Chapter 7

.

.

.

Bunyi dentuman keras menggema ke seluruh penjuru lapangan basket. Peluh keringat memenuhi wajah lelah para pemain, Kyuhyun selaku ketua—yang melihat itu langsung berteriak, "Kita sudahi latihan hari ini" perintahnya

Semua pemain langsung mendesah lega

"Akhirnya…" desah Youngjae sudah lunglai setengah mati

"Yeah, akhirnya" tambah Jackson yang tidak kuat lagi menyeret langkah ke pinggir lapangan dan malah terkapar di lantai bersama Jaebum

"Mark kau mau kemana? Ambilkan minumku dong" pinta Jackson saat melihat Mark masih sanggup berjalan ke pinggir lapangan tempat tas para pemain berada

"Minumku juga!" ucap Youngjae dan Jaebum barengan

"Aishh pemalas" gerutu Mark saat mengaduk isi tasnya bagian depan, alih alih mengambil botol minuman, Mark malah mengambil handphone genggamnya lalu menelepon seseorang

"Halo, Jinyoung? Kau ada dimana?" Mark mendengarkan jawaban dari seberang sambil mengangguk sesekali, "Latihan kami sudah selesai, mungkin aku sampai asrama lewat dari jam makan malam, kau duluan saja ok?"

Jawaban Jinyoung dari seberang membuat senyum Mark mengulas lebar, "Baiklah sampai nanti, bye"

Selesai menelepon Jinyoung, Mark—tanpa mengeluh, mengambilkan botol Jackson, Jaebum dan Youngjae dari masing masing tas mereka sambil bersiul pelan

Yang Mark tidak tahu adalah ketiga sahabatnya itu sudah sejak awal memperhatikan gerak gerik Mark yang diluar kebiasaan

Ketiga sorot mata itu menatap Mark penuh arti

.

.

.

.

.

.

Yugyeom sedikit kesal.

Oke, dia mengaku—tidak sedikit kesal, tapi sangat kesal.

Hyung kesayangannya, Park Jinyoung, sangat berubah akhir akhir ini.

Dan perubahan itu membuat Yugyeom sedikit frustasi sekaligus jengkel.

Frustasi karena—demi Tuhan, kenapa Hyungnya bisa sangat lamban?! Siapapun yang bisa melihat sikap Mark kepada Jinyoung akan berkata sama seperti yang Yugyeom pikirkan

"Dia tidak menyukaiku seperti yang kau kira, Mark menanggapku tidak lebih dari seorang sahabat" ucap Jinyoung suatu hari

Apa Mark pernah overprotektif terhadap sahabatnya seperti yang ia tunjukkan terhadap Park Jinyoung? Jawabannya tentu tidak

Semenjak Jinyoung pergi tidur ke kamar Yugyeom tanpa diketahui Mark, sejak itu juga Mark meminta nomor telepon Jinyoung dan selalu menanyakan kabar hyungnya itu kalau Jinyoung tidak ada di kamar mereka

Atau jika Mark latihan hingga larut malam, dia akan balik mengabari Jinyoung

"Siapapun bisa melihat kalau Mark sayang padamu lebih dari sahabat, hyung bodoh" gerutu Yugyeom dari sudut bibirnya

"Apa katamu Yugyeom?" selidik Jinyoung

"Ah tidak hyung, tidak apa apa" elak Yugyeom cepat

Dan mengenai rasa jengkel. Jujur Yugyeom sangat jengkel.

Park Jinyoung, sosok yang melindunginya, yang menyayanginya lebih dari siapapun sekarang perhatiannya terbagi

Jinyoung mungkin tidak sadar, namun Yugyeom merasakan ada kekosongan dalam hatinya ketika setiap kali mereka bersama, nama Mark tidak lepas dari bibir Jinyoung atau kalau mereka sedang jalan jalan keluar, Jinyoung pasti tidak lupa membawakan sesuatu untuk Mark

Mark suka ini, dia tidak suka ini dan bla bla bla

Mungkin kalau Yugyeom harus ikut ujian mengenai 101 hal yang kau ketahui Mark, dia bakalan lulus dengan gemilang, thanks to Jinyoung yang selalu berbicara tentang teman sekamarnya itu

Apakah posisi Yugyeom sudah tergeser dengan kehadiran Mark?

Ya, itulah yang Yugyeom rasakan dan jujur, perubahan sikap Jinyoung membuatnya sedikit murung

.

.

.

.

.

.

Hari minggu datang lebih cepat, bagi anak basket karena pada hari ini mereka masih juga berlatih keras untuk pertandingan tingkat nasional

Tapi ada sisi baiknya pada latihan kali ini. Mereka bertandang ke tempat lawan untuk latihan uji coba dan hal itu berarti…

Mereka bisa bermain sebentar ke mall atau ke game center sehabis latihan dan inilah yang dimanfaatkan oleh Mark, Jaebum, Youngjae dan Jackson

Mereka berempat menghabiskan siang ke game center, mencoba melepas lelah dari basket lalu saat matahari mulai tenggelam, mereka memutuskan makan di café seberang jalan

"Huaaaa lega rasanya, sudah seabad kita tidak keluar dari asrama" ucap Jackson menyindir

Jaebum tertawa pelan sementara Youngjae melahap bulat bulat spagetti dari atas piring

"Mungkin lain kali kita harus membujuk Kyuhyun hyung untuk terus menerus latihan di sekolah lain" usul Mark

"Aku setuju!" seru Jaebum diikuti tawa khas dari Jackson

"Soo… bagaimana hubunganmu dengan Jinyoung?" tanya Youngjae tiba tiba

"Uhuk!" Mark tersedak tiba tiba saat meminum green tea miliknya, "Ya Youngjae! Apa yang—" melihat sorot ingin tahu dari mata Jackson dan juga Jaebum membuat Mark terpana, "Kalian kenapa sih!"

"Kau yang kenapa? Kalau sudah jadian seharusnya kau cerita pada kami. Memangnya kau anggap kami apa Mark?" ucap Jackson sedikit mendramatisir keadaan

Mark memasang wajah datar, "Aku sedang tidak dekat dengan yeoja manapun"

Jaebum memutar kedua bola matanya, "Seingatku Youngjae sudah menyebutkan namanya"

"Siapa maksudmu? Jinyoung?" ulang Mark tidak percaya

Jackson, Jaebum dan Youngjae mengangguk bersamaan

Mark mendesah panjang, "Kami hanya bersahabat, jadi jangan salah paham—"

"Eh? Apakah itu Jinyoung jalan berdua dengan senior kita!" ujar Jackson mendadak sambil melempar pandangan ke arah jalan

"Tidak mungkin! Mana?" spontan Mark berdiri lalu berjalan keluar café, mencari sosok ia yang kenal baik diantara kerumunan banyak orang, setelah memastikan tidak ada Jinyoung disana, Mark mengutuk dirinya

Damn!

Jackson yang masih duduk, menyeringai penuh arti sementara Youngjae dan Jaebum diam diam ber-high five saat melihat sikap bodoh Mark

"Kau mengerjaiku!" geram Mark ketika kembali ke dalam café

"Jinyoung jalan siapa bukan urusanmu Mark, kalian kan cuma 'sahabat'" Jackson memberi penekanan pada kata terakhir yang tidak bisa di sanggah Mark

"Tapi… paling tidak dia bisa memberitahuku… jika sedang pergi dengan siapa…" jawab Mark agak terputus putus—tidak yakin dengan ucapannya sendiri

Kenapa nada suaranya terdengar begitu khawatir?

"Memang kau siapa? Ayahnya?" balas Youngjae geleng geleng kepala

Mark melotot ke arah Youngjae, Jaebum yang bisa merasakan ada aura pertengkaran segera menyela, "Sudah! lebih baik kita pulang, Kyuhyun hyung bisa kena masalah kalau ada anak basket yang balik ke asrama lewat dari jam malam"

.

.

.

.

.

.

"Mereka kenapa sih? Dasar aneh" kata Mark saat sampai di depan pintu kamarnya. Ia sedang mengaduk isi tas—mencari kunci cadangan di dalam sana

"Aishh dimana lagi kunciku" Mark hampir berjongkok—hendak menuangkan seluruh isi tasnya saat bunyi kunci berputar dari arah dalam

"Mark?" panggil Jinyoung yang muncul di depan pintu

"Eh? Kau belum tidur? Maaf, aku pasti membangunkanmu" Mark menggaruk belakang kepalanya—merasa bersalah, "Kunciku sepertinya hilang"

Terdengar helaan napas panjang dari Jinyoung, "Tidak hilang, tapi tertinggal" Jinyoung menggerakkan kepalanya ke arah meja kecil di samping tempat tidur Mark, "Kau belum mengambilnya ketika pergi"

"Oh thank God"

Mark dan Jinyoung masuk ke dalam kamar yang gelap gulita, saat Mark hendak naik ke atas kasur, Jinyoung mendesah panjang lagi, "Kau belum mandi Mark" tegurnya

"Lalu? Ini sudah malam Jinyoung, besok kita masih harus sekolah" balas Mark masa bodoh tapi bukan namanya Jinyoung kalau diam saja. Ditariknya kaki Mark dari atas tempat tidur

"Ya Jinyoung! Aku bisa jat—"

"Kau mandi tidak?"

"Baik baik! Aku mau mandi, lepaskan kakiku!" pekik Mark sambil berpegangan pada kasurnya

Jinyoung tersenyum puas sebelum melepaskan tangannya

Mark menatapnya tajam, "Kau belum berubah, masih membuatku kesal"

"Dan kau masih saja jorok! Sudah kubilang kau harus bersih bersih! Kalau kau sakit siapa yang repot? Aku lagi bukan"

"Baik, Mom" balas Mark mengejek Jinyoung. Tidak punya pilihan, Mark menarik kasar handuk dari atas meja lalu pergi ke kamar mandi

Jinyoung tersenyum puas sebelum naik ke lantai atas—hendak melanjutkan tidurnya

"Si Jinyoung tsk! Dasar perfeksionis" Mark terus menggerutu kesal sambil membuka bajunya dengan cepat, ia sudah ngantuk setengah mati tadi saat Jinyoung malah memaksanya untuk mandi

"Dan ketiga orang bodoh itu masih mengira aku dan Jinyoung ada apa apa?!" Mark tersenyum mengejek, setelah melepaskan semua pakaiannya, Mark menyibak tirai di depan bathub

"Eh?"

Air di dalam bathub sudah terisi penuh dan ketika Mark memasukkan tangannya ke dalam…

"Hangat, siapa yang—" ucapan Mark terhenti, senyumnya tiba tiba mengulas lebar, tanpa bicara lebih banyak, Mark masuk ke dalam air, merasakan kehangatan tidak saja merambah tubuhnya namun juga hingga menyentuh hatinya

.

.

.

.

.

.

Jinyoung sudah hampir terlelap sempurna ketika merasakan ada sepasang lengan yang melingkar dari arah belakang

"Kau sudah mandi?" gumam Jinyoung bisa menebak siapa yang numpang tidur lagi di sebelahnya

"Tentu" bisikan Mark menggelitik telinga Jinyoung yang tetap terpejam

"Thanks" ucap Mark lagi

Jinyoung tersenyum, ia semakin menyamankan posisinya—bergeser sedikit, memberi ruang lebih untuk Mark tidur

.

.

.

.

.

.

Yugyeom akhir akhir ini menjauh dari Jinyoung.

Ia tidak kuat lagi, jika harus mendengar tentang Mark setiap kali mereka bertemu

Ya, Yugyeom tahu—meski Jinyoung tidak mengaku atau tidak merasa, namun ia tahu jika Mark mulai menginvasi kehidupan Jinyoung baik secara langsung atau tidak

Dan Yugyeom tidak suka itu.

Ia merasa Jinyoung semakin menjauh darinya dan mendekati Mark

Memikirkan bahwa Jinyoung akan baik baik saja tanpa dirinya, membuat Yugyeom sedikit tersingkir. Ia sayang pada Jinyoung bahkan sebelum kemunculan Mark

Namun apakah sekarang posisinya sebagai sahabat akan hilang ketika hyungnya itu mulai bersama Mark

Kehadiran mereka berdua makin tidak terpisahkan dan kenyataan tadi pagi ketika Yugyeom iseng datang menjemput Jinyoung dari kamarnya membuat rasa takut Yugyeom semakin membesar

Mark tidur bersama dengan Jinyoung

Dan kenyataan bahwa Jinyoung tidak pernah membicarakan hal itu membuat Yugyeom seperti dikhianati.

Apakah Mark benar benar sekarang orang terpenting dalam hidup Jinyoung?

Ini tidak adil!

Kenapa orang yang datang lebih akhir darinya mendapatkan tempat lebih tinggi di depan sahabat sekaligus hyungnya itu

Hari itu, Yugyeom tersadar…

Seorang sahabat akan menjadi nomor kedua setelah sahabatmu itu memiliki orang lain yang ia cintai…

.

.

.

.

.

.

"Hei"

Yugyeom yang sedang membaca buku, langsung menutup buku dengan suara kencang sambil beranjak berdiri

"Kita tidak bisa bicara sebentar?" pinta Mark yang siang itu rela menghabiskan jam istirahatnya untuk naik ke lantai 3, ke dalam kelas Yugyeom

"Untuk apa? Untuk pamer kalau kau sedang dekat dengan Jinyoung hyung?" sindir Yugyeom

Mark menatap heran Yugyeom, "Tidak" Ia duduk di samping Yugyeom sambil menatap lurus ke depan

"Jinyoung tidak mengatakan apa apa, tapi dia sampai tidak menyentuh makan siangnya dan saat kulihat kau tidak bersama dengannya, aku bisa menebak kalian sedang bertengkar"

Mendengar Jinyoung sampai tidak nafsu makan membuat hati Yugyeom sedikit tergerak tapi wajahnya kembali mengeras saat menatap raut muka datar Mark

"Ini bukan urusanmu" kata Yugyeom

"Memang bukan" balas Mark tenang, tak lama ia tertawa miris, "Jinyoung tetap tidak mau kubujuk untuk makan dan meski ia tidak bicara, aku tahu dia memikirkanmu Yugyeom, itulah yang membuatku iri"

Iri? Seorang Mark Tuan yang baru baru ini mencuri perhatian hyungnya bisa iri pada dia?

"Oh yang benar saja" seloroh Yugyeom tidak percaya

"Ya" Mark menganggukkan kepala, "Dia terus membicarakanmu ketika kami di dalam kamar, kau sahabat pertamanya bukan?"

Yugyeom diam seribu bahasa

"Iya" suara Yugyeom tercekat, "Tapi sekarang dia punya kau jadi" Yugyeom memutar bola matanya—agak malu berbicara kekanak-kanakan di depan orang lain

"Lalu?" Mark menatap Yugyeom tidak mengerti, "Apa dengan adanya aku, sikap Jinyoung jadi berbeda denganmu?"

EH?

Pikiran jernih Yugyeom mulai mengambil alih, "Tidak" jawabnya spontan

"See?" Mark tertawa pelan, "Jangan bilang kau cemburu denganku?" tebakan Mark seratus persen benar, tapi Yugyeom yang enggan mengakui otomatis langsung menyanggah, "Tidak, Mark Hyung"

"Wow kau mulai memanggilku hyung" kata Mark sedikit terkejut, Yugyeom yang terlanjur bicara hanya bisa mengedikkan bahunya

"Jam istirahat sebentar lagi akan selesai, sana selesaikan masalahmu dengan Jinyoung" Mark menghela napas panjang sebelum berdiri dari kursi, "Dia bahkan tidak mau makan ketika aku yang membujuknya… mungkin kalau dengan kau, Jinyoung akan luluh" kata Mark enggan mengakui tapi tampaknya perkataan Mark memberikan efek lebih untuk Yugyeom

Juniornya itu tersenyum lembut sebelum mengangguk setuju

Tanpa menunggu lama, Yugyeom berjalan cepat mendahului Mark. Langkah Yugyeom membawanya turun hingga ke lantai dasar tempat dimana kantin berada

Begitu menangkap sosok Jinyoung yang terdiam sambil menatap handphonenya membuat rasa bersalah Yugyeom semakin besar

"Hyung" panggil Yugyeom sambil berjalan ke arah meja Jinyoung

Jinyoung terkejut, kedua matanya menatap sosok Yugyeom yang duduk di sampingnya

"Kau! Kenapa aku tidak membalas pesanku! Apa aku membuat kesalahan? Katakan?" tanya Jinyoung bertubi tubi, sorot matanya meredup dan itu membuat Yugyeom lagi lagi mengutuk dirinya

"Tidak… aku hanya sedang banyak pikiran…" elak Yugyeom tanpa mau membahas lebih lanjut mengenai perasaan sentimentilnya, mungkin dia dalam fase ketakutan, takut kehilangan sahabatnya

"Bukan karena aku?" selidik Jinyoung lagi sambil menatap lekat lekat Yugyeom

"Bukan hyung" Yugyeom meyakinkan, "Kau pasti belum makan, ayo kita pesan makanan" ajaknya sambil menarik Jinyoung berdiri lalu masuk dalam antrian yang mulai sepi

"Kau juga belum makan" tegas Jinyoung yang membuat tawa Yugyeom menguar

"Hyung tidak berubah hahahahaha, kau ternyata masih memperhatikanku"

"Sudah jelas, memang kau kira aku tidak?"

"Yeah semenjak ada Mark…"

"Mark tidak ada hubungannya" Jinyoung menyela ucapan Yugyeom, "Ada atau tidak adanya Mark, itu tidak akan merubah apapun"

Yugyeom tertegun, ia sungguh bodoh beberapa hari ini. Apa yang sebenarnya ia takutkan? Apa yang perlu dicemaskan?

Yugyeom membentuk rasa khawatir sendirian tanpa tahu hal itu sebenarnya tidak perlu

Jinyoung tidak berubah, dia tetap menjadi hyung yang Yugyeom sayangi

Dan Mark… well… kehadirannya pun tidak mengganti apapun, karena dari awal, Mark bukan menjadi sahabat bagi Jinyoung seperti halnya Yugyeom di mata Jinyoung

"Hyung…" Yugyeom memeluk Jinyoung dari belakang sambil menaruh dagunya di atas kepala Jinyoung, "Kau tidak akan lupa padaku bukan meski kau sedang menyukai seseorang?" pertanyaan aneh Yugyeom membuat Jinyoung menyeringitkan dahi tapi toh Jinyoung tetap menjawabnya

"Tidak"

Yugyeom tertawa kecil, "Meski kau menyukai Mark dan menikah dengannya, kau tetap sayang padaku bukan?"

"Iya Yugyeom—Eh?" Jinyoung otomatis berbalik dan menatap garang Yugyeom yang malah senyam senyum tidak jelas

"Agrh jangan masalah itu lagi Yugyeom" erang Jinyoung malas, entah atas dasar apa Yugyeom yakin betul bahwa hubungannya dengan Mark itu seperti sepasang kekasih

"Lihat saja nanti, tebakanku" Yugyeom tertawa lepas sementara Jinyoung memijat dahinya—merasa pusing dengan kelakuan teman sekaligus adik kelasnya itu

.

.

.

.

.

.

"Mereka berdua bodoh" komentar Yugyeom pedas

"Atau polos" kata Youngjae sedikit membela

"Tidak aku setuju kata junior satu ini, mereka benar benar—" Jaebum saja sampai malas mau berkata kasar ketika mereka berempat menatap Mark dan Jinyoung yang berjalan berdua di depan mereka semua

Sore itu, sesuai janji Jinyoung—ia dan Yugyeom akan mampir ke lapangan basket lalu pulang bersama Mark ke arah asrama

"Tapi Mark pernah mengelak bilang mereka hanya bersahabat" ucap Jackson masih terus menstalking Markjin

"Hyung juga bicara begitu" Yugyeom mengangguk setuju

"Tapi aku ragu…" Youngjae berpikir sebentar, "Setahuku Mark straight" ucapan terakhir Youngjae sontak membuat kedua mata Yugyeom terbelalak lebar

"Mwo! Berarti Mark mau menyakiti hyungku! Tidak akan kubiarkan!" sebelum Yugyeom hendak mengejar langkah Markjin, Jackson dan Jaebum buru buru menarik si jangkung ini

"Hei! Itu hanya perkiraan kami, lagipula sudah lama Mark tidak berkencan dengan siapapun, jadi kami tidak tahu—mungkin Mark benar benar punya perasaan terhadap Jinyoung"

Yugyeom terdiam lama, dari arah belakang ia bisa menangkap senyum manis Jinyoung setiap kali Mark bicara

"Kalau sampai Mark hyung berani menyakiti Jinyoung hyung, aku akan—"

KRETEK KRETEK

Yugyeom meremas kedua tangannya sepenuh hati

Dari arah samping, Jackson, Youngjae dan Jaebum menelan ludah melihat raut wajah serius Yugyeom

"Kita harus memperingatkan Mark tentang adik kelasnya Jinyoung, Yugyeom sepertinya tidak segan segan menghajar Mark" bisik Jackson pada Youngjae dan Jaebum yang mengangguk cepat.

.

.

.

TBC

.

.

.

Dua chapter lagi selesai! Akan update seminggu sekali hehehehe. Thank you buat supportnya ya :D moga moga cepat kelar FF ini, karena saya mau nulis FF baru doain aja hehehehehe

Thank you