"Siapa namamu?"
Naruto terhenyak. "Naruto.. Kurokawa Naruto."
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Drama.
Reated : T (Teenager).
Warning : Typo's, Alur yang tidak jelas, dan bahasa baku yang maksa.
"Jadi nama kita sama?" Renji terperangah. "Wehh.." Wajahnya terlihat aneh. "Tapi aku tidak ingat memiliki keluarga sepertimu. Atau kita kebetulan memiliki nama marga yang sama?"
"Ah. Mungkin hanya kebetulan." Mengusap rambut pirang yang berantakan, Naruto berdehem. " Ngomong-ngomong sinar apa yang ada di tanganmu tadi?"
"Oh? Maksudmu ini?" Renji mengelurkan lagi sinar aneh yang tadi muncul di tangannya.
"Iya itu."
"Ini disebut nonspell Majutsu."
"No.. Apa?"
"Artinya sihir tanpa mantra. Jadi kau hanya perlu mengijimasikannya. Bayangkan saja sihir tipe cahaya." Jelas Renji seolah sedang mengajari temannya yang menanyakan soal matematika. Naruto hanya meniringkan kepalanya bingung.
"Apa ini sejenis alat terbaru untuk cosplay?"
"Heh? Loh?" Sekarang Renji yang kebingungan. "Jangan-jangan kau bukan onmyoji?"
"Onmyoji? Maksudmu perusahaan perlindungan itu?" Naruto merasa sedang menarik ulur kenyataan.
"Kau tahu soal Shiki?"
"Shiki? Apa itu nama makanan, atau film?"
"Bagaimana dengan Yokai?"
"Makhluk halus? Apa kita sedang membicarakan manga?"
"Kalau kertas mantra pasti kamu tahu kan?"
"Tentu saja. Yang sering dibakai Biksu 'kan?"
Renji terpuruk. Pemuda bersurai merah itu menunduk di jalanan dengan pose aneh dan cucuran air mata. Bahkan ada aura keunguan di belakangnya.
"Eto.. Apa aku salah?"
"Jadi kamu bukan onmyoji?"
Naruto menggeleng cepat.
"Lalu bagaimana kamu bisa melihat cahaya ini? Dan yokai tipe parasit barusan?"
Naruto kembali menggelengkan kepalanya. "Saa.."
Renji menggaruk-garuk janggutnya yang mulai tumbuh. Memikirkan penjelasan yang paling masuk akal dari hal paling aneh yang pernah dihadapinya ini. Seharusnya semua yang memiliki kemampuan melihat Yokai menjadi onmyoji.
"Apa kau pernah melihat yang seperti itu sebelumnya?"
"Ah, masudmu bakemono? Belum pernah. Aku hanya mendengar desas desus kalau mereka itu ada." Naruto menarik kesimpulan kalau yang baru dilihatnya itu bakemono dan orang ini adalah salah satu agen perusahaan Onmyoji.
"Ah ya. Kalian penduduk sipil memanggilnya seperti itu ya?" Renji menaikan alisnya. "Sepertinya mau tidak mau aku harus membawamu ke kantorku. Karena kamu bisa melihat Yokai dan mengetahui kekuatanku." Pemuda yang terlihat berusia tujuh belas tahun itu meraih kerah Naruto dan menyeretnya.
"Pergi ke mana? Apa kita akan jalan kaki?"
"Nanti kamu juga tahu. Kita akan naik Roku."
"Ha?" Naruto kebingungan. "Apa itu, Roku?"
"Kore." Renji mengambil secarik kertas dari tas pinggangnya dan menggumankan sesuatu. Kertas itu terbang dan berubuh menjadi suatu bentuk. Dengan mata kepala Naruto sendiri pemuda itu melihat seekor macan yang keluar dari kepulan asap. Ukurannya jelas lebih besar dari macan kebanyakan.
"Ini Roku. Partnerku." Roku, macan itu mengaum seolah membalas perkataan Renji. "Naik." Renji melemparkan Naruto ke atas Roku lalu melomopat ke atas Roku juga. Ia menepuk-nepuk leher tebal Roku. Perlahan-lahan, api muncul di sekitar tubuh macan itu.
"Jalan." Roku berlari dan naik ke atas seolah berlari di atas angin. Hingga terbang cukup tinggi untuk membuat Naruto berteriak.
"IIIIAAAAAA.. OREE GAA SHINNDAAA…"
.
.
Roku mendarat turun di depan bangunan tua bertingkat dua yang cukup luas. Renji segera turun dari atas Roku sedangkan Naruto seolah mati. Matanya berubah putih dan ada asap ganjil yang keluar dari mulutnya.
"Hei, jangan mati sekarang sebelum aku memperlihatkanmu ke bossku."
Naruto perlahan-lahan mulai sadar. Warna kembali ke wajahnya yang sebelumnya memucat. "Are? Dimana kita sekarang?" Tanyanya bingung. Dia dengan takut-takut turun dari punggung Roku dan macan itu langsung menghilang dalam kepulan asap.
"Ini markasku. Cabang Akuro." Renji masuk. Naruto langsung mengikutinya. Ia menatap bangunan itu dengan tatapan tidak yakin. Tapi ketika ia masuk, wajahnya berubah menjadi bodoh.
"UWAAA.. Tempat ini benar-benar… SUUGEEE.."
Gedung bagian dalamnya benar-benar bagus. Tempat itu seperti lobi hotel ternama. Lantainya putih bersih, dengan meja resepsionis di dekat pintu masuk. Ada sofa merah di tempat menunggu. Lalu di bagian lain ada tempat yang seperti kafe kecil. Hanya saja sepertinya itu merupakan ruang santai.
Ada banyak orang di tempat ini. Dan yang membuat Naruto terpesona. Mereka didamping hewan-hewan aneh seperti Roku milik Renji.
"Hei, Einji."
"Sora. Sudah kubilang namaku Renji kan?" Renji menyapa seseorang yang mendekat ke arahnya dan Naruto. Orang itu ditemani seekor rubah berukuran normal. "Dan panggil aku Renji-san." Renji menepuk kepala Sora yang sepertinya lebih muda darinya.
"Siapa ini? Orang baru?"
"Bukan. Dia bukan Onmyoji."
"HA?" Sora terkejut. "Lalu kenapa kau membawanya ke sini? Kau gila ya?"
"Bagaimana lagi? Dia bisa melihat Yokai dan kekuatanku? Bukankah ini aneh."
"Ya, memang aneh sih. Sudahlah masuk sana ke ruangan boss. Dia ada di ruangannya."
Renji mengangguk patuh. Naruto yang sedari tadi bengong mendengar perkataan dua orang itu langsung tersadar dan mengikuti Renji. Mereka berdua berjalan di koridor yang cukup sepi. Lantainya dilapisi karpet berwarna merah dan ada beberapa lukisan aneh atau kaligrafi yang cukup mengesankan.
Naruto terkadang merasakan tatapan orang-orang tertuju padanya. Tapi di koridor itu tidak ada orang selain dia dan Renji. Renji berhenti berjalan ketika sampai di depan pintu besar yang terlihat dari kayu jati asli. Ia membuka pintu itu setelah mengetuknya terlebih dahulu.
Renji masuk diikuti Naruto. Ruangan itu terlihat seperti ruangan boss biasa. Ada meja kerja, beberapa lemari, sofa untuk tamu, dan meja dengan mesim pembuat kopi dan telepon di atasnya. Seseorang sedang duduk di belakang meja kerja.
"Yo, Bosu." Renji berjalan menghadap orang yang dipanggilnya boss itu. Dia laki-laki tua yang terlihat lemah. Namun Naruto tahu itu tidak benar dari sorotan matanya yang keras dan tegas.
"Panggil aku Ketua bagian Ebizo." Terlihat marah sekaligus jengkel dengan sikap Renji. Renji hanya tertawa menanggapi kemarahan ketuanya itu.
"Nyaahh.." Renji berguman aneh. "Aku ingin melaporkan sesuatu." Katanya. Matanya melirik ke arah lain.
"Apa? Kau membuat keributan lagi?" Sebenarnya bukan sifat Ebizo untuk bersikap sinis. Tapi Renji selalu memaksanya untuk bersikap seperti itu.
"Chigau.. Chigau.." Renji menggeleng cepat. "Ah, sebenarnya tidak juga sih. Begini… Ada orang biasa yang bisa melihat Yokai dan kekuatanku tapi dia bukan seorang onmyoji."
"Apa? Dimana dia?" Ebizo berteriak kaget dan langsung berdiri. Ia menggebrak meja dan melotot seolah Renji baru saja memasukan wasabi mentah ke sana.
"Di sini. Di ruangan ini." Renji yang sedari tadi menutupi Naruto yang ada di belakangnya segera bergeser. Ebizo yang Melihat Naruto langsung berteriak terkejut.
"KAMUUU?"
Naruto yang diteriaki bersikukut mundur secara refleks. Yang berteriak hanya bisa membuka mulut seperti orang yang baru melihat hantu. Padahal pekerjaan onmyoji selalu berurusan dengan yurei. Naruto kebingungan dan menatap Renji meminta pertolongan.
"Eto.. Ada apa sebenarnya Bosu? Apa Bosu mengenalnya?"
"Diam kau Renji!" Renji sudah biasa dibentak, jadi pemuda itu santai-santai saja walau keriput di wajah Ebizo sudah bertambah karena marah. "Bawa dia pergi sekarang juga! Dan minta seseorang menghapus ingatannya!"
Renji tidak mempercayai ini. Seharusnya jika mengikuti prosedur yang ada, Naruto seharusnya di tes apakah ia memiliki kekuatan dan potensi menjadi onmyoji lalu kemudian di bawa ke Tokyo untuk dilakukan pengecekan.
"Tapi," Maka dari itu Renji tidak bisa begitu saja menerima keputusan sepihak Ebizo. "Seharusnya kita.."
"Jangan membantahku Renji! Atau akan kubuat kau harus melepaskan Roku selama seminggu karena ku skors."
Mendengar hal itu Renji hanya bisa memangguk pasrah. Biar bagaimanapun dia masihlah anggota di bawah kepemimpinan ketua bagian . Maka dari itu keputusan Ebizo adalah mutlak dan harus diikuti semua anggota cabang Akuro.
"Wakatta yo." Renji berbalik dan menatap Naruto meminta maaf kemudian ia pergi sembari menyeret pemuda itu. "Ayo pergi, Naruto."
Mendengar nama itu Ebizo semakin yakin atas keputusannya. 'Yahari.'
Renji membawa Naruto ke tempat santai di lobi depan. Ia duduk di salah satu kursi dengan bantalan hijau. Nuansa tempat itu benar-benar seperti kafe. Apa lagi ada beberapa food court dan vending machine.
"Ahhh.. Bosu benar-benar aneh." Renji mengacak-acak rambut merahnya itu. "Apa lagi sikapnya setelah melihatmu." Renji berubah serius. "Mushikashite." Ia menumpu sikunya di atas meja dan mengatupkan bibirnya.
"Jangan-jangan apa?" Naruto yang melihat sikap Renji berubah serius jadi merasa aneh.
"Anta wa…"
'Glup..' Naruto meneguk ludahnya.
"Cucu Bosu?"
Naruto merasa hampir jatuh dari kursinya mendengar jawaban Renji yang jelas sekali ngasalnya. "Mana ada kan." Naruto menampik. Tentu saja bukan. Pernah melihat orang itu saja belum, bagaimana Naruto bisa menjadi cucunya coba.
"Hmmm.. Kalau begitu kenapa sikap Bosu aneh sekali?" Renji menghela nafas. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan dan melirik Naruto yang sedang meminum teh olong yang dibelikannya. "AH!" Naruto hampir menyemburkan tehnya. "Aku lupa dengan prosedur penghilang ingatannya. Ayo kita pergi!"
Naruto lagi-lagi diseret seenaknya oleh Renji. Tapi yang diseret masih saja meneruskan minumnya seolah tidak terjadi apapun. Renji terus berjalan sampai di depan sebuah ruangan yang lebih luas dari ruangan milik Ebizo. Ruangan itu tidak memiliki pintu dan hanya ditutupi oleh tirai tipis berwarna orange.
"Yo, Matsuri." Renji masuk dan menyapa satu-satunya orang di sana. Seorang gadis manis yang berusia sama seperti Naruto. Dia sedang menulis sesuatu di meja yang terdapat papan namanya di atasnya.
"Ah, Kurokawa-san. Konnichiwa. Doushita no?" Matsuri bangun dari duduknya dan membungkuk sopan. Ia mendekati Renji dan sebelumnya mengambil kertas di mejanya kemudian ia serahkan kepada kepala merah itu. "Ini kertas laporanmu."
"Ah, arigatou." Renji menerima kertas itu. "Sebenarnya aku butuh seorang manipulator sekarang."
"Ehhh? Doushita no? Apa terjadi sesuatu?" Matsuri menatap Renji khawatir.
Renji membuang muka, menolak menatap mata coklat Matsuri yang menatapnya. Naruto yakin ada sedikit semburat merah di pipi si merah jabrik itu. Naruto menyeringai namun ia tidak mengatakan apa-apa.
"Aku butuh seorang manipulator untuk anak ini." Renji yang sedari tadi masih memegang kerah Naruto menariknya ke depan Matsuri.
"Anata wa.." Matsuri terlihat terkejut saat melihat wajah Naruto. Ia segera mengambil langkah mundur.
Renji yang melihat rekasi Matsuri langsung bertanya. "Apa kau mengenalnya?"
"Ah, iie. Aku hanya mengiranya sebagai orang lain. Eto.. Siapa namanya?"
"Ano ko wa Kurokawa Naruto."
"Kurokawa? Apa dia saudara Kurokawa-san atau semacamnya?" Matsuri memasang senyum aneh. Tapi dimata Renji senyum itu terlihat sama manisnya dengan senyum Matsuri yang biasa.
"Bukan. Aku kebetulan bertemu dengannya dan Bosu memintaku untuk menghilangkan beberapa ingatannya." Renji menepuk kepala Naruto. Naruto hanya tersenyum saja diperlakukan seperti itu. "Ma, tonikaku, apa ada seseorang di markas yang bisa menghapus ingatan bocah (gaki) ini?"
'Gaki..' Naruto mengulang kata itu dalam hatinya.
"Eto…" Matsuri kembali ke mejanya dan mengecek anggota cabang Akuro yang ada di komputernya. "Yamanaka Fu-san ada di tempat latihan bersama timnya kurasa."
"Yamanaka Fu?" Renji mengucapkan nama itu seolah mengucapkan nama serangga yang paling dibencinya. "Kupikir aku harus mencari orang lain."
"Tapi hanya Yamanaka-san yang ada di markas sekarang." Matsuri memiringkan kepalanya.
"Ahh.. Ini jadi sulit." Renji menepuk dahinya. Tapi sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi serius. "Aku jadi yakin Bosu tahu sesuatu." Senyum kebanggan muncul di wajah liar Renji. "Baiklah akan kuseli.."
"Dame!" Matsuri berteriak tiba-tiba, memotong perkataan Renji dengan cepat. "Jangan. Urungkan saja niatmu. Jika Ketua sudah memberi perintah mohon Kurokawa-san mengikutinya."
Renji dengan cepat menyembunyikan senyumnya. "Sasugani, sekrtearis cabang Akuro memang yang paling berkompeten di sini." Pria itu mundur beberapa langkah dan meraih kerah baju Naruto yang sedari tadi diam mendengarkan. "Demo, gomen. Hatiku mengatakan aku harus bertindak."
"KUROKAWA-SAN!"
.
.
Naruto memejamkan mata saat Renji tadi melemparkan sesuatu di ruangan milik Matsuri. Ia sempat merasa pusing dan pijakannya terasa bergetar, tapi dengan cepat Naruto menyeimbangkan diri dengan kedua kakinya.
Ketika membuka mata Naruto sudah berdiri di depan halte tempat ia menunggu tadi. Renji dan Roku ada di sampingnya. Renji terlihat kelelahan dan wajahnya pucat. "Ughhh.. Teleportasi benar-benar sihir yang sulit. Aku bingung dengan mereka yang bisa melakukannya sejak kecil."
"Renji-san, kau baik-baik saja?"
"Tidak. Sihir yang barusan benar-benar mengurangi tenagaku. Nah, mari kita mulai penyelidikannya."
"Penye.. Baiklah." Naruto berniat bertanya lebih lanjut, tapi dia mengurungkannya dan memilih menangguk setuju.
"Jadi, apa hari ini pertama kalinya kamu melihat yo.. ah, maksudku bakemono?"
"Ya."
"Dan kekuatan seperti milikku?"
"Tentu saja."
"Apa kau mengenal Bosu? Atau Matsuri-chan?"
"Tidak. Entahlah. Mereka terlihat seperti mengenalku."
'Ternyata itu bukan hanya perasaanku saja. Naruto juga merasa kalau mereka mengenalnya.' Renji membatin.
"Apa kau merasa memiliki kekuatan, atau bakat special, atau apa saja yang menurutmu tidak biasa?"
"Tidak aku tidak memiliki yang seperti itu."
"Apa keluargamu ada yang bekerja di perusahaan onmyoji?"
"Aku hanya memiliki seorang nenek yang memiliki perusahaan kecil di Suna. Jadi tidak. Aku tidak memiliki keluarga yang bekerja di perusahaan itu."
Renji menghentikan pertanyaan beruntunnya. Ia menggaruk-garuk dagunya dengan bingung. "Terakhir. Apa selama ini kamu pernah merasa aneh, atau tidak nyaman akan sesuatu?"
"Ti.." Naruto menghentikan perkataannya. Ia mengingat beberapa kejadian aneh, tapi perasaannya mengatakan semua itu tidak berurusan dengan hal ini. "Aku rasa tidak."
Renji curiga pada jeda di jawaban Naruto. "Kau tidak terlihat yakin. Apa ada yang mengganggumu?" Renji mendesak Naruto.
"Aku tidak yakin. Hanya saja kupikir itu hal yang biasa." Naruto mengendikan bahu dengan sikap yang santai.
"Kalau kamu berpikir seperti itu.. Baiklah biar aku yang menghapus ingatanmu saja. Setidaknya akan lebih baik dan aman untukmu."
"Apa akan baik-baik saja?"
"KAU MEREMEHKANKU? Lalu kenapa tadi kami terlihat tidak keberatan ingatanmu dihapus."
"Kupikir pro yang akan melakukannya." Naruto menjawab santai.
"Jangan meremehkanku. Aku murid terbaik di Suna, kau tahu." Renji membanggakan dirinya.
"Aku tidak yakin."
Renji kesal, tapi dia menahannya dan kembali ke tujuan utamanya, menghapus ingatan Naruto. "Sebenarnya aku tidak ingin menghapus ingatanmu, tapi lebih baik aku menghapus ingatanmu dan kau bisa kembali ke kehidupan normalmu yang dulu."
"Aku tidak masalah. Kalau ingin melakukannya sebaiknya cepat. Nenekku sedang menungguku di rumah." Naruto melirik jam tangannya.
"Kau.. Benar-benar aneh sejak pertama kali aku melihatmu. Maksudku, kau tampak biasa-biasa saja walau ada hal tidak biasa, maksudku bakemono itu, muncul di hadapanmu. Dan sekarang sikapmu yang tenang walau aku mengatakan akan menghapus ingatanmu."
"Kupikir itu wajar. Maksudku, aku sudah tahu banyak mahluk sejenis bakemono di luar perbatasan, dan lagi ingatanku memang seharusnya dihapus kan? Jadi itu bukan masalah." Naruto berkata mantap. Renji hanya menatapnya kemudian memejamkan matanya.
"Baiklah. Setelah ini kau tidak akan mengingatku lagi, Kurokawa Naruto."
Naruto melihat tangan Renji yang terjulur di depan wajahnya. Tangan itu mulai mengeluarkan sinar hijau kebiruan yang perasaan hangat mulai muncul. Naruto perlahan-lahan mulai mengatupkan matanya. Pandangannya menggelap dan perasaanya terasa buram.
.
.
"Dari mana saja kau, Naruto? Obaa-chan yakin seharusnya kau sudah tiba di rumah sejak tiga jam yang lalu?" Chiyo berdiri di depan Naruto dengan sorot mata tajam menusuk. Meminta penjelasan pada cucunya yang terlambat pulang.
"Ah, gomen ne, Baa-chan. Aku tadi salah masuk bis ketika kembali. Dan sempat mampir ke kedai untuk makan ramen." Naruto tertawa garing. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebagai tindakan salah tingkah.
Chiyo masih menatap mata biru Naruto, sampai kemudian ia menyerah dan melembutkan tatapannya. "Syukurlah kau sampai di rumah dengan aman. Masuk ke kamarmu dan mandilah. Baa-chan akan menunggumu di ruang makan."
Ha'i.." Naruto berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya dikamar ia menutup pintu dan menyenderkan punggunya di pintu kayu itu. "Rasanya aku bermimpi panjang walau tidak tertidur." Naruto berguman lemah.
#つづく#
Note :
"…" : Percakapan
Italic : Bahasa Asing
'Bold' : Dalam Pikiran
Underline : Flashback
Nonspell Majutsu : Seperti yang sudah diterangkan, merupakan sihir tanpa mantra.
Cosplay : Costume Player atau orang-orang yang berpakaian meniru suatu tokoh tertentu.
Shiki : Memiliki banyak arti tapi yang dimaksud di sini adalah jiwa.
Yokai : Siluman atau iblis.
Bakemono : Monster.
Sebelumnya, untuk alur tidak jelas ini… Saya benar-benar minta maaf. Soal typo yang tidak berkurang dan bahasa Jepang yang semakin banyak juga. Rasanya buruk sekali jika tidak bisa menulis bagus, tapi pada dasarnya bagus menurut kriteria beberapa orang mungkin berbeda.
Ngomong-ngomong soal cabang yang di maksud, anggap saja onmyoji di cerita ini mirip seperti bagian pemerintah, setiap daerah memiliki cabang masing-masing. Cabang Akuro ada di Suna sementara Kyoto memiliki cabang sendiri. Tapi yang berada di Kyoto termasuk pusat.
Saya menyarankan untuk menonton Tokyo Raven atau membaca komik Totsugami, mungkin akan membantu.
Saya ingin meminta saran untuk beberapa tokoh yang akan muncul di chapter tiga nanti. Untuk Shikigami milik Sarutobi Hiruzen. Di animenya Hiruzen si hokage ketiga kuchiyose no jutsu-nya adalah Enma atau raja neraka. Jadi tidak mungkin saya membuat Enma menjadi shikigaminya Hiruzen.
Dan soal mantra, apa saya harus menuliskannya atau hanya memberikan deskripsi kalau tokohnya sedang membaca mantra?
Saya harap chapter ini tidak terlalu pendek karena kurang dari chapter sebelumnya. Terima kasih untuk para readers yang sudah mau membaca dan mereview, jika berkenan silahkan mereview lagi di chapter ini. Sebisa mungkin akan saya balas.
Salam,
Hiruma Enma 01
