Shinobi Saint

.

.

.

.

By Victorianus

.

.

.

.

Naruto

.

.

.

.

Adventure, Fantasy, Family

.

.

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

.

.

.

Jam istirahat siang pun di mulai. Naruto bersemedi di kelasnya, setelah mengembalikan pemuda Inuzaka itu dari Underworld, yang dimana Kiba menceritakan jika dirinya di kirim tempat yang sangat mengerikan, bertemu anjing raksasa juga pria berambut hitam panjang yang mengancamnya akan menyiksanya jika tidak kembali ke dunianya itu, setelah mendapati telepati dari Thanatos, paman angkatnya di Underworld agar membawa kembali manusia menyebalkan yang di kirim olehnya itu. Mau tidak mau, dengan terpaksa Naruto menggunakan jurus Meikai yang di pelajari Gurunya itu, menarik kembali Kiba sebelum menjadi mainan siksaan oleh Dewa Kematian tersebut. Walaupun di dimensi lain, dirinya masih bisa berhubungan dengan guru-gurunya, juga keluarganya yang ada di Underworld, walaupun dirinya jarang memberi tegur sapa, dan lagi, naruto yakin merekapun sibuk dengan misi yang ada di dunia sana.

" Naruto." panggil seseorang yang ada di sampingnya, membuat pemuda Namikaze itu memiringkan kepalanya ke kiri, berhadapan dengan Lee yang ada di sampingnya itu.

" Hmm Lee. Kamu sudah menjadi ninja yang hebat Lee. Saya bisa merasakan perkembanganmu sangatlah pesat." kata Naruto membuat Lee merona malu mendengarnya.

" Ah iya Naruto. Aku akan memperkenalkan temanku yang lain setelah kamu pergi untuk latihan." kata Lee semangat membuat Naruto sedikit tertarik. Lee menarik Ten Ten yang ada di dekatnya, kemudian menghadap ke arah sahabat lamanya itu.

" Perempuan?" tanya Naruto membuat Ten Ten sedikit tersentak, karena mengetahui dirinya adalah seorang gadis, walaupun dengan mata terpejam, sedangkan Lee mengangguk semangat mendengarnya.

" Benar Naruto. Perkenalkan, namanya adalah Ten Ten. Dia juga adalah gadis yang bukan berasal dari keluarga ninja." kata Lee memperkenalkan Ten Ten kepada Naruto.

" Sa-sal-lam ke-ken-nal Na-namikaz-ze-san." kata Ten Ten sopan membuat Naruto tersenyum tipis.

" Naruto sudah cukup. Kamu adalah teman dari sahabatku, jadi kamu bukanlah kera yang menyebalkan." lanjutnya membuat Ten Ten dan Lee tertawa gugup mendengarnya. Sasuke yang ada di dekat merekapun berjalan menghampiri Naruto yang bersemedi dengan tenang.

" Hei kau. Bagaimana kau bisa melakukan hal tadi?" tanya Sasuke dingin, sedangkan Naruto mengacuhkannya, bersemedi dengan tenang. Sasuke menggertakan gigi, karena merasa harga dirinya jatuh oleh pemuda Namikaze di depannya itu.

" Jangan ganggu sahabatku." geram Lee sedangkan Sasuke menatap dingin ke arahnya.

" Ini tidak ada hubungannya denganmu, sebaiknya diam." kata Sasuke dingin membuat Lee menggertakan giginya. Naruto mengangkat tangan kanannya, tepat di arahkannya ke wajah Sasuke, membuat semua orang yang menatapnya bingung. Dengan anggunnya, dia mengibaskan tangannya itu, membuat Sasuke terpental ke atas, menghancurkan atap sekolah, yang kemudian dirinya terpental jauh ke luar dari kompleks Akademi. Semua murid yang ada di sana menatap horror kejadian tersebut, bagaimana caranya putra sulung dari Hokage mereka itu melakukannya, dan lagi, tidak perlu menggunakan banyak tenaga bisa membuat Uchiha bungsu itu terpental jauh, bahkan langit-langit kelas mereka sampai rusak.

" Kera itu berisik sekali." kata Naruto membuat semua orang yang ada di sana tersadar, berbisik-bisik sambil menatap ke arah Naruto yang bersemedi dengan tenang.

" NII-CHAAAAAA!?" seru Ryuu ada di pintu masuk beserta dua sahabatnya, Kuro dan Aoki yang mengikutinya. Naruto yang mendengar teriakan adiknya itu tersenyum tipis, dirinya bisa melihat di otaknya jika Ryuu membawa bekal makan siang untuknya. Ryuu berjalan memasuki kelas kakaknya itu, bingung melihat mengapa ada lubang yang cukup besar di atas kelas kakaknya tersebut.

" Ryuu, itu kenapa ada lubang di atap kelas nii-sanmu? Bukannya tidak ada badai?" tanya Aoiki bingung sedangkan Kuro mendengus mendengarnya.

" Mana mungkin badai yang membuat lubang seperti itu. Menurut pengamatanku, pasti ada seseorang yang sepertinya kabur melewati atap." nilai bocah berambut hitam tersebut.

" Kamu aneh sekali Kuro. Bagaimana mungkin ada orang yang kabur dari situ. Apa gunanya jendela dan pintu yang ada di kelas ini." tanya Aoki bingung, sedangkan Ryuu menatap ke arah kakaknya yang bermeditasi dengan tenang mengabaikan perdebatan kedua sahabatnya itu.

" Mungkin, ada seseorang yang menganggu nii-chan, makanya orang tersebut langsung di terbangkan nii-chan dengan kibasan tangannya." nilai bungsu Namikaze itu membuat kedua sahabatnya terkejut, sedangkan Naruto menaiki kedua ujung bibirnya sedikit. Ryuu berjalan mendekati kakaknya, duduk di kursi yang ada di depan meja sang kakak, meletakan kotak bekal di depan meja Naruto.

" Nii-chan, ini buah yang kaa-chan bawakan. Kata kaa-chan sudah di kupas, jadi nii-chan tidak perlu makan dengan kulitnya." kata Ryuu yang membuka tutup bento tersebut, memperlihatkan buah apel, buah pir dan berbagai macam buah segar lainnya. Naruto tersenyum kecil, mengangkat tangan kanannya, mengelus penuh kasih sayang rambut orange adiknya itu.

" Terima kasih." katanya membuat Ryuu tersenyum lebar mendengarnya. Naruto kemudian mengambil satu potong buah apel, memasukkannya ke dalam mulut, menguncahnya dengan tenang. Kuro meletakan botol air putih yang di bawanya itu ke atas meja Naruto, membuat sulung Namikaze itu sedikit mengerutkan kening.

" Aku membantu Ryuu membawakannya. Tangan kecil Ryuu tidak mungkin bisa membawa dua benda sekaligus." jawab Kuro membuat Naruto mengerti. Ryuu kembali murung lagi karena perkataan kakaknya tadi pagi, masih membuatnya bingung.

" Ada yang menganggukmu, Ryuu?" tanya Naruto yang mengetahui perubahan adiknya itu, membuat Ryuu tersentak, cengegesan menatap kakaknya.

" Tidak nii-chan. Tidak ada kok." bohong Ryuu tapi Naruto hanya memberi senyum kecil. Naruto yang sudah di latih oleh kedua belas Gold Saint tidak akan mudah di tipu oleh perkataan orang-orang di sekitarnya, juga berlati dengan paman-paman angkatnya di UnderWorld sekaligus orang tua angkatnya.

" Perkataan tadi pagi masih membuatmu bingung?" tanya Naruto tepat membuat Ryuu terdiam, menundukkan kepalanya, mengangguk pelan, sedangkan Lee, Ten Ten, Kuro dan Aoki bingung dengan pembicaraan kedua bersaudara tersebut.

" Kamu sudah melakukannya tadi pagi Ryuu. Itulah salah satu contoh dari perkataan nii-san." kata Naruto tenang membuat Ryuu mendongakan kepalanya, menatap kakaknya yang memakan buah melon. Ryuu kembali mengingat-ingat kejadian tadi pagi yang dia lakukan. Makan berlebihan, tadi tidak termasuk, merengek minta di ajari cara melayang, kemudian dia berseru bangga kepada kakaknya yang bisa melayang kepada teman-temannya. Membulatkan kedua matanya, iris Saffire yang sama seperti ayahnya itu akhirnya mengerti.

" Kebanggaan. Orang yang berbicara banyak dan memiliki kebanggaan berlebihan akan bermakna kosong, sedangkan orang tersebut diam, dan mengetahui kemampuannya sendiri tampa memproklamasikan kekuatannya akan bermakna berisi." kata Ryuu spontan membuat Naruto tersenyum mendengarnya.

" Pintar." kata Naruto membuat Ryuu akhirnya memahaminya.

" Apa yang kosong, apa yang berisi Ryuu?" tanya Aoki penasaran membuat Ryuu menatap ke arah sahabatnya.

" Ini aku dapat dari nii-chan. Kosong adalah berisi, berisi adalah kosong." jelas Ryuu membuat mereka bingung mendengarnya.

" Apa maksudnya? Bagaimana kosong bisa berisi, sedangkan berisi adalah kosong?" tanya Kuro tidak mengerti membuat Ryuu menatap sekeliling, kemudian melihat buku Naruto yang masih kosong. Mendapatkan ide, dia mengambil buku kakaknya itu.

" Ini maksudnya." kata Ryuu memperlihatkan buku polos kepada kedua sahabatnya itu, sedangkan mereka semakin bingung.

" Buku ini, akan bermakna kosong jika tidak ada tulisan, sedangkan akan bermakna berisi, jika sudah di setiap lembarannya tertulis catatan penting di setiap halaman." jelas Ryuu membuat mereka semakin bingung.

" Bisa yang lebih mudah Ryuu? Perkataanmu seperti bapak-bapak." keluh Aoki membuat Ryuu berpikir mencari contoh yang lebih mudah.

" Orang yang banyak bicara sekaligus menyombongkan dirinya sendiri akan bermakna kosong, sedangkan orang yang tidak banyak bicara, memiliki kekuatan yang besar tapi tidak menyombongkan dirinya bermakna berisi." kata Naruto tiba-tiba membuat semua orang menatap ke arahnya.

" Banyak orang yang selalu bangga dengan kemampuan yang sudah di milikinya, dan akan selalu menyombongkan diri kepada orang yang berada di bawahnya, bukan?" tanya Naruto membuat Ryuu, Aoki dan Kuro mengangguk mendengarnya.

" Tapi di luar sana, masih banyak orang-orang yang bahkan lebih kuat darinya, dan pasti orang tersebut akan tidak bisa apa-apa. Itulah maksud dari kosong itu." jelas Naruto membuat mereka mengerti.

" Oh, maksud Naruto nii-san, kosong juga berisi itu adalah suatu pemikiran, begitu?" tanya Kuro menilai membuat Naruto tersenyum mendengarnya.

" Benar sekali. Seperti contoh anggota klan Nara. Mereka adalah orang yang malas, tidak peduli dan juga kerjanya hanya tiduran, tapi di balik semua itu, mereka semua adalah orang yang memiliki kepintaran di atas rata-rata, ahli strategi juga pemimpin yang hebat dalam perang. Itu menggambarkan kosong adalah berisi, malas tapi cerdas." jelas Naruto membuat Shikamaru yang merasa dirinya di sebut-sebut sedikit membukakan matanya, melirik ke arah sulung Namikaze tersebut. Ketiga bocah itu mengangguk-angguk paham mendengar ceramah dari Naruto tersebut.

" Aku mengerti, jika kaa-san marah-marah kepada kita, itu bermakna berisi adalah kosong begitu?" nilai Aoki ala detektiv membuat Naruto terkekeh mendengarnya.

" Orang tua marah pasti ada sebabnya bukan? Mungkin karena kamu sudah keterlaluan sampai-sampai kaa-sanmu marah-marah seperti itu. Kecuali, ada orang yang memarah-marahimu, tapi kamu tidak melakukannya, maka orang tersebut bisa kamu anggap berisi adalah kosong." jelas Naruto membuat ketiga bocah itu mengangguk paham. Tiba-tiba saja, muncul sosok Minato dengan wajah yang begitu cemas di depan pintu kelas Naruto. Menatap sekeliling, dirinya menghembuskan nafas lega melihat putra sulungnya yang bersemedi dengan tenang, juga Ryuu dengan kedua sahabatnya yang berbincang-bincang. Tersenyum kecil tapi kedua azurenya sedikit terteguh melihat lubang yang cukup besar di langit-langit kelasnya itu. Itachi yang ada di sampingnyapun sedikit membulat melihat lubang yang ada di langit-langit kelas adiknya itu, kemudian menatap ke arah Sasuke yang begitu berantakan, juga bekas ranting-ranting yang menempel di tubuhnya juga luka-luka gores dan memar yang ada di sana.

" Ho-hokage-s-sama." panggil murid-murid yang ada di sana, sedangkan Minato tersenyum ramah. Ryuu yang mendengar kata Hokage, membalikkan tubuhnya, menatap ke arah ayahnya yang berjalan masuk mendekati mereka.

" Tou-chan." sapa Ryuu bahagia membuat Minato tersenyum lembut, mengelus kasih sayang rambut putra bungsunya, sedangkan Kuro, Aoki, Lee, Ten Ten membungkuk hormat ke arah Minato. Mata Ryuu menatap ke arah duo Uchiha yang berjalan mendekati mereka. Minato menatap ke arah Naruto yang masih bersemedi dengan tenang.

" Naruto, apa kamu baik-baik saja?" tanya Minato lembut, yang di jawab sekali anggukan oleh putranya itu.

" Naruto, bisa jelaskan kepada tou-san apa yang terjadi dengan langit-langit kelasmu?" tanyanya lagi membuat Naruto sedikit memiringkan wajahnya, meghadap Minato.

" Tadi ada kera yang sangat berisik di dekatku, jadi saya mengibasnya ke atas. Kera itu langsung saja terpental, dan hasilnya seperti itu." jawab Naruto membuat Minato melirik ke arah Sasuke yang mengeram marah, karena di panggil kera.

" Memang apa yang kamu lakukan kepada Naruto, Sasuke-kun?" tanya Minato agar semuanya jelas.

" Aku hanya bertanya bagaimana dia bisa membuat Kiba bisa menghilang, tapi dia tidak mau menjawabnya." kata Sasuke membuat Minato membulatkan kedua matanya, menatap ke arah naruto yang meditasi dengan tenang, lalu menatap ke arah Kiba yang tidak jauh dari mereka.

" Apa benar kalau kamu tiba-tiba menghilang, Inuzuka-kun?" tanya Minato yang di jawab anggukan cepat oleh pemuda penyuka anjing itu.

" Benar Hokage-sama. Aku tiba-tiba saja muncul di tempat yang sangat mengerikan. Banyak roh-roh manusia yang mengeluarkan jeritan-jeritan kesakitan, lalu banyak tengkorak-tengkorak manusia, lalu ada danau yang di penuhi roh-roh manusia yang minta tolong. Aku juga bertemu anjing raksasa berkepala tiga yang seluruh badannya di lapisi api biru dengan mata merah yang mengerikan yang mengejar-ngejarku, tapi aku selamat karena berhasil sembunyi dari anjing raksasa menyeramkan itu. Lalu aku bertemu seorang pria dewasa yang menggunakan pakaian bangsawan berwarna serba hitam berambut hitam panjang dengan bola mata hitam kelam. Dia bertanya kepadaku apa Naruto yang mengirimku ke sini, aku jawab iya, yang tidak lama setelahnya dia diam sebentar, tapi dia kadang menatap mengejek ke arahku atau terkekeh-kekeh sendiri. Dia bilang jika tidak berlutut di depannya, memohon ampun kepadanya maka dia akan membunuhku, mengulitiku juga menyiksaku. Aku langsung berlutut, minta ampun kepadanya dan meminta maaf, lalu tidak lama setelahnya, tubuhku di kelilingi roh-roh biru, yang kemudian aku kembali ke sini." jelas Kiba panjang lebar sedikit dramatis membuat Minato melirik ke arah putra sulungnya itu yang masih tenang. Menghembuskan nafas, tersenyum kecil, kepala keluarga Namikaze itu duduk di samping putranya.

" Kenapa kamu berbuat seperti itu, Naruto?" tanya Minato lembut.

" Kera itu bilang kalau Naru cantik tou-san. Padahal sebelumnya Naru sudah bilang siapa yang panggil Naru cantik atau buta, akan Naru kirim ke dunia penuh iblis." jawab Naruto menonton membuat Minato menutup mulutnya dengan tangan kanannya, menahan tawa mendengar jawaban putranya itu. Berdehem sebentar, akhirnya dia bisa menyimpulkan masalah yang terjadi.

" Baiklah, di sini tidak ada yang bisa di salahkan dan di benarkan. Inuzuka-kun menggoda Naruto, yang tentu saja membuat putraku marah yang kemudian mengirimnya ke dunia lain, begitupula Sasuke-kun yang penasaran dengan kemampuan putraku, tapi dia tidak mau menjelaskannya pasti karena ada maksud tertentu. Aku mengetahui putraku jika dia tidak suka mempamerkan kekuatannya, dan lagi dia orangnya tidak pernah mencari masalah." jelas Minato membuat Sasuke hendak protes.

" Benar kata Hokage-sama. Naruto bersemedi dengan tenang, tapi Sasuke-kun menggangguknya. Tentu saja membuat Naruto emosi karena di ganggu." kata Lee membela sahabatnya itu membuat Minato menatap ke arah Sasuke yang menggertakan giginya.

" Nah, karena semua tahu kesalahan-kesalahannya, jadi tidak perlu di perpanjang. Aku juga tidak bisa membela putraku sepenuhnya, karena sudah membuat Sasuke-kun terluka, bukan berarti aku juga membela Sasuke-kun karena terluka. Kamu sudah menggangguk putraku dulu yang bersemedi dengan tenang juga Inuzuka-kun yang mengejek putraku cantik. Jadi kalian bertiga ambil jalan tengah saja, saling memaafkan." kata Minato berwibawa membuat Kiba bangkit, berjalan mendekati Naruto, mengulurkan tangan kanannya kepada Naruto yang masih bersemedi.

" Maafkan aku, Naruto." kata Kiba menyesal, sedangkan Naruto hanya mengangguk sekali mendengar perkataan pemuda Inuzuka tersebut.

" Saya sudah memaafkanmu, tapi saya akan lebih keras lagi jika kamu menggoda saya cantik lagi." jawabnya tenang. Kiba menarik kembali tangannya, tersenyum kecil melihat sosok pemuda pirang cantik tersebut. Minato tersenyum kecil, kemudian menatap ke arah Sasuke.

" Sasuke-kun." kata Minato sedangkan Sasuke membuang muka.

" Dia yang salah karena sudah membuatku seperti ini." kata Sasuke keras kepala, membuat Ryuu dan Lee menggertakan giginya.

" KAU YANG SALAH!? NII-CHAN TIDAK AKAN MELAKUKANNYA JIKA BUKAN KAU YANG MENGGANGGUNYA!?" seru Ryuu emosi membuat Kuro dan Aoki menahan sahabatnya agar tidak menerjang bungsu Uchiha tersebut.

" Tenangkan dirimu Ryuu. Kita masih enam tahun, mana mungkin menang melawannya." tegur Kuro, lalu menatap tidak suka ke arah Sasuke.

" Outoto, minta maaf dulu. Kamu yang pertama memulainya." tegur Itachi sedangkan Sasuke menatap nyalang ke arahnya.

" Bukan urusanmu." desisnya tajam.

" Saya juga tidak perlu maaf dari kera rendahan sepertimu." kata Naruto tidak peduli membuat Sasuke mendelik ke arahnya. Minato bangkit, melindungi putra sulungnya itu.

" Sudah-sudah. Sebaiknya kamu kembali ke kursimu Sasuke-kun dan jangan ganggu putraku lagi. Itachi-kun, maaf sampai-sampai membawamu." kata Minato yang di jawab anggukan oleh Itachi.

" Maafkan sifat kekanak-kanakan adikku Hokage-sama." kata Itachi sedangkan Sasuke mendelik ke arahnya. Minato menggeleng pelan, tersenyum kecil.

" Bukan salahmu Itachi-kun. Mereka masih remaja, jadi itu hal biasa. Walaupun aku kadang melihat Naruto sering berbicara seperti orang dewasa di rumah, tapi aku tahu dia juga tetaplah remaja. Sebaiknya, kita kembali." kata Minato yang di jawab anggukan oleh Itachi. Kepala Keluarga Namikze itu menatap ke arah Naruto yang bersemedi dengan tenang, tersenyum kecil.

' Putraku sudah berubah banyak, tapi siapa yang mengajarinya memanggil orang dengan sebutan kera?' batin Minato heran, tapi cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya.

' Mungkin itu panggilan untuk orang yang membuatnya jengkel.' batinnya lagi, kemudian Minato melihat buah semangka yang ada di kotak bento putranya, mengambil buah tersebut, memakannya dengan tenang.

" Hmm, manis." katanya membuat Ryuu menatap tidak suka.

" Tou-chan, itu punya nii-chan!? Kenapa tou-chan ambil!?" kata Ryuu tidak terima, sedangkan Minato dan Naruto terkekeh pelan.

" Nii-san tidak masalah. Jika tou-san yang ambil atau kaa-san maupun Ryuu, nii-san tidak masalah." jawab Naruto sedangkan Ryuu menatap sebal ke arah ayahnya itu.

" Tou-san kembali dulu Naruto." kata Minato yang di jawab anggukan oleh sulung Namikaze tersebut. Minato keluar dari kelas putranya, diikuti Itachi yang menyusul di belakang, yang sebelumnya memberi pesan kepada Sasuke agar tidak mencari masalah lagi. Ryuu menatap ke kakaknya.

" Nii-chan, Ryuu akan kembali ke kelas." kata Ryuu yang di jawab senyum kecil.

" Jangan nakal." pesan Naruto yang di jawab anggukan oleh bungsu Namikaze tersebut, kemudian berlari kecil keluar kelas kakaknya itu. Kuro dan Aoki membungkuk hormat ke arah Naruto.

" Kami permisi dulu, Naru nii-san." kata mereka berdua sopan yang di jawab anggukan oleh Naruto.

" Kalian berdua juga jangan nakal." pesannya yang di jawab senyum oleh kedua bocah itu, berlari menyusul Ryuu yang menunggu mereka di pintu kelas.

Di tempat lain, tepatnya di Santuary, di Mansion Athena, terlihat Saori, Shion, juga para Gold Saint yang menyaksikan layar yang ada di depan mereka. Seluruh Gold Saint melirik ke arah seseorang yang bersemedi dengan tenang, sedikit jauh dari mereka.

" Apa?" katanya dingin membuat mereka sedikit bergidik.

" Panggilan itu, kamu yang mengajarinya bukan, Shaka?" tanya Saint Gemini, Saga tajam, sedangkan Shaka masih tenang dengan dunianya sendiri.

" Dasar wanita gadungan. Mengajari muridnya yang tidak-tidak." sembur DeathMask tajam, yang langsung saja membuat urat kekesalan yang muncul di pelipisnya.

" Sudah-sudah." tegur Saori menenangkan para Gold Saintnya itu. Reinkarnasi Athena itu melirik ke arah Shion yang mengelus dagunya melihat kejadian yang ada di depannya dengan tertarik.

" Shion, bagaimana menurutmu?" tanya Saori membuat Shion mengangguk.

" Seperti yang anda bilang Athena-sama, Naruto hampir memiliki sifat yang sama seperti para Gold Saint di sini, khususnya dia menyerapi sifat yang di miliki Shaka dan Camus. Perilaku, tata bahasa juga sifat hampir semuanya mirip Shaka, walaupun wajahnya tidak sepenuhnya datar, dan menyiratkan keramahan kepada orang terdekatnya, seperti Mu. Sifatnya yang kadang terselip humor seperti Dohko, Aldebaran, dan Milo juga ada, walaupun tidak berlebihan, dan terkesan mendidik. Ketenangan yang seperti Shura, Camuspun ada, walaupun lebih di dominasi oleh sifat seperti Shaka, dan kesetian besar kepada orang tuanya, terutama sang ayah yang menjabat sebagai pemimpin desa pun terlihat seperti kesetian para Gold Saint kepada anda, Athena-sama." jelas Shion membuat Saori tersenyum mendengarnya, menatap ke layar di depannya, terlihat Lee yang mengobrol dengan Naruto yang kadang di balas senyum kecil untuk menanggapinya.

" Kalian tahu, berkat pemuda itulah, Pamanku Hades sudah tidak mau berperang dengan kita lagi." kata Saori membuat mereka semua terkejut mendengarnya. Saori menghembuskan nafas pelan, mengingat dirinya yang berkunjung ke Underworld, mendengar Naruto yang memanggil pamannya dengan sebutan ayah sedangkan sahabatnya Peserfone di panggil ibu dengan kasih sayang. Untuk pertama kalinya, dirinya melihat pamannya bisa tersenyum yang hangat juga lembut di depan sosok pemuda tersebut. Hades juga menjelaskan sejarah kekuasaannya, juga Naruto yang memang pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dirinya bertanya-tanya berbagai macam hal yang menyangkut Underworld, yang tentu saja di jelaskan oleh pamannya dengan senang hati, begitupula Hypnos dan Thanatos yang sudah menganggap Naruto sebagai keponakan mereka. Walaupun Naruto sering adu mulut dengan Thanatos, tapi ujung-ujungnya mereka akan tertawa terbahak-bahak bersama. Entah kenapa, melihat hal tersebut seperti melihat keluarga yang sangat bahagia, terlebih lagi Naruto sering memuji Pandora sebagai wanita yang cantik, tentu saja membuat gadis tersebut tersipu malu-malu, walaupun ada sifat tsundernya yang selalu kumat. Dirinyapun bisa berkunjung ke Underworld, berbincang dengan sahabatnya, sedangkan Hades dan Naruto pasti selalu bersemedi bersama, melatih putra angkat mereka mencapai Ninth Sense. Peserfone bilang jika suaminya itu benar-benar ingin membuat Naruto menjadi seorang dewa seperti mereka, yang tentu saja membuat dirinya terkejut luar biasa.

Saori tersenyum kecil, walaupun latihan Naruto masih belum tuntas, karena pemuda tersebut sudah tidak sabar ingin bertemu keluarganya, Hades mau tidak mau merelakan kepulangan putra angkatnya itu, begitupula Thanatos yang sebenarnya ingin Naruto selamanya di sini. Pemuda tersebut langsung saja kabur akibat adu mulutnya dengan Dewa Kematian itu tidak berujung, dan akan berjanji menyerang tiba-tiba ke Thanatos, karena sudah membuatnya jengkel setengah mati, begitupula Thanatos yang menerima walaupun dengan maki-maki. Saori kembali menatap ke layar yang ada di depannya itu, tersenyum teduh melihat Naruto yang bersemedi seperti biasanya.

.

.

.

.

Tidak lama berlangsung, kelas Narutopun akhirnya usai. Namikaze sulung itu bangkit berdiri, berjalan melewati semua orang yang memberikan jalan, karena dirinya berjalan menutup mata. Naruto masa bodo jika mereka menganggap dirinya buta, dan sampai-sampai memberikannya jalan lewat. Dia sudah mempelajari klan-klan yang ada di desanya itu dari ayahnya kemarin. Klan Uchiha, Hyuga, Nara, Akamichi, Aburame, dan klan-klan yang ada di desanya. Walaupun ayahnya menjelaskan tidak terlalu rinchi, tapi karena berkat pendidikannya dengan dua seniornya, Asmita dan Shaka, dirinya bisa menilai sendiri. Dirinya berjalan bersama dengan sahabatnya, Rock Lee setelah kelas usai, dan sekarang, mereka hampir keluar Akademi.

" Naruto, habis ini kamu mau kemana?" tanya Lee yang ada di samping pemuda Namikaze itu. Terlihat wajah tenangnya sedikit mengerut, tapi akhirnya dia memberi senyum tipis kepada pemuda maniak hijau itu.

" Saya sepertinya akan pulang Lee, atau mungkin mencari suasana baru untuk meditasi." jawab Naruto membuat Lee sedikit sweatdrop mendengarnya. Sasuke yang tidak jauh dari sana ingin membalas Naruto karena sudah mempermalukannya di depan banyak orang, tapi di urungkan niatnya karena Itachi sudah mengancam akan menghukumnya jika mengangguk pemuda Namikaze tersebut. Naruto menghentikan langkahnya, karena dirinya tiba-tiba merasakan ada aura jahat yang sepertinya berasal dari timur. Dirinya berlari keluar, tidak mengindahkan teriakan adiknya juga sahabatnya yang berusaha mengejarnya itu. Naruto akhirnya sampai juga di luar Akademi, yang kemudian dirinya langsung melakukan teleport ke tempat tersebut.

.

.

.

Di luar desa beberapa kilo meter sebelah timur Konoha terlihat dua orang dengan jubah hitam motif awan merah yang berjalan dengan tenang. Salah satu sosok tersebut adalah pemuda dengan rambut cepak silver climis, dengan sabit bermata tiga di punggungnya, sedangkan pria yang menjadi temannya memakai tudung, dengan mata berwarna hazel. Mereka berdua tiba-tiba berhenti, karena merasakan suhu di sekitarnya menjadi rendah, sedikit terkejut melihat pohon-pohon yang di selimuti dengan es, juga jalan yang di pijaki mereka berubah menjadi es. Di hadapan mereka, muncul Naruto yang berjalan dengan tenang, berhenti beberapa meter di depan mereka, yang tampa di sadarinya, cosmo yang di keluarkan oleh Saint tersebut begitu besar.

" Siapa kalian?" tanya Naruto tajam, walaupun matanya masih terpejam, dia bisa melihat menggunakan cosmonya, yang kemudian di kirim ke otaknya, gambaran sosok di depannya itu.

" Hah!? Cuma seorang bocah buta!?" seru pemuda berambut perak itu sombong, sedangkan partnernya hanya diam, menatap intents ke arah Naruto. Namikaze sulung itu hanya diam, menekan cosmonya ke titik terendah, membuat sekelilingnya menjadi beku seketika, juga hawa dingin yang keluar begitu kuat, membuat kedua orang tersebut sedikit terkejut, juga mengigil kedinginan.

" Apa yang kau lakukan hah!? Kenapa di area ini bisa menjadi beku seperti ini?" tanya pemuda perak tersebut marah, sedangkan Naruto mengacuhkannya.

" Siapa nama kalian, dan untuk apa kalian datang ke Konoha?" tanya Naruto masih tenang membuat pemuda berambut perak itu geram. Baru saja dirinya ingin meleset ke arah Naruto, tiba-tiba saja dia tidak bisa bergerak, karena pergelangan kakinya seperti di tahan sesuatu. Menatap ke bawah, kedua matanya membulat, karena kedua kakinya sudah di selimuti oleh es sampai lutut, begitupula partnernya.

" Ya Kakuzu!? Lakukan sesuatu!?" seru pemuda berambut perak itu geram, sedangkan partnernya yang bernama Kakuzupun terkejut.

" Diam Hidan!?" bentak Kakuzu, kemudian menatap ke arah Naruto yang masih tenang di hadapan mereka. Kakuzu langsung melakukan handseal, menarik nafas dalam.

" Fire Release : Flame Bullet!?" serunya yang langsung saja menembakkan bola api ke arah Naruto yang merentangkan kedua tangannya.

" Crystal Wall." katanya yang kemudian tercipta dinding kaca transparan yang membentang melindungi dirinya. Bola api itu langsung saja menghantam dinding crystal milik Naruto, tapi.

" ARGHHHHHHHHHHHHH!?" teriak Kakuzu kesakitan, begitupula badannya yang hampir semuanya hangus terbakar, membuat Hidan membulatkan kedua matanya.

" Kakuzu!? Apa yang terjadi denganmu!?" seru Hidan tidak percaya menatap partnernya yang terkena luka bakar di seluruh tubuhnya itu. Asap hasil tabrakan serangan Kakuzu dengan Crystal Wall Naruto perlahan menghilang, memperlihatkan sulung Namikaze yang masih berdiri dengan tenang, begitupula dinding crystalnya yang tidak berbekas terkena serangan pria tersebut.

" Menyerang Crystal Wall sama saja menyerang dirimu sendiri. Sekarang jawab, siapa kalian?" tanya Naruto sekali lagi dengan tenang, membuat Hidan menatap garang ke arahnya. Hidan mengambil sabitnya, yang di putarnya sebentar, langsung saja di lemparkannya ke arah dinding crystal tersebut bermaksud menghancurkan dinding tersebut, tepat terlihat wajah marahnya itu.

.

.

.

DUAK!?

.

.

.

Tampa di sangkah, wajah Hidan langsung terpental ke belakang, membuat dirinya mau tidak mau melakukan posisi kayang, karena kakinya yang masih beku akibat es milik Naruto. Namikaze sulung itu hanya diam, tapi langsung melompat ke atas, karena seseorang menyerang dirinya dari belakang.

" Hmm, ternyata tidak cuma dua kera yang ada di sini." kata Naruto tenang yang kemudian dirinya menghilangkan Crystal Wallnya, berputar salto belakang tubuhnya, mendarat beberapa meter, sosok pria misterius dengan bantak tindik di wajahnya, juga kedua mata dengan pola riak air berwarna ungu. Dua sosok dengan pola mata yang sama, menghancurkan es yang memenjarakan kedua kaki Kakuzu dan Hidan, kemudian mereka terbebas dari sana.

" Namikaze Naruto, putra sulung dari Namikaze Minato dan Namikaze Uzumaki Kushina. Menurut rumor, kamu tidak memiliki cakra, dan ternyata itu benar. Tapi, bagaimana kamu bisa menggunakan kekuatan aneh seperti ini?" kata sosok pemuda bermabut orange, dengan tindik yang ada di hidungnya itu.

" Bukan urusanmu, kera. Siapa kalian sebenarnya dan apa tujuan kalian?" tanya Naruto sekali lagi.

" Aku adalah Dewa, dan tujuanku adalah mengumpulkan para Bijuu yang ada di dunia ini, termaksud salah satunya, Bijuu yang ada di dalam tubuh ibumu." katanya membuat Naruto sedikit tersentak.

" Kami suriken!?" seru suara seseorang dari langit, yang kemudian menembakkan ribuan suriken-suriken dari sayap malaikat miliknya. Naruto yang seluruh tubuhnya di lindungi cosmo tidak takut, yang setelahnya suriken-suriken tersebut terpental setelah mengenai cosmonya membuat Hidan, Kakuzu juga wanita yang menyerang dirinya membulatkan kedua matanya.

" Mengambil Bijuu di dalam tubuh ibuku?" tanya Naruto dingin membuat suhu udara di sekitar mereka langsung saja turun derastis, yang tiba-tiba saja tercipta tanduk-tanduk runcing dari es yang menjalar sangat cepat ke arah sosok tersebut, tapi mereka semua bisa menghindari serangan dadakan tersebut.

" Saya akan membunuh kalian semua sebelum hal itu terjadi." lanjutnya dan untuk pertama kalinya, Naruto membuka kedua matanya, memperlihatkan iris saffire yang begitu indah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC