Karma menyiritkan dahinya. "memangnya gadis assassin seperti mu bisa memasak?"

Ai mengerucutkan bibirnya. "begini-begini, sekali cewek, ya tetap cewek lah! Tentu saja aku bisa masak, piece-of-cake!"

"oke, coba sana gih kau masak,"

Ai menyunggingkan senyumnya. "challenge accepted!"

.

More than a match partner By nyaneenia

Romance, friendship. Teen. OOC, tidak sesuai dengan manga, karma x OC.

Time set: sehabis pulang dari pulau selatan Okinawa, summer- kelulusan, winter.

Standard warning applied- nyan~

.

A/n: Bagi kalian yang bingung sama kepribadian Ai yang sebenernya, Nyanee kasih infonya dibawah.

Oh iya, nyanee udah mutusin mungkin ini sad end. Tapi ga janji juga sih.

Dan juga sampe chap.3 NYANEE BELOM BIKIN ADEGAN ROMENSNYA. Ya perlahan lahan saja yaps, dinikmati dulu perjalanan mereka/haelah. Biar terasa manisnya ;3

And happy reading ;)

.

15th day, 2nd period: gym class, swimming class

"Atsuii!~" Ucap Rio sambil mengipas ngipaskan wajahnya.

"Ha'i ha'i, sangatlah panas, padahal masih jam 10 begini," Sahut Hayami. "Nee, Hikaru-san, bawa kipas tidak?"

"Eng? Maaf aku tidak bawa, aku tidak tahu kalau akan sepanas ini," Ucap Ai sambil menggigit apelnya. "Memang, kalau kita mau berenang arahnya kesini? Bukan kah harusnya kita menuju ke gedung utama?"

"Rupanya kau belum tahu hikaru-san? Kelas E punya kolam sendiri," Jawab Karma yang tiba tiba nimbrung. "Ohayo," Sapanya.

"Ohayo, Karma-kun, sou ka? Jadi kolamnya dimana?"

"Ada deh, kau lihat saja sendiri. Kolam kelas E dibuat khusus oleh koro-sensei."

"Honto? Sugoi!"

Koro-sensei yang berjalan paling depan menyibakkan semak semak yang menjadi 'pintu' menuju ke kolam kelas 3E. Ai yang langsung menyusup kebarisan depan, berbinar ketika melihat kolam kelas 3E.

"Ah, sudah lama juga ya tidak kesini?" Kata Nagisa sambil melepas outhernya dan langsung menceburkan dirinya kedalam air sungai- yang terlihat sangat segar.

Rio melemparkan jaketnya kearah Hayami. "Canon ball! Ya-huu!"

Para murid yang lain juga melepaskan outher mereka dan tanpa aba aba langsung masuk kedalam segarnya air sungai. Dan untuk Kayano, dia menggunakan ban pelampung untuk mengambang- karena tidak bisa berenang. Koro-sensei setia dipinggiran sungai dengan kickboard- ralat, wafer coklat yang dibentuk kickboard ditentakelnya dan duduk diatas kursi penjaga. Dan jangan lupakan baju renang merah-putih garis garis dan pluit berisiknya itu.

Ai memilih untuk duduk dipinggiran sungai dan memasukan kakinya keair terlebih dahulu. Sesekali ia menggoyang goyangkan kakinya. Walaupun gadis itu ada dipinggiran sungai hendak main air, belt dan layar yang tertempel dipaha kanannya tidak ia lepas. Begitu pula dengan kalung dan gelang yang dikenakannya.

Gadis bersurai black-copper itu mengangkat kakinya dan beranjak pergi dari sungai. Mood berenangnya hilang tersapu angin. Ia berjalan menyusuri aliran arus sungai yang menuju hilir.

Sesampainya ia diujung, iie tidak diujung, tetapi di air terjun pendek yang memutuskan aliran air sungai yang tenang, ai menghentikan langkahnya dan menemukan karma yang belum berganti baju- alias masih menggenakan almamaternya, duduk di tepian- bersebelahan dengan air terjun, sambil melipat sebelah kakinya. Ditangannya ada dua kotak jus stroberi. Si surai crimson itu menoleh kearah ai.

"Yo hikaru-san, tidak berenang?" Sapa dan tanyanya singkat. "Atau jangan jangan tidak bisa berenang?"

"Yo, Karma." Ia mengigit apelnya. "Enak saja, mood berenangku hilang terbawa angin." Jawabnya asal. "Bukannya kau yang masih berpakaian lengkap menandakan tidak bisa berenang?"

"Jangan meremehkanku, aku hanya malas berenang." Balasnya sambil menyeruput jus stroberi. "Tumben tidak bawa stroberi? Mau?" karma menawarkan sekotak jus yang belum ia minum- ralat, bukan menawarkan tapi melemparkan jus ke arah Ai.

"Aku tidak bawa stroberi, bawanya apel. Thanks" ucapnya sambil menerima lemparan Jus Karma- yang ia balas dengan melemparkan sebutir apel merah.

"Woah, abunai, hampir saja. Thanks. Kau memang benar benar hobi melempar ya," ia menggigit apelnya. "Matte, ini tidak beracun kan?" Tanyanya bercanda.

"Iya itu beracun. Tadi pagi kusuntikan Hidrogen sianida plus asam flourida." Balas Ai enteng dan mengambil tempat duduk disebelah Karma. "Diatas batas normal." Memang racun seperti itu batas normalnya seberapa hah?

Karma menatap horror gadis disebelahnya. "Uso, uso!" ucap Ai sambil mengibas ngibaskan tangannya dihadapan Karma.

"Aku juga tau itu bercanda- tapi kau membuatku parno makan apel." Dengus Karma.

"Um, sebenarnya sih tadi pagi benar benar mau kusuntikan. Lumayan saingan berkurang satu." Ucapnya dengan nada… uhm, sadis mungkin. Tambahan ada tanduk imajiner diatas kepalanya.

"Pikiranmu sadis juga ya."

"Baru tau?" Ai menggelung rambutnya asal asalan. Karma melirik kearah kaki Ai.

"Itu, belt dan layar tipis yang menempel dipahamu itu tidak bisa dilepas?"

"Ng? ini? Bisa dilepas kok." Jawabnya sambil melepas beltnya. "Mitte, bisa kan?"

"Ooh." Karma ber-'oh' ria. Ai memasangkan kembali beltnya. "Kau pasang lagi? Itu tahan air?"

"Hmm, mama memintaku untuk tetap menempelkan belt dan layar ini bagaimana pu juga."

"Sekalipun masuk kedalam air?" Tebaknya. Ai mengangguk.

"Layar ini tahan banting, air, panas berlebih bahkan api, benda tajam, dan peluru ringan."

"Woaa, tidak bisa dihancurkan?"

"Yang bisa menghancurkannya hanya ibuku. Ada kunci rahasia di salahsatu aplikasi di dalam layar ini. Tidak ada yang bisa meretasnya. Jika ada, dibutuhkan waktu berminggu minggu." Jawabnya. "Mungkin ini bisa dihancurkan dengan menembakan peluru yang ditembakan oleh hand gun 50C Conversion unit night hawk custom berkali kali."

"'peluru ringan'. Kalau kau lepas?"

"Aku aman dalam waktu 96 jam."

"Aman? Maksudmu?"

Ai menghela nafasnya. "Karma, sometimes you are so nosy,"

"Kepo tanda peduli," Ai melirik Karma yang senyam senyum sendiri.

"Aku pernah bilang kan? Alat ini ada hubungannya dengan organ dalamku. Beberapa organku ada yang bermasalah, ini semacam.. penunjang? Penopang? Seperti itulah.

Karma kembali menjawab oh. "Lebih dari 96 jam?" Ai mengangkat bahunya. "Sesuatu yang buruk akan terjadi kepadaku." Ucap gadis itu dengan nada yang santai seolah ia tidak takut mati. "Oh iya, Karma-kun."

"Hm?" balasnya sambil menyeruput jusnya.

"Malam ini ada acara tidak? Mau kerumahku? Di rumahku sedang tidak ada orang,"

Karma menyemburkan jusnya. Ia terbatuk batuk dan menepuk nepuk dadanya perlahan. Gadis disebelahnya tak peduli dan memasang watados. "Hoo, sekarang kau yang negative," ucap Karma dengan seringaiannya.

Ai baru menyadari ucapannya yang terdengar ambigu itu. "Karma-kun no ecchi! Maksudku, aku memintamu untuk menemaniku dirumah, aku- aku.. ya, tidak berani di rumah sendirian,"

Karma mengangkat sebelah alisnya. "Hn? Kenapa? Takut tiba tiba ada rampok dirumah?" Ai menggeleng. "Tidak bisa tidur jika tidak ditemani orang lain?" Ai menggeleng kuat dan memberikan glare 'manis'.

Karma menjentikan jarinya. "Oo-ooh, I see.." jangan itu jangan itu jangan itu janganjangan- Ai merapalkan doa doa agar Karma tidak menyebutkan kelemahannya yang satu ini.

"-kau takut hantu?"

-itu.

Glek. Ai menelan salivanya sendiri. "Hah? Hantu? Setan? Jin? Kuntilanak? Tuyul? Jelangkung? Sadako? Hanako? Annabelle?" Ai mengambil nafas pajang lalu tertawa canggung. "Hahahaha, ngapain takut sama begituan? I'm not a kid!"

"Jelas kau takut. Makanya jangan terlalu banyak nonton film horror. Umurmu 13, aku 15 menuju 16, kuanggap kau masih kecil."

"Aku tidak takut, dan aku bukan anak kecil hanya karena aku 2 tahun lebih muda," Bantah Ai.

"Oh, berarti berani 'kan kalau sendirian dirumah?" goda karma sambil menyenggol lengan ai dengan sikutnya.

"I-iie! Mou, dame dame, onegai Karma-kun, temani aku!" ujar Ai sambil memelas. "Aku akan mentraktirmu milkshake deh!" tawarnya. Karma menggeleng. "Ugh, pisau baru?" karma menggeleng.

"Uum, oh, akan kumasakan makan malam untukmu, seminggu penuh. Plus bento kalau mau."

Karma melirik ai singkat. "Deal."

"Yea! Danke karma-kun!" ucap Ai kelewat girang sampai sampai secara reflek ia memeluk pemuda crimson disebelahnya. Karma breathtaking saking kagetnya.

"Iya iya, sama sama- bisakah kau lepaskan pelukanmu ini? Kalau koro-sensei lihat bisa bisa kita difoto- dan fotonya akan ia sebarkan,"

Ai melepas pelukannya. "Te-he~ gomen gomen, reflek,"

Karma menghela nafas panjang dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dan, kenapa kau memintaku untuk menemani mu? Kita 'kan baru kenal?" ucapnya.

Gadis itu termenung dan memeluk kakinya. "Memang kenapa?"

"Hanya ingin tahu alasannya," balasnya. "Lagipula, aku bisa saja loh, 'menyerangmu'."

Ia menoleh kearah Karma. "Tidak mungkin-"

Karma mengangkat sebelah alisnya. "Mau dibuktikan?" tantangnya.

Ai tersenyum tipis seraya tetap menatap Karma.

"Karena aku percaya aku aman bersamamu, Karma-kun."

Darah serasa berdesir didalam tubuh kepala surai merah ini. Dan Karma beranjak dari duduknya dan melepas sepatu, almamater, dan kemejanya. Karma hendak melepas celananya, ai menghentikan karma. Ai menutup wajahnya.

"Kyaa! Karma! Apa yang akan kau lakukan! Kenapa buka baju disini?!"

Karma mendengus. "Jangan berfikiran yang aneh aneh, kau juga pernah membuka rokmu dihadapanku tau!" Ai perlahan melebarkan jari jarinya dan mengintip dari celah tangannya. Karma memakai celana renang ternyata.

Karma tersenyum mengejek, tetapi senyumannya berbeda dari yang sering ia tunjukan kepada Asano, atau orang yang ia anggap remeh lainnya. "Kau tahu jika seorang assassin harus multi talent?" Tanya karma. Ai mengangguk. "Coba lihat seberapa jauh kemampuan renang gadis assassin sepertimu,"

Ai balas menyeringai dan ia mengangkat sebelah alisnya. "Jangan terpukau ne?"

"100 meter, bolak balik, gaya bebas. Bagaimana?"

Ai menyunggingkan seringaiannya kembali. "Bring, it, on!"

.

Setelah berenang, perjalanan kembali ke kelas 3E.

"Kau, memang benar benar seorang gadis yang nekat, Hika-chan." Rio menghela nafas panjang sambil mengeratkan tangan Ai yang merangkul bahunya lemas.

"Ehee? Kuanggap itu pujian dari mu, Rio-chan," ucap Ai. "Bagaimana? Walaupun seri, aku tetap lebih hebat dari kepala merah-kun, kan?" Ucapnya sambil menunjuk kearah Karma didekatnya yang keadaannya sama seperti Ai; tubuh lemas, tidak kuat jalan, dibopong Nagisa- sahabat (tercintah)nya, dan seluruh tubuh pegal pegal.

Karma mengerlingkan matanya. "Simpan ucapanmu yang tadi dalam mimpimu, Hikaru,"

"Mimpi, yang jadi kenyataan."

"Haah? Apa yang baru saja kau katakan? Ulang coba ulang?"

"Kubilang; mimpi yang jadi kenyataan,"

"Ha! Mau kita buktikan lagi siapa yang lebih baik hm?"

"Siapa takutt!?"

Rio dan Nagisa berusaha menahan agar sahabat mereka tidak duel berenang lagi. Hebatnya, walaupun sudah adu kekuatan dan ketahanan fisik seperti itu, mereka masih punya tenaga setara dengan manusia normal! Padahal, mereka sudah 4 kali berenang 100 meter, bolak balik, dengan kecepatan setara dengan atlet renang. Bayangkan, 200 meter dalam waktu kurang lebih 50 detik! (fyi: atlet renang rata rata 23 detik per 100 meter) Mereka hampir saja memecahkan rekor renang 1000 meter- kilat, jika Koro-sensei tidak datang dan melilit tubuh mereka.

"Nurunurunuru! Sudah ya kalian bedua, dari tadi repot sendiri siapa yang paling jago berenang! Tubuh kalian berdua sudah lemas begini, tau! Lagi pula kasihan juga Nagisa-kun dan Nakamura-san yang dari tadi berusaha menahan kalian!" kata Koro-sensei.

Ai dan Karma sama sama terdiam dalam lilitan tentakel Koro-sensei. Karma menggerutu dan Ai menundukan kepalanya.

"Gomenasai Rio-chan, sudah merepotkan, gomen."

"Hm, Nagisa, gomen."

"Nakamura-san, Nagisa-kun, terimakasih karena telah menjaga mereka berdua, serahkan pada sensei, biar mereka berdua sensei yang bawa mereka berdua kesekolah,"

"Hai, sensei,"

Koro-sensei membawa mereka berdua dengan memasukan mereka berdua kedalam jubah besarnya itu. Dengan kecepatan mach 20, mereka bertiga sampai lebih dulu di kelas daripada yang lainnya.

"Nah, kalian berdua cepat ganti baju dan kembali kekelas ya, jangan melakukan yang aneh aneh!" pesan Koro-sensei dengan seringaiannya dan langsung kabur.

"Maksud mu aneh aneh apa, sensei!"

.

Last, 6th period, English with bitch-sensei.

Di pertemuan kedua pelajaran bahasa inggris bersama Bitch-sensei ini, ia simpulkan bahwa; guru ini memang benar benar Bitch- yaa, walaupun Ai sedikit menikmatinya, sih. Sekolahnya yang dulu terlalu formal, siswa tidak pernah tertawa karena tingkah guru dikelas. Tapi, sensei yang ini bercandanya menggunakan bahasa yang seharusnya tidak anak jhs tahu.

Seperti, sekarang ini.

"anyone can tell me what is 'boobs' means?"

Ai ingin sekali mengangkat tangannya. Tetapi ia tidak bisa karena tubuhnya bergetar hebat menahan tawa. Mungkin jika Karma berada di kelas sekarang ini, dia juga akan matimatian menahan tawa seperti Ai dan Rio- tapi, karma sudah menghilang sejak kelas bahasa inggris dimulai. Ngomong ngomong soal Rio, dia juga tahu apa arti dari 'boobs'. Rio memberanikan dirinya dengan mengangkat tangannya dan menjawab pertanyaan Bitch-sensei, menjadi penawar rasa kepo teman temannya yang tidak mengerti.

"hai, rio,"

"boobs, means 'breast'. Chichi (dada) desu!" jawab Rio lantang.

Nagisa angkat suara. "chichi (ayah)?"

"Chigau! Chichi!" jawab Rio sambil menunjuk Bitch-sensei.

Ngek. English skill-nya Rio emang aduhai.

"hoi!" Bitch-sensei berdehem. "hai rio! Correct! You got plus one point,"

Bitch-sensei duduk dikursi guru dan membuka buku paketnya. "Buat karangan bebas sepanjang satu halaman penuh dengan bahasa inggris yang benar!" titahnya. Ia melirik kearah arlojinya. "Kalian punya waktu 25 menit! Yang sudah selesai langsung kumpulkan dan boleh baca buku dikelas."

"Eeh? Yang sudah selesai tidak boleh langsung pulang?" Tanya Hayami.

Bitch-sensei menyilangkan antar jari telunjuknya. "Belum! Sensei akan memberikan pelajaran tambahan bagi kalian yang tidak fasih berbahasa inggris!"

"Eeh?" koor mereka semua. "Aku juga sensei?" Tanya Rio sambil menunjuk dirinya sendiri. Ceritanya, sombong sedikit karena ini pelajaran yang mudah baginya. Bahasa gaulnya dari salah satu Negara di asia tenggara; gancil itu mah.

"Untuk kau, akan sensei ajukan beberapa pertanyaan! Jika kau berhasil menjawab semuanya, kau boleh pulang."

Sejak Bitch-sensei mengatakan tugas kelas 3E, Ai sudah mulai menulis. Gadis yang tinggal di Amerika selama 11 tahun ini hanya memerlukan waktu 5 menit untuk mengarang bebas- benar benar bebas. Kertas yang Ai tulis berisikan tentang kegiatannya di Amerika.

Ia bangkit dari kursinya dan mengumpulkannya kedepan. Bitch-sensei menatap datar kertas Ai.

"perfect," ujarnya dan menorehkan tinta merah dikertas karangan Ai. Memberika nilai 100 sempurna.

"Sensei, may I go to the rest room please?" Tanya Ai dan ditanggapi anggukan oleh sensei 20 tahun itu. Ai tersebyum manis seraya mengucapkan terimakasih dan berjalan menuju toilet. Eh, salah. Gadis itu berjalan menuju pintu yang memisahkan ruang dalam dengan halaman luar dan membukanya.

Pintu kayu lapuk- termakan usia mengeluarkan bunyi deritan. Ai menarik pintu itu dengan kencang, dan angin musim panas datang dan menyapu tubuhnya. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali.

Ai berjalan melewati jalan setapak yang dilapisi rumput tipis. Beberapa helai daun terbang mengenainya. Sesekali gadis itu juga menahan agar roknya tidak tertiup angin. Bersantai dibawah pohon dicuaca hangat dan berangin seperti ini akan sangat menyenangkan, pikirnya. Aikawa mempercepat langkanya dan segera menerobos kedalam hutan. Pesetanan dengan kembali kekelas untuk menghadiri kelas Bitch-sensei, skill bahasanya lebih baik dari guru itu sendiri.

Uwabaki dilepasnya, begitu pula dengan belt aneh yang melilit sampai kebetisnya. (Jika ditambah 3D maneuver gear sepertinya ia bisa menjadi pasukan pembunuh raksasa.) Kaus kaki hitam dilepas dan ia lipat rapih, diletakan disebelah uwabaki. Beltnya kembali dipasang, lalu Ai memposisikan punggungnya senyaman mungkin dihamparan rumput. Ai merogoh kantungnya dan mengambil sebutir stroberi jumbo didalamnya. Buah rasa asam-manis tersebut terkikis perlahan dan sari buah merah segar itu menetes di ujung bibir dan dagu Ai yang tidak ia hiraukan. Lama kelamaan alam bawah sadarnya mengambil alih dan mengajak gadis bertubuh petite ini bermain main sejenak di alam mimpi.

.

Karma mengucek matanya yang masih terlapisi kelopak. Tangannya ia renggangkan keatas, dan menguap.

"Hm? Sudah berapa menit ya aku ketiduran diatas pohon? Enak juga," ia mengedarkan pandangannya kesekelilingnya, dan menemukan teman sekelasnya berada dibawah pohon yang ia jadikan tempat istirahat, terdidur dengan nyamannya.

"Heh? Rupanya Hikaru ada disini.." oceh Karma. Ia melihat kearah tangan Ai masih menggenggam stroberi yang tadi dimakan. Karma mengambilnya, dan memakannya. Iris kuning tembaganya berpindah pada ujung bibir Ai dan dagunya yang terdapat sedikit sari stroberi.

Ia mendekatkan wajahnya. Nafas hangatnya menyapu pipi chubby dekat, dekat dannn…

"KYAAA! KARMA APA YANG KAU LAKUKAN?!" Ai tiba tiba terbangun karena merasakan hembusan nafas hangat dan dengan reflex menampar-ralat, meninju pipi kiri Karma. Dan-ugh, sepertinya tamparan yang gadis itu layangkan terlalu kencang.

"APA YANG KAU LAKU- EH, KARMA? PINGSAN?" Gadis pelaku peninjuan itu menepuk nepuk pipi kanan Karma pelan. Sesekali pipi sang surai crimson yang jadi korban itu juga ia elus perlahan karena sedikit membiru.

"He-hei, Karma, wake up, wake up! Gomen, gomen, I didn't mean to punch you that hard!" Ujarnya sambil tetap menepuk pipi Karma. Ai duduk dan memposisikan kepala Karma di pangkuannya dan kembali menepuk nepukan pipinya. Baru saja gadis itu hendak celingak celinguk meminta pertolongan, tangan Karma bergerak dan menampar pipi Ai pelan.

"Teme, sakit, tau."

Ai senyum sumringah. "Yokata kau tidak apa apa Karma! Aku khawatir tau!"

Karma menyiritkan dahinya dan tersenyum kecil. "Kau khawatir? Menghawatirkan aku?"

"Tentu saja aku Khawatir! Kalau kau kenapa kenapa, bagaimana denganku? Hari ini kan kau janji mau menemaniku dirumah,"

"…"

Bahu gadis bersurai ikal itu bergetar karena tawa yang keluar dari mulutnya. "Bercanda, benrcanda! Sesama teman harus saling peduli, kan?"

Karma terdiam sejenak dan mendekopin (sentil dahi) Ai, lalu mereka berdua segera beranjak dan kembali ke kelas. Entah apa yang akan dilakukan Bitch-sensei kepada Karma yang lagi lagi membolos, dan Ai yang terlalu lama berada di 'toilet'

.

'teman, ya?'

.

Hikaru's profile~

Full name : Hikaru (given) Aikawa (family)

Date of birth : December 26th (13 yo)

Height, weight : 165 cm, 45 kg

Hair color : Copper- black

Eye color : Completely black

Parents occupation : Father (Japans vice ministry defense) Mother (Scientist in Germany)

.

Sifat, kepribadian, dan lain lain:

Semacam memiliki dua kepribadian, terkadang ia bisa menjadi baik- kelewat baik malah, kalem, sopan, tapi juga bisa menjadi gadis nakal, dan se-badass Karma. Karena sifatnya yang seperti itu, Rio jadi dekat dengan Ai.

Aikawa hikaru juga takut dengan hantu, karena ibunya pernah melakukan eksperimen dengan mahluk gaib- dan karena itu juga saat masih kecil ia sedikit takut dekat dekat dengan ibunya. Mata Ai memiliki sebuah kelebihan (nanti akan Nyanee jelaskan kok 'w' gatau kapan/plak) yang salah satunya dapat melihat mahluk gaib. Masalahnya, mahluk gaib yang selalu ia lihat terlalu menakutkan, tak jarang terlalu sadis seperti memperlihatkan organ dalam, berdarah darah, dan- (woy woy genre woy) begitulah.

Layar yang berada disisi paha kanan berfungsi sebagai penstabil detak jantung, penghitung detak, dan juga bisa mengerjakan hal hal yang biasa dilakukan smartphone. Kedua orang tua Ai memegang sebuah alat yang dapat mengontrol layar tersebut, bisa dikatakan 'alat admin'. Alat tersebut bisa melacak sang pengguna, melihat status jantung pengguna, bahkan bisa membuat Ai 'lumpuh' karenanya.

.

Konbawa/ ohayo/ konnichiwa, readers-san~

Gomenne telat apdet. Otak Nyanee lagi macet semacet macetnya, pusing sendiri mikirin ide buat 'futari!', dan berakibat hilangnya ide 'More than a match partner'/duar.

Oh iya, itu profil pribadi Ai ngga author tulis secara detilnya banget karena kalo author tulis sama aja kaya nyebar spoiler, ngga seru. Kalo ada yang kepo, PM aja, nanti Nyanee kasih tau- tapi ngga semuanya juga. Nurufufufufu. Biar jadi ke-ju-tan~

Nyanee menunggu review kalian semua~ ci ya!

p.s: chap. 1-2 udah Nyanee edit! Cuman huruf capital dan yang tipo tipo gitu doang si/ gananya.