A/n untuk chapter ini maaf yaa lama banget updatenya. Dari kemarin nyanee ngubek-ngubek internet buat nyari informasi tentang kereta yang nyebrang antar pulau –awalnya nyanee kira kereta antar pulau adanya di Eropa doang, ternyata di Jepang ada. Makanya nyanee puyeng sama chapter ini. tadinya di chapter ini dibuat mereka pake naik kapal segala. Dan nyanee tau kereta Tokyo-Hokkaido ini baru KEMAREN malem. Yak. Kemaren malem. Tanggal 17. Makanya nyanee ribet sendiri ngerombaknya mau bagaimana :(
.
.
"Nee, nee, Karma-kun, boleh aku pinjam tanganmu?"
"Hah? Buat apa?"
"Sudah sini," Ucap Ai dan langsung menarik tangan pemuda itu dan menempelkan pada kedua pipi chubbynya. "Aahh~ kimochi. Tanganmu hangat sekali Karma-kun,"
Karma hanya terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Dengan asal ia menjawab.
"Ucapanmu yang tadi: 'ah~ kimochi,' itu sangat menghayati loh," Ucap Karma lalu tertawa. Ai membulatkan matanya dan meninju pipi Karma.
"Karma-kun no ecchi!"
.
More than a match partner By nyaneenia
Romance, friendship. Teen. OOC, tidak sesuai dengan manga, karma x OC.
Time set: sehabis pulang dari pulau selatan Okinawa, summer- kelulusan, winter.
Standard warning applied- nyan~
.
Akhirnya hari yang kelas E tunggu- tunggu tiba juga. Lembaran kisah petualangan kelas E akan terbuka lagi, dengan tambahan satu karakter lagi di dalamnya; Aikawa.
Para penghuni kelas E telah stand by di Stasiun Ueno, menunggu dua orang guru mereka yang belum datang. Koro-sensei dan Bitch- sensei.
Perjalanan kali ini mungkin akan jadi yang terpanjang bagi angkatan 3 Kunugigaoka. Untuk sampai ke Provinsi Hokkaido, mereka menggunakan transportasi jenis kereta bernama Hokutosei. Perjalanan ditempuh dengan total waktu kurang-lebih 16 jam. Karena waktu tempuhnya sangat lama, Kunugigaoka mengambil jam kereta malam. Perjalanan dimulai jam dua siang. Namun para murid diminta untuk siap satu jam sebelum berangkat.
"Haah, ini sih, sebelas- dua belas dengan trip kita yang dulu ya," ucap Maehara sambil menguap kecil.
"Haha, iya kau benar Maehara-kun, kita dapat kereta kelas biasa lagi," tambah Rio masam. "Benar- benar sama."
"Ah, tidak juga. Sekarang 'kan sudah ada tambahannya; Hikaru," koreksi pemuda-poni-belah tengah.
"Oh, jadi dari dulu kelas kita memang mendapatkan fasilitas yang jelek?" tanya Aikawa. Rio mengangguk. "Yaah, nasib kita memang buruk ya,"
"Ah iya, apalagi waktu wisata ke Okinawa beberapa bulan yang lalu ya, itu sangat mendebarkan!" tambah Kayano yang tiba- tiba nimbrung. "Ohayo!"
"Ohayo. Tas mu kelihatan lumayan besar. Kau isikan apa sih?"
"Oh ini?" ulangnya sambil menepuk backpacknya. "Timbunan pudding seminggu! Rasa coklat dan stroberi!"
Nagisa, Rio, dan yang lainnya sweatdrop berjamaah. Memang teman kepala toscanya itu sangaat menyukai pudding segala rasa.
"Nee, Hika-chan, Karma-kun mu mana? Kok dari tadi tidak kelihatan?"
"Oh, kalau tidak salah Karma tadi beli minum di vending machine. Dan Rio, hilangkan kata-mu dibagian 'Karma-kun mu mana.'"
Rio mengibaskan tangannya di depan wajah. "That was a joke,"
"I know," balasnya dan duduk di kursi tunggu. Tak lama, Karasuma-sensei datang.
"Minna, sebentar lagi keretanya akan berangkat. Lebih baik kalian masuk dan duduk sesuai kelompok kalian!"
"Tunggu Karasuma-sensei! Karma-kun belum kembali ke sini, lagi pula Koro-sensei dan Bitch-sensei juga belum datang,"
"Ya, baiklah kita tunggu lima menit lagi. Jika Karma belum kembali-terpaksa ia ditinggal. Begitu pula dengan Koro. Dan untuk Irina," dahi Karasuma berkedut. "jika ia datang dengan menggunakan kostum seperti kemarin, tendang saja ia ke rel kereta."
Para murid sweatdrop untuk yang kedua kalinya. "Wakatta,"
.
.
.
Di dalam kereta.
Kelompok Aikawa, yaitu kelompok tiga sudah duduk di kereta dengan anteng-ralat, sama sekali tidak anteng. Ai, Rio, dan Karma bermain kartu dengan heboh, Maehara sibuk chatting-an-entah dengan siapa, Hayami dan Chiba memeriksa alat mereka (yang sesekali mengeluarkan bunyi bising), dan Nagisa sedang menulis rencana cadangan pembunuhan di bukunya-yang merupakan kegiatan paling jaim di antara mereka bertujuh.
Ai menepuk dahinya kencang sampai berbekas kemerahan lantaran ia kalah main kartu. Karma dan Rio pun berduel, dan gadis berhelai tembaga itu hanya bisa gigit jari -tidak ada kerjaan. Ia menoleh ke arah Nagisa.
"Ne, Nagisa, kau rajin juga ya… mau mencatat semua rencana pembunuhan sensei sekaligus cadangannya,"
Dengan fokus yang masih sepenuhnya diberikan kepada bukunya, Nagisa hanya melirik kecil ke arah Ai dan mengulas senyum tipis. "Ah, terimakasih. 'kan seperti kata pepatah, Hikaru-san. Kita harus bisa belajar dari masa lalu."
Ai menyiritkan dahinya. "Masa lalu? Memang ada apa? Ada apa dengan pembunuhan yang lalu? Setahuku dari semua percobaan pembunuhan sensei belum pernah ada yang berhasil. Dan kalau sudah, tidak mungkin 'kan dia ada di situ," ucapnya sambil mengacungakn telunjuk ke arah Koro-sensei dan mengingat- ingat kejadian hari lalu.
Nagisa mengibaskan tangannya perlahan. "Bukan, bukan itu. Maksudku waktu liburan ke Okinawa. Waktu itu kami nyaris membunuhnya," jelas Nagisa dan kembali menulis. "Ya, wajar sih kalau kau tidak tahu,"
"Sou? Baiklah, kita tidak boleh membuat kegagalan yang sama untuk kedua kalinya!" Ai mendekatkan dirinya ke Nagisa. Ia mengambil tasnya dan mengeluarkan beberapa kertas dan juga pensil. "Untuk itu, aku akan membantu mu,"
Lengkungan di bibir Nagisa makin membentuk. Ia mengangguk senang. "Un, arigato ne, Hikaru-san,"
"Oh iya, Nagisa, Nagisa," Ai memelankan suaranya dan menunjuk Karma. "Boleh aku bertanya? Tentang Karma."
"Uh? Ada apa? Bukannya kau dekat dengan Karma? Harusnya kau bisa bertanya langsung padanya dong,"
"Ah," Ai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak enak kalau aku langsung tanya ke dia. Jadi lebih baik aku tanya saja padamu," ujarnya dan mengambil permen tawaran dari Hayami.
"Kau bisa sebutkan hal nekat yang Karma lakukan selain menghajar gurunya sendiri?"
Nagisa berhenti menulis dan menutup bukunya. Ia memasang tampang berfikir. "Oh soal itu. Perlu kusebutkan berapa nih? Banyak hal nekat yang ia buat kok,"
"Satu saja," tukasnya cepat. "Yang palingg nekat."
"Kalau itu ada. Bahkan aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri."
"Wow, ceritakan."
Nagisa memejamkan sebelah matanya dan menyender. "Waktu itu, aku dan Karma-kun sedang mengobrol di pinggiran jurang. Ia menanyakan beberpaa hal yang menyangkut Koro-sensei. Tak lama kemudian, sensei datang dan menasehatinya. Karma membalas Koro-sensei, dengan sebuah pertanyaan.."
"Satu?" Nagisa mengangguk.
"Yaitu; 'apakah kau akan mengorbankan nyawamu hanya untuk salah satu muridmu?' begitu."
Ai membuat gesture 'oh' di bibir dengan raut setengah penasaran. "Pasti balasannya 'tantu saja' 'kan?"
Nagisa mengangguk lagi. "Karma kembali berbicara; 'maka aku bisa membunuhmu. Dengan pasti.' Mau tahu apa yang selanjutnya Karma lakukan?"
Gadis lawan bicaranya mengangguk semangat. "Karma langsung menembakinya brutal?"
Nagisa mengibaskan tangannya. "itu sih tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang Karma-kun ajukan," ujarnya. Ai bergumam kecil. "Tanpa basa-basi, ia langsung berdiri membelakangi jurang, dan terjun kebawah,"
Bibir Ai terbentuk 'o' bulat yang besar. Dan tak lama, refleks suaranya meninggi. "Uso!" yang membuat beberapa pasang mata tertuju padanya.
Gadis itu menangkap suara baritone yang familiar. "Apanya yang 'uso', Hikaru?"
Ai dengan cepat menggelengkan kepalanya dan mengibaskan tangannya ke arah wajah Karma. Rupanya pemuda itu sudah selesai main kartu dengan Rio –dan ia keluar sebagai pemenang.
"Bukan apa-apa!" ia tertawa garing. "Sumpah bukan apa-apa!" Karma hanya mengangkat bahu bingung, dan menantang Rio bermain kartu lagi (dengan syarat yang Rio berikan; pemenang berhak mencoret wajah yang kalah dengan spidol)
Ai kembali memandang Nagisa dan berucap dengan suara kecil. "Jadi, apa cerita itu masih ada kelanjutannya?"
Nagisa mengangguk kecil. "Koro-sensei dengan sigap langsung terjun, dan membuat jarring dari tentakelnya. Sepertinya ia sempat membicarakan beberapa hal dengan Karma –yang tidak aku tahu." Nagisa menghela nafas. "Sesampainya mereka diatas, Koro-sensei malah bilang 'membiarkan mu mati bukanlah pilihan. Maka, kau bebas loncat kapanpun kau suka'. Begitulah."
"Untuk bagian terakhir, apa hanya berlaku untuk Karma?"
Pemuda itu mengangkat kedua bahunya. "Mana kutahu.." lalu ia menyadari arti ucapan gadis di hadapannya. "Jangan bilang kalau kau mau ikutan lompat ke jurang. Jangan gila, Hikaru."
Hikaru tertawa kecil. "Ah ketahuan –eh, tidak, maksudku tidak kok,"
Nagisa hanya mendengus dan mengulas senyuman tipis. "Kau jangan sampai berbuat yang kelewat nekat loh, Hikaru-san."
"Iya aku tahu kok, Nagisa-chan~" Ai dengan usil mencubit pipi Nagisa dan terkekeh.
"… aku baru sadar, ternyata setan pengganggu di kelas yang tadinya dua bertambah satu."
.
.
.
"Ah, perjalanan kali ini sangaaat panjang ya." Ucap Isogai.
"Iya kau benar Isogai-kun," Nagisa memebenari. "Kalau naik pesawat pastinya akan lebih cepat sampai ya."
"Pesawat?!" seketika ketua kelas E ini duduk tegap. "Tidak, tidak! Kalau kita naik pesawat otomatis biaya yang akan dikeluarkan lebih banyak! Tidak bisa!"
Nagisa hanya diam tidak menanggapi. Namun diam-diam ia mengiayakan ucapan Isogai. Pemuda itu menghadap ke arah jendela dan menyangga dagunya. Ia baru sadar kalau kegelapan malam mulai datang. Terlihat dari warna lembayung yang menghiasi ufuk barat. Ekor matanya melirik kecil ke sebelah kiri. Rupanya ada Ai yang berpose sama seperti Nagisa. Gadis itu merasa diperhatikan. Ia menoleh.
"Ada apa Nagisa?"
Nagisa mengangkat dagunya. Ia menggeleng kecil. "Tidak ada apa-apa, Hikaru-san." Jawabnya singkat. "Ngomong-ngomong, kau mulai memanggil namaku tanpa suffiks –kun ya,"
"Oh!" Ai menempelkan kedua tangannya di depan dada. "Itu tidak sopan ya? Maaf kalau begitu Nagisa-kun," ujarnya cepat. "Habis, biasanya kalau sudah dekat tidak perlu menggunakan suffiks 'kan? Eh, apa aku benar?"
"Bukan begitu, itu tidak masalah kok." Tukas Nagisa cepat.
"Hmm begitu toh. Kalau begitu, kau sangat teliti ya, Nagisa-kun!"
"Eh?" rupanya Nagisa bingung.
"Kau sangat peka pada hal-hal kecil seperti ini."
"Tentu saja Hika-chan~!" ujar Rio yang tiba-tiba nimbrung dan menyubiti pipi Nagisa. Sementar sang korban hanya bisa pasrah. "Karena ia adalah Nagisa kesayangankuu!~"
Ai ber-oh ria. Tak lama ia menyiritkan dahinya.
"Rio, ada apa dengan wajahmu?"
"Wajah? Wajah –oh." Nakamura Rio berhenti tertawa. "Karena Karma, si bengal sialan itu, aku kalah main kartu, ia mencoret wajahku dengan spidol. Ternyata spidol permanen. Huh." Ujarnya kesal dan menunjukan pipinya yang terkena 3 coretan.
"Memangnya kau kalah berapa kali?"
Gadis surai pirang itu mengeluarkan 3 jarinya. "Kalah tiga kali dari empat kali permainan."
"Jadi Karma-kun ikutan kena coret?" tanya Nagisa. Rio mengangguk. "Berapa coretan yang ia dapat?"
"Sesuai dengan perjanjian. Satu kali coretan dari lawan untuk yang kalah." Jawabnya cepat. "Ah sudahlah! Kenapa kau ditanya-tanyai?"
Ai mengibaskan tangannya. "Mungkin Nagisa-kun bercita-cita sebagai detektif. Oh iya, Rio kau mau beli minum?"
"Baiklah aku akan menemanimu. Di gerbong sebelah 'kan? Baiklah. Ada yang mau menitip?"
Karma mengangkat tangannya. "Aku mau jus stroberi. Hikaru tahu apa merek kesukaanku."
"Jangankan Hikaru, Karma," Rio tersenyum miris. "Seluruh penghuni kelas sudah tahu merek jus kesukaanmu apa. Jelas kau meminumnya setia hari."
Pemuda itu terkekeh. "Oke oke~ Nagisa-kun, kau tidak mau?"
"Aku cola saja."
"Baik." Ucap Ai. "Rinka, Kaede –ups mereka sudah tidur rupanya," ia memelankan suaranya. "Baik, tinggal Ryunosuke-kun dan Isogai. Kalian berdua mau minum apa?"
"Aku tidak haus. Lagi pula aku memebawa minum kok," ujar Isogai. Ai mengalihkan pandangan pada Chiba.
"Aku the saja, Hikaru-san."
"Baiklah. Jadi hanya jus stroberi satu dan teh juga satu. Harap pesanannya ditunggu sepuluh menit ya," ujar Ai menirukan pelayan. "Yuk Rio."
Mereka berdua berjalan perlahan di gerbong. Mayoritas teman-teman kelas E sudah terlelap di tempat tidur tingkat kereta ini. Wajar juga sih, karena waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.
Rio membuka pintu pembatas gerbong kelas E dengan gerbong masyarakat umum. Entah, gadis itu merasa para penumpang umum kompak sekali, menggenakan pakaian serba hitam begitu. Oh, tidak-tidak, itu wajar karena warna hitam sangat membantu disaat musim dingin, Rio membatin. Ah mereka juga kompak tidak tidur. Tapi mungkin juga karena mereka tadi sedang mengobrol dan menghentikan obrolan mereka ketika mendengar suara pintu yang dibuka.
Baru saja berjalan beberapa langkah menjauhi pintu pembatas –mungkin karena Ai sedang tidak beruntung, gadis itu malah jatuh terjembab.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rio sambil mengulurkan tangannya.
"Ah. Ceroboh sekali ya aku." Ujarnya. "Sakit sih tidak, tapi ini memalukan!" gumamnya kecil namun masih bisa ditangkap oleh Rio –yang malah dibalas dengan kekehan.
"Yang penting tidak sakit 'kan? Yasudah kita lekas beli minumannya." Gadis itu hanya mengangguk sebagai balasannya. Mereka berdua kembali berjalan menuju konter kecil penjual makanan kecil dan minuman, dan kembali secepatnya.
"Nee, Rio," Ai memanggil Rio dan sambil membuka botol yogurtnya. "Apa yang akan kau lakukan setelah membunuh Koro-sensei? singkatnya, apa impinanmu setelah kita lulus?"
"Hmm.. impian ya.. kalau cita-cita sih, aku ingin diplomat."
"Ah, bukan cita-cita, tapi mimpi. Seperti mimpi yang kemungkinannya kecil! Seperti kau ingin bisa menjadi putri duyung dan tinggal selamanya di dalam laut, atau memiliki rambut sepanjang delapan belas meter lebih seperti Rapunzel, begitulah,"
"Oh, aku mengerti." Rio meminum susunya dan berpikir. "Sepertinya… punya brand fashion yang mendunia! Tapi aku tak yakin bisa."
"Begitu kah? Menurutku kau bisa kok. Kau memiliki selera fashion yang lumayan. Kusarankan kau membuat butik –karena jahitan bajumu rapih loh. Buktinya, yukata waktu festival kembang api yang kau pakai itu buatanmu sendiri kan?"
"Oh yukata yang itu. Memang sih, aku menjahitnya sendiri. Tapi itu juga diberi instruksi oleh bibi-ku," jelas Rio. "Aku sudah menyebutkan mimpimu. Kalau mimpimu, bagaimana?"
Ai terdiam cukup lama sampai-sampai Rio tidak sabar. Saking lamanya, waktu yang Ai pakai untuk berpikir cukup untuk berjalan dari konter minuman sampai ke pintu pembatas gerbong kelas E.
"Sehat selalu." Jawab gadis beriris hitam itu secara singkat.
Rio menyiritkan dahinya bingung. Untuk menjadi tetap sehat, diperlukan gaya hidup yang sehat 'kan? Apa susahnya? Yaa tentunya disertai dengan doa sih, batin Rio. Gadis itu hendak bertanya maksud dari perkataan sahabatnya, namun dipotong dengan ucapan-kurang-ajar Karma. Rio hanya bisa menghela nafas karena Ai sudah masuk perdebatan dengan Karma.
"Lama."
"Idih! Harusnya kau berterimakasih, Karma! Bukannya malah komentar begitu!" Ai mendengus. "Tadi aku juga jatuh tau! Sekarang paha kananku malah nyut-nyutan begini. Padahal tadi tidak sakit," tukasnya sambil meringis. Tak lupa ia memberikan teh pesanan Chiba, yang dibalas pemuda itu dengan ucapan terima kasih. "Sama-sama Chiba-kun. Kau memang satu-satunya orang yang normal di kelompok ini." Puji Ai pura-pura bangga.
"Yaah, aku juga tidak mungkin memijatmu 'kan Hika-chan? Kau bilang sakitnya di paha. Nanti saja di penginapan." Rio berujar. "Kita istirahat saja bagaimana? Masih ada kok tempat tidur tingkat yang kosong di sebelah sana." Ujar Rio dan memberi direksi dengan jari telunjuknya. "Dan –wah, Nagisa-chan-ku sudah tidur."
Ai tersenyum dan mengiyakan ajakan Rio.
Gadis itu tidak tahu kalau dalam diam, sepasang iris temabaga terang itu selalu memperhatikannya dengan intens.
.
.
.
Ai hanya kuat memejamkan mata selama 10 menit.
Iya kuat. Ia merasa tidur kali ini susah sekali. Ini bukan insomnia. Ai hanya tidak biasa dan bisa tidur di atas jam tidurnya –yang berkisar antar 9. Dan kalau lebih dari jam tidurnya, ia berasa menjadi mahluk nokturnal untuk satu hari.
Gadis itu mengintip ke arah ranjang di bawahnya, tepatnya ke ranjang Rio. Gadis itu sudah terlelap dari tadi. Pasti ia benar-benar lelah.
Ai turun dari ranjangnya secara perlahan dan berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi deritan. Ia hanya memakai jaket rajut Kunugigaoka-nya asal dan berlari kecil ke arah kabin utama kereta. Berharap bertemu dengan satu-dua penumpang lain yang siapa tahu bisa diajak mengobrol. Tadinya Ai hendak pergi ke kabin khusus kelas E, namun dilihat dari kasur tingkat yang sudah penuh terisikan dengan gadis teman sekelasnya –dengan cepat Ai menyimpulkan sudah tidak ada lagi teman sejenisnya yang bisa diajak mengobrol. Lagi pula secara pribadi gadis bersurai hitam ini lebih menyukai kabin utama karena terdapat vending machine dan automatic coffee maker, juga bisa bebas berinteraksi dengan penumpang lain. Hitung-hitung tambah kenalan.
Sesampainya, gadis itu hanya bisa menghela nafas kecewa. Hanya ada seorang perempuan berjaket kulit hitam yang tertidur di sofa dengan buku berbahasa Jerman dipangkuannya. Ai memilih duduk di kursi-meja yang menghadap ke arah luar. Ia merapatkan jaketnya dan menekuk kakinya ke atas kursi. Dahinya ditempelkan ke pinggiran jendela yang dingin. Ah, andainya ada teman mengobrol..
"Hei Hikaru. Tidak tidur?"
Ai mendongakan kepalanya ke samping kiri dan mendapati Karma yang datang sambil membawa 2 kaleng minuman. Oh pantas saja tadi ia mendengar suara koin dan dentingannya. Karma menarik kursi di sebrang Ai dan duduk. Lalu, pemuda itu menjejerkan 2 kaleng minuman yang dibawanya ke depan wajah Ai. "Pilih wiener atau coklat?"
"Sudah tahu aku tidak bisa tidur malah ditawari kopi," ujar Ai. "Coklat tentunya."
Karma menyodorkan sekaleng coklat pada Ai –yang langsung gadis itu teguk. "Tapi 'kan ini kopi moka. Coklat bisa menambah lemak pada tubuh loh, apalagi musim dingin begini."
"Eh? Oh iya aku lupa!" Ai meletakan kaleng minumannya dengan keras ke meja. "Kalau begitu, aku pilih kopi moka saja."
"Hah? Mana bisa! Kau sudah meminum coklat mu! Sudah lah menjadi gendut sekali-kali itu bukan masalah."
"Ugh, terserahlah," gadis itu kembali meminum coklatnya dengan setengah hati. Volume coklat dalam kaleng itu bisa saja tandas dengan cepat jika Ai tak mengaduh kesakitan dan menghentikan minum.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Karma.
"… baik. Hanya, entah kenapa kaki kananku terasa sakit… bukan masalah besar. Sepertinya karena aku kurang banyak bergerak hari ini." Jawab sang gadis sembari memijat-mijat kecil kakinya
"Jadi kau harus banyak bergerak? Aneh,"
"Yaa, aku juga tidak tahu. Ibuku bilang ini demi kestabilan organ ku. Aku sudah pernah bilang bukan, aku memakai semacam penopang dalam tubuhku."
"Oh, itu, maaf aku lupa." Karma menimang kopinya, sebelum akhirnya kopi moka itu ia gulingkan ke Ai. "Untuk mu saja, kalau kau mau."
Eh? "Benar nih? Terima kasih," ucap Ai. "Tapi kau jadi tidak minum dong? Kalau mau minum punya ku nih –hehe bercanda."
Sejujurnya, benar deh, ucapan Ai yang tadi itu hanya bercanda. Tapi entah kenapa Karma (mungkin pemuda itu menganggapnya serius) malah meminum coklat kalengan Ai.
"Hmm," ia mengecap bibirnya. "Tidak kalah dengan stroberi. Sepertinya."
"…"
Karma melirik Ai. "Ara. Ada apa Hikaru?"
"… aku 'kan masih mau coklatnya, Kar. Enak tahu."
Karma menepuk jidatnya. "Ah, kukira apa. Beli saja sendiri."
"Heeeeh?" ucap Ai dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kemana Akabane-san yang ku kenal? Kemana?"
Karma tertawa kecil. "Dari pada kau berisik, baiklah ku belikan."
"Yatta!"
Perempuan bermantel hitam, yang duduk tak jauh dari sana memperhatikan mereka berdua dengan intens. Ia mendekatkan pergelangan tangannya ke bibir dan menggumamkan sesuatu.
"Ich sehe sie.[1]"
.
.
.
Sarapan dimulai jam 7 pagi.
Pelayanan Kereta malam ekspress Hokutosei sangat menyenangkan bagi Ai. Menurutnya, kasur bertingkat kamar kecilnya terasa nyaman –walaupun ia menghabiskan waktu malam dengan ngobrol dan main tetris dengan Karma.
Menu sarapan pagi mereka ada 2 jenis, dan Ai memilih yang pertama. Berisikan salad kentang, tomat bakar, telur orak-arik dan dua sosis keju. Sebenarnya gadis itu ingin sekali memilih menu kedua, yang terdiri dari nasi goreng dan Ikan Dori. Namun dirinya terlalu kenyang karena cemilan semalam. Untuk minuman ia meminta the hijau –karena sepertinya pencernaanya sedikit bermasalah. Salahkan karma dan 3 kaleng kopinya.
"Hikaru-san." Ai menoleh ketika mendengar suara Nagisa yang menyapa.
"Nagisa! Sini, duduk di sebelahku," gadis itu menepuk-nepukan kursi di sebelahnya. Nagisa menurut.
"Hikaru-san, aku dengar dari Nakamura-san kalau kau menghilang semalam. Kau kemana?"
"Aku tidak menghilang Nagisaaa. Semalam aku di sini, kabin utama sama Karma."
"Begitu kah?" Nagisa membelah sumpitnya. Ai mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kau sudah bertemu dengan Rio? Dimana ia sekarang?"
"Sepertinya ia ada di kabin kelas E bersama yang lainnya. Hanya kita bertiga saja yang di kabin utama."
"Begitu kah?" Ai melahap tomatnya. "Padahal lebih enak di kabin utama. Lebih luas,"
"Lalu apa gunanya kabin sendiri?"
"Ugh, aku menyerah! Kau yang menang!"
Karma hanya terkekeh mendengar debat kecil temannya. Tak lama, ia membuka ponselnya karena ada pesan masuk. Rupanya dari Koro-sensei.
"Nagisa-kun, Hikaru, cepat habiskan makanan kalian, Koro-sensei meminta kita untuk ke kabin E. setengah jam lagi kita sampai di Hokkaido. Ia meminta kita semua bersiap-siap."
.
.
.
Ch. 6 end~
[1] aku melihatnya.
.
(lagi) A/n Nyanee liat di K-on (eps. 14 s.1) walaupun jelas-jelas udah jam 1 siang, mereka tetap menggunakan sapan 'ohayo' bukan 'konnichiwa'
Btw, maafkan curhatan nyanee di atas TwT
Tapi emang kereta antar Tokyo-Hokkaido itu ada kok. Nama lainnya Cassiopeia. But unfortunately kereta warna biru ini dihentikan operasinya tanggal 24 agustus lalu gara-gara pemerintahan jepang rugi. Dan sebenarnya di kereta Hokutosei ngga ada kabin utama, atau kabin lainnya. Cuma ada kamar-kamar kecil yang isinya kasur bertingkat. Tapi demi kelangsungan cerita mari kita anggap demikian.
Dan terakhir, Reviewnya? *kedip-kedip*
