Title : 만질 수가 없다 (Untouchable)
Pairing : Chanyeol X Kyungsoo
Genre : Comfort/Hurt, Romance
Rating : M
Disclaimer : Chanyeol & D.O belong to SM Entertainment, but THE STORY IS BELONG TO ME! No plagiat!
Summary : Aku mungkin bisa menyentuh tubuhmu, tapi aku tidak yakin bisa menyentuh hatimu—Chanyeol [CHANSOO], [Slight!KAISOO] GS! YAOI! DLDR!
WARNING! TYPOS BERTEBARAN, CERITA PASARAN, OOC.
GET AWAY IF U DON'T LIKE IT! YOU'VE BEEN WARNED!
NO BASH! NO FLAME!
ALL POV IS AUTHOR POV!
.
.
.
.
.
ENJOY!
.
.
.
.
.
Eunhee dan Yoochun memastikan kamar yang ia masuki adalah benar-benar kamar Kyungsoo.
"I—ige mwoya…?"
Eunhee dan Yoochun menatap tak percaya ke sebuah ranjang rawat yang diisi oleh Kyungsoo dan Chanyeol dengan posisi Chanyeol memeluk Kyungsoo.
.
.
.
.
.
.
.
"Eommeonim.."
Kyungsoo tersentak ketika mendapati Eunhee dan Yoochun ada di ruang inapnya. Ia segera mengguncang tubuh Chanyeol yang masih terlelap di sampingnya dengan maksud membangunkan namja itu.
"Chanyeol! Kyungsoo! Bisakah kalian menjelaskan semua ini pada eomma?" seru Eunhee dengan tatapan penuh emosi
"Eomma…" Chanyeol kini baru benar-benar bangun dari tidurnya. Ia segera turun dari ranjang Kyungsoo dan menghampiri orangtuanya
"Appa dan eomma datang kesini untuk menjenguk Kyungsoo, tapi kenapa kau bisa ada disini? Memang Kyungsoo sakit apa, Chanyeol-ah?" tanya Yoochun dengan nada yang lebih tenang daripada Eunhee
"Appa.. Eomma.. Aku berjanji akan menjelaskannya setelah Kyungsoo keluar dari rumah sakit." Ucap Chanyeol dengan nada memelas
"Arasseo. Eomma tunggu di rumah." Kini Eunhee langsung berbalik dan meninggalkan mereka
"…" Yoochun tak mengucapkan apapun dan segera menyusul istrinya
Kyungsoo terpaku. Tubuhnya menegang. Ia ketakutan dan entah kenapa ia merasa sangat sedih dan langsung menangis. Ia sedih melihat Eunhee dan Yoochun yang sepertinya kecewa mendapati ia tidur bersama Chanyeol di ruangan ini.
"Hiks… Kenapa eommeonim bisa tahu aku disini?" Kyungsoo menitikan airmatanya yang tak mampu ia tahan. Ia jadi kesal sendiri karena ia merasa lebih sensitif saat ini.
"Molla… Aku sama sekali tidak memberitahu apa-apa padanya." Chanyeol ikut sedih menatap Eunhee yang tengah menangis, namun ia memilih untuk tidak melakukan apapun
"Bagaimana kalau eommeonim marah padaku? Hiks.."
"Tidak. Eommeonim tidak akan marah padamu, percaya padaku." Kata Chanyeol meyakinkan Kyungsoo
"…" Kyungsoo mencoba menghentikan tangisannya dan menghapus airmatanya dengan tissue yang ada di dekatnya
"Kyungsoo-ya, aku akan keluar sebentar. Mungkin sebentar lagi akan ada petugas yang mengantarkan makanan untuk sarapan. Kalau aku belum kembali, kau harus memakan sarapanmu. Jangan banyak bergerak dan kalau tidak mendesak jangan turun dari tempat tidur sampai aku datang. Tunggu aku dan jangan membuatku khawatir, arasseo?"
CUP!
"Uljima… Aku akan segera kembali." Ucap Chanyeol tepat setelah mengecup dahi Kyungsoo singkat. Tak lupa dihapusnya airmata yang masih membasahi pipi tembam Kyungsoo menggunakan ibu jarinya.
Chanyeol tersenyum lembut sebelum meninggalkan Kyungsoo untuk mengurus administrasi serta kepulangan Kyungsoo dari rumah sakit. Wajah Kyungsoo langsung memerah seperti udang rebus. Kyungsoo bersyukur karena Chanyeol tidak melihat wajahnya saat ini yang pastinya sangat memalukan.
Kyungsoo bahkan tidak sempat berpikir atau pun menolak sentuhan yang dilakukan Chanyeol. Ia sangat heran dengan dirinya sendiri karena ia tidak mampu berkutik saat Chanyeol menyentuhnya atau memberinya skinship. Perasaan itu begitu berbeda dari apa yang selalu ia rasakan ketika orang lain menyentuhnya—termasuk Jongin. Rasa ketakutan dari trauma berganti dengan rasa hangat di dada dan hatinya saat mendengar kata-kata manis dari Chanyeol. Jantungnya akan berdetak lebih cepat ketika Chanyeol menyentuhnya. Sensasi itu berbeda saat orang lain yang menyentuhnya. Tubuhnya akan menegang dan keringat dingin akan muncul diikuti dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat.
"Annyeonghaseyo… Saya mengantarkan makanan untuk anda, agasshi." Seorang petugas dengan tubuh cukup gemuk tersenyum ramah padanya
"Ne. Kamsahamnida." Kyungsoo membungkukan badannya singkat sambil membalas senyuman petugas itu
"Saya melihat suami anda sedang mengurus administrasi di bagian keuangan." Yeoja itu tersenyum sambil meletakan piring-piring berbagai ukuran di meja khusus yang menyatu dengan ranjang
"Darimana anda tahu..?" Kyungsoo ragu-ragu mengucapkan kata 'suami' dari bibirnya. Bahkan kini pipinya mulai memerah lagi karena malu.
"Semalam saya melihat suami anda sedang menyuapi anda, agasshi. Suami anda sangat tampan. Anda sangat beruntung memiliki suami yang tampan dan perhatian seperti itu." Ucap yeoja itu masih sibuk dengan sarapan Kyungsoo
"Ahaha…" Kyungsoo tertawa kikuk saat yeoja itu memuji Chanyeol. Ia memang mengakui kalau Chanyeol tampan. Tapi tetap Jonginlah yang paling tampan—menurutnya.
"Anda sedang hamil, ne? Chukhahamnida. Apa ini anak pertama?"
"…" Kyungsoo tak tahu harus menjawab apa dan hanya mengangguk pelan sambil tersenyum
"Ibu hamil sebaiknya banyak makan ikan dan sayuran agar aeginya sehat dan cerdas. Minyak ikan baik untuk pertumbuhan otak bayi." Kata petugas itu
"Ne." jawab Kyungsoo sekenanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
Untunglah Chanyeol segera datang membawakan sebuah kantong plastik yang Kyungsoo yakini adalah obat.
"Kyungsoo-ya.." Chanyeol langsung menghampiri Kyungsoo tanpa berusaha beramah-ramah dengan petugas tadi
"Aigoo… Pasangan yang sangat manis! Saya permisi dulu, agasshi. Annyeonghaseumnida." Petugas itu mendorong troli dan keluar dari ruan inap Kyungsoo
"Apa dia baru saja datang?" tanya Chanyeol
"Ne." jawab Kyungsoo sambil melirik sarapan yang ada di hadapannya dengan tatapan enggan
"Ja, ayo makan." Chanyeol melepaskan plastik pelindung makanan yang melingkupi piring-piring tadi dan mulai bersiap untuk menyuapi Kyungsoo
"Shireo!" tolak Kyungsoo saat Chanyeol mencoba menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya pada Kyungsoo
"Wae? Kau harus makan agar nanti tidak lemas." Bujuk Chanyeol
"Aku tidak suka baunya!" Kyungsoo menutup mulutnya karena tiba-tiba merasa mual
"Kyungsoo-ya…?"
"Mmmpph!"
Kyungsoo segera turun dari tempat tidur dan berjalan cepat ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Ia benar-benar mual setelah mencium aroma makanan tadi. Kyungsoo tidak pernah seperti ini sebelumnya. Chanyeol dengan sabar memijit tengkuk Kyungsoo hingga Kyungsoo selesai.
"Apa kau sering mengalami ini sebelumnya?" tanya Chanyeol yang akhirnya mengerti bahwa hal ini adalah bawaan Kyungsoo yang sedang hamil muda
"Ani. Baru hari ini aku begini." Kyungsoo sedikit menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol yang terlalu dekat
"Arasseo." Chanyeol seolah mengerti kode dari Kyungsoo yang merasa risih karena keduanya begitu dekat.
Chanyeol tetap membantu Kyungsoo kembali ke ranjang meskipun Kyungsoo terlihat risih dengannya.
"Lepaskan aku. Aku bukan orang sakit." Ucap Kyungsoo ketus
"Kau masih dalam masa bedrest, jadi harus bergerak pelan-pelan." Chanyeol tak mau kalah
"…" Kyungsoo tidak menjawab dan memilih untuk menuruti Chanyeol
"Jadi apa kau akan tetap makan atau tidak?" tanya Chanyeol
"…" Kyungsoo menggeleng sambil menutup hidung dan mulutnya agar tidak mencium aroma makanan tadi
"Baiklah. Kalau begitu kita bisa pulang dari sini dan membeli makanan di luar." Putus Chanyeol sepihak
"…" Kyungsoo menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar Chanyeol menjauhkan makanan tadi.
.
.
.
.
.
Kini Chanyeol dan Kyungsoo telah sampai di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah orangtua Chanyeol. Mereka memesan menu yang cukup banyak, dan 3 dari menu yang mereka pesan adalah pesanan Kyungsoo. Entah mengapa nafsu makan Kyungsoo membaik saat datang ke restoran ini. Chanyeol bersyukur karena pada akhirnya perut Kyungsoo terisi juga. Ia tak mungkin membiarkan Kyungsoo yang tengah mengandung memulai hari dengan keadaan perut kosong karena belum makan.
"Aku senang kau makan banyak. Setelah ini kita akan menemui orangtuaku." Ucap Chanyeol sambil tersenyum singkat, kemudian melanjutkan makannya
"…" Kyungsoo tak menanggapi dan terus makan.
"Geurigo… Mianhae."
"…?" Kyungsoo diam sambil menatap Chanyeol yang kini sedang menunduk dengan raut wajah penuh sesal
"Aku akan bertanggungjawab. Apapun yang terjadi, aku akan bertanggungjawab karena sudah membuatmu seperti ini." Ucap Chanyeol sungguh-sungguh
"…"
Kyungsoo tak menjawab. Ia diam sambil memikirkan perkataan Chanyeol. Jika Chanyeol bertanggungjawab, itu berarti mereka akan menikah dan Kyungsoo sangat tidak siap akan kenyataan itu. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam 3 bulan terakhir dan Kyungsoo masih berusaha keras untuk menata hatinya yang berantakan.
"Mungkin ini sangat berat untukmu, aku mengerti. Tapi kumohon, Kyungsoo-ya.. Aku tidak akan membiarkanmu menderita karena perbuatanku. Kumohon terimalah tanggungjawabku. Kau boleh membenciku semaumu tapi jangan pernah menolak untuk menikah denganku demi bayi kita." Tambah Chanyeol.
Kyungsoo menutup mulutnya rapat-rapat. Di dalam hatinya, ia membenarkan perkataan Chanyeol. Bayinya butuh appa dan Chanyeol adalah sosok namja yang dapat diandalkan. Kyungsoo mengangkat sudut bibirnya sedikit dan tersenyum. Setidaknya Chanyeol peduli dengannya dan bayinya.
.
.
.
.
.
.
"Appa, Eomma…. Ijinkan aku menikah dengan Kyungsoo…"
Chanyeol berlutut sambil memegangi telapak kaki kedua orangtuanya dan membungkuk dalam-dalam.
"Ch—Chanyeol…. K—kau…? Ada apa sebenarnya….? Eomma tidak mengerti!" Eunhee menatap Chanyeol dan Kyungsoo bergantian dengan tatapan tak mengerti
Kyungsoo hanya diam sambil meremas bajunya erat-erat. Ia tidak berani menatap apapun selain jari-jari kakinya. Ia terlalu takut. Ia juga sesungguhnya kasihan pada Chanyeol. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong namja itu.
"Eomma, Kyungsoo hamil. Anakku." Ucap Chanyeol dengan suara yang begitu pelan, bahkan Yoochun dan Eunhee nyaris tidak mendengarnya.
"MWO?!" jerit Eunhee tak percaya setelah meyakinkan dirinya bahwa kata 'hamil' adalah kata yang ia dengar dari mulut anak sulungnya itu.
"Kyungsoo-ya, apa itu benar…?" Yoochun bertanya dengan nada yang lebih tenang meskipun wajah Yoochun memerah seperti menahan amarah
"…." Kyungsoo hanya mengangguk pelan tanpa berani menatap Yoochun maupun Eunhee.
"…"
Eunhee terpaku. Kepalanya mendadak pening dan pikirannya melayang pada kejadian sekitar 2 bulan lalu dimana Jongin datang kepadanya dan berkata bahwa ia telah membatalkan pernikahannya dengan Kyungsoo.
"Apa ini yang membuat Jongin membatalkan pernikahannya?" tanya Eunhee dengan nada datar
"Ne, eomma. Eomma kumohon ijinkan aku…"
"Bagaimana eomma bisa setuju kalian menikah sedangkan adikmu terluka? Eomma kecewa padamu, Chanyeol-ah!" Eunhee langsung meninggalkan ruang tamu dengan berlinang air mata
"Yeobo!" Yoochun langsung mengejar Eunhee
"Eomma! Appa!" Chanyeol mengepal erat tangannya karena tak berdaya
Kyungsoo langsung terisak pelan. Ia sedih sekali karena semuanya jadi seperti ini. Ia menganggap semua ini adalah salahnya. Tiba-tiba Jongin datang dengan memberikan tatapan remeh kepada Kyungsoo dan Chanyeol.
"Jadi…"
"Kalian akan segera menikah?"
"Jongin…." Chanyeol segera berdiri dari posisinya semula
"Kuucapkan selamat kalau begitu." Jongin mendengus dan pergi begitu saja
"Jongin…!" seru Chanyeol
Jongin tak menghiraukan panggilan Chanyeol dan tetap melangkah hingga ia tak terlihat lagi dari pandangan Chanyeol. Kyungsoo mendadak lemas. Entah kenapa dadanya terasa sangat sesak. Tangisan Kyungsoo semakin kencang.
.
.
.
.
.
.
Jongin melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. Ia menjerit dan berkali-kali memukuli kemudinya. Sesungguhnya suasana hatinya sedang baik hari ini. Tapia pa yang baru saja dilihatnya telah merusak moodnya. Ia merogoh kantong celananya dan tidak mendapati handphone-nya. Jongin mulai panik. Seketika ia baru ingat bahwa ponselnya ia tinggal di rumah namja dengan tubuh kecil bernama Dio.
Kemarin ia meninggalkan apartemen namja itu dan melupakan ponselnya. Ia memang berencana mengambilnya kembali, namun bukan hari ini karena hari ini ia berencana untuk pulang ke rumah dan melepas rindu dengan orangtuanya. Dan sayangnya ia harus melihat sebuah drama memuakkan di rumahnya yang sukses membuat moodnya rusak hari ini. Ditambah lagi dengan, apa tadi…? Kyungsoo hamil…? Ok. Jongin rasa ia butuh piknik saat ini juga untuk mengalihkan niatnya yang besar agar segera menabrakan diri ke mobil lain yang berlawanan arah.
Tak lama kemudian Jongin sampai di apartemen Dio. Ia menekan bel 2 kali sebelum namja mungil itu membukakan pintu untuknya.
"Jongin-ssi!" seru Dio dengan nada senang
"Ne. Naya." Ucap Jongin dingin dan langsung masuk begitu saja tanpa peduli bahwa sang tuan rumah bahkan tidak menyuruhnya masuk.
"Wae geurae? Apa kau ada masalah lagi?" tanya Dio yang seolah tidak peduli dengan ketidaksopanan Jongin.
"Ya. Masalah yang semakin menyebalkan." Ucap Jongin masih dengan wajah menekuk.
Jongin duduk di depan TV yang tengah menyala dan dengan santainya ia memakan pop corn yang ada di hadapannya. Dio membiarkan Jongin bertingkah sesukanya. Dan ikut bergabung dengan Jongin di sofa hitam miliknya.
"Masalah yang semakin menyebalkan? Biar kutebak! Pasti tentang mantan kekasihmu, bukan?" tebak Dio dengan sangat tepat
"Ne. Kau benar…" Jongin menghela napasnya untuk menenangkan hatinya yang panas
"Ada apa lagi dengan yeoja itu?"
"Dio-ssi, bolehkah aku bercerita padamu? Apa kau keberatan mendengarkan masalah pribadi orang lain?" tanya Jongin
"Selama tidak ada hubungannya denganku, aku tidak masalah hanya menjadi tempat sampah. Ceritakan saja." Dio tersenyum lembut
"Aku mencintai seorang yang punya trauma tak lazim. Mantanku trauma akan sentuhan. Dia punya pengalaman buruk sehingga ia trauma seperti itu. Bayangkan apa yang kau rasakan kalau kau memiliki seorang kekasih, tapi tidak bisa menyentuh, memeluk dan menciumnya?" tanya Jongin
"Aku bisa gila. Lanjutkan." Jawab Dio antusias dengan cerita Jongin
"Aku sudah mencoba untuk bersabar. Hingga aku melamarnya dan kami memutuskan untuk segera menikah. Persiapan pernikahan kami hampir selesai saat masalah utama terjadi." Jongin menghentikan perkataannya untuk menarik napas sejenak. Hatinya masih sakit mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh chanyeol dan Kyungsoo
"Masalah utama?"
"Aku mendapati mantanku dan kakak kandungku tidur bersama."
"MWO? Bukannya tadi mantanmu dan trauma sentuhan? Kenapa bisa…? Oh my God!" seru Dio tak percaya
"Yeah, kau benar. Karena itu aku langsung membatalkan pernikahan kami dan memutuskannya. Aku terlalu kecewa padanya." Jongin tersenyum perih
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Jongin-ssi. Tapi sebaiknya masalah ini harus segera diselesaikan. Apa kau sudah berbicara dengan mantanmu dan mendengar penjelasannya?" tanya Dio
"Ani. Aku tidak pernah berbicara empat mata dengan Kyungsoo sejak kejadian itu. Aku tidak ingin mendengar apapun darinya. Aku sangat kecewa. Yang ada di dalam otakku hanyalah kekecewaan karena sudah dibohongi. Trauma itu kurasa tidak berlaku dengan Chanyeol hyung. Aku sungguh-sungguh mencintainya tapi dia tidak begitu." Jongin menyeka setetes airmatanya yang jatuh
"Sebagai seorang namja, kau harus menunjukan bahwa kau kuat dan tak tergoyahkan. Kalau kau menghindar dan tidak mau mendengarkan alasan apapun darinya, kau menunjukan padanya bahwa kau adalah seorang pengecut. Tunjukan padanya kau kuat dan tidak akan hancur hanya karena seorang yeoja. Ajak dia bicara dan dengarkan apapun yang ia katakan. Cukup dengarkan saja dan katakan padanya untuk melupakan dirimu dan memulai hidup baru kalian masing-masing karena kau pun juga begitu. Dan dengan begitu, kau berhasil membalas semua sakit hatimu padanya karena seorang wanita akan benar-benar hancur dengan cara seperti itu." Ucap Dio bijak
"Jeongmal? Darimana kau tahu cara semacam itu?" tanya Jongin
"Tentu saja pengalaman." Kata Dio bangga
"Kau pernah mengalami apa yang kualami?"
"Tidak sih, tapi aku pernah membaca novel seperti ini. Novelnya sangat bagus kalau kau ingin tahu!" Dio menggebu-gebu
"Novel? Kau menyamakan kehidupanku dengan novel?" Jongin menatap Dio dengan tatapan tak percaya
"Ne. Apa yang salah?" kini namja mungil itu bertanya dengan wajah polos
"Kau tidak membantu." Jongin menghela napasnya
"YA! Aku serius! Ikuti saja saran itu, siapa tahu berhasil. Tidak ada salahnya dicoba kan?" bujuk Dio
"Arasseo, aku akan melakukannya." Ucap Jongin akhirnya
"Jadi. Kau kesini hanya untuk curhat?" kini Dio menatap TV 51 inch di depannya sambil memakan pop corn
"Aigoo! Aku mencari ponselku! Kau melihatnya?" tanya Jongin
"Ada di kamarku. Ambil saja sendiri." Kata Dio santai
Jongin mengambil handphonenya dan kembali lagi ke ruang TV. Ia menatap Dio sesaat lalu mengatakan sesuatu.
"Dio-ssi. Kau belum mendengar bagian akhirnya."
"Bagian akhir apa?" tanya Dio masih sibuk dengan tontonannya
"Tadi aku pulang ke rumah orangtuaku dan melihat Chanyeol hyung dan Kyungsoo sedang meminta ijin untuk menikah karena Kyungsoo hamil." Jongin mengatakannya dengan ekspresi datar
"MWO?! Uhuk! Uhuk! M-MWO? Kau serius?" Dio sangat terkejut bahkan ia sampai tersedak pop corn yang ia makan
"Aku serius. Untuk apa aku berbohong?"
"Jadi apakah ini kasus perselingkuhan yang rumit? Aku belum pernah dengar yang seperti ini sebelumnya. Kau harus menyelidikinya!"
"Menyelidiki?"
"Ne! Aku akan membantumu!"
"YA!"
.
.
.
.
.
.
.
Sepeninggal Jongin, Kyungsoo terus menangis. Ia merasa sangat bersalah dan hancur melihat namja yang ia cintai begitu membencinya. Chanyeol sungguh iba melihat Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya…" Chanyeol kini mendekati Kyungsoo dan memeluk yeoja itu erat
"Hiks.. Chanyeol-ah.. Lepaskan aku.." Kyungsoo menolak pelukan Chanyeol dan menjauhi namja itu.
"Kyungsoo-ya…" Chanyeol menatap Kyungsoo sendu, ia kecewa karena Kyungsoo menolak pelukannya
"Chanyeol-ssi. Kau tidak perlu bertanggungjawab. A—aku akan mengatasinya sendiri. Lebih baik ini semua tidak usah diteruskan saja. Aku akan baik-baik saja." Kyungsoo melangkah mundur, mencoba menegarkan dirinya dan meredakan tangisannya. Ia tidak mau menjadi penghancur keluarga Park.
"Kyungsoo-ya… Apa yang kau katakan? Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja."
"Aniya… A—aku… A—aku berterimakasih atas kebaikanmu. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa menerimanya lebih dari ini. Aku pikir aku akan merawatnya sendiri saja. Aku tidak akan merepotkanmudan keluargamu. Tapi kau boleh menengoknya sesekali karena ini anakmu. A—aku pergi." Kyungsoo melangkah pergi, namun Chanyeol segera menarik tubuhnya dan memeluknya dari belakang.
"Kumohon tetap bertahan bersamaku." Ucap Chanyeol sambil memejamkan matanya. Ia tak kuasa menahan hatinya yang sesak.
"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini. Kau tidak perlu khawatir padaku. Aku dan bayi ini pasti akan baik-baik saja." Kyungsoo mencoba melepaskan pelukan Chanyeol
"Tidak! Biarkan aku… Biarkan aku melakukan ini karena aku mencintaimu, Kyungsoo-ya. Jangan menganggap semua ini hanya sebatas rasa tanggung jawab atas anak kita, tapi ijinkan aku melakukannya karena aku mencintaimu. Aku akan melakukan apapun untukmu, Kyungsoo-ya. Kau adalah satu-satunya yeoja yang aku inginkan di dunia ini, jebal… Nae gyeotaeseo.."
Chanyeol membalik tubuh Kyungsoo untuk menghadap padanya dan langsung menyambar bibir hati milik Kyungsoo dan melumatnya mesra. Kyungsoo tak mampu berkutik. Airmatanya berjatuhan, begitu pula airmata Chanyeol.
Tanpa mereka sadari, ada Yoochun dan Eunhee yang sudah sejak tadi melihat keduanya di sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue~
.
.
.
.
.
.
.
Saya sangat sibuk belakangan ini.
Maaf telat update.
Maaf juga karena pendek.
Maaf kalau banyak typo, pengaruh ngebut + ngantuk.
Dan adegan terakhir bikin saya breathless…
Makasih banget buat yang udah review.
Berita tentang Tao dll, entahlah…
Hanya waktu yang bisa menjawab kan?
Aku mah apa atuh?
Hehe…
Review lagi yaa, semoga next chapter updatenya bisa cepet.
XOXO
