Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Drama.
Reated : T (Teenager).
Warning : Typo's, Alur yang tidak jelas, dan bahasa baku yang maksa.
"Dua hari lagi? Apa masud Tou-san?" Naruto menatap horror ayahnya begitu ia duduk di sofa ruang keluarga selepas membersihkan diri. Sekarang Naruto hanya mengenakan kaus polos hijau gelap dan celana kain putih di atas lutut. Rambut pirangnya masih tampak basah dan lepek, menempel di dahi serta pelipisnya.
"Bukankah kau berbakat? Tidak masalah kapan kau akan pergi, Onii-chan." Shion yang berbaring malas di sofa menguap melihat kegelisahan kakaknya yang menurutnya sangat menarik. Sebenarnya gadis itu hanya ingin menyindir kakaknya saja.
"Lagian Naruto, kamu bukan memulai sekolahmu. Hanya untuk mengurus semua berkas kepindahanmu dan mengenalkan sekolah itu secara langsung padamu." Jelas Minato.
"Ya, dan lagi pula Onii-chan pernah bersekolah di sana walau hanya dua tahun." Kata Shion menambahkan. Tidak secara langsung karena sekolah dasar Sakurazaka berada di tempat yang cukup jauh dari wilayah untuk tingkat SMP dan SMAnya.
"Apa aku akan tinggal di asrama?" Tanya Naruto.
"Begitulah. Tapi kamu bisa pulang di akhir minggu atau kapanpun kamu mau bahkan walau harus membolos. Tentu saja Tou-san akan menjemputmu dan kamu sudah meminta izin gurumu." Tambah Minato cepat-cepat sebelum Naruto menyalah artikan ucapannya. Dia juga memberikan tatapan memperingati pada Shion.
"Uggghhh.. Aku merasa gugup." Ujar Naruto.
"Nah, rajin-rajinlah berlatih sampai lusa nanti, karena Onii-chan akan benar-benar membutuhkannya ketika sudah ada di Sakugaku."
Naruto bengong begitu saja walau ayahnya dan Shion meninggalkannya. Bahkan ibunya yang selalu ada di rumah dan menemaninya, pergi entah kemana sejak pagi.
.
.
Pagi ini Naruto tidak bersemangat, apa lagi sekarang pantatnya benar-benar terasa panas di atas jok belakang mobil yang sedang melaju menuju Sakugaku. Kanan-kiri jalan hanya ada teluk Tokyo yang biru membentang luas menuju laut bebas. Shion, yang duduk di sampingnya terlihat asik dengan gadgetnya.
Naruto baru teringat kalau dia sudah lima hari lamanya tidak menyalakan ponselnya. Dia meraih benda persegi panjang tipi situ dari dalam tasnya dan menekan tombol power. Kata selamat datang dalam bahasa inggris menyambutnya. Selanjutnya halaman utama tampak di screen ponselnya itu.
Tak berapa lama muncul banyak sekali notic di layar pemberitahuan. Ada enam belas miss-call, lebih dari empat puluh email, dan dua puluh tiga pesan. Bahkan ada lima pesan suara yang menunggu untuk didengarkan.
Naruto meraih earphone dari tasnya dan memasangnya di ponselnya. Dia membuka pesan suara pertama yang berasal dari Fuji. 'Hei, Narunobaka. Kapan kamu akan membalas pesan-pesanku? Cepat kabari aku kalau kau masih hidup.' Dua pesan suara lainnya berbunyi sama.
Lalu dari Kasumi, ketua kelasnya yang berbunyi 'Ah, Kurokawa-kun! Aku lupa memberitahu bahwa ada acara di sekolah dan mungkin kau tidak tahu, jadi datanglah kalau kau sudah kembali ke Tokyo. Aku sudah mengirimimu rinciannya.'
Ketika Naruto mengecek e-mail dan pesannya (yang semuanya berasal dari teman sekelasnya) dia menemukan pesan dari Kasumi yang berisi acara uji nyali yang akan diadakan dua hari sebelum akhir libur musim panas yang artinya tiga belas hari lagi.
Naruto baru menyadari bahwa teman-temannya di sekolah lamanya tidak mengetahui bahwa dia akan pindah dan tidak akan kembali lagi. Mengingat hal itu membuat Naruto sedikit sedih. Terutama Fuji yang sudah menjadi teman dekatnya sejak awal masuk sekolah.
Shion yang sedari tadi mengamati kakaknya terlihat heran karena kakaknya tidak gugup lagi. "Hei, Onii-chan apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Shion mencoba mencuri pandang ponsel Naruto.
"Hanya mengecek pesan dan e-mail dari teman." Jawab Naruto.
"Begitu? Ah, kita sudah sampai." Shion melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil. Mobil hitam itu terparkir dengan sempurna di depan pintu masuk utama Sakugaku. Gedung itu tampak megah dengan lima lantai dimana dindingnya berupa kaca hitam yang sepertinya kaca berbahan khusus.
"Nah, kita akan mengurus kepindahanmu lalu kau dan Shion bisa berkeliling sesuka hati kalian setelahnya." Kushina turun dari mobil diikuti Naruto.
"Aku akan memakirkan mobil terlebih dahulu lalu menyusul kalian." Minato menghilang bersama mobil yang dibawanya. Kushina segera memimpin rombongan tiga orang itu menuju ruang kepala sekolah.
.
.
Naruto harus mendekam di ruangan Sarutobi Hiruzen selama dua jam sampai akhirnya ia dan Shion terlepas dari ruangan yang bagaikan tempat penyiksaan itu. Mengurus kepindahannya benar-benar merepotkan. Padahal Naruto berharap acara pindah sekolahnya itu hanya berlangsung sebentar.
Naruto penasaran juga kapan orang tuanya mengurus berkas di sekolah lamanya. Sepertinya Fuji dan teman-teman lainnya belum tahu jika Naruto akan resmi pindah setelah musim panas berakhir. "Kenapa bengong saja, Onii-chan?" Shion bertanya heran melihat kakaknya berdiri lemas di depan pintu ruang kepala sekolah.
"Bukan apa-apa. Ayo. Katanya kamu mau ngantarku ke sekitar sekolah?" Ajak Naruto. Pemuda itu hanya bisa tersenyum kaku.
Shion mengendikan bahu lalu kembali berbicara. "Yakin?"
"Kenapa bertanya?" Naruto mengerutkan dahi heran.
"Kusarankan saat Onii-chan masuk sekolah saja."
"Kenapa?" Naruto bertanya lagi.
"Onii-chan akan menyesal."
Naruto jadi geram sekaligus bingung karena adiknya itu tidak juga menjawab pertanyaannya. "Makanya, KENAPA?"
"Onii-chan ini!" Kenapa malah Shion yang jadi jengkel padanya? Naruto ingin sekali mencekik adik satu-satunya itu jika tidak ingat rasa sayangnya pada Shion, Naruto hanya bisa mengalah.
"Baiklah, ayo kita ke mobil saja. Aku tidak sudi masuk ke ruang Jiji lagi. Bisa remuk badanku kalau masuk ke sana." Naruto masih ingat ketika Sarutobi yang terus memeluknya untuk melepas rindu. Padahal Jiraiya saja tidak sebegitu rindunya pada Naruto yang merupakan cucunya sendiri.
"Setuju." Shion yang lebih mengenal letak parkiran ketimbang Naruto memimpin jalan. Si adik sesekali bersenandung ketika kaki kecilnya membawa tubuh gadis dua belas tahun itu di sepanjang koridor gedung utama Sakugaku yang benar-benar sepi.
Si kakak jadi sangsi sendiri melihat ke sekeliling yang hanya ada dia dan Shion. Naruto curiga mungkin saja akan ada arwah atau hantu yang muncul di depannya. Tapi mengingat ini sekolah untuk onmyoji, Naruto jadi ragu hal itu bisa terjadi. Yang ada roh-roh itu bekerja untuk para onmyoji di sekolah ini.
"Ne, Shion." Naruto memanggil.
"Apa, Onii-chan?"
"Saat aku bertemu Renji." Naruto menjeda perkataanya. Mata birunya melihat keluar jendela dan langsung menemukan bayangan hitam mencurigakan di tengah-tengah lapangan. Naruto mengalihkan pandangannya dengan raut wajah ketakutan.
"Aku melihat mahluk aneh seperti macan yang dipanggil Renji." Naruto melanjutkan perkataanya setelah ia memalingkan wajah. Naruto bertanya-tanya dalam hati, bayangan hitam itu mirip sekali dengan bayangan yang menyerangnya dulu.
"Onii-chan berpura-pura bodoh atau hanya ingin mencari topic pembicaraan saja?" Shion bertanya sinis. Gadis itu benar-benar menyebalkan terkadangan, tapi wajah manisnya membuat Naruto tidak bisa marah.
"Hei!"
"Itu hanya shikigami, Onii-chan." Jawab Shion dengan desahan lemah. Rasanya onii-channya yang bodoh sudah kembali ke asal saja. Tapi kakaknya itu memang bodoh dari sananya.
"Tapi rasanya seperti ada yang berbeda."
"Mungkin dia mengikat janji dengan yokai atau kami." Naruto membulatkan matanya.
"Jadi itu yokai?"
Shion menangkat alisnya melihat reaksi kakaknya yang menurutnya terlalu berlebihan. "Kenapa memangnya?"
"Hanya terkejut." Naruto tertawa bodoh. Tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi mungkin saja dia menginkat perjanjian dengan kami (dewa)."
"Um.." Naruto tersenyum kaku, setengah tidak paham akan perkataan Shion.
Shion menghela nafas berat. "Bukankah kemarin Onii-chan sudah membaca buku yang kusarankan? Bakanii?" Shion memberikan pandangan menuntut. Bisa-bisanya kakak bodohnya itu tidak tahu hal mendasar yang harus onmyoji ketahui semacam ini.
"Lupa." Jawab Naruto sekenanya. Pemuda Namikaze itu seperti ingin mendapat jotosan maut dari adiknya. Tapi Naruto tidak terlalu khawatir mengingat kekuatan fisik adiknya tidak terlalu kuat. Tidak seperti nenek dan ibunya yang punya tenaga gorilla.
"Onii-chan tahu apa itu shikigami?" Shion bertanya dengan tangan berkecak pinggang. Gadis itu menghentikan langkahnya diikuti Naruto yang berdiri di depan Shion seperti murid bandel yang terlambat masuk kelas.
"Tentu saja. Shikigami merupakan media untuk memanggil roh, bukan?"
"Itu hanya dasarnya. Menurut Onii-chan dari mana roh seperti Oni yang Onii-chan panggil itu datang? Dan bagaimana bisa Oni itu menuruti Onii-chan?"
"Tentu saja karena aku mengikatnya dengan menggunakan mantra, bukan?"
"Itu hanya dasarnya. Sebenarnya Onii-chan bukan mengikatnya, tapi melakukan perjanjian." Naruto mengangguk. Shion meneruskan penjelasannya. "Oni yang Onii-chan panggil itu hanya yokai rendahan sehingga Onii-chan bisa mengikatnya. Tapi Yokai kelas atas dan Kami tidak mungkin Onii-chan ikat sehingga harus menggunakan perjanjian.
Perjanjian sendiri merupakan sebuah kesepakatan yang dibuat tuan dengan pengikutnya. Onmyoji yang membuat perjanjian dengan yokai atau kami harus membuat persepakatan yang setimpal. Tidak masalah jika itu Yokai, tapi Kami berada di tingkat yang berbeda.
Onmyoji yang ingin membuat perjanjian dengan Kami harus menjadi pelayan dewa sehingga gelar majikan bukan menjadi milik onmyoji, tapi menjadi milik Dewa yang dilayaninya. Sedangkan Yokai akan menjadi milikmu setelah kesepakatan dipenuhi."
"Lalu kau melakukan yang mana?"
"Aku mengikat perjanjian dengan Kami."
"Siapa Kami yang kau layani?"
"Amaterasu oo mikoto-sama."
Naruto melebarkan mulutnya. Apa adiknya baru saja menyebutkan nama dewi yang paling dihormati di Jepang? Apa adiknya baru saja menyebutkan nama dewi paling atas? Apa adiknya baru saja menyebut nama dewi yang paling berkuasa atas langit maupun bumi?
"Amaterasu yang itu? Dewi matahari itu? Yang menjadi tiga dewa penguasa bersama Susanoo dan Tsukiyomi?" Tanya Naruto beruntun tanpa jeda. Matanya membulat tidak percaya. Adiknya menjadi pelayan dewa Amaterasu yang paling agung?
"Sudah menjadi tugas ketua klan Uzumaki untuk mengikat perjanjian dengan Amaterasu sama dan menjadi pelayannya. Kaa-san juga melakukannya walau dia sudah melepaskan ikatannya dengan Amaterasu-sama setelah melahirkanku."
"Kau belum menjadi ketua klan, Shion." Naruto memberikan pandangan dingin.
"Memang belum. Tapi hanya perlu menunggu tiga tahun lagi sampai aku resmi menyandang gelar sebagai ketua klan." Jawab gadis itu.
Naruto tidak memberikan bantahan, dia kembali melangkah melewati Shion yang menatap Naruto dengan tatapan tak berarti. Gadis itu lalu menyusul Naruto dan berjalan beriringan menuju parkiran. Pembahasan soal pemimpin klan memang di benci Naruto sejak dulu. Bahkan dia yang baru mendapat ingatannya pun bersikap demikian.
.
.
Naruto baru saja kembali ke rumahnya dan langsung berjalan menuju kamarnya. Minato dan Kushina hanya saling berpandangan melihat sikap anak mereka itu tapi tidak ada yang bisa Minato ataupun Kushina lakukan karena sikap aneh Naruto. Yang jelas sikap anehnya itu sudah dimulai semenjak mereka bertemu dengan Naruto di dalam mobil.
Shion yang terus bersama Naruto bersikap acuh tak acuh melihat kelakuan kakaknya. Naruto hanya butuh sendiri, Shion mengerti itu. Jadi gadis itu tidak bisa melakukan apapun selain membiarakan Naruto sendiri terlebih dahulu.
Naruto terus berjalan menuju kamarnya. Dia langsung menjatuhkan diri ke atas kasur begitu dia masuk ke kamarnya yang gelap dan bahkan tidak menyalakan lampu terlebih dahulu. Rasanya kepalanya penat sekali setelah membicarakan soal ketua klan dengan Shion tadi.
Naruto bukannya tidak mau mengerti, hanya saja permasalahan itu benar-benar dibencinya. Naruto tidak bisa melakukan apapun soal itu, tapi menginghindarinya membuat pemuda itu merasa semakin tidak nyaman. Yang bisa Naruto lakukan hanya melupakannya untuk sekarang.
Pemuda itu meremas badcovernya dan menenggelamkan kepalanya dalam-dalam sampai terasa sesak. Naruto baru mengangkat kepalanya dan mengambil nafas dalam-dalam setelah ia merasa akan mati kehabisan oksigen. Memutar posisi tidurnya, sekarang Naruto menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
Naruto mengucap mantra dalam bisikan lembut dan onibi muncul di sekitarnya. Benda bulat itu memancarkan sinar biru lembut yang menerangi kamar Naruto. Kepingan ingatan tiba-tiba memasuki pikirannya. Ia tersenyum sekilas ketika memorinya mengingat beberapa hal yang ada dalam masa kecilnya.
Pada dasarnya ingatan yang disegel dari Naruto hanya sebagian kecil. Mungkin Naruto hanya bisa mendapat kembali ingatannya sejak berusia empat atau lima tahun karena tidak mungkin ia mengingat masa kecilnya sejak lahir. Tapi setidaknya ada empat tahun yang hilang dalam hidup Naruto. Tentang bagaimana ia tumbuh besar di keluarga onmyoji.
Naruto sendiri tidak bisa menyalahkan takdir. Sudah menjadi takdirnya ia harus kehilangan empat tahun berharga itu walau Naruto sendiri belum mengingat alasan ia harus menyegel ingatannya. Mungkin dirinya dimasa lalu bukan melupakannya, tapi memang tidak mengetahui alasannya. Namun sekali lagi, Naruto tidak mempermasalahkan hal itu.
Toh ibu, ayah, adik, dan kakaknya sudah kembali ke tangannya. Kehidupan lamanya sudah kembali dan Naruto akan menjalaninya sekali lagi. Ingatannya perlahan-lahan akan muncul. Dirinya yang lama –yang baru diketahuinya akhir-akhir ini- mungkin akan muncul. Naruto yang bodoh, berisik, jahil, dan serampangan.
Tapi dirinya yang baru juga tidak akan hilang begitu saja. Naruto yang egois, sedikit pendiam, dan mudah terbawa. Naruto yang dulu mungkin tidak takut pada hantu, tapi Naruto yang baru sangat membenci hal-hal semacam itu. Padahal sebagai onmyoji tidak mungkin Naruto takut pada hantu, arwah, maupun yokai.
Tapi baik dirinya yang dulu maupun yang baru sama-sama dirinya, dia tetaplah Naruto apapun yang terjadi. Keluarganyapun sudah menegaskan hal itu. Naruto juga sama. Tidak ada yang berubah dari dirinya kecuali kenyataan bahwa takdirnya mulai membawanya kedunia yang berbeda, Naruto hanya harus membiasakan diri dan menerima kehidupannya yang dulu sementara ia adalah Naruto yang baru.
Naruto perlahan mulai terlelap sementara kesadarannya mulai menghilang secara perlahan. Ia akan bermimpi lagi, mimpi indah yang hanya akan ia lihat ketika ia terlelap. Bersamaan dengan Naruto yang tertidur, cahaya onibi mulai menghilang dan menyisakan kegelapan yang kembali mengisi kamar Namikaze Naruto sekali lagi.
#つづく#
Terima kasih untuk para reader yang sudah mau membaca fanfic abal ini, dan yang sudah menyempatkan waktu untuk mereview.
Dan maaf soal kata-kata bahasa jepang yang bertebaran juga typonya.
Silahkan meninggalkan kritik dan saran supaya fic ini tidak semakin hancur.
Salam,
Hiruma Enma 01
