"tidak masalah, santai saja denganku. Aku pernah kena skors karena bolos melulu kok."

"cewek nekat." Sindir karma.

"cowok greget." Ai membalasnya.


More than a match partner By nyaneenia

Romance, friendzone ship. Teen. OOC, tidak sesuai dengan manga, karma x OC.

Time set: sehabis pulang dari pulau selatan Okinawa


Special thanks to: TaaShiota, Fujiwara ai, moccaolossal, syifa-chan, and all silent readers.


試合相手より(shiai aite yori)


Ai dan karma masih ada didalam hutan, dan bersantai dibawah pohon ek. Ai sibuk makan stroberi sedangkan karma menyumbat telinganya dengan earphone.

"oh iya," ucap karma hendak membuka percakapan karena atmosfer canggung itu.

"hm?"

"aku tadi melihat kejadian saat kelas gym,"

"oh. Sorete?"

"yaa kuakui kau hebat juga,"

Ai tersenyum. "terima kasih, itu juga berkat bantuan mu kok." Balasnya. "tapi lebih berhasil aku kan?"

Karma tersenyum kecut. "mungkin kau lebih beruntung dari aku," karma melepas earphonenya dan mematikan ponselnya. "ngomong ngomong, ayahmu wakil departemen pertahanan?"

"hm, tadi sudah diperkenalan kan?"

"gerkanmu terlihat seperti bukan seorang amatir. apa kau mendapat semacam latihan khusus dari ayahmu? Atau apalah itu?"

Ai memelintir surai black coppernya. "iya. Dari umur 6 tahun, tepatnya saat aku masih kelas 3, aku sudah diajari bela diri kecil kecilan sih."

"6 tahun sudah kelas 3? Umurmu sekarang berapa- plus kau masuk sd dari umur berapa?"

"umurku sekarang baru 12- menuju 13, masuk sd umur.. sekitar 4 tahun mungkin?"

"wah, berarti kau murid termuda dikelas ini." Ucap karma. "tte, nande kau dikelas e? kalau kau umur 4 tahun saja bisa masuk sd, harusnya kau anak kelas a 'kan?"

Ai memainkan stroberinya. "ayahku sengaja meminta pihak sekolah untuk memasukanku kekelas e,"

"karena kemampuan dirimu itu?" simpul karma. Ai mengangguk. "mungkin sih. Sewaktu ayahku menceritakan tentang kelas e yang diajari dengan guru gurita, aku langsung tertarik."

"jadi sebenarnya kau bisa masuk kekelas a? namun kau menolaknya." Sama sepertiku, mungkin ia lebih baik. pikir karma.

Ai mengangguk dan menetap karma lekat. "sama sepertimu, eh? Tapi aku lebih baik karena sifatku tidak sepertimu- main hajar orang orang." karma berjengit.

"esper." Ucap karma sambil mendengus. Ia melihat kearah kaki kanan ai yang terlilit belt. Ai risih.

"tatapanmu seakan hendak 'menguliti'ku hidup hidup asal kau tau. Ada apa melihat kearah kakiku?"

"sebenarnya apa fungsi belt itu? Seperti mau panjat tebing saja."

Ai melirik kakinya. "oh, ini? Mau tahu?" ai bersiap menyingkap roknya. Karma menghentikannya.

"apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah membuka rokmu?"

"ada apa? Jangan berfikiran kotor, karma. Lihat," ai menyibak sedikit roknya.

"hebat." Ucap karma singkat.

Yang ai tunjukan adalah semacam ponsel layar-ralat, mungkin lebih tepatnya sebuah kaca bening nan tipis, yang hanya diberi bumper karet hitam- selebar kurang-lebi inci, tertempel di celana pendek hitam yang membalut pas dipaha-dengan belt khusus itu disisi paha kanan, dan juga ada tempat khusus pisau s.a.a.u.s.o. yang ukurannya lebih kecil dari biasanya.

"apa guna layar itu?" Tanya karma. "ini?" ai menyalakan layar itu dan terlihat rentetan kode kode komputer. Setelah itu muncul beberapa kotak menu yang bertuliskan 'status', dan kalimat kalimat berbahasa inggris lainnya.

"penghitung detak jantung, penstabil detak, dan lainnya yang berhubungan dengan organ dalam diriku." Ucapnya dengan mata yang terlihat agak sayu. "plus tambahan gps map."

"woah, hebat juga kau memiliki alat yang seperti ini."

"orang tuaku dan teman temannya membuat ini semua khusus untukku. Katanya sih, untuk menjagaku." Jelas ai. "over protektiv ya?" begitulah.

"kenapa orangtua mu sampai segitunya?"

Ai terdiam untuk waktu cukup lama. "….dulu aku pernah, kecelakaan."

Baru saja karma hendak bertanya lagi tentang kecelakaan yang menimpanya, namun ai langsung menatapnya disertai dengan senyuman sayu yang mengisyaratkan agar ia tidak bertanya tentang hal itu lagi.

"maaf."

"untuk apa?"

"yang tadi"

"tadi apa?" Tanya ai pura pura lupa. Ia cekikikan.

"tadi yang- lupaka saja lah." Ujar karma. "oh iya. Pisau anti senseimu lebih kecil dari yang biasanya. Kau potong?"

Ai mengeluarkan pisau karetnya dan melemparkannya kearah karma.

"catch"

"kau hobi melempar ya," ucap karma dan menimang nimang pisau ai.

"woa, dan juga terasa berat," ia menekan nekan pisau itu. "tidak begitu elastis? Malah kaku seperti pisau asli."

Ai mengangguk. "karet penghancur sel koro-sensi yang dikembangkan didalam pisau itu dibuat lebih padat, ralat- malah benar benar padat. Otomatis pisaunya lebih keras bukan?" jelas ai. "dan juga lebih efektif untuk melawan koro-sensei." imbuhnya. "oleh karena itu regenerasinya menjadi lebih lama kan? Biasanya ia memerlukan waktu hanya satu menit untuk menumbuhkan tentakel kinky nya itu kembali, tapi dengan pisau ini menjadi diatas dua menit,"

"fantastis." Karma berhenti memainkan pisau ai. "curang, alat kau lebih baik dari yang lain."

"tidak juga. Rencananya pisau yang seperti ini juga akan diberikan ke yang lain. Hanya saja aku mendapatkannya duluan." Ia menjeda. "tapi tidak semua mendapat pisau khusus ini, hanya yang berbakat menggunakan pisau saja yang bisa menggunakan ini. Karena ini terbatas, dan pembuatannya lebih lama." Jelasnya panjang. "lagipula jika tidak lihai bermain pisau, bisa saja melukai diri sendiri. Pisau ini agak terasa tajam. Mau coba?" karma menggeleng.

"apa aku bisa mendapatkannya?" Tanya karma.

Ai tampak berfikir. "jika kau mahir dengan pisau, aku rasa kau akan mendapatkannya segera."

"maksudku, bolehkah pisaumu yang ini buatku? Kau punya banyak kan?" karma mendengus. "curang sekali,"

"asal kau tahu; ayahku pencetus ide pembuatan pisau yang dipadatkan itu. Lagipula aku lihai dalam bermain pisau tau."

"naru hodo. Jadi boleh tidak?"

Ai berfikir lagi. "aku memang punya banyak sih. sebenarnya akan tidak adil jika hanya kau yang kuberikan.." ia menghela nafas. "tapi jangan beritahu yang lain ya? Anggap saja sebagai ucapan terimakasih atas bantuan idemu yang tadi pagi."

Karma tersenyum "te-ri-ma ka-sih~"


"ara? Hikaru-san! Kenapa kau tidak menghadiri kelas kimia-ku? Padahal ayahmu bilang kau jago dalam bidang kimia!" semprot koro-sensei saat melihat ai dan karma yang baru kembali kesekolah saat hari sudah senja.

Ai membungkukan badannya sambil meminta maaf. "summimasen, koro-sensei. saat istirahat aku iseng kehutan karena penasaran. Aku bertemu dengan karma-kun dan malah keasikan mengobrol. Aku jadi lupa waktu. Honto ni, summimaasen desu shita." Ucapnya sambil membungkukan badannya sekali lagi.

Koro-sensei jadi salah tingkah dan terharu karena untuk pertama kalinya ia mempunya murid yang sopan begini. "aku maafkan tenang saja, hikaru-san. Jangan diulangi lagi ya," ucap koro-sensei. ai tersenyum sambil tangannya berusaha menstab koro-sensei dengan pisaunya. Koro-sensei memegang pergelangan tangan ai dan menjatuhkan pisaunya.

"oh iya, tadi saat kelas gym, kau sangatlah hebat. Kau pernah mendapat latihan khusus ya?" Tanya koro-sensei sambil memungut pisau ai dengan serbet putih.

"hai. Sejak umur 6 tahun aku sudah diajari beladiri kecil kecilan oleh ayahku." Ujar ai. Ia mengambil pisaunya yang disodorkan oleh koro-sensei.

"nurufufufuffu, tapi itu masih belum cukup berhasil untuk membunuh ku- kau tahu"

Ai cengegesan. "ah iya, itu aku sengaja juga koro-sensei, aku mau membunuhmu perlahan." Koro sensei menggoyangkan tentakelnya.

"saat kelas gym ada perkataanmy yang menggangguku, hikaru-san."

"hm? Nani? yang mana? Maaf kalau tadi aku tidak sopan, koro-sensei."

"saat kau selesai menyerangku, kau berkata; 'saa, koro-sensei, kita lihat siapa yang terbunuh duluan disini,'. Apa maksud itu?"

Ai terdiam dan tertawa canggung. "kau percaya itu koro-sensei? aku hanya asal bicara- asal gertak begitu, kau mengerti? Tiba tiba kata itu yang keluar dari mulutku"

"souka? Baiklah kalau begitu, seharian aku memikirkan artinya apa. Aku tidak mau ada muridku yang mati,"

"terimakashi telah menghawatirkanku, sensei. kau adalah guru yang baik," ucap ai tulus. Koro-sensei tersanjung mendngarnya.

"nurufufufufu, guru harus bisa melindungi murid muridnya, hikaru-san." Koro-sensei menatap karma. "karma-kun, mungkin kau harus belajar dari ai." Ucap koro-sensei. karma hanya mendengus kecil sebagai balasannya.

"oh iya, sebagai hukuman karena membolos dipelajaranku, buat sebuah karangan bebas sepanjang 3 lembar penuh, menggunakan bahasa inggris, kumpulkan besok."

"eeh? ada hukuman?" ucap karma dan ai bersamaan.

"tentu saja ada~ itu tidak berat bukan? Apalagi untuk kalian berdua, khususnya hikaru."

"hai, koro-sensei." ucap ai pelan. Tiba tiba ai bersin bersin. "are? Kenapa aku?"

"sepertinya ada yang menggossipkan kamu, hikaru-san." Ucap karma asal. Koro-sensei menyentuhkan tentakelnya kekening ai.

"badanmu terasa sedikit hangat. Daijoubu? Apa perlu sensei antar pulang?"

"uhm, sepertinya aku terlalu letih, sensei. Aku baru sampai ke Tokyo saat masih dini hari,"

"oh, jadi sebenarnya kau telat karena itu? Seharusnya kau jangan memaksakan diri hikaru-san," ucap koro-sensei. "mau sensei antar pulang?"

"hah bagaimana caranya?" Tanya ai bingung. "naik motor?"

"aku sarankan kau tidak perlu pulang diantar sensei, hikaru-san"

"nurufufufu, kau masuk kedalam baju sensei~ bagaimana? Mau?"

"..terdengar ambigu, tidak terimakasih sensei, sepertinya aku pulang sendiri saja,"

Karma bergeming. "rumahmu kearah mana?" ai hanya mengarahkan tangannya kesebelah kanan.

"jaa, kalau begitu bareng denganku saja, kita searah,"

"souka? Saa, cepatlah kalian berdua pulang ya, hari sudah mulai gelap. Dan jangan lupa dengan tugas yang kuberikan~ jaa mata ashita~" ucap koro-sensei sambil melambai lambaikan tentakelnya. Koro-sensei melihat kearah langit.

"sebaiknya kalian cepat, mitte, sudah mendung! Hati hati jangan sampai kena air hujan, nanti sakit!"

"hai hai koro-sensei, jaa koro-sensei,"

Mereka berdua jalan beriringan di jalan setapak hutan. Jalanan agak menurun dan juga licin. Tidak ada penerangan sedikitpun. Bahkan ai pun terpeleset.

"hikaru-san, daijoubu? bisa berdiri?" Tanya karma sambil mengulurkan tangannya.

"un, daijoubu." Ucapnya sambil berusaha berdiri. Namun terjatuh lagi. Ia melihat kearah kaki kirinya.

"mattaku, rupanya kakiku terkilir." Ucapnya.

Karma menghela nafas. "heeh apa boleh buat," ia berjongkok. "naik,"

"eh?" ai memiringkan kepalanya sedikit.

"aku tidak peduli jika ini tidak sopan[1], tapi mau bagaimana lagi? Kau tidak bisa berjalan kan? Tadi saja tidak bisa berdiri."

"uh-oh, tapi aku berat?" ucap ai sambil memiringkan kepalanya sedikit.

"aku kuat asal kau tahu. Jangan meremehkanku."

Ai mendesah pelan dan naik kepunggung karma. Tangannya ia lilitkan di area leher karma.

"a-aku berat ya? Turunkan saja deh! Aku juga tidak biasa digendong, takut terjatuh!"

"menurutku tidak berat kok. Kalau takut, benamkan saja kepalamu di leherku. Jangan lihat kemana mana."

Ai menuruti karma. Rambut ai terasa menggelitiki karma. Ia berjalan perlahan dan berhati hati.

"..karma-kun, maaf ya, karena tadi aku ceroboh kau jadi harus menggendongku"

"tidak usah diperdulikan."

"mana bisa? Baiklah sebagai gantinya, aku akan mengabulkan satu permintaanmu,"

"honto? Apapun itu?"

Glek. "ya-ya asalkan tidak yang aneh aneh saja."

"baiklah, tenang saja, dan juga maksudmu yang aneh aneh itu apa? Aku bukan orang ero seperti okajima."

"jadi, apa?"

"boleh aku minta pisau lagi?"

Ai menghela nafas. "oke, besok akan kubawakan tiga pisau baru untukmu. Bagaimana?"

"hem, kelihatannya sebanding. Terimakasih"

"sama sama karma-kun."

"hikaru-san, apa rumahmu masih jauh?" Tanya karma. "etto, dibelokan ini lalu lurus terus, sampai deh. Ada apa? Kau capek ya? Biarkan aku turun!"

"iie, bagaimana kalau kau kerumahku dulu? Akan kuobati sebentar lalu kuantar pulang. Rumahku tinggal beberapa meter lagi dari sini." Tawar karma. Ia mengadahkan kepalanya keatas. "lihat, sepertinya sebentar lagi hujan."

"..gomenne aku merepotkan."

Karma tersenyum. "kuanggap itu jawaban iya."

Karma masih tetap berjalan perlahan sambil menggendong ai. Ai sesekali memelintir rambut crimson karma. Mereka berdua sampai dirumah karma. Ia menurunkan aid an mempersilahkannya masuk.

"etto, karma-kun, rumahmu sepi sekali.. apakah ada orang selain kita berdua?"

"tidak. Ada apa?"

Glek. ai berusaha menelan ludahnya. "a-ah, kalau begitu aku pulang saja ya? Sepertinya oba-san akan mencariku-"

Karma memegang pergelangan tangan ai yang berusaha kabur. "kenapa sih pikiranmu tentangku negative terus? Aku tidak akan melakukan yang 'aneh aneh' padamu!" ucap karma dengan nada yang agak kesal. "tuh juga, lihat, sudah hujan."

Ai kicep. "e-hehe, gomen gomen. Kan orang harus waspada,"

"itu curiga berlebihan namanya."

Ai duduk disofa marun ruang tamu rumah karma. Sementara itu karma mengambil kompres dan kotak first aid.

Ai menatap ruangan disekitarnya. Terdapat beberapa bingkai foto dimeja dan dinding. Ai mengamati secara intens satu persatu foto yang dibingkai. Ia beranjak dari sofa dan berjalan medekati bingkai foto satu persatu. Sesekali ai tertawa tertahan ketika melihat foto foto karma waktu kecil- kawaii, batin ai.

Mata ai tertuju pada foto yang dibingkai paling besar- dan dipajang diatas dinding dekat pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang dalam. Difoto itu terlihat karma dan kedua orang tuanya dengan pakaian formal- dan senyuman hangat menghiasi wajah mereka.

Ai menatap foto itu sayu, sesekali ia mendesah pelan. Deru nafasnya melambat dan merendah. Bersamaan dengan itu karma masuk ke ruang tamu.

"kok jalan jalan? Kaki mu udah baikan?" ucap karma sembari meletakan baskom dan kotak first aid diatas meja.

"ah, tidak sesakit tadi, aku hanya berdiri kok, ngga jalan jalan." Bantah ai sambil kembali duduk. Karma duduk disebelah ai dan meletakan kaki kiri ai di pangkuannya.

"akan sedikit sakit. Tahan." Ucapnya dan mulai memijit kaki ai pelan.

"aw! Karma bisa kau pelankan sedi-aw!"

"ini sudah sepelan yang kubisa," balas karma. "masih sakit?" karma mengompres kaki ai dengan air hangat.

Ai menggerakan kakinya. "mendingan. Arigato." Lalu Karma men-taping kaki ai.

"yosh, sudah selesai." Ai bangkit dari sofa dan menggerak gerakan kakinya. "arigato karma-kun."

"doita." Ia merapihkan kotak first aidnya. Ai berjalan menuju jendela.

"mouu hujannya deras sekali," ucapnya pelan. "oh iya karma-kun, memangnya orangtuamu kemana? Kerja?"

"hm,"

"pulang malam?"

"mereka sedang ada di London sekarang. Pulangnya masih lama, satu atau dua minggu lagi,"

"ooh, jadi setiap hari kau sendiri?" karma mengangguk. "sugoi, tidak takut?"

Karma menoleh kea rah ai. "maksudmu hantu?"

Glek. "ya- ya seperti itu lah, kalo ada perampok juga bagaimana?"

Karma mengerucutkan bibirnya dan berfikir. "perampok, yaa perampok, oh!" ia mengepalkan tangan kanannya dan meninjukannya pelan ketangan kirinya. Ia mengeluarkan sebuah foto.

"nih lihat fotoku bersama seorang perampok, keren kan? Tingal hush hush juga selesai kok." Ucapnya. Ai dapat melihat sepasang tanduk diatas kepala karma.

"I see," balas ai. "lalu, kalau makan bagaimana? Kau bisa masak?"

"um, sedikit sih. Lebih sering makanan dari konbini atau instan."

"itu tidak sehat,"

"mau bagaimana lagi?"

Ai mendekap dan mengusap kedua lengannya. "bagaimana kalau hari ini aku membuatkan makan malam untuk mu? Ada bahan makanan 'kan di kulkas mu?"

Karma menyiritkan dahinya. "memangnya gadis assassin seperti mu bisa memasak?"

Ai mengerucutkan bibirnya. "begini-begini, sekali cewek, ya tetap cewek lah! Tentu saja aku bisa masak, piece-of-cake!"

"oke, coba sana gih kau masak,"

Ai menyunggingkan senyumnya. "challenge accepted!"


TBC


Hola minna, ada yang kangen? *dilempar ke afrika* YESS GAJADI SEMINGGU SEKALI, TAPI JADI SUKA SUKA NYANE *dibuang ke planet*

Ada sedikit A/n nih~

[1] BAH. Ucapa karma yang ini, author ikutin ucapannya kou waktu mau gendong futaba gara gara dia kepeleset disungai. Ada yang tau?~ 'w'

Dichapter sebelumnya, ai kan kehutan waktu istirahat terus ketemu karma. Pas ketemu karma dia bilang "terimakasih atas bantuannya di kelas gym tadi pagi", maksudnya: cara ai yang nempelin pisau s.a.a.u.s.o. yang dipotong kecil kecil- terus ditempelin kedaun itu mirip ide karma kan? Bedanya karma ditempelin di tangan, bukan daun. Jadi ai dapet ide kayak gitu karena pagi pagi bukannya masuk kekelas malah kedalam hutan.

Sebelum ai masuk ke kunugigaoka, dia udah baca semua data tentang murid murid kelas E. Ai sengaja masuk kedalam hutan buat ketemu sama karma. Dia juga tau kalo yang berhasil ngelukain koro-sensei baru 3 orang (kar, rit,ito)

Terus juga Karena author mabok,: "both of my parents is japans. Nahlo, itu kan salah, harusnya pake are kan bukan is? Maafkan kemabokan author. Semoga aja ngga ada yang sadar/plak. tapi udah author edit kok '3' baru aja diedit.

Segini aja cicicuit author. Many thank I deliverd to you yang sudah membaca multific aneh ini sampe ke a/n-nya segala. Arigato gozaimasu! *bow* *bow*

satu lagi, Minal aidhin walfaizin minna-san! maafkan kesalahan author ne? mohon bimbingannya~ *bow 90 degrees*

Saa, review?