Karma menyiritkan dahinya dan tersenyum kecil. "Kau khawatir? Menghawatirkan aku?"

"Tentu saja aku Khawatir! Kalau kau kenapa kenapa, bagaimana denganku? Hari ini kan kau janji mau menemaniku dirumah,"

"…"

Bahu gadis bersurai ikal itu bergetar karena tawa yang keluar dari mulutnya. "Bercanda, benrcanda! Sesama teman harus saling peduli, kan?"

Karma terdiam sejenak dan mendekopin (sentil dahi) Ai, lalu mereka berdua segera beranjak dan kembali ke kelas. Entah apa yang akan dilakukan Bitch-sensei kepada Karma yang lagi lagi membolos, dan Ai yang terlalu lama berada di 'toilet'

.

'teman, ya?'

.

More than a match partner By nyaneenia

Romance, friendship. Teen. OOC, tidak sesuai dengan manga, karma x OC.

Time set: sehabis pulang dari pulau selatan Okinawa, summer- kelulusan, winter.

Standard warning applied- nyan~

.

Rumah kediaman keluarga Aikawa hikaru.

Karma dan Ai meletakan sepatu dan meletakannya di rak. Ai segera menutup dan mengunci pintu. Karma mengikuti Ai yang berjalan menuju ruang tengah. Gadis itu mempersilahkan Karma menunggu sebentar di ruang tengah, sementara ia mengambil cemilan dan minuman.

"Woah," Karma terpukau ketika melihat ruang tengah rumah temannya ini. Ukurannya lebih luas dari ruang tengah rumahnya. Lampu yang terbuat dari kaca besar menghiasi tepat ditengah plafon. Di beberapa bagian dinding tertempel figura kayu berisikan foto- ada juga yang berisikan herbarium dan insect.

Satu hal yang menarik perhatian Karma, yaitu sebuah lemari pajangan kayu ukir yang terletak diujung ruangan berisikan beberapa benda warna warni yang berkilauan. Penasaran, kakinya bergerak mendekati lemari pajangan itu.

Setelah didekati, ternyata benda berkilauan itu adalah Kristal sebesar sekepalan tangan- 12 warna. Karma menyentuh kaca lemari pajangan itu, seperti hendak meraba Kristal- Kristal tersebut.

"Suka warna yang mana?"

Karma terkejut dan membalikan badannya. "Kau.. hampir saja, aku kaget tahu." Ujarnya sambil mengelus elus dadanya. Ia menarik nafas dan menatap Ai yang memasang watados.

"Ruby,"

"Oh, jadi Kristal kesukaanmu Ruby?" Tanya Ai memastikan. Karma mengangguk kecil.

"Begitu kah? Aku juga suka dengan Ruby. Warna merahnya sangat cantik,"

Karma memperhatikan keterangan yang tertera dibawah setiap Ruby yang ditulis rapih diatas lempengan tembaga kecil dengan bahasa inggris. Untungnya dia sering nempel dengan Rio yang gemar sekali berbahasa inggris. Jadi ia mengerti.

'kristal pembeku: merah- 10 tahun, oranye- 15 tahun, kuning 20 tahun, hijau- 25 tahun, tosca- 26 tahun, biru- 30 tahun, aquamarine- 40 tahun, violet- 50 tahun, pink- 100 tahun, coklat- 1000 tahun, hitam- 10.000 abad, putih bening- '

"..Ini namanya Kristal pembeku? Apa maksudnya?" Tanya Karma sambil menunjuk kearah lemari. "Woah, infinity?"

"Ya, sesuai dengan penjelasannya. Sepertinya kau mengerti," Jawab Ai santai sambil tersenyum.

"Jadi, ini untuk membekukan 'sesuatu', hm?"

Ai membentukan tangannya menjadi lingkaran kearah atas membentuk bulatan a la Koro-sensei. "Correct!" Ai berdehem sebentar. "Untuk kata yang lebih tepat dari 'sesuatu' itu, bisa dikatakan itu adalah mahluk hidup yang diawetkan,"

Karma menyiritkan dahinya. "Mahluk hidup dibekukan di Kristal ini? untuk apa?" Tanyanya. "Dihidupkan dimasa depan, begitu?"

"Aku tahu perkataanmu yang tadi itu hanya sekedar sebuah candaan. Tapi candaanmu benar."

Karma tertohok. "Ada yang seperti itu?"

Ai mengangguk kecil. "Tentu saja ada. Beberapa hewan yang sudah punah diawetkan dengan ini, dengan harapan di masa depan bisa dihidupkan kembali," Ai membuka kunci lemari Kristal itu dan mengambil kristal yang berwarna merah, dan menyerahkannya pada Karma.

"Coba rasakan teksturnya. Terasa lebih licin dan terasa sangat dingin, bukan?"

Karma tetap meraba Kristal merah itu dan mengangguk. "Terasa seperti es," ia hendak mengembalikan Kristal itu ketempatnya, namun gadis berhelai tembaga gelap itu menghentikannya.

"Ada apa? Harus kau yang mengembalikannya?"

Ai mengguk kuat kuat. Ia mencabut sebuah bulu kemoceng didekatnya dan mendekatkan bulu coklat itu kebagian rak Kristal.

BZZT! Seketika, bulu tersebut tersetrum kuat lalu hancur menjadi abu.

"See? Yang bisa menyentuh bagian dalam lemari ini hanya keturunan keluargaku," Jelas Ai tanpa ada maksud sombong. Malah ia terkesan tidak peduli dengan Kristal itu dan lebih baik ia tak melihat benda itu lagi.

"Oh iya, mau lihat ke gudang sains ibuku? Kau pasti tertarik,"Ujarnya dengan nada riang. "Mau lihat? Oh iya, ibuku juga pernah cerita, kalau sebenarnya Walt Disney saat wafat jasadnya ingin dibekukan dengan Kristal pink ini!bukan dikremasi! Tapi sayang Walt-sensei malah dikremasi…"[2] Aikawa mengembalikan Kristal itu ketempatnya dan mengunci lemari itu kembali. Kaki kakinya bergerak menuju kea rah gudang sains milik ibunya.

"Apa ada yang seperti itu?" Tanya Karma seraya mengikuti langkah Ai

"Serius ada! Ibuku pernah bercerita! Ibuku juga bilang, kalau mereka yakin bahwa sekitar 50 tahun setelah Walt-sensei wafat, manusia bisa dihidupkan kembali." Gadis itu dengan antusias memceritakan tentang Walt-sensei-yang-dikristalkan. Karma hanya manggut manggut dan asik mendengarkan.

Gadis itu berhenti berbicara dan berusaha mendorong pintu kayu hitam raksasa. Karma hanya melihat dalam diam. Ai mengerlingkan matanya.

"Hei, kau cowok 'kan?"

Karma menyiritkan dahinya. "Apa kau perlu bukti?"

"Jika kau cowok, harusnya kau membantuku tahu! Bukannya malah diam dan melihatku."

Pemuda bersurai crimson mendekat kesebelah Ai dan membantunya mendorong pintu raksasa itu. Dan hanya terbuka sedikit.

"Ah, hanya terbuka sedikit,"

"Memangnya kau tidak muat Karma? Pintu ini memang sengaja dibuat kelewat berat, agar aku tidak bisa membuka pintu ini sendirian."

"Oh? Jadi sebenarnya kau tidak boleh masuk kesini?"

"Aku tidak bilang 'tidak boleh', aku bilang 'agar tidak bisa kubuka'." Ai berucap santai dan menyelinap masuk kedalam gudang sains, diikuti Karma.

"Kuyakin ada yang ibumu sembunyikan didalam sini." Ujar Karma dengan raut serius. "Atau mungkin sesuatu yang membahayaknmu,"

Karma dan Ai sudah berada di dalam gudang sains. Didalamnya banyak berisikan gelas ukur, mikroskop, jas putih, berpuluh kotak kayu yang ditumpuk menjadi dinding pembatas, gulungan kertas, dan serentetan benda benda yang berhubungan dengan sains.

Gadis itu menguncir rambut ikalnya dan tertawa garing. Manik hitam kelamnya menatap Karma acuh. "Aku tahu kalau ibuku memang menyembunyikan sesuatu." Ucapnya. "Maka dari itu aku berusaha untuk mencari tahu." Ucapnya. "Pastinya, menyembunyikan sesuatu." Tambahnya lagi dengan nada penekanan dan serius di kata 'pastinya'

"Jadi, apa kau mau membantuku untuk mencari tahu?" Tanya Ai. Ia menyembunyikan kedua tangan kosongnya kebelakang. Karma tidak menanggapi. Ai menggembungkan pipi chubbynya.

"Kuanggap itu jawaban iya, Karma. Aku tidak menerima penolakan." Putus Ai sepihak dan berjalan santai meninggalkan teman kepala merahnya itu. Karma menepuk dahinya pelan.

"Matta ku, that's all up to you, my lady." Ucapnya dengan sedikit membungkuk dan nada yang dibuat buat. Ai mengangkat dagunya a la model dan menegapkan postur tubuhnya.

Karma tersenyum kecut melihat Ai yang gayanya selangit ini. "Danke sher, rakyat jelata."

"Terserah, ratu sialan."

Gadis itu hanya mengibaskan rambut ikalnya dan menghilang dibalik tirai merah kecil. Karma mengikutinya, dan melihat 7 benda besar yang ia tebak patung, diselimuti dengan kain merah dan hitam. Aikawa menyibakan salah satu kain merah yang menyelimuti patung itu, dan Karma kembali dibuat terpukau.

"Woah, hebat, Moa tiga meter, kan?" Ai mengangguk.

Karma menatap Ai, mengisyaratkan 'boleh-ku-sentuh?'. Gadis yang menurut Karma esper itu menganggukan kepalanya.

Kulit epidermis telapak tangan kepucatan itu menyentuh permukaan dingin Kristal bening yang didalamnya terdapat binatang yang hanya dapat ditemui di zaman dulu; Moa raksasa setinggi tiga meter.

"Dinornis robustus dan Dinornis novaezelandiae, mampu tumbuh hingga 3,6 meter dan 300 kilo. Akibat dari kepunahannya pernah dipertanyakan karena punah secara masal dan tiba- tiba pada abad- 14. Ternyata penyebab punahnya Moa ini karena manusia sendiri." Tutur Ai dan ikut menyentuh Kristal.

Pemuda kepala merah itu tertegun. "Hee, suge kau bisa hafal begini."

Gadis yang dipuji itu mengarahkan tangannya pada rak besar berisikan buku tebal bersampul kulit coklat- terlihat usang.

"Tuh, lihat, kalau lagi iseng aku baca itu."

"Semuanya?" Ai mengangguk. "Tak heran kau pintar."

Ai kembali menyibak kain yang menutupi Kristal pembeku berisikan hewan purba. Ada kuda Quangga, Serigala Tasmania, Elang Haast, Irish deer, the great auk, bahkan Dodo. Gadis itu menarik tangan Karma dan meneruskan 'penjelajahan' mereka di gudang sains nyonya Aikawa. Sesampainya ditengah ruangan yang kelewat luas itu, terdapat pintu ukuran normal dengan papan penanda didepannya bertuliskan, 'RUANG DATA'. Karma menebak isi ruangan tersebut adalah surge tumpukan kertas dan ia benar. Lalu ia tersadar.

"Hei, sepertinya kau tidak boleh masuk kedalam sini, Hikaru." Ingat Karma. Ai mengacuhkannya.

"Lagian mumpung aku sudah sampai kesini, lebih baik sekalian masuk ke dalam ruangan ini. ibuku tidak pernah mengizinkan ku masuk kedalam sini, dan- kau tahu sifatku bagaimana." Ia menghentikan langkahnya duduk dilantai mengamati folder di rak bawah.

"Kepo-an?"

"Begitulah." Tangan gadis itu sibuk memilih milih folder yang di abjad. Karma ikut duduk dan melihati Ai.

"Apa yang kau cari?"

"Aku sedang mencari tahu apa yang sedang ibuku sembunyikan disini. Kenapa? Tadi didepan kau bilang mau membantu ku, 'kan?"

Karma menghela nafas panjang. Jemarinya bergerak menyusuri puluhan folder itu dan menarik salah satunya yang berlabel huruf 'X' besar. Ai menyiritkan dahinya.

"Kenapa pilih X?" Tanyanya.

Karma hanya menaikan bahunya, dan menjawab, "Entah, biasanya X menyimpan misteri?"

"Aku kurang paham maksudmu apa."

"Aku malah tidak mengerti apa yang kau cari dari berkas seperti ini- ya aku tahu kau mencari rahasia yang disembunyikan ibumu, tapi sepertinya disini banyak rahasia, 'kan?"

Gadis itu terdiam, lalu menggelengkan kepalanya kuat kuat. Ujung helaian ikalnya bergoyang. "Tidak! Aku tidak sebodoh yang kau kira, Karma-"

"Aku tidak bilang kau bodoh kok,"

"Jangan potong ucapan ku. Aku sudah membaca semua buku tebal di rak tadi. Asal kau tahu, itu semua berisikan rincian benda benda yang ada disini,"

"..Lalu?"

"Dari semua tulisan yang ada, ada satu benda yang tidak lengkap. Kukisar ada sekitar empat sampai lima halaman terseobek- secara paksa dibagian itu, kuyakin."

Karma menyiritkan dahinya. "Kau terlihat benar benar yakin dengan teori mu."

"Aku juga tidak tahu," Ai mendecak kesal. "Kau juga pasti tahu, kan, kalau perkiraanku jarang yang salah?"

"Tepatnya, tidak pernah salah." Ucap Karma mengoreksi sambil asik membolak balikan lembaran folder ditangannya. "Jadi, apa yang 'tidak lengkap' yang kau maksudkan itu?"

"Kristal," Jawab Ai lalu berdehem.

"Kristal? Kristal yang tadi itu, hm?" Ai mengangguk.

"Biasanya semua benda disini, apalagi yang penting penting macam Kristal dijelaskan sangat mendetil, dari komposisi, asal mula, bahkan tujuan dibuatnya," Ia menjeda. "Aku yakin seribu persen bahwa Kristal pembeku yang ibuku punya sangat berharga, buktinya lemari pajangannya saja dilengkapi laser,"

"Dan penjelasan tentang Kristal pembeku di buku tebal itu tidak lengkap?" Tebak Karma.

Ai mengangguk. "Hanya terdapat contoh warna dan lama bertahan bekunya itu."

"Oh, jadi jika kristal merah tertulis 'sepuluh tahun' dibawahnya-" Ucapan Karma dipotong seenakmya oleh Ai.

"-kristal akan mencair dan sesuatu didalamnya harus cepat cepat di'hidup'kan kembali, atau harus dikubur."

"Jika tidak berhasil dalam menghidupkannya kembali? Bagaimana juga jika tidak dikubur? Apa tidak bisa dikristalkan kembali?"

Gadis itu menggeleng kecil. "Semua tubuh hanya bisa dikristalkan sekali, plus tidak bisa di awetkan dengan formalin. Jika tidak dikubur, nanti malah membusuk lah,"

"Kalau dibekukan kembali?"

Gadis itu mendecak kesal karena temannya ini banya bertanya dari tadi. "Kalau aku tahu, akan kujelaskan sampai detilnya, Karma. Maka dari itu juga aku penasaran setengah mati."

Karma lalu diam dan tiba tiba saat kertas masih dibolak balikan, terdapat selembar kertas usang yang sudah kekuningan. Dikertas tersebut terdapat kotak hitam kecil diujungnya, ada juga tulisan angka dan huruf, dengan judul 'AIKAWA III CODE'. Pemuda itu menyenggol tangan Ai agar ia menengok.

"Lihat apa yang kutemukan."

Ai menerima uluran kertas Karma dan membacanya. "..ini kode apa?"

"Harusnya itu menjadi pertanyaan yang kutunjukan untukmu, tau."

Gadis itu mengamati kertas usang ditangannya dengan intens. Kode- kode itu terasa begitu rumit, seperti…

"Ah!" Ai mengepalkan tangannya keatas kegirangan. Karma dibuat kaget karenanya.

"Nani, nani?"

Ai menatap Karma kuat lalu menjerit tertahan.

"Ini agak melenceng dari pencarian awal kita, sih, tapi ini kunci agar pencarian kita menjadi mudah."

Karma terdiam lalu ekspresi wajahnya terlihat terkejut. "Masaka?"

"Ini kode admin!"

.

Kedua orang tersebut langsung buru buru keluar dari gudang sains setelah melihat arloji yang telah menunjukan pukul lima sore. Mereka kewalahan saat berusaha menutup Kristal Moa tiga meter itu. Seluruh tenaga Ai dan Karma dikerahkan untuk menutup kembali pintu besar itu, lalu menguncinya.

Dengan kertas bertuliskan kode admin ditangannya yang sudah agak lecek, Ai berlari kearah lantai dua sambil menarik Karma. Gadis itu membawa Karma kedalam kamarnya.

Hayo, Ai, itu Karma mau diapain.

Karma langsung melepas cengkraman tangan Ai saat ia tersadar tempat apa ini.

"…"

"Kenapa sih? Jangan mematung di depan pintu gitu lah- tunggu, cepat masuk kau tidak akan kuapa apakan kok! Harusnya aku yang malah takut untuk mengajakmu ke kamarku!"

"Harusnya."

Ai mengerucutkan bibirnya dan menarik tangan Karma. "Hikaru loves to break the rules." Gadis itu mempersilahkan Karma duduk di kursi meja belajarnya sementara dirinya mencari sesuatu.

"Ah, ketemu." Ai mengeluarkan kotak besi dari bawah tempat tidurnya dan terbatuk karena debu. "Kuharap masih lengkap."

"Apanya yang 'masih lengkap'?" Tanya Karma sambil mendekati Ai dan duduk disebelahnya. Ia memberikan tisu.

"Kotak perkakas untuk membenahi layar. Arigato."

Karma menyiritkan dahinya lalu menatap Ai curiga. Orang yang ditatapnya menatap balik, dan ikut menyiritkan dahi.

"Jangan menatap ku seperti itu. Aku tidak berniat mengutak atik susunan layar ini kok, hanya mau melakukan sebuah 'eksperimen'."

"..dan jangan bilang kalau kau mau memasukan kode itu kedalamnya?" Ai mengangguk. "Bagaimana kalau salah?"

"Kalau salah paling tidak ada efek buruk, hanya mungkin aku akan tersetrum." Jawabnya. "Sampai pingsan."

"…"

"Mungkin."

"Oh."

Gadis itu menguncir asal rambut tembaga gelapnya asal. Ia melepas belt dan layar yang terpasang di kaki kanannya.

"Okay, lets start this freaking work,"

Ai menghela nafas dan tangan kanannya langsung lincah menggerakan stylus diatas layar kaca miliknya. Beberapa aplikasi dibuka bergantian guna mencari aplikasi khusus memasukan kode.

"…kuso, sebenarnya sudah berapa lama aku tidak melakukan pengecekan rutin terhadap benda ini?"

"Kenapa?"

"Biasanya setiap dua minggu sekali aku selalu melakukan pengecekan rutin pada alat sialan ini. Terkadang data data disini suka berpindah sendiri, mungkin ulah ibuku." Ucapnya, lalu menyerigai. "Tapi aku sudah dapat kode admin!"

Karma menggelengkan kepalanya. "Bagaimana? Kau sudah bisa memasukan kodenya?"

"…Aku tidak tahu harus masukan lewat mana. Susunan aplikasi dan data disini berubah lagi. Sial." Gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang dan merapihkan kembali kotak perkakasnya.

"Yah, mau bagaimana lagi? Itu salah mu sendiri tidak melakukan pengecekan rutin," Ucap Karma yang dibalas Ai dengan gerutuan. "Tapi setidaknya kita sudah mendapatkan kode admin,"

"Hee? 'kita'?" Ucap Ai yang langsung merubuhkan tubuhnya ke kasur. Ia menyilangkan kedua punggung tangannya di area mata.

"Ada apa? Kau sendiri yang memintaku untuk menemanimu."

"Sou ka? Baguslah. Thanks,"

"Hm,"

Karma berdiri dan mengamati ruangan yang tengah ia pijaki sekarang ini. Rupanya kamar Ai memang luas. Terdapat sebuah lemari berwarna hitam, dua lemari pajangan hitam-merah muda berisikan frame, mini figure dan boneka. Rak penuh dengan buku fiksi dan non, serta meja belajar. kamar Ai juga terhubung dengan balkon yang dibatasi dengan jendela besar- atau lebih tepatnya pintu geser kaca yang besar. Didekat tirainya terdapat lemari yang merangkup sebagai sofa. (Author lupa namanya apa, tapi yang jelas anak anak tumblr di amerika punya ginian dikamarnya. Karena Ai anak US, jadi dia menjerumus ke tumblr gitu deh, tapi lebih kearah pale tumblr. Ngerti? Anggep aja ngerti deh/ dimakan titan.) dinding terlapis cat pink halus dengan berbagai hiasan disana sini.

Setelah puas memandangi kamar Ai, Karma langsung duduk membelakangi kasur Ai di sofa dekat pintu kaca dan kembali membuka percakapan.

"Nee, Hikaru, kau pernah bilang kalau ibumu berada di Jerman, ayahmu lebih sering berada di luar rumah menghabiskan waktu di kantor pemerintah, dan kau hanya berdua dengan bibimu- yang sekarang sedang pulang kerumahnya,"

"…" Ai tidak bergeming.

"…Lalu apa kau tidak merasakan kesepian begitu?"

"…" Gadis itu masih tidak menangapi Karma.

Karma menghela nafas. "Kalau begitu, kita sama. Orang tua ku lebih sering berada di luar rumah," Ucapnya. "Sebentar, perkataanku yang tadi jangan dipikirkan. Lupakan saja."

"…"

"Kau dari tadi tidak menanggapi ku." Ia berbalik dan mendekati Ai yang masih berada di pose sebelumnya; menutupi wajah dengan kedua punggung tangan yang disilang. Ia menarik perlahan lengan Ai.

"…"

"…Rupanya sudah tidur. Apa boleh buat?"

Karma err, membetulkan posisi tidur Ai. Ia mengangkat perlahan tubuh gadis tersebut- mungkin dengan sedikit modus memeluknya, dan menghangatkannya dengan selimut.

"Nggh,.." Ai menggeliat di tidurnya. Karma menaikan selimut yang Ai pakai.

Karma lalu keluar dari kamar Ai dan hendak pulang. Tapi sebelumnya ia sempat memainkan anak rambut se-pipi yang mengalangi dahi-

-dan mengecupnya singkat.

.

'kami-sama, apa yang aku lakukan tadi?! Arrrghh! Hazukashi!' batin Karma saat dirinya keluar dari rumah Ai dengan menjabaki rambutnya.

.

TBC.

Sebentar sebentar, *pasang zirah, bawa tameng*

HAY HAY MINNA- SAN.

NYANEE LAMA YA, NGGA APDET. HAHAHA. MONGGO LEMPARI NYANEE DENGAN BATU, NGGA MASALAH.

Gomenne telat apdet. Nyanee berhari hari kena wrayter blok.

Karena udah malem, nyanee jadi males ngomong:3 #TapiIniTulisan ya, akhir kata-

-review?