Shinobi Saint

.

.

.

.

By Victorianus

.

.

.

.

Naruto

.

.

.

.

Adventure, Fantasy, Family

.

.

.

.

.

Halo minna, ketemu lagi dengan saya di SS. Di sini ada yang perlu saya kasih tahu. Naruto kemanapun akan tetap menggunakan Gold Clothnya, karena dirinya berpegang teguh dengan yang namanya kaliman 'sediahkan payung sebelum hujan', jadi, tolong jangan tanya lagi kenapa Naruto selalu menggunakan Gold Cloth di luar rumah. Untuk tata bahasa, aku memang sengaja membuat Naruto formal, karena mengikut mentor kesayangannya, Shaka The Virgo. Ok itu saja yang aku beri tahu, jadi silakan beri kritik and saran yang berguna.

.

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

.

.

Naruto yang membuka kedua matanya untuk pertama kalinya, menatap tajam sosok misterius yan sepertinya mengincar ibunya itu. Baru dua hari dia ada di dunianya, dan sudah ada musuh yang harus dia hadapi. Naruto tidak bodoh, musuhnya itu memiliki kemampuan yang cukup mengerikan, terutama pria berambut jingga itu. Entah kenapa, dirinya bisa merasakan kekuatan yang cukup mengancam darinya, begitupula bentuk mata yang cukup aneh menurutnya. Walaupun dirinya sudah hampir dewa, tapi untuk berhati-hati juga waspada melawan musuhnya masih menjadi priolitas utamanya. Dia tidak ingin, dirinya mengambil tindakan gegabah, karena masih belum mengetahui kemampuan yang di miliki lawannya.

" Sekali lagi aku bertanya, siapa kalian sebenarnya dan kenapa mengincar ibuku?" tanya Naruto yang sudah tidak menggunakan keformalan yang biasa dia gunakan itu.

" Berisik sekali kau bocah!? Kau penasaran dengan kami hah!? Baik akan aku beritahu, karena kau pun akan mati!? Kami adalah Akatsuki!?" seru Hidan garang, sedangkan Naruto diam, menatap sosok pria yang memiliki rambut jingga itu.

' Akatsuki? Organisasi?' batinnya menilai. Pria berambut jingga itu hanya menatap Naruto dalam diam, tidak menyerang dulu, dan hanya menatap ke arah sulung Namikaze. Dia masih menilai, bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki cakra bisa membekukan arena di tempatnya begitu saja, dan lagi, memiliki teknik yang sangat mengerikan.

" Pein." panggil wanita yang memiliki sayap itu, membuat dirinya sedikit melirik ke arahnya. Naruto yang mendengar, mengetahui jika pria tersebut bernama pein. Tiba-tiba saja, dua orang lagi yang memiliki tindik di wajahnya, menyerang ke arahnya. Naruto yang seluruh tubuhnya sudah di lindungi oleh cosmonya hanya diam, tidak melakukan sedikit gerakan apapun, tapi yang mengejutkan adalah kedua sosok Pein itu tiba-tiba saja membatu.

" Jadi, kau tidak cuma satu?" kata Naruto datar, melirik ke dua orang yang sudah terkena jebakan miliknya. Seluruh tubuh Naruto tiba-tiba di lindungi api biru, yang kemudian dirinya mengangkat tangan kanannya ke udaran, yang tiba-tiba saja, seluru api biru yang di tubuhnya berkumpul di atas telapak tangan kanannya itu, membentuk sebuah bola api kecil.

" Sekishiki Kiousen." katanya yang mengibaskan tangannya itu, menyebarkan api biru yang langsung membakar kedua orang yang terjebak cosmo miliknya. Api itu menghanguskan kedua Pein yang di dekatnya itu, membuat Konan, Kakuzu juga Hidan terkejut melihatnya.

" Ini adalah teknik membakar semua mahkluk hidup sampai jiwanya apapun yang aku inginkan. Abadi atau tidak, kalian akan hangus menjadi debu terkena teknikku ini." kata Naruto dingin, dimana api birunya menyebar mendekati keempat anggota Akatsuki tersebut. Pein merentangkan kedua tangannya ke depan, melihat api biru Naruto yang semakin dekat.

" Shinra Tensei." katanya yang kemudian tercipta gelombang bening yang perlahan-lahan menabrak serangan milik Naruto itu. Kedua kemampuan berbeda itu saling beradu sama lain, tapi Pein sedikit membulatkan kedua matanya, melihat serangan Shirna Tenseinya yang perlahan-lahan termakan oleh api biru milik sulung Namikaze tersebut.

" Aku lupa memberi satu peringatan, teknik ini menggunakan jiwa-jiwa orang yang sudah berada di neraka. Teknik ini akan membakar apapun yang menghalaginya, sesuai keinginanku." kata Naruto tenang membuat mereka terkejut mendengarnya.

" Mundur!?" seru Pein melompat mundur menghindari serangan Naruto, diikuti Konan, Kakuzu dan Hidan yang juga menghindari serangan pemuda tersebut. Minato tiba-tiba muncul di belakang putranya itu, diikuti Kakashi, Itachi, juga Fugaku yang ada di sana. Yondaime terkejut melihat keadaan sekitar yang sudah membeku bagaikan dunia es, juga sosok putranya yang sangat di khawatirkan itu berdiri dengan tenang, menatap ke arah kobaran api biru yang membakar semua yang menjadi halangannya. Naruto menyampinkan wajahnya ke kanan, membuat iris saffirenya bertemu dengan iris saffire Minato yang membulat. Kepala keluarga sekaligus Hokage itu berjalan mendekati putranya itu, menatap cemas ke arahnya, pasalnya, Naruto bilang jika kedua matanya terbuka, maka dia menggunakan seluruh kemampuannya, itu berarti, putranya itu melawan musuh yang sangat serius.

" Kamu baik-baik saja Naruto?" tanya Minato cemas, sedangkan Naruto yang sudah tidak merasakan keberadaan musuh yang di hadapinya, mengangkat tangan kanannya, terlihat telapak tangannya yang terbuka. Api biru yang tadinya membakar semua benda yang menghalanginya itu, perlahan-lahan menjadi roh-roh kecil yang terbang, masuk ke dalam telapak tangan Naruto, membuat seluruh tubuhnya sebentar di lindungi roh tersebut, yang setelahnya menghilang.

" Naru baik-baik saja, tou-san." jawab Naruto yang setelahnya menghembuskan nafas pelan. Sulung Namikaze itu menatap ke arah ayahnya yang masih cemas, kemudian dirinya memberikan senyum kecil.

" Naru tidak apa-apa. Tadi ada musuh yang cukup tangguh membuat Naru terpaksa menggunakan kekuatan penuh." lanjutnya menenangkan ayahnya itu, membuat Minato menghembuskan nafas. Putranya seharusnya membutuhkan istirahan setelah tujuh tahun berlatih dengan pria bernama Hades itu, dan malah baru dua hari di sini, dirinya sudah bertarung dengan lawan yang tangguh. Naruto menarik kembali cosmonya, membuat es-es yang tadinya menutupi semua tempat tersebut, perlahan-lahan mencair, memperlihatkan pohon-pohon serta tumbuhan yang ada di sana begitu segar, membuat Fugaku, Itachi dan Kakashi terkejut melihatnya. Minato tersenyum kecil, dirinya tidak akan terkejut lagi dengan kekuatan yang di miliki putranya tersebut, lalu menatap ke arah Naruto yang menatap jauh ke depan.

" Ada apa Naruto?" tanya Minato, sedangkan sulung Namikaze itu hanya diam, yang tidak lama setelahnya menggeleng pelan.

" Musuhnya sudah pergi jauh, jadi sudah aman." kata Naruto yang kemudian berbalik, berjalan meninggalkan mereka, tampa melihat ekspresi Kakashi yang terkejut, melihat dirinya yang membuka kedua matanya. Tiba-tiba saja, tubuh Naruto menghilang di hadapan mereka semua, membuat ketiga shinobi itu kembali di kejutkan oleh kemampuan dari sulung Namikaze tersebut, sedangkan Minato hanya diam, melihat kepergian putranya.

" A-apa itu teleportasi?" tanya Kakashi entah kepada siapa, sedangkan Minato hanya diam, yang kemudian dirinya pergi kembali ke Konoha.

Naruto muncul di depan halaman rumahnya, terlihat Kushina yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas, begitupula Ryuu yang ada di belakang ibunya itu.

" Naruto, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Kushina cemas, mendapati kedua mata putranya terbuka. Ya, Minato, dirinya juga Ryuu sudah mengetahui cerita lebih rinci dari putranya itu, jika putranya itu sampai membuka kedua matanya, maka dirinya menggunakan kekuatan penuh melawan musuh yang di hadapinya. Dia tidak menyangkah, putranya baru dua hari berkumpul dengan mereka malah menghadapi musuh yang tangguh, seharusnya putranya itu beristrahat dari latihan kerasnya. Naruto yang mendengar pertanyaan ibunya hanya tersenyum kecil, mengangguk pelan.

" Naru tidak apa-apa kaa-san. Musuhnya sudah pergi jauh, jadi tidak perlu khawatir. Naru hanya termakan emosi saja tadi, sampai-sampai menggunakan kekuatan penuh untuk mengalahkan mereka." jawab Naruto membuat Kushina tidak puas dengan jawaban putranya itu.

" Nii-chan, memang siapa musuhnya?" tanya Ryuu membuatnya menatap ke arah adiknya.

" Nii-san dengar jika mereka menyebut diri mereka adalah Akatsuki." jawab Naruto membuat Kushina membatu mendengarnya. Naruto yang mengerti perubahan emosi ibunya tersenyum kecil.

" Tenang saja kaa-san, Naru akan melindungi kaa-san dari mereka. Kaa-san tidak perlu khawatir, dan juga, Naru akan melindungi Kyuubi yang ada di dalam tubuh kaa-san dari mereka." kata Naruto menenangkan ibunya. Kushina yang mendengar perkataan putranya itu menatap ke iris saffire yang begitu indah, lebih indah dari milik suaminya. Iris Saffire putra sulungnya itu begitu jernih, seolah-olah bagaikan langit cerah, ataupun samudra yang begitu luas. Tersenyum kecil, Kushina memeluk tubuh putranya itu.

" Seharusnya kaa-san yang melindungimu dari bahaya, tapi malah kamu yang melindungi kaa-san. Kaa-sanpun tidak akan diam saja jika mereka membuatmu terluka, dan akan berjuang sekuat tenaga melawan ninja-ninja yang mencelakai dirimu, Naruto." kata Kushina tulus, sedangkan naruto tersenyum kecil mendengarnya.

" Seorang anak pasti akan melakukan apapun untuk melindungi orang tuanya juga adik-adiknya. Itulah tugas dari anak pertama, kaa-san. Naru akan melindungi kalian semua dari orang-orang yang mencoba mencelakai kalian." kata Naruto membuat Kushina mengelus lembut surai pirang putranya itu.

" Ryuu juga tidak akan diam saja!? Ryuupun akan melindungi keluarga Ryuu dari ninja-ninja jahat!? Ryuu akan berlati keras agar bisa melindungi keluarga Ryuu, juga desa Konoha!?" seru Ryuu membuat Kushina menatap ke arah anak bungsunya, juga Naruto yang melepaskan pelukan ibunya, tersenyum kecil.

" Jadilah ninja yang hebat, Ryuu." kata Naruto tulus sambil menepuk puncak kepala adiknya itu dengan kasih sayang, sedangkan Ryuu tersenyum mantap mendengarnya. Perlahan-lahan, kedua mata Naruto kembali tertutup, dimana tampa sepengetahuan keluarganya, cosmonya menyelimuti perkarangan rumahnya, membentuk barrier yang kuat.

' Aku harus melindungi kaa-san dari mereka, terutama sekelompok ninja bertopeng polos yang cukup mencurigakan selalu mengawasi kediaman kami.' batin Naruto, yang kemudian berjalan duluan, meninggalkan Kushina juga Ryuu yang menatap ke arahnya. Naruto berhenti di pohon besar yang ada di dekat rumahnya, kemudian menjatuhkan dirinya, duduk bersila di sana, bermeditasi dengan tenang, sambil di temani angin sore, juga burung-burung yang tiba-tiba saja berjalan mendekatinya, begitupula kelinci-kelinci yang entah datang dari mana, membaringkan tubuhnya mendekati pemuda tersebut. Kushina yang melihat putranya itu hanya tersenyum kecil, berbanding terbalik dengan hatinya yang menangis, mendengar perkataan anaknya yang ingin melindunginya itu. Dia tidak ingin membebani siapapun, Minato juga melindunginya dari Danzo yang sangat terobsesi dengan Kyuubi yang ada di dalam tubuhnya, dan sekarang Akatsuki yang baru saja di hadapi putranya, dan bersyukurlah putranya tidak mengalami luka sedikitpun.

" Jangan ganggu kakakmu, Ryuu. Nii-sanmu mungkin kelelahan melawan musuhnya, jadi biarkan kakakmu beristirahat." kata Kushina yang di jawab anggukan patuh oleh bungsu Namikaze itu, Ryuu melihat kakaknya yang di kelilingi oleh binatang-binatang jinak, juga kupu-kupu yang terbang dengan indahnya, mengelilingi kakaknya tersebut. Ryuu tidak bodoh, dia juga mendapati kejeniusan ayahnya dari lahir, juga dia yang memang senang membaca buku, dan belajar banyak dari kedua orang tuanya. Dia tahu, binatang-binatang manis-manis itu pasti merasa tenang berada di dekat kakaknya, terbukti melihat kelinci-kelinci yang terlelap di atas pangkuan kakaknya, juga burung-burung yang mendarat di atas helm emas kakaknya itu, mengeluarkan suara merdu dari paruh mereka, terlebih dia juga merasa sangat nyaman jika bersama kakaknya. Bukan hanya nyaman, tapi juga aman, hangat dan terlindungi, seperti kakaknya itu adalah sosok pelindung. Ryuu berjalan dalam diam masuk ke dalam rumah, duduk di teras, sambil melihat kakaknya yang bermeditasi dengan tenang yang tidak jauh darinya, sedangkan Kushina sudah kembali ke dapur, mempersiapkan makan malam untuk mereka semua.

.

.

.

.

.

SKIP TIME

.

.

.

.

.

Seminggu Kemudian

.

.

.

.

Setelah kejadian penyerangan dadakan Akatsuki yang di hadapi oleh Naruto sendiri, Minato langsung melakukan pertahanan desanya semakin ketat. Dirinya tidak mau lagi ada Akatsuki yang mencoba menyerang Konoha, mengambil Kyuubi dari dalam tubuh istrinya, juga putranya yang menghadapi sendiri anggota kriminal yang masih misterius itu. Menurut cerita Naruto, dia menghadapi enam anggota Akatsuki sendiri dan mereka ingin mengambil Kyuubi yang ada di dalam tubuh Kushina, yang tentu saja membuat dirinya juga Kushina terkejut mendengarnya. Minato menegur putranya agar tidak bertindak sendiri dan lapor kepadanya jika ada sesuatu mencurigakan, yang tentu di jawab anggukan patuh oleh putranya itu. Dia tidak akan lengah lagi, dan memerintahkan semua shinobi pertahanannya agar langsung melapor jika melihat orang-orang mencurigakan yang berkeliaran mendekati desa, juga secara diam-diam dirinya memberi Fuin Hiraishin tersembunyi di setiap post pertahanan.

Sekarang, dia sedang menyusun pembagian team Genin yang akan lulus dari Akademi. Minato yang sudah mengetahui kemampuan putranya langsung meluluskan secara instan, mengingat kemampuan juga teknik yang di milikinya berada di dimensi lain, juga dengan rapat para Jounin, bahwa putranya sendiri yang memukul mundur enam anggota Akatsuki yang mencoba menyerang Konoha, sebagai alasan kuat jika putranya lulus. Putra bungsunya tidak setuju jika bukan kakaknya Rookie of Year tahun ini, karena Naruto sangat pantas mendapat gelar tersebut, mengingat pertarungan ayahnya yang kalah dengan mudah oleh kakaknya itu, sedangkan Naruto menegurnya agar jangan egois dan juga, dia tidak mempermasalahkan siapa Rookie of Year yang terpilih. Naruto sangat setuju dengan keputusan ayahnya itu, pertama karena dirinya tidak mengikuti ujian Akademi, mengingat dirinya tidak bisa melakukan henge atau apapun itu, kedua, dia tidak ingin ayahnya repot jika ada beberapa tokoh yang tidak setuju dengan keputusan Rookie of Years, apalagi Uchiha Sasuke yang sangat berambisi mendapatkan gelar itu, dan dia tidak mau membuat sahabat ayahnya, Uchiha Fugaku menangis darah, ketika dia mengirim putra bungsunya itu ke Underworld dan memberikan izin kepada para specters juga pamannya membunuh kera yang sudah membuatnya jengkel setengah mati itu.

" Hmm, Naruto ingin satu team dengan Rock Lee." kata Minato sendiri, melupakan para Jounin yang ada di hadapannya, menunggu keputusan sang Kage itu.

" Memangnya, Naruto-kun ingin satu team dengan pemuda energik itu, Minato?" tanya Hiruzen sambil menghisap pipa rokoknya, yang di jawab anggukan oleh sang Yondaime.

" Ya. Dia sudah dari awal memintaku agar satu team dengan sahabatnya itu. Katanya dia tidak ingin satu kelompok dengan kera-kera menyebalkan." katanya terkekeh, mengingat alasan putranya yang cukup membuatnya terhibur dari stress pekerjaannya sebagai seorang Hokage. Hiruzen yang mendengarpun hanya terkekeh pelan, kemudian dirinya menghembuskan nafas.

" Apa kamu sudah menemukan Guru Jounin juga satu orang lagi yang satu team dengan mereka berdua?" tanyanya lagi.

" Guru Jounin mereka aku sudah pasti meminta Gai-san yang membimbing." kata Minato membuat Gai yang mendengar tersenyum senang, dan merasa terhormat mendapatkan kepercayaan Kagenya membimbing putranya. " Masalahnya, aku bingung siapa lagi yang pantas bersama dengannya. Aku tidak mau nanti akan terjadi perkelahian, mengingat Naruto yang cukup, emm, sensitif dengan orang-orang seusianya. Anda ingat bukan saat aku menceritakan jika Inuzuka-kun yang menggoda putraku cantik, tampa ampun langsung di kirimnya ke dunia penuh iblis." jawab Minato membuat Hiruzen tertawa mendengarnya. Memang Naruto sangat sensitif dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, juga dirinya tidak berkomentar apa-apa ketika anak sulung Namikaze itu bermeditasi di kantor Hokage. Mengganti suasana, itulah jawaban singkat dari pemuda tersebut, membuat dirinya sweatdrop.

" Hokage-sama, saya sarankan bagaimana dengan kunoichi bernama Tenten satu kelompok dengan Naruto-sama." kata Iruka tiba-tiba membuat Minato, Hiruzen juga semua Jounin dan Chuunin yang ada di sana menatap ke arahnya.

" Tenten?" tanya Minato yang di jawab anggukan oleh pria dengan garis luka horizontal di hidungnya itu.

" Benar Hokage-sama. Saya juga memperhatikan jika gadis bernama Tenten itu memiliki nasib yang sama seperti Naruto-sama dan Lee-kun. Dia juga bukan dari keluarga shinobi, dan aku lihat akhir-akhir ini, Naruto-sama tidak terganggu oleh gadis itu, dan pernah sekali saya melihat jika Naruto-sama membagi makan siangnya kepada gadis tersebut." jelas Iruka sopan membuat Minato tersenyum mendengarnya, kemudian mencari kertas informasi para genin muda, terlihat nama TenTen di sana. Membaca tenang informasi gadis tersebut, akhirnya Minato mengangguk paham.

" Baiklah. Gai-san, teammu sudah aku buat. Dan satu lagi Gai-san, jangan biarkan putraku bertarung sendiri. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya." kata Minato membuat Gai membungkuk hormat.

" Saya akan melakukan tugas saya sebaik-baiknya Hokage-sama." kata Gai serius membuat Minato tersenyum mendengarnya.

" Kalau begitu, kalian semua temui para calon murid kalian. Dan ini untukmu Iruka-san. Itu adalah daftar team yang sudah saya bagikan." kata Minato menyerahkan map kepada Iruka yang berjalan sopan menuju ke mejanya, menerima map tersebut sambil membungkukkan badannya.

" Saya akan kembali ke kelas, Hokage-sama." kata Iruka yang di jawab anggukan oleh Minato, yang tidak lama setelahnya Chuunin tersebut menghilang dalam kumpulan asap di hadapan mereka semua.

.

.

.

.

Di kelas tempat Naruto berada, pemuda berambut pirang panjang itu bermeditasi dengan tenang. Kenapa tidak ribut dan tidak ada teriakan-teriakan para fans girls Uchiha Sasuke yang biasa meramaikan? Tentu saja, karena dia mengancam akan mengirim mereka ke tempat Kiba pernah pergi jika kelas sangat ribut, dan lagi, guru-guru sering marah akibat ulah mereka semua. Shikamaru bisa dengan tenang tidur di kelasnya, tapi sesekali melirik ke arah Naruto yang bermeditasi dengan kedua matanya selalu terpejam. Lee dan Tenten selalu berada di samping sulung Namikaze itu, kadang-kadan memberi lelucon, tapi aksi mereka hanya akan mendapatkan gagal permanen. Tidak semuanya gagal permanen sih, kadang ujung kedua bibir si sulung tertarik ke atas, menandakan dirinya terhibur. Kiba yang biasanya berisikpun bisa bungkam selama di kelasnya yang tidak ada guru, begitupula Sakura dan Ino, yang biasanya mencari-cari perhatian dari bungsu Uchihapun hanya duduk di tempat mereka dengan tenang.

Sedikit saja kalian semua membuat suara tidak berguna, saya kirim kalian ke dunia penuh iblis

Itulah ancaman yang di keluarkan oleh sulung Namikaze itu, dan lagi, yang lebih parahnya, dia juga memanggil mereka dengan kera, walaupun sudah di perkenalkan oleh Lee nama mereka semua, tapi masih saja memanggil mereka dengan kera. Entah kenapa, ketika putra sulung dari Hokage itu, ketika masuk ke kelas, selalu mengeluarkan aura horror yang sangat menakutkan, bahkan Sasukepun bisa bungkam dengan ancaman dari sang sulung tersebut.

Krak…

Pintu kelas mereka terbuka, terlihat Iruka yang menatap seisi kelasnya yang begitu tenang, dan juga tidak ada laporan guru lain tentang keributan murid didiknya. Tersenyum ramah, Iruka berjalan dengan tenang masuk ke dalam kelas, berdiri di samping mejanya.

" Baiklah semuanya. Sensei ucapkan selamat atas kelulusan kalian yang berhasil menjadi seorang Genin." kata Iruka, bukannya bertepuk tangan atau berteriak senang, semua Genin tersebut melirik ke arah Naruto yang masih nyamannya bersemedi di tempat duduknya.

" Ada apa kera?" tanyanya, membuat semuanya terlonjak kaget, bagaimana caranya dia mengetahui mereka menatapnya, padahal kedua matanya terpejam rapat.

" A-ap-pa ka-kami bo-bol-leh bers-sorak?" tanya Ino pelan, membuat Iruka menahan tawanya melihat betapa takutnya mereka mengeluarkan suara jika saru ruangan bersama dengan Naruto, sedangkan yang bersangkutan hanya menaiki alisnya mendengar pertanyaan dari gadis Yamanaka itu, mengangkat bahu acuh.

" Itu adalah ekspresi kalian. Jadi, buat apa saya melarangnya." jawabnya melanjutkan meditasi, membuat semua genin yang mendengarpun mengulum senyum, mengumpulkan emosia mereka yang siap meledak.

" YAAAAAAAAA!?"

" AKHIRNYAAAAAA!?"

" KYAAAAAAAAA!?"

Teriak mereka semua senang, kecuali Sasuke yang masih dengan tampang stoicnya, Shikamaru yang tertidur, Shino yang tenang, juga Neji yang masih memasang wajah tenang, walau sedikit ujung bibirnya naik. Iruka yang melihat kehebohan murid-muridnya hanya terkekeh pelan, kemudian menatap ke arah Naruto yang tidak terganggu sama sekali.

" Tolong perhatikan kembali." kata Iruka yang langsung saja suasana kelas kembali senyap.

" Sensei ingin mengumumkan, jika Rookie of The Year tahun ini adalah Uchiha Sasuke." katanya membuat Sasuke menyengir senang, sedikit melirik ke arah Naruto yang sepertinya tidak peduli dengan pengumuman tersebut. Neji yang merupakan Rookie tahun lalu sedikit tersentak, dirinya tidak mengerti kenapa malah Uchiha Sasuke yang menjadi Rookie tahun ini.

' Menurut Hiashi-sama, Naruto memukul mundur 6 anggota kriminal yang sangat berbahaya ketika menuju ke Konoha. Kenapa bukan putra Hokage yang mendapat gelar itu?' batinnya bingung, tapi dirinya ingat jika sulung Namikaze itu tidak memiliki sistem cakra, dan akrhinya dia mengangguk sendiri.

" Ni-nis-san.." panggil seorang gadis berambut indigo di sampingnya, membuat Neji melirik ke arahnya, tersenyum kecil.

" Tidak apa-apa Hinata-sama. Nii-san hanya sedikit heran saja." jawabnya membuat gadis pemalu bernama Hinata itu mengangguk mengerti, karena dirinyapun tahu tentang kejadian minggu lalu. Lee yang menatap ke arah sahabatnya itu hanya tersenyum sedih, karena sama seperti dirinya, sahabatnya tidak bisa melakukan henge, ninjutsu ataupun teknik-teknik dasar ninja. Dia sangat yakin sebenarnya sahabatnya itu adalah orang yang hebat, dan seharusnya juga mendapatkan gelar tersebut.

" Baik, tolong dengar semuanya. Sensei akan mengumumkan pembagian kelompok kalian." kata Iruka yang kemudian membuka map miliknya sampai di wajahnya, sedikit melirik ke arah para genin muda yang sudah kembali tenang.

" Baik, untuk team pertama…" katanya yang membagi-bagikan kelompok-kelompok dari pertama. Semua genin mendengar penuh khdimat, sesekali ada yang berdoa agar tidak satu kelompok dengan Naruto, ada pula yang ingin satu kelompok dengan pemuda tersebut.

" Team 6, Namikaze Naruto.." kata Iruka membuat seluruh murid yang masih belum mendapatkan kelompok mematung. Lee, Sasuke dan Neji berdoa semoga bisa satu kelompok dengan sulung Namikaze itu, walaupun dengan alasan yang berbeda. Lee tentu saja berharap bisa satu kelompok dengan sahabatnya, mengingat mereka sudah sahabat sejak kecil, dan lagi mengenal sifat masing-masing. Sasuke berharap bisa satu kelompok dengan pemuda berambut panjang itu agar bisa menyombongkan diri, memerintah dirinya, karena pasti dirinya akan menjadi ketua kelompoknya, sedangkan Neji sendiri, dirinya berharap karena sangat penasaran dengan kemampuan yang di miliki putra sulung Hokage itu, dan lagi, dia ingin mengetahui semua teknik yang di milikinya. Iruka yang tadi sengaja memutuskan kalimatnya hanya tertawa dalam hati melihat berbagai macam ekspresi para genin yang ada di depannya. Ada yang menahan nafas, ada yang komat-kamit sendiri entah berdoa apa, ada yang merinding, ada juga yang berkeringat dingin.

" Sensei lanjutkan. Team 6, Namikaze Naruto, Rock Lee dan Tenten." lanjutnya membuat Lee yang mendengar terkejut, tidak lama setelahnya bibirnya bergetar, menatap ke arah Naruto yang tersenyum tipis. Air mata bahagia keluar dari kedua matanya, dengan cepat dirinya menghapusnya, tersenyum charming ke sahabatnya itu sambil memberikan jempol tangan kanannya kepadanya, begitupula TenTen yang ada di dekat mereka mengangguk senang.

" Team 7, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura dan Hyuuga Neji." lanjutnya membuat Neji juga Sasuke saling bertatapan satu sama lain, memberikan tatapan dingin, tidak peduli orang-orang yang sudah ketakutan, dengan aura-aura suram yang di keluarkan oleh anggota kedua klan hebat di Konoha itu.

" Kera Hyuuga dan kera Uchiha, apa bisa menghilangkan aura negatif kalian berdua?" tanya Naruto dingin, menyebarkan cosmo horror di ruangan tersebut, membuat mereka semua meneguk ludah susah, bahkan bisa membuat Neji merinding, kecuali Sasuke yang berdecak kesal melihatnya.

" Aku bukan seorang kera kau tahu, sia.. hmph." tiba-tiba saja, mulut Sasuke terbungkam oleh tangan Kiba. Wajah Naruto menghadap ke arah mereka berdua, dimana Kiba yang begitu panik, sedangkan Sasuke hendak melakukan protes.

" Apa yang kamu barusan ingin katakan, kera Uchiha?" tanya Naruto tenang membuat Kiba tertawa canggung mendengarnya.

" Bu-buk-kan ap-apa- ap-apa Na-nar-ruto." jawab Kiba gugup, mengunci tubuh Uchiha bungsu itu. Naruto mengangkat bahu acuh, tidak peduli dengan perkataan yang sebenarnya dia sudah tahu, karena dengan cosmonya, dia bisa merasakan aura tubuh seseorang juga gerak-gerik mereka, dan lagi, cosmonya akan mengirimkan gambar apa yang terjadi di sekitarnya ke otaknya. Merasa sudah tenang, Kiba melepaskan bengkaman tangannya dari mulut Sasuke, dimana di hadiahkan deathglare dari bungsu Uchiha tu.

" Apa yang kau lakukan hah?" tanyanya sinis, sedangkan Kiba hanya mengangkat bahu acuh.

" Sebaiknya kau jaga bicaramu, tuan Uchiha terhormat. Aku tidak mau ayahmu panik ketika mendapati putranya menghilang. Aku sudah merasakan bagaimana ke dunia tempat dunia Naruto kirim. Benar-benar mengerikan dan sangat menakutkan. Jadi, tolong jaga bicaramu." kata Kiba yang kemudian kembali ke tempat duduknya, mengabaikan tatapan tajam darinya.

' Bocah cantik.' tiba-tiba terdengar suara di dalam kepala Namikaze sulung itu, membuat dirinya sedikit tersentak.

' Siapa ini?' balasnya, dimana dirinya mendengar suara kekehan yang tidak lama setelahnya tawa di dalam pikirannya.

' Kau ini bodoh atau apa hah? Sudah melupakan aku?' balas suara seseorang yang terdengar cukup mengerikan. Naruto menautkan alisnya bingung.

' Paman Thanatos?' tanyanya tidak yakin, yang di balas suara dengusan kasar di pikirannya.

' Dasar bocah bodoh. Bagaimana kau bisa melupakanku? Perasaan baru seminggu kita tidak telepati.' balas orang tersebut yang bernama Thanatos. Naruto terkekeh dalam hati, ternyata mengetahui yang menelepatinya adalah paman angkatnya.

' Habis suara paman mirip dengan paman Hypnos. Naru ragu jika tadi adalah Paman Hypnos, mengingat beliau sangat sibuk, dan yang biasa memanggilku bocah cantik lagi Paman Minos juga Paman Aiocos.' balas Naruto terdengar tawa mengelegar di kepalanya.

' Dasar! Paman bisa lihat kalau kau ingin mengirim pemuda dengan rambut seperti pantat kemari. Apa kau akan kirim dia?' tanyanya membuat Naruto mendengus.

' Di kirim nanti pasti nangis darah dan Naru yakin paman pasti akan memberikan hadiah special kepadanya.' balasnya membuat Thanatos terkekeh mendengarnya.

' Tumben telepati Naru di waktu santai. Ada apa?' tanya Naruto membuat Thanatos mendengus.

' Memang tidak boleh?' tanya sang Dewa Kematian sewot, membuat Naruto terdiam, dirinya berpikir pasti ada yang tidak beres dengan pamannya itu.

' Bertengkar dengan Kak Manigoldo?' tanyanya, sedangkan tidak ada suara balasan apapun dari pamannya itu. Dia akahirnya tahu, jika pamannya itu pasti sedang ada masalah dengan 'pasangannya'. Well, dia tahu pasti karena sifat pamannya yang umm, susah dia jelaskan.

' Paman putusin sambungan. Ada tugas yang datang.' balasnya setelah 15 menit hening, yang kemudian sambungan telepatinyapun putus. Menghembuskan nafas lelah, dirinya tidak mengerti apa lagi yang terjadi dengan kedua pria itu. Selama dirinya di sana, dia selalu menjadi tempat curhat dengan pasangan sesama jenis yang selalu mengalami masalah. Mulai dari Minos yang selalu curhat kenapa pasangannya, Albafica tidak terpesona ketampanannya, lalu Dohko, Saint Libra yang sangat bingung antara memilih sahabatnya Shion atau Specters bernama Kagaho, karena mereka berdua tiba-tiba menyatakan cinta kepadanya, atau mungkin Hasgard yang curhat apa yang kurang darinya, lalu kadang Gemini kakak, Aspros yang begitu merana dengan sikap Sisyphus yang tidak peka dan masih banyak lagi orang-orang di sana yang curhat kepadanya. Kembaran Dewa Kematian, Hypnos pernah bilang jika dirinya mungkin akan menjadi Dewa Curhat, yang selalu membuat sulung Namikaze itu kesal mendengarnya. Well, awalnya dia terkejut dengan hubungan sesama jenis di dimensi tempatnya berlatihnya, tapi ayah angkatnya bilang, jika hal tersebut lumrah. Yang membuat pemuda Namikaze itu heran adalah, bagaimana Dewa bisa jatuh cinta kepada manusia, terlebih lagi Dewa Kematian. Berterima kasihlah karena kekasih Pamannya itu sekarang 'abadi', walaupun masih menyandeng status sebagai seorang Saint, tapi Saint yang kononnya dari abad 18 itu kembali ke Santuary abad 20, bertemu dengan para Gold Saint yang sekarang.

" Naruto." panggil Lee membuat Naruto tersadar dari lamunannya sendiri, wajahnya menghadap ke arah pemuda tersebut.

" Ada apa Lee?" tanya Naruto tenang, membuat Lee tersenyum ke arahnya.

" Gai-sensei sudah menunggu kita di depan." kata Lee membuat Naruto menyebarkan cosmonya, dirinya bisa merasakan kumpulan orang dewasa yang ada di depannya, yang kemudian di kirimkan ke otaknya, terlihat beberapa Jounin berdiri di sana. Mengangguk sebagai jawaban, naruto kemudian bangkit dari bangkunya, berjalan mendekati Jounin yang memiliki pakaian sama seperti sahabatnya, yang sepertinya merupakan mentor dari sahabatnya itu.

" Anda yang bernama Gai-sensei?" tanya Naruto berdiri beberapa meter di depan Gai, sedangkan pria tersebut takjub dalam hati, bagaimana caranya dia bisa mengetahui keberadaannya tampa melihat.

" Benar sekali Naruto-sama. Saya akan menjadi senseimu." kata Gai membuat Naruto menaiki kedua ujung sudut bibirnya.

" Sebaiknya panggil saya Naruto saja, tampa embel-embel apapun. Di sini status kita berdua adalah guru dan murid, Gai-sensei." kata Naruto sopan membuat Gai dalam hati kagum.

' Walaupun dia adalah putra dari Hokage, tapi dia sangat sopan dan sangat mengetahui posisinya.' batin Gai tersenyum.

" Baiklah, jika itu maumu Naruto. Sebaiknya teammu ikut denganku." kata Gai yang di jawab anggukan oleh pemuda cantik itu, meyampingkan wajahnya ke kanan, dimana Lee dan TenTen ada di belakangnya.

" Ayo Lee, TenTen. Kita ikuti Gai-sensei bersama." katanya membuat Lee tersenyum lebar, berlari pelan menuju ke sahabatnya, diikuti Tenten yang ada di belakangnya. Gai yang melihat murid didiknya hanya tersneyum kecil, juga menatap Lee yang merupakan murid pribadinya dulu, begitu semangat mengetahui jika dirinya adalah sensei pembimbing mereka. Mereka berempat berjalan pergi, sebelumnya Naruto sempat berpapasan dengan Kakashi yang baru masuk ke kelasnya. Kakashi menatap diam kepergian Gai dengan teamnya. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan kemampuan yang di miliki putra mantan senseinya itu, dan dia berharap jika dirinyalah yang menjadi gurunya, tapi ternyata harapannya pupus, dan juga, senseinya sepertinya tidak mempercayainya.

' Aku bukan tidak mempercayaimu Kakashi, tapi mengingat Gai-san merupakan mentor dari Lee-kun juga Tenten, dan lagi putraku dekat dengan pemuda itu, maka aku harus memberikan posisi sensei putraku kepada Gai-san.'

Itulah jawaban yang di berikan mantan senseinya itu. Menghembuskan nafas pelan, pria Hatake itu masuk ke dalam kelas, bertemu dengan murid geninnya.

.

.

.

.

SKIP TIME

.

.

.

.

.

Gai beserta team 6 akhirnya tiba di sebuah lapangan yang cukup luas, terlihat ada sungai yang mengalir di sana, juga padang rumput yang begitu luas, beserta bunga-bunga yang tumbuh begitu indahnya. Tenten yang melihat pemandangan tempat mereka berada begitu takjub, sama seperti Lee yang takjub dengan pemandangan yang berada di tempat mereka sekarang.

" Tempat yang sangat tenang dan indah, Gai-sensei." kata Naruto tersenyum tipis, membuat Gai tersenyum mendengarnya, dimana angin menghembus membuat rambut pirang sulung Namikaze itu menari dengan indahnya, membuat Lee dan Tenten yang melihat mengeluarkan rona merah di kedua pipinya.

' Apa yang aku pikirkan!? Naruto itu sahabatku, dan terlebih lagi, dia adalah seorang laki-laki!?' rutuk Lee dalam hati yang kemudian menampar pipinya keras dengan kedua tangannya. Naruto kemudian duduk bersila, melakukan meditasi di tempat tersebut, sambil menikmati angin yang berhembus dengan tenang, membuat Lee dan Tenten menatap ke arah Gai. Pria itu mengijinkan mereka duduk, yang tentuk saja mereka berdua tersenyum lebar, duduk di samping sahabatnya itu.

" Baiklah, semuanya. Sekarang kalian adalah seorang Genin. Kalian semua sekarang berada dalam lindunganku, dan juga, aku merupakan orang yang bertanggung jawab atas kalian semua." kata Gai membuka suara, yang di jawab anggukan semangat oleh Lee, begitupula Tenten yang mengangguk.

" Pertama-tama, aku ingin kalian memperkenalkan diri kalian semua, walaupun sensei sudah mengenal Lee dan Tenten, karena sebelumnya mereka berdua adalah murid didikku. Sensei akan memberikan contoh. Namaku adalah Maito Gai, hal yang aku sukai adalah sesuatu yang bisa membuat semangatku berkobar membara!?" seru Gai semangat membuat kedua mata Lee berubah menjadi bintang-bintang melihatnya, sedangkan Tenten tertawa gugup, dan Naruto yang hanya menarik sudut bibirnya sedikit ke atas.

" Baiklah Naruto, silakan perkenalkan dirimu dan apa tujuanmu kepada kami." kata Gai akhirnya membuat Naruto mengangguk patuh.

" Namaku Namikaze Naruto. Yang aku sukai bermeditasi, berkumpul dengan keluarga juga sahabat, yang tidak aku sukai adalah kera-kera menyebalkan yang tidak tahu diri." katanya membuat Lee dan Tenten tertawa gugup mendengarnya.

" Impianku adalah melindungi keluargaku dari bahaya, juga.." katanya terputus yang dimana, perlahan-lahan mendongakan wajahnya ke langit, dimana angin berhembus dengan tenang menerpa wajahnya, membuat rambut juga jubah putihnya berkibar dengan indah.

" Menjadi seorang Saint yang hebat agar bisa sejajar atau lebih dengan semua guru-guruku yang mendidikku." katanya pasti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC