyukai Mark padahal Mark berani bertaruh, mengenalnya pun Jinyoung tidak
"Mark? Kau mau pergi tidur atau berdiri di depan pintu sepanjang malam?" ejekan Jinyoung menyentakkan lamunan Mark
"Baik Park Jinyoung" balas Mark sambil langsung merebahkan diri di atas kasur
Belum sempat Mark menutup kedua matanya, dari atas—Jinyoung memanggilnya lagi
"Mark…"
"Hmm"
"Kau mau tidur denganku?"
Kedua mata Mark terbuka sempurna, "Jangan bilang kau ketakutan lagi" sindirnya yang membuat Jinyoung jengkel
"Kau mau atau tidak, kalau tidak, juga tidak apa ap—"
"Baiklah baiklah! Kau begitu saja sudah marah Jinyoung" Mark segera menarik dirinya bangun, menaiki anak tangga dengan cepat lalu meluncur ke atas kasur Jinyoung
Terdengar bunyi derat kayu saat Mark menyamankan diri—tidur di samping Jinyoung
"Kau lihat apa bodoh!" kata Jinyoung agak risih karena Mark terus memandangnya
"Tidak ada, tidurlah" bisikan Mark seperti mantra, Jinyoung yang tadi susah tidur langsung menguap lebar, kedua mata Jinyoung perlahan terpejam. Sempat terlintas dalam pikiran Jinyoung kenapa saat tidur dengan Mark, ia lebih cepat ngantuk dan tidur lebih lelap
Tapi belum sempat Jinyoung menemukan jawabannya—ia sudah tenggelam dalam mimpi. Jinyoung tidak tahu apakah Mark langsung tidur seperti dia atau tidak, namun samar samar—Jinyoung merasakan kedua lengan Mark seolah sedang memeluknya dan sapuan hangat di kening Jinyoung seperti—ah! Apa Mark menciumnya juga?!
"Selamat malam Jinyoung" bisik Mark yang membuat rasa kantuk kembali menyerang Jinyoung dan Jinyoung tidak punya alasan melawan
Tanpa sadar, Jinyoung balik memeluk Mark
Dan itu membuat Mark diam diam tersenyum
.
.
.
TBC
.
.
Saya akan update lebih cepat T_T doakan saja saya dapat pindah kerja di kantor yang baru supaya ngga kemakan waktu saya sepanjang hari. *bow*
Terima kasih atas kesabarannya hingga hari ini, terima kasih untuk para reader juga, apalah artinya saya tanpa kalian T^T *tiba tiba nangis*
*Hug satu satu*
Thanks. Again
