Chapter 9

.

.

.

Jinyoung merasa hidupnya tidak pernah sebaik ini.

Di pagi hari, Jinyoung selalu bangun sambil tersenyum lebar tanpa beban, seakan masalah tadi malam di kantor tidak terjadi padahal Jinyoung dimarahi habis habisan oleh direktur keuangan karena salah mengatur cash flow

Namun itu tidak berdampak apa apa bagi Jinyoung

Pria berambut hitam dengan ciri khas khusus di matanya setiap kali ia tersenyum, malah bersenandung saat menyiapkan sarapan. Jinyoung memanaskan kimchi dan daging asap sisa semalam sebelum menaruhnya di kotak makan lalu sibuk memanggang roti serta menyeduh kopi

"Pagi" suara serak Mark menyapa Jinyoung yang membelakanginya

"Pagi, tidurmu nyenyak?" Jinyoung berbasa basi

Mark tertawa pelan, "Kau tidur di sebelahku nerd" selorohnya

"Dan kau tetap mendengkur bodoh" balas Jinyoung tak mau kalah

Mark menggelengkan kepala melihat sikap kekanak – kanakan Jinyoung lalu duduk di kursi, mengambil langsung roti yang selesai di panggang

"Jinyoung" panggil Mark sambil memasukan satu potongan besar ke dalam mulutnya

"Hmm?" jawab Jinyoung yang menyesap pelan kopi di dalam cangkir

"Kau serius dengan keputusanmu semalam?" Pertanyaan Mark membuat Jinyoung mendesah panjang, tadi malam—mereka berdua terlibat dalam pembicaraan panjang

"Kau tidak usah takut Mark, aku akan tetap membayar tagihan meski nantinya aku belum—"

"Bukan itu masalahnya Jinyoung" tegur Mark tidak suka sambil berdiri setelah menghabiskan roti di tangannya, Jinyoung menengadah—menatap kedua mata Mark yang tampak begitu dekat

"Asal kau tidak menyesal…" Mark menggantung kalimatnya, ia meraih sebelah tangan Jinyoung yang bebas lalu mengusapnya pelan

Jinyoung tersentak, jantungnya berdegup kencang

"Aku tidak akan menyesal, kau tahu kan keinginanku dari dulu?" Jinyoung tersenyum miris sambil mengacuhkan dadanya yang menghangat setiap kali bersentuhan dengan Mark

Ayolah dia hanya Mark, batin Jinyoung berkata

Mark membalas senyum Jinyoung ragu ragu, "Selama itu yang kauinginkan, no problem"

"Aku yakin—seyakin yakinnya" janji Jinyoung yang membuat Mark menaikkan alisnya tapi tak lama tertawa kecil

"Itu baru Jinyoung-ku" Mark menciup pipi Jinyoung seolah itu bukan masalah besar

Jinyoung membatu di tempat

"Ayo kita bersiap siap, pelatihku akan marah jika aku telat semenit saja dari pertemuan rutin" Mark menepuk lembut kepala Jinyoung sebelum berbalik ke kamar, mengambil handuk lalu berlari ke dalam kamar mandi

"Aku duluan Jinyoung!" teriak Mark kekanak kanakkan, namun paling tidak suara Mark berhasil membuyarkan sikap beku Jinyoung

"Ya! Kau curang, aku sudah menyiapkan air hangat!" seru Jinyoung berlari kencang ke depan pintu kamar mandi tapi terlambat, Mark sengaja menutup pintu tepat di depan wajah Jinyoung

"Kau kalah lagi nerd, hahahahaha" tawa Mark membahana pagi itu namun Jinyoung tidak protes lebih lanjut

Wajah kesal Jinyoung perlahan melembut sebelum ia kembali lagi ke dapur untuk membereskan sisa sisa sarapan

Pagi itu, Jinyoung merasa harinya di mulai dengan baik seperti biasa

.

.


.

.

Siangnya Jinyoung mengajukan surat pengunduran diri

Jangan ditanya bagaimana terkejutnya sang atasan saat menerima surat Jinyoung.

Direktur itu bahkan sampai meminta maaf karena sebelumnya pernah memarahi Jinyoung habis habisan tapi Jinyoung langsung menepis perkataan maaf sang atasan sambil bercerita tentang cita citanya dari dulu

"Saya ingin menjadi guru—memang terdengar terlalu idealis atau bodoh, tapi itulah yang saya inginkan, maafkan jika sikap saya selama ini pernah membuat Bapak susah" Untuk terakhir kalinya Jinyoung membungkuk dalam dalam yang membuat atasannya tambah tidak enak

Jinyoung adalah karyawan teladan, ia tidak pernah bersikap macam macam. Bersikap profesional dan jarang bergosip dengan karyawan lain. Dua sikap kombinasi yang susah dicari dalam diri satu orang, dan sekarang atasan Jinyoung harus kehilangan salah satu karyawannya

Sesuai peraturan perusahaan, Jinyoung baru bisa benar benar mengundurkan diri sebulan setelah mengajukan surat resign. Sekarang Jinyoung mulai bekerja seperti biasa sambil menerima beberapa ucapan sedih dari beberapa rekan

Jujur Jinyoung merasa kehilangan, bagaimanapun posisinya sekarang sudah mapan, gajinya lumayan tinggi dan jenjang karir Jinyoung terbuka lebar

Tapi saat ia membayangkan Mark. Keputusan Jinyoung semakin bulat

Mark saja berani memulai mimpinya dari awal kembali, masa Jinyoung tidak?

Masih sambil tersenyum lebar, Jinyoung memulai pekerjaannya dengan perasaan lega

.

.

.

.

Hidup dengan orang lain tidaklah mudah

Meski itu adalah sahabat yang kau kenal selama bertahun tahun

Mark dan Jinyoung pun bukan pengecualian

Jinyoung pernah bertengkar hebat dengan Mark dalam hal hal sepele, seperti Mark ternyata suka lupa menutup tutup pasta gigi selesai menyikat gigi atau Mark lebih suka memakai baju yang sama dua hari berturut turut

Jangan tanya bagaimana kencangnya Jinyoung berteriak saat melihat tumpukan baju kotor Mark di atas kursi di dalam kamar mereka

"Kau bukan ibuku, Jinyoung" kata Mark kesal

"Tapi aku teman sekamarmu Mark Tuan" balas Jinyoung tidak kalah pedas

Mark mengerang kalah

Dan kebiasaan Mark masih menganggu Jinyoung setiap malamnya

Mark, jika sudah berada di lapangan, sulit sekali menyuruhnya pulang

Setelah masuk ke dalam klub kecil di dekat apartment mereka, Mark berlatih habis habisan—ia ingin membuktikan, berada di klub manapun tidak akan membuatnya patah semangat dan menyerah

Jinyoung mendukung pemikiran Mark itu

Tapi tidak sebanding jika harus menunggu sampai larut malam setiap harinya

pernah suatu kali, Jinyoung sampai tertidur di sofa ketika Mark pulang dari latihan

"Kau tidak perlu menungguku, besok kau harus bekerja" ujar Mark gemas bercampur kesal, kenapa Jinyoung selalu keras kepala setiap Mark memberitahunya

"Tidak masalah" gumam Jinyoung sambil bangkit dari sofa, "Ingat aku akan terus menunggumu—jadi, pulanglah lebih cepat" balasnya sambil berjalan lunglai ke dalam kamar

"Ya! Kenapa aku pulang lebih cepat? Kau urus saja dirimu sendiri!" balas Mark jengkel, dikeluarkannya baju kotor dari dalam tas lalu melemparnya dengan satu tangan ke dalam keranjang basket di seberang ruangan

Malam itu, Mark sengaja tidur membelakangi Jinyoug

Ia tidak mengerti tentang sikap Jinyoung yang terlalu perhatian

Mereka memang bersahabat tapi bukan berarti Jinyoung bisa bersikap terlalu mengatur dirinya

Dan ketika esok hari, Mark menemukan Jinyoung yang kelelahan menunggunya pulang, tertidur di sofa, Mark menghela napas panjang

"Apa kubilang, kau keras kepala Jinyoung" gerutuan Mark sedikit membuat Jinyoung tersentak, pria berambut hitam itu sempat terbangun dan berusaha bangkit berdiri tapi tubuhnya hampir jatuh kalau saja tangan Mark tidak refleks menangkap Jinyoung

"Aku bisa sendiri bo—hoam – doh" ucap Jinyoung tidak jelas

Mark memutar kedua bola matanya, "Kau saja masih terpejam nerd, sudah tidur saja" dengan kedua tangan Mark mengangkat tubuh Jinyoung menuju kamar mereka berdua

"Kenapa kau tidak tidur saja sih" nada suara Mark melunak, "See? Kau sudah kelelahan seharian bekerja dan masih harus menungguiku" ucapnya sambil menatap wajah damai Jinyoung yang tertidur

"Supaya kau pulang cepat bodoh…" gumam Jinyoung tampaknya ia masih di ambang batas antara sadar atau tertidur

Alis sebelah Mark naik, "Kenapa aku harus pulang cepat?" tanyanya sarkatis

Saat mereka sudah sampai di tepi tempat tidur, Mark menaruh tubuh Jinyoung hati hati seraya menarik bantal ke dekat kepala Jinyoung

"Karena…" Jinyoung memutar tubuhnya—membelakangi Mark saat berbisik, "Kalau tidak begitu, kau mungkin tidak ingat pulang… kau selalu begitu… lupa segalanya jika sudah berada di lapangan…"

Mark tertegun sebelum ia tersenyum sambil menggelengkan kepala tidak percaya—Jinyoung masih ingat dengan kejadian dulu, kejadian saat SMA ketika Jinyoung sampai datang menghampirinya karena Mark masih berlatih hingga larut malam

"Kau bisa sakit…" gumaman Jinyoung belum berhenti, "Kau bisa membuatku khawatir…"

Kepala Mark menoleh, menangkap gerakan tubuh Jinyoung yang bergelung nyaman di atas tempat tidur

Tanpa berkata apa apa, Mark berbaring di samping Jinyoung, menyelimuti tubuh mereka berdua sambil menarik Jinyoung ke dalam pelukannya

"Sorry" bisik Mark di dekat telinga Jinyoung, senyum Mark tampak di bibirnya saat berkata, "Kuusahakan tidak akan pulang malam lagi"

Jinyoung mengerang pelan sebelum bersandar pada tubuh Mark—mencari kenyamanan yang membuatnya tidur nyenyak

.

.


.

.

Jinyoung tidak bisa menghitung berapa kali Mark bisa membuat jantung terlonjak hebat

Padahal seharusnya Jinyoung bisa mengatasi perasaan kaku terhadap Mark sejak bertahun tahun yang lalu, ayolah mereka sudah bersahabat sejak SMA!

Tidak sepantasnya, Jinyoung nyaris berjengit saat Mark sering menarik pinggangnya mendekat saat mereka duduk di sofa untuk menonton film berdua

Jangan salahkan Jinyoung jika ia tidak bisa fokus menonton film di layar TV

Salahkan tangan Mark yang masih berada di pinggangnya seolah olah Mark biasa melakukan itu pada Jinyoung

Atau ketika Mark punya kebiasaan baru

Saat pagi hari—ketika mereka berdua sibuk menyiapkan diri untuk berangkat kerja atau dalam kasus Mark, berangkat ke klub basket

"Aku duluan" kata Mark buru buru menyampirkan tas di atas bahunya

Jinyoung mengangguk saat sibuk memakai kaos kaki, "Hati hati" katanya kembali menunduk untuk membenarkan letak sepatu

Dari bawah, Jinyoung bisa menangkap kedua kaki Mark yang masih berada di dekat pintu, "Ada yang tertinggal?" tanyanya pada Mark yang belum juga pergi

Mark tersenyum simpul, sebelum menarik pinggang Jinyoung mendekat lalu mencium pelan pipi Jinyoung

"Have a nice day" kata Mark kali ini benar benar pergi

Jinyoung mematung, sebelah tangan refleks memegangi pipinya yang mulai memerah

Yeah, hari ini akan berjalan sangat indah bagi Jinyoung

.

.

.

.

"Iya, aku janji paling lambat jam 8, oke? Bye" Mark mengakhiri percakapan di handphonenya sebelum kembali berlari ke dalam lapangan, bergabung dengan teman satu timnya untuk pemanasan

"Bicara dengan siapa? Jinyoung pasti" tebak teman satu tim Mark dengan tepat

Mark menatap tajam ke depan, "Kenapa kau bisa tahu? Tidak hanya Jinyoung saja yang biasa kutelepon, ada Jackson dan juga Jaebum—"

"Yeah tapi kau hanya memberi kabar pulang malam pada Jinyoung" balas temannya mulai berlari untuk pemanasan

Di sampingnya, Mark mulai mengiringi temannya sambil memasang tampang heran, "Apa aku begitu jelas dibaca?" tanya Mark penasaran

Temannya mengangguk lalu menatap Mark lucu, "Kau selalu bicara tentang Jinyoung, Jinyoung dan Jinyoung. Belum lagi, Jinyoung sering datang kemari dengan kimbapnya yang super duper enak itu… ugh kau beruntung hidup bersamanya" pujian tulus temannya itu membuat Mark bangga

Menjelang pertandingan penyisihan, Jinyoung sengaja mengambil cuti dua hari tanpa mengindahkan ucapan Mark yang merasa tidak enak

"Aku janji akan menontonmu Mark, tidak ada sanggahan" kata Jinyoung keras kepala

Jadi Mark bisa apa ketika latihan terakhir Jinyoung datang membawa sekotak besar kimbap buatannya untuk dimakan oleh seluruh tim

Pujian datang bertubi tubi untuk Jinyoung karena bisa memasak, Mark menatap Jinyoung dengan perasaan kagum dan bangga

Sikap ramah Jinyoung juga membuatnya cepat akrab ketika Mark mengenalkan sahabatnya itu satu persatu dengan seluruh tim

Tidak beda jauh yang dialami Jinyoung

Nama Mark sudah sering muncul ketika Min, teman serekan Jinyoung di kantor sering curhat padanya.

Kalau Mark begini, kalau Mark begitu

Sampai sampai Min yang tidak tahan akhirnya berkata, "Aku tahu kau sudah punya pacar yang sempurna, tapi apa perlu kau memamerkannya setiap kali aku curhat mengenai pacarku padamu?"

"Mwo? Mark bukan pacarku!" sangkal Jinyoung dengan wajah sepenuhnya memerah

"Terserah" balas Min tidak percaya

Oh ya jangan lupa dengan ketiga sahabat Mark dan juga sahabat Jinyoung yang sampai tidak tahu harus bagaimana lagi kepada dua orang ini

"Mereka terlalu bodoh, sangat bodoh" gumam Jaebum menyesap kopinya datar, "Bahkan aku dan Youngjae yang awalnya sama sama buta dengan perasaan masing masing sudah menikah, tapi mereka malah… aigo"

"Yeah thanks to Jackson karena telah membantu kalian" timpal Jackson yang membuat Jaebum menyerengitkan dahi, "Jangan memasang tampang protes, berterimakasilah padaku"

"Oke, terima kasih" kata Youngjae buru buru memotong sebelum Jaebum dan Jackson memulai pertengkaran konyol lagi

"Kalau kau bisa menyatukan Youngjae dan Jaebum yang lamban, apa kau bisa melakukan sesuatu pada mereka?" tanya Yugyeom sambil menggerakan kepala ke arah Jinyoung dan Mark yang sedang menunggu minuman mereka di samping meja kasir

Jackson menyesap kopinya sambil menyeringai lebar, "Sudah tentu Yugyeom, aku punya rencana yang spektakuler"

.

.

.

.

"Blind date?" ulang Mark—wajahnya tampak hampa

Jackson mengangguk antusias, "Yes Mark Tuan, blind date!"

"Tapi—" Sontak, Jaebum menarik lengan Jackson ke samping sambil berbisik sinis, "Ya! Kenapa kau malah mengatur blind date! Bagaimana dengan Jinyoung?"

Jackson menoleh dengan wajah tanpa dosa, "Entahlah, masalah Jinyoung bukan urusanku—lagipula" Jackson kembali bicara ke depan Mark serta Youngjae yang menatap horor Jackson, "Mark sudah saatnya punya pacar, terlalu sayang sahabat tampan kita ini masih melajang" tambahnya yang membuat Jaebum menahan kedua tangannya yang mau memukul kepala Jackson

Ini bukan rencana mereka awalnya! Erang Jaebum dalam hati

"Ta—tapi Jackson" Youngjae melemparkan tatapan peringatan pada Jackson, "Kurasa Mark tidak butuh pacar" ada nada menyindir dalam perkataannya

"Kata siapa?" balas Jackson defensif, "Kau pasti merasa kesepian selama ini kan Mark? Mau kukenalkan pada seseorang? Tenang saja, rekomendasiku ini sangat cantik dan baik hati, bagaimana?"

Mark masih memasang wajah blanknya di depan Jaebum, Jackson dan Youngjae

Ia kesepian? Butuh pacar? Yeah, memang sudah agak lama Mark tidak menjalin hubungan dengan siapapun tapi kenapa Mark tidak pernah merasa butuh seseorang untuk menemaninya?

Jinyoung

Nama itu mendadak muncul dan membuat pertanyaan Mark menjadi jelas

Tapi mereka hanya bersahabat, tunggu dulu! Pikir Mark berteriak—apa Jinyoung pernah berpikiran untuk berkencan? Apa Jinyoung merasa kesepian selama ini? Tampaknya tidak, jawab Mark seorang diri. Jinyoung selalu tersenyum bersamanya dan bukan berarti Jinyoung sudah merasa bahagia

"Mark? Hello, apakah ada orang di dalam?" ejekan Jackson berhasil membuyarkan lamunan Mark, pria berambut merah ini tersentak lalu berdeham beberapa kali

"So… kau mau menerima tawaranku?" ulang Jackson sekali lagi tanpa mengindahkan Jaebum yang menginjak kakinya atau Youngjae yang menutup wajah dengan frustasi

"Boleh" jawab Mark lugas, "Aku mau pergi ke blind date"

"Eh?" ujar Jaebum dan Youngjae kompak, mereka menatap wajah Mark yang datar sambil saling bertukar pandangan sementara Jackson tersenyum lebar, "Great! Besok aku akan menyuruh Sunyoung datang ke apartementmu"

"Wait? What!" seru Mark spontan

.

.


.

.

"Ada apa denganmu Mark, kau tidak menyentuh makananmu dari tadi"

Mark menoleh dan makin menghela nafas panjang begitu berhadapan dengan raut khawatir dari wajah Jinyoung, "Aku sudah kenyang" jawabnya singkat sambil memalingkan muka

"Tadi pasti kau sudah makan dengan mereka" gumam Jinyoung yang tahu Mark pergi hangout dengan para sahabatnya, tangan Jinyoung bergerak meraih mangkuk nasi Mark, "Biar aku taruh lagi di rice cooker, sayang dibuang"

Senyum di wajah Jinyoung makin membuat dada Mark dipenuhi rasa bersalah

Mark mulai merasa menerima tawaran Jackson untuk blind date adalah tindakan bodoh

Oke, Mark merasa ia harus pergi berkencan—tidak ada salahnya mencoba, tapi bertemu pertama kali di apartement dia dan Jinyoung? Jackson pasti sudah gila

Percuma Mark tadi berteriak protes karena Jackson terlanjur mengirim pesan pada Sunyoung—gadis yang akan dikenalkan pada Mark. Rekan sekerja Jackson di kantor

"J—jinyoung" panggil Mark gugup

"Ya?" Dengan mulut penuh, Jinyoung menoleh ke arah Mark

Rasa bersalah makin membuat perkataan Mark sulit terucap, "I—itu… besok aku ada tamu datang ke—kemari"

"Bagus, teman satu timmu?" tanya Jinyoung antusias, tidak biasanya Mark mengajak orang lain ke apartement mereka terkecuali Jackson, Jaebum, Youngjae serta Yugyeom

Kali ini Mark memberanikan diri membalas tatapan Jinyoung, "Bukan, yeoja—seorang wanita" suara Mark nyaris menghilang dan damn! Ia menyesal telah mengatakan itu, ia bahkan menyesal pernah berkata setuju karena begitu mendengar seorang wanita yang akan datang, senyum di wajah Jinyoung menghilang, sorot matanya redup dan Mark tidak suka melihatnya

"Oh" Jinyoung dengan cepat menguasai diri, ia kembali tersenyum lebar, "Great… aku…" untuk sekejap Jinyoung bersikap konyol, tangannya yang hendak mengambil mangkuk nasi nyaris menjatuhkan gelas di samping

"Jinyoung" Mark sontak meraih tangan Jinyoung yang membuat sahabatnya itu terdiam, "Kalau kau tidak mengijinkannya, aku akan membatalkan pertemuan—"

"Tidak" suara Jinyoung nyaris melengking, "Jangan… kau berhak membawa siapapun—ini apartementmu juga hyung, aku… aku akan berusaha tidak mengganggu kalian…"

Hyung? Mark menutup wajah dengan sebelah tangan. Umur mereka memang terpaut dua tahun tapi sudah sejak lama Mark menyuruh Jinyoung memanggil namanya langsung tanpa embel embel hyung

Dan untuk pertama kali Jinyoung memanggil Mark, hyung

Well, ini bisa jadi pertanda buruk

"Jinyoung? Kau mau kemana?" tanya Mark yang heran melihat Jinyoung membereskan sisa makan malam mereka di atas meja

Jinyoung tersenyum lagi, tapi Mark tidak suka melihatnya. Senyum Jinyoung tidak menyentuh kedua matanya

"Aku harus tidur cepat hyung, masih banyak deadline yang harus aku selesaikan sebelum resign dari sana"

Mark mengutuk dirinya sekali lagi

Dalam sehari, Jinyoung memanggilnya hyung dua kali

.

.


.

.

Apa yang ditakutkan Jinyoung selama ini akhirnya terjadi

Mark mulai tertarik pada seorang wanita

Bukan Jinyoung tidak pernah memikirkannya, tapi yah—salahkan Yugyeom yang sering kali mengejek Jinyoung semenjak ia memutuskan tinggal bersama dengan Mark

"Kalian menikah saja sekalian hyung" itu salah satu komentar ngawur Yugyeom

Atau

"Apa kau buta hyung? Mark hyung suka padamu—ah salah, dia membutuhkanmu, sudah jelas, sana kau utarakan saja perasaanmu sebelum… ada orang lain yang mengambil Mark hyung darimu"

Jemari Jinyoung semakin kuat mencengkram bantal di atas kepalanya, ia tidur menyamping dengan gelisah

Apa yang harus ia utarakan jika perasaan menggebu gebu seperti ingin bertemu setiap hari, atau bunga bunga bertebaran ketika kau bertemu dengan orang yang kau sukai tidak pernah di alami Jinyoung

Bertemu Mark setiap hari membuat Jinyoung nyaman seolah sudah menjadi kebiasaan

Tawa Mark, sikap konyol, sarkasmenya atau acuhnya bisa membuat Jinyoung tersenyum, jengkel dan ingin mengumpat dalam waktu bersamaan

Jinyoung yakin perasaannya pada Mark bukan seperti seorang kekasih

Tetapi lebih pada… sahabat sejatinya, seseorang yang bisa mengerti Jinyoung tanpa harus Jinyoung yang mengatakannya

Orang yang Jinyoung tahu akan langsung berlari menolongnya tanpa memperdulikan hal lain

Orang seperti Mark Tuan

.

.

.

"Jinyoung" panggilan Mark dari balik punggungnya membuat Jinyoung pura pura memejamkan mata

Jangan sekarang, mohon Jinyoung dalam hati, ia tidak mau membahas masalah 'yeoja' atau apapun sekarang

"Hei, kau tidak marah padaku kan" bisik Mark membawa tubuhnya mendekat hingga Jinyoung bisa merasakan dagu Mark bersandar di bahu Jinyoung

"Jinyoung bicara padaku, aku tahu kau belum tidur" perkataan Mark selanjutnya membuat Jinyoung mengutuk diri dalam hati, inilah yang terjadi kalau kau bertengkar dengan orang yang terlalu mengenalmu

"Besok saja kita membahasnya, aku mengantuk" gumaman pelan Jinyoung tidak serta merta membuat Mark percaya, tapi akhirnya ia menyerah

"Baiklah kalau itu maumu" Mark tidak bersingut menjauh, ia malah semakin erat merangkulkan tangannya, membawa Jinyoung seperti biasa ke dalam pelukannya sambil sesekali mencium pucuk kepala sahabatnya itu

Jinyoung mengerang penuh kenyamanan, disinilah tempatnya, bersama dengan Mark

Namun…

Jika Mark punya orang lain yang disukai, tempat Jinyoung akan terganti

Pelukan dan ucapan selamat tidur ini mungkin bukan untuknya lagi

Hanya memikirkan hal itu, kedua mata Jinyoung kembali terjaga, ia melihat sekeliling kamar gelap gulita diikuti suara dengkuran Mark yang khas dari belakang

Jinyoung akan kehilangan semua ini…

Dan ia tidak siap

.

.


.

.

"Kenapa kau lesu sekali hari ini? Tidak biasanya" tegur Min saat mampir ke meja Jinyoung sambil menyerahkan laporan penjualan triwulan

Jinyoung tersenyum, "Hanya kurang tidur" jawabnya kasual

"Jangan tersenyum lagi kalau kau tidak ingin tersenyum, jelek tahu" kata Min masih betah berdiri di samping meja, "Kau ada masalah kau bisa cerita padaku" tambahnya lembut

Jinyoung kali ini benar benar tersenyum, "Mungkin lain kali—sekarang aku harus menyelesaikan deadline untuk meeting besok"

Pekerjaan satu satunya adalah pengalih Jinyoung dari masalah semalam. Begitu konsentrasi dia sampai sore hari, Jinyoung masih saja merevisi beberapa budget yang akan ia persentasikan

Diacuhkan ajakan pulang dari Min, atau ucapan selamat tinggal dari atasannya

Jinyoung merasa ia tidak akan pulang cepat hari ini

"Ah~ sudah lama aku tidak mengunjungi Yugyeom" pikir Jinyoung saat semua laporan meetingnya sudah selesai ia kerjakan

.

.

.

.

"Jadi… kau ada masalah apa dengan Mark hyung?"

Ucapan pertama dari Yugyeom nyaris membuat Jinyoung tersedak saat meminum kopi

"Kenapa aku harus ada masalah?" balas Jinyoung enggan membeberkan masalah sepele yang membuatnya malas pulang hari ini

Jam setengah 8 malam, Jinyoung melirik jam dinding di café tempat ia dan Yugyeom bertemu

Mungkin gadis itu masih ada di apartement mereka, mungkin Mark dan gadis itu tidak henti hentinya berbicara hingga lupa waktu jadi tidak baik bukan kalau Jinyoung menganggu mereka sekarang

Mungkin… kali ini Jinyoung harus terima kenyataan jika Mark tidak ada untuknya lagi

Mark akan menemui seseorang, mencintai seseorang dan menikah dengan seseorang

Jinyoung harus bersikap lapang dada dan ikut bahagia, bukan malah merajuk lalu menyeret Yugyeom untuk menemaninya sepanjang malam

"Kudengar dari Jaebum…" Yugyeom menggeram pelan, "Mark setuju untuk blind date yang diatur oleh Jackson ya?"

Terdengar bunyi decakan kesal dari bibir Jinyoung, ia lupa kalau Yugyeom juga akrab dengan para sahabat Mark

"Iya" jawab Jinyoung singkat—tidak mau membahasnya lagi, "Dan perhatikan cara bicaramu Yugyeom, bagaimanapun mereka hyungmu! Panggil mereka hyung"

Yugyeom mendesah kesal, "Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab aku hyung ; bagaimana perasaanmu sekarang?" suara Yugyeom melunak yang membuat Jinyoung nyaris berkata sejujurnya pada dongsaengnya itu

Aku. Tidak. Suka. Ingin sekali Jinyoung berkata demikian, tapi ia menahan ucapannya

Jika Mark bisa bahagia dengan wanita itu, Jinyoung harus lebih sering menahan diri

"Aku baik baik saja, aku bahagia saat mendengar Mark ingin pergi blind date" jawab Jinyoung berbohong

Yugyeom melipat kedua tangan di dada sambil menatap datar ke depan

"Apa!" balas Jinyoung defensif

"Hyung…" Sikap sinis Yugyeom memudar, ia mencondongkan tubuh sambil menatap Jinyoung lekat lekat, "Kalau kau tidak suka katakan saja pada Mark, jangan kau pendam sendiri—ia pasti akan mendengarkanmu."

Jinyoung terdiam lama, entah kenapa matanya nyaris mencair di depan Yugyeom, sikap 'baik baik saja' yang Jinyoung tunjukkan pada setiap orang hilang sudah

Ia tidak baik baik saja, tidak pernah begitu—jika menyangkut tentang Mark

"Itu berarti aku egois" Jinyoung berbisik kecil, merasakan serpihan kecil seolah hancur di dalam hatinya,

"Lalu dia tidak egois? Mengajakmu tinggal bersama lalu seenaknya saja setuju blind date dengan orang lain. Ah! Jangan lupakan dia pernah tidak memberi kabar padamu setahun dan dengan mudah datang minta maaf, kau terlalu baik hyung untuknya" ucap Yugyeom agak emosi

Melihat itu Jinyoung tersenyum lemah, "Itulah gunanya sahabat" jawaban Jinyoung yang terlalu bijaksana hanya membuat Yugyeom makin putus asa

"Kenapa kau bisa selambat dan sebodoh ini hyung, ini sudah 10 tahun tapi kau belum sadar juga?" Yugyeom menggeleng tidak percaya, "Kalau kalian hanya bersahabat kenapa kau sekarang sangat sedih Mark berkencan dengan orang lain?" pancingnya

"Karena aku terbiasa bersama Mark" jawab Jinyoung separuh bodoh separuh polos

"Baik, baik! Aku menyerah" Yugyeom mengangkat kedua tangannya, mungkin sampai kedua orang ini menjadi tua, mereka masih belum menyadari perasaan masing masing

"Lalu apa yang mau kau lakukan setelah ini hyung? Pulang seolah tidak terjadi apa apa dan memberi selamat pada Mark hyung lalu melanjutkan persahabatan kalian yang indah itu" sindiran demi sindiran tidak membuat Jinyoung sadar akan maksud yang sebenarnya ingin di sampaikan Yugyeom

Jinyoung memainkan kedua tangannya-gugup, "Aku tidak mungkin bersandiwara jika itu di depan Mark, dia pasti tahu." Perlahan lahan tatapan Jinyoung menerawang jauh, melewati atas kepala Yugyeom sambil membayangkan tawa Mark saat ini bersama orang lain di apartement mereka

Apartement, ya! Sekarang Jinyoung tahu apa yang harus dia lakukan

"Yugyeom—kau punya kenalan orang properti?" pertanyaan random dari Jinyoung membuat Yugyeom agak curiga

"Aku kenal beberapa sales di bagian agen, tapi kenapa hyung?" selidiknya

Jinyoung menghela napas dalam dalam, ia harus mengambil keputusan, seberat apapun itu, tidak masalah.

Selama Mark bisa bahagia

"Aku akan pindah dari apartement Mark, kurasa jika suatu saat Mark berkencan akan canggung jika aku berada disana" kata Jinyoung pahit

GUBRAK

Yugyeom nyaris jatuh mendengar penjelasan Jinyoung

"Kau benar benar bodoh hyung, kenapa kau malah—mau pindah?" suara Yugyeom terdengar marah, oke fix sehabis ini, dia akan datang ke rumah Jackson lalu mencekik sahabat Mark itu karena rencananya malah berakibat fatal

Lihatlah sekarang Jinyoung malah mau pindah! Aigoo Hyungnya benar benar!

"Aku tidak punya pilihan lain Yugyeom, masa aku menjadi penghalang mereka, lagipula jika suatu saat aku juga berkencan…" Jinyoung mengucapkan kata terakhir agak tidak yakin

"Kau juga mau berkencan?" owh my gut! Kepala Yugyeom sekarang mau pecah, apa yang mereka rencakan berbalik layaknya boomerang. Mungkin karena rencana konyol Jackson, hubungan Mark dan Jinyoung malah makin jauh dari bayangan mereka

Jinyoung tertawa miris, "Aku tidak mungkin sendirian terus bukan?"

"Tapi Mark?" suara Yugyeom nyaris berbisik

Kedua mata Jinyoung tertunduk, memainkan kedua ujung sepatunya sambil menggaruk belakang kepalanya gelisah

Dulu ia pernah berkata kepada Yugyeom bahwa hidupnya lengkap. Ia bahagia sekarang, sangat bahagia

Apalagi semenjak Mark kembali padanya

Tidak ada lagi yang Jinyoung inginkan

Hidupnya yang sederhana nyaris sempurna sebelum…

.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang, Jinyoung berpikir panjang sambil menatap trotoar yang ramai orang berlalu lalang

Yugyeom—dengan terpaksa, memberikan beberapa nomor orang sales yang ia kenal pada Jinyoung karena pria itu bersikeras ingin pindah secepatnya

Meski ia belum siap, meski Jinyoung tahu akan sangat berat keluar dari zona nyamannya bersama Mark

Tapi ia harus pergi, ketika ada orang lain yang datang

"Aku pasti bisa, aku harus bisa ikut bahagia bersama Mark" gumam Jinyoung memantapkan hatinya

Sekarang jam sudah menunjukkan jam 10 malam. Jinyoung berpikir mungkin acara blind date mereka telah selesai

"Tapi kurasa tidak baik masuk begitu saja, lebih baik aku telepon Mark hyung" gumam Jinyoung merogoh kantung celananya tapi handphone tidak di temukan disana, Jinyoung lalu mengaduk isi tas kerjanya dan nihil

"Oh shit! Pasti ketinggalan di kantor!" Jinyoung mengumpat pelan, ia mengerang sepanjang jalan dan sudah pasti, tidak ada pilihan lain kecuali kembali pulang ke apartementnya bersama Mark

KLIK

Jinyoung masuk dengan kunci cadangan, suara lenguhan lelah terdengar di bibirnya sebelum satu suara lain menyapa Jinyoung dari jauh

"Kau darimana saja?"

Jantung Jinyoung nyaris copot mengingat sekarang keadaan apartement mereka gelap gulita

KLIK

Dan sekarang terang benderang saat Mark menyentuh stop kontak

Jinyoung bertemu dengan tatapan marah Mark yang jarang terlihat

"Dengar, maafkan aku tidak memberi kabar, handphoneku tertinggal dikantor—" Belum selesai Jinyoung menyelesaikan ucapannya, langkah cepat Mark menghampirinya dan membuat wajah marah Mark tampak begitu dekat, "Aku menelepon puluhan kali Jinyoung dari jam 5 sore! Jam kau pulang kerja tapi tidak kau angkat! Kau tahu betapa khawatirnya aku?! Aku menyusulmu ke kantor tapi kata satpam kau sudah pulang sejam yang lalu, oke… aku menunggumu di rumah karena kukira kau langsung kemari tapi apa? Tidak! Sungguh Jinyoung bisa tidak kau memberiku paling tidak kabar!"

Amarah Mark tumpah di depan wajah Jinyoung yang merunduk—merasa perasaan bersalah meluap di dadanya, "M—maaf… aku kira…"

"Dan aku juga menghubungi Yugyeom tapi tidak diangkat sampai sejam yang lalu dan mau tahu apa yang kudengar? Kau ingin pindah dari apartementku, apa itu benar Jinyoung?" suara Mark meninggi membuat kedua mata Jinyoung terpejam kuat—mengumpat pelan pada Yugyeom

"Mark! Aku hanya—" suara Jinyoung tercekat di ujung tenggorokannya, kenapa sekarang ia tidak bisa mengatakan idenya pada Mark, apa karena tatapan Mark yang tampak terluka atau karena raut wajah Mark yang seolah olah terkhianati

"Kalau kau ingin pindah kurasa aku tidak bisa berbuat banyak" kata Mark datar, tak lama Mark merunduk lalu berpaling menjauhi Jinyoung

"Karena aku memikirkanmu!" teriak Jinyoung putus asa, "Aku memikirkanmu bodoh! Kau akan menyukai orang lain, kau akan pergi berkencan dengan orang lain? Dan kau berharap aku apa? Berada disini seperti orang bodoh menonton kalian berdua!"

Langkah Mark terhenti, ia berbalik—memandangi wajah lelah Jinyoung yang membuat amarah Mark sedikit mereda

"Aku hanya ingin kau bahagia, Mark" bisik Jinyoung

Mark mendengus keras, "Aku bahagia? Apa aku terlihat bahagia atau nyaris gila sekarang? Memikirkan sikapmu langsung berubah ketika aku bicara mengenai seseorang wanita, senyummu menghilang Jinyoung dan kau mulai menjaga jarak. For God shake kau memanggilku hyung! Bagaimana ketika pagi hari—kau berangkat tanpa bicara apapun lagi padaku, kau tahu perasaanku? Kau masih mengira aku bahagia? Kau salah"

Kedua mata Jinyoung melebar, ia menatap Mark lebih dekat, menyeret langkah ke depan, ya sepertinya Jinyoung harus mendengarkan saran Yugyeom

Ia ingin egois, untuk sekali ini saja—untuk pertama kali

"Apa kau masih bahagia jika aku berkata, aku tidak suka kau berkencan dengan wanita itu… atau siapapun…" suara Jinyoung bergetar—tidak mempercayai ucapannya, apa kata Mark! Ia pasti jengkel dengan sikap kekanak – kanakan Jinyoung

"Hei, lihat aku" Mark menarik dagu Jinyoung hingga ia menengadah menatap Mark langsung

Aneh… kedua mata Mark tampak teduh diikuti sebuah senyuman yang Jinyoung sukai tertera di wajahnya

"Aku akan bahagia jika itu maumu" jawab Mark enteng

Ucapan Mark semakin mendorong Jinyoung untuk semakin berani mengutarakan segalanya

"Aku juga tidak ingin pindah, aku ingin selalu bersama denganmu, menontonmu bertanding, bicara hal konyol tentang Jackson dan selalu menunggumu pulang latihan." Jinyoung melemparkan senyum minta maaf, "Aku pasti sangat egois bukan"

"Tidak, kau tidak egois" Spontan, Mark menarik tubuh Jinyoung lalu memeluknya erat erat, terdengar napas hangat Mark menyapu leher Jinyoung, "Ya Tuhan kau membuatku khawatir seharian Jinyoung… Yugyeom bahkan tidak mau memberitahu kalian bertemu dimana… aku…" Mark mencium pundak Jinyoung membuat degupan kencang itu kembali terdengar, menghantarkan rona merah di pipi Jinyoung

"Aku tidak jadi berkencan tadi sore" jawab Mark setelah beberapa saat mereka terdiam

"Mwo?!" Jinyoung sontak bergerak menjauh dari pelukan Mark untuk melihat wajah sahabatnya itu tapi Mark menahan Jinyoung lalu memeluknya lebih erat lagi, "Jangan dipikirkan, Sunyoung-shi sempat datang tapi aku malah terus memikirkan perubahan sikapmu dari semalam ditambah lagi ketika kutelepon, kau tidak mengangkat, aku tambah panik. Sunyoung-shi bersikap cukup dewasa untuk mengakhiri pertemuan kami dan yeah, aku berakhir menghubungimu berkali kali bahkan mengganggu Jackson, Jaebum dan Youngjae tapi tidak ada yang tahu keberadaanmu sampai akhirnya Yugyeom mengangkat teleponku lalu berkata kau ingin pindah" Mark memutar kedua bola matanya—kesal

Tawa Jinyoung tertahan di bahu Mark

"Kau tidak serius bukan, ingin pindah?" Mark kali ini melonggarkan pelukan mereka, memegang pinggang Jinyoung lalu menatap serius ke depan

Jinyoung mengerjap beberapa kali, "Tidak, kalau kau juga tidak—"

"Ya ya aku mengerti" Mark kembali memeluk Jinyoung lalu membawa tubuh mereka berputar putar di ruang TV

Sangat nyaman, panas tubuh Jinyoung sangat pas dalam rengkuhan Mark

Mark merasa ia tidak butuh siapapun lagi, hanya Jinyoung

Memang selama ini hanya ada Jinyoung, yang menjaganya, mendukungnya, menjadi tumpuan Mark dalam setiap masalahnya

Apa lagi yang Mark cari dalam diri orang lain? Kenapa dengan bodohnya ia mengiyakan ajakan Jackson

"Tapi bagaimana jika kau yang menyukai orang lain?" pikiran itu masih terus membayangi Mark hingga lebih baik ia utarakan sekarang

Jinyoung menarik diri, mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum lebar, "Kurasa aku tidak mungkin menyukai orang lain lebih dari aku menyukaimu—"

Jinyoung tertegun

Mark membatu

Mereka berdua tahu selama ini jika mereka saling menyukai. Hal itu sangat terlihat dari sikap Mark memperlakukan Jinyoung begitu juga sebaliknya

Tapi tidak pernah—tidak pernah ada perkataan yang terucap

Dan ketika Jinyoung mengatakannya, kenapa semua mendadak canggung

Kedua mata Mark bergerak gelisah sementara kepala Jinyoung tertunduk, menyembunyikan rona merah yang menghiasi wajahnya

Semua clue dari Yugyeom, sindiran sindiran tajamnya baru terbuka sekarang di pikiran Jinyoung

Ia menyukai Mark, lebih dari siapapun, lebih dari seorang sahabat

Memang Jinyoung tidak merasa detak jantung berlebihan setiap kali Mark berada di dekatnya, oke… mungkin Jinyoung merasakannya ketika Mark mencium pipinya sebelum berangkat latihan atau ketika Mark memeluknya setiap malam

Oh my, Jinyoung menutup wajahnya—malu, ia baru menyadari sekarang, setelah semua yang mereka alami…

"Ehem" Mark berdeham—membuyarkan sikap canggung Jinyoung, "Kurasa, aku, juga…" Begitu berhadapan dengan wajah merah Jinyoung, Mark mengerang pelan, "Kau membuatku tambah gugup!" tuduhnya

"Aku? Kenapa aku?!"

"Karena kau—aishh, kemarilah" Mark kembali menarik Jinyoung lalu memeluknya kuat, menyembunyikan wajah Mark di balik leher Jinyoung, "Aku sangat bodoh pasti menyetujui acara blind date konyol itu" bisiknya yang membuat detak jantung Jinyoung makin kencang

"Yeah kau dari dulu bodoh" canda Jinyoung sambil membalas pelukan Mark, Jinyoung bernapas lega, ia tidak perlu berpura pura kuat lagi, tidak perlu berpura pura menjadi sahabat baik bagi Mark

Karena akhirnya Jinyoung tahu, dia lebih dari sahabat bagi Mark

"Mau tahu yang lebih hebat lagi?" Mark menengadah, wajahnya tersenyum lebar dan sorot mata Mark menghangat, membuat Jinyoung tertegun, ia belum pernah melihat Mark sebahagia ini

"Seorang nerd jatuh cinta pada si bodoh" bisik Mark sambil tertawa pelan

Jinyoung ikut tertawa sambil menahan senyum, "Dan si bodoh juga mencintai si nerd" ungkapnya

"Sangat… si nerd segalanya buat si bodoh, mungkin dia tidak bisa berdiri seperti sekarang tanpa nerd bersamanya"

Jantung Jinyoung berdegup tidak beraturan, membuat ia mengerjapkan mata, membalas tatapan Mark di dekatnya

Begini ternyata rasanya jatuh cinta

Jatuh cinta pada sahabat baiknya

"Dasar bodoh" bisik Jinyoung pelan

"Dasar nerd" balas Mark kali ini pandanganya menyapu turun ke bibir Jinyoung sebelum melirik Jinyoung yang gugup sekali lagi

Mark tidak butuh ijin, ia sudah lama ingin melakukan ini. Mencium Jinyoung. Tanpa embel embel alasan konyol seperti dulu

Dan ketika bibir mereka bersentuhan, Mark berusaha memasukkan segalanya, rasa takut, khawatir, terima kasih pada Jinyoung. Semua perasaan yang Jinyoung berikan selama ini untuk Mark

Ciuman itu manis dan lembut. Jinyoung tampak tersenyum saat mereka berciuman sebelum akhirnya Mark menarik diri lalu mengusap kedua pipi Jinyoung yang memerah

"Kau harus menjaga raut mukamu Jinyoung" ucap Mark bernada serius

"Kenapa? Apa wajahku kelihatan lelah? Tadi aku sengaja lembur untuk—"

"Bukan itu nerd, hanya saja wajahmu seolah minta kucium sekali lagi" goda Mark yang membuat tawa Jinyoung meledak

"Itu sih maumu bodoh" tangan Jinyoung meninju pelan dada Mark sebelum merangkul leher sahabatnya mendekat, "Tapi kurasa tidak ada yang salah dengan satu ciuman ekstra"

Mark tersenyum lebar sebelum kembali mencium Jinyoung

Ciuman kedua berlanjut singkat, setelah Mark menangkap Jinyoung menguap lebar, Mark langsung menarik Jinyoung ke arah kamar mereka lalu memaksanya berbaring

"Kau butuh tidur Jinyoung"

Jinyoung mengangguk kecil sambil menyamankan kepalanya bersandar di dada Mark seperti biasa.

"Night Mark"

"Night" Mark mencium kening Jinyoung lalu menyelimutinya dengan selimut tebal

.

.


.

.

"AKHIRNYA!"

Mark dan Jinyoung bengong melihat reaksi Jackson, Jaebum, Youngjae dan Yugyeom yang heboh bukan main

"Ya! Jackson berhenti menari nari di atas sofa, kau membuat satu starbuck melihat ke arah kita" tegur Mark mengerem suara marahnya

Jackson turun sambil nyengir lebar namun itu belum seberapa melihat Youngjae sampai menangis terharu diikuti dengan tingkah Jaebum yang menenangkan pasangannya itu

"Ya ya kalian berlebihan tahu" kata Jinyoung ikut jengah

"Habisnya" Youngjae terisak kecil, tidak bisa menjawab

"Kalian juga berlebihan, baru menyadari perasaan setelah 10 tahun hyung, aduhhh" Yugyeom menggelengkan kepala sambil duduk dengan tenang menyesap coffee lattenya

"Kami kan—"

"Tidak usah membela diri Mark, untung saja rencanaku berhasil—coba kalau aku tidak men setting blind date, mungkin sampai kami kakek nenek, kalian masih bersahabat" cecar Jackson sambil membusungkan dada—bangga

"Padahal aku sudah membayangkan ada kejadian seru seperti Jinyoung memergoki Mark bersama wanita lain—pasti sangat seru" Jaebum menyeringai lebar—sadis, "Tapi ternyata…" Ia menghela napas berat, "Bahkan tidak mendengar kabar sehari darimu Jinyoung, Mark langsung panik setengah mati… aishh"

Pipi Jinyoung memerah lagi sementara Mark berdeham gugup

"Yeah paling tidak kalian sekarang resmi pacaran, nah kapan acara pernikahannya" Youngjae mengatupkan tangannya antusias

Jinyoung dan Mark bertukar pandangan cemas

Ini masalah terbesar lainnya

Baik Jinyoung dan Mark belum pernah memberi tahu orangtua mereka berdua

.

.

.

Oke, jika masalah apakah orangtua Jinyoung mengenal Mark? Sudah jelas mereka kenal karena Jinyoung pernah membawa Mark beberapa kali bertemu dengan orangtuanya semasa SMA dulu

Mark yang biasanya tinggal di asrama setiap kali libur panjang langsung mengiyakan tawaran Jinyoung untuk ikut pulang ke Busan

Orangtua Jinyoung hanya tinggal Ibunya bersama kedua adiknya yang masih kecil waktu itu. Jinyoung sengaja mempertahankan beasiswa supaya beban Ibunya tidak bertambah. Kadang ketika Mark tinggal bersama Jinyoung dan keluarganya di Busan, Jinyoung pernah memergoki beberapa kali Ibunya bicara berdua dengan Mark dan langsung bicara hal lain ketika Jinyoung datang

Ia tidak tahu apa, tapi mudah mudahan bukan membicarakan kebiasaan buruk Jinyoung yang masih mengompol sampai kelas 5 SD

Belum lagi ketika mereka lulus, Mark bahkan pernah memberi kejutan dengan datang tiba tiba di depan rumah orangtua Jinyoung

Jangan tanya bagaimana suara jeritan Jinyoung memenuhi seisi rumah karena tidak menyangka melihat Mark yang sedang sibuk datang saat liburan tahun baru

.

.

Dan masalah orangtua Mark, well… Jinyoung belum pernah liburan keluar negeri untuk bertemu kedua orangtua Mark di LA

Tapi Mark selalu menyeret Jinyoung setiap kali ia ber-skype ria dengan orangtuanya diluar sana

Ayah Mark sudah mengenal baik Jinyoung semenjak SMA sementara Ibu Mark sangat ramah dan berulang kali mengajak Jinyoung dan Mark berkunjung ke LA

"Kurasa kita memang harus memberitahu mereka" sentuhan tangan Mark membuyarkan lamunan Jinyoung

Jinyoung tersenyum—berusaha tetap tenang, "Yah aku juga berpikir hal yang sama"

.

.

.

.

"Umma…"

"Hai Jinyoung! Apa kabarmu? Bagaimana Mark? Apa kalian baik baik saja?"

Jinyoung tersenyum sementara Mark memegang tangannya dan ikut mencondongkan diri, menjawab pertanyaan Ibu Jinyoung, "Kami baik baik saja Adjumma" jawab Mark pada handphone Jinyoung yang di speaker

"Baguslah, kapan kalian pulang lagi, Umma sudah kangen—apa kalian sudah mengangkat anak untuk diadopsi?"

"Mwo?" Jinyoung dan Mark bertukar pandangan terkejut, "Apa yang Umma katakan!" tegur Jinyoung tidak mengerti

"Ya kalian kan sudah tinggal bersama, apa lagi yang kalian tunggu? Apa kalian belum siap mengangkat anak? Mark, aku tahu Jinyoung sangat manis tapi bagaimanapun dia tidak bisa melahirkan seperti layaknya peremp—"

"Tu—tunggu dulu Adjumma, aku tahu Jinyoung siapa" Mark melirik lembut ke arah Jinyoung, "Tapi anak? Bukannya kami belum siap, tapi kami menelepon baru saja ingin memberitahu soal pernikahan—"

"Kalian baru mau menikah? Aigoo setelah sekian lama?" gantian Ibu Jinyoung yang memotong pembicaraan Mark, "Jadi kalian tinggal bersama tanpa ikatan? Ya Park Jinyoung! Kau akan kuhukum jika pulang nanti!" omel Ibu Jinyoung berpikir kolot

Jinyoung memukul jidatnya pelan, "Umma! Kami tinggal bersama sebagai sahabat, waktu itu kami belum tahu tentang…" suara Jinyoung berubah kaku, ia melirik Mark yang malah menaikkan sebelah alis—bermaksud menggodanya

"Kalian bersahabat? Jangan bercanda" sindir Ibu Jinyoung, "Apa kalian sebuta itu! Jinyoung kau membawa Mark ke rumah sedangkan Yugyeom saja tidak kau tawari dan belum lagi kau menunggunya selama dia diluar negeri… aigoo… kepalaku jadi sakit, kenapa aku punya anak jenius tapi tidak bisa mengenali perasaannya sendiri…"

"Umma—"

"Iya iya, kirim saja undangannya, Umma akan datang—aigoo, selepas menikah sebaiknya kalian langsung mengangkat anak, Umma sudah terlalu tua untuk menunggu lebih lama lagi"

KLIK

Telepon diputus sebelah pihak, meninggalkan Jinyoung dan Mark yang diam seribu bahasa

Mark-lah yang pertama kali memecahkan suasana hening

"Ummamu bahkan sudah tahu sejak lama" gumam Mark tersenyum lebar

"Kenapa kau malah senyam senyum?" desak Jinyoung

Senyum Mark berubah menjadi tawa renyah, "Jangan pura pura tidak tahu Jinyoung, apa benar kau bahkan tidak pernah mengajak Yugyeom ke rumahmu?" Mark menaik turunkan alisnya sementara Jinyoung pura pura menyibukkan diri mencari nomor telepon keluarga Mark

"Nah sekarang giliran orangtuamu" kata Jinyoung mengalihkan pembicaraan

Belum sempat Mark mempersiapkan diri, nada sambung langsung terhenti dan dari seberang terdengar suara khas Ibunya

"Halo?" ucap Ibu Mark dalam bahasa inggris

"Halo Mrs. Tuan" sapa Jinyoung ramah

Suara formal Ibu Mark berubah ramah, "Jinyoung! Apa kabar! Sudah sering kubilang panggil aku Mom! Oh my God, sudah lama kau tidak menghubungiku, bagaimana kabar Mark? Apa dia masih suka merepotkanmu dengan tumpukan baju kotornya?" tanya Ibu Mark bertubi tubi

"Umma aku disini" Mark ikut bergabung dalam pembicaraan

"Mark! Sebentar, aku akan memanggil Ayahmu"

Terdengar jeda sebentar sebelum suara dua orang yang Mark rindukan terdengar dari seberang sana

Setelah ber say Hi dan basa basi lainnya, Ayah Mark akhirnya bertanya

"Tumben kalian menanyakan kabar lewat telepon, biasanya lewat skype, pasti ada sesuatu yang urgent" selidik Ayah Mark cerdas

"Begini Mr Tuan, kami…" Helaan napas panjang Jinyoung terdengar hingga ke arah telepon yang membuat Ibu Mark langsung khawatir

"Ada apa dear? Apa Mark menyakitimu? Jangan katakan kalian akan berpisah atau yang lebih buruk… bercerai!"

Jinyoung dan Mark refleks bertukar pandangan terkejut bukan main

"Umma kami malah belum menikah" ucap Mark mencoba menenangkan Ibunya tapi belum sempat Mark menjelaskan lebih lagi, suara ayahnya terdengar marah

"Kau malah belum menikahinya? Setelah selama ini kalian bersama? Kau bukan anak kami Mark! Apa kau hanya mempermainkan Jinyoung?!"

"Tunggu dulu Mr Tuan—"

"Itu sebabnya kau masih memanggilku Mr Tuan? Aku sudah sering berkata panggil saja aku Dad, apa Mark suka menyusahkanmu Jinyoung? Maafkan anak kami yang bodoh itu"

Jinyoung menutup bibirnya—takut tertawa kencang sementara di sebelah Mark mendelik jengkel

"Kenapa selalu aku yang disalahkan, dengar Mom and Dad, aku dan Jinyoung ingin menikah makanya kami menelepon kalian untuk meminta ijin sekaligus menghadiri pernikahan kami di Seoul"

Seketika terdengar hening dari seberang

"Mom? Dad?" panggil Mark takut teleponnya terputus

"Bukannya kalian sudah menikah?" pertanyaan sama terlontar dari bibir Ibu Mark

Yang membuat Jinyoung dan Mark beberapa kali saling melirik satu sama lain

Apa hanya mereka yang buta selama ini? Bahkan Ayah dan Ibu Mark yang hanya beberapa kali bertemu dengan Jinyoung lewat skype, bisa melihat arti seorang Jinyoung untuk Mark

"Belum, selama ini kami hanya bersahabat" Mark nyaris berbisik malu

"Ha? Dengan sikap overprotektifmu kau hanya menganggap dia sahabat? Kalian bahkan berpegangan tangan setiap kali menyapa kami lewat skype, oh dear… poor you" sindir Ibu Mark diikuti tawa menggelegar Ayah Mark

"Aku tidak overprotektif!" sanggah Mark

"Yeah tidak overprotektif ketika kau menjelek jelekan sahabatmu sendiri yaitu Jackson di depan Jinyoung ingat? Saat aku menanyakan kabar Jackson? Kau takut Jinyoung tahu kelebihan Jackson dan berbalik menyukainya kan"

Jinyoung menatap Mark tak percaya, "Jangan katakan omongan soal Jackson suka memanjat pohon itu bohong!"

Mark berdeham sambil menggaruk belakang lehernya, "Aku—oh ya Mom dan Dad jangan lupa datang, kami tunggu, bye!"

KLIK

Mark langsung menutup sambungan telepon, takut Ibunya akan membongkar rahasianya lebih banyak lagi

Di sebelah Jinyoung pura pura menggeleng penuh penyesalan, "Kau takut aku menyukai Jackson lebih darimu, kau benar benar Mark!" suara Jinyoung terdengar dramatis

"Jackson menarik—kau pernah berkata padaku seperti itu" ujar Mark enggan, "Apalagi dia mudah bergaul dengan siapa saja, berbeda denganku"

Jinyoung mengulum senyum bahagianya, "Kau benar benar bodoh ya?"

"Ya aku bodoh" Dengan perasaan lega, Mark bangkit berdiri lalu menggenggam tangan Jinyoung, "Ayo kita mulai rencana panjang kita mengenai pernikahan"

.

.

.

.

Proses pernikahan Mark dan Jinyoung berjalan lancar dan… agak mengejutkan, bagi Mark dan Jinyoung tentunya

Karena tidak hanya kedua orangtua Mark dan Jinyoung yang menebak hubungan mereka jauh sebelum mereka sendiri sadari

Namun juga teman teman Mark di klub basket dan para rekan kerja Jinyoung

Jangan tanya berapa kali Jinyoung tercengang setiap kali membagikan undangan ke divisi divisi

"Menikah? Dengan Mark kan?" ujar mereka sebelum Jinyoung bisa bicara lebih lanjut

Begitu juga dengan para teman satu tim Mark yang bersorak penuh kebangaan seolah olah Mark baru berhasil mencetak satu angka

"Akhirnya kau menikahi Jinyoung juga, kasihan kalau dia menunggu lebih lama" itu satu dari sekian ucapan selamat yang Mark terima

Mark ingin sekali bertanya apakah sikapnya sejelas itu pada Jinyoung. Tapi mengingat ulang bagaimana Mark suka sekali merangkul Jinyoung mendekat, mencium pipinya sebelum berangkat pagi dan memeluk Jinyoung setiap malam

Apakah itu sikap sahabat?

Tidak, jawab Mark dalam hati, itu sikap seorang sahabat yang jatuh cinta terhadap sahabatnya sendiri

.

.

.

.

Acara pernikahan mereka berjalan sederhana dan dilanjutkan makan makan bagi para undangan yang tidak terlalu banyak

Mark dan Jinyoung sangat berbahagia hari itu, mereka berdua tidak henti henti tersenyum menyapa para undangan sambil sesekali berdansa atau bernyanyi bersama yang dipimpin oleh Jackson

"Oke sudah saatnya pengantin bersiap untuk pergi bulan madu" ucap Youngjae yang membuat Mark dan Jinyoung langsung berdiri kaku

Atas permintaan kedua orangtua Mark, mereka menikah mengikuti adat luar negeri, dimana sebelum resepsi berakhir, kedua pengantin akan bersiap pergi bulan madu diikuti oleh para tamu undangan yang mengiringi mereka

"Kurasa kami berdua akan langsung tidur pulas di hotel nanti, mengingat pernikahan ini melelahkan" kata Mark sambil melonggarkan dasinya

"Benar" timpal Jinyoung setuju

Jackson dan Yugyeom saling bertukar pandangan berduka

"Kurasa butuh waktu lama juga mereka untuk malam pertama" komentar Jackson sok sedih

"Yeah, seperti mereka baru menyadari perasaan masing masing lewat dari sepuluh tahun, mungkin butuh sepuluh tahun lagi untuk bisa berbulan madu" ejek Yugyeom

"Hentikan kalian berdua" meski berkata begitu, Jaebum ikut tertawa terbahak bahak sambil merangkul Youngjae

"Sudah sana pergi pengantin baru" tambah Jaebum lagi

Mark menghela napas panjang, ia menawarkan tangan kanan ke arah Jinyoung yang segera meraih tangannya

Kedua orangtua Mark dan Jinyoung saling memberikan ucapan selamat, pelukan demi pelukan dari para sahabat baik Jackson, Yugyeom maupun pasangan 2Jae lalu setelah itu, Mark mengendarai mobil dimana sebelahnya Jinyoung duduk sambil menatapnya penuh senyum

.

.

.

Mereka menginap di hotel bintang lima, hadiah dari Ibu Jinyoung selain hadiah mobil dari kedua orangtua Mark

Mark dan Jinyoung memutuskan tidak akan pergi kemana mana selama bulan madu, mengingat Mark sebentar lagi akan ada pertandingan antara regional sementara Jinyoung dikejar deadline sebelum dia resign

"Tapi aku sudah cukup bahagia, menginap disini selama seminggu" ujar Jinyoung sambil membuka pintu kamar

Mark mengikutinya dari belakang, "Maaf jika aku belum bisa memberikan lebih dari ini" ucapnya meringis kecil

"Serius Mark? Kau masih segan padaku? Ayolah kemari" Jinyoung menarik lengan Mark mendekat ke area balkon, melihat pemandangan Seoul dari ketinggian lantai 21

Sebuah senyuman menghiasi wajah Mark sambil kedua tangannya merangkul Jinyoung dari belakang, "Oke, aku berubah pikiran—kurasa aku tidak mau langsung tidur" bibirnya mendekati leher Jinyoung yang tiba tiba menegang, "Kurasa aku juga belum mengantuk, bagaimana denganmu Jinyoung?" Mark mencium leher Jinyoung sebelum menenggelamkan kepala di bahu pasangannya

Jinyoung menelan ludah kuat kuat

"Kalau kau lelah tidak apa apa, katakan saja—kau bisa mengatakan segalanya, ingat" ada nada serius dalam suara Mark yang membuat Jinyoung semakin jatuh cinta pada sahabatnya ini, Mark selalu mendahulukan permintaan Jinyoung seberapa sulit atau egoisnya

"Kurasa aku juga belum lelah" jawab Jinyoung mantap sambil berbalik, menangkap tatapan dalam dari Mark

"Great" Mark mengerang pelan sebelum menarik Jinyoung lalu menciumnya cepat. Jinyoung mengikuti langkah Mark, membiarkan Mark membaringkannya ke atas tempat tidur sebelum melepaskan ciuman mereka

Jinyoung menarik napas dalam dalam, menatap wajah Mark di atasnya

Mark tersenyum lebar, tampak begitu bahagia

Dan Jinyoung tidak bisa meminta lebih dari ini

"Kau benar benar harus mengontrol raut wajahmu Jinyoung" Mark sekarang melepaskan dasi dan jas hitamnya yang membuat muka Jinyoung makin merah

"Ke—kenapa memangnya?" suara Jinyoung bergetar gugup yang dibalas tawa lugas dari Mark

"Karena kau membuatku makin tidak bisa menunggu lebih lama…" Selesai mengatakan itu, Mark mencium leher Jinyoung yang membuat Jinyoung mengerang rendah lalu memeluk Mark lebih erat

Lalu memulai malam pertama mereka dengan damai

Well, kehidupan Mark dan Jinyoung baru akan dimulai dari sekarang…

.

.

.

THE END

.

.

Thanks buat yang sudah sedia membaca ff markjin perdana saya, memang banyak kekurangan jadi maklumin aja XD.

Mungkin ke depannya saya akan menulis lagi dan mohon bisa menerima FF saya yang baru seperti kalian bisa menerima Mark dan Junior yang makin hari makin mesra aja XDDDD

Anyway, ga ada nama author tanpa reader disampingnya, terima kasih banyak, sungguh gw terharu, masih ada yang mau baca meski FF ini sangat biasa

thank you thank you and thank you

With love, Arisa :)