Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Drama.
Reated : T (Teenager).
Warning : Typo's, Alur yang tidak jelas, dan bahasa baku yang maksa.
"Apa kau tidur nyenyak semalam?" Chiyo memulai percakapan selepas sarapan pagi. Ia menatap cucunya itu dengan mata setengah terpejam.
"Tentu saja, Baa-chan. Nah, apa hari ini kita akan pergi jalan-jalan?" Naruto bertanya dengan senyum lebar di bibirnya. Chiyo hanya menghela nafas melihat tingkah cucunya yang sudah begitu ceria di pagi hari.
"Baiklah.. Kau mau kemana hari ini, Naruto?"
Naruto menimbang-nimbang kemana ia akan pergi hari ini. Jika ia pergi ke kota dan berjalan-jalan di sana hanya akan membuat Baa-channya lelah. Ia harus pergi ke tempat yang juga bisa dinikmati oleh neneknya.
"Bagaimana kalau ke kuil? Sudah lama sekali sejak aku pergi ke sana." Naruto mengingat keinginannya sejak datang ke kota ini. Kuil yang Naruto maksud merupakan kuil tua layaknya kuil lainnya yang tersebar di sekitar daerah Kyoto. Sebenarnya bangunan itu memiliki benteng besar yang sayangnya sudah hancur karena perang.
"Boleh saja. Cepat-cepat bersiap lalu kita pergi." Sebelum Chiyo sempat selesai berbicara Naruto sudah pergi terlebih dahulu dan turun dalam menit kedua. Dia sudah berganti pakaian dengan yukata musim panas berwarna coklat pasir dengan obi berwarna biru tua. Lengkap dengan sandal selop berbahan ringan dan topi kain berwarna coklat muda.
Chiyo yang melihat kecepatan cucunya itu hanya bisa terbengong-bengong sebelum tertawa kecil. "Kau selalu cepat untuk hal yang aneh, Naruto."
"Ne, Baa-chan, hayaku."
"Baiklah, baiklah.." Chiyo bangkit dari kursinya dan segera mengikuti Naruto menuju pintu utama. "Baki, kita akan pergi ke kuil Sakami. Aku minta kau jaga rumah sampai kami kembali."
"Ta.. Tapi, Chiyo-sama.." Baki berniat menolak. Tapi tatapan tajam Chiyo dan bibir tipis yang tertutup rapat itu menghentikan niatnya. "Baiklah." Baku membungkuk dan mundur ke belakang. Kedunya lalu menaiki mobil Mercedes-Benz hitam dan mulai melaju menuju kuil yang berada paling dekat dengan perbatasan Kyoto. Salah satu harta berharga Suna dan merupakan daerah kekuasaan keluarga tua pendiri Suna.
Bangunan itu berdiri di atas tanah seluas satu hektar. Merupakan daerah paling subur di Suna dimana pepohonan bisa tumbuh dengan subur dan tetap lebat. Juga merupakan daerah suci yang terbuka secara umum. Biasanya pengunjung kuil bukan cuma para jemaat tapi juga para wisatawan.
Mobil yang dinaiki Chiyo dan Naruto tiba di kuil dalam setengah jam. Penjaga kuil menyambut mereka dan memberika tur singkat sampai di halaman dalam kuil. Tempat itu begitu sejuk dan angin dapat mengalir dengan mudah. Bahkan mata air di kuil itu menghasilkan air yang dingin secara alami.
Naruto berserta Chiyo dan Shimizu memasuki pelataran kuil. "Urrggg.." Naruto mengerang sembari meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. "Tempat ini masih semenyejukkan tahun lalu."
"Naruto-sama, anda bisa pergi halaman belakang jika anda ingin." Shimizu menyarankan.
"Tentu saja. Kalau begitu aku pergi dulu, Baa-chan, Shimizu-san." Naruto berlari tanpa kesulitan walau saat ini dia masih mengenakan yukata.
Halaman belakang kuil memiliki paviliun dan danau kecil. Juga kuil kecil tempat persembayangan yang digunakan untuk satu orang. Dulu neneknya selalu mengenakan kuil kecil itu untuk berdoa seekali. Naruto sendiri lebih sering menggunakan kuil utama atau kuil bagian barat yang memiliki daya tampung lebih besar.
Naruto duduk di pinggiran danau dan menendang-nendang permukaan air dengan tumit sandalnya. Air yang bergejolak meleburkan pantulan bayangannya. Naruto membiarakan air itu tenang lalu menendangnya lagi, begitu seterusnya. Hingga ia melihat pantulan bayangan lain di permukaan air. Naruto berpaling dengan cepat dan mendapati udara kosong.
"Apa.. Yang tadi?" Naruto berguman.
'Deg…'
"Itttaaaa.." Naruto mengerang kesakitan. Ia mencengkram dadanya kuat-kuat hingga yukatanya menjadi berantakan. Ia jatuh kebelakang dengan pantat mendarat di tanah terlebih dahulu. Tubuhnya mengejang selama beberapa saat hingga akhirnya berhenti. "Aaaaa…"
"Tatsukatta." Naruto menghela nafas lega.
"Ara..." Suara baritone yang tidak asing terdengar dari balik tubuh Naruto. Si pirang itu berdiri dan memutar tubuhnya. Berdiri di sana adalah pemuda dengan pakaian kuil dengan rambut yang lebih mirip berandalan ketimbang pendeta kuil.
"Ah, Renji-san." Naruto berseru rendah.
"Kau.. Masih ingat denganku?"
"Eh? Aneh sekali. Kupikir seharusnya ingatanku su…"
'Ngingggg…..'
Suara berdenging aneh muncul di dalam kepala Naruto. Pandangannya menggelap walau ia tidak memejamkan matanya. Mulutnya terasa penuh seperti diisi oleh air yang sedikit lebih padat. Tubuh bagian bawahnya seperti terbakar sedangkan tubuh bagian atasnya terasa seperti membeku.
"Hei, Naruto! Buji nano ka?" Renji berniat menyentuh bahu Naruto, tetapi listrik seolah mengalir dari tubuh kecil itu dan menyengat jemarinya.
"Naruto-sama." Dari kejauhan muncul Shimizu yang berlari kencang mendekati Renji dan Naruto.
"Kau.. Keluarga Naruto? Apa yang terjadi? Tiba-tiba saja dia menjadi seperti ini…" Renji tampak panik.
"Saya merupakan pelayan keluarga Kurokawa, untuk saat ini. Anda, Kurokawa Renji-sama desho? Apa Anda melihat… Jiwa tidak biasa disekitar Naruto-sama tadi?" Shimizu menyentuh bahu Naruto walau sengatan listrik menyakitinya. Ia merebahkan tubuh Naruto dan menutupi mata Naruto dengan telapak tangannya.
"Jiwa… Kupikir aku merasakan sesuatu sebelum itu menghilang. Aku mengikuti perasaan samar itu lalu bertemu Naruto disini." Renji mengedarkan pandangannya namun tidak ada apapun disekitar mereka bertiga.
"Ini benar-benar buruk. Naruto-sama lupa mengenakan kalungnya." Shimuzu membuka yukata yang Naruto kenakan dan mendapati leher jenjang itu tidak diisi oleh apapun.
"Kalung? Apa yang kau katakan. Naruto tidak pernah memakai kalung. Sebelumnya ketika ia pertama kali bertemu denganku kemarin dia juga tidak mengenakan apapun semacam kalung." Renji ikut berjongkok di samping Shimizu dan menatap tubuh Naruto yang basih bergetar.
"Renji-sama apa anda membawa beberapa kertas mantra?"
"Kertas mantra? Untuk?"
"Saya ingin anda untuk menyegel kekuatan aneh yang memasuki tubuh Naruto-sama untuk beberapa saat." Shimizu menggulung lengan pakaian maidnya di atas siku.
"Huh? Bagaimana kau.." Reiji menoleh menatap Shimizu yang sudah memulai membaca beberapa mantra penyegelan. Pemuda itu tidak membuang waktu dan mengambil beberapa kertas mantra yang ada di dalam lengan kimononya.
"Wahai tuanku yang memberiku kekuatan, jiwa yang ternodai ini berilah dia segel tertutup, jangan biarkan dia dimasuki, buang semua jiwa asing yang masuk, order." Shimizu membaca mantra bersamaan dengan Renji. Kertas mantra yang menempel di tubuh Naruto bersinar kehijauan lalu meledak menjadi sepihan kecil.
"Tidak berhasil." Renji mengumpat.
"Tentu saja tidak mungkin berhasil dengan mantra murahan semacam itu, gaki."
Renji tersentak bukan oleh suara dari belakang tubuhnya, melainkan oleh aura luar biasa yang dimunculkan oleh pemilik suara itu. Ketika ia menoleh kebelakang, seorang wanita paruh baya berdiri dengan kokoh tanpa gentar.
"Chiyo-sama." Shimizu melompat kedepan Chiyo dan memberikan hormat. Tiba-tiba tubuh wanita itu diselubungi oleh cahaya tipis dan sosoknya berubah.
Yang Renji dapati adalah seorang gadis berwajah serupa mengenakan kemeja ala tentara jepang berlengan panjang dilengan kanan dan pendek di bagian kiri. Ia mengenakan celana tentara panjang yang dimasukan kedalam boots. Haori tanpa lengan berwarna bata yang melekat sempurna ditubuhnya yang semampai. Rambut yang semula berwarna hitam berubah menjadi coklat tua.
"Maaf saya tidak bisa menjaga Naruto-sama dengan baik." Shimizu menenggelamkan wajahnya dalam-dalam, dia menundukan kepalanya hingga dagunya menyentuh dada.
Chiyo menggeleng dan mendekati tubuh Naruto yang masih mengejang dan bergetar kuat. "Renji-boya, lama tidak berjumpa.
"Ketua klan Akasuna Chiyo-sama."
"Ara, kau masih mengingatku, ketua klan Kurosawa, Renji-san?" Chiyo meletakan tangannya di atas dada Naruto sementara ia berbincang dengan Renji.
"Anda.. Naruto.. Maksudku.. Aku mendengar bahwa anda meminjam gelar Kurosawa yang sudah lama redup. Tapi aku tidak mengira Naruto merupakan salah satu anggota klan Akasuna." Renji menatap tubuh Naruto dengan pandangan tidak percaya.
"Kau jelas sangat kebingungan sekarang. Tapi aku harus menjelaskan lain waktu dan menyelamatkan Naruto sekarang."
"Ah, tentu." Renji menutup mulutnya dan melihat Chiyo yang mulai membisikan mantra dengan suara yang tenang dan halus.
"On Kiri kiri bazara bajiri hora manda manda un hatta.. On amairito dohanbu un hatta.." Dan mantra itu terus diucapkan dengan kecepatan yang menakjubkan. Perlahan tubuh Naruto diselimuti cahaya berwarna merah muda, lalu berubah menjadi kuning cerah, menjadi biru muda, dan terus berubah.
Renji terus mengamati dengan perasaan hangat. Chiyo membuat segel tangan sederhana dan perlahan tubuh Naruto menjadi tenang dan tidak bergerak. Lalu dadanya kembali menunjukan reaksi pernafasan normal. Kelopak matanya bergetar sebelum perlahan terbuka.
"Naruto, kau baik-baik saja?" Chiyo membantu Naruto duduk di atas tanah. Mata tuanya melihat dada Naruto yang terbuka dengan aneh. "Pemuda ini menemukanmu pingsan di dekat sini dan Shimizu mendapatimu dengan diurus olehnya."
"Urmmm.. Kupikir aku tadi melihat dia, Chiyo baa-san."
"Naruto." Chiyo berguman resah.
"Bukankah kau Renji-san? Tadi kau yang menemukanku ya? Terima kasih." Naruto melemparkan senyum kepada Renji yang masih termenung diam ditempatnya.
"Ah, ya.. Jangan dipikirkan." Renji membalas dengan terbata.
"Shimikizawa." Naruto berkata pelan ketika melihat Shimizu.
"Ya, tuan?"
"Ada kau rupanya. Shimizu ya? Dimana Baki-san? Dia tidak mungkin membiarkan Chiyo baa-san berkeliaran hanya dengan Shimizu kan?" Naruto berusaha berdiri dengan bantuan Shimizu dan Renji.
"Dia ada di villa keluarga Sabaku bertugas untuk menjaga rumah saat ini, Naruto-sama." Shimizu memapah Naruto untuk duduk di kursi terdekat. Naruto duduk di bangku yang ada di halaman belakang kuil. Chiyo duduk di dekatnya dan membantunya membenarkan letak yukatanya.
"Pasti Chiyo baa-san yang memaksanya. Yah, aku kira itu karena Baa-san tidak mengira ada orang rendahan yang bisa menggoyahkan segel pertama, bukan begitu, Akasuna Chiyo-sama?" Naruto menyeringai. Menepis tangan Chiyo lalu berdiri. Kabut asap tampak muncul lalu menghilang dengan cepat.
Naruto sekarang mengenakan Yukata hitam bercorak awan merah yang memperlihatkan dadanya. Dibalik yukata itu ada kaus turtle neck putih polos. Dua sosok muncul di belakang tubuh Naruto.
"Sudah kuduga itu kau, Kyuubi." Chiyo menatap tubuh Naruto dengan marah.
"Jangan salah paham terlebih dahulu, aku hanya mencoba menolongnya dari dalam jadi kukirimkan jiwa yang setia padaku. Harusnya Nenek berterima kasih aku bisa menyelamatkan segel Naruto. Dan juga menyegel dengan sempurna ingatannya tentang pemuda Kurokawa ini."
Dua sosok yang tadi muncul di belakang Naruto tampak lebih jelas. Pemuda tampan berambut merah keorangean yang tinggi semampai dan pemuda berambut coklat pasir panjang bermata teal. Pemuda merah mengenakan hakama hitam kelam sedangkan pemuda coklat pasir mengenakan yukata merah sederhana.
"Hissashiburi ne, Chiyo-sama." Pemuda bermata teal menghampiri Chiyo dan memberikan salam sederhana.
"Kyuubi, kembalilah ke tubuhmu." Chiyo mengabaikan pemuda bermata teal dan dengan marah memerintah Kyuubi.
Tubuh Naruto terjatuh yang dengan sigap ditangkap oleh Shimizu. Tubuh Kyuubi yang semula diam tergelak dan mata itu terbuka. Memperlihatkan manik violet yang menawan. "Seharusnya Naruto akan sadar lima belas menit lagi. Karena tugas kami sudah selesai. Kami akan pergi sekarang." Selesai mengatakan hal itu, dua orang itu menghilang dan menyisakan aroma khas bunga kamomile.
Chiyo memejamkan mata dan aura berat terasa di sekitarnya. "Aku benar-benar akan menghukum seseorang begitu aku kembali." Mata lelah itu beralih menatap Renji. "Kau, Renji-boya, kembalilah ke kuil dan lakukan tugasmu."
"Dimengerti, Chiyo-sama." Renji berlalu dengan santai.
Shimizu tetap menggendong Naruto ala putri tanpa masalah. "Shimikizawa, merei da, segera bawa Naruto ke Konoha dan minta Sarutobi untuk menyiapkan altar."
"Kashikomarimashita." Shimizu menghilang bersama tubuh Naruto.
"Aku tidak menyangka segel kuat itu bisa terlepas dengan muda. Ini masih terlalu cepat dari rencana." Chiyo menjadi benar-benar kesal. "Dan Kyuubi.. Monster itu selalu saja muncul di saat tidak tepat, ah, disaat yang sangat tepat dan pas."
Chiyo menatap menerawang ke atas langit. Matanya berubah berkabut dengan rahang mengeras dan bibir yang membentuk garis lurus menyeramkan. "Akan kubuat Renji-boya menyesal sudah bertemu Naruto."
.
.
Naruto mengerang begitu ia membuka mata. Udara disekitarnya terasa berbeda. Sedikit lebih sejuk ketimbang Suna dan Tokyo. Jadi kemungkinan besar dia tidak ada di kedua tempat itu sekarang. Futon di bawah tubuhnya benar-benar lembut dan hangat. Juga lantai kayu yang jarang dilihatnya. Atap berpondasi kayu dan shōji (pintu dari kayu dan kertas).
"Ini.. Rasanya aku pernah melihatnya." Naruto bangun dan berniat berjalan keluar dari futon. Tetapi dinding transparan seolah menghalanginya. "Apa?" Ia melihat ke bawah dan ada tali merah besar membentuk lingkaran mengelilingi sekitar futonnya.
"Apa ini semacam ilusi optik, halusinasi akibat dehidrasi, atau aku masih bermimpi?" Naruto meraba daerah sekitar dan merasakan tekanan berat di telapak tangannya. Jelas ada dinding di depannya tapi mata Naruto hanya melihat udara kosong dan…
Dan…
"Rasanya ada ingatan samar aneh yang tidak ingat kumiliki." Naruto menyentuh kepalanya dan meremas surai pirangnya. "Eto.. Aku yakin aku hanya tinggal dengan nenekku, lalu.. Kenapa di ingatan ini aku masih punya keluarga lengkap bahkan adik?"
"Itu karena kau memang masih memilikinya kan?"
"Siapa?" Naruto bertanya. Suara itu datang tanpa diduga, membuat Naruto terkejut dan segera mengedarkan pandangan mencari asal suara.
Yang berbicara itu bukan siapa, tetapi apa. Hitodama (Bola api biru) itu melayang di dekatnya dengan cahaya kebiruan yang terasa akrab. "Lama tidak berjumpa, Bakanii."
"Masaka… Yurei?" Naruto berseru.
"Masih tidak ingat denganku? Yah, aku tidak heran. Ngomong-ngomong aku sudah berusaha membuka segelmu, tapi bahkan aku sekalipun hanya bisa membuka sedikit. Maka dari itu bangunlah dan coba bujuk semua orang agar membuka segel bodoh itu, Bakanii."
'Bangun? Jadi aku benar-benar bermimpi?'
"Bukan mimpi. Hanya saja jiwamu terlepas dari ragamu, jadi kau tidak bisa melewati kekkai tingkat tinggi itu, Bakanii."
Naruto yang mendengarnya mengerutkan dahi. "Segel ini, yang kau katakan. Aku tidak ingat ada yang memasangnya. Apa segel ini sudah terpasang sejak aku lahir atau semacamnya?"
"Memangnya ini komik? Jangan bermimpi Bakanii." Naruto berkedut mendengarnya, bukan ejekan itu, tapi bagaimana 'Adik'nya ini memanggilnya.
"Aku hanya mencoba bersabar, tapi apa kau dengan sengaja memanggilku Bakanii berulang kali?"
"Tentu saja aku sengaja memanggilmu begitu, Bakanii. Jangan banyak bicara dan bangunlah."
.
.
Begitu Naruto membuka mata untuk yang kedua kalinya, dia mendapati ruangan yang sama tanpa ada tali merah yang mengelilingi futonnya. Ketika ia keluar dari ruangan seluar enam tatami itu dia mendapati suasana yang sangat berbeda.
Jelas ini merupakan kediaman di bangunan tua khas tradisional Jepang. Ia langsung bisa melihat halaman luas yang sedang dibersihkan oleh tiga orang gadis miko. Ketika ketiga gadis itu menjadari keberadaanya, mereka langsung berlari menghampirinya.
"Naruto-dono, untunglah anda sudah bangun. Kami benar-benar mencemaskan ada. Saat ini pendeta utama sedang bertemu dengan biksu-han."
"Ah, begitu.. Ermm.. Apa aku bisa bertemu dengan Chiyo-b_sama?"
"Tentu. Akasuna Chiyo-sama sedang ada di kediaman utama. Biar saya antar." Salah seorang Miko menawarkan. Dia mulai berjalan mendahului Naruto. Mereka melewati kamar Naruto yang tadi, berjalan melalui lorong-lorong hingga sampai di banguan yang jauh lebih besar dan mewah. "Anda sudah tertidur selama dua hari, kediaman utama benar-benar khawatir."
"Dua hari? Selama itu kah?" Naruto tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Lalu apa Imoutoku datang menjenguk?"
"Ah, maksud anda Hime-sama? Dia datang dua jam yang lalu. Tapi langsung pergi dalam dua menit."
'Jadi ketika aku bermimpi itu ya?' Naruto sendiri bingung kenapa miko ini menjawab begitu saja pertanyaanya. Dugaan Naruto mungkin saja si miko tidak tahu jika ingatannya disegel seperti yang dikatakan adiknya tadi. Tapi itu artinya hal tentang penyegelan ingatan Naruto disembunyikan dari orang-orang.
"Sudah sampai, Naruto-dono. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu."
"Arigatou yo."
"Sudah menjadi tugas saya." Miko itu berlalu.
Naruto membuka pintu shōji itu dan melangkah masuk. Didalamnya ada Chiyo dan seorang kakek tua yang tidak dikenalinya. "Baa-chan?"
"Naruto, kau sudah bangun." Itu bukan pertanyaan, jadi Naruto memilih tidak menyahutinya. "Duduklah." Naruto duduk di samping Chiyo. "Kenalkan ini Sarutobi Hiruzen. Harusnya kau mengenalnya, tetapi sekarang jelas tidak mungkin." Chiyo memperkenalkan pria tua di hadapan Naruto.
"Sarutobi Hiruzen… ji.. Jiji?"
"Naruto, kau mengingatku? Senangnya!" Hiruzen secara aneh sudah berpindah ke depan Naruto dan memeluk pemuda itu erat. "Sebenarnya ini cukup buruk bagi Chiyo dan bebera orang, tapi aku cukup senang kau bisa mengingatku." Selepas bicara ia melepaskan pelukannya.
"Itttaiii.." Naruto merasakan denyut aneh dikepalanya. Rasa sakit mendatanginya dengan cepat. "Aku rasa ini saatnya.." Ia berguman.
Mendengar gumanan Naruto, Hiruzen semakin yakin. "Kupikir juga begitu. Koukaku, minta Iruka segera menyiapkan altarnya."
"Dimengerti, Hiruzen-sama." Suara asing terdengar dan kemudian menghilang sama cepatnya seperti kemunculannya.
"Hiruzen! Ini merupakan tindakan ceroboh yang tidak benar!" Chiyo memperotes keras keputusan sepihak kakek tua itu.
"Maksudmu membiarkan Naruto menahan sakitnya merupakan tindakan yang bertanggung jawab?"
"Aku juga tidak ingin melihat salah satu cucuku menderita seperti itu.. Tapi membiarkan Naruto melepas segelnya, itu hanya akan membahayakannya saja." Chiyo menatap nanar Naruto yang masih menahan sakitnya.
"Kalau begitu?" Hiruzen menaikan alisnya.
"Baiklah. Kau menang. Shimikizawa, panggil orang-orang yang bisa melepas segel Naruto."
.
.
Naruto tidak ingat seberapa lama ia tertidur, tapi begitu membuka mata, rasa sakit yang seolah selama ini mengakar di syaraf kepalanya sudah menghilang tanpa bekas. Ia melihat atas yang sama ketika ia membuka mata selepas bangun dari pingsannya di kuil Sakami.
"Kau sudah sadar, Naruto-kun?"
"Begitulah.. H…"
Naruto terperangah. Matanya membulat lebar dan mulutnya lupa untuk menutup. Gadis yang sudah lama tidak dilihatnya. Gadis yang seharusnya tidak dilihatnya disini.
.
.
"Lama tidak bertemu, Naruto-kun."
Senyumnya yang indah menyapa Naruto.
Naruto ikut tersenyum. Senyum serupa matahari pagi yang menyilaukan. "Memang, lama tidak bertemu… Hi_"
#つづく#
Note :
"…" : Percakapan
Italic : Bahasa Asing
'Bold' : Dalam Pikiran
Sebelumnya terima kasih sudah mau membaca fanfic aneh ini. Dan terima kasih untuk yang sudah mau mereview chapter sebelumnya.
Tidak ada yang perlu saya tambahi dari cerita di atas sepertinya. Dan jika berkenan silahkan meninggalkan kritik, pesan, saran, atau pijian (ngarep) di kolom review. Jika ada pertanyaan juga silahkan, sebisa mungkin akan saya jawab.
Salam,
Hiruma Enma 01
