Naruto menjatuhkan dahinya di atas meja belajar yang ada di kamar asramanya. Kamar yang akan ditempatinya selama lima tahun kedepan. Ah, andai saja dia bisa pindah ke asrama lain. Membayangkan dia tidur di samping orang semenyebalkan Sasuke –walau dibatasi dinding- membuat Naruto merasa ia sedang dikutuk sekarang.


Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Genre : Horror, Drama.

Reated : T (Teenager).

Warning : Typo's, Alur yang tidak jelas, dan bahasa baku yang maksa.


Naruto menggigit apel di tangannya. Shion sedang menariknya menuju ruangan yang terletak di lantai dasar asrama tepat setelah Naruto membereskan bawaanya. Jika disebut membereskan mungkin terlalu berlebihan karena Naruto baru meletakan kopernya di kamar dan membongkar sebagian isi koper pertamanya.

Gadis itu terus menarik Naruto tidak perduli jika kakak kembarnya itu bahkan tidak menggerakan kaki. Kadang Naruto ragu adiknya memiliki fisik lemah seperti yang selalu gadis itu katakan. Karena Shion berhasil menarik Naruto sejauh tiga lantai sendirian.

Ketika ia sampai di ruangan –yang sepertinya ruang berkumpul- tengah sudah banyak orang yang berkumpul di ruangan itu. Ada sekitar delapan belas orang yang berkumpul di tempat seluas hall dengan empat sofa besar di tengah ruangan.

Ada satu sofa panjang lainnya di depan home teater besar dan beberapa kursi malas berjejer di dekat jendela besar. Kedelapan belas penghuni asrama sedang berkumpul di tempat itu. Atau yang Naruto kira kedelapan belas orang karena Naruto bisa merasakan beberapa aura yokai diantara mereka.

"Minna-san, yah walau kalian sudah mengenalnya, biar kukenalkan sekali lagi. Dia adalah Namikaze Naruto yang mulai hari ini menjadi penghuni asrama kita lagi." Beberapa orang bertepuk tangan riuh sebagian lagi hanya menatap Naruto malas.

"Kakakku ini baru saja mendapat ingatannya lagi jadi maaf jika kakakku tidak mengenal beberapa dari kalia_"

"Aku ingat kok." Potong Naruto. Shion langsung menoleh cepat menatap Naruto dengan mimic tidak percaya. Mata violetnya terbelalak karena terkejut dan tidak percaya. Begitu pula dengan kedelapan belas pasang mata yang menatapnya dengan berbagai macam pandangan.

"Sungguh kok." Ucap Naruto. Shion dan yang lainnya memang tidak mengatakan apa-apa, tapi Naruto tahu dari pandangan mereka jika semua orang di ruangan itu sedang meragukannya.

"Aku ingat banyak hal saat melihat Teme dan Hinata-chan tadi." Uangkap Naruto. "Baru dua puluh detik yang lalu sih." Katanya lagi, jujur.

"Kalau begitu coba tebak siapa aku?" Tanya seseorang. Dia seorang gadis berambut pirang yang sewarna dengan Shion. Maniknya yang berwarna aquamarine menatap Naruto dengan nyalang. Jenis tatapan menantang.

"Ayolah, Ino. Tidak mungkin aku melupakan sepupuku yang cantik ini, bukan?" Ujar Naruto. Ino terkejut, tapi kemudian gadis itu tersenyum dan menghampiri Naruto. Naruto kira ia akan mendapat pelukan pelepas rindu, tapi yang Ino lakukan malah menjitaknya keras.

"Selamat datang, Aho."

"Itttaiii yo, Ino-chan." Ringis Naruto kesakitan.

Ino hanya memeletkan lidahnya. Seseorang ganti maju mendekati Naruto. "Mendokusai. Akhirnya tugasku mengawasimu selesai juga, Naruto." Shikamaru bertukar tinju dengan Naruto.

"Maaf sudah merepotkanmu selama empat tahun terakhir ini, Shika."

Seorang gadis melangkah maju. "Yo, Bakanaru."

"Ten Ten-nee." Naruto tidak menyangka Tenten akan menjadi orang ketiga yang menyapanya. Diikuti Temari yang meninju bahu Naruto.

"Selamat datang kembali, gaki."

Lalu Gaara. "Kau kembali, Naruto." Naruto tersenyum.

Sasuke hanya mengendus. "Aku terlihat lemah, eh?" Tanya Naruto mengingat ejekan Sasuke padanya.

"Kau memang kelihatan tambah lemah, Dobe."

"Sial kau Teme."

"Selamat datang kembali, Naruto. Jangan lupakan semangat masa mudamu."

"Terima kasih, asli tebal." Naruto jadi tidak bisa menahan cengirannya.

"Baumu agak berubah, Naruto."

Naruto merengut kesal. "Apa maksudmu itu, hidung anjing?" Perkataan Kiba benar-benar membuatnya tersinggung.

Lalu Shino, Chouji, dan Sai mendekatinya. "Aku akan memberikanmu kripik kentang yang sudah kujanjikan nanti." Kata Chouji. Ingat saja pemuda itu jika ia menjanjikan kripik kentang jika Naruto kembali Nanti.

"Tidak kusangka kau bisa kembali kemari, Naruto." Entah apa arti kata ambigulitas dari Sai itu.

"Selamat datang kembali, Naruto." Shino hanya berujar datar. Naruto jadi sedikit bingung bagaimana membalas perkataan Shino.

"Terima kasih kalian semua. Tidak kusangka akan bertemu kalian lagi. Walau aku mengharapkan pertemuan kembali yang lebih berkesan." Ungkap Naruto jujur. "Misalnya bertemu kembali ketika sedang dalam pertempuran akan lebih berkesan keren."

"Kau terlalu banyak membaca komik, Naruto."

"Sadar diri sedikitlah."

"Jangan mimpi. Yang ada kau mati duluan sebelum bertemu kami, Baka."

"Kalau kita bertemu di medan pertempuran sudah mati kau kubunuh dengan Akamaru."

"Kalau begitu kripiknya tidak jadi saja, ya?"

"Mendokusai."

"Naruto, kau ini."

Berbagai keluhan datang dan menyudutkan Naruto. "Hei, aku kan cuma bercanda." Seru Naruto kesal juga mendapat makian dari teman-temannya itu. "Lagian ini bukan pertama kali kita bertemu setelah aku lupa ingatan. Memang aku tidak tahu kalian sering mengawasiku, apa?"

"Bagaimana kau tahu?" Ino terkejut.

"Aku kembali mengingatnya setelah ingatanku kembali. Aku ingat auramu dan Sai yang kadang-kadang terasa di sekitar Suna. Shikamaru apa lagi. Bahkan Teme walau aku yakin dia datang karena harus menemani Shion dan Temari-nee. Gaara bahkan tiap bulan datang bersama Shikamaru."

Yang disebutkan namanya pasang wajah tidak berdosa dan pura-pura tidak tahu. Sasuke hanya bisa merengut masam karena Naruto tahu ia mengunjungi si pirang itu diam-diam.

"Aku bahkan tahu kalian sering menolongku diam-diam. Menurut kalian salah siapa aku tidak bisa hidup tenang selama tiga tahun ini, ha?" Semua orang di ruangan itu menjadi hening.

"Tapi, dari lubuh hatiku yang paling dalam aku berterima kasih kalian selalu perduli dan melindungiku." Naruto bisa melihat teman-temannya menatapnya dengan terkejut. Lalu semua orang tersenyum kepadanya.

"Jangan percaya diri begitu bodoh. Sudah tugasku menjaga area Yokohama bersama Sai." Kata Kiba.

"Aku hanya melakukannya ketika luang saja." Ino mencibir.

"Itu baru namanya semangat masa muda." Lee berteriak tidak nyambung.

"Sudahlah kalian. Besok kita harus bersiap-siap untuk memulai latihan pertama kita di awal semester dua dan latihan pertama Naruto setelah dia mendapat ingatannya kembali." Temari yang paling dewasa mencetuskan.

"Ah, jangan lupa, Tema-nee." Ino memanggil Temari sembari mengedip.

"Aku tahu." Temari tersenyum tipis. "Baiklah semuanya, karena masih ada waktu, ayo kita adakan pesta penyambutan Naruto yang tidak sempat kita adakan saat Naruto mendapat ingatannya."

Semua orang langsung berseru senang. Beberapa shikigami di pojok ruangan tampak menghilang bersamaan. Naruto hanya menghela nafas saja. Ia sebenarnya sangat senang semua teman-temannya begitu peduli sampai menyiapkan pesta untuknya. Semuanya berjalan menuju halaman belakang dimana perlengkapan barbeqyu sudah dipersiapkan.

Semua orang langsung ribut berebut daging sementara Naruto duduk di bangku yang dibuat dari batang pohon. Seseorang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dan duduk si dekat Naruto.

Mereka berdua tidak saling bertukar kata. Naruto menikmati keheningan diantara mereka berdua. Begitu pula dengan Hinata. Mereka bahkan tidak saling memandang karena kedua pasang mata itu fokus menatap kehebohan teman-teman mereka.

Naruto lah yang pertama kali menolah untuk menatap Hinata. Naruto tidak benar-benar mengingat Hinata. Gadis itu yang terasa paling samar bagi Naruto diantara semua teman-temannya yang lain. Tapi perasaanya ketika berada di dekat Hinatalah yang paling kuat dengan masa lalu ketimbang bersama siapapun.

Ketika ia dekat dengan Hinata, seolah masa lalu sedang berusaha menarik Naruto masuk ke dalam pusarannya. Tapi ketika Naruto mencoba masuk, pusaran itu menolaknya dan langsung memuntahkannya keluar. Naruto jadi bingung sendiri sebenarnya bagaimana Hinata itu bagi dirinya.

"La.. lama tidak berjumpa, Naruto-kun." Gadis itu berkata malu-malu. Naruto merasa alasan Hinata tidak menyapanya ketika mereka bertemu di jalan dan saat mereka berada di ruang berkumpul tadi karena gadis ini terlalu takut menyapanya. Naruto juga takut menyapa Hinata, seolah ia akan kembali dan melupakan semua masa lalunya dan menjadi Naruto baru untuk selama-lamanya.

Karena hubungannya dengan Hyuuga Hinata terasa rapuh.

"Senang bertemu lagi denganmu, Hikari-chan." Naruto membalas dengan bisikan lembut.

Hinata terkejut dan menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya. Wajah gadis itu memucat dan kehilangan bias warnanya. Seolah darah pergi menjauhi wajah gadis yang kerap kali memerah karena malu itu.

"Nar… Bagaimana?" Hinata kehilangan kata-katanya.

"Aku punya indra perasa paling kuat dalam mengenali aura, ingat?" Naruto meraih rambut indigo Hinata yang jatuh ke pipi gadis itu karena Hinata menoleh terlalu cepat tadi. Ia merapihkan anak rambut itu kembali ke belakang telinga Hinata. "Rambutmu sudah panjang, eh?"

Hinata kembali merona. Pipinya yang semula sepucat tulang kini kembali tersapu warna pink cerah layaknya perona pipi alami. "Aku lupa memotongnya." Aku gadis itu.

"Cocok untukmu." Naruto menurunkan tangannya dan meletakannya di dekat tangan Hinata hingga jari-jari mereka bersentuhan. "Dan saat di halte itu."

Hinata kembali terkejut. Tapi gadis itu hanya bisa tersenyum lemah, menunggu Naruto meneruskan kata-katanya. "Aku lupa mengucapkan terima kasih atas bantuannya."

Hinata menggeleng. "Itu juga karena kesalahanku, Naruto-kun tidak perlu berterima kasih." Gadis itu meredupkan tatapannya yang berubah sayu. "Aku tidak berharap Naruto-kun mengetahuinya." Gadis itu menghela nafas. "Aku takut Naruto-kun membenciku karena aku selalu berada di sekitar Naruto-kun hal itu, semuanya_"

"Sudahlah Hinata-chan." Naruto memotong perkataan Hinata. "Aku hanya ingin berterima kasih. Mungkin karena Hinata-chan juga aku jadi bisa kembali mejadi Namikaze Naruto." Naruto menatap langit biru tanpa awan khas musim panas.

"Kalau begitu aku juga harus mengucapkan terima kasih pada diriku sendiri." Perkataan Hinata membuat Naruto kembali menatap gadis Hyuuga itu. "Terima kasih juga sudah kembali mejadi Namikaze Naruto-kun yang kukenal." Gadis itu tidak seperti Hinata yang biasa. Ada kerinduan dalam mata pualamnya. Kesenangan, kegembiaraan, juga kegetiran bisa Naruto dengar dari nada suaranya.

Gadis itu menyentuh kalung di leher Naruto yang kini sudah tidak berfungsi seperti dulu lagi. "Juga pada kalung ini yang memberitahuku tiap kali Naruto dalam bahaya." Hinata mengelus kalung berlian biru pemberian Tsunade di leher Naruto.

"Ba.. Bagaimana jika kita makan barbekyunya sekarang? Aku takut Chouji menghabiskan semuanya." Naruto menarik tangan Hinata sebelum gadis itu sempat mejawab. Mereka lalu bergabung dengan Chouji dan yang lainnya yang masih heboh berebut daging dan melemparkan sayuran ke piring orang lain.

.

.

Naruto akhirnya selesai berkemas. Tadi ia sempat dibantu Shion dan Hinata. Entah kenapa Naruto curiga orang tuanya sudah meramalkan ia akan masuk ke asrama Fuyu karena begitu ia sampai ke kamarnya tiga koper besar itu sudah tergeletak manis di lantai kamarnya. Shion juga sedang duduk di tempat tidurnya tadi dan berakhir menyeretnya keluar.

Naruto menjatuhkan dirinya di atas kasur yang akan menjadi alas tidurnya untuk beberapa tahun kedepan. Pemuda itu lalu kembali memikirkan beberapa hal. Bagaimana kehidupan normalnya berubah seratus delapan puluh derajat setelah bertemu Renji. Apa saat itu seharusnya ia langsung menyadari bahwa Ebizo yang merupakan kakek Gaara mengenalnya agar kembali mejadi Namikaze Naruto lebih cepat?

Atau seharusnya sedari awal ia tidak setuju dengan ide para petinggi bodoh itu untuk menyegel ingatannya tanpa alasan –yang belum Naruto ingat- jelas? Naruto memutar posisi tidurnya menjadi terkelengkup. Pemuda itu membenturkan kepalanya berulang kali ke atas tempat tidur.

Kenapa juga ia menyesal sekarang. Masa lalu tidak akan kembali bahkan bila Naruto terus menyesalinya. Yang penting saat ini ia sudah kembali ke kehidupan lamanya dan ia harus mengejar ketinggalannya dari teman-temannya yang lain karena ia sudah membuang empat tahunnya untuk kehidupan normal.

Naruto bangkit dari ranjangnya menuju meja belajar sembari berteriak. "YOSHH! Waktunya mengejar ketinggalan dari si TEME!"

"BERISIK, NARUTO!" Seruan Kiba dari balik dinding membuat Naruto meruntuki telinga anjingnya.

"GOMEN!"

.

.

Naruto bangun pagi-pagi sekali dan sudah selesai mandi –tanpa perlu berebut kamar mandi- di kamar mandi pribadi yang ada di dalam kamarnya. Kini ia mengenakan seragam khusus Sakugaku yang hanya digunakan murid onmyoji.

Seragam itu terdiri dari atasan berupa pakaian berkerah tinggi hingga tepat di bawah dagu Naruto berwarna hitam. Bagian depannya pendek namun di bagian belakangnya cukup panjang yang memperlihatkan bagian dalamnya yang berwarna orange. Celananya berupa celana training hitam yang dibagian pahanya Naruto lilitkan perban putih juga kantung untuk menyimpan ofuda.

"Yosh! Waktunya latihan pertama." Naruto meraih sebuah pisau khusus yang digunakan sebagai media sihir dan menyimpannya di kantung yang ada di pinggang belakangnya. Naruto keluar dari kamar bertepatan dengan Sasuke yang juga baru keluar dari kamarnya.

"Cihh!" Si pirang langsung mendecih. Sial sekali nasibku bertemu emo dipagi hari.

Sasuke sendiri tampak acuh. Dan berjalan melewati Naruto. Naruto yang kesal langsung menyosong Sasuke dari belakang dan merangkulkan tangannya. "O-HA-YO-UUUU…" Sapa Naruto seolah ia memaksa Sasuke membalas sapaanya.

"Hn."

Naruto mendengus. " 'Hn', apanya?" Tanyanya maksa.

"Ohayou." Naruto tersenyun penuh kemenangan.

"Ohayou, futaridomo." Sai muncul dari kamarnya yang ada di sebrang kamar Naruto.

"Ohayou Sai!" Naruto langsung meraih bahu Sai dan ketiga orang itu berjalan beriringan.

"Ohayou." Sasuke merasa ia harus membalas atau Naruto akan mengganggunya lagi.

"Hoaaammm.. Kalian bangun pagi sekali." Shikamaru keluar dari kamarnya sambil menguap. Mata sipitnya semakin hilang karena mengantuk.

"Shika, kita bangun di jam yang sama." Naruto sweatdrop melihat kelakuan si Nara. Bahkan Sasuke tidak bisa tidak heran melihat kelakuan si jenius satu itu.

"Kau memang aneh, Shika." Sai masih saja tersenyum walau perkataannya tidak menyenangkan. Naruto jadi bingung kenapa ia bisa berteman dengan orang-orang macam ini. Kiba muncul di belakang Naruto, Sasuke dan Sai. Sampai mereka berniat menuruni tangga dan bertemu dengan Chouji, Shino, dan Lee yang tinggal di lantai empat.

"Yo, kalian. Pagiii~" Kiba bertukar tinju dengan Naruto.

Lalu Chouji, Shino, dan Lee juga ikut menampakan diri di tangga. Ketiga orang itu menghuni lantai empat.

"Kibarkan semangat muda kalian! Terutama kau, Shikamaru." Lee langsung merangkul Shikamaru dan mulai mengoceh tentang pentingnya mengibarkan semangat masa muda di pagi hari. Kotbah yang didapatkannya dari sang ayah yang menjadi pengajar si Sakurazaga Gakuen.

"Ohayouummmm." Chouji menyapa sambil tetap mengemil walau matahari bahkan belum terbit. Rasanya terlalu cepat untuk makan, tapi Chouji bahkan akan tetap mengemil walau sedang lari berkeliling kota.

Shino hanya diam tanpa berkata apa-apa. Ketujuh orang itu turun dan mendapati Gaara sudah duduk di ruang makan yang terdiri dari meja panjang yang dikelilingi oleh tiga puluh kursi. Naruto langsung menempatkan diri di samping Gaara.

"Ohayou, Gaara."

"Ohayou."

Keenam sisanya ikut menduduki tempat mereka masing-masing. Dan entah takdir apa yang menghubungkan Naruto dan Sasuke sampai tempat duduk mereka berhadapan. Naruto ingin berpindah tempat, tapi tempat duduknya sedari awal memang di situ, jadi jika ia pindah ke kursi yang lain dan pemiliknya datang akan menjadi hal sia-sia untuk pindah kursi.

Para gadis muncul dari dapur membawa beberapa nampan. Sepertinya menu makan pagi ini penuh dengan makanan kesukaan Shikamaru. Nasi, miso sup, makarel bakar, tumis sayur ayam, dan telur.

"Uwaaa.. Oishii mitai." Chouji berseru senang. Para pria yang menatap makanan itu ikut menangguk, terutama Shikamaru. Terlihat kilatan semangat yang sangat jarang muncul di mata hitamnya.

"Itadakimasu!" Semua tangan mengatup lalu mengangkat sumpit mereka begitu para gadis mendudukan diri.

"Pelan-pelan makannya, Onii-chan! Kau membuatku malu." Keluh Shion.

Naruto mengabaikan. Pemuda itu memecahkan telurnya di atas nasi, menuang sedikit shoyu lalu mengacaknya. Semua meniru kegiatan Naruto dan sarapan pagi itu berjalan cukup tenang.

.

.

Mereka bertiga belas masuk ke kelas pelatihan pertama nyaris terlambat. Salahkan Chouji yang meminta tambah sampai lima kali dan tidak akan berhenti sebelum dipaksa oleh seisi asrama terlebih dahulu. Sebenarnya bisa saja mereka melakukan mantra teleport. Tapi peraturan nomer 3 membuat mereka mengurungkan niat.

'3. Tidak boleh menggunakan kekuatan spiritual di sekitar sekolah selain di ruang pelatihan. Yang melanggar akan mendapat hukuman tiga minggu melakukan pekerjaan sosial.'

Naruto tahu sekali hukuman menyebalkan macam apa itu. Naruto langsung berjalan menuju bangunan yang tampak seperti gedung olah raga. Shikamaru sebagai ketua tidak sah berjalan memimpin memasuki gedung gymnasium terlebih dahulu.

Ketika mereka masuk, hanya satu orang yang ada di dalam gedung. Seorang pria akhir dua puluhan yang terlihat malas dan mengantuk. Hatake Kakashi berdiri dengan buku mencurigakan terbuka di tangannya. Naruto tahu benar buku laknat macam apa itu, karena pembuatnya tidak lain dan tidak bukan adalah kakeknya.

"Yo, lama tidak melihat kalian semua." Sapa Kakashi ringan.

"Kakashi-sensei." Hanya Naruto yang bereaksi berlebihan sementara yang lain lebih heboh mendapati guru mesum mereka tidak terlambat. Si pirang itu langsung meloncar berniat memeluk Kakashi yang langsung berpindah tempat dengan menggunakan mantra singkat. Naruto harus menerima tubuhnya terpelanting di lantai kayu gym.

"Ittatata..." Naruto menggosok hidungnya yang memerah. "Kenapa menghindar sih?"

Kakashi tidak mengacuhkan Naruto. "Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak terlambat. Alasannya adalah karena Hiruzen-sama sendiri yang datang ke ruanganku pagi-pagi buta dan menyeretku kemari." Kakashi berkata dengan senyum terulas di balik maskernya.

Tidak hanya tubuh tambun Chouji yang menunjukan reaksi alergi, yang lainnyapun begitu. Mereka hanya bisa tabah karena latihan hari ini tidak akan menjadi latihan ringan sebagai latihan pembuka, tapi akan menjadi latihan neraka sampai tubuh mereka remuk.

.

.

"Latihan hari ini akan menjadi latihan berpasangan. Pasangannya akan ditentukan melalui undian. Pasangan yang mendapat nomer satu akan melawan pasangan bernomer dua dan begitu seterusnya." Kakashi menerangkan dengan singkat, padat, dan minta dihajar. Bisa-bisanya mereka berlatih tanding di hari pertama berlatih setelah libur.

Setelah mendapat undian nasib buruk benar-benar bertiup ke arah Naruto karena ia mendapat undian pertama bersama Kiba. Sementara beberapa orang mendapat pasangan penyerang jarak jauh-jarak dekat, hanya Naruto dan Kiba yang sama-sama menggunakan tipe serangan sihir jarak dekat.

Lawan mereka kebetulan Gaara dan Hinata yang memikiki keseimbangan serta tingkat kerja sama mereka sangat jauh di atas Kiba dan Naruto. Naruto jadi frustasi ditambah perkataan terakhir dari Kakashi.

"Yang kalah akan mendapat hukuman kerja social setelah latihan hari ini. Oh, tenang saja. Masih ada empat sesi latihan lagi setelah kalian mendapat pelatihan dariku."

"Bagaimana ini Naruto?" Kiba gelisah di samping Naruto. Mereka berdua benar-benar tidak diuntungkan. Mereka duo idiot penyerang jarak dekat yang menggebu-gebu. Dia tahu Naruto itu kuat, tapi pemuda itu juga baru saja ingat dirinya onmyoji dua minggu lalu. Benar-benar tidak bisa diharapkan.

"Tenang saja Kiba. Kita akan memulai terlebih dahulu. Orang yang memulai terlebih dahulu memiliki peluang keberhasilan lebih besar." Entah contoh mana yang Naruto ambil, mungkin pemuda itu mengambil contoh dari catur, igo, dan shogi dimana penyerang pertama dianggap mendapat handicap.

"Baiklah." Kiba mengeluarkan kertas mantranya, mengucapkan mantra panjang dan membiarkan kertas itu tertiup angin lalu terbakar di udara. Perlahan dari kepulan asap muncul anjing putih berukuran sedang.

"Akamaru, kita harus menang." Kiba bertekat, begitu pula dengan Naruto. Jika mereka kalah artinya Naruto harus berhadapan dengan Shion atau Lee. Keduanya sama-sama tidak menyenangkan. Kiba menempatkan diri di depan sementara Naruto agak dekat di belakang pemuda Inuzuka itu.

Di hadapan mereka terlihat Hinata yang berdiri menyamping dengan kertas mantra yang penuh di kedua tangan. "Bersiap kalian berdua." Kiba memasang sikap kuda-kuda khas klan Inuzuka sementara Naruto hanya memegang pisaunya di tangan kiri tanpa bersiap.

"Sedia." Gaara menebar kertas mantra yang berputar di sekitarnya. Hinata mengacungkan salah satu kertas mantra dan mengaktifkan kemampuan mata klan Hyuuga, Byakugan. "Mulai."

Kiba langsung menyerang di detik pertama. Kiba memang dikenal yang paling cepat dari semua orang di angkatan mereka. Bahkan Sasuke tidak bisa mengalahkannya. Pemuda itu bergerak lurus menyerang Gaara. Hinata membiarkan saja Kiba lewat. Mata Byakugannya tetap berfokus menatap Naruto yang masih belum bergerak.

Naruto mulai melangkahkan kakinya ke kiri, Hinata ikut melangkah ke sebelah kirinya. Kedua orang itu hanya berjalan berputar-putar tanpa mengambil langkah maju. Sementara itu Kiba sedang menyerang Gaara. Batas waktu tiap latih tanding hanya sepuluh menit. Siapa pasangan yang paling banyak memberi dampak pada lawan selama sepuluh menit akan menjadi pemenang.

Kiba menyerang Gaara dari depan, namun dengan lincahnya kaki-kaki berbalut boots hitam itu melompat ke samping dan kembali melompat ke sisi lainnya dan menyerang Gaara dari kiri atas. Gaara hanya menggerakan sedikit tangannya dan gelombang pasir langsung melindunginya.

Kiba yang sudah mengira hal itu langsung melompat mengitari Gaara dan melancarkan serangan ke bagian bahu dan leher pemuda bersurai merah itu. Gaara tidak sempat menggerakan pasirnya hanya menghindar. Namun serangan itu berhasil menggores pipinya. Tapi ternyataa Gaara tidak berdiam diri.

Pasir yang merupakan wujut perjanjiannya dengan yokai itu bergerak dengan cepat menyerang lengan Kiba yang hanya di balut kain di sekitar sikunya. Serangan itu hanya berhasil merobek kain di siku Kiba karena si pemilik Akamaru itu berhasil menghindar dengan menggunakan sihir angin miliknya. Ternyata sementara ia menyerang Gaara, Akamaru tengah membuat sihir angin.

Kembali ke Naruto dan Hinata. Naruto akhirnya melancarkan serangan. Ia merapal mantra pendek dan melempar tiga kertas mantra ke Hinata. Kertas pertama masuk ke dalam tanah dan membuat longsor, kertas kedua terbakar di udara sehingga tanah berubah menjadi magma yang menjalar capat ke arah Hinata berdiri.

Hinata tidak tinggal diam. Gadis itu melempar kertas mantra di tangannya tanpa mengucap mantra. Kenyataan bahwa Hinata berada di tingkat yang berbeda membuat Naruto tercekat untuk sesaat. Tapi kubah pelindung yang Hinata buat tidak hanya menahan serangannya namun juga bergerak ke arah Naruto dan menyerang pemuda itu.

Naruto untungnya sempat melompat menghindar walau ledakan akibat benturan serangannya dan Hinata membuat tubuhnya terlepanting ke belakang. Naruto berdiri dengan kedua kakinya kembali. Ia menggigit bibir. Lalu diambilnya dua kertas mantra di dalam lengan seragamnya.

Naruto mengusap bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya lalu menorehkan darah itu di kertas pertama menggunakan bentuk huruf kanji. Kalimat yang berarti 'Lautan' itu ia robek dan di sebarnya di sekelilingnya. Naruto melakukan hal itu sangat cepat. Lalu kertas lainnya ia acungkan di depan hidung sementara membaca mantara.

Lalu diraihnya pisau yang tadi disarungkannya. Naruto melapisi pisaunya dengan kertas itu. perlahan pisau itu berubah menjadi kodachi. Sementara kertas yang sudah Naruto sobek perlahan berubah menjadi dirinya. Total ada sepuluh buah Naruto yang kini berhadapan dengan Hinata.

Semua orang yang menonton hal itu tercenang. Mereka sudah menduga dari apa yang Naruto lakukan, tapi mereka sama sekali tidak menyadari Naruto benar-benar mempraktekan sihir tingkat tinggi itu. Hanya Shion, Hinata, Kakashi, Shikamaru, Gaara, dan Kiba –karena sedang fokus bertarung- yang tidak terkejut melihatnya.

Naruto tidak membuang waktu lagi dan langsung menyerang Hinata. Ke lima dari dirinya menyerang dari depan, sementara setengahnya menunggu di belakang. Hinata terus menunggu serangan Naruto. Tapi gadis itu tidak serta-merta menunggu begitu saja, ke dua tangannya terdapat masing-masing satu kertas mantra.

Hinata menyilangkan tangannya dan membaca mantra sangat panjang sementara dirinya menghindari serangan Naruto. Benar-benar kosentrasi dan kemampuan yang sangat luar biasa padahal Hinata hanya gadis berusia dua belas tahun.

Hinata selesai membaca mantra dan meluncurkan kedua kertas mantranya ke dua tempat yang berbeda. Satu ke arah seorang Naruto yang tidak menyerangnya sementara yang satu lagi ia arahkan ke lantai kayu. Begitu kertas mantra menyentuh lantai kayu, lantai itu berubah menjadi area es yang tajam dan runcing.

Es itu menusuk Naruto-Naruto yang tadinya menyerangnya dan membuat beberapa dari mereka menghilang dan menyisakan tiga dari Naruto. Salah satunya berada cukup dekat dengan Hinata. Hinata mengeluarkan wakizashi (pedang pendek) yang ia sembunyikan di balik pakaiannya.

Wakizashiputih itu terbuka dari sarungnya dan langsung menebas Naruto yang berhasil berkelit. Tapi sabetannya berhasil memotong bagian tangannya. Tangan itu terpotong dan memperlihatkan sinar berkilau berwarna kuning emas.

Dua Naruto yang tersisa menyerang tanpa aba-aba. Kedua bilah pedang sedang yang di pegang kedua Naruto sama-sama mengincar organ vital Hinata. Ketika Naruto yang asli berhasil di tangkis, Naruto shikigami menyerang bagian bahu kiri Hinata namun ketika pedang itu hampir menembus bahu Hinata, serangan Naruto berhenti.

"Yak, tepat sepuluh menit." Kiba dan Gaara yang masih sibuk melancarkan serangan-menghindar menghentikan pergerakan mereka. "Aku sangat tidak menduga hasilnya. Tidak kusangka bahwa pemenangnya adalah…" Kakashi berniat berlama-lama. Shikamaru yang terlanjur kesal segera memotong.

"Naruto, Kiba, kalian yang menang." Shikamaru berkata cepat dan mendorong Ino, Shino, Lee, dan Shion maju ke area bertanding yang sudah kembali normal. Kakashi memeberikan tatapan tajam tapi tidak memeprotes sikap semena-mena si jenius klan Nara itu.

Kiba, Gaara, Hinata, dan Naruto segera berjalan menuju pinggir dimana Sai dan Chouji melempar handuk dingin serta minum ke arah mereka. Naruto segera menyeka keingatnya yang entah sejak kapan bercucuran. Lalu ditenggaknya minuman itu hingga setengah habis.

Sementara Hinata hanya menempelkan handuk ke pipinya. Gadis itu tidak terlalu banyak bergerak ketimbang ketiga temannya. Jika dilihat dari keseluruhan pertandingan, Hinatalah yang mendapat point tertinggi karena keterampilan, bakat, serta tekniknya yang sangat memumpui.

Sementara Kiba dan Naruto melakukan serangan gila-gilaan. Gaara sendiri tidak terlalu banyak menyerang dan hanya menghindari atau menangkis serangan Kiba dengan pasirnya. Selain itu serangan Kiba dan Naruto membuat Gaara dan Hinata tidak bisa bekerja sama dengan baik.

Mereka lalu beralih menatap pertarungan Ino-Shion melawan Lee-Shino. Ino tampak bersiap dengan buku mantra di tangannya. Shion hanya memegang kipas terlipat di tangan kanannya. Lee sendiri tidak terlalu baik dalam hal mantra. Bahkan mantra paling dasar tidak dapat pemuda itu kuasai.

Tapi bahkan tanpa mantra sekalipun, Lee bisa mengalahkan yokai tingkat tinggi hanya dengan kemampuan fisik yang cukup tinggi. Shino tidak menggunakan kertas mantra melainkan menggunakan serangga sebagai media mantranya.

Keempat orang itu jelas tipe yang sangat berbeda. Hal ini membuat pertandingan terasa lebih menarik. Ino melakukan penyerangan terlebih dahulu. Gadis itu segera membaca mantra degan suara berbisik. Sudah menjadi kemampuan klan Yamanaka untuk mengendalikan sesuatu, bahkan klan Yamanaka dapat mengendalikan shikigami orang lain sampai batas tertentu.

Tapi sepertinya Ino tidak ingin menggunakan bakat khususnya itu. Ino mengajungkan buku di tangannya dan perlahan lembaran di buku itu tersobek membentuk kupu-kupu yang terbang di sekitarnya. Sosok Ino yang dikelilingi kupu-kupu sedemikian rupa membuat gadis itu jadi semakin menawan. Bahkan Naruto yang malas mengakui harus menerima jika sepupunya itu terlihat sangat cantik.

Shino tidak tinggal diam. Dia mengeluarkan berbagai serangga dari lengan pakaiannya yang melebar dan panjang. Seragam modifikasi itu terlihat unik. Kerahnya menutupi hingga hidung Shino dan pemuda itu mengenakan googel hitam. Hoody yang ada di balik punggungnya menutupi seluruh kepala pria itu hingga terasa aneh.

Serangga itu mulai menyerang Shion dan Ino bersamaan. Shion melebarkan kipas putihnya. Kipas itu diayunkannya dengan pelan namun menimbulkan efek yang sangat mencengangkan. Serangga yang menyerang Shion seolah terbawa oleh tornado dan bergerak kembali ke arah Shino.

Lee yang melihatnya ikut bergerak, ia mendendang pusaran angin itu hingga serangga yang ada di dalamnya dapat bebas. "Yeahhh!" Teriak Lee semangat. Sementara itu Ino mengeluarkan kertas mantra dari pocket yanga ada di balik rok pedeknya.

Selain Hinata dan Shikamaru, Inolah yang paling menguasai mantra dasar. Gadis itu merapal mantra singkat, "Wahai yang berkuasa, lingdungilah daku dari kekuasaan jahat." Lalu kertas itu terbang ke atas dan terlihat seperti pecah dan berubah mencadi kubah yang melindungi Ino. Mantra Ino sama seperti mantra pelindungan milih Hinata, hanya saja lebih lemah.

Serangga-serangga Shino tidak bisa menerobos masuk dan pecah menjadi kepingan-kepingan kecil berkilau. Bersamaan dengan itu kubah yang melindungi Ino menghilang. Ino balik menyerang dengan kupu-kupunya. Kupu-kupu itu terbang ke arah Shino dan menyerap energy milik si ahli serangga.

"Kupu-kupu kecil ini tidak akan bisa menghentikanku, yeahhh!"

Lee yang tidak akan terpengaruh mendekati Shino dan menendang kupu-kupu kertas buatan Ino. Sementara Lee sibuk, Shion melakukan trik kecil. Ia melakukan tarian dan menyanyikan lagu. Itu adalah tarian dan nyanyian persembahan, seharusnya ia tidak melakukannya dalam latih tanding, tapi Shion benar tidak ingin kalah dan harus melawan Hinata dan Gaara nantinya.

Ketika tarian persembahan itu selesai, perlahan muncul tanaman yang merambat dari dalam tanah menembus ke lantai kayu dan mengikat Lee dan Shino. Tanaman itu mengikat semakin kuat. Ketika Lee atau Shino memutuskan sulur yang mengikat mereka, sulur lainnya ganti mengikat tubuh kedua orang itu.

Kakashi langsung mengumumkan pemenangnya karena takut diserobot lagi oleh si pemuda nanas. "Yak, stop! Pemenangnya Shion dan Ino." Kedua gadis itu saling berpelukan dengan gembira. Itu artinya mereka tidak perlu kesulitan melawan Gaara si monster dan Hinata.

"KENAPA?" Lee berteriak lebay di saat terakhir sebelum berjalan mendekati Kiba dan Naruto yang sudah bersiap menghibur pria berpakaian hijau ketat yang jelas-jelas tidak mengenakan seragam sekolah sama sekali. Selain lambang di dada kirinya yang merupakan lambang sekolah.

"Lalu, kalian berempat ayo maju." Keempat orang terakhir langsung memasuki area bertarung. Sasuke dan Sai melawan Shikamaru dan Chouji. Sai dan Sasuke merupakan pasangan terkuat namun Shikamaru si jenius dan Chouji sudah lama menjadi partner dalam satu tim juga tidak bisa diremehkan. Ketiga orang selain Sasuke juga sama-sama penyerang jarak menengah.

Sasuke langsung mengeluarkan kertas mantra, melakukan ritual kecil untuk memanggil Kusanagi, pedang turun-temurun warisan klannya. Sasuke selalu menggunakan pedang itu dalam latih tanding dan jarang menggunakan mantra. Sementara Sai mulai bersiap dengan media sihirnya. Sebuah gulungan dan tinta juga kuas.

Shikamaru mengambil beberapa kertas mantra. Ia mulai bersiap-siap sekaligus merancang rencana dalam otaknya. Chouji terus saja makan dengan lahapnya. Shikamaru langsung membisikan rencananya pada Chouji begitu Kakashi memulai aba-abanya. "Siap. Sedia. Mulai."

Sasuke tidak membuang waktu dan segera menyerang Shikamaru. Shikamaru langsung merapal mantra lalu melemparkannya ke tanah. Tanah itu berubah menjadi pasir hisap yang menahan langkah Sasuke yang tidak sempat menghindar. Shikamaru langsung melancarkan serangan berikutnya. Ia merobek kertas mantra dan melemparnya ke bawah.

"On kiri kiri bazara bajiri hora manda manda un hatta." Shikamaru berteriak lantang. Sasuke yang awalnya hanya terahan perlahan berubah menjadi batu. Tapi serangan Shikamaru memberikan waktu bagi Sai menyelesaikan gambar iblisnya. Gambar itu langsung menyerang Chouji.

"Yak, stop." Perkataan Kakashi membuat seluruh orang di ruangan itu terkejut. "Aku tahu niatmu, Shikamaru." Shikamaru menghela nafas lega. Ia langsung melepas onmyojutsunya pada Sasuke. Sasuke tampak kesal dan langsung meraih handuk juga minum yang disodorkan Shion.

"Dasar Shikamaru. Membuatku kurus saja harus menerima serangan Sai." Keluh Chouji.

"Aku harus membuang energy karena mengikuti keinginan bodoh Shikamaru." Sai mengatakannya dengan senyum lebar di wajahnya yang membuat beberapa orang jeadrop mendengengar entah keluhan atau sindiran Sai.

Naruto menepuk bahu Shikamaru. "Kau harusnya lebih serius mengalahkan Teme, Shika." Shikamaru sensi dengan apa yang dikatakan Naruto. Mudah mengatakan, sulit melakukan. Alasan Shikamaru membuat pertandingan ini seri karena terlalu merepotkan untuk menang dan terlalu menyusahkan jika kalah.

"Itu benar Shika, kau harus lebih bersemangat!" Teriakan Lee makin membuat Shikamaru geram.

"Dan Sasuke bisa-bisanya kau terjebak dalam rencana Shikamaru entah yang keberapa ratus kali ini." Naruto menggelengkan kepalanya seolah ia sedih dengan hasil kemenangan Sasuke yang nol jika melawan Shikamaru.

"Kau juga tidak pernah menang melawan Shika, Naruto." Sindir Ino. Kiba ikut menatap Naruto dengan tatapan merendahkan.

"Bagaimana mau menang, Ino-chan. Aku bahkan tidak pernah melawan Shikamaru." Entah kenapa, walau Naruto tidak begitu mengingatnya ia merasa belum pernah melawan si jenius Nara.

"Seperti kau ingat saja." Kiba menggulirkan matanya yang tadi ia gunakan untuk menatap Naruto.

"Tentu saja aku tidak ingat!" Naruto berseru bangga. Membuat Ino ingin sekali menggeplak kepala pirang itu. Hinata hanya terkikik, Shion menggeleng maklum dengan kelakukan Onii-channya, sedangkan yang lainnya menghela nafas pasrah akan kelakuan si tengah Namikaze.

"Sebaiknya kalian cepat-cepat pergi ke tempat latihan berikutnya. Guru kalian yang berikutnya itu Iruka." Perkataan kakashi berhasil membuat semua mata melotot pada si masker dengan wajah horror. Iruka, guru paling disiplin dan tidak segan menghukum muridnya dengan latihan yang lebih Sparta dari latihan guru Guy?

Mereka langsung berkemas dan berlari dengan langkah seribu menuju tempat latihan berikutnya yang hampir satu kilo meter jauhnya. Dan sebagai pengingat, mereka tidak diizinkan menggunakan sihir maupun shikigami untuk sampai ke tempat itu.

.

.

Naruto merasa akan segera pingsan jadi dengan kaki terseok ia berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai tiga dengan mulut terus berkomat-kamit memanjatkan kutukan pada Iruka dan Guy sensei yang begitu kejam. Naruto menetapkan hati untuk melakukan ritual kecil ketika ia merasa sudah cukup segar setelah mandi nanti. Lihat saja Iruka-sensei, Guy-sensei.

Naruto membuka pintu kamarnya dan ruangan itu gelap gulita. Tirai yang tadi pagi Naruto ingat masih terbuka kini tertutup rapat. Naruto menutup pintunya dan berjalan menuju saklar di dekat tempat tidurnya. Begitu ia akan menyalakan lampu suara rendah menyapa indra pendengarannya.

"Kau bahkan tidak menyadari keberadaanku, apa saja yang kau lakukan tiga minggu ini?"

Naruto segera memutar tubuhnya dengan kedua jari tengah dan telunjuknya teracung di depan mulut yang siap melancarkan mantra. Lalu lampu tiba-tiba saja menyala dan menunjukan seorang pemuda familiar yang bisa Naruto ingat.

"Yo, Naruto."

"Aniki." Naruto memberikan tatapan dingin.

Naruto sekarang tahu seperti apa rasanya dikutuk. Ketika kau menemui orang yang ingin kau temui terakhir kali dimuka bumi ini, muncul di hadapanmu dengan mudah seolah tidak terjadi apapun. Perasaan terkutuk ini bahkan lebih menyebalkan daripada sekedar tidur bersebelahan dengan kamar Sasuke.

#つづく#


Sebelumnya saya ingin minta maaf karena ada kesalahan dalam mengepost fanfic, saya melewatkan satu chapter, yaitu chapter 4. Saya sudah mengira ada yang terlewat, tapi tidak menyangka kalau itu chapter 4 yang artinya kesalahan itu sudah lama sekali.. #malu

Saya minta maaf juga pada para reviewer yang tidak sempat saya balas, maka dari itu saya membalasnya di chapter ini.

Setya566 : Terima kasih sudah mau mereview. Ini sudah ada lanjutannya.

Bayangan semu : Maaf kalau chapter kemarin ceritanya jadi jelek, saya sudah berusaha sebisa mungkin tapi tetap saja jadinya seperti itu. Dan soal ttebano itu yang diucapkan Kushina, bukan Naruto. Saya memang sulit mempertahankan ke ICan karakter, maaf jika jadinya sangat OOC. Soal tes itu akan dijelaskan beberapa chapter lagi. Kenapa Sasuke lebih memilih bertarung dengan Naruto. Yang pasti ada hubungannya dengan masa lalu Naruto.

egatoti : Terima kasih sudah mau mereview semua chapter ^^. Setting ceritanya memang agak mirip Tokyo Raven (terlepas dari fanfic ini fanfic tentang onmyoji). Pertanyaan yang egatoti akan terjawab seiring berjalannya cerita, jadi saya tidak bisa menjawabnya (takutnya menjadi spoiler) Sasuke sudah muncul ^^, dan iya, fanfic ini NaruxHina dan bukan shonen ai, gomennasai.

Meli Hyuu : Terima kasih sudah mau membaca dan mereview, Meli Hyuu-san. Mungkin akan ada horror (mengingat ini cerita tentang onmyoji) tapi pasti tidak akan terlalu seram. Iya dulu Naruto pernah mengenal Hinata dan Sasuke.

Dan untuk para readers yang sudah mau membaca saya ucapkan terima kasih. Jujur saya agak terburu-buru dalam membuat cerita dan mengepostnya (takut tidak ada waktu lagi mengingat saya sudah harus mempersiapkan UN dan lain-lain). Jadi saya minta maaf jika chapter baru-baru ini terasa jelek, membosankan, atau apa.

Jika berkenan silahkan kembali membaca, juga saya haap para reader mau mereview untuk memberi kritik, saran, dan pertanyaan.

Salam,

Hiruma Enma 01