Naruto menyesal baru mengetahui hal ini. Ia baru mendapat infomasi baru dari adiknya ketika mereka sarapan bersama sebelum memulai latihan pagi. "Loh, Onii-chan baru tahu kalau semester dua di Sakugaku dimulai seminggu lebih cepat dari sekolah lainnya?"


Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Genre : Horror, Drama.

Reated : T (Teenager).

Warning : Typo's, Alur yang tidak jelas, dan bahasa baku yang maksa.


Naruto menatap lesu ibunya yang mulai mengemasi barang-barang Naruto untuk persiapan pindahnya ke asramnya yang akan ditempatinya mulai tiga hari kedepan. Pakaian, perlengkapan dan kebutuhan sehari-hari, beberapa barang yang harus dimilikinya, perlengkapan sekolah, juga peralatan onmyojinya. Semua barang itu di tata rapi kedalam tiga koper besar yang akan Naruto bawa nanti.

Sementara barang-barang adiknya sejak awal sudah ada di asramanya di Sakugaku. Gadis itu hanya perlu membawa satu travelbag sedang yang sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Hanya tinggal Naruto yang belum bersiap-siap karena terlalu sibuk berlatih.

"Ngomong-ngomong asrama di Sakugaku seperti apa, Kaa-san?" Tanya Naruto sementara tanganya sibuk merapikan isi koper. Ia menimbang-nimbang apa ia akan membawa sepatu kets hitam atau putih di kedua tangannya.

"Yang putih saja, Naruto. Hmm, asrama ya? Tidak terlalu buruk menurut Kaa-chan. Asramanya benar-benar menyenangkan. Apalagi kamu akan mendapat banyak teman di sana." Kushina masih sibuk mengemasi pakaian Naruto.

"Tidak jelas. Jelaskan dengan lebih terperinci dong, Kaa-san. Seperti apa bangunannya, keadaan sekitarnya, dan semacamnya. Aku tidak sempat melihat-lihat asramanya saat kita ke Sakugaku kemarin lusa." Naruto merengek. Ia benar-benar khawatir kalau asrama yang harus dihuninya nanti penuh dengan arwah, yokai, dan semacamnya. Naruto curiga Shion tidak mengizinkannya berkeliling karena gadis itu ingin melihat Naruto syok saat ia masuk ke asrama nanti.

"Kaa-san bingung harus berbicara apa, Naruto. Lagi pula Kaa-san bersekolah di Sakurazaka itu duapuluh tahun yang lalu. Siapa tahu asramanya sudah berubah. Kenapa tidak tanya Shion saja?" Ibunya berbicara tanpa menatap Naruto.

"Sudah. Tapi Shion malah lari tanpa menjawabku." Naruto mengeluh akan tingkah adiknya itu.

"Sudahlah. Lagi pula tinggal dua hari lagi sampai kau masuk sekolah, kan? Dan hari ini kita akan pergi ke Sakurazaka untuk meletakan barang-barangmu." Kushina akhirnya menatap putanya itu dengan mata violetnya yang berkilat geli. "Jangan gugup begitu, Naruto."

"A.. Aku tidak gu.. gugup kok. Kaa-san ini bicara apa sih?" Jelas sekali Naruto gelisah soal sekolahnya yang baru.

"Naruto, anggap saja sekolahmu ini tidak berbeda dari sekolahmu yang lama. Jangan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Kau hanya perlu menjalaninya saja ttebano. Jika ada masalah kau masih memiliki aku dan Minato-kun."

Mendengar kata-kata bijak Kushina Naruto langsung terharu. "Kaa-san." Ucapnya. Ia langsung memeluk ibunya itu.

"Jangan lupa kalau ada adikmu juga di sekolahmu, Naruto. Juga ada teman-temanmu. Kau hanya perlu mengandalkan mereka dan kami jika memiliki masalah." Ujar Kushina sembari mengelus rambut Naruto lembut.

"Aku mengerti Kaa-san." Naruto menanggukkan kepalanya.

"Sekarang segera turun kebawah karena kita akan mulai sarapan sebelum kalian pergi ke sekolah." Perkataan Kushina membuat mulas di perut Naruto kembali lagi.

.

.

Ini kali kedua –yang bisa diingat Naruto- menginjakan kaki di Sakurazaka Gakuen. Area sekolah di pulau terpisah itu masih mencengangkan dan tetap membuat Naruto kagum. Namun kali ini, banyak sekali mobil selain mobil keluarga Namikaze yang memasuki area sekolah. Naruto menatap mobil-mobil itu dan perutnya yang sakit terasa semakin melilit.

"Ayolah Onii-chan. Ada apa dengan sikap bodohmu itu?" Shion yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya ke Naruto yang bersandar di pintu mobil dengan keadaan memutih seperti mayat.

"Hi.. Hibur Onii-chanmu ini, Shion." Pinta Naruto memelas.

"Yada!" Jelas, singkat, padat. Langsung menusuk ke ulu hati Naruto bagaikan strike punch keras dari petinju kelas kakap. Naruto semakin merosot dari bangkunya. Minato melirik kedua anaknya yang ada di jok belakang dari spion tengah.

"Naruto, semangatlah. Kau harus menjalani hari pertamamu dengan baik. Lagi pula hari ini kau hanya memilih asrama dan belum mulai bersekolah." Perkataan Minato seolah menarik Naruto dari alam bawah sadar.

"Me_memilih asrama? Maksud Tou-san?" Tanya Naruto dengan suara serak yang terdengar mengenaskan.

"Kau belum tahu? Ada lebih dari satu asrama di Sakurazaka." Jawab Minato. Shion menatap ayahnya dengan tatapan tajam seolah menyuruh kepala keluarga Namikaze itu untuk tidak meneruskan kata-katanya. Namun pada dasarnya Minato itu agak polos-polos bodoh, terus saja pria itu melanjutkan penjelasannya,

"Ada empat asrama di Sakurazaka."

"EH? Kenapa aku baru tahu?" Naruto memekik keras. Ia menatap Shion yang segera sibuk kembali dengan ponselnya lalu tatapannya beralih ke Kushina yang pura-pura melihat keluar jendela. "KAA-SAN? SHION?"

Minato yang akhirnya sadar kedua wanita Namikaze itu sengaja tidak mengatakannya kepada Naruto hanya bisa tertawa garing. Habislah sudah ia, nanti Shion pasti akan menendang perutnya dengan lutut. "Yah, kenapa kau tidak mulai membaca buku panduan sekolah saja?"

Naruto baru ingat ia menerima buku panduan sekolah bersamaan dengan buku siswa dan identitas siswanya ketika mengurus kepindahannya empat hari lalu. Ia mulai membaca buku itu.

'Panduan Siswa Sakurazaka Gakuen' tercetak jelas di sampul buku panduan itu. Naruto mulai membalik sampulnya yang berwarna biru gelap dengan cap sekolah di depannya. Buku itu cukup tebal untuk ukuran buku panduan siswa. Nyaris dua kali lebih tebal dari buku panduan sekolah biasa.

'Peraturan Sekolah Umum' Naruto membacanya dalam hati. 'Tidak boleh terlabat. Masuk sebelum pukul_' Merasa tidak penting Naruto langsung melompatinya dan membuka lembaran yang mengatur tentang asrama. 'Peraturan Dalam Asrama.'

'1. Setiap siswa dianjurkan untuk memasuki Asrama, bila siswa menolak harus memberikan keterangan dengan persetujuan orang tua. 2. Pemilihan asrama hanya berlalu untuk_' Naruto berhenti membaca buku panduan siswa itu. 'Pemilihan asrama hanya berlalu bagi murid khusus.' Naruto langsung membuka halaman lain dan menandai halaman itu dengan jarinya.

'Panduan Bagi Murid Khusus.' Naruto membaca judul itu dengan kening berkerut. "Kaa-san. Apa masudnya murid biasa dengan murid khusus?" Tanya Naruto.

"Sakurazaka memang berisi murid-murid onmyoji. Tapi untuk menghindari kecurigaan dari masyarakat biasa, sekolah ini juga menerima murid-murid biasa. Hampir dua pertiga dari siswa di Sakurazaka itu murid dari golongan biasa, Naruto."

Naruto sendiri tidak mengetahuinya sampai saat ini. Tapi dia mengesampingkan dulu hal itu dan kembali membaca buku panduan di tangannya. 'Panduan Asrama Bagi Murid Khusus.'

Naruto membacanya dengan cermat kata demi kata yang ada di dalam buku itu. '1. Asrama Haru hanya boleh dimasuki oleh siswa biasa.' Naruto menangguk-anggukan kepalanya mengerti. '2. Setiap murid khusus akan dites ketika mereka memilih asrama yang akan mereka masuki.' Naruto kembali menangguk sampai ia tersadar.

"APA?"

"Kenapa, Onii-chan?" Tanya Shion terkejut mendengar teriakan kakaknya. Kushina dan Minato juga menoleh menatap putra mereka dengan raut wajah bertanya.

"Di tes? Hanya untuk masuk ke asrama?" Naruto menanyakan hal itu entah kepada siapa. Mungkin ke semua orang termasuk dirinya sendiri. Jadi aku harus bersusah payah hanya untuk di terima di sebuah asrama?

"Kan sudah kubilang semua latihan itu penting saat masuk ke Sakugaku." Shion berkata santai dan kembali menatap screen ponselnya. Naruto juga kembali menatap buku panduan laknat itu sekali lagi.

'3. Jika murid yang tidak lulus dari tes di asrama yang dipilihnya, mereka harus mengulangi tesnya kembali atau diharuskan tidur di luar asrama.'

'KEJAMMMM…' Naruto meneriakan hal itu setelah selesai membaca peraturan ketiga. Ia ingin menangis, tapi hatinya sudah terlalu perih setelah tahu bahwa Sakugaku merupakan sekolah terkejam yang pernah diketahuinya.

'4. Buka Peraturan Dalam Asrama Umum.' Naruto membuka buku yang sudah ditandainya tadi. '3. Siswa Umum di larang terlambat memasuki asrama di atas pukul delapan sementara siswi khusus harus menyesuaikan dengan jam malam di setiap asrama.' Naruto masih bisa memaklumi ini.

'5. Setiap keluar dari asrama setelah jam malam harus mendapat izin dari penjaga asrama.' '6. Menjaga kerapihan kamar masing-masing. Asrama Haru akan ditempati oleh dua siswa perkamar. Sedangkan ketiga asrama lainnya akan ditempati satu siswa perkamar.' Naruto hanya mengangguk melihat dua peraturan normal ini.

'7. Setiap siswa akan mendapat sangksi jika melanggap peraturan di masing-masing asrama. Setiap asrama akan memberlakukan aturannya masing-masing.' Naruto mulai menyernyitkan dahi. '8. Setiap makan malam akan disiapkan sendiri di masing-masing asrama, terkecuali asrama Fuyu.' Huh? Mulai tidak jelas saja peraturan asramanya.

'9. Asrama Haru diliburkan setiap hari minggu, hari libur panjang, serta akan di liburkan tiba-tiba jika dalam keadaan mendesak.' Kenapa dengan asrama Haru ini? '10. Asrama yang dianggap tidak tertib akan mendapat hukuman setiap bulannya.' Kenapa?

Naruto mulai pusing membaca buku panduan aneh itu. Si pemilik mata biru jernih itu mulai curiga jika ia membuka peraturan sekolah bagi siswa khusus Naruto akan menemukan peraturan-peraturan aneh akan tercantum di sana. Seperti harus bangun pukul lima pagi untuk latihan. Atau makan malam sambil mengendalikan shikigami jarak jauh.

Naruto berniat membaca buku itu lagi jika ia sudah sampai di asrama. Itu juga kalau dia di terima di salah satu asrama dan tidak perlu menjadi gelandangan malam ini. Perut Naruto kembali mulas dan makin terasa sakit saja. Mungkin ia perlu minum obat maag sekarang juga.

"Kenapa wajahmu pucat begitu, Onii-chan?" Tanya Shion dengan alis terangkat. Naruto hanya menggeleng karena tidak mampu menjawab pertanyaan Shion.

"Nah, Naruto, kau harus turun di sini. Selamat memilih asramamu, Nak." Kushina membuka pintu belakang dan menyeret Naruto keluar begitu saja. Lalu kembali masuk ke dalam mobil.

"Tu_ Tunggu sebentar! Shion kau masuk di asrama mana?"

"Onii-chan harus menebaknya." Setelah jawaban tidak bertanggung jawab dari Shion itu, mobil silver ayahnya melaju begitu saja meninggalkan Naruto di depan gedung sederhana di belakangnya. Naruto berbalik dan menatap gedung itu dengan wajah pucat.

"Permisi, apa anda, Namikaze Naruto-san?"

Narutp menoleh ke belakang dimana seseorang sedang berdiri menyapanya. "Ya?" Naruto bukannya mendapati manusia yang sedang berdiri malah mendapati suatu sosok mirip manusia namun tidak dengan auranya. Naruto tahu sekali aura ini. Pemuda yang mirip manusia itu jelas sekali adalah yokai.

"Saya akan mendata anda perlihat asrama yang akan anda pilih. Mari ikut saya." Orang itu melangkah mendekati bangunan sederhana yang hanya berjarak empat meter dari tempat Naruto berdiri sekarang. Naruto mengikutinya dengan langkah awas. Siapa tahu yokai itu tiba-tiba menyerangnya karena tesnya sudah dimulai. Walau itu hanya pikiran paranoid Naruto saja.

"Wah, tidak kukira yang pindah tidak hanya aku saja." Seseorang yang berdiri di sana adalah seorang pemuda terlihat seumuran dengan Naruto. "Kenalkan, namaku Katsuga Hiromu." Pemuda itu mengulurkan tangannya. Naruto menyambut uluran itu dengan senyum lebarnya.

"Namaku Ku.. Namikaze Naruto. Salam kenal Katsuga."

"Karena Kasuga berada di asrama Haru sebentar lagi akan ada seseorang yang menjemputmu. Sedangkan Namikaze Naruto-san ikut aku." Naruto berjalan memasuki ruangan sederhana yang dimasuki pria aneh itu. "Apa kau sudah menentukan asrama yang akan kau masuki?"

"Apa aku boleh bertanya?"

"Ya?"

"Dimana asrama yang dimasuki Namikaze Shion?" Tanya Naruto dengan menggebu-gebu.

"Maaf informasi dari murid lain tidak bisa dibocorkan tanpa persetujuan siswa yang bersangkutan." Pria itu menggengelkan kepalanya. "Ini brosur tiap asrama yang bisa anda pilih." Ujarnya sembari menyodorkan tiga brosur.

Ada asrama Natsu yang memiliki bangunan berbentuk seperti asrama biasa. Banguan sederhana bertingkat lima dengan dinding yang dicat kream, coklat, dan merah. Asrama itu sangat besar dan terlihat benar-benar normal.

Asrama Aki merupakan asrama dengan bangunan khas Jepang yang membentuk persegi dengan taman luas yang berada di tengah-tengah bangunan. Naruto membaca keterangannya dan tampaknya asrama itu terdiri dari dua bangunan terpisah yang membentuk 'ᴦ'. Asrama putri dan putra terletak berdekatan yang dihubungkan dengan aula ruang amakan.

Lalu asrama Fuyu. Brosur itu memperlihatkan sebuah bangunan asrama seperti puri tua abad pertengahan yang di belakangnya terdapat hutan. Naruto bingung karena tidak ada informasi lebih terperinci di brosur itu. Hanya ada keterangan kapasitas tampung yang hanya menerima tiga puluh siswa saja.

"Apa kau sudah menentukan akan memilih asrama mana?"

"Er, sebelumnya, jika aku sudah memilih suatu asrama dan gagal dalam tesnya, apa aku bisa memilih asrama lain?" Naruto bertanya ragu.

"Siswa diberi satu kesempatan untuk merubah pilihan asramanya." Naruto menghela nafas lega.

"Kalau begitu aku akan memilih asrama Fuyu." Jawab Naruto.

"Sebelumnya, anda sudah mendapat ID siswa, bukan?" Tanya pria itu.

"Ya." Naruto mengeluarakan identitas siswanya berupa screen tipis yang sebesar ponsel kebanyakan.

"ID itu juga berfungsi sebagai pengganti uang, menunjukan nilai-nilaimu, dan juga semua kebutuhanmu akan dipenuhi melalui ID itu. Pastikan anda tidak menghilangkannya atau anda tidak bisa keluar masuk sekolah ini maupun kamar asramamu."

Naruto menangguk mendengar penjelasan si yokai. "Nah, silahkan anda menuju asrama Fuyu untuk menjalani tes. Penjaga asrama yang akan mengetes anda."

"Eh? Aku harus ke sana sendirian?" Tanya Naruto.

"Tentu saja." Naruto menangga lebar. Lalu ia teringat buku panduan yang ada di tasnya. Pemuda itu segera mengeluarkan buku itu dari tasnya sembari berjalan keluar dari bangunan kecil itu. Letak asrama Fuyu cukup jauh dari tempat ini. Naruto perlu berjalan kearah paling barat pulau sampai ke daerah bukit dekat hutan.

Naruto segera memacu kakinya menyusuri jalanan lenggang karena sepertinya setiap orang sudah pergi ke asrama mereka dan para pengantar sudah pulang. Naruto meruntuki nasibnya karena orang tuanya meninggalkannya sehingga Naruto harus berlari seperti ini. Andai saja dia memiliki shikigami seperti Roku milik Renji.

Naruto berlari hingga jalan bercabang pertama yang ditemuinya. Di denah yang ada di dalam buku panduan tidak ada jalan yang harus Naruto lewati sehingga pemuda itu mematung di perlimaan jalan. Apa dia harus belok ke jalan yang membawanya ke kiri atau jalan yang membawanya ke depan. Masalahnya kedua jalan itu tampaknya sama-sama akan membawanya menuju ke arah barat.

"Ano.." Naruto menoleh. Dia mendapati seorang siswi –jika dilihat dari seragam yang dipakainya- yang berdiri tidak jauh dari Naruto. Gadis itu sepertinya seumuran dengan Naruto dengan wajah manis yang dibingkai rambut indigo indah yang jatuh hingga ke punggungnya. Dahinya di tutupi poni rata tepat di atas mata mutiaranya.

Gadis itu memiliki mata jernih seperti mutiara yang berpendar keunguan. Mata bak batu amethyst itu menatap balik dengan kerlingan ramah yang tampak akrab. Bibir tipis tersapu warna cerry alami itu membentuk senyum kecil yang melengkung sempurna. Seolah senyum itu membuat Naruto merasa ia baru saja melepas rindu dengan seseorang yang paling penting dalam hidupnya.

Naruto harus mengakaui ia terpesona pada pemandangan di depannya. Apakah pemuda itu harus curiga kalau gadis di depannya itu bukan manusia melainkan dewi yang mungkin saja menjadi shikigami salah satu siswa di sini. Tapi sinar yang memantul di kulitnya yang seputih porselen tampak nyata juga auranya yang lembut tidak seperti shikigami yang pernah Naruto temui.

"Eto.."

"Apa kamu tersesat?" Pertanya itu seolah menarik Naruto dari lamunanya. Naruto kembali mendapat fokusnya. Sekali lagi manik biru saffir itu menatap amethyst yang juga masih menatap mata Naruto. Keduanya kembali saling bertatapan sebelum si gadis menenggulirkan bola matanya menghindari tatapan Naruto.

"Apa kamu bisa menunjukan arah asrama Fuyu?" Pinta Naruto. Gadis itu melirik malu-malu dengan semburat merah yang bagaikan elegi di atas kanvas putih berupa pipi cubby milik si gadis. Anggukan singkat menjadi jawaban dan si pemilik surai gelap itu melangkah menuju jalan paling ujung yang tadi dikira Naruto sebagai jalan menuju asrama.

Gadis itu terus berjalan tanpa suara dengan langkah kaki kecil yang membuat Naruto harus berjalan perlahan-lahan agar tidak meninggalkan gadis itu jauh di belakangnya. Naruto terus menatap puncak kepala itu tanpa berani menatap wajah jelita di bawahnya.

Mereka berdua terus berjalan sampai mendekati area asrama. Naruto mulai bisa melihat pucuk pepohonan dari jalan di bawah bukit. Jalan berbukit seperti ini seolah mengingatkan Naruto akan sesuatu tapi pemuda itu tidak kunjung meningatnya juga.

Naruto merasa pusing. Naruto bisa merasakan terik panas matahari di atas kepalanya namun bukan hal itu yang membuat kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan. Tapi gadis di sampingnya yang membuat kepalanya terasa sakit. Naruto tidak mengenal gadis itu, tapi sebagian dirinya yakin bahwa ia pernah mengenal gadis itu dengan baik.

"Pai.."

"Huh?" Naruto bertanya dengan wajah bodohnya.

"Kita sudah sampai." Gadis itu maju beberapa langkah lalu tersenyum. "Selamat datang di asrama Fuyuki, Namikaze Naruto-san."

"Da.. Dari mana kau mengetahui namaku?" Tanya Naruto dengan mimik wajah terkejut. Harusnya tidak ada orang selain Shion yang mengenalnya di sekolah ini. Atau_

"Penjaga asrama yang memintaku menjemput calon penghuni baru asrama kami." Hinata mundur mendekati seseorang yang baru saja keluar dari bangunan asrama.

"Namaku Kurosuki Sansho. Aku penjaga asrama Fuyu dan yang akan mengetesmu." Ujar Sansho dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Jadi mari kita mulai tesnya."

"Ba.. Baiklah." Naruto menjawab dengan terbata karena gugup. Dia melirik gadis yang sudah menujukan jalan kepadanya. Gadis itu berdiri dengan kedua tangan yang bersembunyi di balik tubuh langsingnya. Wajahnya terlihat sayu dengan senyuman yang masih terulas di bibir ranumnya.

"Tesmu sangat mudah. Untuk masuk ke asrama ini, kau harus bisa mengalahkan salah satu penghuni yang sudah ada di asrama ini sebelumnya."

"Eto.. Dalam perkelahian satu lawan satu?" Tanya Naruto memastikan.

"Dalam apapun sesuai yang diinginkan lawanmu. Akan kupanggilkan dia terlebih dahulu. SASUUUKEEEEE!" Sansho berteriak dengan suara menggelegar. Dua puluh detik kemudian terlihat seorang pemuda seusia Naruto berlari tergesa-gesa menuju wanita tua itu.

"A.. Ada apa berteriak memanggilku?" Tanya pemuda itu dengan wajah sedatar mungkin, walau keringat dingin terlihat menetes di dahinya. Gadis indigo itu tertawa geli melihat Sasuke yang berlari keluar karena Sansho memanggilnya.

"Aku ingin kau melawan calon anggota baru kita." Sansho bergeser agar Sasuke bisa melihat Naruto.

Sasuke menilik Naruto. "Dia terlihat lemah." Ujar Sasuke.

"HEII!" Naruto memperotes.

Sansho mengabaikan Naruto. "Kalau dia memang lemah, artinya dia tidak dibutuhkan di asrama kita. Tapi kita tetap harus mengetesnya." Sansho dengan mudah mendorong Sasuke mendekati Naruto. "Tentukan apa yang akan kalian lakukan."

"Baikalah.. Kalau begitu dia harus bisa mengenaiku sekali saja." Sasuke menatap Naruto dengan pandangan meremehkan. Rasanya wajah sombong itu pernah dilihat sebelumnya oleh Naruto. Rasanya ia ingin segera menghajar wajah tengik berambut pantat unggas itu.

"Hooo.. Bagus juga. Kalau dia bisa mengenaimu sekali saja artinya dia bisa menempati nomer 36."

"Huhh.. Akan kupukul kau dua kali, Sasuke!" Naruto melangkah maju. Ia melemparkan tas di punggungnya dan menghadapi Sasuke yang sudah bersiap terlebih dahulu. Naruto bersyukur dia pernah berlatih tanding secara fisik dengan ayahnya. Dan Naruto sejak dulu sangat baik dalam karate sejak ia di Suna.

"Kuberi kau kesempatan untuk menyerang terlebih dahulu." Sasuke masih berdiri diam ditempatnya saat mengucapkan hal itu. Sombong sekali bocah ini, piker Naruto geram.

Naruto langsung berlari menyerang. "Kalau begitu terima kasih!" Ia melesat dengan cepat menuju bagian perut bawah Sasuke. Sasuke dengan mudah mengelak. Naruto menyerang kembali dengan kakinya, ia menyapu kaki Sasuke. Sasuke melompat ke atas, keadaan itu dimanfaatkan Naruto, ia menendang kaki Sasuke yang sedang melompat. Namun serangan itu luput.

Naruto kembali menyerang, ia melakukan upercut tepat di dagu Sasuke, serangan itu gagal namun menggores dagu dan pipi Sasuke. Naruto tidak berhenti sampai disitu, ia menarik tangan kanannya dan melakukan tinju ke bahu kanan Sasuke. Sasuke mengelak dan mulai balas menyerang.

Pemuda emo itu meraih tangan Naruto yang berniat meninjunya, melakukan gerakan Judo untuk melempar Naruto. Dalam keadaan terjepit itu Naruto berkelit dan membuat keadaan kembali imbang. Ia tidak membuang-buang waktu. Kakinya melakukan tendangan tinggi dan berhasil mengenai hidung mancung Sasuke.

"Stop!" Sansho berteriak dari luar zona bertarung mereka berdua. Wanita itu tampak puas. "Sepertinya dia benar-benar melukaimu dua kali, Sasuke." Ujarnya dengan mata berkilat di balik kaca mata bundarnya.

"Huhh.." Sasuke hanya membuang muka. Si gadis mendekati Naruto dan Sasuke.

"Sepertinya sudah diputuskan jika kita menerima Namikaze-san, Sansho-san?" Tanya gadis itu.

"Seperti yang dijanjikan. Selamat datang di asrama Fuyuki. Kau adalah anggota kami yang ke dua puluh delapan, Naruto."

Sasuke langsung melenggang pergi tanpa berkomentar. Naruto menatap pemuda itu dengan sebal. "Cih. Betapa menyebalkan si Teme itu."

"Aku mendengarmu, Dobe." Sasuke yang sudah masuk kembali melongokkan wajahnya. Ia menatap Naruto dengan tatapan dingin.

"Apa? Ada masalah? Ingin berkelahi, ha?" Hinata yang sedari tadi menonton hanya terkikik geli. Sepertinya gadis itu tidak berniat melerai Naruto dan Sasuke jika keduanya berkelahi. Naruto yang tanpa tidak sengaja melihat tawa kecil Hinata terpesona untuk sesaat.

"Malas." Sasuke kembali masuk.

Mendengar perkataan Sasuke wajah terpesona Naruto langsung menghilang digantikan raut wajah jengkel. "AP…" Naruto ingin kembali berteriak, namun Sansho memanggilnya sehingga ia membatalkan niatnya.

"Naruto."

"Ya?"

"Mana IDmu? Biar kuseting agar bisa menjadi kunci masuk ke kamar mu. Ah, ngomong-ngomong kau mendapat kamar di lantai tiga. Lantai satu dan dua merupakan tempat para gadis sedangkan lantai tiga dan empat untuk para pria."

"Souka.." Naruto menangguk mengerti. Ia menyerahkan IDnya kepada Sansho.

"Ah, sepertinya Namikaze-san mendapat kamar di dekat kamar Sasuke-kun."

"Sou… NANI?"

Naruto mulai merasa jika keputusannya memilih asrama Fuyu merupakan kesalahan besar yang sangat disesalinya. Apa ia boleh pindah ke asrama Natsu sekarang juga? Lagi pula apa alasan dia mau masuk ke asrama aneh macam asrama Fuyu ini? Naruto ingin menangis sekarang juga jika tidak ada kepala yang menyembul dari jendela lantai dua dan memanggilnya.

"ONII-CHAN! Selamat datang, ne?"

Shion tersenyum lebar dengan wajah ceria yang jarang Naruto lihat karena biasanya gadis itu hanya menampakan wajah jutek. Naruto balas tersenyum. Tapi begitu ia melihat sedikit ke atas. Wajah mengesalkan Sasuke yang sedangan menatap rendah dirinya –kebetulan Sasuke ada jauh di atasnya- membuat kekesalan Naruto kembali dan semakin panas.

"AWAS KAU PANTAT AYAM." Jerit Naruto diiringing tawa Shion dan Hinata serta Sasuke yang menjulurkan lidahnya dan menghilang dari balik jendela.

#つづく#


Entah kenapa rasanya chapter ini maksa sekali. Saya berusaha update secepat mungkin. Terima kasih bagai para readers yang masih mau membaca cerita gaje ini bahkan mereviewnya. Semoga tidak terlalu mengecewakan. Terima kasih juga bagi yang memfavorit juga memfolow fanfic saya. Hontou ni arigatou.

Hinata dan Sasuke sudah muncul, nantinya tokoh-tokoh lain juga akan ikut menyusul di chapter depan. Sebenarnya tes asrama ini saya ambil dari Shokugeki no Soma. Entah kenapa saya suka bagian itu.

Saya menerima saran, kritik, dan pertanyaan baik review maupun PM.

Salam,

Hiruma Enma 01