Kehidupan merupakan cerita. Manusia itu tokohnya. Dan alur adalah takdir dan nasib.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Drama.
Reated : T (Teenager).
Warning : Typo's, Alur yang tidak jelas, dan bahasa baku yang maksa.
"OMAEE?"
'Blettakkk.'
"Kau memanggil Nenekmu dengan omae, Naru-bo?"
"Go.. Gomen ne, Baa-chan."
"Apa kau akan terus menyuruh baa-chan berdiri di depan pintu seperti ini, Naru-bo?" tegur Neneknya.
Naruto segera menggeser tubuhnya yang semula menghalangi pintu. Ia mempersilahkan Neneknya masuk dan menghidangkan ocha. "Kenapa tiba-tiba Baa-chan datang ke mari?" Tanya Naruto. Ia meletakan cawan di depan neneknya dan duduk di depan wanita tua itu.
"Kau keberatan Baa-chan kemari?"
"Tidak. Aku hanya heran. Baa-chan tidak pernah mau meninggalkan Suna sebelumnya."
"Karena di sana aman." Naruto hanya terdiam. Neneknya selalu menjawab dengan hal yang sama tiap kali Naruto bertanya. Naruto bahkan bingung kenapa Neneknya mau melepaskan Naruto untuk bersekolah di luar Suna.
"Baa-chan kemari menggunakan shinkansen ? Atau pesawat?" Tanya Naruto mengalihkan topik.
"Dengan pesawat. Kyoto itu sangat jauh, Boya." Walau sebenarnya Kyoto tidak seberapa jauh dari Tokyo.
Naruto nyengir. "Kalau begitu Chiyo-baa chan mau makan sekarang? Sudah tengah hari. Baa-chan belum makan kan?"
"Apa kau sudah masak?" Chiyo berjalan menuju dapur Naruto. Perempuan tua akhir lima puluhan itu tampak tidak terlalu senang dengan keadaan apartemen Naruto. "Sempit sekali di sini?"
"Ini bukan wisma keluarga Kurokawa, Baa-chan." Kata Naruto.
"Baa-chan tahu itu. Kau belum masak? Mau Baa-chan buatkan nabe? Atau kare?" Chiyo membuka kulkas dan menemukan banyak sekali bahan makanan di sana. Lengkap dan tersusun rapi. Cucunya memang mandiri dan bisa diandalkan walau tinggal sendiri.
"Tidak perlu. Ayo makan di restoran Jepang saja, Baa-chan. Atau Baa-chan mau makan sushi atau sukiyaki?"
"Sushi kedengarannya bagus." Chiyo meraih tas tangannya. "Ayo, biar Baa-chan yang bayar."
"Benarkah? Yatta!" Naruto bersorak. Jarang sekali ia bisa makan sushi tanpa mengeluarkan uang sakunya sendiri.
.
.
Naruto menepuk perutnya yang penuh. Setelah puas berjalan-jalan ia dan Neneknya makan di restoran sushi terbaik di Yokohama. Tapi Neneknya hanya bisa berada di sini sebentar karena harus mengunjungi sanak saudara di Tokyo. Jadilah Naruto kini sendirian lagi di kamar apartemennya yang sepi.
Sebelum pergi tadi Neneknya mengatakan sesuatu tentang keadaan sekitar Naruto dan perihal kalung berbandul birunya. Naruto tidak begitu mengerti karena suasana bising stasiun di jam terakhir yang menuju luar kota. Tapi jika hal itu penting pasti Neneknya akan meneleponnya dan menyampaikan ulang pesannya.
Naruto baru menyadari kalau Neneknya tampak cemas pada sesuatu. Ketika ia berniat pergi ke stasiun kereta dan sirine malam berbunyi. Sirine yang selalu terdengar di kala senja turun itu menandakan area luar kota sangat berbahaya dan hanya kendaraan seperti bus kota, kereta, dan pesawat saja yang boleh melintasi daerah luar perbatasan.
Tentu saja ada para onmyoji yang berjaga-jaga di perbatasan kota. Mereka, yang tidak diizinkan ada di Suna, kota suci di Kyoto yang selalu dianggap surga bagi para Bakemono. Mereka merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perlindungan. Seperti melindungi dari binatang buas yang masih tidak jelas di luar perbatasan.
Binatang buas di luar perbatasan. Mereka disebuat Bakemono atau monster. Ukuran mereka berfariasi. Mereka seperti anjing atau kucing, tapi juga tidak seperti anjing maupun kucing. Biasannya jika bakemono di sekitar kota akan ada alaram yang akan berbunyi dan onmyoji atau agen-agen dari perusahaan itu yang akan mengurusnya.
Memikirkan hal itu membuat Naruto tersadar. Jangan-jangan yang menyerangnya di sekolah saat itu adalah bakemono. Tapi tidak mungkin bisa ada bakemono yang tidak terdeteksi. Biasanya jika ada reaksi Yokai sedikitpun akan ada alaram yang berbunyi dan agen onmyoji pasti datang.
Naruto menggelengkan kepalanya. Pusing memikirkan hal yang menimpanya akhir-akhir ini. Naruto menarik selimut futonnya dan merebahkan diri. Sudah pukul sembilan malam dan besok ia harus ke toko buku untuk membeli beberapa buku pelajaran. Juga pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas.
"Oyasumi." Guman Naruto entah pada siapa.
'Oyasumi.'
.
.
Siang hari yang menyengat. Mulai memasuki musim panas yang sebenarnya. Liburan, umi(laut), Suika(semangka), Obon, es serut, dan tanabata. "Natsu wa saikyo(Musim panas itu yang terbaik)." Itu yang selalu teman-teman Naruto katakan, walau Naruto sendiri menanggap musim panas sebagai musim yang berat. Tapi, kenapa?
Naruto mengibas-ngibaskan buku tulisnya untuk menciptakan angin dan menatap jendela dengan bosan. Akhirnya jam pelajaran kosong karena rapat guru. Beryukur akan hal itu karena jam pelajaran sejarah di tengah sinar mentari yang menusuk mata benar-benar membuat lelah dan mengantuk.
"Melamun lagi, Naruto?"
"Enak saja. Aku hanya mencoba fokus."
"Katakan itu ketika kau tidak seperti sedang kerasukan."
"Mana ada, baka."
"Terserahlah." Pemuda itu pergi meninggalakan Naruto di sudut kelas. Untungnya Naruto duduk di dekat jendela dan kursi paling pojok. Membuatnya terkadang bisa tidur tanpa ketahuan. Tapi jika itu guru matematika yang selalu mondar-mandir, Naruto hanya bisa pasrah.
Naruto melihat ke arah lapangan tengah. Ada enam orang yang tengah bermain basket 3 on 3. Beberapa diantara mereka berlari sempoyongan mengejar bola. Yang lainnya hanya berjalan dengan agak oleng karena panas. Pemandangan itu membuat Naruto sedikit heran. Tapi ketika ia melihat beberapa anak sedang melakukan taruhan di bawah pohon membuat Naruto menyeringai tanpa sadar. 'Aho.'
"Kau lihat apa?"
Naruto menoleh, mengira ada temannya yang bertanya kepadanya. Tapi tidak ada orang di sampingnya. Padahal Naruto yakin sekali tadi suara itu berasal dari sampingnya. Sedikit ngeri Naruto menepuk pipinya.
'Ayolah, ini baru awal musim panas dan aku sudah berhalusinasi? Yang benar saja.'
Naruto memilih untuk tidur sebelum panas mulai merusak otaknya.
.
.
Naruto menyantap hamburger di piringnya dengan lesu. Pada akhirnya hari berlalu terlalu cepat sampai-sampai liburan musim panas akan datang sepekan lagi. Naruto sudah berjanji pada Neneknya ia akan pulang ke Suna liburan musim panas ini. Tapi Naruto bena-benar malas. Musim panas di Suna sudah seperti neraka saja. Bahkan Okinawa tidak sepanas itu.
Kota yang gersang tanpa hutan atau bukit. Jalanan yang kering, begitu pula tanah lapang yang disebut sebagai taman kota. Hanya ada danau kecil di bagian luar kota sebagai mata air dan sedikitnya burung di langit kota. Masih segar dalam ingatan Naruto betapa parahnya musim panas di Suna. Padahal seharusnya kota dekat Kyoto itu beriklim hangat walau dimusim panas.
Terakhir kali ia menghabiskan musim panas di Suna tanpa pergi ke daerah lain, ia terkena dehidrasi parah hingga perlu di rawat di rumah sakit. Bahkan Dokter berkata Naruto seharusnya tidak berada di Suna lagi saat musim panas yang akan datang. Tapi toh Naruto tetap akan menghabiskan liburannya selama dua minggu di rumah Neneknya.
Suasana ramai restoran keluarga yang bising membuat Naruto agak pusing. "Aku harap besok hujan deras saja." Guman Naruto. Ia menatap langit berbintang yang cerah, tanda bahwa besok kemungkinan besar tidak akan turun hujan.
"Makan saja makananmu sebelum dingin, Naruto."
"Diamlah, Fuji. Kepalaku jadi bertambah sakit." Keluh Naruto.
Fuji hanya menipiskan bibir. "Kau ini.. Apa anemiamu bertambah parah?" walau sepintas, terlihat raut khawatir di wajah Fuji.
"Kau sudah menanyakan itu sejak kemarin di email, juga di sekolah, dan di rumah." Naruto mengerucutkan bibirnya sebal.
Fuji hanya mengendikan bahu dan melanjutkan memakan nasi karenya. Ia mengabaikan Naruto yang menatapnya dengan tatapan menuduh. Tiga bulan ia berteman dengan Naruto, tiga bulan juga ia tahu benar seperti apa tabiat si Kuning satu itu. Mungkin karena Naruto orang yang cukup sederhana.
Merasa jengah akhirnya Fuji bertanya juga. "Nani?"
"Bukan apa-apa."
"Kau mulai menyebalkan, Naruto." Katanya. Sepertinya dia mulai kesal. Fuji menghela nafas. "Jadi kau mau apa?"
"Nah," Naruto menyeringai. "Kau ikut aku ke rumah Nenekku di Suna ya? Tenang saja, biaya perjalanannya aku yang bayar."
"Aku menolak." Jawab Fuji cepat. "Maaf saja kawan, aku masih harus mengerjakan pr musim panas, mengikuti klub baseball, juga bekerja di toko keluargaku. Jadi nikmati saja liburanmu, kawan." Fuji bisa melihat kilatan kekecewaan di mata biru Naruto.
.
.
Naruto masih tidak percaya saat ini ia ada di dalam shinkansen menuju Suna. Tapi perasaan kesal dan kecewa dalam dadanya terasa begitu nyata, jadi ini tidak mungkin mimpi. Naruto menghela nafas kesal. Ia membuka kota bekal yang tadi dibelinya di stasiun dan sekaleng jus jeruk dingin.
Naruto mengabiskan kotak bekal seharga ¥460 itu dalam sekejap mata. Merasa masih lapar Naruto mengambil plastic berisi jajanan ringan yang tadi sudah dibelinya. Ia membuka penutus es krim dari susu sapi asli yang dibelinya.
"Ah.. Rasanya benar-benar parah.." Guman Naruto. Walau begitu ia tetap menghabiskan es krimnya sampai habis dan mengganti cemilannya dengan makanan ringan lain. Naruto sesekali menoleh menatap pemandangan di luar jendela. Tapi ketika semakin dekat ia dengan Suna, semakin sedikit Naruto menoleh. Bahkan ia terlihat sungkan hanya untuk melirik.
Kereta terus berjalan dengan sangat cepat. Dan hanya butuh empat jam perjalanan untuk sampai di Suna. Naruto mulai memasuki daerah gersang Suna. Bagian rel kereta yang sekarang dilewati Naruto termasuk daerah paling luar Suna, jadi pemandangannya masih hijau dan langit yang agak berawan.
Tapi Suna yang sesungguhnya benar-benar buruk. Beberapa orang menaggap kedaan bagian paling timur Kyoto itu adalah bekas tempat peperangan yang dibangun ulang. Naruto sendiri menganggap Suna seperti kotak besar yang mengurung semua orang di dalamnya. Termasuk juga dirinya sendiri.
Bunyi decitan keras terdengar memekakan telinga ketika kereta cepat itu berhenti. Naruto segera turun sebelum semua orang berdesakan turun dari shinkansen. Lautan manusia di stasiun Suna sudah mulai berkurang karena saat ini liburan musim panas dan hanya orang gila yang masih ingin bertahan di Suna.
Stasiun itu hanya terdiri dari bangunan tua yang entah bagaimana memberikan kesan moderen yang tidak cocok. Papan petunjuk jalur kereta terbuat dari layar holo model terbaru dan banyak robot petugas keamanan stasiun juga robot pembersih yang berlalu lalang.
Naruto berjalan mengelilingi stasiun kecil itu lalu berhenti berjalan ketika seorang pria tinggi besar melambai-lambai ke arahnya. "Naruto-dono."
"Baki-san." Naruto berlari menghampiri pria itu. Baki segera mengambil alih tas ransel besar Naruto dan semua bawaan pemuda itu.
"Syukurlah saya datang lebih cepat. Saya sudah mengira keretanya akan datang lebih cepat. Jadi, mari kita pergi sekarang, Naruto-dono."
Naruto berjalan mengikuti Baki dari belakang. Naruto sesekali mengedarkan padangannya ke daerah para pengunjung stasiun. Tanpa Naruto sadari Baki berhenti berjalan dan membuat dahi si pirang itu menubruk punggung lebar Baki.
"Baki-san?" Naruto mundur beberapa langkah. Mata birunya menangkap mobil hitam mewah yang terparkir sempurna di depan Baki.
"Silahkan masuk, Naruto-dono." Baki membukakan pintu mobil. Naruto masuk tanpa banyak bicara. Mobil itu langsung melaju membawa Naruto menuju wisma keluarga Kurokawa. Wisma itu cukup kecil, tentu saja jika dibandingkan dengan mension utama keluarga Sabaku dan mension keluarga Akasuna. Naruto pernah ke sana beberapa kali untuk berkunjung.
Naruto turun dari mobil dan berjalan memasuki bangunan utama wisma. Ketika ia berada di pintu depan, beberapa maid menyambutnya dengan sapaan yang biasa. "Okaerinasai, Naruto-sama. Senang melihat anda ada di wisma ini lagi." Kepala Maid segera menghampiri Naruto.
"Ah, Shimizu-san. Dimana Baa-chan?" Naruto membiarkan Shimizu mengambil alih kemeja dan tasnya, sekarang pemuda itu hanya mengenakan kaus tipis hijau gelap dan celana jins biru sepanjang lutut.
"Chiyo-sama sedang keluar, lima belas menit lagi mungkin beliau akan kembali." Jawab Shimizu. "Apa anda akan beristirahat dulu? Nyonya besar berpesan agar makan siang ditunda sampai beliau kembali."
"Terserah saja. Lagi pula aku tidak ingin keluar di tengah cuaca terik seperti ini. Kalau Baa-chan pulang segera panggil aku." Naruto berlalu menuju kamarnya. Ruangan yang sudah empat bulan lamanya ia tinggalkan. Ruangan itu masih sama, tetap bersih dan rapi seperti empat bulan yang lalu.
Naruto merebahakan diri di atas tempat tidurnya. Ia berguling-guling sampai seprai kasurnya menjadi berantakan. "Ah, jika Shimizu-san atau Baa-chan melihat ini mereka pasti akan mengamuk." Naruto menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Masa bodoh.
Angin dingin dari pendingin ruangan menerpa wajah Naruto, membuat anak laki-laki itu terbuai dan perlahan-lahan kesadarannya mulai menipis, dikuasai oleh rasa lelah dan mengantuk. "Besok, akan kuminta Baa-chan mengantarku ke ku.."
Naruto terlelap. Tangannya bergerak-gerak seolah ingin menggapai sesuatu. Ketika sebuah percikan cahaya jatuh ke tangannya lalu menghilang, tangan berkulit tan itu berhenti bergerak. Di dalam tidurnya, Naruto bermimpi indah.
.
.
Begitu bangun Naruto sudah terlelap hingga malam. Ketika langit sudah berubah hitam gelap, pemuda itu baru membuka mata. Naruto segera mengambil ponsel tipis di samping tempat tidurnya. Ponsel berbentuk persegi berbawa hitam itu menyala. Jam di sudut atas menunjukan pukul sembilan malam.
Naruto meletakan kembali ponselnya. Ia memilih mencari makan di dapur karena perutnya terus berbunyi semenjak ia bangun. Kamarnya benar-benar gelap, mengharuskan pemuda itu berjalan sembari meraba sekitarnya. Naruto menemukan pintu dan langsung membukanya.
Cahaya di depan kamarnya benar-benar terang, Naruto menyipitkan mata. Dapur wisma Kurokawa cukup besar. Terdapat dapur kotor dan dapur bersih yang terhubung dengan ruang makan. Ada meja bar tinggi yang membatasi dapur dan ruang makan.
Dindingnya terbuat dari batu granit yang sejuk berwarna coklat keemasan. Lantainya terbuat dari kramik berwarna putih dengan garis emas tipis membentuk bunga. Dapur itu cukup nyaman, dan satu-satunya ruang yang neneknya suka.
"Naruto?" Naruto menoleh dan melihat neneknya. Wanita paruh baya itu menatapnya lembut. "Lapar?"
"Begitulah. Kenapa Baa-chan belum tidur?" Naruto mendekati neneknya. Menuntun wanita itu duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan besar. Ruang makan glamor itu tampak sesuai dengan kesan neneknya, ketimbang apartemen sempit Naruto.
"Aku menduga kau akan bangun di jam ini. Jadi kucoba mengecek dapur dan dugaanku tepat. Aku akan membuatkan ramen kesukaanmu." Chiyo bangkit namun Naruto menahan bahu neneknya.
"Tidak perlu Baa-chan. Bagaimana kalau aku yang membuat dan kita makan bersama?"
"Dasar kau ini.." Kurokawa Chiyo tertawa. "Baiklah. Jangan lupa membuat acar lobaknya."
"Oke. Oke." Naruto berjalan ke dapur dan memasang celemek hitam yang ada di dalam laci. Ia mulai mengambil bahan di dalam lemari pendingin. Naruto memang bisa memasak. Tapi masakannya cukup biasa. Tidak terlalu enak, tidak terlalu buruk. Benar-benar rasa masakan yang biasa.
Naruto memanaskan air sembari memasak daging untuk menjadi toping ramennya. Ia membuat dua potong tonkatsu dan mulai merebus mie ramennya. Ia memasukan menma, telur, wortel yang sudah dicincang, dan sayuran lainnya.
Selama merebus itu semua Naruto menyiapkan acar lobak. Ia mencincang halus lobak dan menambahkan wortel yang sebelumnya sudah dicincangnya. Ia meneteskan cuka dan sedikit garam juga asinan plum.
"Selesai." Naruto menghidangkan ramen sederhana itu di atas meja makan. Aromanya langsung memenuhi dapur, membuat perut kosong Naruto berbunyi semakin keras.
"Sebenarnya lucu sekali melihatmu memasak sambil mendengarkan okestra dari perutmu itu." Chiyo tertawa halus.
Naruto mengembungkan pipi tidak setuju. "Itu tandanya cacing dan perutku masih sangat menghargai makanan, Baa-chan." Kata Naruto kesal.
"Baiklah-baiklah. Itadakimasu." Chiyo mengambil sumpit lalu mulai melahap ramen di mangkuknya. Mie itu direbus dengan baik. Tidak terlalu lembek dan tidak terlalu mentah. Kenyal dan lembut, mudah sekali digigit oleh gigi tua Chiyo. Daging di atasnya juga mudah di gigit walau di buat secara kilat tanpa persiapan terlebih dahulu.
"Ini benar-benar enak." Puji Chiyo. Naruto memang sudah bisa memasak sejak setahun yang lalu, tapi baru kali ini Chiyo memakan masakan cucunya itu. Bukan hanya karena Naruto pindah ke Tokyo tahun ini, tapi kesibukannya sebagai kepala keluarga Kurokawa membuatnya tidak sempat mencicipi masakan cucunya.
"Tentu saja. Ini ramen kebangganku." Naruto membusungkan dadanya bangga. "Kapan-kapan Baa-chan harus mencoba yang lainnya." Naruto sendiri mulai menghabiskan porsi ramennya yang tiga kali lebih banyak dari milik neneknya. Ramen itu habis dalam hitungan menit.
"Kali ini biar Baa-chan yang buatkan teh. Kamu ingin teh apa? Ocha atau Earl Grey?" Chiyo berjalan menuju meja bar, mengambil tea pot dan beberapa jenis teh juga dua cangkir yang terlihat mahal.
"Aku ingin red tea dengan wiski." Naruto duduk di kursi tinggi di depan meja bar. Selama Chiyo membuat teh Naruto menumpu kepalanya di atas lengannya yang terlipat. Pikiran pemuda itu melayang.
Naruto mengingat kejadian lima tahun silam dimana ingatannya terasa jelas. Ia pindah dari kediaman Kurokawa lama ke kediaman baru ini. Yang Naruto ingat dulu ia tinggal bersama ayah dan ibunya. Ia tinggal di kediaman cukup besar di luar Suna dimana Laut hanya berjarak lima ratus meter dari rumahnya. Ayah ibunya sering mengajaknya ke pantai di akhir pekan.
Nenek dan kakeknya juga tinggal di rumah itu. Tapi ingatannya terasa kabur. Neneknya bilang, ayah, ibu, dan kakeknya meninggal karena kecelakaan dan mereka sekarang tinggal berdua. Dan ingatan Naruto yang kabur dikarenakan kecelakaan itu.
"Naruto, ini tehmu." Neneknya meletakan cangkir berisi teh di depan Naruto. Cairan merah berbau wiski itu sedikit merilekskan bahu Naruto. "Tadi kau melamun, apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada." Naruto meraih cangkirnya dan mulai menyesap teh itu. Rasanya agak berat, namun tidak kental dan terasa manis juga pedas di lidahnya. Rasa panas langsung membakar tenggorokannya disebabkan oleh wiski.
"Jarang sekali kau mau minum red tea. Biasanya kamu akan meminta kopi susu." Chiyo sendiri menyesap red tea tanpa wiskinya. Wanita itu meraih bahu Naruto dan merangkul anak laki-laki pirang di sampingnya. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa Baa-chan. Aku hanya agak lelah setelah perjalanan. Dan kopi susu akan membuatku terjaga." Naruto memberikan alasan logis.
Chiyo menangguk mendengar penjelasan cucunya. "Baiklah, setelah tehmu habis segera pergi tidur. Besok pagi kita akan ke Lotus Hotel untuk menemui beberapa orang." Chiyo menepuk bahu Naruto. Membereskan cangkirnya dan cangkir Naruto lalu beranjak dari dapur.
"Baa-chan?" Naruto memanggil. Chiyo berhenti di ambang pintu dan menoleh.
"Ya?"
"Apa besok akan hujan?" Naruto bertanya.
"Tidak." Neneknya tersenyum geli. "Oyasumi, Naruto."
"Oyasumi, Chiyo-baa san."
.
.
Angin panas menampar wajah Naruto selepas ia turun dari mobil BMW hitam neneknya. Naruto segera menarik resleting jaketnya hingga menutupi wajah sampai ke bagian pertengahan hidungnya. Jaket bercorak tentara itu terlihat mencolok. Apalagi dengan celana kain orange terang dan sepatu kets pink bermotif macan tutul yang Naruto pakai.
"Apa-apaan dengan bajumu itu?" Chiyo terlihat terganggu dengan pakaian yang Naruto pakai. Biasanya cucunya itu hanya mengenakan kaus hitam, celana panjang jins, atau warna-warna netral dan gelap di rumah.
"Ini hanya tren masa kini, Baa-chan." Naruto tertawa, mengibas-ibaskan tangan kanannya. "Jangan pikirkan."
Chiyo menghela nafas berat. "Ayo masuk." Chiyo berjalan terlebih dahulu. Diikuti oleh Naruto lalu Baki dan kemudian Shimizu. Keempat orang itu bejalan memasuki hotel termewah di Suna. Sampai di lantai khusus yang terdiri dari hall, restoran mewah dan beberapa fasilitas lainnya.
Chiyo memasuki restoran milik salah satu pengusaha yang cukup terkenal di Jepang. Bahkan ada banyak usaha di bidang kuliner yang berada di bawah perusahaan ini. Restoran itu bergaya khas Cina dengan warna merah dan emas sebagai daya tarik utama.
Naruto berjalan dengan santai. Walau ia terlihat sebagai siswa miskin yang tidak memiliki apa-apa, tapi dia berasal dari keluarga kaya yang mapan. Jadi tempat mewah semacam ini cukup biasa bagi Naruto. Bahkan ia sering mengunjungi tempat-tempat semacam ini.
Chiyo berjalan menuju resepsionis dan mengatakan ia sudah memesan tempat sebelumnya. Seorang pelayan datang dan menunjukan ruangan yang Chiyo pesan. Ruangan itu merupakan tempat terpisah dengan pintu geser khas Cina.
Pelayan membukakan pintu dan memperlihatkan sebuah ruangan mewah dengan meja penuh makanan. Sudah ada beberapa orang di dalam ruangan itu. Sepertinya mereka merupakan sebuah keluarga. Keempatnya bangkit dan tersenyum kepada Chiyo dan Naruto.
"Min.. Yuusuke, Yuriko, lama tidak jumpa." Seorang pria bersurai coklat muda mendekati Chiyo. Matanya yang coklat muda terlihat hangat menatap wanita tua itu. Sedangkan yang wanita bersurai abu-abu langsung memeluk Chiyo.
"Maaf mengganggu anda di hari libur ini."
"Tidak masalah. Bagaimana kabar kalian, Yuichi, Yura?" Chiyo mendekati kedua anak yang sedari tadi terus menatap Naruto. Keduanya kemudian menoleh dan menatap Chiyo lama.
"Kami baik-baik saja, Chiyo-baa san." Yuichi menjawab sekenannya.
"Bagaimana kabar Baa-san sendiri?" Yura menuntun Chiyo untuk di kepala meja.
"Baik. Naruto ayo duduk. Biar aku kenalkan keluarga Tendo padamu."
Naruto duduk sesuai perintah neneknya. Ia duduk di antara Yuichi dan Yura. Keduanya sesekali melirik Naruto. Pemuda pirang itu sedikit bingung, karena baik Yuichi maupun Yura terlihat mengenalnya.
"Yang duduk di sebelah kananmu itu Tendo Yuichi, anak tertua keluarga Tendo. Dan yang satunya si cantik Tendo Yura yang merupakan anak terakhir. Dan Ini Tendo Yuusuke dan Tendo Yuriko." Chiyo menepuk bahu Yuusuke yang duduk di sampingnya.
Naruto menunduk sopan. "Hajimimashite, Tendo Yuusuke-san, Yuriko-san, Yuichi-san, dan Yura-san." Keempat kepala yang lain juga ikut menunduk.
"Aku selalu mendengar kabarmu dari Chiyo-san." Yuusuke menatap Naruto hangat. "Kebetulan kami ada di Suna dan mendengarmu ada di sini. Bukankah sekarang kamu bersekolah di SMP?"
"Ah, iya." Naruto menjawab gugup.
"Bagaimana sekolahmu, baik?" Yuriko meraih tangan Naruto dan mengusapnya lembut.
Naruto merasa tenang untuk alasan yang aneh. "Baik. Hanya saja pelajarannya benar-benar mudah dari yang Baa-chan ajarkan padaku." Naruto tertawa. Yuusuke dan Yuriko ikut tertawa, Yuri yang duduk di sebelahnya juga terkikik.
"Kau sudah punya teman `kan? Atau kau jadi penyendiri di kelas?" Nada sarkastik itu keluar dari bibir Yuichi. Seringai muncul di bibirnya yang tipis.
"Nii-chan, jangan berkata seperti itu pada Naruto-kun." Yura menyenggol bahu Yuichi dari balik punggung Naruto. "Pasti Naruto-kun punya banyak teman `kan?"
"Tidak juga. Tapi aku punya beberapa teman baik." Naruto mengingat Fuji dan teman-temannya yang lain.
"Syukurlah kalau kamu punya teman. Satu atau dua juga cukup asalkan kamu berteman baik dengan mereka." Yuriko menggenggam tangan Naruto lebih erat, namun tidak sampai menyakitinya. Wanita itu begitu lembut dan terlihat seperti ibu yang baik.
"Bagaimana kalau kita makan dulu?" Yuusuke menawarkan. "Anda pastinya belum makan siang bukan, Chiyo-san?"
"Tentu saja belum, Yuusuke." Chiyo tertawa kecil. "Baiklah, ayo kita makan."
Akhirnya keenam orang itu mulai makan dalam diam. Seperti tata krama di atas meja makan yang selalu Baa-channya ajarkan. Naruto menghabiskan semua makanan sesuai urutan. Mulai dari menu pembuka, menu utama, hingga hidangan penutup berupa jeli aneh yang rasanya cukup enak. Naruto berpikir untuk mengajaknya makan di sini kapan-kapan.
"Jeli tadi rasanya cukup enak." Yuichi berkata tiba-tiba setelah pelayan datang untuk membereskan makanan.
"Iya benar. Padahal awalnya aku mengira rasanya agak aneh, tapi setelah memakan habis rasanya jadi benar-benar enak." Naruto mengiyakan perkataan Yuichi.
"Kenapa kalian tidak memesannya lagi saja?" Tanya Yuriko menawarkan.
"Apa tidak apa-apa?" Naruto terlihat senang.
"Tentu. Pesan sebanyak yang kalian mau." Yuriko tertawa. "Bagaimana denganmu, Yura?"
"Aku tidak perlu. Aku tidak punya perut sebesar mereka berdua, Kaa-chan." Yura menatap Yuichi dan Naruto sambil lalu. Naruto dan Yuichi mengabaikan dan memesan beberapa menu yang menurut mereka enak.
"Naruto, Baa-chan harus pergi sekarang." Chiyo tiba-tiba meraih tas tangannya dan berdiri.
"Eh?" Naruto mendesah kecewa. "Lalu bagaimana dengan jeliku?"
"Apa urusan anda benar-benar mendesak Chiyo-san?" Yuriko terlihat masih ingin Chiyo dan Naruto berada di sini.
"Aku tidak memaksamu ikut denganku. Yuusuke, Yuriko apa kalian keberatan mengantar Naruto pulang nantinya?" Chiyo menatap Yuusuke dan Yuriko.
"Tentu saja dengan senang hati kami akan mengantarkan Naruto. Tapi kenapa tiba-tiba anda ingin pergi? Apa ada sesuatu yang mengganggu anda?" Yuusuke memberi isyarat agar Yuriko mengambil barang-barangnya, namun Chiyo menghentikan istri keluarga Tendo itu.
"Tidak perlu. Aku bisa menanganinya sendiri." Chiyo menangkat tangannya. "Naruto bertindaklah yang sopan dan jangan membuat masalah. Yuusuke, Yuriko tolong jaga Naruto. Yuichi dan Yura senang bertemu kalian lagi." Tanpa menunggu balasan Chiyo beranjak dari ruangan itu dan langsung menutup pintu geser.
"Are?" Naruto berseru tiba-tiba.
"Kenapa kau kaget begitu?" Yuichi menatap Naruto heran.
"Apa Baa-chan baru saja meninggalkanku?"
"Iya." Yura menjawab tanpa ragu.
"…" Naruto meringis dalam hati. Betapa kejamnya neneknya tega meninggalkan dirinya seorang diri. Tidak benar-benar sendiri sih. Naruto hanya bisa menghela nafas. Tapi tatapan lembut Yuriko seolah menahannya untuk tidak ikut pulang besama neneknya.
"Kenapa, Naruto-kun?" Yura yang melihat Naruto hanya terdiam menegurnya. "Apa kamu mau pulang sekarang?"
"Tidak lah. Sebelum aku makan jeli itu lagi." Naruto tersenyum lebar.
.
.
Sudah enam hari Naruto berada di Suna dan masih ada dua minggu lagi sampai hari masuk sekolah. Yang artinya masih ada dua minggu kurang sampai ia kembali ke Tokyo. Naruto menatap atap gazebo yang membentuk setengah lingkaran. Warna putihnya benar-benar membuat kepala pusing.
Naruto bangkit dari posisi berbaringnya. Wajahnya yang tan agak memerah karena udara panas. "Aaahhhh… Cepatlah datang musim dingin…" Naruto menggaruk tiang gazebo bersamaan dengan cucuran air mata.
"Naruto-sama."
"Huuuaaaa.. Shimizu-san! Kau mengagetkanku." Naruto menghela nafas. Ia menatap Shimizu. "Kenapa?"
"Nyonya memanggil anda."
Naruto mengikuti Shimizu yang sudah berjalan terlebih dahulu. Terkadang Naruto berpikir kenapa neneknya harus tinggal di Suna padahal keluarga Kurokawa memiliki family di Tokyo. Sesampainya di depan ruangan kerja neneknya Naruto membuka pintu besar itu dan masuk. Ah, tidak. Naruto sudah tahu jawabannya.
"Baa-chan, ada apa Baa-chan memanggilku?"
"Pergilah ke perbatasan terluar Kota dan ambilkan pesananku."
Dan dengan pekataan neneknya itu disinilah Naruto sekarang. Di perbatasan kota Suna yang benar-benar kosong. Membawa diri dan sebuah tas berisi pot pesanan neneknya dan bersiap kembali ke wisma keluarga Kurokawa.
Naruto duduk di halte bus yang sepi. Disekitarnya hanya ada tanah yang kering dan sedikit tanaman layu. Wilayah luar Suna benar-benar panas dan kosong. Naruto bahkan berniat tidur karena bus akan datang satu jam lagi.
Sebuah suara ledakan samar-samar terdengar, Naruto yang nyaris tertidur segera sadar dan berdiri untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tak lama kemudian badai pasir kecil muncul dari arah paling luar dari perbatasan kota. Dua sosok tampak muncul dari dalam badai pasir.
Seorang pria bersurai merah jabrik yang mengenakan pakaian aneh berwarna putih seperti kimono. Lalu sosok lainnya yang menyerupai kumbang berukuran raksasa saling bergelut satu sama lain menciptakan badai pasir kecil lainnya. Si laki-laki jelas mendominasi. Ia memuluk, menendang, dan mengiris kulit tebal kumbang raksasa dengan katana di tangannya.
Si kumbang akan segera kalah dalam beberapa serangan lagi, tapi si jabrik merah jelas ingin segera mengakhirinya. Laki-laki berkimono itu mengangkat tangannya, mengarahkan telapak tangannya ke depan dada si Kumbang dan sinar kekuningan muncul menyerang lurus kea rah dada si kumbang hingga kumbang itu menghilang menjadi serpihan hitam lalu terbawa angin.
Naruto menyaksikan itu semua dalam diam. Hingga si merah menyadari keberadaannya dan menghampirinya. "Kau.."
"Ah," Naruto baru mengeluarkan suara keterkejutan setelah semua hal aneh berlalu di matanya. Menyisakan pria aneh bertampang masam yang terus mendekatinya.
"Hoo.. Sangat jarang melihat agen lain di tengah perbatasan seperti ini. Aku belum pernah melihatmu. Ngomong-ngomong namaku Kurokawa Renji."
"Agen? Kurokawa?" Naruto berbisik.
Renji melepas bandana aneh yang menempel di dahinya. "Siapa namamu?" Tanyanya.
Naruto terhenyak. "Naruto.. Kurokawa Naruto."
#つづく#
Note :
"…" : Percakapan
Italic : Bahasa Asing
'Bold' : Dalam Pikiran
Underline : Flashback
Omae : kata ganti yang cukup kasar, artinya seperti 'elo' dalam bahasa Indonesia.
Shinkansen : Kereta peluru di Jepang yang sangat cepat. Mungkin setara dengan pesawat.
Nabe : Hidangan rebusan yang biasanya berisi berbagai macam bahan.
Sukiyaki : Tidak berbeda jauh dari nabe, cuma isinya lebih ke daging.
Obon : Semacam ritual di Jepang untuk menghormati arwah dengan mengdoakan, ziarah, dan semacam itu.
Tanabata : Festifal yang di selenggarakan ketika musim panas dimana bintang vega dan altair bertemu dalam setahun. Cari di google untuk lebih lengkapnya.
Dono : Panggilan yang hampir setara dengan sama, bisa berarti tuan atau orang yang dihormati.
Sama : Panggilan untuk orang yang derajatnya lebih tinggi kurang lebih. Seperti tuan atau untuk bangsawan.
Konbawa : Selamat malam.
Oyasumi : Selamat malam/tidur.
Okaerinasai : Selamat datang.
Itadakimasu : Selamat makan.
Hajimimashite : Salam kenal/Senang bertemu denganmu.
Orang Jepang bilang musim panas itu tidak menyenangkan, tapi menurut pandangan saja malah sebaliknya karena banyak festival dan libur di musim itu.
Saya memunculkan tokoh OC di chapter 2. Ngomong-ngomong namanya Kurokawa Renji. Umurnya 17 tahun. Perawakannya mirip salah satu karakter brother konflik berambut merah yang saya lupa namanya. Untuk karakteristik, suara, dan sifat saya ambil dari karakter Jin di World Trigger.
Semoga mulai terlihat akan dibawa ke mana cerita ini. Dan maaf soal typo dan bahasa Jepang yang muncul dimana-mana. Saya tidak bisa melakukan apapun untuk kedua hal itu..
Semoga alurnya tidak kecepatan dan mudah dipahami. Untuk selanjutnya saya usahakan akan jadi lebih baik. Maka, jika berkenan silahkan meninggalkan review untuk menunjukan kesalahan serta pertanyaan dari para readers (jika ada yang membaca fic aneh ini) soal fanfic ini. RnR seperti apapun akan tetap saya baca dan hargai.
Sekian dari saya, dan silahkan membaca kelanjutan fic ini jika berkenan.
Salam,
Hiruma Enma O1
