Title : 만질 수가 없다 (Untouchable)
Pairing : Chanyeol X Kyungsoo
Genre : Comfort/Hurt, Romance
Rating : M
Disclaimer : Chanyeol & D.O belong to SM Entertainment, but THE STORY IS BELONG TO ME! No plagiat!
Summary : Aku mungkin bisa menyentuh tubuhmu, tapi aku tidak yakin bisa menyentuh hatimu—Chanyeol [CHANSOO], [Slight!KAISOO] GS! DLDR!
WARNING! TYPOS BERTEBARAN, CERITA PASARAN, OOC.
GET AWAY IF U DON'T LIKE IT! YOU'VE BEEN WARNED!
NO BASH! NO FLAME!
ALL POV IS AUTHOR POV!
.
.
.
.
.
ENJOY!
.
.
.
.
.
"Oppa…? Chanyeol oppa, wae geuraeseyo? Apa oppa mendengarku?" Kyungsoo mencoba menyadarkan Chanyeol dari lamunannya
"Eh..? N—ne! Tentu saja aku mendengarmu!" Chanyeol cepat-cepat membuyarkan semua pikiran mesumnya
"Ne oppa. Oppa bisa mulai makan sekarang, aku tidak akan mengganggu oppa. Selamat makan, oppa." Kyungsoo beranjak dari duduknya
"Jamkkan!"
"…?" Kyungsoo menatap Chanyeol dengan tatapan polosnya
"Hmm… Maukah kau menemaniku makan siang hari ini? Sekretarisku tak bisa menemaniku makan siang, padahal hari ini aku sangat ingin ditemani oleh seseorang. Apa kau bersedia?" tanya Chanyeol dengan tatapan penuh charisma sampai-sampai Kyungsoo merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya
"A—ah… Ne oppa. A—aku akan menemani oppa makan siang." Kyungsoo mencoba menenangkan kegugupannya dengan tersenyum tulus pada Chanyeol
"Gomawo!"
Dan itu adalah pertama kalinya Chanyeol tersenyum lebar begitu bahagia pada seseorang setelah bertahun-tahun lamanya.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol begitu bahagia karena Kyungsoo mau menemaninya makan siang.
"Kyungsoo-ya, ceritakan sesuatu untukku. Tentang dirimu. Apapun." Chanyeol mencoba tersenyum pada Kyungsoo
"Tentangku?" Kyungsoo membulatkan matanya
"Ne. Tentangmu." Ucap Chanyeol sambil menahan tawa karena gemas dengan mata Kyungsoo yang membulat polos
"Aku hanya orang biasa. Tidak ada yang spesial dariku." Jawab Kyungsoo merendahkan dirinya
"Ani, ani. Kau spesial karena bisa memiliki café yang berstandar tinggi di usia begitu muda." Puji Chanyeol sambil tersenyum menggoda
"Ah, itu… Sebenarnya aku membangun ini dengan bantuan modal dari Jongin. Tapi tenang saja, oppa! Aku sudah melunasi hutangku pada Jongin." Kyungsoo tersenyum miris
"Geurae? Bagaimana dengan hal yang kau sukai? Ceritakan padaku." Chanyeol agak sebal mendengar nama Jongin disebutkan oleh Kyungsoo sehingga ia mencoba mengalihkan pembicaraan
"Hal yang kusukai…?" Kyungsoo malah balik bertanya dengan wajah tak nyaman atas keingintahuan Chanyeol tentangnya
"M—mianhae kalau kau tidak nyaman. Tapi aku hanya ingin mengenal calon adik iparku lebih jauh. Itu saja. Kita belum pernah bertemu atau mengobrol banyak sebelumnya, padahal—mungkin—kau akan segera jadi adik iparku. Hanya itu, Kyungsoo-ya."
Baru kali ini mulut pedas nan dingin milik Chanyeol mengeluarkan kata-kata yang terdengar begitu manis dan penuh harap pada seorang yeoja. Chanyeol pun akhirnya sadar bahwa tidak sepantasnya ia mengatakan hal seperti tadi. Namun alam bawah sadarnya bekerja lebih cepat dari alam sadarnya hingga ia merasa malu dengan ucapannya tadi.
"Aku…"
"Kau tidak usah terlalu memaksakan dirimu, maaf kalau aku terlalu lancang, Kyungsoo-ssi."
Ucap Chanyeol yang mulai ingat untuk memanggil Kyungsoo dengan panggilan yang sopan meskipun sudah terlambat karena sejak tadi ia sok akrab dengan menggunakan embel-embel '-ya' saat menyebut nama Kyungsoo.
"Aku menyukai bunga." Kata Kyungsoo tiba-tiba dengan senyumannya yang begitu imut dan menawan di saat yang bersamaan.
Chanyeol tidak berharap bahwa Kyungsoo akan meladeni omong kosongnya yang sebenarnya hanya modus belaka untuk bisa berlama-lama duduk bersama yeoja berpipi tembam itu. Jelas ia sangat senang karena Kyungsoo mulai terjebak modusnya.
"Di dunia ini ada 3 hal yang kusukai. Bunga, memasak dan Jongin." Ujarnya lembut, lagi-lagi dengan senyuman lebar
"UHUK!"
Chanyeol langsung tersedak makanan yang baru saja akan ia telan saat mendengar nama Jongin di dalam daftar hal yang disukai di dunia ini. Ia benar-benar salut pada Jongin yang bisa masuk ke dalam 3 hal favorit dalam hidup Kyungsoo, meskipun di dalam hatinya ia meringis karena merasa sudah kalah telak dari sang adik dalam hal menaklukan hati Kyungsoo.
"Oppa, gwaenchanha?" tanya Kyungsoo khawatir sambil menatap Chanyeol yang masih berjuang untuk menormalkan pernafasannya.
"Uhuk! Uh—Ne! Gwaenchanha.." Chanyeol tersenyum bodoh sambil menepuk-nepuk dadanya agar pernafasannya lancar kembali
"Hihihi." Entah apa yang diperhatikan oleh Kyungsoo hingga ia tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Baru saja Chanyeol berhasil menormalkan nafasnya, kini Kyungsoo sudah punya topik lain untuk menertawakannya.
"….?" Chanyeol tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, namun Kyungsoo tertawa sambil melihat kepadanya. Ia sadar bahwa ada yang tak beres pada dirinya.
"Oppa… Hihihi…"
Kyungsoo tertawa pelan, lalu mengambil sebuah serbet dan menyodorkan serbet yang ia pegang tepat di hadapan Chanyeol.
"Ada saus di pipimu, oppa." Kyungsoo sudah berhenti tertawa dan hanya tersenyum pada Chanyeol
"NE…? Gomawo!" Chanyeol langsung cepat-cepat mengambil serbet itu di tangan Kyungsoo dan membersihkan pipinya yang coreng karena saus nakal.
"Oppa, kenapa pipimu jadi merah?" Kyungsoo menatap Chanyol dengan tatapan bingung
'SH*T! Kenapa harus blushing? Pipi bodoh!' rutuknya dalam hati
"Ani, aku hanya malu karena cara makanku yang masih berantakan dan seperti anak kecil. Hehe."
Lagi-lagi Chanyeol dengan pandai menutupi kebodohannya dengan kebohongan yang sayangnya juga bodoh, jangan lupakan cengiran bodoh di wajahnya saat ini. Mungkin gelar idiot cocok disematkan untuknya.
"Hahaha! Oppa, kau lucu sekali! Aku pikir oppa adalah namja pemalu dan pendiam. Tapi oppa ternyata lucu, seperti Jongin." Kyungsoo tergelak dengan anggapan pribadinya yang merasa bahwa Chanyeol mirip dengan Jongin
"Ah~ Jinjja? Haha… Kau bisa saja." Chanyeol menggaruk-garuk tengkuknya
"Ne! Jongin juga suka makan belepotan seperti oppa." Tambah Kyungsoo
Dan percakapan selanjutnya hanyalah curahan hati Kyungsoo betapa ia sangat menyukai namja berkulit gelap tersebut bahkan menghapal hampir semua kebiasaan Jongin mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi. Untung saja Chanyeol terlalu sibuk memandangi wajah bersemangat Kyungsoo tanpa mendengar ocehan polos dari bibir yeoja itu yang sudah jelas hanya akan menyakiti hatinya.
Setelah makanannya habis, Chanyeol segera memotong ocehan Kyungsoo mengenai Jongin dengan ucapan idiot.
"Kyungsoo-ya, kurasa lain kali kita bisa melanjutkan pertemuan kita. Aku harus segera kembali ke kantor. Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku meminta ID Line-mu agar aku bisa menghubungimu lagi lain waktu. Yah, walau bagaimanapun, kau adalah kekasih adikku." Well, kalimat terakhir tadi hanya alasan Chanyeol agar Kyungsoo mau memberikan ID Line-nya.
"Ne, Oppa. Tentu saja aku akan memberikannya untukmu." Kyungsoo menyebutkan ID Linenya pada Chanyeol sebelum akhirnya mereka benar-benar berpisah.
.
.
.
.
.
.
"Miyongie, hari ini jadi pulang bersamaku kan? Tak ada penolakan, ok?" Lee Geon mencolek-colek dagu Miyoung, sang kekasih yang hanya tersipu malu-malu.
"Geoni-ya... Jangan begitu. Aku tidak mau sajangnim melihat kita dan langsung memecat kita." Meskipun dari perkataannya Miyoung menolak, tapi yang dilakukan yeoja itu malah bergelayut manja di tubuh kekar Lee Geon.
"Tidak akan, chagiya. Park Chanyeol tidak akan bisa memecat kita." Kata Lee Geon begitu percaya diri
"Ada apa dengan Park Chanyeol, Lee Geon-ssi yang terhormat?"
Tiba-tiba saja, sang sajangnim killer yang baru saja disebutkan namanya muncul dengan wajah datarnya di hadapan Lee Geon dan Miyoung.
"A—animnida s-sajangnim…" Lee Geon menelan ludahnya dengan wajah pucat. Ia pasrah apabila ia dipecat sekarang juga oleh Chanyeol karena kali ini sudah kedua kalinya ia melakukan kesalahan fatal, ditambah lagi dengan menyebut nama sang direktur dengan tidak sopan.
"Lain kali panggil namaku dengan benar dan sopan." Chanyeol hanya membuang mukanya lalu berjalan dengan angkuh menuju ruangannya seakan-akan tak ada masalah yang berarti.
"HEEEHH?" tepat setelah Chanyeol sudah tak terlihat lagi, sepasang sejoli itu langsung menjerit karena mendapati tingkah tak wajar dari direkturnya
"I—IGE MWOYA…? Apa yang terjadi dengan Chanyeol sajangnim?" Lee Geon menatap lorong menuju ruangan Chanyeol dengan tatapan tak percaya. Ia sangat heran karena Chanyeol tidak memecatnya ataupun memarahinya meskipun ia sudah melakukan hal-hal yang sangat tidak disukai Chanyeol.
"A—apa kepalanya terbentur sesuatu?" Miyoung tak kalah kaget
"Mollayo, chagiya… Tapi kita selamat! Kita tidak dipecat, Miyoung-ah!" Lee Geon langsung memeluk Miyoung dengan erat
"Ne… Kamsahamnida sajangnim karena tidak memecat kami." Miyoung membalas pelukan kekasihnya tak kalan bahagia
Sayangnya kebahagiaan mereka terhenti saat menyadari bahwa puluhan pasang mata menatapnya tajam. Keduanya sadar bahwa ini bukan saatnya berisik dan bermesraan, sehingga mereka secara perlahan menjauh dan kembali ke tempat mereka masing-masing.
Tapi bukan kantor namanya kalau tidak dipenuhi gossip dan desas-desus, apalagi jika menyangkut perilaku direktur mereka yang berubah. Hingga Jongdae yang melewati ruangan pegawai pemasaran agak sedikit merasa bising karena para pegawai itu sedang menggosipkan direktur mereka yang tak lain adalah Chanyeol.
.
.
.
.
.
"Chanyeol-ah, ada apa denganmu? Aku mendengar para karyawan membicarakanmu di luar. What's wrong with you, dude?" tanya Jongdae sesaat setelah ia masuk ke dalam ruangan Chanyeol
"…" Chanyeol terlihat tak menggubris pertanyaan Jongdae dan tetap diam. Sesekali kedua sudut bibirnya terangkat, menampakan sebuah senyuman kecil dengan rona merah di pipinya.
"Chanyeol..?"
"…" masih tak ada respon.
"Ck! Kau memang sedang bermasalah dengan otakmu, Yeol. CHANYEOL!" seru Jongdae nyaring
"Jongdae-ya! Kau sudah datang?" Chanyeol menyengir bodoh tanpa merasa bersalah sama sekali karena telah mengabaikan kedatangan Jongdae di ruangannya.
"Bahkan kau tidak sadar aku sudah ada disini? Aigoo… Chanyeol! Apa kau salah makan sampai bertingkah aneh seperti itu?" dengus Jongdae
"Bertingkah aneh seperti apa, Jongdae-ya? Aku tidak paham." Elak Chanyeol, pura-pura tak paham
"Tidak sadarkah jika sejak aku masuk tadi kau hanya diam sambil senyum-senyum sendiri. Kusarankan kau untuk segera menghubungi psikolog dan membuat janji konsultasi. Aku takut kau menderita gangguan jiwa, Chanyeol-ah.." saran Jongdae, tidak serius memang.
"YA!" seru Chanyeol kesal. Suara Chanyeol yang berat membuat seruannya terdengar seperti auman singa yang sedang mengamuk.
"Chanyeol! Suaramu!" Jongdae mengelus daun telingannya yang berdengung karena teriakan Chanyeol
"Kau yang menggangguku duluan!" sergah Chanyeol tak mau disalahkan
"Astaga, Yeol! Kenapa kau sangat kekanakan? Apa kau salah makan siang? Kenapa tingkahmu aneh sekali siang ini?" Jongdae sudah tak tahan lagi
"Nan gwaenchanha." Jawab Chanyeol singkat
"Mwoya? Gwaenchanha mwoyaa? Tingkahmu terlalu abnormal untuk kau sebut dengan 'baik-baik saja'. Ceritakan padaku, Chanyeol."
"Apa yang harus kuceritakan padamu, Jongdae-ya?" ucap Chanyeol dengan wajah bodohnya
"Kau tidak perlu berbohong, Chanyeol. Kau tidak bisa berbohong dengan baik. I know you so well, dude. Ppalli malhae!" paksa Jongdae
"Arasseo arasseo, Jongdae-ya! Tadi aku makan siang bersama Kyungsoo. Apa kau puas, Kim Jongdae-ssi?" Chanyeol menghela napasnya
"Kyungsoo…?" Jongdae merasa sangat asing dengan nama yang baru disebutkan oleh Chanyeol
"Kekasih Jongin. Do Kyungsoo adalah kekasih Jongin, adikku sendiri! DAMN! Aku benci kenyataan itu!" Chanyeol meremas rambutnya frustasi
"Oh My God! Yeoja itu lagi? Maksudku—Chanyeol! Kenapa kau tidak bisa melupakan yeoja itu dan mencari yeoja lain untuk kau kencani? Ingat, Chanyeol-ah. Yeoja itu milik Jongin, adikmu. Tidak bisakah kau menerima kenyataan?"
"Itu kenyataan buruk, Jongdae-ya! Tentu saja aku tidak bisa menerimanya! Aku tidak pernah menyangka bahwa Jongin memacari seorang gadis seperti Kyungsoo! Aku menyesal baru bertemu dengan Kyungsoo sekarang. Jika aku lebih cepat dari Jongin, mungkin sekarang kami sudah merencanakan pernikahan kami."
"Jangan banyak berkhayal, Chanyeol-ah. Aku hanya bisa bilang agar kau berhati-hati untuk ke depannya. Kalau kau nekat untuk merebut yeoja itu dari adikmu, hubungan persaudaraan kalian bisa rusak." Nasihat Jongdae
"Entahlah… Aku tidak pernah berpikir untuk menyerah di awal. Kupikir aku masih punya kesempatan sebelum Jongin benar-benar melamar Kyungsoo. Sebelum mereka menikah, aku akan mencoba mendapatkan Kyungsoo sekuat tenaga. Bagaimanapun caranya." Chanyeol menyeringai licik
"Terserah pada anda, sajangnim." Jongdae mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak akan ikut campur dalam urusan Chanyeol.
Jatuh cinta memang bisa membuat orang bertingkah abnormal dan itulah yang terjadi pada Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo terlihat kebingungan ketika baru saja turun dari taksi. Ia baru pertama kali ke tempat ini. Taman ini terletak di sebuah bukit yang cukup jauh dari kota. Seperti sebuah taman di atas bukit yang dipenuhi rumput hijau dan bunga yang begitu cantik. Udara sore yang segar serta sinar matahari hangat menyapa kulitnya lembut. Kyungsoo tak menyesal meninggalkan café hari ini karena ia akan bertemu dengan Jongin. Hal ini bukan hal yang mudah dilakukan karena Jongin adalah artis dengan jam terbang tinggi, sehingga sulit mencari waktu untuk bertemu.
Untuk beberapa saat, Kyungsso terdiam sambil menikmati keindahan yang ada di taman itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia cukup terkejut karena tak menyangka bahwa di tempat seperti sinyal telepon selular masih terjangkau.
"Yeoboseyo?"
"Chagiya… Kau dimana? Aku sudah menunggumu." Kyungsoo tersenyum saat mendengar suara khas milik Jongin yang sangat ia rindukan.
"Aku sudah sampai, di taman ini Jongin-ah. Kau dimana?" tanya Kyungsoo
"Apa kau melihat sebuah pohon besar di tengah taman ini?"
"Ne." Kyungsoo menganggukan kepalanya
"Berjalanlah perlahan-lahan ke pohon itu."
PIP!
Sambungan dimatikan. Kyungsoo hanya tersenyum singkat lalu mendekati pohon yang terletak tepat di tengah-tengah taman itu. Ia cukup heran, mengapa di tempat sebagus ini tidak ada orang lain. Padahal tempat ini begitu indah. Kyungsoo jadi tidak ingin cepat-cepat pulang.
Kyungsoo kini sudah sampai di pohon yang ditunjukan Jongin. Ia berdiri dengan sabar untuk menunggu Jongin yang sekarang entah berada dimana.
"Kyungsoo-ya…" tiba-tiba Jongin sudah berlutut di belakangnya sambil memegang sebuket mawar merah segar yang wanginya bahkan sampai tercium di hidung Kyungsoo
"Jo—Jongin-ah…" Kyungsoo tak bisa berkata apapun.
"Kyungsoo-ya, will you marry me?"
Kyungsoo membulatkan matanya. Ia tak menyangka bahwa Jongin akan melamarnya secepat ini. Kyungsoo terlalu bahagia hingga menangis. Di sisi lain, ia belum benar-benar siap untuk menikah dengan Jongin karena ia belum benar-benar terbiasa dengan sentuhan Jongin. Ia sudah mencoba dengan sangat keras untuk membiasakan dirinya, namun nihil. Beberapa kali sentuhan dan pelukan dalam hubungan mereka hampir selalu berakhir dengan saja keduanya mencoba dewasa dan selalu meminta maaf untuk memperbaiki hubungan mereka. Kyungsoo sebenarnya sangat tertekan dengan traumanya. Apa daya, ia tak bisa melakukan apapun.
Kyungsoo masih menangis. Angin yang bertiup cukup kencang membuat rambut hitamnya yang panjang berkibar. Jongin sendiri masih dengan setia berlutut untuk menunggu jawaban dari Kyungsoo.
"I do, Jongin." Kyungsoo menganggukan kepalanya dengan ekspresi bahagia yang meluap-luap
"GOMAWO KYUNGSOO-YA!" Jongin hampir saja melompat untuk memeluk Kyungsoo karena terlalu bahagia
"Jongin-ah.. Bisakah agar tidak memelukku dulu? A—aku belum siap." Kyungsoo menunduk sedih. Lagi-lagi ia benar-benar benci dengan dirinya sendiri karena tidak bisa membiarkan orang yang sangat ia cintai untuk memeluknya.
"Ne chagiya. Aku mengerti. Mianhae karena aku hampir kelepasan. Tapi kau harus berjanji untuk membiasakan diri denganku karena sebentar lagi kita akan menikah. Ne?" Jongin tersenyum tulus sambil menyerahkan buket mawar itu kepada Kyungsoo
"Gomawo yeobo…" Kyungsoo tersenyum lebar sambil mengecup mawar yang diberikan Jongin
Kyungsoo dan Jongin menghabiskan waktu senggang mereka dengan berlari dan berguling-guling di taman itu. Jongin memang sudah menyewanya khusus untuk mereka. Jongin ingin melamar Kyungsoo dengan penuh kesan, namun hanya ide inilah yang muncul di kepalanya. Ia pikir, semua ini sudah cukup meninggalkan kesan. Ia tidak sempat memikirkan ide-ide lainnya karena ia tak punya banyak waktu luang. Ia sedang syuting sebuah drama yang akan tayang sehingga harus menginap di lokasi selama beberapa minggu.
Keduanya tertawa dan bermain bersama. Jongin bahagia. Meskipun tak bisa menyentuh Kyungsoo, tapi ia yakin bahwa seluruh perasaan Kyungsoo adalah miliknya. Mereka terus bermain hingga matahari terbenam dengan cantiknya.
"Kyungie… Ayo pulang. Sunsetnya sudah selesai." Ajak Jongin
"Ne!"
Jongin menghentikan sebuah bus jurusan Seoul yang kebetulan lewat. Ia mengantarkan Kyungsoo hingga ke rumah yeoja mungil itu untuk memastikan bahwa Kyungsoo sampai di rumah dengan selamat.
"Annyeong. Aku akan mengabarimu tentang rencana pernikahan kita secepatnya. Saranghae…" Jongin memberikan blow kiss pada Kyungsoo. Setelah itu ia melangkah mundur untuk meninggalkan rumah Kyungsoo.
"Jamkkan!" seru Kyungsoo tiba-tiba
"Wae?" tanya Jongin
Kyungsoo segera berlari cepat ke arahnya, lalu CUP! Kyungsoo mengecup pipi Jongin singkat dan tersenyum lebar lalu kembali lagi
"Annyeong Jongin!" Kyungsoo melambaikan tangannya begitu bersemangat dengan pipi merona
Malam itu Jongin sama sekali tak bisa tidur nyenyak karena selalu teringat dengan ciuman singkat dari Kyungsoo di pipinya.
.
.
.
.
.
.
#MONTHS LATER
Berita tentang rencana pernikahan Kyungsoo dan Jongin menyebar begitu cepat. Persiapannya sudah 50 % selesai. Hanya tinggal mempersiapkan tanggal dan catering yang tepat untuk para tamu undangan. Pernikahan ini tentu saja akan menjadi pernikahan berkelas karena Jongin adalah seorang aktor. Di pernikahannya inilah, ia akan secara resmi memperkenalkan Kyungsoo kepada publik.
Chanyeol sesungguhnya sangat kecewa karena berita ini. Ia sudah berkali-kali berusaha untuk mengajak Kyungsoo bertemu ataupun makan bersama, namun Kyungsoo selalu menolak dengan alasan ia sedang sibuk mengurusi pernikahannya. Gagal sudah rencananya untuk mendekati Kyungsoo. Setelah beberapa bulan berpikir keras, akhirnya Chanyeol memutuskan untuk melupakan Kyungsoo. Tekadnya sudah bulat. Ia tak mau lagi memaksakan kehendaknya untuk memiliki Kyungsoo yang sebentar lagi akan sah menjadi milik adiknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kyungsoo bersenandung kecil sambil merapikan penampilannya. Seperti biasan, pagi ini ia akan berangkat ke cafenya. Suasana hatinya sedang cerah karena Jongin berjanji untuk mengajaknya berkencan malam ini.
Ia baru saja selesai memoles bibirnya dengan lip gloss pink keyika handphonenya berbunyi.
"Yeoboseyo.."
"Chagi, mianhae… Nanti malam aku tidak bisa kencan denganmu. Ada jadwal yang harus kukerjakan malam ini. Mianhae chagiya…" suara Jongin terdengar lirih di seberang sana
"Gwaenchanha Jongin-ah… Hwaiting, ne? Istirahat yang cukup." Meskipun kecewa, Kyungsoo tetap dengan tulus mendukung semua pekerjaan Jongin
"Gomawo jagiya! Kau yang terbaik. Mianhae, aku tidak bisa lama-lama meneleponmu untuk kali ini karena manajer sudah memanggilku. Annyeong chagi, Saranghae…" Jongin langsung menutup teleponnya secara sepihak
"Naddo." Entah kenapa hati Kyungsoo sesak karena ia belum sempat mengucapkan balasan untuk Jongin.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol masuk ke dalam ruangan kantornya dengan wajah tertunduk. Entah kemana perginya rasa percaya dirinya yang tinggi itu. Ia merasa semangat hidupnya berkurang setelah ia mendengar kabar rencana pernikahan Kyungsoo dan Jongin.
"Chanyeol-ah... Wae geurae?" Jongdae langsung menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Chanyeol. Ia menghampiri Chanyeol yang duduk di kursi kerjanya sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja
"Jongdae-ya… Aku menyerah… Aku memutuskan untuk menyerah. Mungkin kakak memang harus selalu mengalah untuk adiknya." Ujar Chanyeol tanpa mengubah posisinya yang masih menelungkupkan wajahnya
"Akhirnya! Ahh, akhirnya kau mengambil keputusan yang benar. Aku sangat senang dan akan mendukungmu, Chanyeol-ah…" Jongdae mengguncang-guncang bahu Chanyeol karena senang
"Yah… Terima kasih atas dukunganmu, Jongdae-ya… Yang jelas aku merasa kehilangan separuh jiwaku. Mungkin aku tidak akan menyukai yeoja lain setelah ini." Chanyeol mengangkat wajahnya sesaat untuk menatap Jongdae yang berdiri di sampingnya, lalu menjatuhkan lagi kepalanya ke atas meja.
"Kau harus bangkit, Chanyeol-ah… Mungkin kau harus melupakannya mulai saat ini. Ajak saja ia bertemu denganmu secara khusus untuk terakhir kalinya sebagai teman. Setelah ia menikah, jangan pernah mengganggunya. Biarkan ia bahagia bersama adikmu." Saran Jongdae
Chanyeol mendengarkan saran Jongdae dengan seksama dan mulai berpikir keras. Ia rasa, saran Jongdae tidaklah buruk. Ia memang butuh bertemu satu kali saja dengan Kyungsoo sebagai sepasang teman sebelum hubungan mereka berubah menjadi saudara ipar.
"Untuk saat ini, kehadiranmu di hidupku tidak sia-sia, Jongdae-ya. Aku akan mencoba untuk menghubunginya. Ah… Tapi aku tidak yakin, Jongdae-ya…" Chanyeol kembali lesu dan tak bergairah
"Wae? Jangan ragu, dan cepat hubungi dia sekarang, Chanyeol!" paksa Jongdae
"Entahlah Jongdae-ya… Belakangan Kyungsoo selalu menolak untuk bertemu denganku karena ia sibuk mengurusi persiapan pernikahannya." Chanyeol menatap layar handphonenya dengan tatapan datar
"Cobalah dulu, Chanyeol! Kenapa kau ini lambat sekali dalam bertindak?" ucap Jongdae gemas
Chanyeol menggigit bibir bawahnya, lalu mulai mengetik sebuah pesan di ruang obrolan Linenya bersama Kyungsoo. Sesaat setelah ia mengirim pesan itu, Kyungsoo langsung membaca dan membalas pesan Chanyeol.
박찬열 'Kyungsoo-ya, bisakah kita bertemu?' 10.00 Pagi. Read.
김Soon경수 'Aku bisa oppa. Malam ini aku punya waktu.' 10.00 Pagi.
Chanyeol menjerit senang sedangkan Jongdae hanya tertawa. Chanyeol mulai mengetik pesan baru.
박찬열 'Nice! Ayo bertemu di Restoran 'Kool' Jam 7 nanti malam. Aku akan mentraktirmu.' 10.01 Pagi. Read.
김Soon경수 'Ne. See You Tonight, Oppa.' 10.01 Pagi.
김Soon경수 Sent You a Sticker. 10.02 Pagi.
Chanyeol tertawa melihat stiker yang dikirim Kyungsoo, yaitu gambar Brown sedang menghamburkan konfeti dengan wajah yang datar. Ia tak tahu apa maksud Kyungsoo mengirim stiker itu. Yang jelas, saat ini ia sangat bahagia karena akan bertemu dengan Kyungsoo nanti malam.
"Enjoy your night, dude!" Jongdae tersenyum puas, lalu meninggalkan Chanyeol di ruang kerjanya.
.
.
.
.
.
.
Malam pun tiba. Chanyeol memoles penampilannya agar tampak setampan mungkin. Setelah yakin dengan penampilannya, ia segera mendatanginya restoran tempat ia akan bertemu dengan Kyungsoo. Ia sangat tak sabar. Ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana penampilan Kyungsoo malam ini.
Setelah menunggu kira-kira sekitar 5 menit, Kyungsoo pun datang. Yeoja itu mengurai rambut hitamnya yang panjang dan menggunakan sebuah sweater berwarna abu-abu dan skinny jeans berwarna senada. Ia terlihat manis dengan make up-nya yang natural. Meskipun penampilan Kyungsoo kali ini sama seperti biasanya, Chanyeol tetap saja terpesona pada yeoja bertubuh mungil itu.
"Annyeong oppa. Maaf jika oppa sudah menunggu lama." Kyungsoo membungkuk singkat dan langsung mengambil tempat di hadapan Chanyeol.
"Aku juga baru tiba, Kyungsoo-ya. Pesanlah dulu, baru setelah itu ceritakan apapun yang ingin kau ceritakan padaku." Chanyeol memberikan senyum terbaiknya pada Kyungsoo
"Ne. Hmm, aku hanya ingin Hot Chocolate dan sepotong Toast dengan selai cokelat." Ucap Kyungsoo
"Ne, aku akan mencatatnya."
Chanyeol tersenyum ketika mengetahui bahwa yeoja bermata bulat itu ternyata menyukai cokelat. Chanyeol menuliskan pesanan Kyungsoo beserta 1 Americano dan Fried Fries yang merupakan pesanan miliknya.
.
.
.
.
.
.
[KOOL'S KITCHEN]
"Shinwoo-ya, apa yang sedang kau buat?" tanya seorang namja bermata sipit pada rekan kerjanya yang berkacamata.
"Aku sedang membuat Hot Chocolate. Wae Jinyoung-ah?" namja bernama Shinwoo itu balik bertanya pada temannya
"Dengar. Seseorang yang memesan Hot Chocolate memintaku untuk memasukan ini ke dalam minuman itu." Jinyoung berbisik pada Shinwoo dan memperlihatkan Shinwoo sebuah bungkusan bening berisi bubuk berwarna putih yang entah apa.
"Mwo? Apa itu?"
"Ssstt! Jangan sampai ada yang tahu. Ini obat perangsang. Orang itu ingin agar kekasihnya yang meminum ini agar ia bisa menikmati malam yang hebat. Kau mengerti kan?"
"Ta—tapi saat ini ada dua orang yang memesan Hot Chocolate. Eottheokke?" Shinwoo meragukan rencana temannya itu.
"Ingat, Hot Chocolate ini ada di meja nomor 9. Dan yang satunya ada di meja nomor 7. Jangan sampai salah, Shinwoo-ya…"
Jinyoung cepat-cepat menuangkan bubuk itu ke dalam salah satu Hot Chocolate yang sudah selesai dibuat oleh Shinwoo, entah dengan takaran seberapa. Baru saja ia akan membedakan kedua cangkir Hot Chocolate itu, sebuah suara mengagetkan mereka.
"YA! Apa yang kalian lakukan disana? Cepat layani pelanggan!" seru Heechul memarahi kedua anak buahnya yang terlihat begitu lambat, padahal hanya menyiapkan dua gelas minuman.
"Jwiseonghamnida Hee-nim." Keduanya tertunduk penuh sesal.
"Cepat keluar dan layani pelanggan. Biar aku yang mengantar mengurus minuman-minuman itu."
"Ta—tapi Hee-nim…"
"Tidak ada tapi. Ppalli!" usir Heechul ganas
Jinyoung dan Shinwoo langsung berkeringat dingin. Mereka takut bahwa kedua minuman itu tertukar. Keduanya langsung berjalan keluar meninggalkan dapur dengan wajah pucat.
"Eottheohkke Jinyoung-ah…?" Shinwoo menatap Jinyoung dengan tatapan memelas
"Molla, Shinwoo-ya… Mungkin besok aku dipecat karena hal ini. Gwaenchanha, biar aku yang menanggung semuanya. Maafkan aku karena membawamu ke masalah ini." Jinyoung tertunduk lesu, lalu berjalan pelan menuju sebuah meja yang baru diisi oleh pelanggan.
"Semoga Hee-nim mengantarkan minuman itu ke orang yang tepat…" gumam Shinwoo dalam hati sebelum melakukan hal yang sama dengan Jinyoung.
.
.
.
.
.
.
.
"Yah… Begitulah, oppa. Meskipun sangat melelahkan, tapi aku sangat menikmatinya. Aku benar-benar tak sabar untuk segera menikah dengan Jongin." Kata Kyungsoo menggebu-gebu
"Haha, sebentar lagi kalian akan menikah. Jadi tenang saja." Dalam hatinya Chanyeol merasa hatinya sudah hancur berantakan meskipun kini ia memberikan senyuman menawannya untuk Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum lebar. Namun kepalanya perlahan-lahan terasa begitu berat. Ia mencoba memejamkan matanya sejenak, namun rasa pening di kepalanya tak kunjung hilang, bahkan semakin menjadi-jadi. Chanyeol mulai khawatir ketika melihat raut kesakitan dari wajah Kyungsoo. Yeoja itu terlihat mulai terlihat gelisah dan pucat.
"Kyungsoo-ya…? Gwaenchanha?" Chanyeol benar-benar khawatir pada Kyungsoo
"Eungghhh.. Ne..? G—gwaenchanha oppa… Mmhh… Oppa, sepertinya aku harus pulang. Kepalaku terasa begitu pening. Annyeong."
Kyungsoo segera membereskan barangnya dan mencoba untuk berjalan, namun baru beberapa langkah, ia langsung terjerembao ke lantai.
"Kyungsoo-ya!" Chanyeol segera menghampiri Kyungsoo yang tergeletak di lantai
Beberapa orang langsung mengerubungi Chanyeol dan Kyungsoo. Karena merasa tidak nyaman dengan keramaian, Chanyeol langsung berinisiatif menggendong Kyungsoo menuju mobilnya.
"Aku harus membawanya pulang ke apartemennya dan memanggilkan dokter pribadiku." Ucap Chanyeol pada dirinya sendiri.
Chanyeol bersyukur karena ia begitu terobsesi pada Kyungsoo hingga ia bisa tahu dimana Kyungsoo tinggal saat ini. Ia melajukan mobilnya menuju apartemen Kyungsoo dengan hati-hati.
Dengan susah payah, ia menggendong Kyungsoo yang entah mengapa terus menggeliat dalam gendongannya. Ketika sampai di depan pintu apartemen, Chanyeol merogoh isis tas Kyungsoo dan menemukan kunci apartemen yeoja itu.
"Eummhh… Panass… Sshhh…" gumam Kyungsoo sambil terus menggeliat di gendongan Chanyeol
"Sabarlah Kyungsoo-ya…" Chanyeol akhirnya berhasil membuka pintu dan segera membawa Kyungsoo masuk.
Chanyeol langsung menidurkan Kyungsoo di atas tempat tidur milik yeoja itu. Wangi seluruh apartemen Kyungsoo benar-benar sama persis dengan wangi tubuhnya.
"Panass…" dengan mata setengah terbuka, Kyungsoo langsung melepaskan sweaternya.
"Aku harus segera menelpon dokter. Tingkah Kyungsoo sangat mengkhawatirkan." Chanyeol segera mengontak dokter pribadinya. Ia berdiri membelakangi Kyungsoo
"Ahh… MMmhh…" desah Kyungsoo
"..." Jujur saja, tubuh Chanyeol langsung menegang mendengar desahan Kyungsoo
Chanyeol memutar tubuhnya dan langsung melotot melihat tubuh Kyungsoo yang telah polos di atas tempat tidur. Kyungsoo menggeliat tak nyaman dan terus berkata bahwa ia kepanasan. Chanyeol tak menyangka bahwa Kyungsoo mencopoti satu-persatu pakaiannya saat ia menelepon dokter pribadinya.
"K—Kyungsoo-ya! Apa yang sebenarnya terjadi padamu..?" Chanyeol segera mematikan sambungan teleponnya yang belum dijawab oleh dokter pribadinya. Ia mendekati yeoja itu dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Kyungsoo agar tidak menodai penglihatannya
"Panaaasss… S—sentuh a—aakkuuhh… Eumhh… Disiniiihh.." Kyungsoo dengan reflek langsung menarik tangan Chanyeol untuk menyentuh dadanya
"OMO!" Chanyeol panik karena saat ini ia bisa merasakan dengan jelas bentuk permukaan dada Kyungsoo yang bulat dan sintal
"Eunghh.." Chanyeol semakin membulatkan matanya ketika Kyungsoo mendesah saat ia menggerakan tangannya untuk melepaskan sentuhan itu
"Kyung! Kau sebenarnya kena… Mmmppphhh!"
Kyungsoo menabrakan bibirnya ke bibir Chanyeol secara kasar. Ia langsung menarik tubuh Chanyeol sambil terus menghisap-hisap bibir namja tinggi itu dengan kasar. Chanyeol langsung mendorong kasar tubuh mungil Kyungsoo hingga ciuman mereka terlepas.
"Kyungsoo-ya! Sadarlah! Kita tidak bisa melakukan ini! Ini salah, Kyung!" Chanyeol membentak Kyungsoo yang kini terlihat membuka matanya.
Sayangnya, bentakan tersebut tidak mempan pada Kyungsoo karena kini Kyungsoo langsung menerjang Chanyeol dan menduduki tubuh Chanyeol. Ia meremas-remas pakaian yang melekat di tubuh Chanyeol dan menggesekan kemaluannya di atas kemaluan Chanyeol yang masih terbungkus rapat. Gundukan itu terlihat makin besar.
"Kyung… Aku tak bisa menahannya lagi.." Chanyeol segera membanting tubuh mungil Kyungsoo hingga berada di dalam kungkungan tubuh besarnya.
Siapapun tidak akan tahan menahan godaan se-berat itu. Jelas saja Chanyeol horny karena Kyungsoo-lah satu-satunya yeoja di dunia ini yang membuatnya berhasrat.
Dan keduanya pun melanjutkan malam panas mereka dengan gairah yang begitu membuncah.
.
.
.
.
.
.
.
#NEXT DAY
Jongin menghirup wangi dari bunga mawar merah muda yang sedag ia pegang. Dengan senyuman menawan, ia berjalan menuju pintu apartemen Kyungsoo. Ia berniat memberikan kejutan untuk Kyungsoo sebagai permintaan maaf pada kekasihnya itu dengan membangunkan Kyungsoo dan memberikan bunga mawar kesukaan Kyungsoo. Sambil terus tersenyum, ia mengetik kode kunci kamar Kyungsoo hingga pintu apartemen kekasihnya itu terbuka.
"Chagiya.. I'm coming…" gumam Jongin sambil tersenyum lebar
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue~
REVIEW JUSEYO!
