Shinobi Saint

.

.

.

.

By Victorianus

.

.

.

.

Naruto

.

.

.

.

Adventure, Fantasy, Family

.

.

.

.

.

Halo semua, ketemu lagi dengan saya di fict ini. Hmm, terima kasih untuk anda-anda sekalian yang sudah mampir di fict saya dan, dan mengfavorite juga follow fict ini. Awalnya saya kira tidak ada yang tertarik, ee ternyata ada juga. Dan di sini saya berkreasi dengan ide yang saya buat, dan wow, ternyata ada juga salah satu reader penggemar Saint Seiya. Jujur, Anime itu sangat wow banget, so Epic. Saya juga banya mengoleksi lagu-lagunya, juga wallpaer, jadi ketika buat fict Naru ini, ingin rasanya Naruto memiliki kemampuan seperti di Saint Seiya. Ok, daripada banya bicara, langsung saja nikmati fict saya ini minna.

Chapter 2

.

.

.

.

.

7 tahun kemudian

.

.

.

.

.

Di Luar Gerbang Konoha

.

.

.

Seorang pemuda berusia sekitar 13 tahun, memiliki rambut pirang panjang dengan Gold Cloth Virgo, tapi ada yang berbeda, karena terlihat dua tameng berbentuk lingkaran yang ada di kedua lengannya, juga dua pedang yang menyilang di punggungnya dan satu tombak bermata tiga yang ada di punggungnya juga. Jubah putihnya menari-nari mengikuti Gold Saint tersebut, yang di mana masuk melewati gerbang Konoha dengan tenang, tampa mempedulikan Kotetsu dan Izumo yang menatap tidak percaya ke arahnya. Bukan apa yang membuat kedua Chuunin itu terkejut, melainkan pemuda misterius tersebut berjalan dengan mata tertutup. Bagaimana caranya dia berjalan tampa menabrak orang-orang yang berlalu lalang, menatap heran juga menghindari pemuda dengan armor emas tersebut, agar tidak menabrak dirinya. Kushina yang juga ada tidak jauh dari sana, dengan putra keduanya, Namikaze Ryuu, menatap terkejut ke arah sosok pemuda tersebut. Dirinya mengucek matanya, menganggap jika itu bukanlah ilusi, begitupula Ryuu yang menatap bingung ke arah ibunya, lalu menatap ke arah pemuda aneh dengan mata tertutup, berjalan mendekati mereka.

" Lama tidak berjumpah, Kaa-san." kata pemuda tersebut tersenyum tipis, tampa membuka matanya, membuat Kushina juga semua orang yang mendengarnya terkejut. Seluruh tubuh Kushina bergetar, melihat sosok putranya yang sudah 7 tahun pergi, meninggalkan dirinya juga Minato, untuk berlatih menjadi seorang shinobi terhebat, dan sekarang, sosok tersebut berdiri di hadapannya, dengan tampilan yang berbeda. Rambut pirang yang dulunya pendek, sekarang panjang begitu indah melewati pinggang pemuda tersebut, bentuk wajah yang begitu cantik tapi maskulin untuk usianya dengan rahang yang kokoh, hidung mancung, kulit yang dulunya tan, kini sedikit putih dengan bentuk tubuh yang sedikit berotot, dan lagi, armor emas yang begitu berkilau menyelimuti tubuh putranya, juga putranya bisa berjalan dengan mata tertutup.

" Na-nar-rut-to.." panggilnya terisak membuat pemuda misterius tersebut tersenyum kecil, walaupun matanya masih terpejam.

" Naru pulang, Kaa-san." katanya membuat Kushina langsung memeluk putranya yang telah lama pergi itu, mengelus surai pirang anaknya yang sangat lembut.

" Naruto? Kamu sudah dewasa nak? Bagaimana kabarmu? Kenapa kamu pulang sendiri? Dan dimana gurumu yang melatihmu?" tanya Kushina bertubi-tubi dengan air mata yang mengalir deras, membuat semua orang yang mendengarnya terkejut. Memang benar, Namikaze Naruto pergi berkelana dengan gurunya untuk melatihnya menjadi shinobi yang kuat, menurut pelunturan Minato dan Kushina, dan sekarang, sosok bocah yang tidak memiliki cakra sudah muncul di depan mata mereka, dengan sosok yang berbeda. Naruto terkekeh pelan, membalas memeluk ibunya itu.

" Naru baik-baik saja kaa-san, dan guru-guruku tidak ikut karena itu Naru pulang sendiri. Mereka titip salam untuk Tou-san juga Kaa-san. Hmm, perut kaa-san tidak buncit lagi, itu berarti adikku sudah lahir." kata Naruto membuat Kushina melepaskan pelukannya, menghapus air matanya, tersenyum ke arah putra sulungnya, kemudian menatap ke arah Ryuu yang kebingungan.

" Ryuu, ini adalah nii-sanmu. Beri salam." kata Kushina lembut membuat Ryuu menatap ke arah Naruto yang wajahnya menghadap ke arahnya.

" Selamat datang, nii-chan. Namaku Namikaze Ryuu. Ryuu sering mendengar cerita dari tou-chan dan kaa-chan tentang nii-chan." katanya membungkuk hormat ke arah Naruto, membuat pemuda tersebut tersenyum tipis, yang tangan kanannya terangkat, mengelus rambut orange pemuda tersebut, membuat Ryuu tersentak, Kushina dan semua orang yang melihatnya terkejut.

" Hmm, jadi adik nii-san namanya Ryuu? Nama yang bagus." kata Naruto membuat Ryuu mendongakkan kepalanya, tersenyum lebar ke arah Naruto. Naruto menjongkokkan tubuhnya, menyamakan tinggingnya dengan Ryuu yang menatap ke arahnya.

" Nii-san bisa merasakan cakramu mengaliri seluruh tubuhmu. Kamu perlu ingat, nii-san tidak ada cakra. Apa kamu malu dengan nii-sanmu?" tanya Naruto membuat Ryuu menggeleng kepala.

" Walaupun nii-chan tidak ada cakra, Ryuu percaya nii-chan adalah kakak terhebat yang Ryuu miliki." kata Ryuu membuat Naruto terdiam, dimana cosmo miliknya merasakan tubuh bocah kecil tersebut. Tersenyum kecil, dirinya mengacak rambut adiknya dengan kasih sayang.

" Terima kasih." katanya yang kemudian bangkit, menatap ke arah Kushina yang mengelap air matanya.

" Kaa-san, dimana tou-san?" tanya Naruto membuat Kushina berdehem sebentar.

" Tou-sanmu ada di kantor Hokage. Biasalah dia, mengurus para calon-calon Genin yang akan lulus." kata Kushina sedikit nada humor membuat Naruto terdiam mendengarnya.

" Masih belum pembagian kelompok Genin kan kaa-san?" tanya Naruto yang di jawab anggukan oleh wanita tersebut.

" Ya. Minggu depan baru di adakan ujian, sekaligus pembagian team. Apa kamu ingin ikut?" tanya Kushina pelan, membuat Naruto mengangguk.

" ingin mengikuti ujian itu, tapi Naru ingin tou-san memberiku ujian yang lain agar Naru bisa lulus." kata Naruto membuat Kushina tersenyum lebar mendengarnya.

" Kalau masalah itu, serahkan padaku." kata Kushina semangat membuat Naruto terkekeh mendengarnya. Namikaze sulung itu menghadap ke arah Ryuu yang menatap ke arahnya, tersenyum kecil.

" Kamu harus menjadi shinobi yang hebat, Ryuu." kata Naruto membuat Ryuu tersenyum lebar, mengangguk semangat.

" Tentu saja. Ryuu akan menjadi shinobi yang kuat seperti tou-chan, kaa-chan dan Naru-nii!?" seru Ryuu pasti membuat Kushina tersenyum, sedangkan Naruto tersenyum tipis.

" Ayo kita bertemu Tou-san." kata Naruto yang dimana mereka bertiga berjalan bersamaan. Seluruh penduduk menatap penasaran dengan sosok Naruto yang sekarang. Sosok bocah yang dulunya lemah juga banyak bicara, sekarang berubah menjadi pemuda yang gagah, dan juga tampan, dengan armor emas yang melindungi tubuhnya, apalagi jubah putihnya yang berkibar dnegan tenang, mengikuti langkahnya.

" Naruto, bagaimana kamu bisa berjalan tampa, emmm melihat? Apa kamu…?" putus Kushina tidak enak mengeluarkan perkataannya.

" Tidak kaa-san. Naru tidak buta. Naru memejamkan kedua mata karena mengikuti jejak salah satu guruku miliki." jawabnya membuat Kushina terdiam, tapi kemudian tersenyum lembut mendengarnya

" Kamu sudah banyak berubah nak. Kaa-san pertama tidak mengenalmu jika kamu tidak menyapa kaa-san dulu." aku Kushina membuat Naruto tersenyum tipis mendengarnya.

" Semua orang pasti akan berubah sesuai berjalan dengannya waktu, kaa-san." jawab Naruto membuat Kushina terkekeh pelan mendengarnya. Tidak lama kemudian, mereka bertiga akhirnya sampai di kantor Hokage, terlihat petugas yang ada di sana terkejut, dnegan cepat bangkit, memberi hormat ke arah Kushina.

" Kushina-sama, Ryuu-sama. Selamat datang kemari." kata petugas tersbeut membungkuk ke arah Kushina yang mengangguk sekali.

" Aku ingin bertemu Minato, apa dia sibuk?" tanya Kushina langsung mengeluarkan aura hitam, membuat petugas tersebut bergidik.

" Tidak. Sama sekali tidak Kushina-sama. Anda bisa bertemu dengannya di kantor beliau." jawabnya cepat membuat Kushina tersenyum, begitupula aura hitamnya yang menghilang.

" Bagus. Dan kau lupa menyapa putra sulungku." kata Kushina membuat petugas itu mendongak, menatap ke arah Naruto yang hanya memasang wajah datar.

" Na-nar-rut-to-s-sama.." katanya, sedangkan Naruto hanya mengangguk sekali ke arahnya.

" Ayo kita ketemu tou-san, kaa-san." kata Naruto yang di jawab anggukan oleh Kushina, yang kemudian mereka pergi ke kantor Hokage, meninggalkan petugas yang menatap terkejut ke arah Naruto. Tidak lama setelahnya, mereka tiba ke depan pintu Hokage. Kushina meminta Naruto diam di sini, selagi dirinya dan Ryuu masuk duluan, membuat Naruto hanya diam. Tampa mengetuk, Kushina langsungs saja membuka pintu di depannya, terlihat Minato yang mempelototi kertas-kertas yang ada di sana, begitupula Fugaku, Hiruzen yang membantunya.

" Minato, bisa kamu jangan memperhatikan kertas-kertas sialan itu?" kata Kushina membuat Minato menatap ke arahnya, bingung karena melihat istrinya yang tersenyum manis ke arahnya.

" Ada apa Kushi-chan?" tanya Minato heran, yang kemudian wanita tersebut meminta putra bungsungnya menarik abangnya. Ryuu berlari keluar sebentar, yang tidak lama setelahnya menarik Naruto yang terkekeh kecil dengan tingkah adiknya. Minato terteguh melihat sosok putra sulungnya itu, sangat berubah dari waktu mereka berpisah tujuh tahun lalu, sedangkan Fugaku dan Hiruzen menaiki alisnya bingung. Minato langsung bangkit dari mejanya, berjalan mendekati naruto yang masih memasang wajah tenang. Di perhatikannya dari ujung rambut dan ujung kaki, ternyata selama tujuh tahun, putranya sudah berubah banyak sejak perpisahan mereka.

" Na-nar-ruto.." panggil Minato serak membuat Hiruzen juga Fugaku terkejut mendengarnya, sedangkan Naruto tersenyum tipis.

" Apa kabar, tou-san? Bagaimana kabar tou-san? Hmm, dari yang Naru rasa, tou-san pasti terkejut melihatku juga.." katanya terputus, dimana Minato tiba-tiba saja memeluk tubuhnya, mengelus surai pirang emas Naruto dengan kasih sayang.

" Naruto.. naruto…naruto.. Kamu sudah pulang nak?" isak Minato dengan air mata yang keluar dari kedua pelupuk matanya. Naruto yang merasakan emosi ayahnya itu tersenyum tipis, membalas pelukkan beliau.

" Ya, Naru pulang tou-san. Naru merasakan tou-san baik-baik saja, kecuali stress karena pekerjaan-pekerjaan tou-san sebagai Hokage." kata Naruto terkekeh membuat Minato melepaskan pelukannya, menghapus jejak air matanya. Sang Kage memperhatikan putranya kembali, sedikit mengerutkan kening melihat Naruto yang memejamkan kedua matanya.

" Naruto tidak buta Minato. Naruto bilang jika dia mengikuti jejak gurunya." jawab Kushina seperti mengerti perubahan raut wajah suaminya, membuat Minato menatap putranya yang masih memasang wajah tenang.

" Apa benar cuma mengikuti jejak gurumu, Naruto?" tanya Minato penasaran membuat sulung Namikaze itu terdiam sejenak, tapi kemudian menghembuskan nafas pelan.

" Sebenarnya ini adalah cara untuk menahan energi yang berada di dalam tubuhku ini tou-san, dan dengan memejamkan kedua mataku, aku bisa menahan besar energi yang ada di dalam tubuhku ini." jawab Naruto membuat Minato, Kushina, Hiruzen juga Fugaku terkejut mendengarnya. Minato dan Kushina pernah dengar dari orang yang membawa putranya itu, jika energi yang di miliki mereka bernama cosmo.

' Jadi begitu. Energi yang bernama cosmo itu jika kelebihan kekuatan, Naruto harus memejamkan matanya agar bisa menahannya. Tapi, apa itu ada hubungannya? Nanti aku akan tanya lebih jelas di rumah, mungkin Naruto tidak ingin menjelaskannya di sini.' nilai Minato menatap ke arah Naruto yang terdiam.

" Apa tou-san ingin mengetesku?" tanya Naruto tiba-tiba dengan nada canda membuat Minato tersadar, menatap ke arah putranya yang tersenyum kecil.

" Apakah boleh?" tanya Minato sedangkan di jawab kekehan pelan oleh Naruto.

" Naru yakin tou-san pasti penasaran. Dan hmm, bolehkan ini juga menjadi tes kelulusanku menjadi Genin?" tanya Naruto membuat Minato terkejut mendengarnya.

" Kamu ingin masuk ke dalam kelompok Genin, Naruto?" tanya Minato yang di jawab anggukan oleh sulung Namikaze tersebut.

" Tentu saja. Naru ingin masuk ke dalam dunia ini. Kalau bisa, Naru ingin satu kelompok dengan Rock Lee, tou-san." mohon Naruto membuat Minato terdiam sejenak, yang tidak lama kemudian tersenyum kecil.

" Orang tua mana yang tidak akan mengabulkan permohonan anaknya. Kalau begitu, tou-san akan masukkan namamu dalam Akademi, dan tes pembagiannya hari ini kita lakukan." kata Minato membuat Naruto tersenyum tipis.

" Ayo kita lakukan tou-san." katanya.

.

.

.

Tidak berlangsung lama, mereka berenam akhirnya sampai di arena tempat tes Naruto di lakukan. Di sana terlihat Kakashi yang sebagai wasit, menatap ke arah Minato juga Naruto yang saling berhadapan, sedangkan Kushina, Hiruzen, Fugaku dan Ryuu menonton di podium penonton. Kakashi terkejut jika putra sulung senseinya sudah pulang, dan melakukan duel untuk penentuan kelompok Genin. Awalnya dia bingung kenapa kedua mata Naruto terpejam, tapi setelah di jelaskan oleh Minato, akhirnya dirinya mengerti. Naruto memundurkan dirinya sedikit menjauh, membuat Minato dan Kakashi mengerutkan kening melihatnya. Naruto kemudian duduk bersila di tempat yang menurutnya bagus, bersemedi dengan tenang di sana.

" Saya siap kapanpun." kata Naruto tenang memulai semedinya membuat Minato, Kakashi, Kushina, Hiruzen, Ryuu juga Fugaku sweatdrop menatapnya.

" Umm Naruto-sama, apa anda serius?" tanya Kakashi dimana Naruto diam, tidak menjawab. Jounin berambut perak itu kemudian menatap ke arah senseinya, meminta persetujuan. Minato mengangguk pelan, menatap ke arah putranya yang bersemedi dengan tenang, menunggu pertandingan.

" Mulai." kata Kakashi, yang kemudian Minato mengeluarkan kunai cabangnya, langsung saja melempar ke ara Naruto. Tampa di sadari oleh siapapun, Naruto sudah menyebar cosmonya mengelilingi arena pertanding tempat dirinya berada, dimana pemuda tersebut sudah bisa melihat dari otaknya, serangan-serangan yang di lancarkan oleh musuhnya. Tiba-tiba saja, Minato muncul di depan Naruto dengan menggengam kunai cabang miliknya. Bermaksud mengarahkan tinju ke kepalanya, tapi kedua matanya membulat, karena tiba-tiba saja serangannya berhenti. Tangan kiri Naruto perlahan terangkat ke depan, tepat ke depan wajah ayahnya. Mengibaskan telapak tangannya dengan anggun, tiba-tiba saja membuat Minato terpental ke belakang sangat cepat, yang langsung saja tubuhnya menabrak dinding ruangan sampai retak, membuat semua orang yang melihatnya membulatkan kedua matanya.

" A-ap-pa.." kata Hiruzen tidak percaya melihat kejadian di depannya. Kushina kembali menatap ke arah putranya itu, terlihat kembali bersemedi dengan tenang.

" Naru sarankan tou-san, sebaiknya serius melawanku." kata Naruto tenang, bersemedi kembali, sedangkan Minato langsung bangkit dari reruntuhan dari tembok, membersikan jas Kagenya, menatap ke arah Naruto serius.

' Apa itu tadi? Aku seperti di tahan oleh perisai tidak terlihat.' batin Minato menatap tajam ke arah naruto yang bersemedi dengan tenang. Minato langsung melempar beberapa kunai cabangnya ke arah putranya itu, yang tidak lama setelahnya dirinya menghilang dari pandangan semua orang. Naruto masih tenang bersemedi, merasakan kunai cabang ayahnya semakin mendekati dirinya. Tiba-tiba saja, tangan kanannya terangkat ke depan dadanya, dengan kepalan tinju di arahkan ke kunai cabang tersebut.

" Lightning Plasma." katanya pelan yang tiba-tiba saja muncul garis-garis kuning yang menyebar, yang kemudian muncul garis-garis kuning lain yang menyatu. Tiba-tiba saja, sosok Minato sudah muncul di salah satu kunai milingnya, terkejut melihat garis-garis kuning yang mengurungnya. Tinjuan-tinjuan juga hantaman-hantaman langsung saja di rasakan oleh sang kepala keluarga Namikaze tersebut terkena di seluruh tubuhnya.

" ARGGGGGGGGGGGGGGG!?" teriak Minato yang merasakan setiap hantaman dari serangan anaknya itu, sedangkan semua orang yang menyaksikanpun membulatkan kedua matanya.

" A-apa it-itu? Serangan macam apa itu?" kata Kushina tidak percaya, sedangkan Fugaku yang melihat dengan Sharingannya pun terkejut, karena tidak melihat aliran cakra yang di miliki oleh putra sulung sahabatnya itu.

" Tidak ada aliran cakra sedikitpun. Bagaimana dia bisa menggunakan serangan seperti itu dengan mudahnya?" kata Fugaku tidak percaya, sedangkan Ryuu menatap takjub teknik yang di keluari oleh kakaknya itu.

" Menyerah tou-san?" tanya Naruto yang masih mempertahankan serangannya itu, sedangkan Minato terus menerima hantaman dan tendangan di seluruh tubuhnya. Minato tidak bisa melakukan apapun juga tendangan-tendangan sekaligus hantaman yang di terimanya semakin kuat, membuat dirinya sedikit memuntahkan darah dari dalam mulutnya.

" Tou-san menyerah." serunya serak membuat Naruto tersenyum kecil, kemudian dengan anggun dirinya mengayunkan tangan kanannya mendekat di lehernya, yang langsung saja garis-garis cahaya kuning keemasan tersebut menghilang, meninggalkan Minato yang sedikit kejang-kejang, tidak lama setelahnya tubuhnya terhuyung ke lantai dengan keras, membuat semua orang yang menyaksikannya terkejut. Minato mencoba membangunkan tubuhnya, yang tidak lama dirinya duduk, menatap ke arah putranya yang bersemedi dengan tenang. Sekilas senyum terlukis di bibirnya yang mengalir darah, dirinya tidak menyangkah jika selama tujuh tahun, putranya sudah berkembang dengan pesat.

' Perkembangan yang sangat hebat. Aku yakin, masih ada teknik-teknik lain yang tidak kami ketahui yang di pelajari Naruto di dimensi tempatnya berada. Tou-san ingin melihat semua kemampuan yang kamu miliki.' batin Minato.

" Minato!?" seru Kushina yang berlari mendekatinya, diikuti Hiruzen dan Fugaku. Minato menatap ke arah istrinya, menggeleng pelang, yang kemudian dirinya bangkit di papah oleh Kakashi, menatap kembali ke arah Naruto yang sekarang di putar-putar oleh putra bungsunya.

" Nii-chan. Bagaimana nii-chan melakukannya?" tanya Ryuu antusias dengan mata berbinar-binar, sedangkan Naruto tersenyum kecil mendengarnya.

" Jadi tou-san, apa Naru lulus?" tanya Naruto to the point membuat Minato tersenyum, mengangguk pelan.

" Kamu lulus Naruto. Mulai besok, kamu bisa ke Akademi." jawab Minato membuat sulung Namikaze tersenyum kecil, sedangkan Ryuu tersenyum lebar mendengarnya.

" Yay!? Besok Ryuu ada teman ke Akademi!?" seru Ryuu senang membuat Kushina terkekeh mendengarnya, begitujuga Hiruzen yang tertawa pelan.

" Hmm, jadi Ryuu sudah masuk ke Akademi?" tanya Naruto tertarik, yang di jawab anggukan oleh bungsu Namikaze tersebut.

" Ya nii-chan. Ryuu sudah masuk ke Akademi minggu lalu. Ryuu mempelajari beberapa teknik ninja, walaupun di rumah biasa berlatih bersama tou-chan dan kaa-chan." jawab Ryuu senang membuat Naruto tersenyum kecil, yang kemudian bangkit, menepuk lembut kepala Ryuu.

" Kalau begitu, besok kita sama-sama ke sekolah. Nii-san akan menunjukkan teknik yang hebat kepadamu." kata Naruto misterius membuat kedua mata Ryuu berbinar-binar.

" Benarkah? Apa Ryuu juga bisa melakukannya?" tanya Ryuu semangat membuat Naruto terkekeh pelan mendengarnya.

" Butuh 1000 tahun." jawab Naruto yang langsung saja membuat Ryuu pudung di tempat mengeluarkan suara isakan menyedihkan, sedangkan Minato, Kushina, Kakashi, Hiruzen juga Fugaku tertawa mendengarnya. Minato dan Kushina tahu, jika teknik yang di miliki putra sulungnya tidak mungkin di pelajari oleh dunia mereka, karena semua teknik tersebut berasal dari dimensi orang yang membawa putranya itu dan lagi, faktor utamanya adalah energi yang di tubuh putranyapun berbeda. Di sisi lain, Hades yang melihat kejadian di layar depannya terkekeh pelan, melihat interaksi keluarga yang menurutnya sangat manis tersebut.

" Ada apa sayang?" kata Peserfone yang baru muncul membawa napan berisikan dua cangkir teh herbal. Peserfone melihat layar besar di depannya, tersenyum kecil dengan interaksi keluarga yang di lihat di depan matanya itu.

" Naruto sudah pulang ke dimensinya?" tanya Peserfone yang duduk di samping suaminya, memberikan cangkir teh ke meja dekat suaminya, kemudian mengambil cangkir miliknya.

" Ya. Aku kesepian tampa pemuda energi itu. Bersyukur dia tidak mempelajari teknik yang di miliki si Pisces banci itu." kata Hades sambil meminum tehnya, membuat istri Dewa Underworld itu terkekeh pelan mendengarnya.

" Ya, di sini kembali sunyi lagi. Apalagi Thanatos tidak ada teman adu mulutnya." kata Peserfone sedangkan di jawab gumahan oleh sang Dewa Underworld.

" Sayang, aku dengar dari Hypnos jika kamu mengajarinya salah satu teknik milikmu." lanjutnya membuat Hades tertawa pelan mendengarnya.

" Ya, tapi aku terkejut dengan kemampuannya menguasai teknik 'itu', apalagi dia sampai mengevolve teknik tersebut." kata Hades membuat Peserfone membulatkan kedua matanya. Hades lalu menatap ke layar itu kembali, terlihat Naruto yang sudah ada di rumahnya, berbincang-bincang dengan ibu juga Ryuu, sedangkan ayahnya pasti sudah kembali ke kantornya, walaupun dalam keadaan babak belur terkena Lightning Plasma.

" Aku sebenarnya tidak rela jika dia pulang, tapi, mau bagaimana lagi. Juga cloth yang di milikinya adalah perpaduan rasi bintang Virgo dan Libra, yaitu Dewi Astrea. Aku tidak menyangkah jika ada Gold Cloth seperti itu di dunia ini, dan malah memilih anak itu sebagai 'tuan'nya." lanjutnya menatap ke arah layar, terlihat Naruto yang sedang bersemedi, Tersenyum kecil, Hades kemudian menikmai tehnya kembali dengan tenang.

.

.

.

.

SKIP TIME

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Naruto yang sudah selesai mandi, juga menggunakan Gold Cloth miliknya, berjalan dengan tenang keluar kamarnya, dengan mata terpejam. Dirinya bisa merasakan jika semua keluarganya berkumpul di ruang makan, dan di dalam kepalanya bisa melihat Minato yang duduk sambil menikmaki tehnya, Kushina yang mempersiapkan makanan, juga Ryuu yang menatap kehadirannya. Naruto duduk di samping adiknya, mengambil buah apel yang ada di sana, membuat Minato dan Kushina sedikit bingung.

" Kamu tidak mau makan yang lain?" tanya Minato yang di jawab anggukan oleh Naruto.

" Naru cuma makan buah-buahan atau sayur segar tampa di masak." jawab Naruto membuat keluarganya terteguh mendengarnya. Naruto merasakan jika Ryuu makan dengan belepotan, menghadapkan wajahnya dengan anggun menatap ke arah Ryuu. Dirinya melihat di dalam kepalanya jika Ryuu makan dengan rakus, sampai-sampai membuat beberapa makanan bertebaran di meja.

" Ryuu, kalau bisa, makanlah yang secukupnya." tegur Naruto halus membuat Ryuu menatap ke arahnya.

" Kamu harus tahu, jika makan terlalu berlebihan, ketika di akhirat isi perutmu akan di aduk-aduk oleh Raja Iblis." lanjut Naruto yang langsung saja isi mulut Ryuu menghambur keluar dari mulutnya, sedangkan Minato dan Kushina melongo. Ryuu dengan cepat mengelap bibirnya, meneguk air putih dengan cepat, yang kemudian menatap ke arah Naruto yang masih tenang.

" Apa maksud nii-chan? Memang benar, kalau kita sudah di akhirat, jika makan berlebihan, perut Ryuu akan di aduk-aduk oleh Raja Iblis?" tanya Ryuu dengan nada yang ketakutan yang di jawab anggukan oleh Naruto.

" Jika kamu makan terlalu berlebihan, lambungmu tidak cukup menampungnya, yang kemudian akan membuat perutmu kembung, juga kekenyangan berlebihan. Makanlah yang secukupnya dan dengan tenang." kata Naruto yang menyebarkan cosmonya, membersihkan bekas makanan yang di hamburkan oleh Ryuu, membuat Minato, Kushina juga adiknya menatap tidak percaya, dengan cepatnya makanan-makanan tersebut menghilang dalam sekejab. Naruto dengan tenang melanjutkan makan buah apelnya.

" Naruto, tou-san sudah memasukkan namamu ke dalam Akademi, dan juga kamu tidak perlu lagi melakukan tes-tes kelulusan." kata Minato membuat Naruto yang mengunya tenang apelnya mengangguk pelan, yang tidak lama setelahnya, di telan ke dalam kerongkongannya.

" Terima kasih Tou-san." balas Naruto yang kemudian meminum air putih miliknya, lalu meletakan kembali ke gelasnya, bersemedi kembali. Minato dan Kushina hanya bisa terkekeh pelan, kemudian Ryuu yang sudah menghabiskan makanannyapun bersiap-siap.

" Nii-chan, ayo berangkat." kata Ryuu semangat membuat Naruto tersenyum kecil. Tubuh bersemedi Naruto tiba-tiba saja melayang ke atas, membuat Minato dan Kushina terkejut tidak percaya. Mengucek matanya agar tidak salah lihat, yang kemudian sulung Namikaze tersebut melayang mendekati Ryuu yang sama terkejutnya melihat apa yang di lihatnya itu.

" Ayo kita pergi. Tou-san, Kaa-san, kami berangkat." kata Naruto yang melayang keluar, meninggalkan Ryuu yang masih mematung, tapi kemudian tersadar.

" NII-CHAN!? BAGAIMANA CARANYA!? RYUU JUGA MAU!?" seru Ryuu berlari menyusul kakaknya yang melayang itu, meninggalkan Minato dan Kushina yang masih tidak percaya.

" Mi-min-nato, a-apa aku sa-sal-lah li-lihat?" tanya Kushina tidak percaya membuat Minato tersadar, tersenyum kecil.

' Siapapun guru putraku, terima kasih sudah mengajarinya.' batin Minato tulus.

Di perjalanan Naruto dan Ryuu menuju Akademi, banyak orang yang melongo, terkejut, tidak percaya, melihat sesuatu yang terlihat di kedua matanya. Ibu-ibu yang tadinya membeli sayurpun, keranjang belanjaannya jatuh dari tangannya, membuat sayur mayur yang di belinya tadi jatuh berhamburan, juga orang-orang yang hilang akan konsentrasi berjalanpun menabrak orang yang sama kehilangan konsentrasinya. Ryuu menatap kagum kakaknya yang bisa melayang di udara dengan bersemedi dengan kedua mata terpejam itu. Naruto yang merasakan adiknya yang begitu bahagia hanya tersenyum dalam hati, tidak mengiraukan tatapan terkejut dari semua penduduk. Guru kebanggaannya, Shaka The Virgo yang mengajarinya bagaimana melayang ke udara, tapi sebelumnya dia harus mendalamkan ilmu mental juga spiritusnya, agar bisa mencapai tempat para dewa. Awalnya pertama dengan Shaka, dia kira Gold Saint tersebut buta, tapi sebenarnya dia memejamkan kedua matanya untuk menahan cosmonya yang begitu besar, dan akan membuka matanya jika musuhnya cukup menantang. Narutopun belajar banyak dari Sang Virgo, tidak mau mempelajari kemampuan Sang Pisces, karena penjaganya sedikit emmm berkelainan. Guru kesukaannya yang berikutnya adalah Mu Aries, pria itu seperti Shaka, tapi dia lebih ramah dan terbuka, kalau Shaka dingin dan terkesan tidak peduli.

' Para senior-seniorku pun memiliki sifat yang berwarna-warni.' pikirnya tersenyum mengingat sifat semua gurunya itu.

" Hei nii-chan, nii-chan. Bagaimana nii-chan melakukannya? Ryuu juga ingin bisa terbang seperti nii-chan." kata Ryuu dengan nada merengek membuat Naruto sedikit menyampingkan wajahnya ke kiri, tempat dimana Ryuu berada, tersenyum tipis. Mereka akhirnya sampai di Akademi ninja, dimana juga terlihat ekspresi yang sama ketika di perjalanan. Ryuu dengan bangga berbicara dengan lantang ke semua orang.

" LIHAT!? NII-CHANKU HEBAT BUKAN!? DIA BISA MELAMBUNG KE UDARA BAHKAN TOU-CHAN TIDAK BISA!?" seru Ryuu bangga membuat semua murid-murid yang masih di lapangan Akademi terkejut.

" Ryuu, jangan bicara seperti itu." tegur Naruto membuat bungsu Namikaze itu menatap ke arah kakaknya yang masih bersemedi. Sedikit menurunkan dirinya, Naruto mengangkat tangan kirinya, mengelus rambut orange adiknya itu, tersenyum tipis.

" Sebagai manusia, tidak bagus jika kita menyombongkan diri. Kita harus selalu merendah kepada orang lain, walaupun dalam diri kita memiliki sedikit kelebihan. Apa Ryuu mengerti?" tanya Naruto membuat Ryuu mengangguk paham.

" Ya nii-chan. Maaf jika Ryuu menyombongkan kemampuan nii-chan kepada mereka." kata Ryuu bersalah, menundukkan kepalanya membuat Naruto tersenyum kecil.

" Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan di ulangi lagi, atau nanti nii-san akan kasih hukuman kepadamu. Nii-san nanti akan mengirimmu ke dimensi yang banyak setannya, apa kamu mau?" tanya Naruto membuat Ryuu mendongakkan kepalanya, merinding ketakutan.

" Ti-tid-dak ni-nic-chan.. Ryuu tidak akan nakal lagi." kata Ryuu cepat dengan nada ketakutan membuat Naruto terkekeh pelan. Meluruskan kakinya, yang kemudian menginjak lantai bumi, Naruto sekarang berdiri tepat di samping adiknya, dengan rambut pirang panjangnya yang indah menari-nari, begitupulah jubah putih Gold Clothnya.

" Ryuu bisa tunjukkan nii-san tempat kantor guru?" tanya Naruto yang di jawab anggukan semangat olehnya.

" Ayo ikut Ryuu nii-chan!?" seru Ryuu semangat yang berlari pelan ke depan, sedangkan Naruto berjalan mengikutinya ke belakang, dengan mata tertutup.

" Siapa dia?" tanya ninja-ninja muda Akademi yang melihat Ryuu dengan cerianya mengantar Naruto ke ruang guru.

" Ryuu-kun bilang dia adalah nii-channya. Tapi kok nii-channya cantik sekali?" kata ninja yang seumuran dengan Ryuu. Sasuke yang baru tiba di Akademi sedikit mengerutkan kening melihat sosok Naruto yang berjalan dengan tenang ke dalam Akademi, begitupula para Rookie 12 yang menatap bingung ke arah Naruto.

" Nii-chan Ryuu-kun hebat ya, bisa melayang di udara dan berjalan dengan mata tertutup." komentar ninja muda seumuran Ryuu yang melihat kedua Namikaze itu menghilang dalam pandangan mereka semua, membuat Sasuke terkejut, begitupula Rock Lee.

" Apa maksudmu Nii-san Namikaze Ryuu?" tanya Lee cepat kepada anak-anak itu yang di jawab anggukan oleh mereka.

" Benar Lee-senpai. Tadi Ryuu-kun bilang kalau pemuda cantik itu adalah nii-channya. Kami juga baru tahu kalau nii-channya baru pulang dari latihan, soalnya Ryuu-kun cerita dulu nii-channya pergi berkelana bersama gurunya untuk latihan." jelas gadis mungil itu membuat Lee membatu.

' Naruto.' batinnya yang kemudian berlari masuk ke dalam Akademi, meninggalkan Ten Ten yang memanggilnya. Ryuu yang ada di samping Naruto, mengurus admistrasi, juga hal-hal lainnya di ruang guru. Semua ninja yang ada di sana sudah di beri tahu oleh Kage mereka jika melihat Naruto menutup matanya, jangan bilang buta, karena putranya tidak mengalami hal tersebut. Iruka yang melihat Naruto hanya bisa tertegu, karena untu pertama kalinya ada laki-laki yang sangat cantik. Mengingat Kage mereka, sekaligus ayah dari kedua putra sang Hokage, tidak heran jika Gen tampan juga cantik dari sang istri turun ke anak-anaknya.

' Aku yakin nanti banyak yang berpikir Naruto adalah perempuan.' batin Iruka.

" Iruka-sensei, sudah selesai?" tanya Ryuu membuat Iruka tersadar, menatap ke arah bungsu Namikaze yang menatap ke arahnya.

" Sudah selesai Ryuu-kun. Kamu sudah boleh ke kelasmu. Sensei akan membawa Naruto-kun ke kelasnya sekarang." kata Iruka memberi senyum ramah, membuat Ryuu mengangguk pahan, menatap ke arah Naruto yang juga menghadap ke arahnya.

" Nii-chan, nanti ketemu lagi." kata Ryuu membuat Naruto tersenyum kecil.

" Ryuu, kamu harus pegang satu kalimat filosofil yang akan nii-san berikan kepadamu." kata Naruto membuat Ryuu mengangguk paham, sedangkan Iruka sedikit tertarik dengan filosofil apa yang akan di keluarkan oleh sulung Namikaze tersebut.

" Berisi adalah kosong, kosong adalah berisi." kata Naruto membuat Ryuu, Iruka juga semua orang yang mendengarpun bingung.

" Berisi adalah kosong dan kosong adalah berisi?" beo Ryuu yang di jawab senyum oleh Naruto.

" Kamu akan mengerti dengan filosofil itu suatu saat. Sekarang, sebaiknya kamu pergi ke kelasmu." kata Naruto membuat Ryuu mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan kakaknya sambil memikirkan apa yang di dapat oleh sang kakak tersebut. Wajah Naruto menghadap ke Iruka yang masih terdiam dengan filosofilnya itu, membuka suara.

" Iruka-sensei?" panggil Naruto membuat chuuni dengan luka garis horizontal di hidungnyapun tersadar, menatap ke arah Naruto yang memasang wajah datar dengan mata terpejam.

" Ah iya. Ayo kita ke kelasmu." kata Iruka tersadar yang di jawab anggukan oleh pemuda cantik tersebut.

.

.

.

.

SKIP TIME

.

.

.

.

.

Lee duduk termenung di tempatnya. Dirinya tidak menyangkah jika sahabatnya akan kembali dari latihannya bersama gurunya itu. Dia pernah di beri tahu oleh ayah sahabatnya itu jika Naruto pergi berkelana untuk latihan bersama gurunya, dan tidak tahu kapan pulang. Dan sekarang, sudah tujuh tahun berlalu, dan sahabatnya kembali di desanya. Ya, dia dan Naruto memiliki nasib yang sama, tidak bisa melakukan ninjutsu atau genjutsu, karena cakra yang mereka miliki. Walaupun Naruto tidak memiliki sistem cakra, tapi dirinya berlatih keras sebagai ahli taijutsu yang handal. Teman Lee pun hanya satu, yaitu Ten Ten, gadis cina yang memiliki nasib sepertinya, bukan berasal dari kalangan ninja. Sebenarnya Lee adalah senior di Akademi ini, tapi mendadak, guru pembimbingnya bilang, jika kelompok mereka di suruh kembali ke Akademi, karena team mereka akan di rubah oleh Hokage, mau tidak mau sekarang dirinya, Neji dan Tenten masuk ke kelas para Rookie 14. Pintu kelasnya pun terbuka, terlihat sosok Iruka yang berjalan masuk, dengan seseorang yang ada di sampingnya. Lee terteguh melihat sosok Naruto yang pergi selama tujuh tahun, begitu berubah. Naruto memiliki rambut pirang panjang yang sangat indah melebihi pinggangnya, kulitnya yang dulunya tan sekarang putih mulus, wajahnya yang cantik namun tegas, juga hidung yang sedikit mancung, dan jangan lupa armor emasnya yang melindungi setiap tubuhnya, juga senjata dan tameng yang ada di kedua lengannya.

" Anak-anak, kita kedatangan teman baru. Tolong perhatikan ke depan." kata Iruka membuat semua murid memperhatikan, terutama ke arah sosok Naruto yang memejamkan kedua matanya. Iruka menatap ke arah naruto, tersenyum kecil.

" Silakan perkenalkan dirimu, Naruto-kun." kata Iruka.

" Perkenalkan, nama saya Namikaze Naruto. Dengan marga Namikaze di depanku, kalian sudah tahu jika saya adalah anak dari Hokage. Perlu di ingat, saya sangat benci sama kera-kera yang tidak tahu diri, saya tidak buta dan juga saya seorang laki-laki. Jika ada yang berani menggoda atau merayu saya, akan saya kirim kalian ke dunia penuh iblis." kata Naruto tenang membuat Iruka tertawa gugup mendengar perkataan sulung Namikaze tersebut.

" Benarkah? Apa kamu akan mengirimku ke dunia iblis, cantik?" goda anak berambut jabrik hitam dengan anjing di dalam jaketnya, Inuzuka Kiba menggoda membuat para kunoichi terkikik geli mendengarnya. Naruto yang mendengarpun sedikit mengeluarkan kedutan kesal di wajah tenangnya, tiba-tiba saja, dia mengangkat tangan kanannya, dengan telunjuk yang mengarah ke Kiba.

" Sekishiki Meikai-Ha." kata Naruto yang kemudian dari telunjuknya muncul roh-roh kecil yang langsung menuju ke arah Kiba yang terkejut melihatnya. Roh-roh tersebut mengelilingki tubuh Kiba, yang tidak lama setelahnya terjadi letusan energi kuat yang mencuat ke langit.

" ARGGGGGGGGGGGGG!?" teriak Kiba yang tidak lama setelah sosoknya menghilang dalam hadapan semua orang, membuat mereka semua terkejut. Naruto tersenyum tipis, menurunkan tangannya, dengan wajahnya menghadap ke depan.

" Saya sudah mengirimnya ke dunia penuh iblis. Sekarang, kera mana lagi yang ingin saya kirim?" tanya Naruto membuat mereka semua bergidik ngeri mendengarnya.

Di sisi lain, Ryuu yang ada di kelasnya merenung perkataan kakaknya itu. Walaupun baru bertemu kemarin, dia sangat senang jika kakaknya sudah kembali dari latihan yang di jalaninya. Dia pernah mendengar jika kakaknya adalah sosok orang yang energik, pantang menyerah juga suka mengeluarkan tawa, tapi setelah bertemu kemarin, ternyata sosok kakaknya adalah sosok seorang pemuda yang sangat cantik, bahkan semua gadis di Konohapun kalah cantiknya dengan sosok kakaknya itu. Kakaknya juga memiliki kepribadian yang tenang, tata bahasa yang teratur. Ryuu yakin jika kakaknya adalah seorang jenius, bahkan melebihi Nara ataupun Uchiha yang ada di desanya itu. Menggeleng pelan, dirinya akan mencari tahu sendiri makna dari perkataan kakaknya itu, karena guru yang akan mengajar sudah masuk di kelasnya

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC