#FlashBack#

"Bagaimana keadaannya?"

"Baik, sebagian segel sudah terlepas. Jelas orang yang melakukan ini adalah anggota klan Uzumaki. Jadi mari kita simpulkan ini adalah perbuatan Hime-sama."

"Begitu. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang akan membuka segel?"

"Hiashi-sama, Shikaku-sama, dan Inochi-sama sudah ada di dalam kuil utama."

"Bagus, beritahukan pada semua orang, segel pada Uzumaki Naruto-sama sudah bisa dilepaskan."

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Genre : Horror, Drama.

Reated : T (Teenager).

Warning : Typo's, Alur yang tidak jelas, dan bahasa baku yang maksa.

#FlashBack#

Naruto berjalan berkeliling di sekitar area SMP Katayama. SMP itu berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya di sekitar Tokyo yang sudah modern. Katayama Chuugakko masih mempertahankan bangunan sekolah yang seperti bangunan standar sekolah di Jepang. Bahkan ada bangunan yang masih berupa gedung kayu yang tampak kokoh walau sudah tidak digunakan.

Naruto duduk di salah satu bangku yang ada di taman samping. Naruto merasa merdeka setelah mengerjakan tes masuk selama lima jam lamanya. Tangannya terasa kram dan kaku. Bahkan bahunya terasa sakit jika digerakan. Mungkin ini akibat dari tangan yang tidak pernah digerakan untuk menulis.

Naruto melihat ke sekeliling taman yang sepi. Beberapa peserta ujian sudah pulang dan sisanya masih ada di sekitar sekolah hanya untuk berkeliling. Naruto tanpa sengaja melihat seorang gadis yang tampak kesulitan dengan semua buku di tangannya. Gadis itu menjatuhkan semua tumpukan buku itu karena di senggol seseorang.

Tanpa sadar kaki-kaki si pirang sudah membawanya ke arah gadis itu. Tanpa diperintah tangannya bekerja memunguti buku di tanah yang untungnya bersih dari buku karena semalam hujan. Naruto memperhatikan gadis itu sementara tangannya bekerja.

Si gadis yang tidak dia ketahui namanya itu memiliki rambut gelap sepanjang punggung. Wajahnya tidak terlihat karena gadis itu menunduk dalam-dalam, tidak menyadari Naruto juga ada di sana. Herannya lagi, gadis itu mengenakan seragam sailor seperti siswa, padahal seharusnya semua siswa libur hari ini termasuk anggota OSIS maupun komite kedisiplinan yang selalu menghantui sekolah.

Tanpa Naruto sadari, tangannya meraih buku yang juga akan diambil si gadis sailor. Tangan mereka bertemu. Gadis itu segera mengangkat kepalanya dan menatap mata Naruto. Naruto juga balik menatap mata itu.

"Eh? Ah, gomen." Si gadis bereaksi terlebih dahulu, memalingkan wajahnya dengan rona merah yang sangat kentara. Tangannya menjauhi tangan sekaligus buku yang masih ada di genggaman Naruto.

Naruto tersadar lima detik berikutnya. "Maaf, aku hanya mau membantumu." Naruto memberikan buku terakhir di tangannya ke si pemilik dengan wajah agak merona.

Warna merah masih tersapu di kulit pucat si gadis. "Arigatou." Katanya setengah berbisik.

Naruto memasang cengiran lebarnya. "Sama-sama. Akan kubantu kau membawanya." Naruto tetap memegang buku yang sudah ia kumpulkan tadi. Sedikit lebih banya dari buku yang ada di tangan si gadis.

"Tidak perlu repot-repot." Gadis itu menggelengkan kepalanya, rambut gelapnya ikut bergoyang lucu. Naruto tersenyum melihat tingkah kikuk si gadis walau ia juga merasa sedikit gugup. "Tidak masalah." Naruto menjawab dan melangkah terlebih dahulu menuju ke arah gedung lama yang sepertinya dituju si gadis.

Si gadis mengikuti Naruto tanpa sempat berkata apapun lagi. "Kukira tidak ada murid yang datang hari ini." Naruto membuka percakapan.

"Memang tidak. Sebenarnya aku datang untuk mengikuti tes. Tapi tiba-tiba seorang guru memberiku buku-buku ini dan menyuruhku membawanya ke gedung lama." Gadis itu menjawab malu-malu.

Naruto menangguk mendengar perkataan gadis yang baru dikenalnya itu. Si guru pasti menyangka dia murid sini karena baju sailor yang dikenakannya sekaligus melupakan bahwa semua siswa libur hari ini.

"Ngomong-ngomong namaku Kurokawa Naruto." Naruto memperkenalkan diri.

Gadis itu tersenyum, untuk pertama kali, menatap langsung mata biru Naruto yang terpesona akan senyum si gadis sailor. "Namaku Hinamori Hikari."

#FlashBack End#

"Lama tidak bertemu, Naruto-kun."

Senyumnya yang indah menyapa Naruto.

"Memang, lama tidak bertemu… Hi_"

"Hikari.. Hinamori Hikari desu."

"Ah, maaf aku sedikit lupa. Hikari-chan dayo?" Naruto menatap gadis itu. "Sudah sejak lama aku tidak melihatmu setelah tes masuk sekolah dulu." Tapi aku tidak pernah melihatmu di Katayama Chuugakko."

"Sayangnya aku tidak bisa bersekolah di sekolah itu." Hikari berubah sedih, tapi ia kembali tersenyum manis.

Naruto yang baru menyadari saat ini dia sedang tidak berada di Tokyo langsung bertanya. "Ngomong-ngomong kenapa kau ada di sini?"

"Ayahku bekerja di kuil ini. Aku ditugaskan untuk mengantarkan makanan dan menunggui Naruto-kun sebelum nantinya Hime-sama datang." Hinata meletakan nampan di dekat futon Naruto. Dinampan itu terdapat semangkuk bubur dengan taburan daun bawang. Asap panas mengepul dari bubur itu.

"Silahkan dimakan, Naruto-kun."

"Un." Naruto mengangguk dan menerima mangkuk yang disodorkan padanya. Ia mulai memakan bubur itu setelah meniupnya terlebih dahulu. "Oishiiiiii…" Naruto berseru kagum. Ia tidak menyangka akan menemukan daging ayam juga rasa asam di dalam bubur yang kelihatan sederhana itu. Rasa asam dari acar plum yang bercampur dengan daun bawang membuat nafsu makan Naruto meningkat.

Bubur itu seperti bubur kesukaannya ketika ia tidak enak badan seperti ini. Biasanya Shimizu akan membuatkannya jika neneknya tidak sibuk, tapi ketika Naruto kecil dulu, neneknya selalu membuatkan Naruto bubur ini ketika ia tidak nafsu makan. Naruto heran bagaimana Hikari bisa membuat bubur yang sama persis. Mungkin neneknya memberikan respep bubur ini ke Hikari.

"Benarkah? Yokatta!" Hikari terdengar senang mendengarnya. "Sudah kuduga Naruto-kun akan menyukainya." Ujarnya senang.

"Kau yang membuatnya?" Naruto membulatkan bibirnya.

"Ah, begitulah. Walau kemampuan masakku tidak terlalu bagus, tapi aku senang Naruto-kun menyukainya." Hikari tersenyum riang.

"Tentu saja aku menyukainya. Ini enak sekali. Bahkan rasanya pas dengan seleraku." Naruto memakan buburnya dengan cepat sampai membuat Hikari tertawa karena tingkahnya.

"Pelan-pelan saja Naruto-kun. Kalau Naruto-kun ingin menambah, aku bisa mengambilkannya." Hikari mengambil sapu tangan di sakunya dan membersihkan sisa bubur di sudut bibir Naruto.

"Arigwatouu Hikwarii." Ujar Naruto dengan mulut penuh. Ia menelan bulat-bulat isi mulutnya lalu melanjutkan, "Tapi kupikir ini saja cukup." Naruto meminum air hangat yang sudah disediakan.

"Kalau begitu, aku akan kembali ke tempatku, Naruto-kun sebaiknya kembali beristirahat lagi saja." Hikari membereskan mangkuk dan gelas yang sudah tandas habis. Lalu ia segera bangkit dan menatap Naruto yang masih mengikuti semua gerak geriknya. "Akan lebih baik kalau Naruto-kun tidur dua hingga tiga jam lagi."

"Aku akan melakukannya." Naruto berkata patuh.

"Soreja, mata ne, Naruto-kun."

Hikari berlalu dari kamar itu dan ruangan enam tatami itu kembali hening.

"Aku mulai merasa tidak percaya diri sekarang." Naruto merebahkan diri. Menutupi matanya dengan lengan dan berguman rendah.

Pintu shoji tiba-tiba tergeser terbuka dengan kekuatan yang merusak. "BAKANIIII…" Seorang gadis berlari memasuki ruangangan dan berlari menghambur ke tubuh Naruto yang ada dalam posisi duduk. Naruto langsung menangkap tubuh gadis itu dan memeluk pinggangnya erat.

"Apa kau sebegitu merindukanku, ore no imouto?"

"Atarimaeja yo!" Gadis itu meninggalkan bahu Naruto dan menunjukan wajahnya. Seorang gadis manis seusia Naruto dengan rambut pirang pucat panjang yang diikat tinggi ke atas. Matanya berwarna biru keunguan. "Naru-kun. Okaeri!" Gadis itu tersenyum lebar, matanya menyipit dengan guratan kebahagiaan.

"Tadaima, Shion." Naruto tersenyum dan menempelkan dahinya ke dahi Shion.

.

.

"Aku tidak menyangka Naru-kun mengingatku. Jadi segelnya sudah benar-benar dilepas ya?" Shion meraba dahi Naruto yang selalu tertutup poni. "Sudah hilang ya?" Gadis itu tersenyum simpul.

"Apa masudmu?" Naruto meraba dahinya sendiri. Tapi tidak ada yang aneh disana.

"Ah, bagaimana perasaan Naru-kun setelah segelnya dilepas? Apa Naru-kun sudah mengingat semuanya?"

"Entahlah, aku hanya ingat aku memiliki keluarga. Eto, Ibuku bernama Kushina, ayahku bernama Minato, lalu adikku, Shion yang paling cantik." Naruto menjawil hidung bangir Shion sembari tertawa. "Dan.. Aniki."

"Hanya sampai situ ya?" Shion terlihat kecewa. "Ah, bagaimana kalau kita bertemu Kaa-chan dan Tou-chan sekarang? Mereka pasti rindu dengan Naru-kun. Yah, walau baru seminggu lalu kita bertemu." Shion menarik Naruto bangun dari atas futon.

"Seminggu yang lalu?" Naruto berpikir sejenak. Mengingat-ingat apa dia pernah bertemu dengan Shion sebelumnya. "Masaka.. Saat di restoran itu.. Jadi kau memanipulasi sihir dan mengubah penampilanmu, Shion?"

"Onii-chan sadar?" Saking terkejutnya, Shion tanpa sadar memanggil Naruto dengan panggilan masa kecilnya. "Ah, maksudku, bagaimana Naru-kun tahu itu aku dan soal sihirnya?"

"Entahlah. Aku hanya merasa kalau Yura itu adikku. Dan kalian memiliki semacam aura yang sama. Dan sikap manis kalian juga sama. Kalian menggunakan sihirkan?" Naruto berujar santai.

"Nama Yura itu.. Tou-chan tidak benar-benar memikirkan nama dengan baik." Shion mengembungkan pipinya. "Ah, kita sampai." Shion berhenti di depan pintu shoji yang jauh lebih besar dari ruangan Naruto tadi. Gadis itu menggesernya dengan perlahan. Sepertinya gadis itu sengaja menghindari pertanyaan Naruto soal sihir yang digunakannya.

"Ah,Naruto." Seorang wanita segera berlari menuju Naruto begitu pintu terbuka. Kushina tidak segan-segan memeluk tubuh Naruto erat-erat walau ada banyak orang di ruangan itu. Wanita pertengahan tahun 30an itu menggoyang-goyangkan tubuh Naruto yang ada di pelukannya.

"Oka.. Okaa-san, yamette yo!" Naruto merona merah.

"Okaa-san? Minato-kun, dengar? Naruto memanggilku Okaa-san lagi." Kushina menangis dan kembali memeluk Naruto. Naruto hanya menghela nafas pelan dan balas memeluk Ibunya itu.

"Naruto." Minato juga memeluk Naruto, Kushina, beserta Shion. Keempat orang itu berpelukan selama semenit sebelum melepaskan diri dan duduk bersama lima orang lainnya diruangan itu.

"Syukurlah melihatmu baik-baik saja, Naruto." Wanita itu tampak begitu muda dan jelita, dengan kimono tanpa lengan abu-abu dan haori berlengan tanggung hijau. Tsunade menepuk kepala Naruto lembut.

"Un, sepertinya Baa-chan juga baik-baik saja." Naruto terseyum tipis.

"Mari kita langsung bicara ke intinya saja. Aku tidak menyangka segel pertama Naruto harus dilepaskan dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini. Seharusnya segel ini dilepas ketika Naruto sudah berusia dua puluh tahun." Yang mengatakan hal itu adalah Hyuuga Hisashi. Salah satu ketua klan Hyuuga saat ini.

"Tapi menurutku pemasangan segel bodoh ini memang tidak berdasar sedari awal. Jika kau mau tahu, anakkulah yang selama ini mengendalikan shikigami untuk mengamati Naruto. Dia menyatakan bahwa banyak sekali roh yang terus mendekati Naruto." Shikaku menyatakan pendapatnya.

"Aku juga tidak menyukai ide ini. Aku tahu betapa sedihnya Kushina dan Minato harus dipisahkan dari anak mereka." Inochi menatap Kushina yang masih menggenggam tangan Naruto. Wajahnya terlihat sangat bahagia. "Aku akan sangat sedih bila Ino dipisahkan dariku." Tambahnya.

"Memang benar. Lebih baik kita memfokuskan membahas apa yang akan dilakukan Naruto selanjutnya." Sarutobi Hiruzen membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Ia menatap Naruto dengan tajam. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Namikaze Naruto?"

Naruto tersentak. Pandangan mata Sarutobi, juga pertanyaan yang diajukan kakek tua itu membuat Naruto benar-benar terkejut. Tapi ia segera menenangkan dirinya dan memantapkan diri. "Tentu saja aku akan pulang ke rumahku yang sesunguhnya. Karena aku yakin Kaa-san dan Tou-san tidak akan mengizinkan aku untuk pergi lagi. Dan persoalan lainnya."

Naruto menghentikan ucapannya. Ia menatap Kushina yang masih menggenggam erat tangannya. "Kaa-san, apa yang menurut Kaa-san harus aku lakukan selanjutnya? Terutama perihal aku yang merupakan keturunan onmyoji ini?"

Seluruh orang diruangan itu dikejutkan perkataan Naruto yang tiba-tiba. Namun Kushina hanya tersenyum dan segera menjawab. "Kalau kau merasa mampu, kau akan melanjutkan pelatihan onmyojimu yang tertunda. Dan apapun yang kau ingin lakukan, Kaa-san akan mendukungmu."

Minato merangkul Naruto. "Bahkan kalau kau ingin melanjutkan sekolahmu dulu, Tou-san tidak akan melarangnya." Minato menatap Naruto yang tertawa kecil. 'Asalkan kau ada didekat kami, itu sudah cukup.'

"Bagaimana kalau Naru-kun masuk ke sekolahku?" Shion yang merangkul Naruto dari belakang menyatakan pendapatnya.

"Ah, benar. Jika Naruto masuk ke Sakurazaka akan lebih mudah untuk mengawasinya." Hiashi tampaknya menyetujui ide itu.

"Dan lagi semua anak kita ada di sekolah itu, akan mudah bagi Naruto untuk beradaptasi dan mendapat bantuan." Inochi menangguk setuju.

"Bagaimana Naruto?" Minato menunggu reaksi dari anaknya.

"Entahlah Tou-chan." Naruto menggangkat bahunya dengan gaya santai. "Mana bisa aku menolak sementara ketiga pemimpin klan besar sudah menanggap itu ide bagus kan?" Pemuda itu menyeringai jahil.

.

.

Naruto mengamati Shion yang terlelap di sebelahnya. Gadis itu pasti lelah karena berusaha membuka segelnya seorang diri. Naruto membenarkan posisi duduk Shion dan dengan lembut meletakan kepala adiknya dibahu kanannya. Mobil yang sedang dikendarai ayahnya sedang melaju menuju ke rumah lamanya.

"Apa kau lelah, Naruto?" Kushina menatapnya dari bangku depan. Wanita bermarga Uzumaki itu tersenyum lembut melihat kedua anaknya yang tampak sangat dekat.

"Tidak begitu, Kaa-san. Lagi pula aku sudah banyak tidur akhir-akhir ini. Ah, bagaimana dengan Chiyo baa-san? Aku tidak melihatnya di pertemuan tadi." Naruto baru menyadari nenek yang sudah merawatnya selama empat tahun ini tidak ada di ruangan tempat diadakannya pertemuan tadi.

"Chiyo-san sudah kembali ke kediaman utama Akasuna. Dia walau bagaimanapun, masih tetap pemimpin klan Akasuna sampai saat ini." Minato yang sedang mengemudi menjawab pertanyaan Naruto. Lampu merah dengan hologram polisi manusia membuat mobil itu berhenti di belakang garis putih.

"Begitu…" Naruto menjawab lemah. Ia menatap jalanan Tokyo melalui jendela mobil yang gelap. Walau keadaan diluar masih sore, langit mendung membuat keadaan tampak seperti sudah pukul enam sore di Tokyo.

"Ada apa?" Tanya Kushina cemas. Melihat raut sedih di wajah putranya membuatnya juga merasa sedih.

"Tidak hanya saja aku pasti akan merindukan Chiyo baa-san, wisma Kurokawa, Shimizu-san, Baki-san, juga Fuji."

"Apakah Fuji itu temanmu?" Kushina bertanya dengan senyum di bibirnya.

"Un. Dia teman pertamaku di Tokyo ini. Ah, setidaknya itulah yang aku ingat." Naruto merasa takut salah bicara. Karena ia sendiri lupa bagaimana masa kecilnya sebelum berusia delapan tahun.

"Tidak masalah apakah Fuji teman pertamamu atau bukan, tapi keberadaan Fuji sebagai temanmu yang berharga tidak akan berubah walau ingatan aslimu kembali, Naruto." Minato memberikan pengertian. "Bahkan kalau teman-temanmu dulu kembali."

"Apa Tou-san tahu seperti apa teman-temanku dulu?" Tanya Naruto antusias. Ia menjadi penasaran seperti apa dirinya dulu.

"Humm.. Lebih baik Tou-san tidak mengatakannya jadi kau bisa tahu temanmu itu seperti apa dengan sendirinya."

"Ehh?" Naruto berseru tidak puas. "Ayolah, Tou-san. Akukan hanya ingin tahu seperti apa teman-temanku." Naruto melemas dan menyenderkan tubuhnya dengan malas ke senderan kursi. Ia menatap Minato sengit melalui kaca spion tengah.

"MaMa.. Sudah jangan marah dan jangan sampai adikmu itu bangun, Naruto." Minato mencoba menenangkan anaknya. Namun Naruto hanya terdiam mengacuhkan ayahnya, membuat Minato patah hati dan menangis di dalam hatinya.

Mobil itu berhenti di depan mension mewah yang merupakan bangunan bergaya eropa dan tampak elegan namun modern disaat yang sama. pintu gerbangnya otomatis terbuka membuat mobil silver itu dengan leluasa memasuki pekarangan depan.

Naruto membulatkan matanya. Wisma keluarga Kurokawa memang cukup besar, tetapi mension ini bahkan empat kali luas wismanya dulu. "Sugee.. Aku benar-benar tidak ingat dulu pernah tinggal di mension semewah ini." Naruto tidak bisa menutupi keterkejutannya.

"Mension keluarga Uzumaki bahkan jauh lebih besar loh, Naruto." Minato berbicara setelah membuka pintu belakang mobil. Ia menggendong Shion yang masih tertidur. Naruto ikut turun setalahnya. Kushina meraih lengannya dan menggandeng Naruto memasuki mension di belakang Minato yang memimpin jalan.

"Okaerinasai, Minato-sama, Kushina-sama, dan juga Naruto-san." Yang menyambut mereka adalah Ayame, kepala pelayan kediaman Namikaze.

"Ah, Ayame-nee." Naruto berseru ketika melihat pelayan berseragam maid yukata itu.

"Naruto-san. Senang melihatmu sudah kembali ke rumah ini." Ayame memberikan pandangan lembut. "Bagaimana kalau satu porsi ramen special sebegai hadiah kepulangan?"

"Tentu saja aku mau." Naruto menerima tawaran itu dengan cepat. Ia kembali mengikuti ayahnya karena tarikan lembut ditangannya. Kushina menggandeng Naruto hingga mereka memasuki ruangan yang mirip ruang keluarga. Sedangkan Minato membawa Shion ke kamarnya.

"Duduklah." Kushina mendudukan diri terlebih dahulu di atas sofa kelabu gelap. Naruto ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Kushina. "Kau sudah besar, Naruto." Kushina menyentuh wajah Naruto. Mata violetnya tampak berkaca-kaca.

"Okaa-san.." Naruto meletakan tangannya diatas tangan Kushina. Ia hanya menatap getir ibunya.

"An.. Andai saja dulu aku tidak menyetujui ide bodoh itu. Aku bisa melihatmu tumbuh dengan mata kepalaku sendiri." Kushina menangis. Ia bahkan tidak menahan kesedihannya sedikitpun. "Juga Minato dan Shion, bahkan anikimu itu. Mereka benar-benar sedih tentangmu."

"…." Naruto yang tidak tahu harus berkata apa hanya terdiam. Ibunya memeluknya dan mencurahkan semua keluh kesah yang ditahannya selama empat tahun.

"Andai saja aku yang membesarkanmu.. Naruto." Kushina meremas bahu Nartuo lemah.

"Sudahlah Kushina…" Minato yang baru tiba melepaskan pelukan Kushina. "Jangan buat Naruto ikut bersedih." Ungkapnya. Ia lalu duduk di samping Naruto. Dengan tegas, mata birunya menatap mata Naruto lurus-lurus.

"Aku yakin kau sudah ingat apa pekerjaan keluarga kita turun-temurun, Naruto?"

Naruto mengangguk. "Un. Sebagai onmyoji."

"Kalau begitu, kau seharusnya sudah tahu apa tanggung jawab dan bebanmu begitu kau kembali menjadi onmyoji bukan?"

"Tentu saja, Tou-san." Tidak ada keraguan tentang itu. Naruto tahu benar kewajibannya ketika ingatannya kembali. Sesuatu yang bahkan tidak bisa ia lupakan walau ingatannya sudah diubah.

"Jawabanmu membuat Tou-san sudah tidak khawatir lagi, Naruto. Maka, lakukanlah yang terbaik. Kau akan masuk ke sekolah barumu di semester baru. Sebelum itu, kau akan berlatih dengan Tou-san. Mengerti?"

"Sir, yes, sir." Naruto menjawab mantap.

"Baguslah." Minato menangguk puas.

"Demo, Tou-san." Anak laki-laki keluarga Nakimaze itu memasang wajah kebingungan.

"Hn?"

"Apa yang onmyoji lakukan?"

Minato tergelincir dari posisi duduknya, begitu pula dengan Kushina yang sedari tadi mendengarkan obrolan dua laki-laki itu.

"Tentu saja mengatasi Yokai, mensucikan mereka, dan mengatasi masalah spiritual, kan?" Minato menyebutkan semua hal dasar dari pekerjaan seorang onmyoji.

"Ohh.." Naruto membulatkan bibirnya sebagai jawaban.

Minato hanya tersenyum kecut. Sedikit khawatir pada nasib anaknya. Tapi ketika ia melihat pancaran mata Naruto yang sama sekali tidak menunjukan kegoyahan maupun keresahan, ia mengulas senyum tipis. "Kalau begitu cukup untuk hari ini. Pastikan kau dan ibumu makan malam dan tidak tidur terlalu larut."

Minato beranjak dari ruang keluarga itu. namun ketika ia sampai di ambang pintu, Naruto memanggilnya. "Tou-san akan kemana?"

"Ada sedikit urusan." Jawabnya pendek sebelum berlalu dari hadapan Naruto dan Kushina.

"Jangan pikirkan ayahmu, Naruto. Dia hanya mengurus pekerjaannya. Lebih baik kau makan malam dengan Kaa-san sekarang. Pasti ramenmu sudah jadi. Ayo!" Kushina menarik tangan Naruto menuju ruang makan.

.

.

Naruto bangun ketika matahari bahkan belum terbit. Shion yang membangunkannya terus-terusan melompat-lompat di atas kasurnya. Adiknya itu lalu menyapanya dengan senyum sejuta watt yang membuat Naruto sulit untuk tidak membalas senyumannya.

"Ohayou, Onii-chan."

"Ohayou, Shion-chan."

Shion dan Naruto kembali memakai panggilan yang sudah empat tahun lamanya tidak terucap. Naruto yang baru menyadari Shion memanggilnya Onii-chan segera menggoda gadis itu.

"Onii-chan, eh?"

"Kenapa? Ada masalah dengan itu, Bakanii?"

"Tidak. Aku lebih suka kau memanggilku Onii-chan ketimbang Bakanii maupun Naru-kun." Naruto menjawab jujur.

"Kau hanya enam jam lebih tua dariku, Bakanii." Shion memukul kepala Naruto kesal.

"Hei! Aku ini kakakmu yang enam jam lebih tua, Imouto yo!" Naruto berseru tidak terima akan tindakan anarkis adiknya itu.

"Jangan hanya bicara dan terus-terusan tiduran seperti itu, Onii-chan! Tou-chan sudah menunggumu untuk berlatih. Yukatamu sudah disiapkan." Shion segera berlalu dari kamar Naruto dan meninggalkan Naruto yang bersiap-siap.

Yukata yang sudah disediakan untuknya berwarna orange agak gelap, dalaman yukata berwarna putih dan hakama biru gelap. Naruto langsung mengenakannya dengan mudah dan segera keluar dari kamarnya.

"Naruto, ohayou." Kushina menyapanya. Ia meletakan sarapan pagi Naruto begitu pemuda pirang itu mendudukkan diri di samping Minato. Naruto menatap sarapannya dan tidak juga memakannya. Hal itu membuat Kushina dan Minato saling bertukar tatapan kebingungan.

"Ada apa, Naruto? Kau tidak makan?" Kushina menghampiri anaknya itu dan memeriksa dahinya.

"Ah, bukan apa-apa Kaa-san." Naruto menurunkan tangan ibunya dari dahinya. "Aku hanya tidak terbiasa di sapa dipagi hari dan makan bersama keluarga." Naruto menundukan wajahnya dan rona merah tampak di pipi dan telinganya.

Kushina lalu tertawa geli. Ia menepuk puncak kepala Naruto dan mengangkat wajah anaknya. "Kalau begitu, Kaa-san akan terus menyapamu setiap pagi dan menyiapkan sarapanmu." Ia menjawil hidung Naruto lalu terkekeh.

"Tou-san juga akan melakukannya." Minato tiba-tiba ikut berbicara. Ia mendekati Naruto dan menatap anaknya dengan tatapan serius.

"Okee.." Naruto menjauhkan wajahnya dari wajah aneh ayahnya.

"Humm.. Tetapi akulah yang menyapa Onii-chan pertama kali pagi ini." Shion yang baru memasuki ruang makan berkata dengan bangga. Ia duduk di hadapan Naruto.

"Kudengar kau kembali ke sifat manjamu, Shion-chan." Ujar Kushina jahil.

"Apa kau sudah lelah bepura-pura tidak perduli pada Onii-chanmu, eh?" Minato ikut menjahili anak gadisnya.

"Kaa-chan! Tou-chan! Berhenti menggodaku! Mouu…" Shion membuang wajahnya yang memerah. "Aku hanya lelah memanggil Onii-chan dengan Naru-kun! Lagi pula memanggilnya seperti itu membuatku jijik."

Naruto merasa baru saja ada batu dengan tulisan "Kimoi" jatuh diatas kepalanya. "Oi… Jangan jahat pada Nii-chanmu ini, Shion-chan." Naruto mencoba menyentuh lengan Shion, tetapi gadis pirang pucat itu menepis tangan Naruto dengan tatapan kesal.

"Jangan menyentuhku, Kimonii (Kimoi+Anii atau kakak menjijikan)."

Naruto menangis mendengar perkataan kejam adiknya.

"Sudahlah Shion, jangan begitu pada Onii-chanmu." Minato menepuk bahu Shion. Tetapi gadis itu juga menatap tajam ayahnya.

"Jangan berisik Tou-chan."

Minato ikut menangis karena sikap dingin anaknya. "Seharusnya kau tidak bersikap begitu pada ayah dan kakakmu kan? Ne, Shion-chan? Kenapa kau bersikap dingin seperti itu pada Nii-chan dan Tou-chanmu ini?" Naruto sebagai pria polos hanya bisa berkomentar walau adiknya mengacuhkan dan hanya memakan sarapannya.

"Jangan kacangin Nii-chanmu ini, tolong!" Naruto menangis semakin keras.

"Sudahlah. Cepat makan sarapan kalian. Bukankah kalian akan memulai latihan pertama Naruto?" Kushina menjitak kepala Naruto dan Minato yang masih pundung karena sikap Shion yang dingin kepada mereka. "Ah, jangan lupa. Hari ini akan ada tamu spesial yang nantinya akan mengetes Naruto."

"Mengetesku?" Naruto menatap ibunya. Tanda tanya muncul di atas kepalanya.

"Bukankah kau ingin masuk ke sekolahan Shion? Kau piker bisa masuk begitu saja hanya karena kau berasal dari klan Namikaze, Bakanaru?" Ibunya tersenyum dingin.

"Iie, iie, iie. Sama sekali tidak." Naruto menggeleng cepat.

"Jangan begitu Kushi-chan." Minato sweatdrop melihat bagaimana istrinya menjelaskan dengan cara keras. "Mereka hanya ingin melihat apa kamu bisa melakukan ritual sederhana, Naruto. Tenang saja, kalau itu kamu pasti bisa melakukannya." Kata Minato memberi semangat.

"Baiklah.."

"Kalau begitu cepat makan lalu mulai latihan kalian!"

"Itadakimasu!"

.

.

Naruto menatap halaman belakang kediaman Namikaze yang sudah seperti lapangan sepak bola. Bahkan di kejauhan ia bisa melihat danau kecil dan arena berkuda kecil. Naruto membuka lebar-lebar mulutnya dan lupa menutupnya seperti orang bodoh.

"Hentikan wajah bodohmu itu, Nii-chan!" Shion berkata pedas. Ia mengibaskan lengan kimono khas mikonya. Kimono putih dengan tepian merah itu tampak berkibar lembut sebelum jatuh di sisi tubuh Shion yang berdiri tegak. Ia mengelurkan kipas dari lengan kimononya.

"Sebelumnya, biar Tou-san jelaskan dasar-dasar onmyodo. Kita para onmyodo memiliki kekuatan spiritual (Kio) yang jauh lebih besar dari manusia biasa. Lalu kita menggunakan kekuatan spiritual itu menjadi kekuatan kita dan mengolahnya."

"Rasanya penjelasan Tou-san berbeda dari onmyoji yang kubaca di manga-manga." Naruto menyentuh dagunya dengan nada kebingungan.

"Jangan samakan dengan manga dong, Naruto-kun." Minato sweatdrop. "Nah, coba kau keluarkan energy di tubuhmu. Seperti ini." Minato membuka tangannya, perlahan-lahan sinar kebiruan muncul di telapak tangannya membentuk bola sempurna. Ukurannya sedikit lebih besar dari bola pingpong. "Ini adalah contoh sederhana dari kekuatan spiritual kita."

"Hoooo…" Naruto tampak kagum.

"Tou-chan, jangan memberikan contoh mudah seperti itu! Biar kutunjukan bagaimana menggunakan kekuatan onmyodo yang sebenarnya." Shion memangkat kipasnya lalu membukanya, ia mengayunkannya dengan pelan. Angin yang dihasilkan oleh kipas lipat itu sangat besar, mengangkat krikil-krikil di tanah dan meleburkannya menjadi debu.

Naruto tampak semakin kagum. "Ano.. Shion-san.. Anii-uemu tidak akan paham jika kau mencontohkannya seperti itu." Minato terpekur melihat contoh yang dipraktekan oleh Shion. Betapa hebatnya anak gadisnya itu.

"Jangan mempermasalahkan hal kecil, Tou-chan! Coba tiru yang tadi, Onii-chan." Shion menyerahkan kipas lipatnya ke tangan Naruto dan bergerak menjauh. Ia berdiri dengan tangan dipinggang sembari memperhatikan kakaknya itu.

"Yosh! Baiklah." Naruto melakukan gerakan yang sama seperti yang dilakukan Shion, tidak menyadari tangan ayahnya yang mencoba menggapai dirinya untuk berhenti. Ketika kipas itu bergerak, hanya ada udara kosong yang tercipta. Naruto, Shion, dan Minato membeku untuk sesaat.

"Are? Okashina! Aku yakin kipas ini rusak." Naruto menatap Shion dengan mimic wajah aneh. Kicep akan kemampuannya sendiri yang super payah.

"Yang rusak itu kepalamu, Onii-chan!" Shion merebut kipas ditangan Naruto dan menggunakannya untuk memukul kepala pirang kakaknya.

"Ma.. Ma.. Itu karena kipas itu hanya bisa digunakan oleh Shion saja. Dan lagi Naruto tidak mungkin bisa sampai ke tingkat itu kan." Minato mencoba menenangkan. "Bagaimana kalau kau mencoba yang tadi sudah Tou-san tunjukan padamu saja?" Minato menyarankan.

Naruto menangguk dan mengangkat tangannya. "Konsentrasi, bayangkan seolah semua energy di tubuhmu mengalir menuju telapak tanganmu." Minato dengan perlahan membimbing Naruto. "Bayangkan seolah itu aliran air."

"Ermmm…" Naruto menggeram. Namun setelah lima belas menit berusaha tidak ada yang muncul di tangannya. Ia mulai merasa kesal dan frustasi.

"Terus berusaha Naruto." Ayahnya menyemangatinya.

Naruto memejamkan matanya. Ia mengikuti kata-kata ayahnya dan mulai membayangkan aliran air mengalir dari seluruh tubuhnya menuju telapak tangannya yang terbuka. Aliran air ini perlahan-lahan terkumpul di telapak tangannya. Begitu ia membuka mata, sebuah bola kecil, sekecil kelereng, tampak muncul di telapak tangannya.

"Berhasil! Kau berhasil, Onii-chan!" Shion memekik tanpa sadar.

"Hufffttt!" Naruto menghela nafas lega begitu sinar itu menghilang dari tangannya. "Entah bagaimana aku merasa lelah." Naruto mengelap dahinya yang bersih dari keringat, seolah dua puluh detik barusan terjadi selama dua jam.

"Kau berhasil, Naruto! Itu hebat sekali. Bahkan orang lain memerlukan satu sampai dua minggu untuk bisa mewujudkan kekuatan spiritual mereka menjadi energy seperti itu." Minato tampak bangga dengan kemampuan anaknya.

" Hum, walau aku berhasil melakukannya di percobaan pertama dalam lima detik sih." Shion tiba-tiba mengatakan hal yang membuat Naruto merasa lemas.

"Shion-chan…" Minato memaklumi sikap Shion yang tidak mau mengalah pada siapapun itu. "Tapi Naruto sudah berhasil melakukan dasar dari kemapuan onmyodo. Selanjutnya ia bisa melakukan mantra sederhana."

"Mantra?" Naruto berguman rendah. "Ah, aku ingat Renji-san pernah menggunakan kekuatannya tanpa mantra. Apa itu seperti yang dilakukan Shion tadi?" Naruto tampak antusias.

"Begitulah. Mantra berfungsi sebagai pemicu ketika kita akan mengeluarkan energy kita. Mantra memudahkan kita mengeluarkan dan mengatur energy yang terwujud. Kau tahu, kata adalah kekuatan terbesar yang dimiliki manusia." Minato berjalan menuju gazebo yang berada di dekat danau. Ia duduk dan memulai penjelasan tentang kemampuan onmyodo.

"Semisal seseorang ingin membuat angin dari energi yang kita ciptakan. Dia akan melafalkan mantra yang berhubungan dengan elemen angin. Namun kita juga bisa melakukannya melalui segel tangan, simbol atau media lainnya."

"Souka.."

"Semisal yang Shion lakukan merupakan kemampuan dengan menggunakan media benda. Kipas yang digunakannya adalah kipas khusus untuk ritual. Tentu saja kipas itu memiliki kemampuan untuk menyalurkan energi seperti yang diinginkan penggunanya." Minato menjelaskan kemampuan Shion dalam menghasilakan angin yang tadi dilakukan oleh gadis pirang itu.

"Tentu saja mantra adalah media termudah untuk mengeluarakan kemampuan kita. Tetapi, jika orang itu benar-benar hebat, dia bahkan bisa mengeluarakan energi yang sangat besar dengan hanya diam." Minato melanjutakan penjelasannya.

"Apa Tou-san menggunakan mantra atau media benda seperti yang dilakukan Shion?" Tanya Naruto.

"Tou-san lebih sering menggunakan segel tangan. Tetapi ada kalanya Tou-san menggunakan mantra dan media benda." Minato mengeluarakan sesuatu dari dalam lengan yukatanya. Itu adalah kunai berbahan karbon yang tampak tajam. Ada kertas mantra yang melilit pegangannya.

"Apa itu?" Naruto mengambil kunai dari tangan ayahnya dan menatapnya lekat-lekat.

"Itu adalah kunai khusus yang hanya Tou-san yang bisa memakainya. Kunai itu membuat Tou-chan dengan mudah berpindah tempat kemanapun yang Tou-san mau. Juga sebagai alat untuk menyerang dan bertahan."

"Hehhh.. Apa para bakemono bisa kalah dengan benda seperti ini?" Naruto melempar kunai ayahnya, lalu menangkapnya kembali dengan mudah.

"Tent_"

"Minato, Naruto, Shion. Kemarilah, Orang yang akan mengetes Naruto sudah tiba." Kushina tiba-tiba muncul dan memotong perkataan Minato. Ia segera menyeret putranya menuju bangunan utama kediaman Namikaze tanpa memberikan Naruto kesempatan untuk berbicara.

Kushina terus menyeret Naruto hingga sampai ke ruang tamu. Dia melepaskan kerah Naruto begitu sampai di depan ruang tamu dan berjalan dengan anggun menghampiri si tamu yang duduk dengan santai di atas sofa.

"Tadaima.." Kushina membungkuk. Pria yang menjadi tamu keluarga Namikaze itu tersenyum cerah begitu melihat Naruto yang berjalan di belakang Kushina.

"Naruto!" Dia berteriak dan langsung menghampiri Naruto.

"Ji.. Jiji?"

#つづく#

Note :

"…" : Percakapan

Italic : Bahasa Asing

'Bold' : Dalam Pikiran

Sebelumnya terima kasih sudah mau membaca fanfic aneh ini. Dan terima kasih untuk yang sudah mau mereview chapter sebelumnya.

Untuk chapter ini saya akan menjelaskan tentang shikigami dan kertas mantra(atau ofuda). Shikigami memiliki arti pelayan dewa yang artinya mereka jiwa yang bekerja untuk para dewa-dewi Jepang. Inugami merupakan contoh paling mudah dari Shikigami. Tapi dalam ilmu onmyoji (setahu saya) onmyoji merupakan jiwa(atau mantan yokai) yang diikat dengan perjanjian agar melayani tuan mereka.

Sedangkan ofuda merupakan kertas mantra sebagai media paling sederhana dalam ritual. Biasanya mereka menggunakan kipas untuk ritual nyanyian dan tarian atau shide (untuk yang ini lebih baik cai di google). Ngomong-ngomong kertas peledak yang ada di anime Naruto juga merupakan ofuda.

Sebenarnya onmyoji dan ninja di Naruto tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama menggunakan segel tangan, kertas mantra, cakra (atau kio), dan bahkan ada ritual penyegelan yang biasanya digunakan onmuoji. Bahkan saya lebih merasa Naruto itu onmyoji ketimbang shinobi.

Saya akan senang jika para readers mau mereview (dan mengeritik juga membenarkan kesalan di fic ini) agar fanfic ini menjadi lebih baik.

Salam,

Hiruma Enma 01