Author notes: saya pura- pura galiat tanggal last update fict ini. jangan makan saya.
"Kau dari tadi tidak menanggapi ku." Ia berbalik dan mendekati Ai yang masih berada di pose sebelumnya; menutupi wajah dengan kedua punggung tangan yang disilang. Ia menarik perlahan lengan Ai.
"…"
"…Rupanya sudah tidur. Apa boleh buat?"
Karma err, membetulkan posisi tidur Ai. Ia mengangkat perlahan tubuh gadis tersebut- mungkin dengan sedikit modus memeluknya, dan menghangatkannya dengan selimut.
"Nggh,.." Ai menggeliat di tidurnya. Karma menaikan selimut yang Ai pakai.
Karma lalu keluar dari kamar Ai dan hendak pulang. Tapi sebelumnya ia sempat memainkan anak rambut se-pipi yang mengalangi dahi-
-dan mengecupnya singkat.
.
'kami-sama, apa yang aku lakukan tadi?! Arrrghh! Hazukashi!' batin Karma saat dirinya keluar dari rumah Ai dengan menjabaki rambutnya.
.
.
More than a match partner By nyaneenia
Romance, friendship. Teen. OOC, tidak sesuai dengan manga, karma x OC.
Time set: sehabis pulang dari pulau selatan Okinawa, summer- kelulusan, winter.
Standard warning applied- nyan~
.
Musim dingin hampir datang ke seluruh daerah Jepang.
Koro-sensei memberi tahu pada seluruh murid kelas 3E, bahwa sekitar tiga atau lima hari lagi, Kunugigaoka akan mengadakan sebuah trip musim dingin ke Hokkaido.
"Dan kalian semua bisa mengassassin ku disana! Tentunya kalau kau bisa membunuh ku! Nurufufufufu~" Tambah Koro-sensei waktu itu dan langsung diberi lemparan pisau s.a.a.u.s.o. dari Karma.
Ah, iya, ngomong ngomong soal Karma, keesokan harinya setela ia mengecup dahi Ai, gadis itu malah bersikap biasa saja. Wajar, tidak tahu. Bahkan bersikap lebih baik- dengan memberikan sekotak bento dengan apel, plus sebuah pisau anti sensei diatasnya.
Murid kelas E diminta untuk membentuk kelompok yang masing masing beranggotakan tujuh orang sebagai kelompok jalan jalan nanti. Ai dan Karma satu kelompok, bersama dengan Rio, Maehara, Rinka, Chiba, dan Nagisa.
Ehm, sepertinya Nagisa tidak mendapatkan pair. Biarkan dia threesome dengan Karma dan Ai
Kembali. Setelah kelompok dibentuk, setiap kelompok juga diminta untuk menentukan tempat assassin mereka, dan berbagai macam strategi atau apalah itu.
"Jadi, Hika-chan, menurutmu apa spot dibagian ini sudah ba- are? Hika-chan wa?"
"Loh, tadi Hikaru disebelahku loh,"
Nagisa menghela nafas. "Sepertinya ia pergi menyusul Karma."
"Kemana?" Tanya Chiba.
"Kemana lagi kalau bukan hutan belakang?" Jawab Rinka. "Perlu ku susul?"
Rio mencegah Rinka. Gadis itu menyunggingkan senyumannya.
"Biarkan mereka berduan. Kita bisa mengerjakan ini dengan berlima saja, bukan?"
.
.
.
.
"Menurutmu kita bisa membunuhnya disini?"
"Tidak, menurutku disini lebih baik."
Tch, "Bukankah disitu kurang bagus? Menurutku disini loh, yang bagus."
Karma menjambak rambutnya frustasi. Sudah hampir sepuluh menit untuk menentukan waktu tempat assassin. "Matte, kenapa malah jadi kita yang urus hal ini? mereka berlima disana pasti sedang memikirkan ini."
"Dan kita hanya diam disini santai santai sambil makan apel?!" Ai meninggikan suaranya sambil mengacungkan apel merah. Karma langsung menyambar apel dan menggigitnya.
"Kau baru bilang kalau bawa apel,"
"Karma!"
"Ya?"
"Aku tidak memanggil mu,"
"Lalu?"
"Lalu- lupakan. Inti dari apa yang mau kukatakan adalah; kalau kita tidak membantu mereka membuat strategi, apa yang kita lakukan?"
"Yang jelas sih, aku tahu apa yang mau lakukan, makanya aku kesini. Tapi tiba tiba kau malah datang. Mau apa huh?"
Gadis itu memaling wajahnya yang sedikit memerah kearah lain. "Jangan ge-er. Aku iseng kesini."
"Iseng, atau memang karena suka padaku?"
Wajah Ai tiba tiba menghangat. Rona merah memenuhi parasnya. Ia langsung kembali melihat kearah Karma dan memberikannya glare. "Kebangetan ge-er. Amit amit." Ucapnya. "Mou ii! Yaampun, jadi, apa yang mau kau lakukan?"
Karma menyeringai dan mengeluarkan pisau s.a.a.u.s.o. spesial miliknya dan secara tiba tiba menyerang Ai. Karma mendorong tubuhnya sendiri ke tubuh gadis itu. Ai terbelak- namun refleknya sangatlah bagus. Ia langsung menghindar dan mengambil pisaunya sendiri yang tersimpan di balik vest musim panasnya. Mereka berdua sama sama menyeringai.
"Hee? Reflex yang bagus."
"Tidak buruk juga, untuk seorang pembunuh-" Balas Ai dan balik menyerang Karma. Pemuda itu terlalu lengah dan tak menyadari pergerakan Ai. Gadis itu mendorong tubuh Karma sehingga ia terjatuh diatas rumput- lalu menduduki perutnya, dan menodongkan pisau miliknya ke arliteri leher Karma. Ia langsung mendongak karena reflex. Ai melakukan semua gerakan itu dengan kecepatan melebihi Karma. Bisa dibilang, super cepat.
"Noob."
Mereka berdua masih terdiam selama beberapa detik. Ai berusaha menetralkan nafasnya karena gerkannya tadi. Ia sudah lama tidak melakukan gerakan cepat itu.
"…"
"…mau sampai kapan berada di perutku?"
"..hah?"
"Mau sampai kapan kau duduk diperutku? Ada yang lihat takut salah sangka loh," Ulangnya. "Dan satu lagi, kau berat."
Ai masih diam tak beranjak dari posisinya. Merasa sedikit tersinggung karena dikatain berat. Tidak peduli jika ada yang melihat. "Maaf maaf saja ya, tuan Akabane," Ia menyilangkan tangannya didepan dada. "Aku menjaga makanku, dan aku tidak begitu peduli dengan berat badan. Kalau aku berat, kau ini yang kesusahan. Kan juga waktu kau menggendongku, kau sendiri yang bilang aku tidak berat,"
Karma menghela nafas. "Terserah deh. Yasudah cepat turun dari perutku. Sesak tau."
Apanya yang sesak Karma-kun? Yang 'bawah'?
Ai menggerutu dan hendak duduk disebelah Karma yang ehemterlentang. Gadis itu memasukan pisau spesialnya kedalam sarung khusus dan rebahan disebelahnya.
"Aku merasakan sesuatu yang buruk, mengusikku dari tadi." Ucap gadis itu yang menjadi topik pembicaraan mereka kali ini. karma langsung menaruh seluruh perhatiannya ke Ai.
"Tepatnya, firasat buruk tentang apa?"
Ai mengangkat bahunya. "Setelah Koro-sensei bicara tadi pagi, dan aku keluar dari kelas, aku sudah punya firasat buruk. Benar benar uncomfortable."
"Lalu? Bagaimana?"
Gadis itu mengangkat bahunya. "Entah. Akhir akhir ini aku juga merasa tidak enak badan. Mungkin juga perasaan tidak nyaman itu karena ini."
"Oh, aku tahu kenapa kau tidak enak badan: kurang tidur."
Ai terdiam dan menyentuh area bawah matanya. "Apa kantung mataku terlihat?"
"Banget."
"Haah, biarkan saja deh. Aku memang suka bergadang." Ucapnya sambil cengengesan. "Dari kemarin aku berusaha mencari aplikasi untuk memasukan kode terkutuk itu."
"Hm? Bagaimana? Sudah kau temukan? Atau tidak?"
Gadis itu menggerang. "Terkutuk lah wanita tiga puluh tahunan itu."
"Hei, begitu- begitu dia itu ibumu."
"Wakata wakata,"
.
.
'….kakinya!...kakinya!...'
Kaki? Kaki apa? Mereka siapa? Dari suaranya, apa ibu?
'…tidak'
'…..kau…'
'jangan sentuh….. Hikaru!'
'maaf professor-… anak mu kehilangan banyak darah-'
'…cara satu satunya'
Ibu? Kau dimana? Ke-kenapa mata ku tidak bisa dibuka?
'ini….. demi kebaikan dirinya sendiri-'
Ibu!
.
.
.
.
"…Hikaru- oi bangun!... hey!"
Ai segera membuka kelopak yang menyembunyikan manik kelamnya. Ekspresinya terlihat kacau dan sedikit ketakutan. Beberapa peluh menetes dari dahinya.
"Eh, ini dimana?"
"…" Karma menepuk dahinya. "Kau ini, memangnya mimpi apa sih? Ini masih disekolah. Sebenarnya bel pulang sudah berbunyi dari tadi, dan kau tidak bangun bangun. Asal kau tahu, dari tadi kau melantur seperti 'kaki apa?' 'ibu?' begitu. Aku bingung apa hubungan kaki dengan ibu mu."
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menutup sebelah matanya. "Emm, etto, aku lupa. Mimpinya terasa samar." Jelasnya. "Tapi, sepertinya aku mendengar suara ibu ku."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia.. ugh, lupa."
Karma menutup buku yang tadi ia baca dan memasukannya ke dalam tas. Ia menyerahkan tas Ai kepada pemilknya. "Ayo pulang, sekarang sudah sore." Gadis itu mengangguk.
"Nee, Karma-kun, di rumahmu ada siapa?"
"Hm? Aku sendirian. Ada apa?"
"Aku menginap dirumah mu, boleh ya? Tidur disofa saja tidak apa apa kok."
"…"
"Aih? Kok diam? Kenapa? Tidak boleh ya?"
"…Kenapa kau tidak pulang saja kerumah mu? Kutemani sampai kau tidur deh."
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Boleh tidak? Sehari saja. Lagi pula besok 'kan libur,"
Karma menghela nafas panjang.
"Aku yang buat makan malam."
"Deal."
Ai tersenyum senang. "Ah, Karma kau seperti anak kecil, mudah dibujuk."
.
.
.
.
Sebelum kerumah Karma, pemuda itu meminta agar Ai mau menemaninya pergi ke super market untuk membeli beberapa bahan makanan.
"Kau yang pilih, aku yang bayar. Aku tidak tahu kau mau masak apa, jadi kau cari sendiri ya."
Ai mendengus. "Ini namanya aku juga yang belanja." Gadis itu menyerahkan keranjang belanjaan merah yang ia pegang ke Karma. "Tapi kau yang bawa barangnya."
"Ya, ya tuan putri." Ai nyengir.
Mereka berdua menyusuri rak-rak bumbu instan dengan tangan Ai yang terjulur ke etalase memilih- milih bumbu. Ia mengambil sebuah bumbu kare instan, dan menyusul Karma yang berjalan menuju rak bagian sayur. Pas sekali, mereka bertemu dengan seseorang.
"Konnichiwa, Isogai-kun!"
Si ketua kelas yang dipanggil menoleh kebelakang, dan menemukan dua rekannya sedang belanja bersama.
"Oh, Aikawa-san, Konnichiwa. Sedang belanja juga?"
Ai mengangguk. "Kau terlalu formal ah. Aku lebih suka kalau dipanggil Hikaru."
Isogai hanya tersenyum. "Hai, hai. Ngomong ngomong, kalian kok bisa belanja berdua? Janjian kah?"
"…" Karma hanya bisa diam mendengar pertanyaan temannya itu. Sedangkan Ai bersikap normal normal saja.
"Ah, ini, rumahku sedang kosong sekarang, jadi aku mau main kerumah Karma! Tadinya sih, dia tidak mengizinkanku main kerumahnya, tapi kusogok dengan makanan, ia menyetujuinya." Jelas Ai dengan wajah watados. Yang namanya disebut sebut hanya bisa melongo. "Kekanak kanakan, ya?" Isogai tertawa kecil.
"Yang sifatnya kekanakan itu kau. Alasan sebenarnya kau mau main kerumahku karena rumahmu kelewat sepi jadi mirip rumah hantu 'kan?"
"Eeeh? Mana ada! Kau yang ngarang tau."
"Tch, bocah, jangan mengelak. Mau kau kukunci dirumahmu dan kuputuskan aliran listriknya hah?"
"… coba saja kalau berani!"
"Kau pasti tau aku mampu melakukannya."
Isogai yang dari tadi diam, berhasil menghentikan cek-cok kecil mereka berdua. Hanya dengan satu kalimat.
"Kalian ini adu mulut melulu ya? Kalian berdua mirip sekali seperti pasangan yang mesra."
"…"
"…"
'Mesra dari mananya Isogai.' Batin mereka berdua nelangsa.
"Oh iya, apa kalian sudah mempersiapkan barang barang untuk ke Hokkaido?"
"Eh? Kita akan trip ke Hokkaido?! Wasureteta! Aku belum siap siap lagi?"
"Hah? Bisa bisanya kau lupa dengan trip itu! Padahal kau sendiri yang dari tadi siang kelabakan tau!"
"Yosh!" Ai dengan cepat mengambil beberapa kentang dan wortel lalu dan segera pamit kepada Isogai. "Mata nee, yuuma-kun!" Ia melambaikan tangan ke Isogai dan langsung kabur begitu saja meninggalkan Karma.
Pemuda bersurai merah itu menyiritkan dahinya dan mendekati sang ketua kelas. Ia membisikan beberapa kalimat.
Isogai tertawa kecil.
"Aku tau kau menukainya, Karma-kun. Kejarlah dia dan jangan pedulikan aku. Sepertinya ia juga menyukaimu."
.
.
.
.
Sebelum lurus kerumah Karma, dengan cengengesan Ai meminta Karma agar mampir sebentar kerumahnya. Tak sampai lima belas menit, Ai sudah kembali dengan menenteng dua koper besar dan sebuah tas tangan. Karma dapat menebak apa yang akan gadis gila itu katakan dan benar.
"Sampai hari keberangkatan, boleh kah aku menginap dirumahmu?
Karma hanya menunjukan wajah malas dan mengangguk kecil. "Terserah, asal kau tidak nyampah dirumah ku, oke?"
Ai mengacungkan ibu jarinya. "Sip, tenang saja,"
Mereka berdua berjalan dengan hening. Karma membantu membawakan koper Ai yang lebih besar dari satunya- dengan diimingi double scoop es stroberi.
Sesampainya Karma mengantarkan Ai ke kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari kamarnya. Masih tersisa dua setengah jam sebelum waktu makan malam, jadi mereka berdua memutuskan untuk bertukar cerita.
"Tapi aku tidak punya cerita yang menarik,"
"Apapun itu! Kau bisa ceritakan! Atau mau aku duluan yang cerita?" Karma menagangguk "Tapi cerita apa? Kau boleh request apapun deh, nanti akan kuceritakan."
Karma terdiam sebentar lalu kembali membuka bibirnya.
"Aku yakin sekali, igauan tadi siang ada hubungannya dengan kaki mu itu. Bisa kau ceritakan sekaran juga?"
Ai mematung lalu mengambil nafas panjang. "Yaa, waktu itu aku juga pernah janji akan menceritakan ini 'kan? Ya mungkin sekarang bisa ku ceritakan. Ini bukan cerita yang pantas untuk selamanya diingat sih," Karma hanya mengangkat alisnya bingung sementara gadis itu mulai bercerita.
"Ibuku pernah bilang waktu umurku sekitar tiga tahun- dan juga pada waktu itu aku dan ibu sedang naik penerbangan menuju Florida. Kau pasti bisa menebak kelanjutannya."
"Pesawat yang kau tumpangi… jatuh?" Ucap Karma dan Ai mengangguk.
"Aneh- ajaibnya, dari sekitar seratusan penumpang yang selamat hanya dua orang."
"Kau, dan ibumu?"
"Iya. Waktu itu, turbelensi di pesawat sangat kuat. Dan kecelakaan pesawat juga terjadi saat malam hari- saat nyaris seluruh penumpang menutup matanya. Aku dan ibuku masih terjaga. Entah karena apa." Ai mengepalkan tangannya dan membukanya perlahan. Terdapat bekas kuku ditangannya karena kepalannya yang kuat.
"Sewaktu aku hendak tidur, pesawat berguncang. Pertama hanya guncangan kecil- lama kelamaan menjadi besar sekali. Suara gemuruh yang sangat memekakan telinga juga terdengar. Tiba- tiba pesawat kehilangan arah dan jatuh kebawah."
"Badan pesawat bagian belakang- entah dari apa langsung terbakar hebat. Ibu langsung mendekapku dan aku hanya bisa memejamkan mata ku."
"…lalu?" Tanya Karma dengan hati- hati.
"Kata ibu aku pingsan. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di ruang rawat laboratorium ibuku dengan otak yang kacau dan.." Ai mengusap betis kanannya perlahan. "-kaki palsu ini."
"..begitu? tapi apa maksud dari 'otak yang kacau'?"
"Aku amnesia karena koma selama hampir satu tahun. Tapi begitu bangun, entah dari mana otakku jadi lebih pintar. Yokatta, padahal dulu aku tidak begitu pintar loh." Ucapnya sambil mengusap dada lega.
"Tapi sikap anehmu itu tidak itu hilang ya? Sayang sekali." Ucap Karma bercanda. Ai mendelik.
"Ibuku juga bilang, semua penumpang meninggal dengan luka bakar yang banyak. Beberapa juga terkena tusukan dari puing pesawat yang tajam. Dan, ya.."
"Yaa?"
"..ya, mungkin karena sekalinya ibu, ya ibu. Beliau terkena luka lebih parah dari ku. Tulang kaki kanannya patah- bahkan tangan kanannya perlu diamputasi. Dipunggungnya terdapat banyak luka bakar. Tapi hebatnya ia berhasil menggendongku yang sudah sekarat ini ke rumah penduduk terdekat,"
Karma tersenyum. "Seperti yang kubilang, Hikaru. Semua ibu memang menyayangi anaknya,"
"Iyaa, dan akhirnya aku sadar juga kenapa ia memasangkan alat aneh ini di tubuh ku." Ai menghela nafas dan tiba- tiba menyiritkan dahinya.
"Doushitano? Ada tambahannya lagi?" Tanya Karma.
"Ah, iie, hanya saja aku teringat yang pentingnya, ini pertanyaan yang sangat mengangguku.. entah kenapa,"
"Huh?"
"Aku sangat mengingat kejadian sebelum kecelakaan itu. Aku masih ingat bagaimana rasanya naik 'lantai berjalan' di bandara atau jembatan penghubungnya, tapi anehnya kenapa aku tidak mengingat bagaimana rasanya kecelakaan itu? Aku sangaaat tidak ingat apa saja yang terjadi dalam pesaat itu. Hanay dibagian itu."
"Mungkin ibumu memberi sedikit obat 'pelupa'?"
Ai terdiam lalu menggelang. "Kalau aku diberi obat, mengapa pas sekali dibagian kecelakaannya yang hilang? Ini aneh sekali!"
"Memang sih, agak aneh. Tidak mungkin juga ada obat yang bisa memotong memori pikiran dengan rapih sepeerti itu. Tapi ibumu adalah ilmuan 'kan? Dari 'kunjungan'ku ke gudang sains milik ibumu dapat disimpulkan bahwa tangan ibumu memang sangatlah hebat. Bisa jadi kan kalau ia membuat alat macam itu?"
Ai hanya bisa diam sambil mencerna perkataan Karma dan mengolahnya didalam otaknya itu. "Opinimu bisa jadi benar, Karma-kun. Terimakasih! Nanti malam akan kupikirkan lagi." Ucapnya sambil mengetikan beberapa kalimat dilayar miliknya.
"Oh ya, besok hari libur kan? Kalau begitu kau mau menemaniku ke salon tidak?"
"Hah? Buat apa?"
Gadis itu memegang helaian ikal kelamnya yang dikuncir samping. "Aku mau merubah rambutku menjadi lurus. Soalnya dengan ikal begini jadi cepat sekali mengembang. Itu sangat merepotkan. Kau mau menemaniku? Sepertinya tidak akan lama."
"Aku tidak yakin meluruskan rambut panjang mu hanya memakan sedikit waktu."
Ai tertawa kecil. "Tidak mungkin aku meluruskan seluruh rambut ikalku yang panjang ini Karma-kun. Akan kupotong dulu sepuluh senti. Dengan itu tidak akan begitu lama 'kan?"
Pemuda itu menghela nafas panjang. "Ya asalkan skup eskrim ku bertambah aku tidak mempersalahkannya."
Gadis itu tersenyum tipis. "Doumo arigato Karma-kun. Ayo ke dapur, akan kubuatkan kare spesial unutk makan malam."
"Doita,"
.
.
.
.
Ingin rasanya Karma mengutuk gadis yang 'baru saja' masuk ke dalam salon enam jam yang lalu. Catat. Didalam salon selama enam jam. Padahal kemarin sore gadis itu sendiri yang bilang tidak akan lama.
Dari tadi Karma hanya bisa mengitari taman terdekat dan konbini untuk beli popsicle. Batrai ponsel sudah sekarat, mp3 lupa dibawa, dan uang sudah tiris. Tadinya ia berniat untuk masuk saja kedalam salon dan meminjam uang kepada Ai. Tapi tadi ia mendengar pegawai salon yang berbisik- bisik aneh. ('jadi pemuda itu pacarnya gadis manis itu ya? Kyaa benar benar serasi!' seperti itu. Ia jadi malas dan lebih baik keluar saja)
"O-ma-ta-se-shi-masu-ta-ka, Karma!"
Karma berbalik dan menempati seorang gadis berhelaian hitam kelam lurus. Oh, rupanya Ai.
"Kau.. Ai yang kukenal, kan? Uso, ini beda sekali!"
"HidoiI! Eh, tapi perbedaan yang bagus bukan? Ha! Sudah kuduga potongan shaggy tidak buruk untukku."
Ai meluruskan rambutnya (mungkin) permanen- dengan potongan shaggy. Poninya yang tadi sepanjang pipi menjadi sejajar dengan tulang selangkanya. Hasil rambut Ai termasuk rapih dan tidak terlihat kaku, walau terlihat sedikiit kering.
"Ya, tidak begitu buruk juga sih, demo,.."
"Hmm? Ada apa?"
"-kesanmu yang biasanya mirip bocah- atau mungkin memang bocah jadi hilang dan berubah menjadi.. dewasa? Seperti itu lah,"
Ai mengerucutkan bibirnya lalu tersenyum simpul. "Jadi maksudnya, aku yang dulu itu kawaii, gitu? Ah tentu saja aku memang lucu!" Ucapnya sambil mengibaskan tangannya ke wajah Karma.
"Ah, terserahlah apa katamu aku tidak peduli," Ucapnya seraya mengembangkan sedikit senyuman. "Oh iya, pokoknya kau harus membelikanku eskrim sekarang juga."
"Boleh boleh, ayo kita ke taman sana! Kubelikan es!"
"Kenapa taman?"
"Tidak apa- apa, sudah lama sekali aku tidak ke taman!" Ucap Ai girang sambil merapatkan jaketnya. "Hwaaa! Dingin sekali! Padahal ini 'kan baru akhir- akhir musim gugur,"
Karma mengangguk. "Yaa berarti musim dingin tahun ini akan menjadi sangat dingin," Jelas Karma sembari menggosok- gosokan tangannya agar hangat.
"Nee, nee, Karma-kun, boleh aku pinjam tanganmu?"
"Hah? Buat apa?"
"Sudah sini," Ucap Ai dan langsung menarik tangan pemuda itu dan menempelkan pada kedua pipi chubbynya. "Aahh~ kimochi. Tanganmu hangat sekali Karma-kun,"
Karma hanya terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Dengan asal ia menjawab.
"Ucapanmu yang tadi: 'ah~ kimochi,' itu sangat menghayati loh," Ucap Karma lalu tertawa. Ai membulatkan matanya dan meninju pipi Karma.
"Karma-kun no ecchi!"
.
.
.
AN: maaf kalau alurnya kecepetan. Mulai chapter depan udah (hampir) masuk inti masalahnya kok. Then maaf yak arena ga apdet apdet. Sumpah, paduan wb-tugas rl yang numpuk-ga mood megang leppy itu sungguh sangat hiddoi! Saya juga punya projek ff fandom lain soalnya. Hiks.
Kalau berkenan, silahkan tinggalkan footprints anda di kotak review. Saya usahakan chapter depan gak ngaret
