Apa perlu aku melihat kebelakang? Jika yang ada di sana hanya ada kepahitan dan rasa sakit? Perluka aku?
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Drama.
Reated : T (Teenager).
Warning : Typo's, Alur yang tidak jelas, dan bahasa baku yang maksa.
Pria tua yang duduk di atas sofa itu bukan kakek tua yang terlihat berwibawa, walau posisinya yang tinggi dalam dunia Onmyoji. Seringai yang lebar selalu menghiasi wajahnya, juga buku mesum yang kini ada di tangan Naruto yang merupakan pemberian kakeknya itu.
"Bagaimana, Naruto? Itu buku baru yang baru kubuat minggu lalu." Jiraiya mengatakannya dengan bangga. Wajahnya yang menyebalkan memasang ekspersi mesum yang membuat Kushina sebagai menantu ingin segera memukul wajah tua itu jika tidak ingat bahwa pria itu sekarang adalah ayahnya.
"Otou-san, tolong jangan beri Naruto buku yang aneh-aneh." Kushina merebut buku itu, lalu menghancurkannya dengan api biru yang keluar dari telapak tangannya dan menghanguskan buku itu hingga tidak berbekas. "Naruto belum cukup umur untuk membacanya." 'Dan tidak akan pernah cukup umur untuk membaca buku laknat itu.' Tambah wanita itu dalam hati.
"Omong kosong, Kushina-chan. Naruto sudah cukup dewasa untuk membaca bukuku itu." Jiraiya mengibaskan tangannya dengan gaya acuh. Dia berniat merogoh buku lainnya dari saku celana andai saja tidak ada Minato yang menahan bahunya dengan delikan tajam.
"Kushina-chan bisa membunuhmu dan aku jika Tou-san masih berani mengeluarkan buku itu dan memberikannya pada Naruto." Anak laki-lakinya itu berbisik serendah mungkin dengan tatapan horror.
Jiraiya meneguk ludah susah payah mendengar perkataan Minato. Dia segera memasukan buku haramnya dalam-dalam ke saku belakang celananya. Dia menatap Naruto dengan tatapan bijak. "Ibumu benar, Naruto. Kau belum cukup dewasa untuk membacanya." Katanya dengan senyum kecut.
"Huh? Apa maksudmu, Ero-jii? Tentu saja aku belum cukup umur untuk membaca buku mesummu. Bahkan aku yang baru mendapat ingatanku lagi saja tahu." Naruto mengatakannya dengan jelas, singkat, dan meyakitkan. Terkadang Minato dan Jiraiya selalu lupa siapa Ibu Naruto dan Shion kalau kedua anak itu tidak bicara.
"Maa.. Maa.. Kenapa kita tidak kembali ke permasalahan utama? Jadi, Kapan Tou-san akan mengetes kemampuan Naruto?" Minato mencoba mengalihkan pembicaraan agar Jiraiya tidak makin terpuruk mendengar perkataan cucunya.
"Ah, sebenarnya bukan hanya aku. Mereka mengaggap penilaianku tidak akan sesuai kenyataan karena Naruto cucuku. Sebentar lagi mungkin ada tamu lainnya." Jiraiya mengibaskan kipas lipat yang dibawanya.
"Um, apa Ero-jii tidak tahu siapa penilai lainnya?" Naruto bertanya.
"Naruto, kenapa kau memanggil kakekmu Ero-jii? Ah, sudahlah. Aku kurang tahu karena aku baru tiba di Jepang dua belas jam lalu. Aku bahkan sangat terkejut ketika Shizune menghubungiku dan mengatakan kau sudah kembali." Jiraiya tersenyum lembut menatap Naruto. "Kau sudah bertemu nenekmu kan?"
"Sudah. Baa-chan kelihatan baik, aku bersyukur." Naruto terlihat aneh untuk sesaat, seperti dia memaksakan diri untuk tetap bersikap biasa namun guratan aneh muncul di sekitar seolah dia menahan perasaannya sendiri.
Pembicaraan anggota keluarga itu terhenti ketika seorang maid datang. "Kushina-sama, ada dua tamu yang datang." Ayame menyampaikan kedatangan tamu yang sudah ditunggu sejak tadi.
"Apa mereka sudah di dalam, Ayame?"
"Ya, Minato-sama."
"Pinta mereka untuk ke mari."
"Dimengerti." Ayame segera berlalu dan tidak beberapa lama gadis itu kembali muncul bersama seorang pria dan wanita. Sang pria segera tersenyum begitu melihat Naruto. Naruto yang melihat pria itu juga ikut tersenyum lebar, berlari menyongsong pria itu dengan tangan terentang yang disambut dengan hangat oleh pria itu.
"Iruka-sensei." Naruto menghambur ke pelukan Iruka.
"Naruto." Iruka dengan mudah menangkap tubuh Naruto dalam dekapannya dan memutar tubuh bocah pirang itu untuk sesaat sebelum melepaskannya dan bertukar sapa. "Bagaimana kabarmu? Apa kau sehat-sehat saja selama di Suna?"
"Aku baik-baik saja, Iruka-sensei. Sebenarnya selama tiga bulan terakhir aku berada di dekat Tokyo." Naruto menyengir sembari rambutnya diacak-acak oleh Iruka. Namun ketika Iruka mendengar perkataan terakhir Naruto, dia menghentikan gerakannya.
"KAU APA?" Kushina, Minato, Jiraiya, dan Iruka berteriak bersamaan. Keempat orang itu menatap Naruto dengan mata melebar.
"Hei, tenanglah. Kalian seperti akan membunuh Naruto sekarang." Wanita yang sedari tadi diam melihat Naruto dan Iruka itu angkat bicara. Wajahnya yang cantik terlihat kesal mendengar teriakan yang menulikannya. "Aku yakin Chiyo-sama sudah mengizinkan Naruto, dan toh Naruto baik-baik saja." Anko mengatakannya dengan santai.
"Naruto tidak baik-baik saja, dia hampir sekarat ketika aku datang ke kuil Sakusamo." Kushina menjerit nyaring. "Aku piker aku akan kehilangan Naruto saat itu." Kushina memeluk Naruto dan Shion. Shion yang sedari tadi tidak berkomentar dan menghindari percakapan hanya bisa menghela nafas lelah.
"Kaa-chan, tenanglah. Tidak seperti Onii-chan akan mati hanya karena segel pertamanya dilepas. Bahkan kalau segel itu terlepas secara tidak sengaja, hanya akan membuat Naru-nii pingsan atau koma untuk beberapa hari."
"Aku tahu." Kushina makin mengeratkan pelukannya. "Tapi itu artinya kau juga akan…" Kushina berguman tidak jelas. Minato harus menenangkan istrinya agar pembicaraan bisa berlangsung.
"Jadi kami kemari untuk mengetes apakah kekuatan Naruto sudah cukup stabil. Kudengar Naruto juga akan pindah ke Sakurazaka, jadi setidaknya dia harus bisa mengendalikan kekuatan spiritualnya." Iruka menjelaskan. "Tapi dilihat dari kemampuan Naruto dulu, aku sebagai mantan gurunya meyakini Naruto pasti bisa melakukan tes sederhana ini."
"Baiklah. Ayo kita lakukan!" Naruto berseru semangat. Naruto segera berjalan ke taman belakang yang sebelumnya digunakan sebagai tempat latihannya tadi. Iruka, Anko, Kushina, dan Minato. Shion dan Jiraiya memilih melihat kakak kembarnya itu dari beranda lantai dua.
"Jadi Jiraiya-sama akan menilai Naruto secara objektif. Sementara aku akan memberikan penilaian bagaimana kemampuan Naruto sekarang, sedangkan Anko-san akan menuliskan laporan tentang tes hari ini agar beberapa pihak bisa menentukan apa Naruto lulus atau tidak."
"Tentu saja aku akan memberikan penilaian yang objektif bahkan walau Naruto itu cucukku!" Teriak Jiraiya dari lantai dua mendengar penjelasan Iruka. Shion hanya menahan kakeknya agar tidak terjatuh dari lantai dua, lebih tepatnya menahan kakeknya supaya pria tua itu tidak macam-macam.
"Ehmm.." Iruka mebersihkan kerongkongannya, atau lebih tepatnya meminta perhatian kembali padanya karena sempat teralih oleh tindakan anarkis Jiraiya. "Naruto, tes pertamamu adalah menunjukan bagaimana teknik dasar untuk memanipulasi energy spiritualmu."
"Baiklah."Naruto melakukan apa yang sudah ayahnya ajarkan tadi. Dia membuka tangannya dan memfokuskan energy di telapak tangannya. Perlahan, cahaya biru terang mulai muncul di telapak tangannya dan mulai membesar. Cahaya itu berhenti membesar setelah seukuran bola softball.
Jiraiya, Iruka, bahkan Anko tampak kagum Naruto bisa membuat energy sebesar itu setelah sekian lama tidak pernah menggunakannya. Seharusnya Naruto hanya bisa membentuk titik cahaya kecil karena secara tidak langsung Naruto itu seperti anak yang baru belajar menggunakan energy rohnya.
"Oh, ini Kio yang cukup kuat." Naruto terlihat kagum pada dirinya sendiri. Minato dan Kushina sendiri terkejut akan kemampuan anak mereka yang berkembang sangat pesat. "Apa dulu aku pernah mempelajari hal ini ya?" Tanya Naruto entah pada siapa.
"Tentu saja kau pernah. Aku dulu merupakan gurumu, Naruto. Walau aku menjadi gurumu hanya dua tahun lamanya." Iruka menjawab pertanyaan Naruto diseratai tepukan bangga di punggung pemuda itu. "Kau merupakan murid yang sangat berbakat."
"Um, apa aku boleh bertanya?"
"Tentu saja." Iruka mengangguk.
"Kapan seorang onmyoji mendapat pelatihan mereka?"
"Biasanya anak dari keturunan keluarga onmyoji mendapat pelatihan pertama ketika usia mereka tiga sampai lima tahun. Lalu pendidikan onmyoji umum dari usia enam seperti sekolah dasar untuk anak normal lainnya. Namun onmyoji yang bukan berasal dari keluarga onmyodo akan mendapat pelatihan ketika usia mereka 12-15 tahun."
"Hmm.." Naruto mengagguk mengarti. "Berarti dulu ketika aku masih disegel, umm, empat tahun yang lalu aku sedang menerima pendidikan umumku?" Tanya Naruto lagi.
"Begitulah. Tapi pendidikan yang kamu dan Shion terima itu khusus karena kemampuan kalian." Iruka yang menyadari ia tidak boleh berbicara lebih banyak langsung mengubah topic. "Nah sekarang coba kau wujudkan Kiomu dalam bentuk lain. Apa kau mengingat sesuatu?"
Naruto mencoba berkonsentrasi dan menggali ingatan lamanya. Yang dia temukan hanya beberapa ingatan kecil tentang keluarganya, dan beberapa orang berwajah samar yang tidak begitu diingatnya. Namun ketika ia berhenti mencoba mengingat, sebuah kilasan ingatan muncul begitu saja.
"Bagaimana kalu begini?"
Naruto membentuk segel tangan, mengambil sebuah kertas mantra yang ada di pocket ikat pinganggnya dan melemparkan kertas mantra itu. Kertas mantra itu berubah menjadi bola api yang melayang, Naruto memberi perintah melalui kedua jari telunjuk dan tengahnya, ketika kedua jari itu bergerak, bola api mengikuti gerakannya sebelum menghilang setelah dua puluh menit.
Iruka menangguk. "Bagus sekali Naruto. Kau lulus." Iruka menulis sesuatu di kertasnya lalu menangguk puas. "Tapi sayangnya kamu masih harus menunggu keputusan ketua klan Sarutobi yang menjadi pemilik Sakurazaka dan beberapa orang lainnya yang perlu diyakinkan."
"Jiji ka? Aku yakin kalau itu Jiji dia pasti akan meluluskanku. Tapi aku tidak yakin dengan 'beberapa orang lainnya yang perlu diyakinkan' ini." Naruto memijit dagunya, ragu.
"Kupikir juga begitu." Ujar Shion yang sudah berdiri di samping Naruto. "Kerja bagus, Onii-chan."
"Sankyuu, Shion." Naruto menyenderkan tubuhnya ke Shion yang dengan sigap menyangga tubuh lemas kakaknya itu. Naruto tampaknya lelah setelah menggunakan kekuatannya dua kali walau tubuhnya belum siap melakukannya dan menerima dampaknya.
"Naruto, kau baik-baik saja?" Kushina mendekati Naruto dan menyentuh wajah pucat anaknya.
"Daijoubu, Kaa-san. Aku pernah lebih buruk dari ini." Naruto kini berpindah tangan ke Ayahnya yang menggendongnya di belakang punggung dan membawanya ke dalam rumah.
"Iruka, Anko, Otou-san, aku akan menyerahkan sisanya pada kalian, onegai." Lalu dia, Kushina, dan Shion berlalu memasuki kediaman utama keluarga Namikaze.
.
.
Ketika Naruto terbangun, adiknya duduk bersila di ujung kasurnya. Gadis itu sudah mengganti kimono mikonya dengan sweter soft pink yang memperlihatkan bahu mulusnya dan celana pendek merah. Gadis itu membaca buku yang terlihat tua dengan kepala yang sesekali jatuh juga mata yang berkabut, jelas sekali gadis itu mengantuk.
"Urmm.. Ohayou, Shion-chan."
"Konbawa, Onii-chan."
"Oh, sudah malam ya?" Tanya Naruto. Ketika ia ingin mengecek keadaan diluar, tirai jendelanya tertutup rapat dan lampu kamarnya menyala. "Berapa jam aku tertidur?"
"Enam jam?" Shion mengira-ngira. "Entahlah, sekitar itu."
"Kau terus menungguiku sampai terkantuk-kantuk begitu?" Tanya Naruto. Ia menepis rambut yang menutupi pipi cubby adiknya. "Bagaimana kalau kamu tidur sekarang?"
"Aku hanya bosan." Shion menepis lembut tangan Naruto. "Ngomong-ngomong Onii-chan baik-baik saja?"
"Tentu saja. Aku hanya lelah. Jadi, kenapa kau menunggui Onii-chanmu ini, hm?"
"AKu ingin bertanya beberapa hal. Misalnya, apa Tou-chan dan Kaa-chan tidak tahu Onii-chan bersekolah di Tokyo?"
"Begitulah. Kupikir, malah aneh kalau kau tahu aku ada di Tokyo."
"Sebenarnya, kalau saja aku tidak mengirim shikigamiku aku juga akan terkejut. Maksudku, Chiyo-baa sama mengizinkan Onii-chan pergi ke Tokyo? Yang benar saja." Shion memutar bola matanya.
"Aku membujuknya mati-matian, saat itu kukira dia tidak mengizinkanku karena ada alasan lain. Misalnya aku diserang bakemono di perbatasan atau semacamnya. Lagian aku bukan tinggal di Tokyo tapi di Kanagawa. Lebih tepatnya Yokohama." Kata Naruto sedikit bercanda. "Kukira juga itu karena Chiyo-baa san tidak mau berpisah dariku."
"Yang terakhir itu benar-benar lucu, Onii-chan." Shion mendengus. "Kenapa Kanagawa? Bukankah Tokyo lebih baik?" Shion menyelidiki alasan kakaknya lebih memilih kota pelabuhan kecil macam Yokohama yang selalu ramai.
"Entahlah.. Mungkin karena dekat laut?" Naruto mengendikan bahunya acuh. "Lagian apartemenku benar-benar dekat dengan stasiun kereta dan sekolah."
"Onii-chan tidak pernah menyukai laut kan? Seharusnya Nara memberikan laporan mingguan tentangmu, tapi sepertinya dia menyembunyikan fakta kalau Onii-chan keluar dari Suna kepada semua orang."
"Kenapa begitu?"
"Well, hanya dia yang punya otoritas penuh dalam memata-mataimu, Onii-chan. Bahkan ketua klan sekalipun tidak diizinkan. Hal ini untuk mengurangi kebocoran informasi dan semacamnya. Bahkan ingatan beberapa orang tentangmu juga ikut dihilangkan."
"Huh? Jadi teman-temanku dulu tidak mengenal siapa aku?" Naruto tekejut mendengar informasi itu.
"Kebanyakan teman-teman Onii-chan merupakan anggota klan utama seperti kita, jadi itu tidak mungkin untuk menghapus ingatan mereka. Dan lagi ingatan mereka akan kembali ketika segel Onii-chan dilepas."
"Begitu?"
Naruto tampak berpikir untuk beberapa saat sebelum menatap Shion kembali. "Lalu apa lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Apa Onii-chan pernah bertemu youkai? Menurut laporan Nara seharusnya Onii-chan beberapa kali diserang. Bahkan Onii-chan berhubungan dengan Onmyoji di cabang Akuro."
"Sebenarnya sih, iya. Aku tidak terlalu ingat. Sepertinya kalung ini," Naruto menunjukan kalung Kristal yang ada di lehenya pada Shion, "membuat aku kehilangan ingatanku secara instan."
"Begitulah, kalung itu menyembunyikan kekuatan rohmu dan menjauhkanmu dari beberapa Yokai juga sepertinya menghapus ingatanmu jika secara tidak sengaja Onii-chan berinteraksi dengan Yokai."
"Ah, ngomong-ngomong apa kau mengenal Kurokawa Renji?"
"Siapa dia?" Shion menaikan alisnya mendengar nama asing di telinganya.
"Agen terbaik di cabang Akuro?" Naruto menjawab lebih seperti bertanya.
"Ah, ya, bocah dari klan Kurokawa. Bukankah Onii-chan meminjam nama klan itu?"
"Begitulah. Lagi pula kau tidak bisa memanggilnya bocah sementara Renji-san lima tahun lebih tua dari kita." Naruto menegur.
"Dia lebih junior dariku dalam urusan pekerjaan. Dan Onii-chan jauh lebih junior lagi. Bahkan Onii-chan belum menjadi juniorku." Shion menertawai hal itu. "Padahal kalau Onii-chan tidak pergi, Onii-chan sudah menjadi sangat hebat." Bisik Shion lemah.
"Hei, jangan terlalu keras pada Onii-chanmu ini." Pinta Naruto. Dia sepertinya tidak mendengar bisikan Shion. Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya ke belakang, memantul beberapa kali di atas kasur empuknya sebelum terlentang dengan lelah di tempat tidurnya.
Shion ikut menjatuhkan diri samping Naruto dengan posisi terkelengkup. "Jadi, kenapa Onii-chan tidak membuka beberapa catatan lama Onii-chan ketika masih di sekolah dan segera menyusulku? Akan kupinjamkan beberapa buku lamaku dan mungkin membantu Onii-chan belajar ketika senggang."
"Ide bagus, Imotou." Naruto kembali ke posis duduknya dan beranjak dari atas tempat tidurnya menuju kamar mandi. "Tapi aku harus mengganti yukata ini dan mandi. Jadi kenapa kau tidak mengambil bukumu dan mengajari Onii-chanmu ini setelah aku mandi?"
"Dasar." Shion memutar bola matanya untuk ke sekian kalinya melihat kelakukan Onii-channya itu.
.
.
Naruto menghabiskan malamnya dengan belajar bersama Shion secara teori dan mempelajari dasar onmyoji. Beberapa mantra penyujian dari agama Shinto seperti Norito dan beberapa hal lainnya juga dipelajarinya. Naruto bahkan harus menghapal semua mantra dan segel tangan yang bisa membantunya melakukan ritual penyucian.
Naruto menggigit ujung pensil yang sedang digunakannya. Dia membentuk beberapa lingkaran sihir di atas kertas mantranya. Benda itu akan menjadi kertas mantranya sendiri nanti. "Ayolah, Onii-chan, aku tahu sejak dulu Onii-chan payah dalam menggambar lingkaran mantra tapi.. Serius deh." Shion menghela nafas lelah. Gadis kecil itu berdecak lidah.
"Hei, jangan karena karena kamu jenius dalam hal seperti ini kamu bisa meremehkan Onii-chan ya!" Naruto langsung menyelesaikan dua ratus lembar kertas mantra itu dengan kilat. Setelahnya ia mengacungkannya di depan hidung Shion dengan bangga.
"Baguslah. Besok kita berlatih dengan benda itu. Onii-chan harus terus berlatih hingga semester dua dimulai setelah liburan musim panas ini." Kata Shion. "Untungnya aku sudah pergi ke kuil untuk obon tahun ini jadi aku bisa terus melatih Onii-chan sampai awal semester depan."
"Baiklah, baiklah, adikku yang manis. Onii-chanmu ini sangat berterima kasih ttebayo."
Shion membeku untuk sejenak. "Apa katamu tadi, Onii-chan?"
"Aku yang berterima kasih?" Naruto mengingat-ingat.
"BUKAN! Tapi yang terakhir."
"Um.. Ttebayo?"
"…" Shion tidak berkata-kata, tapi kemudian gadis itu tertawa. Nyaris terbahak saking kerasnya. "Bahkan kau tidak bisa melupakan kebisaanmu yang satu itu ya?"
"Aku sudah mencoba tidak mengatakan hal ini sejak ingatanku muncul tapi rasanya benar-benar aneh untuk tidak mengucapkannya barang sehari." Ujar Naruto dengan dahi mengerut.
"Onii-chan, bagaimana rasanya setelah ingatanmu muncul?" Shion menatap Naruto tanpa berkedip. Gadis itu terlihat sangat tertarik dan penasaran.
"Well, tidak terlalu buruk. Rasanya seperti mengingat hal lama yang sudah terlupakan. Dan rasanya seperti kembali dari tempat yang sangat jauh." Walau mengatakan hal semacam itu, yang dirasakan Naruto jauh lebih kompleks, dia bahkan tidak terlalu yakin dengan perasaannya sendiri.
"Sedih mendengarnya." Shion tersenyum, terbalik dengan apa yang dikatakannya.
"Lalu, bagaimana denganmu, Tou-san, Kaa-san, Aniki, dan yang lainnya ketika aku pergi?"
"Entahlah. Saat itu aku baru delapan tahun dan aku hanya tahu Onii-chan pergi untuk kebaikan Onii-chan sendiri jadi aku tidak terlalu sedih saat itu. Kaa-chan sering menangis, Tou-chan dan Nii-san terlihat mencoba tidak terlalu sedih tapi jelas mereka merindukanmu. Juga beberapa orang lainnya. Karena kami dilarang bertemu dengan Onii-chan."
"Sebenarnya aku bingung kenapa aku harus pergi dan ingatanku perlu disegel." Naruto menumpu dagunya di atas lengannya yang ada di meja. Dia mencoba mencari jawabannya namun tidak pernah menemukannya.
"Bahkan aku sekalipun tidak tahu jawabannya. Tou-chan dan Kaa-chan tidak mau memberitahuku. Tapi Nii-san sepertinya tahu kenapa. Kita tanyakan saja padanya saat di pulang." Usul Shion. Dia meraih buku terdekat dan membuka lalu membacanya sekilas. "Coba baca buku ini dan hapalkan, aku akan tidur sekarang dan tolong, bangunlah jam delapan tanpa kesiangan."
Pintu itu tertutup sepeninggalkan Shion menyisakan Naruto dan setumpuk buku tua. Naruto mengendikan bahu dan kembali membaca buku yang baru saja disarankan oleh Shion. "Malam ini akan menjadi panjang."
.
.
Naruto terbangun paginya dalam keadaan setengah tertidur, masih sangat mengantuk hingga mencuci wajah tidak memberikan dampak besar. Dia kembali memakai yukata yang kali ini berwarna merah maroon dan hakama coklat gelap nyaris hitam. Ketika ia sampai di ruang makan, Ayah, Ibu, dan adiknya sudah memulai sarapan pagi.
"Ohayou, Naruto. Tadinya kami ingin menunggumu tapi Shion bilang kamu baru akan bangun jam delapan jadi kami sarapan telebih dahulu. Ayo duduk, Kaa-san akan ambilkan sarapanmu."
Naruto duduk di samping Shion, memulai sarapannya dan lima belas menit kemudian bersiap untuk memulai latihan paginya. Dia memulai latihannya dengan bermeditasi selama satu jam untuk bisa lebih baik mengontrol Kionya. Setelahnya dia mulai menggunakan kertas mantranya.
"Hum, bagaimana kalau kamu menunjukan pada Tou-san mantra yang sudah kau dan Shion pelajari kemarin?" Tanya Ayahnya ketika ia baru selesai bermeditasi. "Kita mulai dengan berlatih tanding."
Naruto hanya menangguk dan mengeluarkan kertas mantranya. Membaca beberapa bait mantra sederhana, membuat kertas mantranya terbakar dan menjadi onibi yang mengitari tubuhnya. Onibi itu bergerak ke arah Shion yang sudah bersiap dengan kipasnya.
Ketika Onibi itu sampai di dekat Shion salah satu onibi meledak memicu ledakan lain dari onibi lainnya dan membuat badai asap kecil yang mengelilingi Shion. Begitu badai asap itu menghilang, tampak Shion yang tidak terluka sedikitpun, bahkan tidak ada debu yang menempel di kimono putihnya.
"Eto, Shion-chan? Bisakah kau sedikit mengalah untuk Onii-chanmu ini?" Pinta Naruto memelas.
"Tidak! Jangan merengek! Apa hanya itu kemampuanmu, Naruto-kun?" Kata Shion mengejek.
"Tentu saja tidak." Naruto mengangkat kertas shikigami yang dibuatnya malam tadi selepas Shion kembali ke kamarnya. Dia membaca mantra yang kali ini lebih panjang. Ketika mantra itu selesai, shikigami di tangannya berubah dalam kepulan asap.
Yang muncul setelahnya adalah sosok oni kecil setinggi pinggang Naruto membawa pemukul dari kayu dengan kulit berwarna hijau dan mata lebar bulat. "Dia oni yang kutemukan di rumah ini." Kata Naruto ketika melihat kerutan di dahi ayahnya.
"Ah, siapa namanya?" Tanya Minato.
"Koro." Jawab Naruto pendek. Dia segera memberi perintah dalam bisikan pelan dan oni itu menyerang Shion. Shion segera merespon dengan air yang didapatkannya dari tanah. Air itu bergerak mengelilingi si oni, menjerat oni itu dengan air yang dipadatkan. Namun Koro mengayunkan gadanya dan membuat air itu berpisah. Oni sendiri bertipe tanah, sehingga elmen air Shion sedikit tidak diuntungkan.
Oni milik Naruto akhirnya berhasil menang setelah melakukan serangan langsung pada Shion yang mengaku kalah. "Onii-chan tidak benar-benar kehilangan ingatan kan? Kenapa Onii-chan bisa menang dariku?" Shion berteriak kesal tidak terima akan kekalahannya.
"Tentu saja aku tidak ingat semuanya. Yah, itu sih jelas karena Onii-chanmu ini orang jenius." Naruto menunjuk dadanya bangga. Shion sweatdrop sedangkan Minato hanya bisa pasrah melihat kelakukan anak laki-lakinya yang terlalu percaya diri.
"Bagus Naruto. Sepertinya kamu sudah siap untuk mulai bersekolah, eh?"
"Begitulah, Tou-chan!"
"Baguslah. Karena dua hari lagi kamu akan pergi ke sekolah." Minato menatap Naruto dengan tatapan penuh percaya bahwa anaknya sudah siap untuk melangkah ke dunia luar.
Naruto mengangguk. "Iya ten_ APA?"
#つづく#
