Title : 만질 수가 없다 (Untouchable)

Pairing : Chanyeol X Kyungsoo

Genre : Comfort/Hurt, Romance

Rating : M

Disclaimer : Chanyeol & D.O belong to SM Entertainment, but THE STORY IS BELONG TO ME! No plagiat!

Summary : Aku mungkin bisa menyentuh tubuhmu, tapi aku tidak yakin bisa menyentuh hatimu—Chanyeol [CHANSOO], [Slight!KAISOO] GS! DLDR!

WARNING! TYPOS BERTEBARAN, CERITA PASARAN, OOC.

GET AWAY IF U DON'T LIKE IT! YOU'VE BEEN WARNED!

NO BASH! NO FLAME!

ALL POV IS AUTHOR POV!

.

.

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

.

.

#NEXT DAY

Jongin menghirup wangi dari bunga mawar merah muda yang sedag ia pegang. Dengan senyuman menawan, ia berjalan menuju pintu apartemen Kyungsoo. Ia berniat memberikan kejutan untuk Kyungsoo sebagai permintaan maaf pada kekasihnya itu dengan membangunkan Kyungsoo dan memberikan bunga mawar kesukaan Kyungsoo. Sambil terus tersenyum, ia mengetik kode kunci kamar Kyungsoo hingga pintu apartemen kekasihnya itu terbuka.

"Chagiya.. I'm coming…" gumam Jongin sambil tersenyum lebar

.

.

.

.

.

"Uhh… Kepalaku…" Kyungsoo memegangi kepalanya yang terasa berat

Kyungsoo terbangun dengan keadaan pusing. Sambil mengumpulkan kembali keasadarannya, ia mencoba membuka matanya perlahan-lahan, namun sebuah bau asing tiba-tiba tertangkap indera penciumannya. Kyungsoo langsung membuka matanya dan mendapati Chanyeol sedang terlelap di sampingnya. Topless. Mata bulat Kyungsoo membesar ketika menyadari bahwa keadaannya tidak jauh berbeda dengan Chanyeol. Total naked.

"Oppa! Apa yang kau lakukan di sini?!" panik Kyungsoo

"Ne…?" Chanyeol membuka matanya pelan-pelan karena masih mengantuk karena terlalu lelah

.

.

.

.

.

.

Jongin berjalan pelan menuju kamar Kyungsoo dengan tujuan agar Kyungsoo tidak terbangun karena langkah kakinya yang berisik. Jongin mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa pintu kamar Kyungsoo tidak tertutup dengan rapat. Jongin membuka pintu kamar Kyungsoo dengan perlahan.

"Kyungie…?"

Jongin membulatkan matanya saat mendapati Kyungsoo sedang bersama dengan seorang namja yang tak lain adalahChanyeol, kakak kandungnya sendiri.

"J—Jongin…" Kyungsoo sama kagetnya dengan Jongin

"IGE MWOYA?" wajah Jongin memerah karena menahan amarah

Dibuangnya bunga mawar yang ia pegang dengan kasar, lalu ia melangkah lebar-lebar menghampiri tempat tidur Kyungsoo.

"Jo—Jongin.. Aku bisa jelaskan… Hiks…" Kyungsoo menangis dan dengan salah satu tangannya yang sibuk menahan selimut agar tubuh telanjangnya tidak terbuka.

Tanpa peduli dengan Kyungsoo yang sedang terisak sambil memohon-mohon padanya, Jongin langsung melayangkan tinjuan keras ke pipi Chanyeol yang masih belum sepenuhnya sadar.

"Jo—Jongin…" Chanyeol kini baru sadar seutuhnya dan hanya menatap Jongin dengan tatapan penuh sesal.

"Aku tak percaya bahwa hyung kandungku tega melakukan hal seperti ini padaku." Jongin memberikan tatapan penuh kekecewaan serta amarah pada Chanyeol

"Dan aku benar-benar kecewa karena orang yang kucintai telah mengkhianatiku." Kini Jongin beralih untuk menatap Kyungsoo dengan mata berkaca-kaca

Jongin membalikan badannya dan melangkah pelan menjauhi tempat tidur Kyungsoo. Namun sebelum benar-benar keluar dari kamar Kyungsoo, Jongin menghentikan langkahnya sejenak.

"Tidak akan ada pernikahan. Aku akan mengakhiri dan membatalkan semuanya." Ucap Jongin lagi dengan suara bergetar, lalu ia segera berjalan meninggalkan Chanyeol dan Kyungsoo.

"Jongin!" Chanyeol melompat dari tempat tidur Kyungsoo lalu memasang asal-asalan boxer miliknya dan mengejar Jongin

Chanyeol bersyukur karena Jongin belum keluar dari apartemen Kyungsoo sehingga ia bisa menarik tubuh adiknya yang lebih kecil darinya itu.

"Jongin-ah! Dengar, aku akan menjelaskan se—"

"Lepaskan tanganmu yang menjijikan itu, Chanyeol-ssi. Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun!" Jongin memotong perkataan Chanyeol dan menepis tangan Chanyeol dari tubuhnya lalu membanting apartemen Kyungsoo.

Chanyeol terdiam. Demi apapun juga, ini adalah pertama kalinya Jongin berkata sedingin itu kepadanya. Ia tahu bahwa adiknya itu punya pribadi hangat dan terkadang manja karena bagaimanapun juga Jongin adalah anak bungsu yang suka bermanja padanya atau pada orang tua mereka. Meskipun keduanya sudah lama tidak saling mengobrol sewajarnya kakak adik pada umumnya karena kesibukan masing-masing, namun selama ini mereka masih saling menyayangi dan menghargai.

Dengan tololnya ia baru sadar kalau ia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Seharusnya ia menolak semua perlakuan Kyungsoo kemarin. Seharuhnya ia hanya mengantarkan pulang yeoja itu dan langsung pergi. Seharusnya ia… Terlalu banyak kata seharusnya yang berputar-putar di dalam otaknya, membuatnya sakit kepala hingga ia merasa kepalanya bisa pecah kapan saja. Penyesalan seolah-olah menjadi batu di atas pundaknya dan duri di hatinya sampai-sampai ia tidak bisa bernafas dengan baik dan berdiri tegak.

Chanyeol kembali ke dalam kamar Kyungsoo dan mendapati yeoja itu tengah terisak pilu sambil memanggili nama Jongin. Hati Chanyeol terasa sangat perih saat melihat orang yang ia cintai menangisi orang lain dengan begitu pilu.

"Kyungsoo-ya…"

"HIks… Jongin… Jongin… HIks… Hiks… Mianhae… Mianhae… Hiks.." Kyungsoo sama sekali tak merespon ucapan Chanyeol

"Kyungsoo-ya… Uljima.. Mianhae…" Chanyeol mendekati Kyungsoo, bermaksud untuk membawa yeoja mungil itu ke dalam pelukannya

"Jangan sentuh aku! Jangan sentuuhh! Hiks…" Kyungsoo menjauhi Chanyeol

"Kyungsoo-ya…" Chanyeol berujar sedih karena ditolak oleh Kyungsoo

"Pergi dari sini! Aku memaafkanmu kalau kau pergi dari sini." Kata Kyungsoo dengan nada dingin sambil menahan isakannya

"A—arasseo.."

Chanyeol menuruti perintah Kyungsoo. Ia segera memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan meninggalkan Kyungsoo sesuai dengan kemauan yeoja itu. Dengan tergesa-gesa, Chanyeol memasang kembali pakaiannya. Baru saja ia menyelesaikan kancing terakhir kemejanya, ia mendengar suara pintu terkunci dari dalam.

"AAAARRRGGHHHH!"

PRANG!

Jeritan pilu Kyungsoo membuat hati Chanyeol hancur berantakan. Ia sama sekali tidak menginginkan semua ini terjadi. Bukan ini yang ia inginkan. Ia hanya ingin Kyungsoo bahagia, tidak peduli dengan siapapun itu. Tak ada niatan sama sekali dalam hatinya untuk membuat Kyungsoo hancur seperti ini karena berpisah dengan Jongin.

"Kyungsoo-ya…" Chanyeol mencoba mengetuk pintu kamar Kyungsoo

"PERGI! PERGI DARI RUMAHKU! HIKS…"

PRANG!

Kyungsoo kini malah melempari pintu kamarnya—entah dengan apa—hingga Chanyeol akhirnya memutuskan untuk membiarkan yeoja itu tenang dengan sendirinya. Ia sama sekali tidak meninggalkan apartemen Kyungsoo dan tetap menunggu yeoja itu di ruang tengah apartemennya. Ia tidak bisa meninggalkan Kyungsoo sendirian dalam keadaan seperti ini. Ia takut terjadi sesuatu pada Kyungsoo dan jika ia pergi, ia tentu tidak bisa masuk kembali ke sini karena ia tidak tahu password serta tidak memiliki kunci apartemen ini.

Chanyeol hampir saja kembali tertidur saat Kyungsoo membuka pintu kamarnya. Chanyeol langsung terbangun dan berdiri untuk melihat Kyungsoo. Ia menemukan Kyungsoo masih telanjang dengan mata yang begitu bengakak dan rambut mengembang seperti rambut singa.

"Kenapa kau masih disini?" tanya Kyungsoo dengan nada datar sambil menatap Chanyeol, seolah tak peduli dengan keadaan tubuhnya yang telanjang bulat.

"Kyung.." Chanyeol menahan ludahnya karena ia tak tahu apa yang harus ia lakukan

"KA! JIGEUM KA! KAA!" jerit Kyungsoo sebelum tubuhnya oleng karena tak sadarkan diri.

"KYUNGSOO!"

.

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo memerjapkan matanya beberapa kali. Ia tak mengerti kenapa ia berada di atas tempat tidurnya dengan keadaan berpakaian lengkap. Perlahan ia mencoba untuk mengambil posisi duduk di atas tempat tidurnya. Dilihatnya kini kamarnya telah rapi dan bersih kembali, meskipun beberapa barang tidak diletakan di tempat yang sama seperti yang biasa ia lakukan.

Tenggorokannya terasa begitu kering dan perutnya lapar. Ia yakin kalau saat ini sudah hampir sore dan ia belum memasukan makanan apapun ke dalam perutnya sejak pagi.

CKLEK!

Chanyeol masuk ke dalam kamar Kyungsoo dengan membawa makanan, dan 2 gelas air putih. Ia terlihat lebih segar dari sebelumnya karena Chanyeol menyempatkan dirinya untuk mandi ketika Kyungsoo pingsan tadi. Ia juga menyuruh cleaning service untuk mebereskan semua kekacauan yang ada di kamar Kyungsoo, termasuk mengganti sprei Kyungsoo yang kotor karena—Yeah, You know what.

"Kyungsoo-ya… Kau sudah bangun? Aku membawakan makanan untukmu. Kau harus makan karena kau belum makan sejak pagi." Chanyeol tersenyum lalu meletakkan nampan yang ia bawa tepat di atas meja nakas yang ada di samping Kyungsoo

"…" Kyungsoo memalingkan wajahnya dari Chanyeol dan tak mengatakan apapun.

"Kyungsoo-ya… Kau makan, ne?" lirih Chanyeol

"Oppa, bisakah kau meninggalkanku?" Kyungsoo menatap Chanyeol dengan tatapan penuh luka

"Ta—tapi Kyung…"

"Tidak perlu khawatir padaku. Aku hanya butuh sendiri, ebal…" Kyungsoo mati-matian menahan tangisnya

"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa habiskan makananmu dan minum obat yang sudah kusediakan ini untuk membuat badanmu lebih segar. Na kalke."

Chanyeol tersenyum singkat sebelum benar-benar meninggalkan Kyungsoo. Setelah memastikan Chanyeol sudah pergi dari kamarnya, Kyungsoo mulai menangis lagi.

"Jongin-ah… Saranghae… Hiks…"

.

.

.

.

.

.

.

Nada dering Chanyeol berbunyi nyaring. Chanyeol mengangkatnya dengan malas setelah membaca nama penelpon yang tertera di layar handphonenya. Kim Jongdae.

"Yeoboseyo?"

"Chanyeol-ah! Kau kemana saja? Kenapa tidak bisa dihubungi? Aku kewalahan mengurusi dokumen-dokumen yang harus kau tanda tangani karena kau tidak masuk ke kantor!" gerutu Jongdae kesal

"Bisakah untuk tidak mengomeliku seperti itu? Aku sedang terkena masalah besar saat ini." Jawab Chanyeol dengan nada datar namun penuh penekanan

"Arasseo. Ceritakan padaku kapan saja kau mau. I'm your trash can, right?" kini nada bicara Jongdae melembut

"Thanks, dude. Aku menghargai kepedulianmu." Chanyeol tersenyum pahit

"Tapi besok kau harus datang ke kantor atau setidaknya mengajakku bertemu untuk menceritakan semua ceritamu, Park Chanyeol!" ucap Jongdae lagi sebelum mematikan sambungan telepon mereka.

"Ck! Dasar unta purba!" ledek Chanyeol sekenanya

.

.

.

.

.

.

.

.

"Eomma…."

Tiba-tiba saja Jongin sudah berada di dalam rumah orangtuanya dan langsung memeluk eommanya dengan sangat manja.

"Jongin-ah… Wae geurae?" Eunhee heran sekali dengan tingkah Jongin yang manja seperti ini. Sudah lama sekali anak bungsunya tidak pernah bermanja kepadanya.

"Eomma…" Jongin hanya menyebut-nyebut kata 'eomma' sambil memeluk erat-erat Eunhee, seolah tidak memperbolehkan Eunhee pergi kemana pun.

"Yeobo, ada apa dengan Jongin?" kini Yoochun ikut bergabung dengan Eunhee dan Jongin

"Molla…" bisik Eunhee tanpa mengeluarkan suaranya

Eunhee membawa Jongin untuk duduk dan membiarkan anak bungsunya itu memeluk dirinya sepuas mungkin. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan Jongin. Sebagai seorang ibu, ia punya ikatan batin yang cukup kuat dengan Jongin. Sayangnya ia tidak bisa memaksakan Jongin untuk bercerita kepadanya. Sedangkan Yoochun hanya membiarkan Eunhee dan Jongin berpelukan sambil sesekali memperhatikan keduanya karena ia kini sedang sibuk dengan koran dan teh hijaunya.

"Waeyo, hmm?" Eunhee mengelus lembut surai kecoklatan milik Jongin

"Jongin-ah, kenapa kau seperti bayi, eoh? Ingat sebentar lagi kau akan segera menikah, nak." Yoochun mencubit hidung Jongin yang tidak begitu mancung itu dengan gemas

"Ani. Aku tidak jadi menikah." Ucap Jongin masih menempeli eommanya

"Jongin…?" kini Yoochun dan Eunhee menatap Jongin dengan tatapan yang sulit diartikan.

Bagaimana mungkin anak ini bercanda dengan begitu keterlaluan? Yoochun dan Eunhee tahu pasti bahwa Jongin sangat mencintai Kyungsoo dan begitu antusias dengan persiapan pernikahan mereka yang sudah hampir selesai.

"Aku membatalkan pernikahanku dengan Kyungsoo." Jongin kini menyembunyikan wajahnya di punggung Eunhee.

"NE?" Eunhee hampir saja jantungan

"Jongin… Jangan main-main, nak. Kami sudah tua, jangan mengerjai kami dengan yang tidak-tidak." Tegur Yoochun

"…" Jongin tak menjawab, tapi Eunhee bisa merasakan punggungnya basah secara jelas. Jongin tengah menangis tanpa suara.

"Chagiya…" Eunhee memutar tubuhnya untuk memeluk putera bungsunya itu

"…Hiks…"

Hanya satu isakan yang Eunhee dan Yoochun dengar. Selebihnya puteranya itu hanya menangis dalam diam dengan tubuh bergetar dan air mata yang terus mengalir di pipinya. Sepasang suami istri itu hanya diam sambil memeluk anak bungsunya sambil sesekali mengelus punggung Jongin untuk memberi kekuatan yang sebenarnya tak berguna sama sekali.

.

.

.

.

.

.

.

Pernikahan Kyungsoo dan Jongin benar-benar dibatalkan secara sepihak oleh Jongin. Jongin sama sekali tidak pernah bercerita kepada orang tuanya mengenai apa alasan di balik pembatalan rencana pernikahnnya bersama Kyungsoo. Ia akan memilih diam atau mencari topik lain agar orang tuanya tidak terus-menerus menanyakan perihal keputusannya. Tentu saja tekadnya untuk tidak menikah dengan Kyungsoo sudah bulat. Ia benar-benar kecewa dan sakit hati ketika mendapati kakak kandung dan calon istrinya berada di atas ranjang yang sama dengan keadaan telanjang. Ia sudah tak ingin mendengar alasan apapun dari keduanya. Ia begitu kesal karena Chanyeol bahkan sudah meniduri Kyungsoo—di saat Jongin bahkan belum pernah mencium bibir Kyungsoo.

Jongin kini sangat menjaga jarak dari Kyungsoo dan Chanyeol, bahkan sebisa mungkin untuk tidak bertemu dengan keduanya dalam kesempatan apapun. Ia tahu ia pengecut karena lari dari masalahnya. Namun baginya, hal ini adalah satu-satunya cara untuk tidak membuat rasa kecewa dan sakit hatinya muncul kembali. Ia memilih untuk menyibukan diri dengan karirnya yang makin menanjak karena tawaran bermain drama, film layar lebar serta iklan produk kian membanjirinya. Meski ketenarannya semakin bertambah, namun hati Jongin kian hari kian kosong, hingga membuatnya hidup hampir seperti robot yang hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh agensinya. Ia nyaris tidak pernah tersenyum di dalam kehidupan nyatanya. Senyumannya hanya senyum palsu yang ia perlihatkan ketika sedang berakting.

.

.

.

.

.

.

Keadaan Chanyeol tak jauh berbeda dari Jongin. Rasa menyesal dan patah hati yang begitu dalam karena Kyungsoo menjauhinya dan berbalik membencinya membuat hidupnya menjadi lebih kacau dari kehidupannya sebelum bertemu dengan Kyungsoo. Ia menjadi lebih dingin dan tak berhati. Sikapnya jauh lebih buruk dan benar-benar otoriter hingga membuat Jongdae nyaris menyerah akan sikapnya. Sudah berkali-kali Jongdae hampir dipecat oleh Chanyeol hanya karena masalah sepele yang bahkan tidak berhubungan dengan pekerjaan. Sebagai sahabat yang baik, Jongdae sudah berusaha untuk membuat Chanyeol kembali ceria seperti saat mengenal Kyungsoo. Ia bahkan mengenalkan beberapa sepupu dan teman-temannya yang cantik kepada Chanyeol, namun Chanyeol menolak mereka semua dan marah besar.

Tak hanya Jongdae, sebagai eomma, Eunhee sangatlah bingung dengan apa yang sedang terjadi pada anak-anaknya. Ia sedih ketika melihat anaknya hampir melakukan baku hantam dan beradu mulut di hadapannya tempo hari. Sampai hari ini Ia tak tahu apa yang sedang terjadi.

Ketika hari ini Chanyeol pulang ke rumah, Eunhee langsung memberondong banyak pertanyaan yang mengganjal hati dan pikirannya kepada Chanyeol.

"Chanyeol-ah…" panggil Eunhee

"Ne eomma..?" tanya Chanyeol dengan nada datar

"Chanyeolie.. Eomma ingin menanyakan sesuatu. Tapi eomma mohon jawab dengan jujur, ne? Sesungguhnya apa yang terjadi denganmu dan Jongin?"

"…" Chanyeol diam

"Apa ada hubungannya dengan pernikahan Jongin dan Kyungsoo yang batal?" tanya Eunhee dengan hati-hati

"Mianhae eomma. Sesuatu memang terjadi, tapi aku tidak bisa mengatakannya pada eomma." Chanyeol terlihat sangat ingin menghindari pembicaraan ini dengan Eunhee.

"Chanyeol.."

Chanyeol langsung meninggalkan Eunhee menuju kamarnya dan mengunci pintu. Eunhee menghela napasnya. Lagi-lagi Chanyeol menolak menjelaskan apa yang terjadi kepadanya.

"Semoga cepat atau lambat aku bisa tahu apa yang terjadi…" gumam Eunhee dalam hati

.

.

.

.

.

.

[EXO NIGHTCLUB]

Jongin masuk ke dalam sebuah klub malam dengan wajah dingin. Ia langsung menghampiri bar dan memesan minuman dengan kadar alkohol tertinggi. Jelas saja ia langsung menjadi objek tatapan mata dari para pengunjung yang ada di sekitarnya karena selain ia adalah artis terkenal, ia juga melakukan hal yang dianggap ekstrim oleh pengunjung lain. EXO nightclub menyediakan sebuah minuman berkadar alkohol tinggi yang sangat terkenal dapat membuat orang yang meminumnya mabuk hanya dalam satu tegukan.

"Apa kau sedang frustasi?" seorang namja dengan pakaian serba hitam bertanya dengan tatapan remeh pada Jongin. Ia duduk tepat di samping Jongin.

"Bukan urusanmu, tuan." Ucapnya tanpa menatap namja itu

Namja yang tadi bertanya kini membuang wajahnya dari Jongin dan melanjutkan kegiatannya menyesap wine di tangannya. Ia sebenarnya ingin berbasa-basi karena ia ingin memanfaatkan kesempatan emas bertemu dengan artis yang sedang naik daun di tempat seperti ini. Namun ia mengurungkan niatnya karena mendapat jawaban tak bersahabat dari Jongin.

Jongin sendiri memang tak ingin berbicara dengan siapapun. Ia hanya ingin minum dengan tenang dan berharap bisa melupakan Kyungsoo secepat mungkin karena sejujurnya ia masih sangat mencintai yeoja itu.

"Tuan, kami hanya menjual minuman ini per gelas dan harganya juga sesuai. Apa anda tetap ingin membelinya satu botol?" sang bartender bertanya lagi pada Jongin

"Terserah saja. Aku hanya ingin minum." Jawab Jongin

"Ne."

Tak lama setelah itu, pesanan Jongin datang. Jongin menatap gelas kecil itu sejenak sebelum ia meminumnya dalam satu tegukan. Wajahnya mengerut karena rasa pahit yang membakar mulut dan tenggorokannya. Ia mengedip-edipkan matanya yang muali terasa berkunang.

"YA! Kau gila? Minumlah dengan pelan, Jongin-ssi!" seru namja berbaju hitam tadi sambil mengguncang tubuh Jongin

"Lepaskan tanganmu! Hik! Kau… Hik! Kau manis… Hiks!" Jongin ternyata langsung kehilangan kendali akan kesadarannya.

"Kau bicara apa?" kesal namja itu

"Kau manis… Hik!"

Tanpa bisa menahan diri, Jongin langsung mencium bibir namja itu.

BUGH!

"SEKYA!" namja itu meninju pipi Jongin hingga Jongin terjerembap ke lantai. Jongin hanya tertawa-tawa sambil sesekali memegangi pipinya yang memerah karena ditinju

Pengunjung bar merasa terganggu dengan tingkah Jongin yang mabuk parah. Namja yang meninju Jongin masih menormalkan pernafasannya yang sesak karena merasa kesal telah dilecehkan oleh Jongin.

"Tuan, maafkan saya. Tapi dengan hormat saya mohon untuk tidak membuat keributan di klub ini." Tegur bartender tadi

"Dia yang memulainya!" namja itu menunjuk Jongin yang kini sudah bisa berdiri, namun jatuh kembali ke lantai karena tak kuasa menahan tubuhnya.

"Bisakah tuan membawa orang ini keluar dari klub ini?" tanya bartender tadi sambil menatap Jongin yang kini sedang tertawa sambil menatap mereka

"Kenapa harus aku?" tanya namja itu

"Karena anda satu-satunya yang berbicara dengannya sejak tadi." Ucap bartender itu

Namja berbaju hitam itu kini terdiam.

.

.

.

.

.

.

Sudah tiga pekan berlalu sejak kejadian itu. Kyungsoo masih terpuruk akan perpisahannya dengan Jongin. Ia juga sangat membenci Chanyeol karena kejadian itu. Meskipun Chanyeol sering mengunjungi di café, Kyungsoo tidak pernah mempedulikan namja itu dan bersikap seolah Chanyeol tidak ada disana. Ia bersyukur karena beberapa hari ini Chanyeol tidak muncul di café karena kesibukannya sebagai presiden direktur yang semakin menjadi-jadi.

Kyungsoo kini menjadi lebih pendiam dan sering melamun. Ia juga kurang memperhatikan kesehatannya sehingga kini ia gampang demam. Para pegawai café khawatir dengan keadaannya. Zhang Yixing, salah satu pegawai café dan juga sahabat Kyungsoo ikut prihatin dengan keadaannya yang terlihat tak punya semangat hidup lagi. Ia sebal pada Jongin yang tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya dengan Kyungsoo dan meninggalkan yeoja malang itu tanpa mengatakan apapun. Demi apapun, Yixing sangat kesal pada Jongin yang tidak mau tahu atas apa yang sebenarnya terjadi. Yixing tahu benar dengan apa yang terjadi di antara Kyungsoo, Jongin dan Chanyeol.

"Kyungie, ini pesanan meja nomor 11." Seorang yeoja manis berlesung pipit menepuk pipi Kyungsoo yang sedang melamun.

"E—eh? Ne Yixing eonnie.."

Kyungsoo langsung meraih nota pesanan yang diberikan Yixing lalu berjalan pelan menuju dapur café. Baru saja ia berjalan 4 langkah, tubuhnya langsung oleng. Beruntung Yixing cepat tanggap dan langsung menangkap Kyungsoo.

"Kyungsoo!" seru Yixing

"E-eh? Mianhae eonnie… Aku sedang tidak fokus." Kyungsoo cepat-cepat menarik dirinya dari Yixing.

"Beristirahatlah Soo-ya… Tidak perlu memaksakan dirimu seperti ini. Wajahmu sangat pucat. Tidurlah di ruanganmu, ne?" nasihat Yixing dengan nada khawatir

"Ne eonnie… Nanti aku akan istirahat, maaf kalau aku merepotkanmu." Kyungsoo langsung melangkah cepat menuju dapur café.

.

.

.

.

.

.

"Ada apa denganku…? Apa aku sedang PMS?" Kyungsoo bertanya pada dirinya sendiri.

Ia kini sudah masuk dalam ruangan pribadinya dan mengunci pintu. Ia mencoba mengambil nafas untuk merilekskan tubuhnya. Beberapa hari ini dia merasa konsentrasinya sering buyar dan tubuhnya terasa sangat ringkih hingga hampir pingsan berkali-kali. Ia juga tidal tahu kenapa ia bisa selemah itu. Ia sudah berusaha tegar menghadapi masalahnya. Hidupnya memang sudah menyedihkan sejak ia kecil, jadi tak ada alasan untuk terus terpuruk meski pada kenyataannya ia sangat sulit melupakan Jongin yang merupakan salah satu hal yang paling ia sukai di dunia ini.

Lama berkutat dengan pikirannya, kini matanya tertuju pada kalender yang tergantung di dinding ruangannya itu. Ia mendekati kalender itu dan menelitinya. Ia ingat sekali bahwa ia menulis tanggal terakhir menstruasinya di kalender ini.

"Apa aku sudah 2 bulan tidak menulis lagi? Kenapa bisa lupa?" lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri.

Kyungsoo mengambil sebuah spidol merah untuk menulis di kalender itu. Ia berpikir sejenak.

"Tanggal ini aku berhenti, lalu aku menstruasi lagi tanggal… Ah, aku lupa… Tanggal berapa ya?"

Pikirannya mulai mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menstruasi. Dan sebuah ingatan muncul di kepalanya.

"Aku belum menstruasi lagi sejak ini." Matanya membulat

"Andwae! Tidak. Itu tidak mungkin!" Kyungsoo menggelengkan kepalanya

Ia langsung mengambel coatnya dan keluar dari ruangannya. Tujuannya saat ini adalah apotek.

.

.

.

.

.

.

.

TBC!

.

.

.

.

.

.

Maaf baru bisa lanjut.

Feelku hilang buat nulis ff ini.

Entah kenapa gak ada mood banget..

WriterBlock parah deh pokoknya.

Semangatin aku ya di review kali ini.

Review menyusut di chap lalu, dan aku sedih.

Padahal aku suka chapter kemaren.

:(((((

Buat cast yang dicium Kai di klub, udah ada clue-nya loh…

Buat yang peka mungkin bisa tebak.

Hehe…

Chapter selanjutnya pasti udah pada bisa nebak apa yang terjadi sama Kyungie…

Makasih buat yang udah review di chapter kemarin yaa…

Saranghae yeoreobun~!

XOXO