Chapter 8
.
.
.
Part one : Park Jinyoung
.
Dunia berlalu sangatlah cepat. Sedetik yang lalu kau berdiri dipersimpangan, hendak membeli es krim lalu memakannya sendirian. Tapi sedetik kemudian kau sudah berada di sebuah ruangan lebar, penuh ber-rak rak etalase es krim bermacam rasa. Bukan lagi kau yang datang untuk membeli es krim, tapi kaulah penjualnya sekarang
Jinyoung tersenyum mengenang gambarannya mengenai aliran waktu. Tatapan mata Jinyoung yang tertuju pada sebuah gerbang lebar di seberang jalan
Sekolah St Hana—sekolahnya dulu
"Sudah lama sekali…" gumam Jinyoung sambil menghela napas panjang, tanpa menoleh kedua kali, ia melangkah cepat meninggalkan kenangan yang menghantuinya sepanjang hari
Seperti rol film yang tidak henti hentinya berputar
Memutar kenangan mengenai seseorang yang Jinyoung kenal baik
.
.
.
.
.
.
Mark Tuan. Memikiran nama itu saja sudah membuat hati Jinyoung terluka
Ia sungguh bodoh—teramat bodoh… dan polos
Percaya dengan ucapan Mark Tuan ketika SMA sama saja dengan percaya bahwa sebenarnya bumi itu datar
Demi Tuhan mereka masih SMA, apa saja janji yang bisa diucapkan di SMA yang tidak pernah terbukti? Sudah banyak sekali
Jinyoung tertawa miris di sela sela pekerjaannya menganalisis budget keuangan perusahaan.
Sudah 10 tahun berlalu semenjak kelulusan dia dari kuliah. Park Jinyoung hidup seperti layaknya manusia biasa. Lulus kuliah dengan gemilang dan diterima di salah satu perusahaan bergengsi
Park Jinyoung bangga? Tidak juga.
Impiannya bukanlah bekerja seperti robot, menatap setiap angka yang berubah ubah setiap hari.
Ini bukanlah impian Jinyoung
.
.
.
.
.
.
"Kau pulang cepat hari ini?" tanya salah satu senior ketika Jinyoung menuang kopi panas di dalam pantry
Jinyoung menggeleng pelan, "Aku lembur" jawabnya singkat
Seniornya itu menatap Jinyoung simpati, "Bersenang senanglah keluar, kau masih muda—jangan habiskan di dalam kantor saja" nasihatnya
Jinyoung memandang datar wajah sang senior yang tampak peduli. Ia ingin sekali bersenang senang, menghabiskan waktu bersama sahabatnya—oke, kalau Yugyeom termasuk hitungan mungkin Jinyoung tidak akan sesedih ini
Tapi ada seseorang yang ia dambakan keberadaannya
Dan sayangnya orang itu terlama tidak muncul hingga kehadirannya tidak relevan lagi bagi Jinyoung
.
.
.
.
.
.
Jika ingin membicarakan mengenai Mark Tuan. Jinyoung mungkin akan pura pura mengalihkan pembicaraan. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengungkit seseorang di seberang sana
Tidak pada Yugyeom, Jackson yang bekerja hanya beberapa blok dari tempat Jinyoung ataupun Jaebum dan Youngjae yang terkadang masih mengundang Jinyoung datang ke rumah mereka
Semua orang, berusaha mengatakan hal yang sama
Mark tidak berubah, dia hanya sedang sibuk
Yeah, sangat sibuk—terlalu sibuk malah hingga menyebabkan skandal dimana mana, rekor berapa banyak pacarnya menandingi piala yang seharusnya dimenangkan Mark—seorang pemain basket tingkat nasional
Jangan katakan Jinyoung membenci Mark karena kenyataan tidak… Jinyoung tidak bisa membenci Mark
Tidak peduli berapa banyak pesan, video yang Jinyoung kirimkan guna mendukung Mark di seberang benua. Ia tetap percaya, Mark akan menggapai mimpinya sebagai pemain basket handal
.
.
.
Pada awal perpisahan mereka, semua berjalan dengan lancar. Mark ditarik untuk ikut seleksi pemain basket tingkat nasional setelah membawa St Hana maju sebagai juara I.
Mark berpisah dengan sahabatnya, teman sekamarnya dan pemain basket demi kembali keluar negeri untuk menjalani latihan
Beberapa tahun pertama, Mark masih mengirimkan kabar pada semua sahabatnya—termasuk Jinyoung. Tanpa Mark sadari, ia menulis surat lebih panjang untuk Jinyoung. Semua tulisannya mengalir begitu saja seolah olah tidak ada jarak berarti diantara mereka
Mark berada pada titik dimana semua hal terasa sangat sulit, seribu kali lebih sulit daripada belajar huruf hangul. Jinyoung tertawa kencang membaca paragraf ini
Dan ketika Mark menulis, semua terasa sulit karena tidak ada orang disampingnya, Jinyoung terdiam.
Semenjak itu, kapan pun, dimana pun. Jinyoung menyempatkan diri mengirimkan sekedar pesan singkat lewat sosial media. Memang terlihat remeh, tapi tindakan Jinyoung berhasil membuat semangat Mark bangkit kembali
Meski dari jauh, berbeda tempat, tetap ada Jinyoung yang mendukung Mark
Jinyoung tidak berubah. Mengirimkan kabar, bertanya balik mengenai Mark seolah menjadi kebiasaan baru baginya. Tiada hari tanpa mengirimkan satu pesan singkat pada sahabatnya itu
Dan kau tidak bisa membayangkan betapa bangganya Jinyoung mendengar Mark akan dimasukkan pada pertandingan se Asia mewakili Korea Selatan
Jangan tanya Jackson, Yugyeom, Youngjae atau Jaebum, bagaimana suara Jinyoung yang berteriak keras dari depan layar kaca. Jinyoung begitu vokal mendukung Mark, begitu tulus, hingga ketika ketenaran Mark mencapai puncaknya, persahabatan mereka mulai di uji
.
.
.
.
.
.
Pada awal pertama, Jinyoung mengerti.
Mark sibuk latihan, seluruh tim mulai percaya dengan kemampuannya
Dan ketika kemenangan itu datang kembali, bukan hanya seluruh tim bergantung pada Mark tapi juga satu negara. Membuat nama Mark seolah menjadi legenda dalam dunia perbasketan
Pesan pesan singkat Jinyoung mulai tidak mendapat balasan, kadang dibaca pun sangat lama.
Jinyoung hanya tersenyum, ia meyakinkan diri bahwa Mark memang sangat sibuk hingga tidak punya waktu untuk membaca pesannya
Lagipula melihat jadwal Mark yang padat pergi tour ke beberapa negara membuat Jinyoung tidak menuntut apapun
Impian Mark selama ini sudah menjadi kenyataan, apa lagi yang Jinyoung keluhkan? Ketika sahabat terbaikmu mendapatkan apa yang selama ini ia cita citakan bukankah kau seharusnya berada disana, ikut bangga sekaligus merasa bahagia?
Namun seperti halnya roda selalu berputar. Kemenangan Mark tidak selamanya berjalan mulus. Ia pernah kalah, pernah seri atau cidera hingga harus istirahat beberapa bulan.
Jangan tanya bagaimana paniknya Jinyoung hingga rela menghabiskan ratusan ribu Won untuk bisa menelepon Mark yang ketika itu sedang berada di Jepang
"Halo?" jawab suara berat dari seberang sana
Jinyoung nyaris terlonjak saking senangnya, "Mark?!"
"Ini manajernya? Anda mendapat nomor ini darimana? Kalau anda hanya fansnya tolong jangan ganggu dia karena—"
"Tidak! Katakan ini sahabatnya, Jinyoung, aku dengar dia sedang cidera, bisa aku bicara dengannya" pinta Jinyoung merasa kecewa, bahkan untuk bicara dengan Mark saja harus melalui manajernya
"Maaf, Mark sedang istirahat dan dia tidak bisa diganggu, anda bisa menghubungi lain kali" sanggah Managernya itu dengan suara bosan, bisa Jinyoung tebak sang manager tidak percaya jika Jinyoung adalah sahabat Mark
.
.
.
Setelah menghubungi Mark ketika itu, Jinyoung berharap besoknya Mark akan balik menelepon dirinya atau membalas pesannya di sosial media
Tapi tidak, tidak ada satupun
Mark seolah menghilang dari pandangan Jinyoung
Mark menjadi sosok orang lain yang Jinyoung kenal sebagai Mark Tuan sang pemain basket terkenal, bukan Mark Tuan sahabatnya
.
.
.
Rasa kekecewaan Jinyoung memuncak ketika mendengar berita hubungan Mark berpacaran dengan salah satu model terkuak.
Jinyoung yang pagi itu menonton berita sebelum pergi bekerja, menatap nanar pada layar kaca, bukan—dia bukan tidak suka Mark berpacaran dengan model itu
Tapi yang membuat Jinyoung kecewa adalah wajah mabuk Mark yang tertangkap basah di dalam pub
Mark mabuk mabukan? Apalagi yang Jinyoung tidak ketahui?
Perasaan Jinyoung terinjak injak. Dalam sekali lihat, Jinyoung bisa tahu Mark sedang ada masalah tapi kenapa Mark tidak bercerita padanya… dan malah melampiaskan pada wanita dan alkohol
Seluruh dunia boleh mencemooh Mark ketika menangkap basahnya sedang mabuk mabukan bersama wanita, tapi mungkin… hanya Jinyoung yang bisa menangkap kesedihan dalam sorot mata Mark, sorot mata yang tampak hampa
"Kau bisa datang padaku Mark" bisik Jinyoung sambil memalingkan wajahnya lalu pergi menjauh
.
.
.
Seminggu
Dua minggu
Mungkin kalau Jinyoung ingin mendramatisir, dia ingin bilang terasa bertahun tahun menunggu Mark menghubunginya
Tapi tidak, tidak ada telepon atau surat yang masuk
Jinyoung duduk termangu, sambil menatap sebuah foto dari atas meja, sosok Jinyoung dan Mark di acara kelulusan SMA
Jinyoung ingin sekali menghubungi Mark, bertanya ada apa? Tapi Jinyoung tertawa mengejek, apa kali ini manajer Mark tidak menyusahkannya lagi?
"Lagipula sepertinya Mark tidak membutuhkanku lagi" ujar Jinyoung mengacuhkan rasa perih dalam dadanya setiap kali harus mengingat tentang Mark
.
.
.
.
.
.
Jika Mark bisa menjauh kenapa Jinyoung tidak berbuat hal yang sama
Jinyoung berusaha keras menata kembali hidupnya—tentu tanpa ada embel embel Mark di dalam kamus Jinyoung
Jinyoung sebisa mungkin tetap bersahabat dengan Jackson, Jaebum maupun Youngjae meski dengan sopan, Jinyoung meminta jangan menyebuat nama Mark di depannya lagi
Ketiga sahabat Mark bisa berkata apa? Ketika mereka juga sudah lama tidak berhubungan dengan sang pemain basket itu. Bahkan menurut Jackson, dulu, Mark lebih sering menulis surat pada Jinyoung daripada pada mereka bertiga
Jinyoung bekerja dua kali lipat lebih keras, mengambil lembur nyaris setiap hari. Semua orang mungkin berpikir Jinyoung ingin naik jabatan hingga bekerja begitu giatnya tapi tidak dengan Yugyeom
Ia sendiri sedih melihat Jinyoung berusaha keras tampak baik baik saja. Yugyeom tidak mau memancing terlebih dahulu, tapi ia tahu betul karena siapa Jinyoung bisa menjadi seperti ini
Jinyoung mengira dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan bisa membuatnya tidak memikirkan Mark tapi tampaknya Jinyoung salah besar
Skandal Mark menjadi topik pembicaraan dimana mana. Semua netizen nyaris menyerang tanpa ampun kepada Mark Tuan
Mereka dengan mudah menghina, menghakimi seolah olah Mark bukan lagi pahlawan mereka yang telah membawa nama Korea Selatan sebagai tim basket terhandal
Ingin rasanya Jinyoung membalas semua komen di dalam dunia maya yang menyudutkan Mark, tega teganya mereka menilai Mark serendah itu hanya karena skandalnya dengan beberapa model
"Si bodoh itu…" Tanpa sadar air mata Jinyoung menetes ke atas keyboard. Jinyoung yang tersadar langsung menghapus kasar wajahnya.
"Kau dimana bodoh" bisik Jinyoung kembali menangis—membayangkan Mark menghadapi seluruh kekejaman ini seorang diri
.
.
.
.
.
.
"Wow… jujur saja aku tidak menyangka" ucap Jinyoung sambil bersiul pelan
Di depan Jinyoung, Jaebum dan Youngjae tertawa salah tingkah, "Kau saja selama ini yang buta hyung, aishh aku mengerti jika kau buta terhadap perasaan sendiri, tapi dengan Jaebum dan Youngjae juga? Ck ck kau benar benar keterlaluan hyung" keluh Yugyeom yang mendapat hadiah sikutan tajam dari Jinyoung
Yugyeom mengerang sakit, "Aw!" sementara Jinyoung tersenyum puas, "Rasakan"
"Sudahlah, kalian!" tegur Youngjae pura pura marah, "Ini hari bahagiaku, ayolah kita bersenang senang"
Jinyoung, Jackson, Jaebum, Youngjae dan Yugyeom mengangkat gelas wine mereka ke atas
Hari ini adalah hari pernikahan Jaebum dan Youngjae yang diadakan sangat sederhana. Mereka hanya mengadakan pesta kecil di rumah Youngjae dan Jaebum.
Ya, seperti yang diucapkan Yugyeom, Jinyoung benar benar melewatkan petunjuk tentang hubungan Youngjae dan Jaebum. Apa Jinyoung tidak curiga Youngjae dan Jaebum tiba tiba saja mendirikan usaha kelas musik berdua sambil tinggal bersama sehabis lulus kuliah
"Kalau hubungan mereka sekedar sahabat, aku pasti diajak tinggal bersama" canda Jackson berusaha menjelaskan pada Jinyoung, "Nah ini tidak, berarti?" ia mengerlingkan sebelah mata yang membuat Yugyeom berteriak 'Ewwwwww'
Jinyoung tertawa lebar, "Memangnya tinggal bersama harus berpasangan?"
"Tidak juga" jawab Jaebum, "Tapi jika sampai ada yang mengajakmu tinggal bersama berarti orang itu sangat menyayangimu hingga ia lebih menyukai kau berada disampingnya sepanjang hari"
"Uuuuuuu sejak kapan kau jadi puitis begini hyung" ejek Yugyeom yang nyaris mendapat lemparan sendal dari Jaebum
"Makanya cari pacar!" balas Jaebum sementara tawa nyaring Youngjae terdengar membuat wajah garang Jaebum perlahan melembut
Jinyoung yang menangkap pemandangan di depannya diam diam merasa iri, ah tampaknya ia harus mulai mencari seseorang juga
TOK TOK
"Ah dia datang juga, sebentar" Jaebum pamit keluar dari ruang tamu
"Siapa lagi yang kita undang?" tanya Jinyoung sambil meraih cangkir miliknya dari atas meja
Jackson, Yugyeom dan Youngjae saling melirik salah tingkah mendengar pertanyaan Jinyoung
"Kalian kena…pa…" kalimat terakhir Jinyoung tergantung di ujung mulutnya yang menganga lebar, napasnya terasa sesak sambil kedua mata Jinyoung berulang kali mengerjap—memastikan kalau orang di depannya sekarang adalah…
"Mark?"
Mark berdiri tegap dengan pakaian serba hitamnya yang formal. Mark masih tampak sama. Garis wajah mungkin mempertegas kedewasaan Mark, tapi ada sesuatu pada diri Mark yang mengingatkan Jinyoung tentang hubungan persahabatan mereka dulu
Jinyoung nyaris berlari, memeluk Mark—memastikan sahabatnya yang telah lama menghilang akhirnya kembali
"Aku pergi" kata Jinyoung langsung bangkit berdiri
"Jinyoung…" Jackson menahan lengan Jinyoung sementara Yugyeom menahan dari sisi kiri, "Hyung, kalian berdua harus bicara" bujuk Yugyeom
"Aku bicara?" Jinyoung menepis kasar tangan Yugyeom, "Sudah lama aku ingin bicara padanya tapi apa? Kenapa kalian menatapku seolah olah aku yang menjauhinya! Dia yang mulai… jadi…"
Mark memaksakan diri tersenyum, "Bahkan menyebut namaku saja kau tidak mau…" Ia tertunduk pilu—memilih menatap sepasang sepatu di bawah, "Ijinkan aku bicara sekali saja… setelah itu, aku akan pergi lagi"
Kepala Jinyoung otomatis bergerak ke arah Mark. Dia akan pergi lagi? Apakah sulit Mark meminta maaf setelah apa yang telah ia lakukan? Kenapa Mark berubah menjadi seorang pengecut?
Apakah persahabatan mereka memang tidak bisa terselamatkan lagi
"Kita bicara diluar" kata Jinyoung sambil berjalan keluar ruangan menuju beranda rumah Youngjae dan Jaebum
Keempat sahabat mereka diam di tempat, membiarkan Mark dan Jinyoung menyelesaikan masalah mereka sendiri
Pikiran Jinyoung bergejolak hebat. Disatu sisi, ia siap memaafkan Mark, ia siap menerima Mark apa adanya karena memang begitulah seharusnya seorang sahabat bersikap
Tapi di satu sisi, ada rasa takut, rasa takut tersakiti, rasa takut kehilangan, rasa takut yang ditinggalkan Mark nyaris tidak bisa membuat Jinyoung bergerak maju di dalam hidupnya
"Park Jinyoung"
Panggilan resmi dari Mark, membuat Jinyoung berputar—menatap lurus ke sepasang mata hitam Mark
"Aku berhutang penjelasan padamu…" Mark berusaha berdiri lebih tegap, ditariknya napas dalam dalam—membalas tatapan ingin tahu dari Jinyoung, tanpa sadar Mark malah menatap lebih lama wajah Jinyoung yang ia rindukan
Seluruh beban pada pundak Mark seolah hilang begitu saja di depan Jinyoung, seolah olah dengan berada di samping Jinyoung, Mark bisa menghadapi apapun…
"Saat aku mulai menjadi pemain inti…" Mark menelan ludah susah payah, kali ini ia siap membongkar seluruh rahasianya, bagian terdalam dari dirinya yang begitu lemah di depan Jinyoung
Karena hanya pada Jinyounglah, Mark merasa ia bisa aman, Mark ingin menjadi dirinya yang dulu
Yang begitu mencintai basket
"Beban yang disandarkan padaku sangat berat. Aku bangga—sangat bangga karena bisa menjadi pemain inti sekaligus pemain yang diandalkan. Pertandingan demi pertandingan, kami menangkan dengan mudah. Semua mata menyorot padaku padahal kemenangan dalam basket tidak mungkin terjadi hanya pada satu orang saja, kemenangan itu terjadi karena kerja sama kami. Tekanan aku terima bertambah besar, satu kemenangan yang berlanjut pada kemenangan lain makin membuat tim kami harus mendapatkan kemenangan mutlak, tidak boleh kalah." Mark tidak lagi menatap Jinyoung, pikirannya melayang pada hari hari dimana, Mark terus menerus berlatih, menutupi segala celah yang mungkin dimanfaatkan lawan.
"Aku bermain basket untuk menang. Pikiran picik itulah yang mulai merasukiku. Dan ketika untuk pertama kalinya kami kalah… aku jatuh, aku terpuruk. Aku tidak berhenti menyalahkan diri sendiri, menyalahkan timku yang sedang terkilir atau kurang latihan pertahanan…"
Mark tertawa kelam
"Aku bahkan tidak ingat untuk apa aku bermain lagi. Kekalahan itu malah membuat pelatih dan sponsor makin menggencet kami ke dalam tekanan. Mereka mengharuskan kami menang karena faktor apa? Uang, uang dan uang! Aku merasa frustasi, basket tidak lagi menyenangkan bagiku. Basket menjadi beban dan terkadang ada saatnya aku tidak mau kembali ke dalam lapangan…" Mark mengelak dari pandangan Jinyoung, "Lalu kau tahu kelanjutannya, aku melampiaskan pada wanita… aku membuat skandal, membuat seluruh orang berbalik membenciku, membuatku tampak tak lebih dari seorang—"
Ucapan Mark terhenti ketika tubuh Jinyoung terlempar ke arahnya, Jinyoung memeluknya erat
"Aku seorang pengecut Jinyoung, kau harus akui itu" bisik Mark parau
Air mata Jinyoung jatuh kembali di balik punggung Mark
"Manajer bahkan tidak mengijinkanku menghubungimu… aku…" Pertahanan Mark runtuh, tubuhnya bergetar hebat—ia bukanlah pria cengeng, tidak. Bahkan ketika kata umpatan dilemparkan oleh pelatihnya, hinaan seluruh orang tertulis di SNS pribadinya, Mark tidak bergeming
Tapi saat seseorang yang begitu berharga bagi Mark malah menangisinya, seluruh beban Mark tumpah dalam pelukan Jinyoung
"Ma… maafkan aku Jinyoung… aku…"
Jinyoung makin erat memeluk Mark, "Aku selalu memaafkanmu, bukankah untuk itu aku jadi sahabatmu?"
Tawa Mark meledak, rasa lega meluap dari dadanya. Sudah berapa lama ia tidak pernah tertawa selepas ini? Dan Jinyoung bisa membuatnya tertawa hanya dalam hitungan menit
"Kau lebih dari sahabat untukku Jinyoung" bisik Mark sedikit memiringkan lalu mencium kening Jinyoung
.
.
.
.
.
.
Esok harinya
.
"Berita News pagi ini : Mark Tuan—pemain basket tingkat nasional, kemarin malam secara mengejutkan mengajukan pengunduran dirinya dari timnas. Dalam wawancara yang diadakan mendadak, Mark meminta dukungan agar dirinya bisa tetap bermain basket meski bukan dalam klub partai besar, akankah Mark tetap bersinar meski tidak lagi menjadi pemain inti timnas?"
Jinyoung yang sejak pagi sudah berada di apartement baru Mark, tersenyum sendirian mendengar kabar berita
"Kenapa tersenyum sendirian nerd? Pindahkan kardus ke sebelah sana" perintah Mark yang baru kembali dari kamar utama
Jinyoung mencebikkan bibir, "Kau tidak berubah ya? Dan kenapa hanya aku yang kau mintai tolong memindahkan barang! Kan ada Jackson, Jaebum, Youngjae bahkan Yugyeom!" Jinyoung mengabsen satu satu sahabat mereka berdua
Senyum separuh Mark terpatri di bibirnya, "Jaebum dan Youngjae tidak mungkin diganggu karena mereka baru menikah sementara Jackson ada acara dan Yugyeom juga, lagipula aku ingin menawarimu untuk tinggal denganku, bagaimana? Kudengar dari Jackson, apartementmu yang sekarang jauh dari tempat kerja so…? Apa pendapatmu tentang apartemen ini?"
"Tinggal denganmu? Kau—Eh?!" Jinyoung yang separuh mencerna ucapan Mark langsung terkejut, "Kau serius?" bisik Jinyoung sambil berdiri mematung di ruang tamu
"Iya, lebih hemat untuk kita berdua bukan? Lagipula aku mau coba melamar ke klub kecil di kota ini, bagus bukan kalau aku bisa membawa nama klub kecil menjadi besar?" Mark duduk di salah satu sofa baru sambil menepuk nepuk sampingnya
Jinyoung duduk di samping Mark dengan perasaan campur aduk
Senyum Mark yang terus terlihat mau tak mau membuat Jinyoung sedikit gugup, tanpa sadar ada rona merah menjalar di pipi Jinyoung
Kenapa pada saat seperti ini, ucapan Jaebum kemarin terngiang di kepala Jinyoung
Tapi jika sampai ada yang mengajakmu tinggal bersama berarti orang itu sangat menyayangimu hingga ia lebih menyukai kau berada disampingnya sepanjang hari
"Terkutuklah Im Jaebum" gerutu Jinyoung pelan
"Bagaimana Jinyoung? Hei!" Mark sedikit berteriak melihat Jinyoung yang tiba tiba melamun
Jinyoung menatap sekilas wajah antusias Mark sebelum memalingkan wajahnya, "A—aku tidur dimana? Setahuku apartemen ini hanya ada satu tempat tid—"
"Ya denganku, lagipula kalau aku sanggup menyewa apartemen dengan dua kamar, untuk apa aku mengajakmu? Kita patungan saja tinggal di apartemen kecil ini, tidak apa apa bukan?"
Ini hanya perasaan Jinyoung saja atau mendadak udara di dalam apartemen menghangat
"Tida—k" jawab Jinyoung sambil mengibaskan tangannya ke arah wajah
Melihat tingkah lucu sahabatnya, Mark tertawa—dengan riang, ia bangkit berdiri lalu menarik Jinyoung masuk ke dalam kamar tidur, "Lihat tempat tidur berukuran besar, kita tidak perlu bersempit sempitan seperti waktu SMA dulu, kemarilah Jinyoung…"
Lagi lagi Mark menarik Jinyoung hingga terjatuh lembut di atas tempat tidur dan bagai dejavu, Mark memeluk Jinyoung dari belakang, bersandar lembut disertai dengan gumaman penuh kelegaan
Mark merasa sudah menemukan tempatnya untuk kembali
Dan itu bersama Jinyoung
"Thanks Jinyoung" ucap Mark
"Sama sama bodoh" tubuh Jinyoung berbalik menghadap Mark, lalu menatap lekat lekat sahabat yang ia rindukan itu, "Kau selalu punya aku mengerti? Jadi jangan memendam apapun sendirian lagi"
Mark membalas tatapan dalam Jinyoung, spontan kedua tangannya merengkuh tubuh Jinyoung mendekat, "Kau akan menjadi orang pertama yang kucari Jinyoung, jadi tenang saja…"
"Hahahaahhaa" tawa Jinyoung memenuhi seisi ruangan, Mark menatap lebih intens bagaimana Jinyoung tertawa, bagaimana sorot mata Jinyoung tampak begitu peduli…
Dan bagaimana Mark menemukan kedua tangannya dengan begitu mudah memeluk Jinyoung tanpa beban
"Mark?"
"Hmm"
"Wajahmu terlalu dekat" bisik Jinyoung, mulai mundur perlahan meski Mark tidak melepaskan kedua tangannya
Agak tersentak, Mark menatap lebih seksama bagaimana Jinyoung merundukkan wajahnya, pipi sahabatnya itu penuh rona merah yang membuat sesuatu berdetak lebih kencang dalam diri Mark
"Kenapa kau harus malu?" Mark terkekeh pelan—mencoba menghalau rasa gugup yang mulai menyergapnya sekarang, "Kita pernah ciuman waktu SMA dulu—"
"Itu dulu Mark dan kita sepakat tidak membahasnya!" Sontak Jinyoung berontak melepaskan diri sambil berubah duduk di atas tempat tidur
Tawa Mark masih membahana ke seluruh ruangan, "Kau masih malu? Ayolah Jinyoung, itu sudah lama terjadi, aku berani jamin kau pasti mencium orang lain juga"
Tubuh Jinyoung membeku di tempat
"Jinyoung?" Merasa tidak ada jawaban, Mark menoleh ke samping—oke, wajah Jinyoung merah seluruhnya hingga ke bagian leher
"Oh my God! Jangan katakan kau belum pernah ciuman lagi setelah itu!" tebakan Mark seratus persen benar karena setelahnya Jinyoung makin merunduk malu
"Kalau tidak memang kenapa?! Aku bukan playboy sepertimu Mark!" tuduh Jinyoung sambil melipat kedua tangannya
Mark menaikkan sebelah alisnya sambil bersingut di samping Jinyoung, "Kau kebanyakan baca berita gosip, benar aku memang membawa wanita mabuk mabukan di pub, tapi aku tidak pernah memacari satu pun di antara mereka"
"Mwo?!" Jinyoung terkejut setengah mati, "Tapi kau dikatakan—"
"Kalau kau lebih jeli Jinyoung, semua model yang digosipkan denganku itu satu agensi. Salah satu CEO nya yang memintaku bekerja sama, lagipula aku sedang kosong jadwal pertandingan jadi… ya ku ikuti saja…" Mark bersandar santai ke dinding sementara Jinyoung memalingkan wajah untuk kesekian kali
"Hal itu berarti…" Mark menggoda Jinyoung
"Diamlah" ujar Jinyoung kesal
"Hei" Mark menangkap dagu Jinyoung—memaksa agar menatapnya ke depan, "Aku tidak masalah jika menciu—" Suara Mark menghilang saat melihat raut wajah Jinyoung
Selain diliputi rona merah, tatapan Jinyoung beda dari biasanya seolah ada perasaan lain yang tampak disana, perasaan yang membuat Mark sedikit… terhanyut
"Sebaiknya kita beres beres kembali" ujar Mark sambil berdeham beberapa kali
"Oh iya" Jinyoung pun menyambar kesempatan itu untuk menjauh dari batas yang nyaris mereka sentuh
Perbatasan samar samar yang nyaris tidak terlihat baik oleh Mark maupun Jinyoung
Tapi bagi keempat teman mereka, perbatasan diantara Mark dan Jinyoung sudah hilang beberapa tahun yang lalu
.
.
.
TBC
Seperti janji saya, satu chapter tiap minggu akan di update...
Just wait, read and comment... :)
-Arisa29-
