Title : 만질 수가 없다 (Untouchable)

Pairing : Chanyeol X Kyungsoo

Genre : Comfort/Hurt, Romance

Rating : M

Disclaimer : Chanyeol & D.O belong to SM Entertainment, but THE STORY IS BELONG TO ME! No plagiat!

Summary : Aku mungkin bisa menyentuh tubuhmu, tapi aku tidak yakin bisa menyentuh hatimu—Chanyeol [CHANSOO], [Slight!KAISOO] GS! DLDR!

WARNING! TYPOS BERTEBARAN, CERITA PASARAN, OOC.

GET AWAY IF U DON'T LIKE IT! YOU'VE BEEN WARNED!

NO BASH! NO FLAME!

ALL POV IS AUTHOR POV!

.

.

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

.

.

"Ada apa denganku…? Apa aku sedang PMS?" Kyungsoo bertanya pada dirinya sendiri.

Ia kini sudah masuk dalam ruangan pribadinya dan mengunci pintu. Ia mencoba mengambil nafas untuk merilekskan tubuhnya. Beberapa hari ini dia merasa konsentrasinya sering buyar dan tubuhnya terasa sangat ringkih hingga hampir pingsan berkali-kali. Ia juga tidal tahu kenapa ia bisa selemah itu. Ia sudah berusaha tegar menghadapi masalahnya. Hidupnya memang sudah menyedihkan sejak ia kecil, jadi tak ada alasan untuk terus terpuruk meski pada kenyataannya ia sangat sulit melupakan Jongin yang merupakan salah satu hal yang paling ia sukai di dunia ini.

Lama berkutat dengan pikirannya, kini matanya tertuju pada kalender yang tergantung di dinding ruangannya itu. Ia mendekati kalender itu dan menelitinya. Ia ingat sekali bahwa ia menulis tanggal terakhir menstruasinya di kalender ini.

"Apa aku sudah 2 bulan tidak menulis lagi? Kenapa bisa lupa?" lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri.

Kyungsoo mengambil sebuah spidol merah untuk menulis di kalender itu. Ia berpikir sejenak.

"Tanggal ini aku berhenti, lalu aku menstruasi lagi tanggal… Ah, aku lupa… Tanggal berapa ya?"

Pikirannya mulai mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menstruasi. Dan sebuah ingatan muncul di kepalanya.

"Aku belum menstruasi lagi sejak ini." Matanya membulat

"Andwae! Tidak. Itu tidak mungkin!" Kyungsoo menggelengkan kepalanya

Ia langsung mengambel coatnya dan keluar dari ruangannya. Tujuannya saat ini adalah apotek.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin membuka matanya pelan. Ia sadar kalau hari sudah begitu siang karena matahari sudah tinggi dan Jongin merasa cahaya matahari sangat mengganggu tidurnya. Ia menggeliatkan badannya sebentar lalu mencoba untuk duduk. Dan kini ia sadar bahwa ia berada di sebuah kamar asing.

"Kau sudah bangun, pemalas?" seorang namja bertubuh kecil menyilangkan tangannya di dada di depan pintu ruangan itu sambil menatapnya dengan tatapan datar

"Kau siapa?" tanyanya dengan nada malas

"Tidakkahkau merasa berterimakasih karena aku tidak membuangmu di jalan saat kau mabuk tadi malam?" sosok kecil itu masih tak bergeming dan terus berdiri di tempatnya

"Apa maksudmu?" wajah Jongin mengkerut saat mencium aroma tubuhnya yang sangat memabukan karena bau alkohol

Jongin mencoba untuk tidak muntah saat menghirup aroma tubuhnya sendiri. Ia kini baru sadar kalau sejak tadi ia topless. Tak jauh dari tempat tidur, baju yang semalam ia pakai teronggok begitu saja di lantai. Jongin menatap tajam namja bermata bulat yang dengan maksud meminta penjelasan atas bajunya.

"Mwoya? Kau membukanya sendiri dan striptis selama 2 menit di depanku tadi malam." Seru namja itu dengan nada kesal

"Jeongmal?" kini kewarasan Jongin sudah mulai kembali

"Apa aku terlihat seperti penipu?"

"Mungkin saja…" jawab Jongin tak acuh sambil memunguti bajunya

PLUK!

"Bersihkan tubuhmu! Kau sangat bau!" namja itu melemperkan sebuah handuk berwarna abu-abu dan langsung menutup hidungnya

"Arasseo arasseo!"

.

.

.

.

.

.

Kini Jongin sudah memakan bajunya dengan lengkap dan rapi. Ia melirik sebotol parfum di atas meja rias yang ada di kamar itu. Dengan gerakan cepat, ia segera menyemprotkan parfum itu ke tubuhnya. Jongin tersenyum puas lalu keluar dari kamar.

"Kau sudah selesai?" sosok namja bertubuh mungil itu terlihat sedang sibuk di meja makan

"Ne.." Jongin menganggukan kepalanya cepat

"YA! Kau memakai parfukm kesayanganku!" namja itu mengendus tubuh Jongin dan menghirup parfum kesayangannya

"Kau lebih memilih muntah karena bajuku bau atau parfummu berkurang?" Jongin mendesah

"Kalau bisa, aku tidak mau memilih." Namja itu tersenyum, namun hanya dibalasan wajah malas Jongin. Sesaat kemudian, pandangan Jongin berubah saat menatap meja makan.

"Apa yang kau buat? Spaghetti?" Jongin melebarkan matanya dan langsung duduk manis

"Ja! Meokgora…" namja itu menyodorkan sepiring spaghetti yang masih hangat kepada Jongin

"Gomawo!" mata Jongin berbinar

Jongin makan dengan lahap sampai-sampai bibirnya belepotan penuh saus.

"YA! Sebenarnya kau sudah berapa hari tidak makan? Makan spaghetti saja rakus begitu." Ejek namja itu sambil menyodorkan sehelai tissue pada Jongin.

"Hahaha! Aku hanya sudah lama tidak lama makan makanan seenak ini! Apa kau membuatnya sendiri?" tanya Jongin sambil membersihkan sekitar bibirnya yang kotor

"Tentu saja."

Keduanya berbincang-bincang panjang lebar. Seringkali Jongin tertawa mendengar jawaban-jawaban lucu nan polos dari bibir namja yang ada dihadapannya. Jongin terlihat sangat berbeda. Ia sampai lupa bahwa pertunanngannya baru saja batal karena terlalu asyik berbicara dengan namja yang baru ia kenal ini. Ia benar-benar lupa akan kesedihannya

"Ah, aku sampai lupa… Park Jongin-imnida." Jongin memperkenalkan dirinya sambil tersenyum menawan

"Jamkkan. Kenapa kau begitu bodoh, Jongin-ssi? Kau adalah artis yang sering muncul di TV dan majalah, tentu saja aku tahu dirimu."

"Oh, geugeoeyo? Hahahaha… Kalau begitu perkenalkan dirimu." Kata Jongin

"Joneun Choi Dio-imnida…" ucap namja bernama Dio itu sambil tersenyum

"Ahh… Senang bertemu denganmu, Dio-ssi." Jongin terkekeh

"Naddo."

"Dan terima kasih atas pertolonganmu semalam. Aku senang bertemu dengan orang sepertimu. Kau orang yang menyenangkan, ternyata." Ucap Jongin tulus

"Ne, aku juga senang karena bisa membantu seorang artis sepertimu."

Jongin terdiam menatap senyuman lebar di wajah Dio. Untuk pertama kalinya di hari ini, dia teringat kembali akan Kyungsoo, mantan kekasihnya. Wajahnya langsung memurung seketika.

"Wae?" tanya Dio menyadari perubahan air muka Jongin

"Ani." Jawab Jongin cepat

"Kau ada masalah, ne? Apa karena pertunanganmu yang batal itu?" tanya Dio dengan polosnya

"…" Jongin hanya diam dan hanyut dalam lamunannya

"Jongin-ssi! Apa kau ingat kalau semalam kau menciumku di klub?" lagi-lagi namja kecil itu bertanya dengan sangat polos

"…Eh?"

"Ne. Kau menciumku." Dio menganggukan kepalanya berkali-kali

"MWOYA? B—bagaimana bisa a—aku… Aku mencium namja! OMONA!" Jongin langsung memegangi bibirnya

"Kau boleh melampiaskan sakit hatimu kepadaku karena pertunanganmu batal, tapi tidak dengan menciumku! I baboya!" Dio memukul kepala Jongin pelan

"Siapa juga yang mau menciummu! Itu karena aku tidak sadar!" elak Jongin

"Kenapa kau jadi marah-marah padaku?!" Dio mendengus

"Arasseo, aku akan pulang!" kini Jongin berdiri dengan angkuh, lalu mencari pintu keluar

"YAISH! Apa yang salah dengan orang itu? Apa dia bipolar? YA! Mwohaneun geoya? Itu pintu ruang kerjaku! Pintu keluar di sebelah kiri!" teriak Dio ketika Kai membuka pintu ruang kerjanya dengan tidak bersalah

"Kau tidak bilang daritadi!" jawab Jongin sekenanya

"ANNYEONG!" seru Jongin nyaring tepat sebelum pintu ia tutup

BLAM!

"Hah. Jinjja…" Dio menggelengkan kepalanya heran dengan sikap Jongin

"Babo saramiya… Bahkan handphonenya ditinggal begitu saja…" Dio menatap handphone Jongin yang tergeletak di atas meja.

.

.

.

.

.

.

Kini Kyungsoo sudah kembali dari apotik sambil membawa sekantong plastik berisi sebuah testpack paling akurat—menurut si apoteker. Kyungsoo langsung masuk ke dalam ruangan pribadinya. Ia terpaku sejenak. Di otaknya tiba-tiba terlintas sebuah bayangan apabila dia benar-benar hamil. Hanya dengan membayangkan hal itu, kini ia jadi mual. Ia segera menggeleng kepalanya kuat, lalu keluar dari ruangannya dengan membawa testpack yang sudah ia telanjangi dari kotaknya.

Setelah mencelupkan testpack itu ke sample urine-nya, Kyungsoo langsung keluar dari toilet. Dengan penuh kewaspadaan, ia segera kembali ke ruangannya dan langsung mengunci pintu. Ia sama sekali tidak berani melihat hasil testpacknya dan memilih untuk menenangkan diri dulu di ruangannya. Ia Namun sayangnya ia tidak sadar kalau ada orang yang telah masuk ke dalam ruangan pribadinya.

"Kyungsoo-ya, bisakah kau menjelaskan ini?" orang itu mengangkat kotak testpack kosong yang tadi Kyungsoo letakan di atas mejanya.

"Yixing eonnie! A—andwae!" Kyungsoo segera merampas kotak itu dari tangan Yixing tanpa menyadari bahwa testpack yang ia pegang kini terjatuh ke lantai

PLUK!

"Bisa ka—… Ige mwoya?! IGE MWOYA?!" Yixing segera mengambil testpack itu dan menatapnya dengan ekspresi terkejut

Dua garis.

Ada dua garis di parameternya.

"Kyungsoo, kau hamil." ucap Yixing dengan mulut menganga lebar seolah rahangnya jatuh ke bawah

"AAAA! Eonnie! Andwae!" Kyungsoo langsung merebut testpack itu

Kyungsoo masih terlalu panik karena ia sesungguhnya tidak ingin Yixing tahu apa yang ia lakukan saat ini. Ia bahkan tidak benar-benar perkataan Yixing barusan. Seketika mata bulatnya membesar. Positif. Hasilnya positif. Dan Kyungsoo rasa hidupnya berakhir setelah ini. Ia bahkan tak sanggup mengatakan apapun. Ia terlalu shock.

"Kyung…" panggil Yixing pelan

"…" Kyungsoo masih shock atas hasil testpack tersebut

"Ini tidak bisa dibiarkan! Kaja!" Yixing langsung menarik tangan Kyungsoo yang masih menggenggam testpack

Kyungsoo sama sekali tak bisa berpikir dan hanya menurut pada Yixing yang menyeretnya entah kemana.

.

.

.

.

.

Chanyeol duduk dengan perasaan tak menentu. Hari ini ia menyempatkan diri untuk makan siang di café milik Kyungsoo meskipun pekerjaannya begitu banyak dan menumpuk. Ia menghela napasnya, berharap agar hari ini Kyungsoo mau berbicara dengannya dan menerima permintaan maaf darinya. Ia sudah berada di café ini selama 10 menit dan telah memesan makan siang, namun perasaannya masih tak menentu.

Tiba-tiba Yixing datang menghampirinya sambil menarik tangan Kyungsoo. Chanyeol mengedipkan matanya berkali-kali karena bingung.

"YA! Dasar namja brengsek!" seru Yixing

"Eonnie…" Kyungsoo mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Yixing, namun Yixing malah mengeratkan genggamannya.

"YA! Lihat apa yang kau perbuat pada dongsaengku!"

Dengan kasar Yixing merebut testpack yang dipegang Kyungsoo lalu melemparkannya kepada Chanyeol. Seluruh pengunjung café langsung menatap mereka bertiga dengan pandangan bingung.

"….?" Chanyeol membulatkan matanya sambil memegang testpack itu dengan tangan bergetar karena begitu gugup.

"Kyungso hamil dan kau harus bertanggungjawab!" Yixing memberi deathglare pada Chanyeol

"I—ige…." Chanyeol kini terdiam karena shock

"Eonnie! Kau tidak perlu seperti ini! Hiks! A—aku… Aku… Hiks!" tiba-tiba Kyungsoo menangis dan langsung meninggalkan Yixing dan Chanyeol

"Kyungsoo-ya!" Yixing langsung mengejar Kyungsoo

"…" Chanyeol segera menyusul Yixing

Kyungsoo masuk ke dalam ruangannya. Yixing segera masuk ke dalamnya diikuti Chanyeol. Yeoja itu kini menangis sambil membelakangi Yixing dan Chanyeol. Seluruh tubuhnya bergetar, membuat siapapun yang melihatnya menjadi iba dan berniat untuk memeluk tubuh mungilnya yang rapuh. Kyungsoo merosot ke bawah dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk lututnya.

"Kenapa ini semua terjadi padaku…? Hiks… Aku lelah…"

"Kyungsoo-ya.." ucap Chanyeol dengan suara beratnya

"Hiks! Kenapa harus seperti ini..?"

"Kyungie…" Yixing mulai mendekati Kyungsoo

"Jangan mendekat!" seru Kyungsoo

"Kyung…"

"Pergi kalian! Pergi! Hiks… Jongin…"

Tiba-tiba tubuh Kyungsoo melemah dan langsung tergeletak di lantai.

"KYUNGSOO!"

.

.

.

.

.

.

[HOSPITAL]

"Istri anda sepertinya sedang kelelahan dan tertekan. Usahakan agar istri anda tidak stress dan tertekan karena akan mempengaruhi bayinya. Untuk itu biarkan istri anda menginap disini hingga besok pagi." Kata dokter yang menangani Kyungsoo usai memeriksa keadaan yeoja yang masih belum sadarkan diri itu dengan stetoskop

"Ne. Kamsahamnida uisanim." Chanyeol membungkukan badannya dengan sopan

"Kalau begitu saya permisi dulu. Annyeonghaseumnida." Pamit sang dokter

Setelah itu, ruang inap Kyungsoo diliputi keheningan. Yixing duduk di samping Kyungsoo, sedangkan Chanyeol masih betah berdiri tak jauh dari ranjang Kyungsoo.

"Kyungie-ya… Kenapa kau begitu malang…? Kau harus kehilangan orangtuamu di usia yang sangat muda. Punya trauma langka, pertunangan yang gagal dan sekarang… Hhh… Fighting, ne? Eonnie yakin suatu saat kau akan mendapatkan kebahagiaanmu." Yixing tersenyum lembut sambil mengelus dahi Kyungsoo.

"Yixing-ssi.." panggil Chanyeol

"Mwo?" raut wajah Yixing langsung berubah kesal saat menjawab panggilan Chanyeol

"Tentang masalah ini… Na…"

"Tak ada yang perlu kau katakan padaku. Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakanlah pada Kyungsoo atau orangtuamu. Pasti Kyungsoo akan sangat sulit menerima kenyataan ini. Buktikan kalau kau adalah lelaki sejati dengan membuat Kyungsoo bisa melewati ini semua. Dia butuh sandaran, arasseo? Jongin sudah menjadi sandaran dan orang yang sangat ia cintai sejak lama, tapi kau telah menghancurkannya. Kuharap kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah kau perbuat. Na kanda." Yixing tersenyum kecut pada Chanyeol lalu meninggalkan ruang inap Kyungsoo.

Chanyeol terpaku. Ia sangat mempercayai Yixing karena Yixing telah bertahun-tahun mengenal Kyungsoo, bahkan sebelum yeoja itu bertemu dengan Jongin. Chanyeol bingung bagaimana perasaannya saat ini. Ia senang sekaligus sedih. Ia senang karena ternyata ia dapat membuat bayi dalam satu kali percobaan dan akan segera punya bayi. Itu terdengar menyenangkan karena sesungguhnya Chanyeol sangat menyukai anak-anak. Namun di sisi lain, ia juga sedih karena ia telah membuat Kyungsoo—ibu bayinya—menderita. Ia sama sekali tidak menginginkan Kyungsoo menderita karena dirinya. Ia menyesal. Sangat menyesal.

Chanyeol melangkah mendekati Kyungsoo yang kini tertidur di ranjang rawatnya. Ia menatap perut Kyungsoo yang masih datar.

"Aegiya… Appa mianhae… Appa jeongmal nappeun neom." Lirihnya pelan

.

.

.

.

.

.

.

#FLASHBACK

#13 YEARS AGO

Kyungsoo tersenyum riang. Ia memegang ranselnya dengan erat sambil bersenandung. Ia begitu bersemangat karena ia akan pergi ke toko buku bersama sahabatnya, Tao, sepulang sekolah ini. Ia mempercepat langkah kakinya karena tak sabar untuk sampai di rumah dan segera pergi bersama Tao. Ia saat itu masih tinggal di Goyang dan masih duduk di tahun pertama sekolah menengah. Kyungsoo terlalu senang hingga hampir berlari menuju rumahnya,

Namun tiba-tiba sekelompok namja berseragam SMA menghadang jalannya. Kyungsoo terperanjat dan langsung menoleh ke kiri dan kanan dan ia tidak menemukan siapapun di sekitarnya. Tempat ini begitu sepi. Gerombolan beranggota 8 orang itu mendekati Kyungsoo dan menyeringai kepadanya.

"Hei cantik…" sapa satu orang dari gerombolan itu

"…" Kyungsoo menundukan kepalanya karena ketakutan

"Kenapa kau menundukan wajah cantikmu itu?" satu orang lainnya menghampiri Kyungsoo dan mencoba mengangkat dagu Kyungsoo agar berhenti menunduk

"Aigoo, lihat wajahnya ini… Menggemaskan sekali…" salah seorang lagi mencubit pipi Kyungsoo gemas

"A—apa yang kalian lakukan?" Kyungsoo mencoba untuk kabur, namun tangannya ditahan oleh satu orang dengan badan paling besar

"Jangan langsung pulang begitu, manis. Ayo kita main-main dulu."

"Hiks! Andwae!" Kyungsoo mencoba melawan, namun apalah dayanya melawan 8 namja dengan badan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Kyungsoo disentuh, digerayangi, dan dilecehkan. Kyungsoo berontak, namun mulutnya di sumpal dengan kaos kaki bekas dari salah satu anak gerombolan itu. Tubuhnya dipegang erat-erat dan dibawa ke dalam sebuah gang buntu yang sempit.

Tak ada seinchi pun kulit Kyungsoo yang tidak terjamah oleh namja-namja binal tersebut. Kyungsoo kini hanya mampu menangis. Mereka mengelus paha Kyungsoo dan dengan perlahan mulai melucuti seragam Kyungsoo. Dadanya yang baru tumbuh diremas kasar secara bergantian oleh ke delapan namja itu. Kyungsoo hampir telanjang bulat ketika seseorang memergoki kejadian tersebut.

"YAK! Apa yang kalian lakukan?!" hardik seorang namja paruh baya bersama beberapa orang wanita dan polisi.

Kyungsoo bersyukur karena ia tidak sampai diperkosa beramai-ramai oleh namja-namja tadi, namun tubuhnya terus bergetar dan menggigil ketakutan. Kyungsoo sungguh takut. Ia menolak semua sentuhan dari orang-orang yang menolongnya dan terus berteriak.

"Gwaehchanhayo?" seorang namja menghampirinya dan mencoba menolongnya

"Hiks. Jangan mendekat!" bentak Kyungsoo sambil memeluk seragamnya yang tadi terlepas

"Jangan takut, nak. Kami tidak bermaksud jahat." Namja yang lain mencoba membantunya berdiri

"AAAAARRGGHHH! KAA!" Kyungsoo mengamuk sambil terus menangis. Tubuhnya bergetar hebat.

"Eottheokkae? Anak ini sangat ketakutan."

"Pakailah ini, nak." Seorang yeoja memberikan sebuah selimut pada Kyungsoo dan mencoba membantu Kyungsoo berdiri

"ANDWAE! JANGAN SENTUH AKU!" Kyungsoo menggunakan selimut itu untuk menutupi tubuhnya dengan tangan bergetar. Ia menangis dan terus menolak di sentuh oleh orang-orang yang menolongnya hingga sebuah mobil polisi datang untuk membawanya pulang.

.

.

.

.

.

Setelah kejadian itu, ke-8 namja yang mengganggunya dijebloskan dipenjara selama beberapa saat karena terbutkti melakukan pelecehan seksual kepada anak di bawah umur. Namun mereka rupanya memendam dendam dan beberapa kali mencoba untuk meneror Kyungsoo hingga Kyungsoo mengalami depresi berat dan mengidap trauma akan sentuhan akut.

Orangtuanya pun memutuskan untuk pindah ke Seoul dan menjalani terapi untuk Kyungsoo agar putri semata wayang mereka segera sembuh dari traumanya. Namun baru beberapa bulan di Seoul, kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan hingga Kyungsoo harus menghentikan terapinya karena tidak memiliki uang. Kehidupannya hanya ditunjang dari warisan dan asuransi kedua orangtuanya dan hanya cukup untuk biasa sekolah dan makan sehari-harinya. Ketika ia kelas 2 SMA, ia menjual rumah warisan orangtuanya dan membeli sebuah apartemen kecil, tempat tinggalnya hingga saat ini.

#FLASHBACK OFF

.

.

.

.

.

.

.

[HOSPITAL]

"Emmhh.." Kyungsoo akhirnya bangun dari tidurnya

Ia cukup terkejut melihat Chanyeol terlelap di sampingnya sambil menggenggam tangan kanannya. Perlahan ditariknya tangan kanannya. Jujur saja, rasanya begitu berbeda. Tidak seperti ketika Jongin menyentuhnya, sentuhan Chanyeol terasa lebih dapat ditolerir oleh tubuhnya. Hal ini sangat aneh karena biasanya ia akan sangat panik ketika seseorang menggenggamnya atau menyentuhnya.

"Kyung..? Kau sudah bangun?" tanya Chanyeol dengan nada khawatir

"Ne… Kenapa kau masih disini?" tanya Kyungsoo ketus sambil memalingkan wajahnya ke samping

"Kata dokter kau harus bedrest satu hari disini. Jadi, aku akan menemanimu sampai besok." Jawab Chanyeol

"Bedrest?"

"Ne. Kau kelelahan, jadi dokter menyuruhmu bedrest."

"Kau tidak perlu menemaniku. Pulanglah." Ucap Kyungsoo sambil menahan tangis. Ia kini teringat kembali dengan keadaannya saat ini. Sungguh, ia masih belum percaya bahwa saat ini ia sedang mengandung anak Chanyeol.

"Ani. Aku akan tetap disini." Kata Chanyeol tegas

"Aku tidak mau ditemani olehmu. Aku lebih suka sendirian. Kau pulang saja." Usir Kyungsoo lagi

"Kyungsoo! Aku tidak bisa membiarkanmu dan aegi sendirian disini."

"Mwo? Ae—aegi..?" Kyungsoo menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca

"Ne, uri aegi." Ucap Chanyeol

"Hiks…" Kyungsoo kini malah menangis sambil berbaring membelakangi Chanyeol

"Kyungsoo-ya…"

"Hiks… Mibdago!" ucapnya pada Chanyeol sambil memukuli perutnya

"Kyungsoo, kau tidak boleh seperti ini. Kau bisa menyakiti aegi." Chanyeol mencoba menahan Kyungsoo agar tidak memukuli perutnya

"Biarkan saja! Biarkan! Aku tidak mau ada dia di dalam sini!" Kyungsoo masih terus memukul perutnya meskipun berhasil ditahan oleh Chanyeol

"Kyungsoo-ya! Ireojima! Kau bisa melakukan apapun padaku, tapi jangan seperti ini pada aegi!" ucap Chanyeol dengan volume cukup keras

Kini Kyungsoo akhirnya berhenti. Kini ia hanya menangis tanpa suara. Ia merasa menyesal karena telah menyalahkan bayi yang ia kandung.

"Jangan lakukan hal seperti ini lagi, Kyungsoo-ya… Kalau terjadi apa-apa padamu atau pada aegi, aku… Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku." Kata Chanyeol sambil menatap punggung Kyungsoo dengan tatapan sendu.

Setelah itu keduanya hening sampai seorang perawat membawa makanan untuk Kyungsoo. Awalnya Kyungsoo sama sekali tidak mau makan, namun setelah dibujuk Chanyeol, akhirnya yeoja itu mau juga makan dengan disuapi Chanyeol. Chanyeol bersyukur karena Kyungsoo sudah tidak menolaknya lagi. Ia memutuskan untuk tetap di rumah sakit sampai Kyungsoo pulang besok siang.

Ketika malam mulai larut, Chanyeol memutuskan untuk tidur di kursi yang ada di samping Kyungsoo. Kamar Kyungsoo adalah kamar kelas 2 yang memiliki 2 ranjang pasien dan tidak memiliki tempat tidur atau sofa untuk keluarga pasien yang menjaga. Kamar VIP, VVIP dan kelas 1 yang Chanyeol pesan sedang penuh sehingga Kyungsoo harus tinggal di ruangan ini. Kyungsoo kasihan pada Chanyeol dan menyuruh namja itu tidur di sampingnya agar badannya tidak sakit dan Chanyeol pun langsung menurut. Jujur saja, ia sangat lelah hari ini.

Kyungsoo tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya karena ia tak berkutik dan jantungnya berdetak sangat kencang ketika namja bertubuh semampai itu ikut berbaring di sampingnya hingga pagi menjelang.

.

.

.

.

.

.

#NEXT DAY

Eunhee mencoba menelpon Kyungsoo karena ia sudah tidak tahan lagi. Ia sangat merindukan mantan calon menantunya itu. Setidaknya ia ingin mendengar suara Kyungsoo, atau kalau bisa bertemu dengan yeoja itu. Meskipun Kyungsoo sudah bukan

"Yeoboseyo Kyungsoo-ya?" Eunhee tersenyum penuh syukur karena pada akhirnya teleponnya diangkat

"Yeoboseyo ahjumma, ini Yixing. HP Kyungsoo tertinggal di café dan sekarang ia sedang berada di rumah sakit." Jawab Yixing

"Ne? Rumah sakit? Kyungsoo sakit apa?" tanya Eunhee khawatir

"Sesuatu telah terjadi ahjumma. Sebaiknya ahjumma datang saja ke rumah sakit. Aku akan memberikan alamatnya pada ahjumma lewat SMS." Ucap Yixing

"Ne… Jeongmal gomawoyo, ne?"

"Ne. Annyeonghaseyo ahjumma." Tutup Yixing

Eunhee segera mematikan sambungan telepon mereka. Ia langsung bersiap-siap menuju rumah sakit sesaat setelah Yixing mengirimkan alamatnya.

"Yeobo, kau mau kemana?" tanya Yoochun ketika melihat istrinya itu sedang menyibukan diri untuk pergi ke suatu tempat

"Aku akan ke rumah sakit. Kyungsoo sakit. Aku merindukannya." Ucap Eunhee dengan senyum lirih

"Ne, aku akan ikut. Aku juga rindu pada anak itu."

.

.

.

.

.

.

Eunhee dan Yoochun memastikan kamar yang ia masuki adalah benar-benar kamar Kyungsoo.

"I—ige mwoya…?"

Eunhee dan Yoochun menatap tak percaya ke sebuah ranjang rawat yang diisi oleh Kyungsoo dan Chanyeol dengan posisi Chanyeol memeluk Kyungsoo.

.

.

.

.

.

.

.

TBC~!

OK, fix gw gk bisa meninggalkan Kaisoo barang sedikitpun dan akhirnya terciptalah kaisoo di ff chansoo ini.

Yang gak suka bisa leave, tapi kasih warning ya kalau gak mau baca lagi…

Sungguh, pokoknya ff ini jadinya GS campur YAOI gtu, ampuni gw yang seorang fujoshi akut.

Kebanyakan pengen Kai sama Sehun dan gw gak ada feel buat KaiHun, adanya feel buat HunKai *smirk*.

Yah pokoknya author lagi bener-bener gk bisa ninggalin Kaisoo.

Salahin aja momen mereka yang bertebaran dimana-mana akhir-akhir ini.

Yeaah EXO comeback!

Yeaah EXO udah Win!

Yeaah EXO udah 3 thn!

#telat

Pokoknya the best lah buat EXO…

Dan buat yang nge bash…

Aku agak bingung sih, perasaan aku udah kasih warning di atas dengan bold dan italic, tapi masih aja di bash..

Padahal udah di capslock juga -'

Kalo gak suka kan gak usah baca..

Yah, author mah selow aja sih ya…

Udah biasa soalnya

Maaf karena WB lagi2 menyerang, apalagi ini musim ujian.

Beuhh, tambah gak punya waktu…

Hehe..

Maaf ya updatenya jadi lama banget…

Chansoo feel sempet ilang gara2 chanbaek & kaisoo feel balik lagi…

Maaf juga kalau chapter ini banyak typo dan alurnya berantakan.

Selamat Paskah juga bagi yang merayakan

#lagilagitelat

AND THE BIGGEST THANKS BUAT SEMUA YANG UDAH REVIEW, FOLLOW & FAVORIT FF INI!

YOU'RE THE REAL MVP!

So, REVIEW YAAHH?